2

60 Guru Hebat (+1)

Ameliasari Kesuma June 5, 2012

Berangkat dari sekolah jam 8.30 WIB, karena undangan dari panitia, saya harus tiba di Semarang jam 10.00, Setibanya disana, dapat informasi bahwa peserta mencapai 60 orang, terbanyak guru-guru dari PAUD dan TK, kemudian beberapa dari SMP dan SMK.

Sebenarnya ada rasa, deg deg an, was was, takut salah, tapi saat ingat bahwa saya punya misi untuk merubah paradigma para guru tentang pendidikan dan belajar, rasa itu hilang dengan sendirinya, mudah-mudahan gak jadi kepedean ya…*inget pernah ada profesor kritik saya setelah presentasi di kelasnya..:(

Presentasi saya mulai dengan memberikan gambaran kondisi murid murid saya di kelas, ada yang tidur, ada yang melamun, ada yang nggak mau ngapa ngapain, saya ingin menunjukkan bahwa kita semua memang menghadapi hal yang sama, anak malas-malasan sekolah dan malas belajar, ketika saya tanya kepada peserta mengapa demikian, jawaban mereka beragam, ada yang karena belajarnya membosankan, terus gurunya membosankan, capek dan masih banyak lagi, yang pada intinya membuat saya berkesimpulan bahwa peserta disini ternyata memang menyadari ini…..Alhamdulillah

Selanjutnya saya cerita bahwa sebelum tahun 2005 saya guru paling kejam sedunia, suka nyakitin murid, maunya diperhatikan dan yang terpenting apa yang saya lakukan tidak ada dasar teori yang jelas, asal aja ngikut cara guru-guru saya, dulu waktu sekolah. Titik baliknya saat saya menyadari bahwa nilai anak anak tidak meningkat, perilaku mereka sama saja, dan mereka tetep saja tidak mau belajar. Kemudian seorang teman mengatakan bahwa apa yang saya lakukan salah, dan dia menyarankan saya untuk membaca berbagai buku, dari situ cara pandang saya tentang pendidikan dan belajar mulai berubah.

Saya mulai dari tujuan pendidikan yang harus jelas, karena kita guru yang berada di sistem maka saya memakai acuan tujuan pendidikan nasional UU No. 20 tahun 2003 pasal 1. yang menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Saya katakan saya merasa ada yang kurang dari tujuan pendidikan ini, mestinya ditambah memelihara hasrat alami belajar setiap murid.

Kemudian tentang konsep belajar, belajar itu apa saja, sesuai hasrat belajar anak-anak, kebutuhan mereka, keingintahuan mereka tentang suatu pengetahuan, tidak perlu dibatasi penuhi saja. Belajar itu dimana saja, di rumah, di sawah, di apotik, pemberhentian bis, di sekolah, ketika duduk-duduk diteras, dimana saja, belajar bukan hanya duduk manis di bangku, tapi bisa dimana saja. Belajar itu dengan siapa saja, pernah baca Toto Chan?, di buku itu ada sesi ketika toto bersama teman-temannya diajak jalan-jalan ke kebun kemudian belajar berkebun menanam tanaman dari pak Tani, belajar bisa dengan siapa saja, tidak hanya dengan guru. Belajar itu kapan saja, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Belajar harus bisa mengubah diri seseorang menjadi lebih baik, dan yang terpenting ketika hasrat belajar sudah terpenuhi maka dia akan menjadi pembelajar sepanjang hayat, karena belajar itu dari buaian hingga liang lahat.

Apa itu Guru Hebat, guru hebat adalah guru yang mau belajar, memiliki pikiran terbuka atau open mind, mau berubah, guru yang mampu meyakinkan muridnya bahwa dia murid hebat, guru yang mampu melejitkan potensi yang sudah ada di dalam diri murid-muridnya, guru yang mampu memenuhi hasrat belajar murid-muridnya dan guru yang dapat menginspirasi.

Apa itu Murid Dahsyat, murid dahsyat, apakah hanya prestasi saja? nilai spektakuler di raport? juara olimipade dimana-mana? lulus terbaik ujian nasional? NO murid dahsyat adalah murid yang memiliki karakter dan kepribadian yang kuat, yang tahu siapa dirinya dan tahu betul apa yang diinginkannya, tahu betul minatnya. Mengenai karakter yang kuat saya ceritakan kisah murid saya Suci Nurani yang berani berkata tidak saat diminta memberikan contekan kepada teman-temannya di ujian nasional, bahkan beberapa minggu sebelum ujian nasional dia menghimbau teman-temannya dengan menulis note di FaceBook, bahwa Solidaritas itu Jujur Tidak Curang, yang membuat saya haru adalah saat ujian nasional Suci dan beberapa teman yang memegang prinsip ini menjadi bulan-bulanan teman-temannya, dicibir, dijauhi dan diintimidasi, walau demikian mereka tetap teguh untuk tidak curang saat ujian nasional. Saya tahu betul bagaimana rasanya, sangat berat.
Jika anak-anak ini terus bertambah mantap memegang prinsip ini kelak saat mereka dewasa, mereka akan menjadi pribadi yang berani berkata tidak untuk hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani.

Tidak terasa waktu 60 menit sudah berlalu, sesi tanya jawab pun dimulai ada bu Erma Karsanti dari SMPN 7 Semarang yang menanyakan siapa sih yang menyebut guru hebat, murid dahsyat dan untuk apa sih guru hebat dan murid dahsyat itu

Pertanyaan bu Erma ini dahsyat sekali, saya sempet tercenung untuk memikirkan jawaban yang pas, karena beliau berpikir kita tidak boleh menyebut diri kita hebat, yang hebat hanya Allah.

Jawaban ringkas saya saat itu, sebutan guru hebat, digunakan untuk memotivasi guru agar menjadi manusia pembelajar, demikian juga murid dahsyat. Murid dahsyat adalah murid yang memiliki pribadi yang kuat sehingga akan mempermudah menghadapi kehidupan selanjutnya.
Pertanyaan berikutnya dari mbak Anik dari IPIEMS, bagaimana menjelaskan kepada orang tua bahwa hebat itu tidak hanya rangking 1. Jawaban saya, itulah mengapa pendidikan parenting dibutuhkan, saya berharap sekolah mengundang orang tua wali bukan kalau ada informasi tambahan biaya a b c, namun juga pengarahan mengenai cara mendidik anak dengan benar. Kendala terbesar memang di orang tua yang pasrah bongkokan dengan sekolah, karena menghidupi keluarga saja sudah susah, apalagi ditambah mikir untuk belajar cara mendidik anak. Guru juga penting untuk terus belajar supaya mengetahui dengan tepat bagaimana meluruskan persepsi yang salah ini, juga meyakinkan murid-muridnya bahwa hebat, bukan tentang rangking 1, namun tentang terwujudnya kepribadian dan kareakter yang luhur. Jika ini bisa tertanam di diri murid-murid kita, saya yakin orang tua akan menyadari bahwa ternyata anakku baik hatinya walau pun dia tidak pernah rangking 1


Fiuh selesai sudah sesi pertama yang sangat dahsyat dan menyenangkan, guru-guru yang menjadi peserta seminar ini asli guru-guru hebat.
Setelah selesai sholat dan makan siang sesi kedua pun dimulai sekitar jam 1 siang. Oya seminar ini terselanggara atas kerjasama Gramedia Jl. Pemuda Semarang, Penerbit Erlangga dan Kompas.


Di sesi kedua saya lebih berbicara mengenai teknis membuat pembelajaran bermakna, saya banyak menampilkan gambar-gambar pembelajaran di kelas, saat jaman jahiliyah hingga sekarang saat saya lebih mantap untuk memberikan pembelajaran yang bermakna dan inspiratif.


Pembelajaran jaman jahiliyyah adalah pembelajaran dengan kartu kwartet, jigsaw, accounting game, permainan ABCDE dan pembelajaran bermakna adalah my money trip, my dream, charlotte mason di kelasku, dan jelajah pasar.
Intinya seperti ini saat saya menggunakan media kartu kwartet, jigsaw, accounting game, permainan ABCDE, yang ada hanya hafalan garing makna. Namun saat saya menggunakan metode yang ada di my money trip, my dream, charlotte mason di kelasku, dan jelajah pasar, anak-anak bisa melihat suatu hal secara lebih menyeluruh, inspiratif dan mereka sungguh bisa merasakan manfaatnya.


Sesi kedua ini selesai selama 60 menit juga, di sesi tanya jawab ada mbak Isti guru Paud yang menanyakan permasalahan adiknya yang tidak suka membaca buku pelajaran, namun suka membaca buku buku berbahasa Inggris bergambar. Bagaimana caranya membuat adiknya suka membaca buku pelajaran LKS yang diwajibkan sekolah?….


Hal ini sebenarnya dialami oleh sebagian besar anak-anak di Indonesia, jawaban gampangnya ganti saja LKSnya, jelas-jelas tidak menarik, salah salah malah bisa mematikan hasrat belajar anak-anak. Saya malah balik bertanya jangan-jangan sebenarnya ini protes si adik karena tidak suka disuruh-suruh belajar hal yang tidak disukainya. Iyya jawab mbak Isti. Saya mengatakan bisakah mbak Isti bicara dengan gurunya untuk mengganti LKS atau memberi sedikit kelonggaran untuk si Adik. Jawab mbak Isti, gurunya tidak mau tahu, pokoknya semua pekerjaan di LKS materi dll harus selesai pada waktunya.
Saya total sedih nih, kemudian saya tanya lagi, bisakah konsultasi ke kepala sekolah, tentang permasalahan ini. Kenapa tetep ngeyel menggunakan buku yang tidak menarik dan ngeyel tidak bisa member kelonggaran pada si Adik, untuk sabar belajar pelan-pelan jika keberatan buku LKS nya diganti? Yang penting suka membaca atau cepet membaca sih?..
Saya malah meminta, teman-teman dalam seminar ini, sebagai orang tua mesti kritis dengan kebijakan sekolah juga guru, supaya ada perubahan, supaya tidak jatuh korban lagi…:(
Selanjutnya ada mbak Ira dari PAUD dan komunitas belajar usia SD SMP , mbak Ira ini menanyakan bagaimana cara meyakinkan orang tua bahwa pendidikan itu penting? Orang tua disini adalah orang tua miskin memiliki 5 anak, anak pertama tidak boleh ikut belajar karena harus menjaga keempat adiknya yang masih kecil-kecil saat dua orang tuanya bekerja. Ya Allah, yang disana ngobrolin apel Washington dan apel Malang seenaknya, yang disini ??


Mbak Ira ini guru hebat, saya salut sekali, saya minta beliau lebih sabar, duduk bersama mendekati orang tua itu, ngobrol apa saja, selami kehidupan mereka, jangan bilang dulu tentang pentingnya pendidikan dll, setelah bisa menyelami kemudian akrab dengan keluarga itu, baru deh perlahan lahan ngobrol tentang pinternya si anak, (karena anak ini, suka dan ingin sekali belajar di komunitas mbak Ira) tentang harapan, tentang pendidikan. Proses ini bisa sangat lama, jadi dibutuhkan kesabaran dan keuletan. Ah Awesome saya sendiri yang ngomong belum tentu bisa seteguh mbak Ira.

Selanjutnya pertanyaan dari bu Ruth Dwi Rahayu, terus jika anak dilihat dari potensinya, tapi mereka harus mempelajari berbagai mata pelajaran yang tidak sesuai dengan potensinya bagaimana? Pertanyaan senada juga disampaikan oleh seorang ibu guru dari SMK.


Ah pertanyaan nya hebat-hebat hehe, jalan sementara yang saya tempuh adalah memperbanyak referensi metode pembelajaran, mencari metode pembelajaran yang tepat yang dapat mengakomodasi potensi anak-anak tersebut

Dan masih ada beberapa pertanyaan hebat-hebat dari para guru hebat yang menjadi peserta seminar ini, saya sempat terharu mendengar berbagai curahan perasaan mereka mengenai kondisi sekolah, bagaimana menyatukan konsep belajar dengan kurikulum, dan ternyata mereka semua menyadari kekurangan yang terjadi di sistem pendidikan kita


Hari ini, saya banyak belajar dari 60 Guru Hebat..
Tulus, hormat takzim saya buat mereka, ke 60 guru hebat….
Semangaatt!!…(^.^)/

Comments (2)

  1. Bahwa kekurangan pendidikan kita memang ada, itu tak dapat disangkal. Maka, peran guru hebat ‘mengeliminir’ kekurangan itu menjadi kunci utamanya. Terimakasih, Bu, sharenya! Salam juga untuk guru-guru hebat itu!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar