• Tangkapan Layar Berita Republika online

    Momen Hari Guru Nasional tahun ini terasa istimewa. Kenapa ? Praktik pembelajaran baik sejarah masa pandemi yang saya lakukan mendapat apresiasi dari Republika. Berawal […]

  • Alhamdulillah. Gelaran Temu Pendidik Nusantara (TPN) VIII telah usai dengan meninggal kesan mendalam untuk seluruh peserta. Gelaran tahunan yang digelar oleh Yayasan Guru Belajar bekerjasama dengan Wardah […]

  • Alhamdulillah. Ucapan syukur kepada Allah SWT. Tahun ini menjadi pengalaman pertama mengikuti gelaran Temu Pendidik Nasional (TPN) VIII 2021. Selama ini hanya sekedar membaca dan mengikuti saja lewat media […]

  • Sipp terus berkembang dan berkreasi dg Infografis

  • Pembelajaran di era pandemi menuntut guru harus kreatif dan inovatif dalam menyajikan materi. Pembelajaran yang memaksimalkan peran murid menjadi pilihan yang harus diambil. Pembelajaran sejarah adalah […]

  • Berkreasi dan berinovasi adalah kunci keberhasilanpembelajaran di masa pandemi

  • Pandemi covid 19 menyebar sejak akhir tahun 2019 hingga saat ini. Sebagai upaya untuk mencegah pandemi Covid-19, pemerintah mengeluarkan kebijakan agar sekolah-sekolah meminta murid untuk belajar di rumah. Mulai […]

  • terima kasih pak Iwan Sumantri, salam kenal dari Solo
    amieeen juga buat pak m. subakri

  • Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat saat ini merupakan tantangan buat semua orang, tak terkecuali bagi para guru. Guru selaku agent of change harus selangkah di depan dalam penguasaan teknologi informasi, agar tidak “kalah” dari siswa kita. Berkaitan dengan penguasaan teknologi informasi, aku ingin berbagi pengalaman yang sangat berkesan, terutama tentang “kekuatan” tulisan. Saat aku posting di blog pribadiku tidak pernah terlintas akan seperti apa nanti tulisan itu. Akan dibaca atau tidak oleh orang, itu tidak aku pikirkan. Aku hanya yakin bahwa saat tulisan itu kuposting maka akan banyak hal-hal tak terduga yang terjadi. Teringat dengan ucapan seorang teman, Niken Satyawati, seorang kompasianer yang telah menghasilkan banyak tulisan di kompasiana. Saat mengikuti seminar jurnalistik yang di adakan oleh OSIS MAN 1 Surakarta, 26 April 2015, Niken mengatakan ” menulislah, dan lihatlah apa yang terjadi”.
    Aku  “berkenalan” dengan dunia blogger sudah dimulai sejak tahun 2003 pada saat mulai membuat blog pribadi http://www.history1978.wordpress.com. Saat awal membuat blog ini aku banyak memposting informasi seputar sejarah karena kebetulan mengajar mata pelajaran sejarah. Berkembang lebih lanjut mulai memposting tentang seputar pengalaman mengajar sejarah di kelas bersama siswa/siswi di MAN 1 Surakarta, tempat aku mengabdikan diri. Banyak pengalaman yang aku posting di seputar proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, misalnya saat menerapkan pembelajaran dengan model permainan make a match ( mencari pasangan), pembelajaran dengan membuat mind map dan masih banyak yang lain. Dari kesenangan posting pengalaman mengajar ini, aku mempunyai pengalaman  yang tak terlupakan ketika mendapat tamu jauh yang tak di duga-duga. Seorang mahasiswa program sejarah di Jepang. Widya Amasara (biasa dipanggil Widya) itulah nama lengkapnya. Indonesia tulen orangnya tapi sedang mengambil kuliah sejarah di Universitas Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Beppu, Jepang. Perjumpaan dengan Widya diawali ketika suatu hari kubuka facebook ku, ada pesan yang  masuk inbox seperti ini:
    widya
    Perjumpaan yang sangat tidak terduga. Ternyata apa yang selama ini aku tulis di blog pribadiku mendapat apresiasi besar dari lain dan berada jauh dari Indonesia. Sungguh pengalaman yang tak terkatakan. Lalu, apa yang bisa aku manfaatkan dari momen ini ?
    Muncullah ide yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Ide yang sebenarnya sudah lama ingin aku wujudkan terkait dengan pembelajaran sejarah yang kulakukan di sekolah. Bagaimana menggugah minat dan semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran sejarah, karena bukan rahasia lagi, kalau siswa kurang ‘berminat” dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Apalagi jika jadwal sejarah kebetulan diletakkan di jam-jam akhir. Butuh energi yang ekstra membangkitkan minat mereka belajar sejarah. Aku punya ide bagaimana sekali-kali mengundang narasumber dari luar yang berhubungan dengan sejarah. Idenya seperti pengalaman saat kuliah ketika dosen mata kuliah sejarah kuno Indonesia ku mengundang dosen tamu dari luar negeri. Ada pengalaman yang berbeda ketika perkuliahan disampaikan oleh dosen yang berbeda dari biasanya. Inilah ide yang akan aku kembangkan di pembelajaranku. Kesempatan itu ada saat perjumpaan dengan Widya ini. Aku berencana mengundangnya untuk bisa hadir di sekolah dan memberikan “pelajaran” sejarah di kelas. Aku menyebutnya dengan istilah “guest teacher” ( guru tamu ). Segera aku sampaikan keinginan ini kepada Widya yang saat itu masih di Jepang. Ternyata dia juga sangat antusias menyambut undangan yang aku berikan. Bahkan dia sangat ingin segera bisa bertemu dengan siswa/siswiku. Kebetulan Widya ini orang dari Semarang. Namun karena masih di sibukkan dengan persiapan wisuda, maka rencana mendatangkan seorang guru tamu Widya Amasara tertunda.
    Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kabar dari Widya belum juga datang. Sempat juga menyerah dan patah semangat. Mungkin belum “rejeki” ku bisa mendatangkan seorang guru tamu yang sudah lama aku rencanakan. Namun penantian itu terjawab juga, ketika tiba-tiba ponselku berbunyi dan ada suara seorang wanita di sana.
    “Selamat siang pak Rusdi. Saya Widya Amasara, yang dulu pernah (kita) menjalin komunikasi. Saya sekarang sudah pulang ke Indonesia (Semarang). Bagaimana dengan rencana yang telah kita sepakati tentang guest teacher di sekolah bapak”.
    Laksana terkena salju yang sejuk saat mendengarnya. Impianku mendatangkan guru tamu, yang menurutku sangat berkualitas ini, segera terwujud. Segera kami menyepakati tentang rencana selanjutnyya. Akhirnya di sepakati bahwa Widya akan datang ke sekolah pada tanggal 15 Desember 2013. Satu hal yang membuat sangat tersanjung adalah bahwa dia khusus menyempatkan diri datang ke Surakarta hanya untuk bertemu dengan siswa/siswiku. Selain itu juga ingin mengadakan kunjungan ke obyek-obyek sejarah yang ada di Surakarta, seperti kraton, perpustakaan Radya Pustaka, Pasar Klewer dan yang lainnya. Sebagai tuan rumah yang baik tentu saja akau persiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya.1469800_3657729578813_284704883_n
    Tibalah hari “bersejarah” itu. Ketika Widya menginjakkan kakinya di halaman sekolah MAN 1 Surakarta. Setelah disambut oleh kepala sekolah Drs.H.M. Hariyadi Purwanto, M.Ag, segera aku ajak dia ke kelas XII IPA 2, tempat di mana dia akan memberikan “pelajaran” sejarah. Siswi-siswiku sangat excite sekali saat pertama kali Widya masuk ke kelas. Karena sehari sebelumnya memang telah disamapaikan bahwa pada hari itu akan ada guru tamu yang datang. Aku sampaikan bahwa dia mahasiswa dari Jepang. Saat aku sampaikan itu, mereka heran dan bertanya-tanya ” apa benar dari Jepang pak?”. Namun setelah aku sampaikan bahwa dia orang Indonesia tapi lulusan dari Universitas di Jepang, mereka jadi paham. Namun, tetap saja perasaan penasaran tetap terlihat di wajah mereka.
    1379597_3657721138602_860346093_n
    Tibalah saat  Widya mulai menyampaikan “materi” sejarahnya. Widaya menyampaikan alasan mengapa mengambil jurusan sejarah di negara orang. Ia memberikan penjelasan bahwa jika kita belajar sejarah Indonesia di Indonesia itu memang sudah seharusnya, namun ia ingin merasakan belajar sejarah Indonesia tapi di negara orang. Mengapa di Jepang ? itulah barangkali yang menjadi pertanyaan siswiku. Widya menjawab bahwa dia bisa kuliah di APU Jepang karena program bea siswa. Bea siswa yang dia mencari sendiri secara mandiri di internet kemudian mulai memasukkan lamaran, mengikuti seleksi dan ternyata bisa lolos. Salah satu obsesi besarnya adalah ingin membuat perpustakaan sejarah yang lengkap seperti di Belanda. Karena menurutnya banyak sekali arsip-arsip sejarah Indoensia yang tersimpan di perpustakaan sejarah Belanda yang terletak di kota Leiden. Mengapa bangsa Indonesia malah mencari arsip negaranya justru di negara orang. Makanya setelah lulus dari Jepang, Widya akan melanjutkan program S 2 sejarah di Belanda dengan konsentrasi studi tentang perpustakaan sejarah ( Saat tulisan ini dibuat dia sudah kuliah di Belanda). Satu pesan yang dia sampaikan ke siswiku adalah jangan malas belajar sejarah karena dengan belajar sejarah kita jadi tahu tentang kejadian manusia di masa lalu. Pelajaran-pelajaran itu harus menjadi pelajaran buat diri masing-masing untuk melangkah ke masa depan. Semoga pengalaman mendatangkan guru tamu ini akan bisa aku tingkatkan di waktu akan datang dengan mendatangkan guru tamu yang lain. Kesemuanya bertujuan untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah di kelas. Terakhir, pengalaman yang telah aku laksanakan bersama Widya dan siswi-siswiku, kesemuanya berawal dari tulisan, jadi….menulislah dan lihatlah apa yang terjadi.
    1395368_3657727858770_286899918_n
    * Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10.

  • Thumbnail
    Judul di atas mungkin agak provokatif ya? Kok bisa jadi mahasiswa UGM dalam waktu setengah hari ? Bagaimana caranya ? Ini bukan rekayasa dan bukan sihir tapi nyata dan tentu saja “Sempurna”. Inilah yang dialami […]

  • Ini artikel saya yang pertama, untuk tipe tema yang ke dua

    Asyiknya Setengah Hari Menjadi Mahasiswa UGM

  • ThumbnailPrestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh siswi Boarding School MAN 1 Surakarta. Kali ini ditorehkan oleh Firda Aulia’i Rahmani Ma’ruf ( Kelas XI IPA 2 ) dalam ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tingkat Jawa […]

  • Salah satu upaya untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran sejarah  adalah dengan menggunakan model On Board Picture Stories ( cerita bergambar di atas papan tulis– terjemahan bebasnya). Model ini adalah meng […]

  • ThumbnailSalah satu indikator keberhasilan pendidikan secara mikro di tataran pembelajaran level kelas adalah tatkala seorang guru mampu membangun motivasi belajar para siswanya. Jika siswa-siswa itu dapat ditumbuhkan […]

  • pendidikan berbasis lingkungan adalah suatu keniscayaan, agar siswa/siswi kita sadarbahwa lingkungan adalah teman terdekat manusia, kuncinya : mulai dari diri sendiri, mulai saat ini…

  • Thumbnail
    Tanggal 25 April 2013 yang lalu, di jam pelajaran antropologi yang aku ampu, ada suasana lain yang coba aku berikan kepada siswa kelas XI Bahasa MAN 1 Surakarta. Hari itu aku mengajak seorang “Guest Teacher” […]

  • Load More

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar