0

Ajak Para Guru Menyanyi (0)

Arif Purwanto October 28, 2021

Menteri Keuangan Sri Mulyani sering mempertanyakan output anggaran pendidikan yang mencapai 20% APBN selama 10 tahun ini. Menurutnya, kualitas pendidikan kita seolah tidak begerak dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam yang mengalami lompatan kemajuan.  Kemampuan siswa kita dalam bidang  literasi, sains dan matematika di bawah Vietnam.

Siapa yang harus mempertanggung jawabkan kritik itu? Tentu saja kementerian pendidikan sebagai pembuat kurikulum dan guru sebagai pelaksananya.

Jika kita pandang bahwa setiap kurikulum telah didasarkan oleh kajian ilmiah sehingga merupakan sebuah konsep yang dapat dipertanggungjawabkan, maka tanggung jawab pendidikan itu tergantung kepada kompetensi dan kapabilitas guru.

Di sisi lain, kebijakan penghapusan UN tahun yang dimulai tahun lalu menunjukkan kepercayaan pemerintah yang luar biasa terhadap krediblitas guru. Pemerintah percaya setiap guru mampu memetakan target belajar dan menganalisa penyerapan materi oleh siswa. Bukan hanya ketersediaan soal, namun koherensi soal dengan proses pembelajaran di sekolah tersebut.

Maka, guru yang kompeten memiliki kesempatan untuk menciptakan keunggulan, karakter dan nilai khusus bagi peserta didik. Namun, bagi sebagian guru yang masih gagap dengan perangkat teknologi, mereka akan kesulitan untuk menyediakan soal yang berkualitas.

Kompetensi guru terbukti tidak cukup dibangun dengan selembar kertas sertifikat pendidik. Apakah sertifikat pendidik linear dengan penguasaan guru mengoperaskan excel, dan membuat media ajar yang menarik dalam bentuk video? Ataukah guru masih saja mengajar dengan pola-pola lama?

Benarkah guru kita mampu membuat cerpen sederhana 1000 kata dalam satu hari? Apakah guru kita memiliki 1000 cerita untuk menginspirasi siswa menikmati matematika? Apakah guru kita memilikin kisah masa kecil 1000 ilmuwan? Berapa lagu daerah yang mampu dinyanyikan guru kita dengan baik? Berapa sering guru kita bercerita dengan menarik hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita?

Lalu bagaimana kita menuntut siswa memiliki rata-rata nilai literasi dan numerasi yang memuaskan?

Seribu cerita, analogi, inpirasi, lagu dan tulisan di atas tidak akan mampu dikuasai guru dalam satu tahun, bahkan sepuluh tahun. Namun harus menjadi bahan pengayaan yang terjadwal bagi guru.

Pandemi covid-19 ini meyadarkan kita bahwa banyak inovasi pendidikan yang dapat kita lakukan. Salah satunya adalah webinar yang  dapat kita konsep sebagai proyek pengembangan kapasitas guru.

Webinar memang memiliki keterbatasan komunikasi dua arah, namun biayanya jauh lebih murah dibandingkan workshop tatap muka. Webinar juga mengeliminir berbagai keruwetan administrasi seminar tatap muka. Guru dapat memgikutinya dengan biaya murah dimanapun dan kapanpun.

Bonusnya rekaman dengan kualitas super yang sulit kita dapatkan saat tatap muka. Saat rekaman itu kita unggah ke media sosial atau google drive, siapapun dapat belajar selamanya. Guru dapat belajar ulang secara mandiri.

Seminggu sekali mengajak guru bernyanyi dengan benar. Dua minggu sekali guru medengarkan pembacaan cerpen. Sebulan sekali guru melihat film bersama. Tiga bulan sekali guru mengkaji seorang tokoh filsafat. Dan seterusnya.

Negara hanya perlu membayar seorang profesional di bidangnya, tanpa anggaran makan, transport dan lainnya. Kuota internet dapat ditanggung sekolah melalui dana BOS. Murah sekali, 1-2 GB aman untuk sekali webinar. Laptop, proyektor dan layar bukan lagi barang langka di sekolah.

Ada syarat lainnya. Singkirkan beban kerumitan administrasi yang menjenuhkan itu. Gembirakan guru dengan ilmu dan hal-hal baru yang membuat mereka selalu excited. Ajak para guru menyanyi.

#KompetisiArtikelGuraru

 #HariGuruSedunia

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar