0

Aku, Buku, dan Perpustakaan (0)

Thurneysen Simanjuntak October 21, 2020

Sahabat pembaca, kalau bicara tentang buku bacaan, entah kenapa, dalam benakku yang pertama kali teringat adalah perpustakaan. Anggapan itu tentu tidak datang sendirinya, tetapi berdasarkan pengalaman pribadi. Sejak kecil saya tumbuh di dalam keluarga yang memiliki perpustakaan mini. Karena itu, kalau bicara tentang buku, yang terbayang adalah buku-buku papaku yang berjejer di rak buku dalam sebuah ruangan khusus. Walaupun buku-buku papaku termasuk kategori bacaan berat, atau yang masih sulit kupahami ketika masih kecil, tapi setidaknya buku-buku itu telah berhasil membentuk paradigmaku, bahwa buku itu begitu penting dalam menunjang pengetahuan. Kemudian, perpustakaan mini itu telah membuat ketertarikan tersendiri dalam diri.

Nah kalau bicara tentang buku dan perpustakaan, tentu saya memiliki berbagai pengalaman tentang kedua hal tersebut. Baik itu pengalaman menyenangkan atau tidak. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba berbagi arti pentingnya buku bagi saya serta pengalaman pribadi dengan perpustakaan.  Semoga saja bermanfaat bagi sahabat pembaca.

Sejak sekolah dasar, saya termasuk anak yang senang membaca. Salah satu buku bacaan yang paling saya senangi adalah buku cerita yang bertema tentang asal usul sebuah daerah, cerita perjuangan para pahlawan, RPUL dan Buku Pintar. Masih ingatkan buku ini? Kalau seumuran dengan saya, tentu tahu apa itu buku RPUL atau Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap serta Buku Pintar karya Iwan Gayo.

Membaca itu ternyata membantu pikiranku berimajinasi. Manfaatnya, kalau guru memberikan tugas untuk mengarang, tentu aku lebih mudah untuk memainkan imajinasiku dan dengan mudah menuntaskan karanganku.

Membaca juga membuat wawasan dan pengetahuanku bertambah. Tidak jarang karena sering membaca membuatku lebih mudah menangkap pelajaran dan lebih sering menjawab pertanyaan yang dilontarkan guru daripada teman yang jarang sekali membaca buku.

Yang paling menarik, buku bagiku adalah ladang inspirasi untuk berkarya. Akibat banyak membaca, sejak kecil saya sudah senang berkarya. Bahkan sejak SMP saya sudah mulai menulis puisi di media cetak (koran) dan membuat Teka-Teki Silang (TTS) secara rutin yang dimuat di sebuah majalah bulanan.

Tetapi amat disayangkan, terbatasnya buku membuatku tak jarang menahan “rasa haus” itu. Maklum, perpustakaan sekalhku waktu SD memiliki keterbatasan buku. Meminjamnya juga tidak leluasa, karena perpustakaan ada di kantor guru dan tidak ada petugas khusus yang menanganinya.

Saat-saat seperti itu, imajinasi mulai buntu. Sementara jiwaku tak henti protes. Untung saja saya menemukan seorang teman yang senang membaca, yang memiliki koleksi buku lumayan banyak. Setidaknya itu mampu mengobati dahagaku. Walaupun dalam beberapa bulan, koleksi bukunya sudah ludes kulahap.

Ketika beranjak masuk SMP, lagi-lagi menemukan perpustakaan yang kurang ideal. Perpustakaannya terkesan kurang terawat dan berdebu. Saya kurang merasakan nikmatnya nongkrong sambil membaca di perpustakaan. Sebaliknya, ketika masa SMA, perpustakaan sekolah kami ruangannya cukup bersih, tapi sangat minim bukunya.

Intinya, dari SD hingga SMA “rasa haus” membaca buku seringkali tidak terpuaskan dengan keberadaan perpustakaan sekolah yang kurang memadai. Maklumlah sekolahnya dulu berada di desa.

Ternyata menahan “rasa haus” membaca buku itu, tidak mudah. Bagi sahabat pembaca yang pernah mengalaminya hal itu, tentu bisa memahami apa yang saya maksudkan. Sebab bagi yang senang membaca, buku itu adalah gizi bagi pikiran dan suplemen bagi jiwa. Ketika tidak ada yang ada adalah kegelisahan.

Menurut hemat saya, keberadaan perpustakaan ternyata sangat perlu. Terutama saat-saat di masa sekolah pendidikan dasar dan menengah. Alasannya, masa tersebut sesungguhnya masa di mana sedang menanamkan fondasi minat baca bagi seorang anak. Sungguh disayangkan kalau masa penting seperti itu hilang, hanya karena keterbatasan buku dan ketidakseriusan mengelola perpustakaan. Ini dapat menjadi salah satu penyebab demotivasi dalam membaca bagi usia anak dan remaja. Bukan tidak mungkin hal itu terbawa secara terus menerus hingga dewasa.

Tagged with: , ,

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar