3

“3 Kata Dahsyat” yang Sering Terlupakan, Kisah Terakhir Bikin Haru (0)

Wahid Priyono, S.Pd. December 7, 2020

Ada sebuah kisah seperti ini, di dalam bis yang dipenuhi dengan penumpang sebagian besar adalah mahasiswa. Sesak, bis berhenti menaikkan seorang mahasiswa muda. Dengan kondisi sesak, ia memasuki bis dengan tergesa-gesa. Tak sengaja menyenggol seorang ibu yang berdiri tidak jauh dari dirinya, ia hampir terjatuh dan seorang bapak menangkapnya dan membantunya membenarkan posisinya. Dengan cepat ia berkata, “tidak usah, pak…” dia membenarkan posisi berdirinya dan terdiam tanpa berkata apa pun lagi, kembali menikmati perjalanannya menuju lokasi kampusnya.

Ada yang salahkah dengan cerita diatas, adakah yang bisa menganalisa apa yang terjadi? Tak ada yang salah? Benar? Baca ulang kalimat demi kalimat, ada kata yang terlupakan. Ataukah kita memang seperti mahasiswa muda tersebut. Cerita tersebut mungkin sudah pernah kita dengar berulang atau pernah kita alami. Namun, semoga kisahnya berbeda. Tak ada kata yang terlupakan, kata “maaf” dan “terima kasih”. Sudah memahami kembali cerita diatas, jika belum kembali membacanya perlahan. Benar? Iya, tidak ada dua kata tersebut. Kata itu terlupakan oleh seorang mahasiswa muda yang pasti terpelajar. Semoga kita tidak seperti mahasiswa muda tersebut, yang sudah melupakan dua kata yang sebenarnya sangat dahsyat.

Dalam kehidupan bersosial tidaklah sulit bagi kita untuk mengatakan dua kata tersebut juga kata “tolong”, namun kenapa saat ini tiga kata tersebut mulai hilang dari kalimat kita. Kalimat ketika kita melakukan kesalahan, tindakan salah terhadap orang sekitar kita, memerintah dan ketika pekerjaan kita telah dilakukan oleh orang lain. Kata-kata tersebut tidak hilang, mungkin diri ini terlalu sombong untuk mengatakannya. Sedangkan, kata-kata tersebut artinya sangatlah memberikan efek yang benar-benar dahsyat bagi orang disekitar kita.

Tolong…

Kata yang merupakan bentuk solidaritas sosial (takafulul ijtima’i) sebagaimana dinyatakan dalam Surat Al-Maidah ayat 2, “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.

Bahwa setiap kita dalam bersosialisasi haruslah mempunyai jiwa bantu membantu dalam mengerjakan kebaikan, saling tegur menegur dan cegah mencegah dari kejahatan, perbuatan maksiat, perselisihan, permusuhan dan lain-lain.  Islam membenarkan setiap kita berusaha dan berjuang untuk kepentingan pribadinya sendiri, tapi tidak boleh merugikan, mengorbankan, apalagi merusak orang lain. Hidup saling tolong menolong menggambarkan sikap saling menghargai, mengashihi, dan peduli terhadap orang yang ada disekitar kita.

Maaf…

Kata yang mengandung makna berdamai yang artinya telah meruntuhkan tembok pemisah dan membangun jembatan penghubung untuk berdamai diantara kita kepada orang lain yang mintai maaf atas kesalahan diri kita atau bahkan memaafkannya. Melepaskan,  yang artinya kita melepaskan belenggu yang kita buat ketika kita menyakiti orang lain atau disakitinya. Dan ketika saling memaafkan belenggu akan terlepas dan memberikan kemerdekaan kepada kita dan orang lain serta hubungan kita dengannya akan semakin indah. Makna lainnya adalah mengampuni yang artinya ketika kita mengampuni sebenarnya kita sedang mematikan “sengat” yang ditimbulkan akibat luka-luka oleh perkataan atau perbuatan. Apa yang ditimbulkan akibat dari perbuatan orang lain memang tidak dapat dilupakan, namun kenangan akan perbuatan itu sudah tidak berpengaruh terhadap diri kita lagi. Kita akan memiliki cara pandang yang baru dalam menilai masalah itu, dan ketika menceritakannya kepada orang lain, kita tidak merasa sakit hati lagi karena kita menjadi manusia yang berbeda.

Maaf, sifat yang ditunjukan oleh Rosulullah saw. tidaklah pendendam, dan sekali-kali tidak pernah melakukan tindakan pembalasan. Contohnya ditunjukkan tatkala Rosulullah saw. sudah dapat merebut dan menguasai kota Mekah, yang pada waktu itu banyak hidup musuh-musuh yang kejam seperti Shafwan bin Ummayah, Ikrimah (putra Abu Lahab) diberikan amnesti.

Dipertegas lagi dengan Surat Ali Imran ayat 159, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkalah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (maksudnya urusan peperangan dan hal-hal dunawiyah lainnya seperti politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lain)…………” 

Surat Al-A’raf ayat 199, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh”.

Ketika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain, namun kita sulit untuk meminta maaf kepadanya. Semoga trik-trik di bawah ini berguna bagi kita:

  1. Pemilihan waktu yang tepat, untuk suatu masalah yang besar, hadapi orangnya, tatap matanya dan berikan penjelasan yang diperlukan. Serta, hindari minta maaf saat seseorang sedang marah. Bisa jadi permintaan maaf kita tidak diterima. Temui dan jelaskan duduk perkaranya beberapa hari kemudian. Saat itu kemarahan pasti sudah berkurang.
  2. Beri penjelasan, setelah mengaku kesalahan, beri penjelasan pada orang yang telah kita
    sakiti. Yakinkan kita tidak bermaksud buruk. Langsung minta maaf menunjukkan
    keseriusan kita.
  3. Sadari kesalahan, rela mengakui kesalahan dan mau bertanggung jawab. Mulailah dengan ucapan tulus dan langsung pada permasalahan. Ini membuat orang yang terluka mau menerima dan memaafkan.
  4. Tawarkan perbaikan, agar lebih sempurna, tawarkan menggantikan kerugian yang terjadi walau hanya sebagai pemanis. Jika memang kesalahan kita mengakibatkan kerugian bagi dia. Bisa juga dengan mengirim pesan atau hadiah. (Dwi Yanuar)

Terima kasih…

Memiliki makna mengucap syukur yang artinya tanda terima kasih atas pertolongan dan keterlibatan Allah swt. secara pasti di dalam hidup kita. Serta, bermakna penghormatan dan penghargaan yaitu ketika menempatkan seseorang di atas kita, seperti pasangan, ketua, pemimpin. Namun, kadang respon kita kepada mereka akan berbeda dibandingkan dengan respon dibawah kita, missal anggota, pembantu. Kejadian akan terjadi ketika orang di atas kita memberikan pertolongan kepada kita, dengan mudah kita mengatakan terima kasih. Namun, bandingkan tatkala di bawah  memberikan pertolongan tersebut kepada kita, sangat sulitkah? Semoga tidak. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri, siapa pun dia entah dia pembantu, tukang sampah, bahkan gelandangan sekalipun, ketika mereka memberikan pertolongan atau bantuan sudah menjadi tugas kita untuk berterima kasih. Dengan kita melakukan hal ini, itu berarti kita telah menghargai dan menghormati mereka sebagai ciptaan Allah swt.

Islam mengajarkan ucapan terimakasih kepada siapa saja yang berbuat baik kepada kita, sekecil apapun kebaikan itu. Tidak boleh mengingkari kebaikan orang yang telah kita nikmati, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

“Siapa yang diberi pemberian maka hendaklah dia membalasnya dengan itu pula. Kalau tidak maka dengan memuji, sebab dengan memuji berarti telah berterimakasih dan siapa yang menyembunyikan (kebaikan orang padanya) berarti dia telah kufur nikmat.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2034).


Berterimakasih kepada sesama manusia merupakan salah satu bentuk syukur atas nikmat Allah, sebagaimana terungkap dalam hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda,
”Tidak dinamakan bersyukur kepada Allah bagi siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia.” (HR. Abu Daud, no. 4811, At Tirmidzi no. 1954 )


Al-Khaththabi menjelaskan hadits ini mengandung dua kemungkinan, pertama, orang yang menjadi kebiasaannya adalah mengingkari nikmat dari manusia, maka juga akan menjadi tabiatnya mengingkari nikmat Allah. Kemungkinan kedua, bahwa Allah tidak menerima syukur dari seorang hamba kalau si hamba itu tidak pandai berterimakasih atas kebaikan orang lain, karena keduanya saling berhubungan. Jadi, jangan remehkan ucapan terimakasih kepada siapapun yang berjasa, baik memberi bantuan materil maupun moril, karena itu adalah salah satu bentuk syukur kepada Allah Ta’ala. (Janaghy)

Kisah…

Seorang office boy diberikan kesempatan untuk memberikan kesan dan pesan kepada bosnya yang akan pindah dengan sebuah catatan ditangannya ia membacakannya.

Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut, “Yang terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata “tolong”, setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah mengucapkan “maaf”, saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin saya merubahnya menjadi kebaikan.

Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan “terima kasih” kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak.Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan. Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya. Terima kasih sekali lagi. Semoga Tuhan meridhoi jalan dimanapun Pak Direktur berada. Amin.” Dengan isi dari penyampaian tersebut, kita dapat menggambarkan bahwa tiga kata tersebut sangatlah dahsyat dalam berkehidupan sosial. Kata-kata sederhana yang akan memberikan dampak positif bagi diri kita dan orang lain. Mari kembalikan tiga kata ini dalam keseharian kita, maka akan terlihat kehidupan kita akan semakin dahsyat dan indah.

Tagged with:

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar