• Slogan

    “Belajar dimana saja, kapan saja! ”

    #BantuGuraruCariSlogan

  • Damayanti commented on the post, Muridku 6 years, 6 months ago

    Buat teman-teman guru, terima kasih telah memberikan pujian bagi saya.

    Buat puisi tidak susah kok. Pakailah perasaan yang mendalam dan cobalah menuangkan segala perasaan dan pikiran Anda melalui bahasa yang […]

  • Damayanti changed their profile picture 6 years, 6 months ago

  • Damayanti changed their profile picture 6 years, 6 months ago

  • Thumbnail

    Oleh: Damayanti

    Wahai muridku, bersediakah kau mendengar?
    Dengan apalagi kan ku buktikan,,,?
    rasa cinta dan sayangku kepadamu
    Selalu kuawali hariku dengan berharap,
    Agar kau bisa mengerti materi […]

  • Nama: Damayanti
    Sekolah : SMA Wiyata Dharma

    Judul Artikel:
    Mengajar adalah Nafasku

    Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

    Linkl […]

  • Ya…tentu Pak Iwan. Terima kasih Pak

  • Oleh: Damayanti

    HOPE

    Seperti jantung yang berfungsi memompakan darah ke seluruh tubuh. Begitu pula profesi guru bagiku. Mengajar adalah nafasku. Tidak terasa 7 tahun sudah aku bergelut dalam peran ini. Hingga kini, aku belum merasakan detak nafas tersebut jauh dariku. Aku masih menyenanganinya, sama seperti awal aku jatuh cinta dengan profesi ini dan sangat ingin membimbing murid di Bimbingan Belajar Cemerlang dulu.

    Gairah dan semangatku untuk mengajar begitu tinggi sampai-sampai aku mengesampingkan cita-cita lain. Karier mengajar ku mulai sejak usia 18 tahun, mengajar bimbingan belajar bagi murid Sekolah Dasar (SD). Bagiku yang berjiwa Sanguinis, berdiri di depan adalah hal yang paling menyenangkan. Apalagi ketika murid-murid merespek dan mendengarkan penjelasan, hal tersebut membuatku damai dan puas.

    Aku senang bermain dan belajar bersama anak-anak, menjadi sahabat sekaligus kakak dan orang tua mereka. Setiap hari aku menghabiskan waktu bersama mereka, melihat keusilan mereka dan tingkah mereka yang lucu. Mereka adalah sumber semangat dan hiburanku. Membuat mereka pandai dan membekali mereka ilmu adalah tujuan utamaku.

    Tiap hari aku memperhatikan perkembangan mereka. Kadang kala aku kesal, marah dan hampir menyerah menghadapi sejumlah anak yang kasar, tidak hormat dan keras kepala. Tetapi, aku berupaya sebisa mungkin untuk mengubah sikap mereka kepadaku, dan ku harap, suatu saat mereka akan menyadarinya.

    JENSUD
    Sejak menjadi guru, aku menjadi orang yang memiliki banyak cerita dan kenangan baik yang lucu maupun yang sedih. Oya, salah satu cerita lucu itu ketika aku mengajar di salah satu bimbel. Ada seorang anak perempuan kecil bernama Margaret. Dia suku Batak, dan baru saja pindah dari kampungnya Samosir. Hari itu adalah hari pertamanya masuk sekolah dan masuk bimbel. Karena dia tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, ia tidak memiliki kawan.

    Hari itu bertepatan ujian bahasa Inggris di bimbel kami. Aku menyuruh seluruh murid untuk merobek kertas mereka sepasang untuk tempat jawaban mereka. “Iya adek-adek, Ms minta kalian robek kertas tengah. Kalian tulis jawaban di sana ya,” kataku. Margaret yang kurang mengerti dengan kata-kataku meyakinkan dirinya dengan balik bertanya kepadaku. “Ibu, kertasnya diribak ya?” tanyanya. Aku terkekeh, karena aku juga Batak, aku mengerti apa maksudnya. Ribak adalah kata dalam bahasa Batak yang artinya robek. “Oh iya dek, diribak saja,” kataku dengan gelak ketawa tak tahan mendengar logat Bataknya yang sangat kental.

    Tidak hanya sampai di situ, ia sering membuat kawan-kawan sekelasnya kesusahan. Ia memang tipe anak yang suka mendominasi. Ia suka mengatur atau mengoreksi kawannya, khususnya mereka yang ia nilai lamban memahami pelajaran dan instruksi. “Ok adek-adek, waktunya sudah habis. Kumpulkan semua perlengkapanya, biar kita pulang,” kataku. Saat itu ada seorang anak yang masih sibuk mengerjakan tugasnya. Tak sabar ingin pulang, Margareth menghampirinya sambil berkata ,” Eh, kau! Tak dengar kau Ms bilang apa. Sudah dibilang mau pulang. Kau lama-lamain, cepat, aku sudah dijemput opungku,” ujarnya dengan logat Batak yang lantang.

    Tingkah laku anak seperti Margaret memang lucu. Tidak hanya dia, setiap anak memang punya karakternya masing-masing dan memiliki keunikan tersendiri. Ada yang minta perhatian lebih dengan sering duduk dekat denganku. Ada pula yang menempatkan fotoku di buku harian mungilnya. Ada lagi yang sering bawa permen dan memasukkannya ke dalam tasku. Kejutang seperti itu membuat hidupku menjadi lebih berwarna.

    Jika ditanya mengenai kisah sedih saat mengajar, itu ketika aku menjadi seorang guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di salah satu perguruan swasta, mengajar di kelas XII. Aku adalah guru baru dan sangat muda di situ dan anak-anak terkesan tidak menyukai keberadaanku. Aku jadi serba salah, aku ingin terlihat baik dan bersahabat di hadapan mereka, ternyata mereka justru menyepelekanku. Selama beberapa hari, aku merasa tidak nyaman mengajar karena anak-anak suka menggerutu saat nilainya jelek atau saat aku sangat displin dalam hal waktu. Hingga pada puncaknya, satu kelas anak kelas XII sosial 3 memberontak dengan bernyanyi dan memainkan music kencang. Amarahku meledak hingga akhirnya aku memukul meja dengan penggaris sampai patah. Lalu, beberapa dari mereka menantangku untuk berantam. Tak kuasa menahan emosi, akhirnya aku memukuli mereka. Namun, tak lama suara hening dan akupun menangis, lalu pergi menuju kantor wakil kepala sekolah untuk mengundurkan diri.

    Saat itu emosiku sangat labil dan dipenuhi segala macam beban. Untungnya, wakil kepala sekolah kami paham keadaanku dan memintaku untuk menenangkan diri. Ia mengatakan bukan hanya aku yang menerima perlakuan seperti itu di sekolah tersebut. Setiap guru baru yang masuk memang tidak betah pertama kali mengajar. Karena sepertinya sudah terbentuk tradisi untuk mengerjai guru baru. Apalagi kelas yang membuat aku kesal tersebut memang kategori kelas “mafia” atau nakal dan asal sekolah. Jadi, aku harus bersabar menghadapi mereka. Nasehat dari wakil kepala sekolah itu membuatku tenang dan kembali normal.

    Aku tidak jadi mengundurkan diri. Di rumah, aku memikirkan strategi untuk menghadapi murid tersebut. Berbagai tips dari sumber manapun ku tampung lalu ku praktikkan dan aku merasa aku mampu menguasai ruangan dan anak-anak tampak lebih merespekku. Memang, kelas XII sosial 3 adalah kelas yang paling ku benci. Tapi, ketika perpisahan sekolah pun tiba, perasaan benci itu lenyap, saat tahu mereka sekelas mempedulikanku. Mereka satu kelas bahkan meminta maaf sebelum perpisahan kelas dan memintaku berfoto bersama mereka. Setahun yang lalu, aku sempat berjumpa dengan salah satu dari mereka yang menantangku untuk berantam. Ia kini menjadi karyawan swasta dan terlihat lebih rapih.

    Tahun demi tahun aku merasakan pekerjaan menjadi seorang guru mendatangkan banyak manfaat bagiku dan bagi orang lain. Hanya dengan mengajar kita mampu mengubah hitam menjadi putih, membuat yang kosong menjadi berisi. Mengajar adalah nafasku, yang akan terus hidup sekalipun suatu saat nanti aku bukan lagi seorang guru.

    Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar