• To                  : [email protected]

    Subjek          : email sederhana untuk guru-guru kami

     

     

    Yth. Bapak/Ibu Guru kami

    di seluruh Indonesia

     

    Assalamualaikum wr.wb

     

    Dengan hormat,

    Kami, yang bertanda tangan di bawah ini:

    nama            : Generasi Z (Gen-Z)

    tahun lahir   : 2000 – 2012

    usia               : 16 tahun ke bawah.

    adalah murid-muridmu yang saat ini duduk di belakang meja menatap engkau dengan penuh harap. Izinkan kami menulis sebuah surat maklumat singkat untuk engkau, guru-guru kami, yang terhormat.

    Melalui email ini pula, kami hendak menyampaikan bahwa kami juga sering dikenal dengan penghuni “kampung digital”, Digital Citizenship, atau Digital Native. Ada pula yang menyebut kami sebagai Gen C. Namun, nama Gen-Z lebih universal untuk mewakili identitas kami.

    Bapak/Ibu guru kami yang terhormat, kami sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya atau generasi yang akan datang. Setiap generasi membawa ciri masing-masing. Dan itulah kenapa pentingnya engkau melakukan penyesuaian dalam mendidik kami.

    Esr. Dopita M. Sidauruk [dalam Intisari,Januari 2017] menyebutkan kelebihan dan kekurangan kami. Kelebihan kami adalah sangat peduli pada identias dan eksistensi diri, memiliki tujuan hidup yang tinggi, rasa ingin tahu yang besar, kritis kreatif, multitasking, ingin tampil beda, komunikatif, minat sosial yang tinggi, cenderung blak-blakan dalam mengemukakan ide dan pendapat. Sedangkan kekurangan kami adalah cenderung mudah menyerah dan putus asa, sering kebablasan dalam mengekspresikan ide dan gagasan termasuk mengekspresikan kreativitas, kebabalasan dalam mengakses informasi, kurang peka terhadap lingkungan. Hal-hal kekurangan ini tak lain karena kami memang hidup di dunia yang penuh informasi serta kecanggihan teknologi.

     

    Bapak/Ibu guru yang kami hormati,

    Setelah bapak/ibu guru mengetahui ciri kami yang seperti itu, kami memaklumatkan sejumlah permohonan. Pertama, berilah kami motivasi di dalam pembelajaran. Sebab, pembelajaran di kelas bukan hanya soal memindah isi dalam buku ke otak kami. Lebih dari itu. Pembelajaran yang kami butuhkan adalah melihat dunia dengan sudut pandang yang cerdas beserta kreativitas. Ajarkan kami menyusun kerangka kerja untuk meraih mimpi. Bukan sekadar mengerjakan soal latihan halaman sekian sampai sekian. Bukan pula memahami teori-teori di papan yang tak jelas gunanya dalam kehidupan. Yakinkan kepada kami, “untuk apa kami mempelajari ini?

    Kami Gen-Z sangat miskin motivasi. Itulah kenapa kami mudah putus asa, mudah menyerah. Kami mengamini apa yang disampaikan oleh Lawrence E. Shapiro, Ph.D. dalam bukunya yang berjudul Mengajarkan Intelejen Kepada Anak (Gramedia, 2003) bahwa penelitian menunjukkan anak yang mencapai usia12-13 tahun rentan terhadap masalah motivasi. Begitu pula dengan kami.

    Ajarkanlah pula kepada kami kekuatan kata-kata sehingga menjadi mantra yang akan membangkitkan semangat kami. Sesekali berilah kami mantra-mantra seperti:

     “Tidak perlu membakar buku untuk menghancurkan sebuah bangsa, namun bikin saja orang-orangnya berhenti membaca.” [Ray Bradbury, penulis]

    “Sungguh tidak ada yang sia-sia setiap kejadian pada diri kita, asalkan kita mampu mengambil makna positifnya.” [Jaya Setiabudi]

    “Orang yang melontarkan kritik pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran.” (Corrie Ten Boom]

    “Kemiskinan adalah kerangka berpikir, sedangkan tidak punya uang hanya kondisi sementara.” (Farrah Gray).

    Kata-kata di atas tidak akan berguna ketika orang lain yang meyampaikan, namun jika itu engkau yang mengatakan, itu akan benar-benar menjelma sebuah mantra. Unduhlah lampiran 1 di bawah ini. Itu adalah bukti bahwa engkaulah yang mampu mengubah kami.
    angket 1 Unduh 1: Angket
     

     

     

     

    Bapak/Ibu guru yang kami hormati,

    Permohonan kami yang kedua adalah bimbing kami agar tidak tersesat di rimbun dunia maya. Kami ini hidup di jurang sampah informasi. Generasi kami diberi terlalu banyak pilihan sehingga kami tidak tahu harus memilih yang mana. Sederhanakanlah informasi-informasi yang rumit tersebut sehingga mudah kami cerna.

    Tidak jarang, kami terjebak di situs pornografi. Survai telah membuktikan bahwa anak-anak di rentang usia 18-24 tahun menjdi bagian terbesar sebagai pengakses situs pornografi yaitu dengan persentase 36,3 persen, diikuti dengan golongan usia 25-34 tahun sebanyak 29,8 persen, usia 35 – 44 tahun sebanyak 16,5 persen. Sisanya adalah golongan usia 55 tahun ke atas sekitar 17 persen [ Tekno.kompas.com, 2015].

    Pemerintah mencoba menghalau kami agar tidak masuk situs-situs itu. Namun, tahukah wahai Bapak/Ibu guru kami yang terhormat? Itu bukan masalah yang berat. Kami dengan mudah membobol larangan itu semudah kami menekan tombol ENTER di keyboard.

    Kami tidak pernah takut dengan virus terhebat di komputer yang pernah diciptakan. Kami sangat takut jika virus itu tanpa terdeteksi memasuki hati. Kami tidak tahu cara menginstal ulang atau memindai (scanning) virus itu. Hanya engkau yang mampu. Instalkanlah sebuah anti-virus di hati kami.

    Tunjukanlah kepada kami bahwa dunia maya itu tidak hanya soal Google, Youtube, atau Facebook. Tunjukanlah kepada kami bagaimana kami ini bisa membuat sebuah karya yang luar biasa melalui dunia maya.

    Kami ingin karya kami bisa tampil di ebook.id atau Amazon. Kami akan bangga ketika tugas-tugas atau PR kami menjadi sebuah karya, bukan sebuah tugas yang hanya berakhir pada sebuah nilai. Kami yang pandai menggambar, ajarkanlah bagaimana menjualnya di Pinterest atau di Canva.com. Bantu kami menyusun ide agar bisa laku di basabasi.co. Yakinkan pula kepada kami bahwa tugas-tugas mata pelajaran itu bisa menjadi materi yang menarik di blog dan mampu menaikkan rating sehingga kami mendapatkan uang dari iklan.

    Bukankah tujuan dari  sekolah adalah mendapatkan pengetahuan dan pengalaman? Lalu dari keduanya akan menjadi sebuah kompetensi yang dilegalisasikan melalui ijazah. Dari ijazah itu kami bisa bekerja, lantas mendapatkan uang untuk bekal hidup. Sayangnya, alur selalu tak semudah itu. Ada begitu banyak pengangguran terdidik di luar sana. Oleh karena itu, potongkan alur yang panjang itu sehingga bersekolah sekalian dapat melihat peluang atau bekerja. Ini bisa dilakukan jika tugas-tugas tadi tidak hanya berakhir menjadi sebuah nilai, tapi sebuah karya yang dipublikasikan di dunia maya. Kami tidak ingin menunggu terlampau lama untuk bisa memiliki karya serta usaha. Menunggu lulus baru berkarya dan membuka usaha adalah membuang usia muda secara sia-sia.

     

    Bapak/Ibu guru yang senantiasa di hati,

    Waktu barangkali akan memaksa kami menjadi alumni, namun tidak pernah ada kata alumni untuk terus mengingat jasa-jasamu. Satu hal lagi yang kami mohon kepadamu, sertakanlah kami di tiap doa-doamu. Sebab, siapa lagi yang bisa menolong kami selainNya. Maka, doamu tentu sangat kami harapkan. Semoga ilmu yang kau ajarkan bermanfaat dunia dan akhirat. Kamipun akan terus mendoakanmu agar ilmu yang kau ajaran bisa menjadi amal jariyah – amal yang senantiasa terus mengalir kendati engkau telah meninggalkan dunia ini.

    Demikianlah surat maklumat singkat dari kami. Apabila terdapat kata-kata yang membuatmu tidak berkenan, kami mohon maaf. Semoga kita dipertemukan lagi kelak di akhirat. Dan, semoga surat maklumat singkat ini sampai di hatimu– tidak salah alamat!

     

    Wassalamualaikum. wr wb.

     

     

     

    Hormat kami,

     

    Ttd

    Muridmu, Gen-Z

     

    “Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru”

     

     

     

     

  • Oleh: Lubis Grafura

    Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai rata-rata di atas 80 (betapapun stresnya mereka) dan memandang rendah terhadap murid aktif, namun tak menguasai semua subjek[1].

    Kegelisahan Renald Kasali tersebut bukannya tanpa alasan. Mari kita cermati sejumlah tokoh yang pernah gagal, drop out, tidak naik kelas atau dicap sebagai murid yang nakal selama di sekolah. Sebaliknya, mereka justru sukses di dunia nyata. Mereka adalah Matt Mullenberg (perintis Wordpress), Bill Gates (pendiri Microsoft), Mark Zuckerberg (Facebook), Steve Jobs (pendiri Apple), George Washington (Presiden Amerika), Ted Turner (Pendiri CNN), Peter Jakson (Sutradara), Danny Oei Wirianto (Pendiri Kaskus), Tri Wibowo (Pendiri Insan Medika), Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan) dan daftar itu masih terus berlanjut.

    Dari kasus di atas, tentunya guru harus melakukan sebuah revolusi, terutama untuk pembelajaran di tingkat menengah ke atas. Revolusi yang dimaksud adalah perubahan yang signifikan dalam proses pembelajaran. Perubahannya tidak hanya sekadar dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa saja atau dari yang biasanya guru menerangkan/ceramah sekarang lebih banyak berdiskusi.

    Pembelajaran saat ini pun memang harus menggunakan teknologi. Namun, bukan sekadar pembelajaran menggunakan LCD atau PowerPoint saja. Bukan pula anak-anak sekadar mengumpulkan tugas via email. Bukan seperti itu.

    Perubahannya harus lebih ekstrim dari itu. Perubahan yang dimaksud adalah guru harus berani melakukan kombinasi teori serta mengejawantahkannya di dunia nyata. Jadi, anak-anak sekolah tidak hanya mendapatkan pengetahuan saja, tapi juga pengalaman yang sinkron dengan kehidupan nyata. Dengan kata lain, teori yang ada di papan harus diterapkan secara waktu-nyata (real-time) di kehidupan.

    Apapun materi yang Anda ajarkan, apapun matapelajarannya, semua harus terhubung dengan kehidupan nyata. Jika Anda mengajarkan kalkulus, untuk apa itu semua dalam waktu dekat? Jika Anda mengajarkan sejarah nusantara, apakah tujuannya hanya agar anak-anak mengetahui tentang peradaban nusantara lalu setelah itu dinilai dan selesai? Anak-anak kita tidak perlu menunggu waktu selama satu semester hanya untuk mengerti candi-candi bukan? Jika Anda mengajar puisi, di mapel bahasa Indonesia tingkat SMA/K, untuk apa? Setelah mereka bisa dan mampu menulis puisi lantas untuk apa? Bukankah teori-teori itu cukup diketik di Google dan anak-anak tidak perlu membuang waktu cukup lama hanya untuk mengetahui apa itu puisi?

    “Saya perlu kalkulus kalau saya seorang ilmuwan roket, tapi saya tidak perlu kalkulus untuk jadi kaya. Matematika tingkat dasar – penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian – sudah cukup.” Tulis Robert Kiyosaki.

    Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pembuat kurikulum dengan berbagai spektrumnya yang njlimet, kita para guru perlu memilah apa saja yang dibutuhkan anak-anak untuk bekal hidup mereka kelak. Terutama yang menginspirasi mereka. Guru juga dituntut untuk bisa menyelipkan inspirasi-motivasi di kurikulum yang saya sebut njlimet tadi. Dengan demikian, langkah pertama apa yang bisa dilakukan guru dalam merevolusi pembelajaran?

     

    Melibatkan Dot-com

    papan

    Terdapat begitu banyak ruang yang bisa digunakan oleh guru dalam mempublikasikan karya anak-anak. Dengan kata lain, jangan sampai tugas anak-anak hanya berhenti di meja dan berakhir dengan sebuah nilai kuantifikasi yang sebenarnya tidak benar-benar mengukur daya saing mereka di masyarakat. Lantas, dengan cara “menjual” tugas (baca: karya-karya) mereka di internet tentu akan membuat mereka sangat bahagia, bersemangat, termotivasi, menginspirasi, dan sekolah akan benar-benar menjadi replikan kehidupan yang bermakna bagi mereka. Perhatikan konsep di atas yang saya tulis di papan saat pembelajaran di kelas.

    ranjakuHasilnya, anak-anak di SMKN 1 Nglegok memiliki sejumlah karya. Contoh lainnya, saya mengajarkan matadiklat bahasa Indonesia kelas X SMK Semester genap materi Puisi. Saya tidak mengajarkan mereka terlalu panjang lebar tentang puisi. Setelah dirasa cukup, saya segera meminta mereka berkarya dan berkarya. Lantas, saya minta mereka mengirimkan puisi ke basabasi.co. Selain itu, saya juga meminta mereka mengirimkan ke ebooku.id. Tidak hanya di sana, Majalah Media Pendidikan Provinsi Jatim versi cetak juga menjadi serbuan anak-anak. Tidak luput juga dari serbuan karya mereka, penerbit yang menerbitkan buku secara cetak. Hasilnya benar-benar melampaui ekspektasi saya. Lihatlah sampul kumpulan karya Novi Nawangsari Saatku Pergi Mencari Ranjhaku di atas. Itu salah satu contoh hasilnya.

    Peranan Youtube.com juga jangan disepelekan. Mereka bisa mencari uang dengan memperbanyak subscribe. Ketika mereka praktik di bengkel, akan sangat menarik untuk direkam kemudian diunggah ke Youtube. Saya memberi mereka contoh melalui kanal Youtube di MOTIVAslide.

    Kalau kita cermati, melibatkan dot-com dalam pembelajaran akan memberikan makna sebuah pembelajaran secara holistik. Artinya, di dalam proses mengirim tugas [atau naskah atau sebut saja karya] ke dot-com, mata pelajaran tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Semuanya saling berkaitan dan terjalin kelindan menjadi satu kesatuan yang disebut dengan “kekuatan kombinasi”.

     

    Kekuatan Kombinasi

    Untuk mendapatkan dampak yang maksimal, seperti karya Novi di atas, sang anak akan mulai mengerti bahwa mereka memerlukan pelajaran desain untuk membuat sampul itu. Ia memerlukan pelajaran bahasa Indonesia agar tata bahasa dan judul menjadi menarik. Agar postingannya dibaca banyak orang, ia menggunakan ilmu kewirausahaan. Saat ia mengunggah ke internet mereka menggunakan ilmu Simdig. Dan jika ia ingin karyanya bisa tampil secara internasional ia harus menerjemahkan ke bahasa Inggris dan tentu saja ini adalah wilayah bahasa Inggris. Itulah “kekuatan kombinasi”.

    Lihatlah di Youtube dan ketikkan kata kunci MTV Chart 2016-2017. Anda akan menemukan Justin Bieber feat Mayor Lazer, Lana Del Rey feat The Weeknd, Dipha Barus Feat Kallula, G-Eazy feat Kehlani, dan sederet tangga lagu hampir dikuasai oleh kolaborasi-kolaborasi. Apa yang bisa kita simpulkan dari tangga lagu itu? Kekuatan Kombinasi!

    Di Indonesia, nyaris tidak ada legenda musisi yang masih bertahan layaknya Iwan Fals. Ia bertahan dari era ayah saya sampai generasi terbaru saat ini karena kekuatan kombinasinya. Dan sekarang, Iwan Fals masih didengar oleh generasi-generasi Nidji, Geisha, d’Masiv dan sebagainya.

    Di dunia otomotif, lihatlah Toyota berkolaborasi dengan Daihatsu. Apa hasilnya? Xenia-Avanza, Agya-Alya, Sigra-Calya. Tentu saja itu adalah hasil peleburan dua konsep yang berbeda menjadi satu kesatuan yang utuh serta orisinal. Itu juga disebut kekuatan kombinasi.

    Di dunia teknologi, mari kita lihat perkembangan Microsoft Office yang diluncurkan oleh Windows. Apa yang ditawarkan oleh MS. Office tahun 2016? Ia lebih menekankan pada kolaborasi. Jadi, pengguna satu dengan yang lain akan mampu membagi file dan mengedit bersama. Bukankah itu juga dari bagian kombinasi?

    Jadi, kenapa pembelajaran kita selalu terlambat membaca perubahan? Kita masih saja menjejalkan pengetahuan ke otak anak-anak? Kita memberikan harapan semu kepada mereka. Kita harus berubah. Harus melakukan sebuah revolusi dalam pembelajaran dan ini adalah urgen! Itulah barangkli yang menjadi dasar Robert Kiyosaki menulis buku Why “A” Students Work for “C” Students?

    Salah satu jawabannya mungkin sudah disampaikan oleh Renald Khasali dalam bukunya Self Driving: Menjadi Driver atau Passengger?: “Hanya 2% dari seluruh guru yang benar-benar menjadi pendidik, yaitu guru kreatif yang membentuk manusia. Sekitar 3% di antaranya sibuk menjadi administrator, dan sisanya adalah “guru kurikulum” yang hanya menjalankan perintah dengan menyelesaikan kurikulum yang diwajibkan. Apa isi buku, itu yang diberikan.”

    Tentu saja, ini sangat mengenaskan!

     

    Sekolah Bukan untuk Mencari Pengetahuan, namun Berkaya

    Sebagaimana sudah saya sampaikan di muka bahwa pengetahuan itu paling mudah dicari melalui Google. Maka, guru-guru harus bisa meyakinkan anak-anak untuk berkarya dengan memanfaatkan Google. Mendorong mereka untuk terus menggali potensi dalam diri mereka. Dot-com adalah sebuah gerbang pembuka untuk menuju langkah-langkah berikutnya.

    Buat mereka untuk terus berkaya dan menemukan hal-hal yang menjadikan mereka bangga. Itulah konsepsi nyata dari pembelajaran. Jangan sita waktu mereka dengan duduk memandang Anda. Jangan bebani dengan tugas dan PR yang tidak bermakna, namun buat mereka terpacu untuk menemukan sebuah karya yang kelak memang sangat mereka butuhkan.

    candraJika mereka senang menggambar, ajak mereka menulis buku sebagai ilustratornya lalu jual di dot-com. Tugas-tugas mata pelajaran lainnya diberi sampul ilustrasi yang menarik, lalu jual di internet! Perhatikan gambar ilustrasi berikut yang hanya ditulis menggunakan spidol hitam.

    Jika mereka pandai matematika, instruksikan untuk membuat blog yang secara khusus membahas matematika, tingkatkan rating dan hasilkan uang. Jika pandai menulis, jual juga karya-karyanya di dot-com. Jika suka bereksperimen, cari lomba karya ilmiah dan hasilnya seperti siswa kami bernama Alfindra. Ia memenangkan penelitian dengan baterai organiknya, yaitu baterai yang terbuat dari bahan-bahan organik yang pengisian ulangnya cukup dengan menyuntikkan air. Perhatikan koran di bawah ini.

    Jika mereka punya karya terbitkan dalam bentuk buku. Promosikan di dot-com. Lihatlah buku berjudul Selendang yang Berkalung pada Nisan Tak Bernama tersebut. Dengan dot-com, kita bisa mendaratkan makna dari sebuah pembelajaran. Tepat di depan peserta didik kita!
    koranGambar: temuan yang berhasil diliput media
    leutikaGambar: buku anak-anak yang bisa dilihat di leutika.com
    Tentu saja di dalam melakukan aktivitas tersebut tidak terlepas dari perangkat. Kita membutuhkan perangkat yang terkoneksi ke wifi. Semua laptop saat ini sudah dilengkapi dengan layanan itu. Namun, memang ada sejumlah laptop yang memiliki kinerja yang baik untuk terhubung ke internet. Saya rasa, kita semua yang ada di sini telah sepakat laptop merk apa yang mumpuni untuk mendukung itu semua!

    Pada akhirnya, menggunakan perangkat teknologi yang mumpuni, melibatkan dot-com, serta pedagogi adalah kombinasi sempurna untuk sebuah revolusi pembelajaran. Dari sana, Anda telah menciptakan sebuah pemantik di dada peserta didik. Ketika kita memiliki tujuan yang sama dalam mendidik anak-anak, insyaAlloh, apa yag diharapkan oleh Dr.M.sastrapratedja, S.J. [2]  akan terwujud:

    “Kalau guru dan dosen berani menggali kekuatan-kekuatan yang ada dalam peserta didik dan membantu untuk memperkembangkannya, akan muncul lebih banyak manusia Indonesia yang unggul.“ []

     

    Referensi:

    [1] Renald Kasali. Self Driving: Menjadi Driver atau Passengger? (Bandung: Mizan Media Utama; 2016) Hal 50.

    [2] J.I.G.M. DROST, S.J. Sekolah: Mengajar atau Mendidik. 2008. Kanisius: Yogyakarta. Vi

     

    “Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru”

     

     

     

  • Semoga kita semua digolongkan sebagai guru yang ilmunya bermanfaat bagi para murid2.

  • Semoga kita semua digolongkan sebagai guru yang ilmunya bermanfaat bagi para murid2.

  • Terima kasih saudara2 yang sudah komen, semoga kita digolongkan sebagai guru yang bisa memberikan pencerahan kepada murid serta ilmu yang kita ajarkan bermanfaat dunia akhirat. saya juga sudah vote balik bagi yang […]

  • Bismillah, saya juga ikutan semoga kita semua bisa menjadi guru yang ilmunya bermanfaat di dunia dan di akhirat. Amin.

    Follow saya di: http://guraru.org/guru-berbagi/mengguncang-dunia-dari-sebuah-ruang/

  • Bagi saya, tidak ada hal yang lebih menggembirakan selain bertemu dengan murid-murid di kelas. Saya merasa terhibur ketika mereka tertawa. Saya takjub ketika mereka menemukan ide-ide di luar pemikiran saya dalam memecahkan masalah. Tapi sayangnya, kegiatan yang penuh petualangan itu tiba-tiba berubah hanya karena sebuah pertanyaan.

    Ya, sebuah pertanyaan sederhana yang tiba-tiba mengusik saya. Pertanyaan itu seolah menjelma sebuah katapel raksasa yang melemparkan saya ke tengah samudera luas. Tidak ada mercusuar dan sampan yang membawa saya keluar dari pulau ketersesatan tersebut: Apakah yang saya lakukan ini benar-benar bermanfaat bagi mereka?

    Belum selesai satu pertanyaan, muncul pertanyaan-pertanyaan lain yang haus jawaban dan siap memangsa pemikiran nyaman saya: guru itu mendidik atau mengajar? Bagaimana memastikan bahwa murid yang saya didik akan mampu bersaing di dunia globalisasi? Bagaimana dengan birokrasi yang seolah menjadi rantai pengikat kreativitas para guru? Kenapa saya harus pusing mengajar, sementara guru-guru yang sudah sertifikasi saja tidak meningkatkan kompetensi mereka? Dan, jika saya mendaftarkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya, barangkali akan menjadi sebuah buku tebal berjilid-jilid jumlahnya.

    Belum lagi saya menemukan fenomena ada seorang guru yang sangat berdedikasi dalam mencerdaskan para murid. Ia berjibaku dalam mengantarkan murid untuk menang sayembara hingga tingkat nasional. Totalitasnya benar-benar luar biasa. Namun sayangnya, hanya karena administrasi mengajarnya tidak sesuai, pengawas mengelompokannya menjadi “guru yang tidak baik”. Sebaliknya, ada guru yang sering meninggalkan kelas, jarang menerangkan, tetapi administrasinya lengkap (yang bisa jadi hasil unduhan dari internet) justru bisa tampil menjadi guru yang baik di hadapan pengawas dan bisa berprestasi.

    Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pengawas, saya berpikir bahwa jika pengawas ingin benar-benar meningkatkan kualitas guru hendaknya tidak mengukur dengan pertanyaan “Mana administrasi mengajar Anda?” saja melainkan juga masuk kelas, memberikan saran atas permasalahan-permasalahan, dan memberikan contoh teladan mengajar yang baik.

    Tidak hanya itu, ada hal lain lagi yang mengusik saya. Media massa begitu bersemangat ketika memberitakan hal-hal negatif tentang pendidikan. Seolah pendidikan di tanah air ini tidak ada baiknya. Guru menjadi semacam selebritas yang tak ada habis berita negatifnya dikuras.

    Apabila terdapat peristiwa hamil di luar nikah, narkoba, tawuran, seks bebas, hingga korupsi, pihak pertama yang “pantas” dituding adalah guru. Benarkah begitu? Patut diingat, guru dituntut memperbaiki moral murid hanya dalam waktu 8 jam di sekolah. Jika dirinci lagi, guru hanya punya waktu 2 x 45 menit dalam seminggu bahkan bisa kurang. Harusnya orang tua yang harus dipersalahkan jika memang mencari siapa yang salah. Betapa tidak, mereka yang punya waktu 16 jam di rumah!

    Apa yang B.S. Ardiatmadja[1] tulis bisa menjadi pembelaan tetapi juga sebuah kritikan. Beliau menuliskan bahwa guru masih diminta berperan sebagai orang bijak dan cerdas, namun lingkungan tidak selalu mengizinkan guru menjadi cerdas dan meningkatkan kecerdasannya karena sejumlah hal, antara lain sebagai berikut. Pertama, guru kerap mengerjakan tugas administratif yang mustahil dilakukan. Kedua, guru kerap mengikuti acara pemerintahan yang tidak punya cukup waktu untuk menolong mencerdaskan mereka. Ketiga, pegangan dari departemen pendidikan begitu “kaku” sehingga tidak ada ruang untuk mengembangkannya.

    Pada titik ini saya merasa putus asa menjadi guru. Hingga saya membaca berita di sebuah media bahwa sebanyak 300 guru di wilayah Jawa Timur pada bulan Februari sampai April 2015 mengajukan pensiun dini. Data itu akan bertambah menjadi 301 karena saya akan menyumbangkan sebuah nama, yaitu nama saya sendiri, untuk menambah panjang data statistik tersebut.

     

    Dari Ketaksaan Menuju Keniscayaan

    Sore itu saya memilih menenggelamkan diri di antara rak-rak buku perpustakaan UPT proklamator Bung Karno, Kota Blitar. Saya sempat memikirkan akan menjadi seorang penulis novel saja daripada menjadi seorang guru. Oleh karena itu, saya berniat meminjam buku di rak novel.

    Otak saya berpikir ke sana, namun alam bawah sadar saya menuntun langkah saya pada deretan buku pendidikan. Tatapan saya jatuh pada sebuah buku berjudul Sekolah: Mengajar atau Mendidik? Karya J.I.G.M Drost[2]. Pada salah satu halaman dalam buku tersebut, Dr.M.sastrapratedja, menulis pengantar: Kalau guru dan dosen berani menggali kekuatan-kekuatan yang ada dalam murid dan membantu untuk memperkembangkannya, akan muncul lebih banyak manusia Indonesia yang unggul.

    Dari Drost ke Eric Jensen[3]. Pakar pendidikan tersebut menulis bahwa pendidik harus mewujudkan bakat anugerah dalam diri siswa yang merupakan warga masa depan. Sementara itu Profesor Sa’ad Karim[4] menambahkan Tidak ada pendidikan yang akan membuahkan hasil yang baik kecuali pendidikan yang didasari oleh keimanan. Satu hal lagi yang saya temukan dari Dr. Wendi Zarman[5]  bahwa Salah satu kekeliruan besar dunia pendidikan sekarang ini adalah menyempitkan tujuan menuntut ilmu semata-mata demi mencari uang atau kerja.

    Pencarian demi pencarian saya lakukan. Dalam tiga minggu, saya membaca tak kurang dari 30 eksemplar buku. Hingga ada sebuah puisi yang menjadi cemeti membuat saya sadar[6].
    Hasrat untuk Berubah
     
    Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal
    aku bermimpi ingin mengubah dunia.
    Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku
    kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah.
    Maka, cita-cita itupun aku persempit.
    Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.
    Namun, tampaknya, hasrat itupun tiada hasil.
    Ketika usiaku semakin senja,
    dengan semangatku yang masih tersisa,
    kuputuskan untuk mengubah keluargaku.
    Orang-orang yang paling dekat denganku.
    Tapi malangnya, mereka pun tidak mau berubah.
    Dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
    Tiba-tiba kusadari:
    Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
    dan dengan menjadikan diriku sebagai teladan,
    mungkin aku dapat mengubah keluargaku.
    Lalu, berkat inspirasi dan dorongan mereka,
    bisa jadi aku mampu memperbaiki negeriku.
    Kemudian, siapa tahu,
    aku bahkan dapat mengubah dunia
     
    Saya mencoba berdiskusi dengan sejumlah teman yang saya anggap memiliki dedikasi yang baik dalam mendidik murid. Teman saya memberikan sebuah nasihat:

    “Jika kau mengundurkan diri dari sekolah ini,” kata teman saya, “Sekolah ini telah kehilangan guru terbaik. Pada akhirnya, bangsa ini kehilangan salah seorang yang akan melahirkan murid-murid berkualitas untuk membangun peradaban bangsa.”

    Saya tahu, itu hanya sebuah pujian tak berdasar. Itu belum mampu menjawab rentetan pertanyaan dan kegelisahan saya.

    Selanjutnya, saya menyebar angket kepada lebih dari 200 siswa di tempat saya mengajar. Salah satu pertanyaan saya adalah siapa orang yang paling kamu percaya dan akan kamu patuhi semua nasihatnya? Hasilnya adalah 48% guru, 43% orang tua, dan sisanya adalah kakak, teman, atau pacar.

    Saya tersenyum karena seorang guru memiliki kepercayaan yang lebih tinggi daripada orang tua. Saya perlu memulai segalanya dari diri saya, apapun yang terjadi di luar sana. Biarkan angka statistik 301 di atas tetap menjadi 300. Saya telah memutuskan bahwa dunia ini akan berubah dari tangan murid-murid. Hal pertama yang harus saya perbaiki adalah diri saya.

     

    Kembali ke Kelas

    Saya memulai pembelajaran dengan semangat baru. Saya seperti menemukan jawaban atas semua pertanyaan. Hal pertama yang saya yakini adalah apa yang dikatakan oleh Reza Rifanto[7] bahwa pada dasarnya tidak ada murid yang bodoh, yang ada hanya guru yang tidak bisa mengajar. Saya mengajar bahasa Indonesia yang mungkin sarat dengan pelajaran hafalan dan mungkin membosankan.

    Foto 1Foto 2

    Saya menyulapnya. Teknologi membantu saya mewujudkan pembelajaran yang “sempurna”. Saya mengubah sebuah kelas menjadi bioskop. Saya tidak perlu banyak bicara ketika di depan kelas. Ketika saya mengintegrasikan teks, video, dan audio ke dalam satu slide murid-murid telah terhipnotis. Ada yang tertawa, menangis, dan bahkan merenungi.

    Foto 1untitled

    Kedua, saya menemukan semangat kaizen. Sebagaimana ditulis oleh Deporter[8] bahwa guru-guru yang hebat percaya akan kekuatan ‘kaizen’, konsep yang dianut banyak orang Jepang: perbaikan kecil, tampak tak berarti, berkesinambungan, dan tanpa henti. Saya memulainya dengan cara memberikan kesempatan kepada mereka untuk berekspresi.

    foto 4

    Murid-murid saya mencoba mengekspresikan berbagai karya ke dalam sebuah majalah dinding. Sebagian dari mereka, tulisannya, berhasil menembus koran lokal dan regional. Tidak hanya itu, mereka juga bisa menampilkan hasil wawancara tokoh-tokoh inspiratif melalui video.

    foto3

    Teknologi memang sangat membantu kita. Namun terdapat sejumlah hal yang perlu kita cermati saat melakukan pembelajaran dengan menggunakan teknologi. Guru harus melakukan persiapan yang lebih matang. Artinya, guru harus melakukan pengecekan lebih awal. Lima menit sebelum pembelajaran dimulai harus sudah dipersiapkan. Guru harus selalu menyimpan file cadangan baik di gawai, flashdisc, atau di tempat penyimpanan online semacam 4shared.com atau google drive, dsb. Guru harus selalu menyiapkan rencana B yaitu ketika terjadi listrik padam mendadak, komputer atau file rusak.

    foto 5

                Ketiga, saya tidak akan pelit pujian. Liberman[9] menulis bahwa ada seorang guru di New Jersey yang mampu mengubah kelompok siswa yang sulit dikendalikan, membolos, dan mengacau. Guru yang mendapatkan penghargaan tahunan tersebut berbicara kepada mereka seolah-olah cerdas. Jika ada yang bertanya, ia akan mengatakan,”Itu pertanyaan yang bagus, kamu cerdas. “

    foto 6

     

    Keempat, tidak perlu menjadi seorang genius untuk mengetahui bahwa salah satu cara terbaik untuk memotivasi orang-orang adalah dengan menawarkan mereka kesempatan-kesempatan yang tidak mereka dapatkan di tempat lain[10]. Saya hanya perlu memberikan kesempatan itu kepada murid-murid saya.

    foto 7

    Kesempatan itu bisa berupa banyak hal. Biarkan mereka menemukan sendiri solusi dari permasalahan. Beri kesempatan mereka untuk mempresentasikan gagasan mereka dengan cara mereka sendiri. Intinya, izinkan mereka untuk berkreasi dan bereksplorasi.

    foto 8

    Pembelajaran pun tidak selalu di dalam ruangan. Salah satunya adalah pembelajaran yang saya sebut Tiga di Dalam, Tiga di Luar. Prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut.

    Guru menyiapkan pembelajaran dengan berkelompok.
    Kelompok bisa dibentuk dengan cara berhitung 1,2,3,4,5,6 [atau bergantung jumlah kelas] dan mengelompokkan murid bernomor 1,2,3,4,5,6. Pembentukan kelompok ini bisa dengan teknik lainnya.
    Kelompok 1,2,3 berada di dalam kelas sementara kelompok 4,5,6 berada di luar. Upayakan guru menentukan tempat untuk ketiga kelompok yang berada di luar.
    Guru mengecek tugas masing-masing kelompok dengan cara berkeliling.
    Persiapkan presentasi tiap kelompok pada pertemuan berikutnya atau jika memungkinkan presentasi perwakilan apabila masih cukup waktu.

    foto 9foto 10

    Terakhir, kelima, doa menempati urutan teratas dari semua usaha yang bisa saya lakukan. Setiap kali kita memulai pembelajaran, seyogianya mengawalinya dengan doa “Semoga apa yang kita pelajari hari ini bermanfaat”. Begitu pula pada saat mengakhirinya. Tidak hanya itu, selepas sholatpun seyogianya kita juga mendoakan mereka. Sebab, kita tidak pernah tahu satu diantara mereka barangkali akan menjadi penerus bangsa sebagaimana kita harapkan.

     

    Sebuah Musibah

    Sangat menyenangkan melakukan pembelajaran dengan melibatkan teknologi. Namun, siapa sangka ACER ASPIRE ONE milik saya harus jatuh dari atas lemari. Komputer jinjing (laptop) manapun akan hancur LCD-nya. Sama halnya dengan milik saya.

    20150517_000344

    Saya cukup shock menghadapi musibah ini. Namun, saya yakin di balik semua musibah akan tersimpan hikmah. Show must go on, begitu kira-kira yang harus saya lakukan. Tanpa teknologi saya akhirnya menemukan sejumlah cara yang tidak kalah kreatif.

    Saya memulainya dengan harapan murid-murid saya banyak membaca.

    Sebab, Ray Bradbury pernah menyampaikan bahwa tidak perlu membakar buku untuk menghancurkan sebuah bangsa, bikin saja orang-orangnya berhenti membaca. Akhirnya saya berlangganan koran dan tiap kali ada artikel yang menarik saya kliping. Pada waktu-waktu tertentu, murid-murid, saya minta untuk membaca dan mempresentasikan di depan kelas.

    “Saya dapat wawasan tentang wirausaha dari pelajaran bahasa Indonesia.” Kata salah seorang murid dari jurusan Jasa Boga setelah saya minta berkomentar di akhir pembelajaran.

    “Tidak membosankan, saya senang, dan menarik sekali.” Kata yang lainnya.

    foto 12

    Saya juga menemukan sederet pembelajaran yang menyenangkan tanpa peralatan. Selanjutnya saya menyebutnya sebagai 51 Permainan Sederhana untuk Mengontrol Murid Anda tanpa Peralatan. Beberapa diantaranya adalah Lempar Takdir, Kata Berkait, STOP!, Tagar, Class Got Talent, Tunjuk Teman, dan 45 permainan sederhana lainnya.

    Selain itu, sebagai guru, saya merasa bahwa murid-murid harus mengenal lokalitas mereka. Hal ini sebagai pengejawantahan dari menciptakan murid yang berpikir global namun berbudaya lokal. Banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya mengunjungi tempat peninggalan bersejarah di sekitar sekolah.

    untitled2

     

    Menciptakan Generasi Emas

    Setiap guru mesti yakin akan keberhasilan muridnya, melakukan eksplorasi pembelajaran, terus belajar, pantang menyerah, dan jangan lupa berdoa. Itulah barangkali apa yang diharapkan oleh Dr.M.sastrapratedja bisa kita wujudkan.

    Soekarno pernah mengatakan, “Beri saya sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia.” Kalau kita cermati lagi, siapa yang dimintai oleh Soekarno? Saya rasa adalah kita, para guru. Dimanapun diri kita: di pelosok desa, di perbatasan, di pegunungan, di kota, di sekolah yang maju, di sekolah yang hampir roboh….

    Murid-murid kita akan menjadi pengguncang dunia. Itu semua harus dimulai dari sekarang. Kita akan memulainya dari sebuah ruang yang biasa kita sebut dengan kelas. Sedangkan kelas adalah sebuah ruang yang tidak hanya terbatas pada tembok saja. Itu bisa bermakna di sawah, di aula, di laboratorium, di pinggir sungai, di hutan, di lapangan, dan dimanapun Anda mengajar murid-murid Anda!

     

     

    Referensi:

    [1] Lihat Pendidikan Manusia Indonesia. Editor Tonny d. Widiastono. Penerbit Buku Kompas:Jakarta.2004.

    [2] J.I.G.M. DROST, S.J. Sekolah: Mengajar atau Mendidik. [Kanisius: Yogyakarta, 2008] halaman vi.

    [3] Eric Jensen. Guru Super dan Super Teaching. [Jakarta: indeks, 2010] halaman 19

    [4]Prof.Sa’ad Karim. Agar Anak tidak Durhaka. [Jakarta: Pustaka Al-kautsar,2006] Halaman 5

    [5] Dr.Wendi Zarman. Inilah! Wasiat Nabi Bagi Para Penuntut Ilmu. [Yogyakarta:ruang kata, 2012] halaman 16

    [6] Puisi tersebut saya catat dari sebuah buku yang saya lupa mencatat judul dan pengarangnya.

    [7] Reza Rifanto. 3 Menit Membuat Anak Keranjingan Belajar. [Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010] halaman 55

    [8] Bobbi deporter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourie. Quantum Teaching:Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang Kelas. [Bandung: Kaifa, 2006] halaman 128

    [9] David J. Liberman. Agar Siapa Saja Mau Berubah Untuk Anda.[ Jakarta: serambil ilmu semesta, 2008] Halaman 198-199

    [10] Rhymer Rigby. 28 Busines Thinkers Who Changed The World. [Jakarta: Naura Books (Mizan Publika), 2012] Halaman 129.
     
     “Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10
    guraru-324x324

  • L.GRAFURA changed their profile picture 6 years, 6 months ago

  • L.GRAFURA became a registered member 6 years, 7 months ago

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar