• REPOST:
    mencoba membagi pengalaman sesama guru lewat lomba ini.. semoga bermanfaat.. 🙂
    1. http://guraru.org/guru-berbagi/kenapa-allah-menurunkan-ilmu-sedikit-sedikit/
    2. […]

  • Saat dia datang pertama kali.. menginjakkan kakinya di sekolah ini.. Sekolah Alam Jingga..

    Aku hanya bisa melihatnya dari jauh..

    Mengamati gerak-geriknya..

    Mendengarkan apa yang dia katakan..

    Ekspresiku saat itu hanya mengerutkan kening.. dan timbullah satu pertanyaan:

    “Ada apa dengan anak ini?” hmmm…

    Dia berlari-lari kesana kemari..

    Mondar-mandir..

    Menggumam tidak jelas. Banyak kalimat yang dikeluarkan. Seperti orang yang sedang bercerita. Tapi antara satu kalimat dengan kalimat lain terkadang tidak nyambung. Tiba-tiba dia mengambil penyemprot tanaman. Kebetulan saat itu ada tanaman jeruk yang sedang berbuah. Kemudian yang teradi adalah… dia menyemprot tanaman itu menggunakan penyemprot itu. Hehe… tak ada yang istimewa ya?

    Gunanya penyemprot tanaman ya memang untuk menyemprot tanaman. Tapi ada yang istimewa.. 🙂 Umumnya seseorang akan menyemprot seluruh bagian tanaman. Sedangkan dia..? Dia hanya menyemprot buahnya saja.. buahnya.. dan buahnya saja.. Dan lagi-lagi aku hanya bisa mengerutkan kening sambil tersenyum bin bingung.. 😀

    Itu pertama kalinya aku bertemu dengannya.

    Pertemuan-pertemuan selanjutnya, aku hanya bisa tersenyum dan mulai mengerti. Betapa Allah menciptakan sesuatu itu dengan keunikannya masing-masing. Termasuk dia, Si Aktif. Aku begitu senang mengenal anak ini. Ada saja tingkahnya yang membuatku tersenyum. Keadaannya yang tidak bisa berkonsentrasi penuh, selalu bergerak, dan bercerita sendiri selalu berhasil mencuri perhatianku 🙂

    Pernah satu waktu saat sedang waktu istirahat dari kegiatan kelas, dia bermain sendiri. Dia menemukan ember semen bekas. Dan yang dia lakukan adalah memasang ember tersebut di kepalanya yang otomatis ember tersebut menutupi seluruh kepalanya. Dia menjadi tidak bisa melihat sekelilingnya. Aku tertawa melihatnya. Aku tidak memarahinya atas tindakannya itu, karena aku tau dia pasti sedang berimajinasi. Maka yang kulakukan hanya bertanya,

    “Mas, itu kenapa embernya di taruh di kepala? Kan jadi ga bisa lihat. Nanti nabrak-nabrak loh..” tanyaku penasaran sambil mendekatinya.

    Brukkk…. “Aduuhhh…” keluhnya, padahal baru saja aku peringatkan akan perbuatannya itu, dia sudah menabrak temannya. Alhamdulillah temannya tidak marah. Hhh..  (-_-“)

    “Tuh kan.. baru aja ibu bilangin nanti nabrak, udah nabrak beneran. Ayo di lepas embernya..” Aku memperingatkannya lagi sambil memegang tangannya agar dia tidak menabrak temannya atau benda lainnya lagi.

    “Aku lagi main bu.. ini topi aku..” dia membela diri.. sambil mengintip aku dengan mengangkat sedikit ember itu dari kepalanya. Lalu di tutupkan lagi kepalanya.

    Haaa….? Topi..? Ya ampuuunnn… 😀 😀

    “Ya tapi kalo pakai ember.. mas kan jadi ga bisa liat dan jadi nabrak temannya seperti tadi. Ayo di lepas..” jelasku.

    “Ya bu..” tanpa membantah dia melepas ember itu, dan.. tersenyum. Seperti biasa tatapan matanya juga kemana-mana, tidak fokus.

    Dan setelah itu apa yang dilakukannya???

    Dia malah mengambil kardus snack coklat sebagai pengganti ember.. Masyaa Allah.. hhh… (^_^ ”)

    Ya sudah lah ya.. aku hanya bisa tersenyum lagi.. karena lucu dan terheran-heran. Dia tidak pernah kehabisan ide untuk mewujudkan imajinasinya. Paling tidak kali ini matanya tidak tertutup dan aku merasa aman bahwa dia tidak akan menabrak lagi.

    Itu baru satu waktu tentang Si Aktif. Dengan sikapnya yang seperti itu membuatku menjadi penasaran dengannya, akhirnya aku mencari tau tentang apa yang terjadi padanya. Ternyata Si Aktif ini termasuk anak dengan kondisi hiperaktif yang hampir menjurus ke kondisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau kondisi gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktivitas. Tetapi karena sudah pernah mengikuti terapi psikologi tertentu sebelum ke Sekolah Alam Jingga, kondisinya sudah lebih baik dan dia termasuk dalam kondisi hiperaktif saja. Alhamdulillah 🙂

    Sekali lagi.. Si Aktif is amazing kid..

    Allah menciptakannya dengan keunikannya tersendiri. Aku banyak belajar darinya.

    Dibalik ketidak fokusannya, dia adalah pendengar yang baik, pengamat yang jeli, dan penghafal yang baik.

    Diantara teman-temannya, akademiknya yang paling baik.

    Diantara teman-temannya, hafalan juz 30 nya paling baik.

    Diantara teman-temannya, hasil pengamatannya yang paling baik dan teliti.

    Masyaa Allah.. Allahhu Akbar..

    Kalau sedang mendengarnya hafalan Al-Qur’an, terkadang air mataku jadi menggenang di pelupuk mata saking takjubnya. Dan terbersit sebuah harapan:

    “Semoga Allah selalu melindungimu.. Semoga Allah selalu memberkahimu.. Semoga Allah selalu menjagamu dan memberikan kebermanfaatan ilmu.. kapan pun dan dimana pun kamu berada nak.. 🙂
    “Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

  • mencoba membagi pengalaman sesama guru lewat lomba ini.. semoga bermanfaat.. 🙂

    ” Kenapa Allah Menurunkan Ilmu Sedikit-sedikit? “

  • “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” ( QS. Al-Mujadilah : 11)

    Seperti biasa di SD1 Sekolah Alam Jingga.. dalam sepekan, lima hari kegiatan belajar, pasti akan ada satu waktu yang dikhususkan untuk berdiskusi. Biasanya sih dilakukan setelah kegiatan membaca buku. Kalau sudah berdiskusi seperti ini, para guru kecil itu pasti tidak akan pernah diam untuk bertanya terus. Ada saja pertanyaan mereka itu… 😀

    Diskusi kali ini berawal dari sebuah buku berisi tentang keutamaan sholat, alasan harus sholat, tata cara sholat, dan sebagainya yang berhubungan dengan sholat. Karena memang sudah fitrahnya mereka sebagai anak-anak, maka pertanyaannya pasti akan keluar, merembet ke hal di luar isi buku tersebut. Kalau sudah seperti itu, apakah aku harus menghentikan mereka?

    Tentu saja aku tidak bisa menghentikan mereka begitu saja. Yang ada saat ini aku hanya bisa mendengarkan, menampung pertanyaan mereka, dan menjawab sebagian pertanyaan mereka. Tiba-tiba di tengah serunya diskusi, ada seorang gadis kecil yang bertanya..

    “Bu, kenapa sih Allah menurunkan ilmu sedikit-sedikit? kok nggak sekalian aja gitu yang banyak.”

    Haaahhh… jreng… jreng..

    Sungguh sangat tidak menyangka seorang gadis kecil berumur 7 tahun akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Aku terdiam sejenak melihat matanya yang berbinar-binar dan senyum di bibirnya saat dia mengajukan pertanyaan itu. Mungkin dia berharap aku bisa menjawab pertanyaannya saat itu juga. Tapi, jujur saja saat itu aku bingung. Pikiranku secara otomatis seperti sedang mencari arsip-arsip ingatan tentang ilmu. Akhirnya, ku lempar pertanyaan itu ke forum diskusi yang berisi anak-anak berumur sekitar 6-7 tahun. Karena aku masih memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut.

    Saat aku sedang terdiam memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut, anak-anak itu hanya saling berpandangan menunggu jawaban dari ku. Tapi lagi-lagi aku lempar lagi pertanyaan itu ke mereka. berharap ada banyak pendapat dari mereka.

    “Ayo.. ada yang bisa menjawab pertanyaan teman kalian tadi?”, tanyaku.

    Hening…

    “Bu.. aku tau..”, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki ingin menjawab pertanyaan gadis kecil tadi itu.

    “Ya Sayyaf.. silahkan. Apa jawabannya?”, tanyaku kembali.

    “Allah nurunin ilmu sedikit-sedikit, soalnya supaya kita menjadi orang yang sabar.”, jawabnya sambil tersenyum malu-malu. Takut salah mungkin ya..

    “Terus..? Coba ada lagi yang lain?”, aku mencoba memancing jawaban dari anak lainnya. hening lagi..

    “Ehm.. oke kalau tidak ada. Ibu mau coba jawab pertanyaan teman kalian tadi. Apakah kalian tau buah melon?”, aku mencoba menatap mata mereka satu per satu. Dan diskusi ini kembali berlangsung.

    “Ya bu… tau.. tau..”, jawab mereka bersahutan.

    “Sekarang coba bayangkan melon yang sebesar itu, kalian kupas. lalu kalian masukkan ke dalam mulut kalian satu buah itu.”

    “Ga bisa lah bu..”, kata mereka sambil memeragakan.

    “Sekarang coba kalau buah itu kalian potong kecil-kecil, terus kalian makan. bisa tidak?”

    “Ya bisa lah bu.. kalo satu buah gitu mana bisa. kalo dipotong baru bisa masuk.”

    “Nah.. sama seperti ilmu nak. Ilmu itu diibaratkan buah melon. Kalau kita makan langsung satu buah kan tidak bisa. Tidak muat di mulut kita. Makanya harus dipotong kecil-kecil supaya bisa masuk mulut dan kita makan. Begitu juga dengan ilmu. Kalau langsung semuanya di turunkan, kita pasti akan bingung dan tidak mengerti. Bahkan kita tidak bisa mengingat semuanya secara langsung. Makanya ilmu diturunkan sedikit demi sedikit supaya kita mengerti dan mudah mempelajarinya. Dan juga sperti yang Sayyaf bilang tadi, supaya kita menjadi orang yang sabar saat menuntut ilmu.”, jelasku akhirnya.

    “Ada yang mau menambahkan?”, pancingku lagi ke anak-anak itu.

    “Bu.. ini Sayyaf mau ngomong tapi malu katanya.” seorang guru pendamping di kelas memanggilku sambil menunjuk si Sayyaf yang tersenyum malu-malu.

    “Ya Sayyaf, bicara saja.. ada lagi pendapatmu?”

    “Mmmm… biar kita tidak jadi orang yang sombong bu.”, jelasnya.

    Aku tersenyum mendengar jawabannya itu.

    “Ya benar Sayyaf. Kalau kita mendapatkan ilmu langsung banyak, mungkin kita malah jadi orang yang sombong karena sudah merasa bisa dan tidak perlu belajar lagi. Dan Allah tidak suka dengan orang yang seperti itu.”, jalasku dan diskusi pun berakhir karena adzan zuhur berkumandang.

    Hhh.. Diskusi yang cukup melelahkan dan berat hari ini. Tapi sungguh memberikan pelajaran yang sangat luar biasa. Di saat aku kebingungan menjawab pertanyaan gadis kecil tadi itu, aku malah mendapatkan jawaban yang sederhana. Dua buah jawaban sederhana untuk satu pertanyaan yang menurutku cukup berat.

    Mengapa Allah menurunkan ilmu sedikit-sedikit?..

    jawaban sederhananya adalah supaya kita menjadi orang yang sabar dan tidak menjadi orang yang sombong.

    Just it….

    Tidak sulit

    Tidak ribet

    Sederhana..

    Itulah mereka para guru kecilku.. 🙂

    “Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

  • Nanda Daniswara Azmi became a registered member 6 years, 6 months ago

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar