• Dari Lombok pun tak mau kalah. 🙂
    Nama: Sudomo, S.Pt.
    SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat NTB

    Mengajar ASTUTI di Luar Kelas > http://guraru.org/guru-berbagi/mengajar-astuti-di-luar-kelas/

  • Inspiratif sekali, Pak. Salam dari Lombok.

  • Wah! Pengalaman yang luar biasa untuk dibagi, Pak. Sukses terus dan tetap berinovasi! Salam hangat dari Lombok.

  • Jadi best practice untuk kenaikan pangkat, Pak. 😀

  • Hahaha… Bukan Asli Tukang Tipu lho, Pak. Btw, ketemu lagi di sini setelah samaan tidak menang di lomba blog Samsung. 🙂

  • Selamat mencoba, Pak Rusdi! 🙂

  • Wah! Terima kasih vote-nya, Pak Umar.

  • Terima kasih, Pak Umar. Wah! Iya! Lagunya Agung Hercules juga ya, Pak? 🙂

  • Salam kenal balik, Pak Taufan. Terima kasih apresiasinya. Siap meluncur! 🙂

  • Wah! Terima kasih apresiasinya, Pak Iwan. Salam persahabatan dari Lombok.

  • Terima kasih apresiasinya, Pak Rakhmad.
    Salam kenal balik. 🙂

  • “Segala sesuatu yang luar biasa kadang berawal dari hal yang sederhana”

    Kualitas Guru
    Menurut pasal 1 ayat 1 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
    Dari definisi tersebut tampak jelas peranan guru dalam dunia pendidikan. Peranan yang diambil tentu sesuai dengan tingkat pendidikan peserta didik dan mengikuti perkembangan zaman. Seiring kemajuan zaman, guru semakin dituntut untuk lebih bisa meningkatkan dan mengembangkan kapasitas diri agar “tidak kalah” dengan peserta didiknya. Hal ini tentu saja tidak lepas dari upaya peningkatan kualitas guru.

    Mengingat guru adalah komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan, maka secara tidak langsung guru dituntut untuk bisa meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas. Sayangnya, zaman sekarang tidak semua guru mau menggali potensi diri. Hal ini menyebabkan ada beberapa kasus di mana seorang guru mengajar secara monoton. Menjelaskan, mencatat, dan mengevaluasi.
    Padahal saat ini pendidikan di Indonesia membutuhkan figur guru yang tidak “menggurui”. Karenanya keterlibatan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung sangat diharuskan. Tentu saja tidak mudah bagi guru yang tidak mau membuka diri. Guru dituntut untuk bisa menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik. Banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah berusaha menemukan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakter peserta didik, sehingga pendidikan karakter benar-benar dapat diterapkan.
    Pembelajaran yang Menyenangkan
    Pembelajaran yang menyenangkan merupakan salah satu kunci keberhasilan proses pembelajaran. Diperlukan keterampilan individu guru dalam pengelolaan kelas. Pelibatan peserta didik secara penuh selama proses pembelajaran juga merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang menyenangkan. Peserta didik dapat belajar tentang bagaimana berinteraksi dan berani menyampaikan ide yang ada di kepalanya.
    Komunikasi dua arah yang “nyambung” juga akan membuat suasana belajar lebih kondusif. Guru perlu melakukan inovasi agar penyampaian materi tidak membosankan. Tentunya ini sangat tergantung pada kemampuan guru dalam mengelola kelas.
    Model Pembelajaran ASTUTI
    Penguasaan model pembelajaran akan mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif , menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (Peraturan Pemerintah No.19/2005 pasal 19)
    Sekarang ini banyak sekali model pembelajaran yang sudah dikembangkan. Saya pribadi pernah menerapkan model pembelajaran “ASTUTI”. Sejujurnya model ini saya temukan dan terapkan secara mendadak. Saat itu saya kedatangan pengawas guru mata pelajaran IPA di tempat saya mengajar, SMP Negeri 3 Lingsar. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Saya berusaha menggali semua tentang proses pembelajaran dari pengawas tersebut.
    Akhirnya, dari hasil diskusi saya diminta untuk menyiapkan model pembelajaran yang menyenangkan. Seketika saya berpikir, apa yang akan saya lakukan?
    Waktu seminggu yang diberikan untuk persiapan, sungguh saya rasakan sangat mepet. Terlebih belum ada ide. Saya memaksakan diri untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya seperti saat mengajar biasanya. Saya akhirnya justru bisa menemukan satu model pembelajaran yang saya rasa akan menyenangkan.
    Saya kemudian mencoba menuangkannya dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Saat menuangkan ide ke dalam RPP dan LKS, saya tidak pernah berpikir akan memberi nama apa pada model pembelajaran ini. Sampai akhirnya, saya menemukan akronim yang tepat untuk tahap-tahap pembelajaran yang akan saya lakukan bersama peserta didik.
    Maka, lahirlah model pembelajaran “ASTUTI” yang merupakan akronim dari Amati, Salin, Tulis, Tempel, Presentasi. Awalnya saya tidak yakin model ini akan bisa meningkatkan prestasi belajar peserta didik sampai akhirnya saya mengujicobakan pada peserta didik.
    Adapun langkah-langkah dalam model pembelajaran ASTUTI yang saya lakukan adalah sebagai berikut:
    Langkah pertama, merupakan persiapan sebelum proses pembelajaran:

    Memilih materi pelajaran yang dapat diajarkan dengan pola pembelajaran lesson study. Materi jenis ini dalam mata pelajaran IPA dapat dicari pada materi yang menyajikan praktikum. Dalam uji coba ini saya mengambil materi tentang “Indikator Alami untuk Penentuan Sifat Asam dan Basa”. Hal ini saya pilih untuk menyesuaikan dengan proses pembelajaran di luar kelas;
    Menyesuaikan RPP berkarakter dengan pola lesson study dan mengombinasikannya dengan joyful learning;
    Menyusun perangkat pembelajaran. Salah satunya adalah LKS terkait dengan materi pembelajaran;
    Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam proses pembelajaran, meliputi alat dan bahan untuk praktikum serta alat dan bahan pendukung (kertas CD Plano, metaplan warna-warni, double tape, gunting);
    Menyiapkan tempat yang cocok untuk proses pembelajaran di luar kelas. Dalam kegiatan ini saya memilih lokasi yang luas dan teduh.

    Langkah kedua, merupakan pelaksanaan proses pembelajaran:

    Menuliskan tujuan yang akan dicapai setelah mengikuti proses pembelajaran;
    Memberikan apersepsi dan motivasi kepada peserta didik termasuk menjelaskan keamanan dan keselamatan penggunaan alat dan bahan praktikum;
    Membagi peserta menjadi kelompok dengan anggota masing-masing lima orang;
    Membagikan LKS beserta alat dan bahan yang akan digunakan selama proses praktikum;
    Mengajak peserta didik ke tempat teduh di halaman sekolah. Hal ini saya lakukan karena materi terkait dengan indikator asam dan basa yang berasal dari alam;
    Menjelaskan cara kerja sesuai LKS;
    Menginstruksikan dan membimbing kelompok peserta didik untuk MENGAMATI percobaan;

    [caption id="attachment_2267" align="aligncenter" width="300"] AMATI[/caption]
    Menginstruksikan dan membimbing kelompok peserta didik untuk MENYALIN hasil percobaan ke dalam LKS;
    Menginstruksikan dan membimbing kelompok peserta didik untuk MENULIS hasil percobaan pada metaplan;

    [caption id="attachment_2268" align="aligncenter" width="300"] SALIN TULIS[/caption]
    Menginstruksikan dan membimbing kelompok peserta didik untuk MENEMPEL tulisan pada metaplan di papan tulis;
    Menginstruksikan dan membimbing kelompok peserta didik untuk PRESENTASI hasil percobaan;

    [caption id="attachment_2269" align="aligncenter" width="300"] TEMPEL PRESENTASI[/caption]
    Memberikan penghargaan kepada kelompok terbaik.

    Langkah ketiga, merupakan penutup:

    Meminta salah satu kelompok untuk menyimpulkan hasil percobaan;
    Mendiskusikan hasil percobaan secara klasikal untuk menemukan kesimpulan bersama.
    Menutup proses pembelajaran dengan memberikan tugas di rumah.

    Dan, hasil dari uji coba dengan menggunakan model pembelajaran tersebut adalah peningkatan prestasi belajar peserta didik secara signifikan. Hal ini disebabkan karena dengan suasana yang menyenangkan dan pemilihan model pembelajaran yang tepat, peserta didik dapat menerima materi dengan mudah. Hal ini tentunya merupakan suatu hal yang bagus, sebab kualitas pendidikan berawal dari peningkatan kualitas peserta didik (karakter dan hasil belajar) dengan dukungan kualitas guru dalam proses pembelajaran.
    Proses pembelajaran seperti ini setidaknya memberikan gambaran bahwa pembelajaran di luar kelas tidak hanya tentang memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Namun, juga bisa dimanfaatkan sebagai pusat belajar layaknya kelas dengan modifikasi.
    Penutup
    Model pembelajaran ini setidaknya membuktikan bahwa kualitas hasil pembelajaran salah satunya adalah tergantung pada kualitas guru dalam berinovasi. Banyak cara yang bisa dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kualitasnya selain membaca dan menulis adalah dengan upaya menemukan inovasi pembelajaran. Tidak harus rumit, cukup sederhana saja dan menarik minat peserta didik untuk belajar. Inovasi tidak hanya terbatas pada pemanfaatan teknologi saja, tetapi bisa juga memanfaatkan segala sesuatu yang dekat dengan peserta didik. Pada akhirnya, kualitas guru akan ditentukan sendiri oleh komitmen kuat dari dalam diri guru itu sendiri untuk terus berinovasi dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.
    Mari menjadi pahlawan bagi peserta didik lewat inovasi yang cerdik!
    Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

    guraru

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar