9

7 HAL YANG HANYA DIALAMI OLEH GURU MUDA (+5)

Winwin Faizah May 13, 2015

Bagi sebagian fresh graduate, bahkan yang lulus dari fakultas kependidikan, menjadi guru bukanlah pilihan profesi utama. Tak usah jauh-jauh mencari contoh, teman seangkatan saya di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang jumlahnya hampir 500 orang, mungkin hanya 20 % nya yang menjadi guru, itupun kadang tidak sesuai dengan jurusan yang diambilnya semasa kuliah. Bukan tanpa alasan, selain karena faktor gaji, menemukan sekolah yang pas sesuai jurusan semasa kuliah faktanya bukanlah hal mudah. Tidak sedikit teman saya sesama jurusan Bahasa Inggris yang  akhirnya menjadi guru PKN, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, bahkan guru SD, karena lowongan menjadi guru bahasa Inggris susah didapat.

Karena menjadi guru adalah kebahagiaan :)

Karena menjadi guru adalah kebahagiaan 🙂

Nah, bagi yang beruntung bisa menjadi guru sejak lulus kuliah atau bahkan sebelum itu, menjadi guru di usia muda tentu bukan hal mudah. Saya sendiri mulai pertama kali mengajar sejak usia 20 tahun ketika masih kuliah, kala itu harus mengajar siswa SD-SMA di lembaga bimbingan belajar milik dosen saya. Menjadi guru di usia muda, ketika teman-teman seusia saya banyak berkiprah di perusahaan-perusahaan swasta dan BUMN dengan gaji puluhan kali lipat dari gaji yang saya dapat, jenjang karier yang kian menanjak dan seterusnya, adalah tantangan untuk keteguhan hati tetap memilih profesi ini.

Dan bagi semua yang memutuskan untuk memilih profesi ini sebagai karier pertama dan utama sejak jadi fresh graduate, pastinya mengalami suka duka tersendiri yang susah dilupakan dan hanya bisa dirasakan jika kita menjadi guru.

Beberapa hal yang cuma bisa dirasakan oleh mereka yang memilih menjadi guru walau masih muda, diantara banyaknya pilihan profesi lain yang lebih menggiurkan:

  1. Menjadi guru di usia muda berarti kita akan terlibat di hampir semua kegiatan sekolah. Mulai dari kepanitiaan karya wisata, classmeeting, upacara Hardiknas, persami, penerimaan siswa baru bahkan sampai lomba Adi Wiyata. Nggak akan ada satupun kegiatan yang terlewat tanpa kehadiran para guru muda yang (kata para senior) masih bisa wara wiri kesana kemari. Ini sekaligus jadi ajang untuk mengembangkan diri dan mencoba hal-hal baru yang mungkin belum pernah dilakukan sebelumnya, secara tidak langsung melatih kemampuan berorganisasi juga.
    Ketika membersamai para siswa melakukan kunjungan industri ke salah satu stasiun televisi di Jawa Timur.

    Ketika membersamai para siswa melakukan kunjungan industri ke salah satu stasiun televisi di Jawa Timur.

  2. Banyak murid yang terkadang ‘keceplosan’ memanggil Mbak, Mas atau Kak dibanding Pak/Bu. Ini kadang jadi keseruan sekaligus keanehan tersendiri karena ketika para murid terbiasa memanggil guru dengan Bapak atau Ibu guru tetapi ketika bertemu kita malah menyapa dengan ‘Kak’. Sebenarnya ini bukan masalah berarti selama tidak mengurangi wibawa di dalam kelas, karena perasaan dekat secara usia yang dirasakan murid-murid juga bisa menjadi modal tersendiri bagi para guru muda agar lebih mudah membaur dengan para siswa dan dekat dengan mereka.
    statusnya guru dan murid, tapi perbedaan usia yang tidak terlalu jauh membuat mereka merasa dekat :)

    statusnya guru dan murid, tapi perbedaan usia yang tidak terlalu jauh membuat mereka merasa dekat 🙂

  3. Perbedaan mindset dan cara memandang sesuatu dengan para senior. Guru senior atau yang lebih tua biasanya menang di pengalaman mengajar dan asam garam menghadapi aneka tingkah laku siswa, sementara guru muda mengandalkan perbedaan usia yang tidak terlalu jauh serta kemampuan IT dan update informasi dan tren terbaru di kalangan siswa yang biasanya kurang diikuti oleh para guru senior.
  4. Ketika hang out dengan teman kampus atau teman-teman seusia, bakal sering dipanggil pakai kata “Bu Guruu” atau “Pak Guruu” sambil ketawa-ketawa. Bukan karena profesi ini lucu, tapi karena menjadi guru di usia muda adalah salah satu hal yang cukup anti-mainstream belakangan ini. Apalagi kalau ‘sekedar’ jadi guru honorer alias GTT.
  5. Di lingkungan tempat tinggal, pemuda yang jadi guru akan mendapat wibawa tersendiri. Para tetangga dan sesepuh kampung biasanya respect sama pemuda yang mau jadi guru. Tentu saja asal jadi guru yang baik dan bisa memberi contoh positif di lingkungan.
  6. Anti-galau. Usia muda biasanya rentan dengan rasa galau karena ini itu. Tapi setidaknya menjadi guru akan meminimalisir perasaan galau berlebih karena mau nggak mau menjadi guru berarti harus tampil prima dan anti cemberut di depan kelas. Jadi kalau lagi galau entah karena apa, pasti akan berusaha tetap tersenyum ceria. Apalagi kalau sudah bertemu dengan para siswa dengan keceriaan mereka, dijamin obat galau yang manjur!
  7. Gaya hidup sederhana. Menjadi guru honorer apalagi di kota kecil atau pelosok, tentu tidak menjanjikan penghasilan yang wah. Ini juga yang membuat para guru akan terlihat ‘berbeda’ dari segi gaya hidup dan penampilan jika dibandingkan mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan terkemuka. Walau sederhana, kesediaan untuk mengabdikan diri bagi perbaikan pendidikan negeri ini tentu bukan hal yang sederhana.

Pasti para guru yang memulai karier sejak masih muda, atau para pemuda yang sekarang memilih menjadi guru sedang tersenyum membaca poin-poin diatas. Hehe. Setiap profesi tentu ada seni dan suka duka nya, termasuk menjadi guru. Setidaknya 7 hal diatas mewakili apa yang saya amati dan rasakan selama menjalani profesi ini. Bagaimana dengan bapak/ibu guru sekalian? Adakah yang mengalaminya juga?

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

Comments (9)

  1. pak Taufik, terima kasih sekali vote nyaa 😉
    hehe, ini sebenarnya curcol yang dikemas dalam bentuk artikel, semoga bermanfaat untuk semua yang ingin menjadikan guru sebagai pilihan profesi.
    okee saya meluncurrr.. 😉

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar