1

Akankah Mereka Kembali Ke Sekolah? (0)

Anggraini Lubis October 17, 2020

Siapapun jika ditanya tentu tak ingin mengalami pandemi ini. Bukan hanya pengusaha kecil, pengusaha besar pun tak mau. Begitu juga kami, guru yang juga orangtua. Bagi kami, masa-masa awal pandemi kemarin, menghantam semua lini. Sebagai orangtua, kami harus bertindak menghadapi krisis, bergegas bersiap menerima anak ‘kembali’ ke rumah. Sebagai guru, kami juga harus bergegas. Kami harus bergegas mengikuti arus perubahan ini, berpikir cepat merancang ulang pembelajaran agar kurikulum tetap terjaga.

Namun, dibalik semua itu ada satu fenomena yang terjadi disekitar kami. Anak-anak turun ke jalan. Bukan, bukan dalam artian protes atau demonstrasi. Mereka turun ke jalan menjadi penjual salak bule ( nama makanan gorengan khas Sumatera Barat, biasanya dimakan dengan lontong pakis), sebagian lagi menjadi pengamen boneka pampam.

Beberapa anak yang sempat kami tanyakan menjawab ketimbang main mending cari duit. Yah, karena jam sekolah yang tidak seperti biasanya, membuat anak-anak disekitar kami memiliki waktu luang yang amat banyak. Jika biasanya dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB atau lebih sore lagi, mereka sudah ada di sekolah, kini mereka punya waktu luang yang amat panjang.

Saat ditanya, kenapa tidak ikut belajar daring? Jawaban mereka bervariasi. Ada yang karena ngga punya telepon selular, ada yang mengatakan karena tugas dikumpul seminggu sekali, jadi bisa dikerjakan malam hari, ada yang bilang, yang penting absen aja dulu.

Contohnya saja, sebut saja namanya Avi. Siswa kelas 3 SD di sebuah SD swasta di Medan ini, bahkan tidak mau repot datang ke sekolah seminggu sekali untuk mengumpulkan tugas dan mengambil tugas baru. Tugas yang dikirimkan melalui WA grup pun jarang dikerjakan. Avi memilih menjual salak bule. “Lumayan Bu, buat jajan sama beli paket mau nonton YouTube,” katanya saat kutanya kenapa tidak pernah datang ke sekolah.

Bukan hanya itu, karena mudahnya mereka memperoleh uang, membuat beberapa dari mereka bahkan mungkin akan enggan kembali ke sekolah kelak, jika sekolah kembali dibuka. Kesimpulan ini kami dapatkan dari hasil diskusi dengan beberapa guru dan orangtua. “Udah tau nikmatnya uang, bisa saja mereka berpendapat buat apa sekolah.”

Kini tugas kita sebagai orangtua dan pendidik semakin berat. Bukan hanya harus menyiapkan materi yang menarik, cara penyampaian yang pas seperti saat tatap muka, namun juga membuat mereka para anak murid, mau dan rindu sekolah.

Mungkin ini bisa jadi bahan pemikiran para bapak ibu semua. Bagaimana agar saatnya tiba nanti, mereka yang turun ke jalan itu mau kembali lagi. Karena mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tugas kita semua termasuk para pejabat di atas.

Semoga ketika pandemi berakhir, kita semua bisa bertemu lagi di sekolah.

(Anggraini Lubis)

Penulis adalah seorang guru RA di Medan

#WritingComoetition

#NewNormalTeachingExperience

Comments (1)

  1. Selamat Siang 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar