3

“AKU TAKUT KIAMAT, USTADZAH!” (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto January 10, 2021

                “Mas Niko sudah beberapa hari tidak masuk. Sakit apa, Bu?” tanyaku pada ibunda Niko. Muridku yang beberapa hari ini tidak masuk.

                “Sakit perut, Ustadzah. Ada masalah di lambungnya.”

                “Kok bisa, Bu? Apa mas Niko susah makan?”

                “Ya, itu Ustadzah. Akhir-akhir ini Niko susah makan. Dia seperti ketakutan.”

                “Ketakutan?”

                “Iya, setiap lihat TV selalu takut.”

                “Takut sama apa, Bu?”

                “Maaf ya, Ustadzah. Niko takut kiamat?” aku terkejut mendengar jawaban dari ibunda Niko.

                “Jadi, pelajaran PAI itu sekarang kan materinya tentang kiamat, Ustadzah. Nah, ustadznya saat menerangkan itu sering menyebutkan tanda-tanda kiamat yang sekarang mulai banyak. Jadi Niko ketakutan. Dia takut kiamat akan terjadi dalam waktu dekat.”

“Yaa Allah, Bu. Sampai seperti itu?”

“Iya, Ustadzah.  Apalagi sekarang di TV itu kan sering ada paranormal Mama Lauren yang menyebutkan kiamat akan terjadi di tahun 2012. Dia tambah ketakutan,”

                “Minta tolong ya Ustadzah. Nanti kalau anaknya sudah masuk sekolah dinasehati. Ketakutannya itu terlalu berlebihan. Sampai-sampai tidak mau makan. Saya ini jadi sedih. Biasanya anak itu makannya banyak, sekarang jadi gak mau makan. Makanya lambungnya jadi bermasalah.”

“Ya, Bu. Insya Allah nanti kalau Mas Niko sudah masuk sekolah akan saya ajak bicara. Semoga Mas Niko cepat sembuh nggih. Kasihan ini sudah ketinggalan cukup banyak.”

“Ya, Ustadzah. terima kasih atas perhatiannya.”

Niko adalah muridku di kelas 5 ini. Anaknya cerdas, ceria, dan berprestasi. Dia sudah sering mengisi ceramah hari besar Islam sebagai da’i cilik. Sejak aku mengenalnya di kelas tiga dulu, dia termasuk siswa yang jarang sekali absen. Jarang sekali sakit. Kalau pun sakit, paling lama hanya 2 hari. Makanya aku heran ini sampai seminggu belum masuk juga.

Dan keterangan dari ibunya tadi sungguh membuatku terkejut. Tak kusangka Niko yang ceria itu menyimpan ketakutan yang mendalam pada topik hari kiamat.

Beberapa hari kemudian  ayah Niko  datang ke sekolah untuk membayar SPP. Beliau juga menceritakan hal yang sama dengan ibunya. Bahwa Niko ketakutan dengan hari kiamat. Apalagi mendengar ramalan Mama Lauren tentang kiamat di tahun 2012.

Aku berjanji kepada ayah Niko akan mengajak Niko bicara agar ketakutannya mereda.

“Saya jadi kuatir akan kesehatan mental anak saya, Ustadzah.”

“Insya Allah tidak sampai separah itu, Pak. Semoga apa yang saya sampaikan nanti bisa diterimanya dengan baik dan tidak ketakutan lagi.”

“Terima kasih, Ustadzah.”

“Sama-sama, Pak.”

Saat Niko masuk sekolah, kulihat tubuhnya memang agak lebih kurus.

“Duuh, Mas Niko kok jadi kurus. Sakit apa?”

“Sakit perut, Ustadzah.”

“Kata ibu, Mas Niko gak mau makan ya?” dia tersenyum

“Iya. Ibuku cerita apa saja, Ustadzah?”

“Katanya Mas Niko takut ya?” dia tersipu malu.

“Habisnya ustadz kalau cerita tentang hari kiamat itu menakutkan. Apalagi sekarang tanda-tanda kiamat sudah banyak, Ustadzah.”

“Tanda-tanda kiamat kan memang sudah ditunjukkan oleh Allah, agar manusia waspada. Menyiapkan diri.”

“Ada yang bilang kiamat tahun2012 ya, Ustadzah.”

“Mas Niko percaya?” dia terdiam.

“Tapi di TV sering muncul.”

“Di TV sering muncul itu belum tentu benar, Mas. Apalagi yang bilang itu bukan orang Islam. Dia hanya manusia biasa. Tidak ada yang tahu kapan kiamat itu terjadi, bahkan seorang Rasulullah pun tidak tahu.”

“Dia bilang tidak bisa melihat tahun 2012, Ustadzah. Katanya itu karena kiamat.”

“Mas Niko yang cerdas dan sholih. Dengarkan Ustadzah ya… Peramal itu bilang tidak bisa melihat tahun 2012 kemungkinan karena dia sudah meninggal nanti di tahun itu. Kita tidak boleh mendahului takdir. Apalagi mempercayai ramalan begitu, dosa syirik, Mas. Ancamannya jadi kafir. Na’udzubillah,”

“Rasulullah berkata bahwa saat kiamat nanti sudah tidak ada lagi orang muslim di dunia ini. Insya Allah umat muslim akan diselamatkan dari dahsyatnya hari kiamat. Kan sekarang masih banyak umat muslim. Kita setiap hari juga masih mengaji. Jadi untuk sementara ini tidak usah takut ya. Insya Allah kiamat belum akan terjadi dalam waktu dekat ini.”

“Benar Ustadzah?”

“Insya Allah. Makanya kita harus tetap sholat dan mengaji, agar diselamatkan dari hari kiamat.”

“Ya, Ustadzah.”

“Bagaimana? Masih takut?” wajah chubby itu mulai ceria.

“Ndak deh, Ustadzah.”

“Setelah ini makan yang banyak lagi ya. Ibumu bingung kalau kamu gak mau makan. Gak ada lagi yang menghabiskan masakannya,” Niko tertawa

“Kalau kamu sakit kelas jadi sepi Mas, tidak ada yang cerewet.”

“Insya Allah ndak sakit lagi Ustadzah. Ndak enak sakit itu.”

Kami pun tertawa bersama. Terkadang kita sebagai orang dewasa menganggap sepele sesuatu hal, tetapi bagi anak-anak itu adalah hal yang besar. Ketakutan akan hari kiamat bagi Niko adalah sesuatu yang sangat besar, sampai menggerogoti pikirannya. Padahal bagi kita orang dewasa mungkin itu adalah sesuatu yang lucu. Alhamdulillah orang tuanya cepat tanggap dan segera mencari solusi.

Aku mungkin bukan ahli agama yang menguasai tentang hari kiamat dan dalil-dalilnya. Aku hanya mencoba membuka mata Niko bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan.

Banyuwangi, 28 November 2011

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar