• barokallah buat seluruh pemenang…
    sangat kreatif dan inspiratif 🙂

  • hehe terimah kasih pak thalib dan pak iwan,

    ibu rosiana, tadinya mau saya kasih fotonya tapi tidak bisa….

  • “ayo kita melukis bareng” seruku pada anak-anak di asrama
    “ayo ustadzah, kita lomba ya” sahut mereka.
    Satu persatu keluar dari kamar mengeluarkan sekotak cat air beserta perlengkapannya ke aula. Sebagian ada yang melukis di kamarnya. Tapi aku lebih memilih untuk melukis di kamarku. Mencari sejuta inspirasi yang akan aku tuangkan dalam kanvas putihku.
    “haha… wajah ustadzah lucu. banyak catnya” kata anak-anak saat aku keluar dengan sebuah lukisan pertamaku. Sontak aku ikutan ketawa meski agak sedikit kesal melihat pemandangan asrama yang dalam waktu sekilas nampak seperti kapal perang.
    Beberapa anak langsung menunjukkanya lukisannya padaku. Beberapa lagi langsung tertuju kearahku, melihat dan mengambil lukisanku untuk dilihatkannya pada teman-temannya.
    Aku tertegun dengan lukisanku sendiri. Sebuah lukisan yang kubuat dalam waktu yang cukup singkat. lukisan pertamaku, sebagai bagian dari terwujudnya salah satu mimpiku. Melukis dengan cat minyak diatas kanvas.
    Namun bukan, bukan itu. Bukan karena itu adalah bagian dari mimpiku. Tetapi lukisan itu mengingatkanku akan sebuah catatan dalam buku harian yang aku tulis beberapa pekan yang lalu.
    “mendidik, maka mendidiklah dengan sepenuh hati dan cita. Cinta yang akan membawa pada keridhoan-Nya. Mendidik, maka mendidiklah dengan penuh kelembutan. Buang jauh-jauh segala ego dan watak keras. Pilihlah cara terlebut yang disukainya. Jauhi kata-kata kasar yang akan membuat mereka semakin keras. Karena mendidik itu ibarat membuat sebuah karya seni. Ia membutuhkan kesabaran dan keuletan. Semakin sabar untuk membuatnya maka hasilnya akan semakin indah. Ketulusan dan cinta akan membuat karya seni itu tak sekedar indah dan memikat siapapun yang melihatnya. Akan tetapi ia memberikan kepuasan dan kenikmatan tersendiri. Sehingga ia akan bernilai tinggi bahkan melebihi apa yang diperkirakan orang lain”
    “huft!” desahku
    Kutarik nafasku dalam-dalam. Sebuah refleksi dari mata pelajaran seni budaya. Yang membuatku harus instrospeksi diri. Darinya aku belajar kesabaran. darinya aku belajar memadukan warna, berimajinasi, dan belajar mencintai karyaku itu. Sehingga aku berharap, kelak aku bisa mengajar mereka layaknya aku membuat karya seni ini. Sebuah lukisan yang sengaja aku buat dengan penuh kelembutan dan cinta.
    Waallahu a’lam bishshowab

  • hehe terimah kasih bapak guru semuanya…
    terimah kasih atas masukannya… semoga kedepannya bisa lebih baik lagi saya…
    aamiin…. terimah kasih pak subakri…

    pak umar tholib … waah ide bagus pak, saya […]

  • IMG20150521140104

    Kulihat garis wajah yang semakin menua. Kuamati dalam-dalam wajah beliau dalam memori ingatanku. gurat-gurat dikeningnya semakin memperjelas wajah keriputnya. Rambut putih menghiasi hampir seluruh bagian kepalanya. Jiwa muda yang dulu yang energik, perlahan menua.

    Kini, 15 tahun telah berlalu sejak wisudah akhirus sanah dilaksanakan. Namun kulihat semangat beliau untuk menciptakan generasi yang berakhlak mulia tak pernah pudar. Beliau tetaplah guruku yang mengajar ditempat ketika aku belajar memebaca dan menulis dibangku S

    ekolah Dasar dahulu.

    Mungkin dulu aku hanyalah gadis kecil yang tak mengerti apapun. Namun goresan tinta beliau dalam memori ingatanku telah menjadikanku sanggup berdiri didepan kelas. Memberikan secercah pengetahuan kepada murid-muridku. Karena kini aku telah menjadi seorang guru!

    Yaaah, seorang guru seperti beliau yang telah mengajarkanku akan arti sebuah kehidupan. Bahwa roda kehidupan akan terus berputar.Waktu akan terus berjalan, silih berganti menempati ruang. Kalaulah dulu aku yang duduk manis dibangku itu, mendengarkan dengan saksama apa yang beliau sampaikan. Namun kini giliran anak-anak beliau yang mengisi bangku itu.

    Tak ada hal yang menarik dari sebuah profesi seorang guru! terutama  buat orang tipe sepertiku. Yang lebih suka bermain dibalik layar, tanpa banyak kata atau menjelaskan ini itu kepada orang lain. Sehingga menjadi guru seoalah momok buatku karena aku harus bisa ngomong didepan umum. Suatu hal yang sangat aku benci! benci sekali!

    Didepan anak anak aku dituntut untuk menjadi pribadi yang paripurna. Pribadi yang tanpa cacat bak malaikat. Karena segala tindak tandukku akan dicontoh oleh mereka. Bersama mereka aku dituntut untuk serba bisa karena mereka menganggap bahwa guru itu bisa segalanya.

    Sangat menyakitkan manakala mereka menjadikan celaku sebagai alibi atas kesalahan yang sengaja mereka lakukan. Menyakitkan sekali tatkala ekspresi ketidaksukaan mereka ungkapkan kepadaku bahkan didepan umum. Ooh…. Bapak ibu guruku… Mungkin inilah yang engkau rasakan manakala mengajarku dahulu…

    Kesalahan-kesalahan yang dulu pernah aku lakukan kini terjadi pada anak didikku. Sehingga mengharuskanku untuk belajar sabar yang luas dan tanpa batas. Mengatur berbagai strategi agar anak didikku mampu menerima pelajaran yang aku ajarkan. Sehingga aku mulai memahami, bahwa menjadi guru bukanlah sebuah profesi pilihan. Akan tetapi lebih kepada sebuah pengabdian dan rasa syukur akan ilmu yang sudah diperoleh.

    Dengan menjadi guru, maka aku akan terus belajar. Membuka catatan lama, membuka berbagai referensi agar bisa berbagi inspirasi bagi anak didikku.

    “ayo nak, lari” pintaku pada mereka pada saat jam pelajaran olah raga.

    Enggan, malas, itu yang kulihat. Namun disisi lain kulihat beberapa anak berlari dengan gesitnya. Bahkan melebihi kecepatanku. Kusunggingkan senyum tipisku “yaaaah… ustadzah kalah niiih” sambil menambah kecepatan lari.

    Berlomba dan adu kecepatan berlari dalam mata pelajaran PJOK itu sungguh sangat menyenangkan. Atau berlomba kreatifitas karya seni dalam mata pelajaran SBK yang membuatku begadang itu sangat mengharukan. Dan juga adu kecepatan hafalan bersama kelompok tahfidz itu sangat luar biasa bagiku. Mengingat usiaku yang tak lagi muda seperti mereka.

    Meskipun dalam beberapa hal aku sering kalah oleh mereka. Tetapi merekalah pemacu semangatku untuk terus belajar dan menggapai semua impianku. Mereka wajah-wajah tak berdosa, masa depan mereka masih panjang. Mau jadi apapun mereka, masih bisa untuk diwujudkan.

    “iya, coba kalian rancang sejak sekarang”

    “jangan sampai menyesal seperti ustadzah. Walaupun tak hal ada yang mungkin”

    kataku disela-sela halaqoh tahfidz.

    “emang cita-cita ustadzah jadi apa?” tanya salah satu diantara mereka.

    “jadi guru, penulis dan pelukis” jawabku sekenanya sambil mengingat sebuah cita-cita yang tertulis dalam album kenangan SMP ku.

    Sebongkah motivasi seolah menghantamku. Menerjang diantara sejuta penghalang yang bersarang didalam kalbuku. Entah apa yang aku pikirkan. Bersama mereka aku sharingkan banyak hal. Membuatku merasa bahwa segudang harapan akan selalu ada untukku.

    Bersama mereka aku seolah berpacu dengan waktu. Bahwa tak ada kata terlambat, justru kini saatnya aku membuktikan pada dunia bahwa aku akan mewujudkan mimpi-mimpiku. Bersama mereka, aku berlomba meskipun seolah tak seimbang. Bersama mereka, aku akan terus belajar dan belajar. Mempelajari banyak hal yang tidak aku dapatkan dalam mata pelaran sekolah ataupun SKS mata kuliahku.

    Bersama mereka aku belajar menjadi seorang pembelajar sejati. Sehingga aku bisa menjalankan sabda Rasulullah… uthlubul ‘ilma minal lahdi ila lahdi… Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat…

    waallahu a’lam bish-showab…

     “Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar