• NoVyanna Dewanti changed their profile picture 7 years ago

  • NoVyanna Dewanti posted an update 7 years ago

    Anak memang perlu dikenalkan dengan tata cara beribadah sejak usia dini. Ini dapat membantu membentuk karakter anak menjadi lebih disiplin, santun, dan berbudi pekerti yang baik. Insya Alloh… Mudah-mudahan para guru tetap diberikan keluasan kesabaran dalam membimbing murid-muridnya. Amin…
    Silakan kunjungi artikel saya di…[Read more]

  • NoVyanna Dewanti posted an update 7 years ago

    Silakan simak pengalaman pertama saya saat mencoba mengajar di KB-TK IT MU.

    Pemberanian Diri: Kunjungan Pertama


    Semoga bermanfaat.. hehe.. 🙂 Salam semangat untuk semua pendidik dan pengajar…

  • Akidah dan akhlak memang sudah seharusnya ditanamkan sejak dini. Begitu pula dengan pengenalan tata cara dalam beribadah. Pada semester ini, KB-TK IT Mutiara Ummat mengajak murid-murid imutnya, hehe, untuk belajar […]

  • terima kasih… jadi malu.. hihi… 🙂
    salam kenal juga..
    postingan Anda juga keren! 😀

  • “Assalamu’alaykum. Bro, gimana ya buat bisa berani? Sampe sekarang aku masih sangat pemalu sekali sehingga aku belum berani survei ke TK yang ditawari pembina ngajiku kemarin. Hhhh… nggak tau kenapa aku sebegini penakut dan pemalunya…” Kukirim sms pada salah satu kawan panturaku. Tuhan… kenapa aku sebegini pemalunya…, pengecutnya… Padahal, sekarang ini aku udah rapi dengan dandanan dan baju batikku. Tinggal capcuz melangkah menuju lokasi sekolah TK itu. Tapi og aku masih digelayuti rasa malu dan ragu. -_- Hhhh…. Aku masih nervous dan kikuk kalo ketemu banyak orang, meskipun itu sekumpulan bocah sekalipun. Haduh… What happens to me?… Aku yang anak bungsu dan amat sangat jarang banget momong bocah ini… Hhhh… Can I do it?

    Dering xilofon dari HP-ku berbunyi. “What’s the bad thing that may happen?? Nothing, absolutely, not a thing! Now, get yourself done and conquer that temple! Haha 😀

    Aku belum balasi sms-nya. Ah! Apa aku minta pertimbangan Budhe dulu juga tentang hal ini?

    “Baiknya kamu besok ngunjungi TK-nya bareng sama Bulik Eni. Beliau kan dulu pernah jadi pengajar di situ. Nah, mungkin dengan begitu nanti kamu bisa lebih leluasa banyak tanya informasi yang kamu butuhkan ke pihak sekolah. Pas ngobrol sama Budhe kemarin-kemarin, Bulik bilang juga kalo pengen ke TK buat nganter barang.”

    Yosh! Baiklah, aku ke sana besok aja.

    “Aku disaranin Budhe besok ke sana ma Bulik yang pernah ngajar di situ, Bro…” Kubalasi sms kawanku tadi.

    “Yey,, wes siap menuju gerbang karir yang sesungguhnya! :D”

    “ :”z Kadang aku ngomeli diriku sendiri, ‘Kamu ini berani pulang pergi Semarang sendiri, masa ke TK RT sebelah aja gak berani? Cuma jalan kaki beberapa menit sampe gitu..’ Oh Tuhan, entah kenapa sifat pemaluku ini masih aja gede.. Di benakku juga penuh tanda tanya. Akankah adik-adik TK itu bisa suka & sayang & nurut ma aku? Apakah & bagaimanakah juga aku bisa menyayangi & mencintai mereka? Huhu.. Aku pengen nangis..”

    Wii jenenge overthinking Nopp,, Cah cilik sii intine gampang: senyum, permainan, and suap. 😀 anggep ae mangkat kampus pertama kali.

    “Kamu ini… ‘Suap’nya gak pernah ketinggalan. Humm… Ok, I’ll try. Who knows, it’s one of my good carier paths. Can I be so patient?.. Waiting the late aunt & father when they were in the hospitals several times was so…, wonderful to try how deep my heart patience.. I have no idea yet about the kindergarten later..”

    Angger Nop, angger mangkat bae. Remember pas KKN ra?? We ana ngelesi cah-cah SD ra??” Kawanku ini yang kental logat panturanya menasehatiku untuk pokoknya coba berangkat saja ke TK itu.

    Selain sifat sanguis-nya yang suka menghibur, dia ini memang juga tak segan buat kasih encouragement kepadaku. Aku harus coba berani! Mungkin dengan begini aku bisa lebih luwes berinteraksi dengan masyarakat. Mungkin bisa juga jadi pelatihanku menjadi seorang ibu, hehe…

    ~***~

    Keesokan harinya. 18 Maret 2015.

    Aku jadi berangkat mengunjungi TK bersama Bulik. Sesampainya di depan sekolah, tampak papan nama sekolah “KB-TK IT Mutiara Ummat” terpampang di sela rimbun perdu bunga soka dan mawar. Beberapa ibu-ibu wali murid duduk bercakap-cakap di lincak (bangku panjang biasanya terbuat dari kayu atau bambu) teras sekolah di depan mainan meniti jembatan. Aku dan Bulik menyalami beliau-beliau, kemudian masuk menemui guru-guru yang ada.

    “Ini Dek Ana yang mau lihat sekolah.” Bulikku memperkenalkanku kepada para ustadzah, sebutan untuk guru di sekolah Islam Terpadu ini. Setelah berbincang-bincang sebentar, aku tertarik pada murid-murid yang sedang belajar. Kelompok TK duduk di lingkaran bangku di sebelah kanan. Sedangkan kelompok Kelompok Belajar atau Playgroup di sisi kiri.

    “Mau langsung coba membantu mengajar?” Salah satu ustadzah menawariku. Aku agak terhenyak.

    “Boleh…”

    Saat ini mereka diperbolehkan duduk di tempat yang mereka suka dan merasa nyaman untuk menyelesaikan tulisan tentang anggota keluarga terpampang di whiteboard yang disalin di buku tugas. It looks so messy, but that’s preschool! -_-

    “Ustadzah, ndak bisa… Ini gimana?” celutuk salah satu murid perempuan, manyun.

    “Yang mana? Bisa kok… Sini nulis sama-sama ya?” Tanggapku. Kugenggam jemarinya yang telah terlebih dulu menggenggam pensil. Kutuntun ia membuat huruf-huruf yang belum luwes ditulisnya. Kusemangati ia supaya kemudian melanjutkan menulis lagi.

    Entah kenapa, something seems to bloom in the bottom of my heart. Seperti ada kelopak bunga yang mulai perlahan merekah di dalam hatiku.

    Selesai belajar menulis, anak-anak itu mulai duduk di lantai membentuk barisan antrian urutan mengaji dan membaca pada masing-masing ustadzah. Sebagian berlari-larian bermain di tempat yang sudah disediakan. Rame. Aku membantu para ustadzah semampuku.

    Di akhir sesi semua anak duduk melingkar, bernasyid, membaca doa sebelum makan, lalu makan makanan ringan yang diberikan pihak sekolah. Aku perhatikan satu persatu tingkah laku mereka. Beberapa ada yang berbisik-bisik sambil sedari tadi memperhatikanku terus, seperti menyuruh temannya buat melakukan sesuatu. Teman yang dibisiki itu terkekeh-kekeh kecil seraya mengangguk-angguk. Ia agak berlari-lari mendekatiku.

    “Ustadzah…, namanya siapa?” tanya murid itu, berbisik pelan. Di kemudian hari, aku tau namanya adalah Air.

    “Ustadzah Noviana…” jawabku sambil tersenyum. Eih! Ustadzah?

    “Besok ke sini lagi ya?”

    Ahhh… Pertanyaan polos itu… Aku yang tak punya adik ini… Aku merasa sedikit aneh. Kehadiranku seperti kakak yang mereka harapkan.

    “Insya Alloh…” 🙂

    “Asik…!”

    Dia tersenyum lebar, berbalik lari kembali ke kumpulan teman-temannya, dan berbisik-bisik menyampaikan hasil misi mewawancaraiku tadi. Anak-anak itu tertawa terkikik-kikik riang sambil melirikku. Hummm… It seems that I wanna love this place… 🙂

    *Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar