13

Aku dulu tak begitu (+3)

Mia Sujatmiani January 17, 2014

               Salam semangat buat para Guraruers,  saat ini saya akan menulis tentang pengalaman sehari- hari menjadi guru di smp negeri yang letaknya di pinggiran. Menjadi guru adalah sebuah pengabdian karena guru tidak hanya menyampaikan ilmu namun juga bertugas mendidik agar siswa memiliki akhlak yang baik.  Sebagai guru saya berusaha untuk membimbing siswa agar menjadi anak yang disiplin dan sopan. Namun kenyataan yang terjadi disetiap kelas masih saja ada siswa yang berperilaku tidak semestinya. Siswa yang terlambat masuk kelas bukan karena rumahnya jauh namun sengaja karena masih ingin bermain atau jajan. Siswa yang membolos atau tidak berangkat tanpa ijin, ternyata setelah dikonfirmasi dari rumah berangkat ke sekolah namun entah membelok arah kemana sehingga tidak sampai di sekolahan.  Jika hanya hal itu yang terjadi mungkin masih bisa diatasi oleh guru,wali kelas dan guru BK.

                Perilaku siswa yang sulit diatasi adalah hal- hal yang berkaitan dengan kebiasaan yang sulit dirubah. Kebiasaan berkata kotor, kasar dan bahkan jorok, kata- kata yang tak seharusnya muncul dari seorang pelajar. Dari berbagai sebutan hewan maupun kata umpatan yang tak semestinya biasa terdengar dari mulut para siswa dengan entengnya dan tanpa rasa bersalah. Mungkin pembaca akan bilang “ ya tinggal di marahi atau di hukum saja? “, kalau hanya 1 atau 2 anak lha ini sudah jadi hal yang agak lumrah mungkin terbiasa berkata semacam itu dalam lingkungan keluarganya.  Sebagai guru hanya bisa berusaha mengingatkan sebisanya dan berusaha bersabar atas perilaku anak- anak. Hal yang negatif lagi adalah ketika ada guru yang berhalangan hadir, walaupun sudah diberi tugas, sebagian anak ada yang malah jalan- jalan dan mengganggu kelas- kelas yang lain dengan memanggil- manggil nama siswa atau bahkan memanggil- manggil gurunya, ketika gurunya keluar siswa telah lari. Ada juga siswa yang berjalan- jalan di genteng dengan alasan mengambil sepatu yang dilempar teman, lucu- lucu bikin emosi juga karena membuat genting pecah sehingga kelaspun menjadi bocor. Jam istirahat ataupun pergantian jam pelajaran malah digunakan untuk bermain bola sehingga bell telah berbunyi pun masih saja main bola maka dengan terpaksa bola dijabel guru dan tentu saja siswa menggerutu. Mengelus dada aku, sepertinya ketika jadi siswa aku dulu tak begitu kok siswa sekarang berani pada gurunya. Terus sebagai guru apa yang harus kita perbuat, dengan kekerasan? Ohh tidak bisa- bisa kita masuk koran sebagai guru yang melakukan tindak kekerasan. Lebih baik menyusun artikel sehingga kalau dimuat dikoran akan dapat angka kredit hehe…Atau kita harus marah- marah?, Ah hal itu hanya makan hati saja dan secara kesehatan sekali marah- marah akan membuat tekanan darah meningkat dan mengganggu ritme jantung.

                Diantara berbagai kebingungan kita sebagai guru tetap harus kreatif dan mencari cara untuk mengatasi masalah yang ada. Sebagai guru mapel aku masih punya senjata yaitu nilai. Selain nilai yang wajib didapatkan siswa dari ulangan harian, tugas, uts, uas maupun ukk saya menggunakan nilai sikap yang menilai perilaku siswa dalam pembelajaran. Jadi saya memberikan penilaian sejak masuk ke kelas. Dengan lembar observasi yang merangkum sikap siswa saat berdoa, membaca asmaul husna, maupun antusiasme dalam pembelajaran. Sekali berkata jorok di kelas akan dapat nilai negatif. Sejak saat itu kelas yang biasanya sulit diatur pun menjadi mengasikkan untuk mengajar sehingga guru lebih efisien menggunakan metode mengajar apapun. Penilaian ini juga sebagai latihan  sebelum diberlakukan kurikulum 2013 disekolahku.Untuk perilaku dikels memang telah cukup teratasi namun bagaimana ketika diluar kelas?, sungguh itu masih menjdi PR buat sekolah kami yang siswanya istimewa ini. Mau sekolah saja sudah alhamdulillah.

Comments (13)

  1. Saya juga mengalami hal seperti itu bu. Anak2 dengan lancarnya berbicara yg kurang sopan. Apalagi jika anak2 sedang bercanda dgn teman2 nya. Saya saat ini mengajar di tingkat SMA swasta. Pertama teguran lisan kami lakukan, mengingatkan secara lisan selanjutnya kalau masih dilakukan maka peringatan secara tertulis berupa pengurangan point (demerit). Memang sih bu, dibutuhkan kesabaran dan pengendalian emosi kita sebagai guru dalam menghadapi hal itu. Mungkin rekan guraruers yg lain punya tips dan bisa dishare?…. monggo

  2. iya bu fitria apalagi di sma ya mereka dah lebih gaul sehingga bahasa gaul pun digunakan contohnya ” masbulloh, EGP..dll..hehe..sekarang ini guru ga boleh memberi hukuman macem- macem, bahkan mencuekkan pun salah. pernah bu saya jengkel banget sama murid karena saya minta membawa maju mainannya karena dikelas bermain eh jawabnya ” ambil aja sendiri “, waktu itu emosi banget sehingga dia tak minta keluar kelas eh ternyata kebablasen keluar juga sekolahnya,..jadi menyesal tadi kurang sabar sama murid. Tapi tak ada yang menyalahkan aku karena dianya yang keterlauan.

  3. AH …. PENDIDIKAN KITA SEOLAH MENULIS DI ATAS AIR ….. kadang bingung juga nih … dimulai dari mana untuk membenahi negeri yang sudah semakin kotor ini …..

    hampir disemua lini kita mengeluh dengan perubahan sikap generasi kita
    namun lihatlah

    ARTIS KITA PADA TELANJANG ….. JOGET TAK KARUAN
    janga-jangan gurunya pakai celana dan ada yang berbaju ketat lagi ……. 🙁

    TELEVISI MENAYANGKAN KEKERASAN DAN ANARKI
    jangan-jangan gurunya punya dua tv …. JUAL TV KITA yaaa ……

    SATU KEKUATAN KITA CINTA-NYA …. mari mendoakan dan beri teladan yang baik
    kita cuman berusaha Allah yang menenukan
    AYO MENDIDIK
    kami tunggu di
    http://www.ayomendidik.wordpress.com

    • @ muhammad subakri : bingung ya pak..hehe..yang jelas kalau disekolah saya mengajar wajib pakai rok dan tak boleh ketat pakaiannya karena bagaimanapun anak smp sudah remaja. memang pak televisi memiliki pengaruh yang sangat besar dari bahasa maupun perilaku bahkan justru yang jadi idola artis- artis yang pakaiannya minim…jan..jan..dari pada bingung aku tak kunjung ke
      ” oh ya pak aku juga bukan yang dulu lagi..hehe..salam

  4. membandingkan zaman kita dulu dengan anak-anak sekarang memang bukan cara pandang yang tepat barangkali. Zaman berubah, dan semua punya cara pandang masing-masing tentunya. Namun bagaimanapun, moralitas tetaplah moralitas yang harus terus dijaga. Maka, kesimpulan posting ini bahwa guru harus terus kreatif untuk menjaganya adalah hal mutlak yang harus dilakukan.Tks, salam!

    • @pak botaksakti : bener juga pak tiada yang abadi selain perubahan. Namun kadang heran juga kenapa bisa mereka tak bisa menempatkan diri ini ngomog sama yang lebih muda atau lebih tua seakan tak ada lagi unggah- ungguhnya. maksih responnya pak

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar