• Good job, i’ll vote this.

  • Hhe… anak2 tu pak M.Subakri. Maaf pak sy msh baru, klo boleh tnya, apa maksudnya “save dulu PERTAMAX’ itu y?. Thx pak Iwan Sumantri. Monggo pak Abdul Muis.

  • Terima kasih pak M. Subakri dan pak Iwan Sumantri. Salam kenal jg, smg brmanfaat.

  • Wah, sy msh beginner ni pak Iwan Sumantri. But anyway, thx a lot sir, i appreciated it.

  • XI IPS (2010-2011) SMAN 04 Merlung
    ABSTRAK
     Untuk melakukan pengembangan kultur sekolah perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut, pertama adalah memotret kultur sekolah sehingga diketahui kecenderungan kultur sekolah yang bersifat positif (unggulan) dan negatif. Setelah itu, baru menentukan indikator-indikator yang mempengaruhi kultur tersebut. Langkah berikutnya adalah memonitoring dan mengevaluasi perubahan yang dilakukan untuk kemudian membuat laporan dan memberikan tindak lanjut. Kegiatan ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) dapat dijadikan sebagai budaya unggulan yang akan diberlakukan di tingkatan sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Kegiatan penelitian ilmiah di kalangan remaja perlu dilakukan sejak dini, terselenggaranya aktivitas peserta didik yang berbasis penelitian dapat dimasukkan kedalam proses pembelajaran (intrakurikuler) atau kegiatan diluar pelajaran (ekstrakurikuler). Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan seyogyanya memiliki kultur sekolah yang positif agar secara terus menerus dapat meningkatkan mutunya. Melalui kegiatan KIR yang menjadi budaya unggulan sekolah, maka faktor itulah yang diharapkan bisa mewujudkan good school yang menjadi cita-cita tersebut.  Kultur sekolah yang positif akan menyemaikan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan sehingga sekolah benar-benar dapat menjadi agen perubahan untuk menjadikan manusia Indonesia yang utuh, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab sehingga tercapai good school yang diharapkan.

    Kata Kunci : KIR, kultur sekolah, good school.

     
    PENDAHULUAN
     

    Pendidikan merupakan salah satu sektor penting penentu keberhasilan pembangunan nasional, baik dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia  dalam  hal  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi  yang  dilakukan  dalam mewujudkan  cita-cita  pembangunan  nasional  sebagaimana  yang  tercantum dalam UU Sisdiknas Bab II pasal 3 yang berbunyi: Pendidikan   nasional   berfungsi   mengembangkan   kemampuan   dan membentuk  watak  serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka mencerdaskan  kehidupan  bangsa,  bertujuan  untuk  berkembangnya  potensi peserta  didik  agar  menjadi  manusia  yang  beriman  dan  bertakwa  kepada Tuhan   Yang   Maha   Esa,   berakhlak   mulia,   sehat,   berilmu,   cakap,   kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

    Jika dikaitkan dengan upaya mengembangkan potensi peserta didik, maka sekolah menyelenggarakan banyak kegiatan yang pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua macam kegiatan, yaitu pertama kegiatan pembelajaran (intrakurikuler) itu sendiri, dan yang kedua kegiatan di luar pelajaran atau yang biasa disebut dengan kegiatan ekstrakurikuler.

    Walaupun pendidikan ekstrakurikuler sifatnya berada di luar pelajaran, namun ditenggarai bahwa sebenarnya kegiatan ini tidak kalah pentingnya dengan kegiatan intrakurikuler. Selain turut menyalurkan hobi dan minat siswa, kegiatan ektrakurikuler juga menyumbang pembentukan karakter siswa. Ada beberapa bentuk kegiatan ekstrakurikuler di sekolah diantaranya Pramuka, Palang Merah Remaja, Paskibra, Koperasi Peserta didik, Peserta didik Pencinta Alam, Sanggar Seni, Kelompok Ilmiah Remaja, Kelompok Kerohanian Peserta didik dan Jurnalistik Peserta didik (mading). Pada kesempatan ini, penulis membatasi diri pada pembahasan ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR).

    Menarik untuk dicermati, bahwa keberadaan KIR di sekolah-sekolah dewasa ini sudah sangat esensial karena adanya dua tindakan yang ikut membangun potensi peserta didik secara optimal yaitu kegiatan meneliti dan menulis. Dua hal ini tidak dapat dipisahkan jika kita ingin menghasilkan generasi-generasi muda yang berkualitas.

    Karenanya meneliti dan menulis karya ilmiah bagi peserta didik maupun guru sebenarnya merupakan kegiatan yang sangat menarik dan menyenangkan,  peserta didik akan mendapatkan pengalaman, wacana, kepekaan terhadap lingkungan karena rasa keingintahuannya, pemompaan semangat, keterampilan sains dan bahkan prestasi dan masa depan yang lebih cerah. Selain itu, dengan memiliki keterampilan meneliti dan menulis, sudah pasti bermanfaat, setidaknya ketika para peserta didik menapaki studi di perguruan tinggi. Permasalahannya adalah belum adanya wahana dan fasilitas terhadap kegiatan pembinaan KIR ini, kegiatan ini memiliki potensi yang cukup besar untuk kemajuan anak bangsa, banyak pelajar di Indonesia memiliki prestasi yang “mendunia” dalam ajang penelitian remaja. Untuk mewujudkan itu semua, peran serta dari berbagai elemen seperti pemerintah pusat, daerah harus lebih banyak memberikan perhatian yang lebih terhadap pemberdayaan peserta didik untuk mengikuti kegiatan yang mengasah keterampilan peserta didik dalam meneliti dan menulis.

    Tiap-tiap sekolah mempunyai kebudayaannya sendiri yang bersifat unik. Tiap-tiap sekolah memiliki aturan tata tertib, kebiasaan-kebiasaan, upacara-upacara, mars/hymne sekolah, pakaian seragam dan lambang-lambang yang lain yang memberikan corak khas kepada sekolah yang bersangkutan. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan sekolah ini mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap proses dan cara belajar siswa. Seperti dalam ungkapan “children learn not what is taught, but what is caught”.

    Oleh karena itu penulis tertarik dalam membahas bagaimana peran dan potensi ekstrakurikuler KIR dalam merealisasikannya sehingga diwujudkan dalam kultur sekolah yang dikembangkan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh sekolah tersebut.

     

    EKSISTENSI EKSTRAKURIKULER KELOMPOK ILMIAH REMAJA (KIR) DI SEKOLAH

    Pendidikan ekstrakurikuler merupakan kegiatan belajar yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah untuk lebih memperluas wawasan, kemampuan, peningkatan dan penerapan nilai pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran (Adang Rukhiyat, 2002). Tujuan pendidikan ekstrakurikuler adalah: (1) meningkatkan dan memantapkan pengetahuan peserta didik, (2) mengembangkan bakat, minat, kemampuan dan keterampilan dalam upaya pembinaan pribadi, (3) mengenali hubungan antara pelajaran dalam kehidupan di masyarakat (Adang Rukhiyat, 2002).

    Pendidikan ekstrakurikuler yang selama ini ada di sekolah diantaranya Pramuka, Palang Merah Remaja, Paskibra, Koperasi Peserta didik, Peserta didik Pencinta Alam, Sanggar Seni, Kelompok Ilmiah Remaja, Kelompok Kerohanian Peserta didik dan Jurnalistik Peserta didik (mading). Untuk meningkatkan kualitas pendidikan telah dilakukan berbagai upaya oleh pemerintah diantaranya melakukan perubahan paradigma dan kurikulum, akan tetapi seringkali perubahan tersebut dari masa ke masa memberikan hasil yang kurang memuaskan, hal ini tercermin dari tertinggalnya bangsa Indonesia dengan bangsa lain, terpuruknya keadaan ekonomi, dan politik bangsa serta berbagai permasalahan sosial budaya masyarakat yang belum mampu teratasi.

    KIR adalah kelompok remaja yang melakukan serangkaian kegiatan yang menghasilkan suatu hasil yang disebut karya ilmiah. Karya ilmiah adalah suatu karya yang dihasilkan melalui cara berpikir yang menurut kaidah penalaran logis, sistematis, rasional dan ada koherensi antar bagian-bagiannya (saling terkait dan tidak bertentangan satu sama lain). (Susilowarno, 2003), sedangkan menurut (Supardan, 2004) Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) adalah kelompok (grup) para remaja yang menduduki jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan sederajat, atau seseorang yang tidak duduk di sekolah formal yang berusia 12 – 21 Tahun.

    Berdasarkan beberapa defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa Kelompok Ilmiah Remaja adalah suatu wadah (organisasi) yang sifatnya terbuka bagi para remaja, berdasarkan kesamaan kepentingan (interest) dalam berkeinginan meningkatkan pengetahuan, kreativitas dan berdisiplin, berdaya juang untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kini  dan masa mendatang.

    Organisasi atau Kelompok Ilmiah remaja yang ditumbuh kembangkan oleh sekolah maupun tumbuh secara alami karena tuntutan kebutuhan oleh anggota kelompok ilmiah remaja dapat terus bertahan dan dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain kurikulum, kebijaksanaan sekolah, pendanaan, kerjasama dengan institusi-institusi dan sosialisasi hasil penelitian.

    Secara organisatoris pembinaan kelompok ilmiah remaja di sekolah diperankan oleh Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah melalui SK Mendikbud No. 0461/U/1994 dan Keputusan Dirjen Dikdasmen No. 21/C/Kep/O/1986 dan sejalan dengan kebijaksanaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), khususnya Biro Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, bahwa pembinaan KIR di sekolah dilakukan melalui keorganisasian OSIS pada sekbid V (KIR/Media pelajar).

    Modus pokok kegiatan-kegiatan KIR meliputi pengamatan, penelitian, penulisan dan publikasi. Bidang kajian yang dapat diterapkan di KIR ini  adalah Bidang IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), IPSK (Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan), Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPT).

    Berbagai kegiatan-kegiatan lain yang dapat dilakukan oleh kelompok ilmiah remaja agar lebih bervariasi adalah sebagai berikut :

    Pertemuan Ilmiah

    Bagi anggota KIR bertujuan untuk memberikan kesempatan belajar berkomunikasi langsung dengan berdiskusi, mengembangkan sikap kritis, mengembangkan wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi antar anggota maupun dengan para pakar, pembina dan pembimbing dapat memberikan petunjuk-petunjuk dan saran-saran bagi para anggota Kelompok Ilmiah Remaja. Pertemuan ilmiah ini dapat berupa seminar, diskusi, simposium, ceramah atau talk show, baik yang diselenggarakan oleh KIR sendiri maupun institusi lainnya, seperti universitas-universitas maupun lembaga lainnya.

    Penataran dan Pelatihan

    Pelatihan untuk anggota KIR bertujuan untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai bidang, antara lain latihan dalam metodologi penelitian dan pengembangan, latihan manajemen organisasi KIR, latihan teknik penulisan ilmiah (hasil penelitian) dan pelatihan statistik. Pelatihan semacam itu bisa dibuat sendiri dengan mengundang pakar yang berkompeten atau dapat mengikuti program-program yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan atau oleh beberapa universitas  yang konsen terhadap KIR, dalam hal ini di setiap propinsi memiliki badan yang bergerak dalam Penelitian dan pengembangan yaitu Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BALITBANGDA), badan ini juga dapat dijadikan suatu motor penggerak untuk memajukan KIR di daerah.

    Perkemahan dan Wisata Ilmiah

    Perkemahan adalah suatu kegiatan di luar lokasi kegiatan KIR. Perkemahan dalam konsepsi KIR tidak hanya berarti hidup di alam terbuka, tetapi juga mencakup kegiatan-kegiatan laboratorium alam, oseanorium, terrarium, dimana para ahli memberikan informasi mengenai berbagai gejala alam. Sedangkan wisata ilmiah merupakan kegiatan kunjungan ke berbagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga dalam wisata ini anggota KIR dapat memperluas dan memperkaya informasi mengenai latar belakang dan proses suatu institusi.

    Melakukan Riset Sederhana

    Sebagai upaya menumbuhkan kemampuan dasar riset ilmiah perlu dilakukan kegiatan yang berbasis penelitian sederhana, maka dari itu peserta didik harus dibekali kemampuan menyusun ide penelitian, sehingga nantinya mereka dapat lebih memahami metode penelitian yang akan dilakukan. Riset sederhana yang dilakukan dapat diambil dari berbagai bidang seperti IPSK, IPA dan bidang IPT, dalam bidang IPA peserta didik diberikan contoh kegiatan penelitian-penelitian sederhana yang dapat membangun rasa ingin tahu (curiosity) seperti pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah, Biodiesel dari Limbah Ikan, Pestisida Organik, Biogas dan praktek lainnya, sedangkan untuk bidang IPSK, mereka dibekali kemampuan membuat angket (kuisioner), daftar wawancara, serta kemampuan dalam observasi daerah yang akan diteliti.

    Dari bagan di atas dapat dijelaskan bahwa hal pertama adalah adanya minat peserta didik yang dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler (KIR), selanjutnya menemukan atau mencari ide penelitian dari permasalahan yang ada yang telah ditemukan dan di ajukan oleh peserta didik ke pembimbing, pemantapan dan pematangan ide penelitian dilakukan peserta didik bersama pembimbing melalui telaah pustaka, diskusi/seminar, penelitian awal atau observasi awal sehingga masalah penelitian tersebut terformulasikan. Bila penelitian tersebut tidak terjangkau oleh peserta didik maka akan dikaji ulang atau diberhentikan. Tetapi bila dianggap terjangkau oleh peserta didik maka dapat dilanjutkan ke proses pembimbingan penelitian dan penelitian sehingga menghasilkan sebuah karya ilmiah yang dapat dipresentasikan dan dipublikasikan setelah melalui proses-proses tersebut.

     

    DEFENISI KULTUR SEKOLAH DAN GOOD SCHOOL (EFFECTIVE SCHOOL)

    Kamus Sosiologi Modern menyatakan bahwa kultur adalah totalitas dalam sebuah organisasi, way of life, termasuk nilai-nilai, norma-norma dan karya-karya yang diwariskan antar generasi. Kultur merupakan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh individu dan kelompok yang dapat ditunjukkan oleh perilaku organisasi yang bersangkutan.

    Kultur sekolah adalah pola nilai, keyakinan dan tradisi yang terbentuk melalui sejarah sekolah (Deal dan Peterson, 1990). Stolp dan Smith (1994) menyatakan bahwa kultur sekolah adalah pola makna yang dipancarkan secara historis yang mencakup norma, nilai, keyakinan, seremonial, ritual, tradisi dan mitos dalam derajat yang bervariasi oleh warga sekolah. Kultur sekolah adalah budaya sekolah yang menggambarkan pemikiran-pemikiran bersama (shared ideas), asumsi-asumsi (assumptions), nilai-nilai (values), dan keyakinan (belief) yang dapat memberikan identitas (identity) sekolah yang menjadi standar perilaku yang diharapkan. (Zamroni, 2009). Lembaga sekolah sebagai pihak internal seharusnya membangun kultur sekolah berdasarkan pemikiran-pemikiran lembaga yang ditunjang oleh gaya kepemimpinan kepala sekolah, perilaku guru dan siswa serta pegawai dalam memberikan layanan kepada para siswa, orang tua, dan lingkungannya sebagai pihak eksternal. Kultur positif sekolah seharusnya menjadi kekuatan utama dalam mengarahkan seluruh warga sekolah menuju perubahan-perubahan positif. Pada umumnya setiap sekolah telah memiliki kulturnya sendiri namun sekolah yang berhasil adalah sekolah yang memiliki kultur positif yang sejalan dengan visi dan misi sekolah.

    Dalam upaya meningkatkan mutu sekolah dituntut untuk terus menerus melakukan perbaikan, pengembangan kualitasnya melalui peningkatan kultur sekolah. Kultur sekolah memegang peranan penting dalam peningkatan mutu karena memiliki empat fungsi, yaitu: (1) Sebagai alat untuk membangun identitas (jati diri); (2) Kultur sekolah akan mendorong warga sekolah untuk memiliki komitmen yang tinggi; (3) Kultur sekolah akan mendorong terbentuknya stabilitas dan dinamika sosial yang berkualitas. Hal ini penting agar lingkungan sekolah menjadi kondusif tidak

    terganggu oleh konflik yang akan menghambat peningkatan mutu pendidikan; (4) Kultur sekolah akan membangun keberartian lingkungan yang positif bagi warga sekolah.

    Kultur sekolah yang baik ikut membangun iklim sekolah menjadi kondusif, paling tidak  siswa jadi mengidentifikasi diri dan membentuk karakter yang sesuai dengan budaya yang hendak dibangun oleh sekolah yang bersangkutan. Jadi, bila sekolah sudah memiliki kultur sekolah, maka sekolah efektif yang dicita-citakan tadi juga akan terinternalisasikan dalam keseharian sekolah tersebut.

    Apa itu sekolah effektif (good school)? Menurut Mortimore dalam Suyanto (2007) bahwa sekolah yang efektif dapat didefinisikan sebagai, yaitu: one in which students progress further than might be expected from a consideration of intake. Dari rumusan tersebut, tugas penting sekolah bukan hanya mendukung tercapainya prestasi akademik, akan tetapi juga menjaga agar semua siswa dapat berkembang sejauh mungkin jika dibandingkan dengan kondisi awal ketika mereka baru memasuki sekolah. Pada sekolah yang efektif, semua siswa dijamin dapat berkembang. Sebaliknya, pada sekolah yang tidak efektif hanya siswa yang memiliki kemampuan tinggi dalam belajar (fast learners) yang dapat berkembang.

    Selanjutnya, dalam sekolah yang efektif terdapat proses belajar yang efektif, yang ciri-cirinya menurut Mortimore dalam (Suyanto, 2007) adalah sebagai berikut:

    Active rather than passive: aktif bukannya pasif;
    Covert rather than overt: tidak kasat mata;
    Complex rather than simple: rumit bukannya sederhana;
    Affected by individual differences amongs learners: dipengaruhi oleh adanya perbedaan individual di antara para peserta didik;
    Influenced by variety of context: dipengaruhi oleh berbagai konteks.

     

    PENGEMBANGAN KIR SEBAGAI KULTUR SEKOLAH MENUJU SEKOLAH EFEKTIF (GOOD SCHOOL)

    Kultur sekolah yang baik diharapkan akan berhasil meningkatkan mutu pendidikan yang tidak hanya memiliki nilai akademik namun sekaligus bernilai afektif. Hal ini berarti bahwa sekolah yang berhasil membangun dan memberikan kultur yang baik akan menghasilkan prestasi belajar yang tinggi dan tidak hanya bernilai akademik tapi juga menghasilkan kultur dengan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih baik, berbudaya, berahlak dan berbudi pekerti luhur (Zamroni, 2009).

    Sarason (1982) menyatakan dalam bukunya The Culture of The School and The problem of Chance menyatakan bahwa kultur sekolah dapat dikembangkan melalui dua pendekatan yaitu pendekatan struktural dan pendekatan kultural. Perbaikan sistem persekolahan pada intinya adalah membangun sekolah per sekolah melalui kekuatan utama di sekolah yang bersangkutan. Upaya perbaikan mutu sekolah perlu memahami budaya/kultur sekolah sebagai modal dasarnya. Melalui pemahaman kultur sekolah, maka berfungsinya sekolah dapat dipahami, aneka permasalahan dapat dimengerti, dan pengalaman-pengalaman dapat direfleksikan.

    Setiap sekolah memiliki keunikan berdasarkan pola interaksi komponen warga sekolah secara internal dan eksternal. Oleh sebab itu dengan memahami ciri-ciri kultur sekolah akan dapat dilakukan tindakan nyata dalam perbaikan mutu sekolah. Jika pencapaian mutu sekolah memerlukan usaha mengubah kondisi dan perilaku sekolah, warga sekolah dan pendukung sekolah maka pengembangan kultur dengan pendekatan struktural akan gagal. Tetapi pengembangan mutu sekolah dengan pendekatan kultural (budaya) diyakini dapat menggerakkan usaha perbaikan jangka panjang.

    KIR yang mempunyai pokok kegiatan-kegiatan pengamatan, penelitian, penulisan dan publikasi yang dapat menumbuh kembangkan sifat jujur, keingintahuan dan bertanggung jawab yang bertumpu pada kesadaran dan kekuatan diri untuk pengetahuan dapat dijadikan pusat perhatian pada budaya keunggulan (culture of excellence) sehingga terbentuklah good school yang diharapkan melalui KIR sebagai kultur sekolah.

    Membangun budaya ilmiah menjadi kultur sekolah melalui KIR sudah saatnya dilakukan karena kegiatan ekstrakurikuler ini mendorong siswa belajar lebih kreatif karena mereka diberikan keleluasaan dalam berkreativitas. Ini menjadi jalan keluar dari sistem belajar mengajar yang monoton dan tidak komunikatif karena siswa melulu “disuapi” guru. Kegiatan ini juga memutus distance (jarak) antara siswa dengan guru. Keuntungan yang diraih sekolah dan daerah memang tidak dalam bentuk materi, justru mengeluarkan materi, tetapi nama yang harum karena prestasi salah satu siswa atau putra daerahnya. Semakin banyak siswa atau putra daerah yang berprestasi, semakin berhasil sekolah atau daerah yang bersangkutan. Oleh karena itu, jangan ditunda lagi, mulai saat ini, segera bangun budaya ilmiah di sekolah.

     
    PENUTUP
     

    Kegiatan penelitian ilmiah di kalangan remaja perlu dilakukan sejak dini. Terselenggaranya aktivitas peserta didik yang berbasis penelitian dapat dimasukkannya kedalam proses pembelajaran atau kegiatan di luar pelajaran. Budaya KIR yang telah dibangun dalam diri setiap siswa, akan membawa dampak pengiring yang ikut membangun perasaan ingin tahu dan cara berpikir ilmiah siswa yang tentunya akan mempermudah siswa itu sendiri dalam memecahkan masalah bila dihadapkan pada permasalahan yang akan muncul dalam hidupnya di masa-masa mendatang.

    Kultur sekolah harus dibangun berlandaskan visi, misi dan tujuan sekolah dengan menerapkan manajemen partisipatif dan terbuka sehingga benar-benar dipahami dan dihayati oleh seluruh warga sekolah dan para pemangku kepentingan sehingga dapat diimplementasikan secara ikhlas dan konsisten untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan dalam visi dan tujuan sekolah. Dalam membangun kultur, sekolah tidak dapat berdiri sendiri tetapi memerlukan kerjasama dengan mitra kerjanya yaitu orang tua siswa, komite sekolah dan para pemangku kepentingan lainnya

    Jika diimplementasikan dengan baik dan konsisten, kultur sekolah dapat meningkatkan kualitasnya secara terpadu untuk kepuasan pelanggan, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal. Pada sekolah yang efektif, semua siswa dijamin dapat berkembang. Sebaliknya, pada sekolah yang tidak efektif hanya siswa yang memiliki kemampuan tinggi dalam belajar (fast learners) yang dapat berkembang.

     
    DAFTAR BACAAN
     

    Anonim. 2003. Panduan Penelitian Bagi Remaja. Pemerintah Propinsi Daerah Khusus Ibukota. Dinas Olahraga dan Pemuda. Jakarta.

    Ariefa Efianingrum. 2008. Kultur Sekolah Untuk Mengembangkan Good School. Makalah Pengabdian Pada Masyarakat, Universitas Negeri Yogyakarta.

    Didi Suorijadi.2005. Buku Pedoman Pembinaan Ekstrakurikuler SMA. Dinas Dikmen DKI. Jakarta.

    Gede Raka, Yoyo Mulyana, Suprapti S.M, Conny R. Semiawan, Said Hamid H, Hana Djumhana B, Nani Nurachman.2011.Pendidikan Karakter di Sekolah dari Gagasan ke Tindakan. Penerbit Pt. Elex Media Komputindo. Kompas Gramedia.

    Nasution, A.H.1992. Panduan Berpikir dan Meneliti Secara Ilmiah bagi Remaja. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

    R.G. Susilowarno.2003. Kelompok Ilmiah Remaja, Petunjuk Membimbing dan Meneliti bagi Remaja. Penerbit Grasindo. Jakarta.

    Rukhiyat, Adang.2003. Paradigma Baru Pendidikan Ekstrakurikuler. Jurnal Matahari Vol. II No. 3 dan 4 UHAMKA. Jakarta.

    Simanjutak, Ida, M.1993. Organisasi dan Pengembangan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). Biro pemasyarakatan IPTEK LIPI. Jakarta.

    Supardan, Raden.2004. Kelompok Ilmiah Remaja Sebagai Model Alternatif Pengembangan Prestasi Peserta didik di SMA Negeri 1 Malingping. Karya Tulis tidak diterbitkan. Malingping. Banten.

  • XI IPS (2011-2012) SMAN 04 Merlung
    ABSTRAK
     Untuk melakukan pengembangan kultur sekolah perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut, pertama adalah memotret kultur sekolah sehingga diketahui kecenderungan kultur sekolah yang bersifat positif (unggulan) dan negatif. Setelah itu, baru menentukan indikator-indikator yang mempengaruhi kultur tersebut. Langkah berikutnya adalah memonitoring dan mengevaluasi perubahan yang dilakukan untuk kemudian membuat laporan dan memberikan tindak lanjut. Kegiatan ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) dapat dijadikan sebagai budaya unggulan yang akan diberlakukan di tingkatan sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Kegiatan penelitian ilmiah di kalangan remaja perlu dilakukan sejak dini, terselenggaranya aktivitas peserta didik yang berbasis penelitian dapat dimasukkan kedalam proses pembelajaran (intrakurikuler) atau kegiatan diluar pelajaran (ekstrakurikuler). Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan seyogyanya memiliki kultur sekolah yang positif agar secara terus menerus dapat meningkatkan mutunya. Melalui kegiatan KIR yang menjadi budaya unggulan sekolah, maka faktor itulah yang diharapkan bisa mewujudkan good school yang menjadi cita-cita tersebut. Kultur sekolah yang positif akan menyemaikan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan sehingga sekolah benar-benar dapat menjadi agen perubahan untuk menjadikan manusia Indonesia yang utuh, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab sehingga tercapai good school yang diharapkan.

     

    Kata Kunci : kelas, pendidikan, dan karakter.

     

     
    PENDAHULUAN
     

    Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai kesatuan diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar-mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.

    Bagi guru maupun siswa ruang kelas adalah tempat mereka bekerja. Sehingga ruang kelas yang rapi dan menarik dapat memberi dampak yang positif bagi guru dan siswa yang sedang bekerja. Ruang kelas yang bersih, nyaman, rapi, dan menarik, menjadi tempat kerja yang menyenangkan, sehingga mampu memaksimalkan produktivitas kerja.

    Kondisi fisik kelas yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

    Pencahayaan: kelas harus memiliki atau memperoleh cukup cahaya yang menerangi.
    Ventilasi: sirkulasi udara dari dalam dan luar harus cukup
    Kenyamanan: kelas itu harus rapi, bersih, sehat, dan tidak lembab
    Letak duduk yang diatur sedemikian rupa sehingga menjadikan siswa leluasa dan dapat berinteraksi dengan temannya dalam aktivitas belajar. Misalnya dengan format huruf “U”, meja konferensi, lingkaran, dsb.
    Penempatan siswa: seperti siswa yang pandai dengan yang kurang pandai

     

    Oleh karena itu penulis tertarik dalam membahas bagaimana peran dan potensi ekstrakurikuler KIR dalam merealisasikannya sehingga diwujudkan dalam kultur sekolah yang dikembangkan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh sekolah tersebut.

     
    HAKIKAT KELAS
     

    Menurut Anonim pada Wikipedia menyebutkan bahwa Kelas dapat berarti sekelompok murid yang menghadapi pelajaran ataupun kuliah tertentu di perguruan tinggi, sekolah, maupun lembaga pendidikan. Kelas juga bisa merujuk pada kegiatan belajar-mengajar itu sendiri: kelas dalam drama-drama karya William Shakespeare. Kelas dapat pula berupa sekelompok murid di tingkatan yang sama dalam sebuah institusi: kelas satu; ataupun sekelompok murid yang lulus dari lembaga tersebut di saat yang sama: kelas 2005 (bandingkan alumnus/i). Kelas dapat pula merujuk ke ruangan, bangunan, atau wahana di mana pelajaran diajarkan. Dalam sistem pendidikan di beberapa negara (seperti Republik Cina), kelas dapat merujuk pada pembagian murid di suatu bagian akademik, terdiri atas sekelompok murid di tingkatan akademik yang sama. Sebagai contoh, kelas 2 di sebuah bagian dapat terbagi atas 3 kelas.

     

    Adapun menurut Nawawi, bahwa kelas adalah sebagai suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan berbagai kegiatan pembelajaran yang kreatif  untuk mencapai suatu tujuan”

     

    Selain itu Nawawi juga menegaskan bahwa definisi kelas dibagi dua yaitu:
    1) Kelas dalam arti sempit yakni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Dalam pengertian tradisional mengandung sifat statis, karena sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya yang didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
    2) Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai kesatuan diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar-mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan. refrensi buku “Sudirman dkk, Ilmu Pendidikan:Kurikulum, Program pengajaran, Efek Intruksional dan pengiring, CBSA, Metode mengajar, Media pendidikan, Pengelolaan kelas dan Evaluasi hasil belajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), hlm. 310-311″

     

    Menurut Oemar Hamalik, “kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapatkan pengajaran dari guru”. Pengertian ini jelas ditinjau dari segi anak didik karena dalam pengertian tersebut ada frase kelompok orang.

     

    Sedangkan menurut Suharsini Arikunto, kelas adalah “sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama”.

     

     
    IMPLIKASI KELAS TERHADAP PEMBELAJARAN
     

    Kelas adalah salah satu faktor yang penting dalam pembelajaran. Hal ini dapat dijelaskan dalam:

    Implikasi terhadap pembelajaran yang berlangsung.

    Kondisi kelas yang dikelola/didesign dengan baik (modern) dapat mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan, serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan siswa karena mereka merasa nyaman dan betah dengan suasana/kondisi kelas.

    Sebaliknya kondisi kelas yang tidak dikelola secara baik atau hanya mengikuti kondisi yang sudah ada sebelumnya (tradisional) memungkinkan kondisi belajar di dalam kelas yang tidak kondusif dan tidak menyenangkan, serta kurang memotivasi.  Karena kelas yang kondusif adalah lingkungan belajar yang mendorong terjadinya proses belajar yang intensif dan efektif. Strategi belajar apapun yang ditempuh guru akan menjadi tidak efektif jika tidak didukung dengan iklim dan kondisi kelas yang kondusif.

     

    Implikasi terhadap disiplin dan pembinaan karakter.

    Pengaturan lingkungan belajar (kelas) sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Sehingga akan mendorong anak terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar.  Dan design ruang kelas yang baik dimaksudkan untuk menanamkan, menumbuhkan, dan memperkuat rasa keberagaman dan perilaku-perilaku spiritual siswa, serta memungkinkan siswa dapat bergerak dengan leluasa sehingga tidak saling mengganggu antara siswa yang satu dengan yang lainnya. Disamping itu guru dapat mengontrol tingkah laku siswa dengan pengaturan tempat duduk sehingga terjadinya tatap muka.

    Selain itu dengan ruang kelas yang baik para siswa dapat berkomunikasi secara bebas, saling menghormati, dan menghargai pendapat masing-masing. Dan dengan ruang kelas yang tertata dengan baik, guru akan leluasa memberi perhatian yang maksimal terhadap setiap aktivitas siswa.

     

    Indikasinya terhadap sistem evaluasi.

    Faktor penting yang menentukan hasil belajar adalah lingkungan kelas. Dalam lingkungan kelas yang menyenangkan, siswa akan senang belajar dan secara langsung akan meningkatkan hasil belajar, sehingga memudahkan bagi guru untuk mengevaluasinya.

    Berbeda dengan suasana dan kondisi belajar di dalam kelas yang tidak kondusif dan tidak menyenangkan mengakibatkan kurang dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik, dan tentu saja hal ini menyebabkan menurunnya minat belajar dan rendahnya prestasi siswa sehingga guru akan kesulitan untuk memberikan evaluasi hasil belajar.

     
    MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKAN KARAKTER ANAK MELALUI PENSINERGIAN PENDIDIKAN RUMAH DAN SEKOLAH
     

    Globalisasi dan desentralisasi yang akhir-akhir ini menjadi arus kehidupan yang terjadi secara simultan di Indonesia dapat menjadi tantangan dan sekaligus peluang bagi setiap warga masyarakat untuk membangun kualitas kehidupan yang lebih baik.
    Kehidupan global dengan segala kemajuan ilmu dan teknologinya telah menyediakan berbagai fasilitas belajar dan kehidupan yang memungkinkan masyarakat untuk belajar lebih banyak dan mencapai kondisi kehidupan yang lebih sejahtera dan berkualitas.
    Begitupun, desentralisasi telah memberi peluang kepada masyarakat, khususnya di daerah, untuk membangun daerahnya secara lebih maksimal sesuai dengan permasalahan, kebutuhan, karakteristik, dan norma-norma masing-masing (Solehuddin, 2000).
    Namun, fakta berbicara lain. Gejala perilaku masyarakat dewasa ini, termasuk perilaku remaja dan anak-anak, sudah sangat mengakhawatirkan. Globalisasi yang sejatinya diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik, masih melahirkan berbagai persoalan kehidupan yang sangat pelik. Begitupun, desentralisasi
    yang semula dirancang untuk lebih memberi peluang kepada masyarakat untuk memberdayakan diri, juga masih melahirkan ekses-ekses kehidupan yang belum
    sepenuhnya teratasi. Pemerintah sendiri (Pemerintah Republik Indonesia, 2010)
    mengakui akan adanya persoalan kehidupan bangsa yang krusial ini seperti dituturkan pada Latar Belakang Kebijakan Nasional tentang Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2015, yakni bahwa pada saat ini masih terjadi kesenjangan sosial-ekonomi-politik yang masih besar, kerusakan lingkungan yang terjadi dimana-mana, ketidakadilan
    hukum, pergaulan bebas dan pornografi di kalangan remaja, kekerasan dan kerusuhan serta tindakan anarkis di mana-mana, konflik sosial, serta korupsi yang semakin merambah ke berbagai sektor kehidupan. Semua ini mengindikasikan adanya pergeseran ke arah ketidakpastian jati diri dan karakter bangsa.
    Kondisi perilaku masyarakat yang sangat mengkhawatirkan tersebut telah mengusik perhatian pemerintah sehingga pada tahun ini dikeluarkan suatu kebijakan yang sangat memprioritaskan pembangunan karakter bangsa. Namun, tidaklah mungkin permasalahan tersebut hanya ditangani oleh pemerintah. Semua kita, apalagi pendidik,
    perlu turut berperan serta dalam memberikan sumbangan pemikiran dan upaya maksimal dalam mengatasi persoalan bangsa seperti itu.
    Sebagai akademisi pendidikan, melalui makalah ini penulis bermaksud untuk berurun rembuk merumuskan pemikiran-pemikiran yang diharapkan bermanfaat dalam memformulasikan kebijakan dan program-program pendidikan karakter. Secara lebih
    operasional, makalah ini dimaksudkan untuk melakukan kajian tentang pengertian karakter, terbentuk dan berkembangnya karakter pada anak, masalah pendidikan karakter di Indonesia, menjadikan rumah sebagai lembaga pendidikan karakter yang pertama dan utama, pendekatan pendidikan karakter di sekolah, serta bagaimana mensinergikan pendidikan rumah dan sekolah untuk membangun dan mengembangkan karakter anak.

    Apakah Karakter Itu?

    Untuk melakukan kajian tentang pendidikan karakter adalah penting bagi kita untuk terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan karakter. Watak atau karakter (character) adalah suatu konsep yang merupakan subjek dari berbagai
    disiplin, mulai dari filsafat hingga ke teologi, dari psikologi hingga ke sosiologi (http://en.wikipedia.org). Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila istilah karakter didefinisikan secara beragam sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masingmasing disiplin. Kadang-kadang, istilah karakter dipahami secara keliru. Misalnya,
    seseorang dipandang memiliki karakter atau tidak memiliki karakter; atau karakter disamakan dengan kepribadian (personality).
    Sesuai dengan perspektif yang digunakan dalam kajian makalah ini—perspektif psikopedagogis, watak atau karakter dipandang sebagai salah satu aspek kepribadian yang terkait dengan penilaian tingkah laku individu berdasarkan standar-standar moral atau etika. Dalam pengertian ini, seseorang bisa dinilai berkarakter (memiliki sikap dan
    perilaku) baik atau jelek, terpuji atau tercela (Sukmadinata & Surya, 1975).
    Sejalan dengan pengertian karakter di atas, istilah karakter sering digunakan dengan merujuk pada seberapa baik seseorang (how ‘good’ a person is) (http://en.wikipedia.org). Dengan kata lain, seseorang yang menunjukkan kualitas pribadi yang
    cocok dengan yang diinginkan oleh masyarakat bisa dianggap memiliki karakter yang baik. Sebaliknya, bila seseorang menujukkan kualitas pribadi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka ia dipandang memiliki karakter yang jelek.
    Suatu sumber (www.charactercounts.org) menyatakan ada enam pilar dari karakter,yakni kejujuran (trustworthiness), respek (respect), tanggung jawab (responsibility), keadilan (fairness), kepedulian (caring), dan kewarganegaraan (citizenship). Namun, perihal pilar karakter ini bisa berbeda antara yang berlaku di suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya sesuai dengan nilai-nilai yang dianggap baik oleh masing-masing masyarakat.

    Lebih lanjut, Lickona (http://www.goodcharacter.com) menjelaskan bahwa
    karakter yang baik melibatkan mengetahui, menginginkan, dan melakukan kegiatankegiatan
    yang baik dan ditunjukkan dengan kebiasaan berpikir, merasa, dan berbuat.
    Josephson (http://www.goodcharacter.com) memperluas definisi ini dengan mengatakan
    bahwa karakter adalah bagaimana seseorang berbuat ketika yang bersangkutan berpikir tak ada orang lain yang melihatnya atau bagaimana seseorang berbuat ketika yang bersangkutan berpikir orang lain tidak dapat membantu dan tidak pula menyakitinya.
    Gagasan kunci dari apa yang diungkapkan oleh Lickona dan Josephson tersebut adalah bahwa perbuatan baik (sebagai wujud dari karakter yang baik) itu dilakukan bukan karena orang lain (tidak bersifat instrumental), melainkan semata-semata dilakukan karena pelaku meyakini bahwa hal tersebut memang merupakan suatu kebaikan.
    Pembentukan Karakter Anak dan Faktor-faktor yang Memengaruhinya Seperti telah dijelaskan di atas bahwa pengertian karakter merujuk pada kualitas
    pribadi yang terkait dengan standar moral atau etika. Oleh karena itu, pembahasan tentang karakter tidak bisa lepas dari pembahasan tentang nilai (value) dan perilaku moral (moral behavior). Begitupun ketika kita berbicara tentang pendidikan karakter,
    maka itu akan interchangeable dengan pendidikan nilai atau pendidikan moral. Dalam pemahaman ini, pendidikan karakter bisa berarti penanaman nilai-nilai dasar atau pembentukan perilaku moral yang diharapkan.

    Karakter, yang dalam wujud konkritnya berupa perilaku yang terkait dengan moral (moralitas), memiliki komponen afektif, kognitif, dan perilaku. Dengan demikian,
    meskipun wujud konkrit dari karakter itu akan berupa perilaku (perilaku moral), perkembangan karakter akan melibatkan tiga komponen dari karakter tersebut— afektif, kognitif, dan perilaku. Secara singkat, Sigelman & Rider (2006) menjelaskan perkembangan karakter atau perilaku moral pada anak sebagai berikut.
    Pada awalnya, bayi memang kurang atau tidak bermoral, khususnya ketika ia harus membuat pertimbangan benar dan salah. Namun, sosialisasi moral mereka telah mulai. Kelekatan (attachment) yang aman dan orientasi yang saling responsif antara orang tua dan anak berkontribusi ke perkembangan kata hati (conscience). Menjelang
    usia 2 tahun, anak telah menginternalisasi aturan berperilaku, dan mereka menjadi cemas ketika mereka melanggar aturan. Mereka juga menunjukkan bibit empati (suatu motivator penting dari perilaku moral) ketika melihat yang lain cemas atau bersedih.
    Lebih lanjut, Sigelman & Rider menjelaskan bahwa walaupun anak mampu menimbang tindakan-tindakan baik dan buruk menurut maksud pelakunya, mereka
    tidak memandang semua aturan itu suci, menantang otoritas orang dewasa ketika mereka meyakini hal itu tidak legitimate, dan menggunakan cara-cara berpikir mereka untuk menganalisis motif-motif orang dan konsekuensi emosional dari tindakantindakan mereka. Tentunya, anak dini belum menyelesaikan pertumbuhan moral mereka, tetapi mereka tampak di jalurnya untuk menjadi makhluk yang bermoral jauh sebelum masa anak akhir dan awal remaja. Ketika berlangsungnya proses pembentukan perilaku moral, pengaruh-pengaruh situasional berkontribusi terhadap inkonsistensi moral selama masa anak. Penguatan, modeling, dan pendekatan disiplin induksi dapat
    mendukung pertumbuhan moral, namun histori sosialisasi anak dan temperamen juga
    mempengaruhi responsnya terhadap pendidikan moral.

    Menambahi penjelasan di atas, McDevitt & Ormrod (2002) menjelaskan beberapa
    faktor yang turut mendukung perkembangan moral anak, yakni penggunaan nalar,
    pengalaman interaksi dengan teman sebaya, contoh-contoh perilaku moral dan sosial,
    serta kajian akan isu-isu dan dilema moral.

    Penggunaan nalar. Telah dikemukakan di atas bahwa karakter atau perilaku moral
    bukan semata-mata berupa perilaku tanpa melibatkan unsur afeksi dan kognisi. Oleh
    karena itu, pengembangan nalar (aspek kognisi) menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya pendidikan karakter. Dalam hal ini, orang tua atau pendidik bisa menunjukkan kepada anak tentang bahaya atau akibat-akibat buruk dari perilaku tak bermoral. Cara lain yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nalar moral anak ini adalah dengan cara induksi (induction), yakni menjelaskan kepada anak mengapa suatu perilaku itu
    diterima atau tidak diterima. Induksi adalah bagian integral dari gaya pengasuhan yang
    otoritatif (authoritative parenting style) yang bercirikan kehangatan emosional serta standar dan harapan yang tinggi terhadap perilaku
    Pengalaman interaksi dengan teman sebaya. Dalam berinteraksi dengan teman sebaya, anak bisa belajar banyak tentang moralitas. Dalam kegiatan atau bermain kelompok, misalnya, anak bisa memperoleh pengalaman-pengalaman seperti sharing,
    kerja sama, penyelesaian konflik, dan negosiasi. Pengalaman-pengalaman tersebut dapat merupakan latihan yang baik bagi pengembangan karakter anak.
    Model-model perilaku moral dan sosial. Meniru adalah salah satu cara anak dalam mengembangkan perilaku sosial atau moralnya. Anak lebih suka menunjukkan perilaku moral dan prososial ketika mereka melihat orang lain berperilaku dalam caracara yang tepat secara moral. Jika melihat yang baik, mereka akan meniru perilaku yang
    baik tersebut. Tapi celakanya, bila mereka melihat perilaku yang tidak baik, mereka juga
    menirunya. Di sinilah pentingnya, orang tua dan guru berperan sebagai model karakter
    yang diharapkan.

    Kajian tentang isu-isu dan dilema moral. Berkenaan dengan nalar moral, Kohlberg mengemukakan bahwa anak berkembang secara moral ketika nalar mereka dilatih untuk menganalisis dan menimbang dilema-dilema moral yang berada sedikit di atas kapasitas nalar moral mereka pada saat itu. Dengan bantuan pendidik atau guru,
    riset menujukkan bahwa melakukan kajian tentang topik-topik dan isu-isu moral yang
    kontroversial dapat meningkatkan transisi ke nalar moral yang lebih tinggi.
    Masalah-masalah dalam Pendidikan Karakter di Indonesia Pendidikan karakter sesungguhnya sudah sejak lama diselenggarakan di Indonesia,
    mungkin sejak kegiatan pendidikan itu diselenggarakan. Meskipun tidak disebut
    sebagai pendidikan karakter, tetapi program-program pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan agama, atau program pengembangan diri sesungguhnya merupakan pendidikan karakter atau sekurang-kurangnya terkait dengan upaya pembentukan karakater anak. Jadi, sesungguhnya kita tidak pernah berhenti
    menyelenggarakan pendidikan karakter, khususnya di lembaga-lembaga pendidikan formal. Tapi, mengapa program-program pendidikan karakter yang selama ini kita lakukan seperti tidak memberikan dampak positif yang berarti bagi pembangunan dan
    pengembangan karakter anak-anak didik kita?
    Secara singkat, penulis melihat adanya persoalan pendidikan karakter yang mendasar, baik di lembaga pendidikan sekolah, lembaga pendidikan rumah, maupun lingkungan pendidikan masyarakat. Di sekolah, pendidikan karakter umumnya lebih
    “dipercayakan” pada beberapa bidang studi tertentu, seperti pendidikan kewarganegaraan
    dan pendidikan agama. Di samping pendekatan ini memiliki banyak keterbatasan,penyelenggaraannya yang kurang berkualitas juga menambah semakin kurang bermaknanya program-program pendidikan karakter yang diselenggarakan. Pengamatan
    penulis di sejumlah SD menujukkan bahwa guru (guru kelas) cenderung mengajar dengan cara yang sama untuk hampir semua mata pelajaran, menekankan aspek kognitif (termasuk dalam pendidikan kewarganegaraan), dan cenderung dominan. Materi yang diajarkan juga cenderung terbatas pada apa yang ada dalam kurikulum tertulis dan buku teks yang digunakan. Sejalan dengan apa yang diamati oleh penulis, studi yang
    dilakukan Wardani (1994) di beberapa provinsi menyimpulkan bahwa aktivitas belajar mengajar di SD kurang memperhatikan aspek sikap dan keterampilan anak. Rumah yang sejatinya harus menjadi laboratorium kehidupan yang paling subur
    untuk membangun dan mengembangkan karakter anak juga sudah banyak kehilangan fungsinya. Kurangnya pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan edukatif orang tua mendorong mereka untuk memperlakukan (belum tentu mendidik) anak semaunya.
    Belum lagi himpitan tekanan sosial ekonomi yang menimpa banyak keluarga menambah semakin tidak keruannya perlakuan orang tua terhadap anak. Rumah pun akhirnya tidak lagi menjadi lahan yang subur bagi perkembangan karakter anak yang baik; malah sebaliknya, rumah menjadi pembinaan karakter anak yang keras dan membangkang.
    Lebih rumit lagi kondisi kehidupan masyarakat yang carut marut semakin menambah persoalan dalam pendidikan karakter anak. Tindak kekerasan, perilaku anarkis, pornografi, dan berbagai tindakan amoral lainnya yang hampir setiap saat berada pada pandangan mata dan pendengaran telinga anak semakin memperkuat inkonsistensiinkonsistensi pada pemikiran anak yang dapat menghambat terbentuknya karakter yang baik pada anak. Pemerintah pun tampak seolah-olah tak berdaya, membiarkan, dan galau dalam menyikapi situasi-situasi tidak kondusif tersebut.
    Singkatnya, persoalan pendidikan karakter yang dihadapi sekarang sudah sangat krusial dan menyeluruh sehingga perlu perombakan dalam strategi penyelenggaraannya secara menyeluruh pula.

    Menciptakan Rumah sebagai Lembaga Pendidikan Karakter yang Pertama dan
    Utama

    Pandangan penulis bahwa rumah merupakan lembaga pendidikan karakter yang
    pertama dan utama tampaknya tidak perlu diperdebatkan lagi. Pandangan ini didasarkan
    pada beberapa argumen berikut. Pertama, keluarga merupakan pihak yang paling awal memberikan perlakuan pendidikan terhadap anak. Kedua, sebagian besar waktu anak lajimnya dihabiskan di lingkungan keluarga. Ketiga, hubungan orang tua-anak bersifat khusus sehingga memiliki kekuatan yang lebih daripada hubungan anak dengan yang lain. Keempat, interaksi dalam kehidupan orang tua-anak lebih bersifat alamiahi (seadanya) sehingga sangat kondusif untuk membangun karakter anak.

    Selanjutnya, agar rumah bisa berfunsgi sebagai lembaga pendidikan karakter yang pertama dan utama, maka rumah harus menjadi laboratorium kehidupan yang memungkinkan terbangunnya karakter anak yang baik dengan subur. Untuk kepentigan
    ini, kehidupan rumah perlu dilandasi dan dicirikan dengan beberapa hal berikut.

    Di rumah perlu ada struktur dan aturan berperilaku yang manusiawi dan jelas. Keberadaan struktur dan aturan berperilaku ini sangat penting untuk dijadikan rujukan dalam berperilaku oleh setiap anggota keluarga. Struktur kehidupan dan aturan berperilaku ini tidak harus tertulis, tetapi yang penting adalah dipahami dan diwujudkan
    dalam kehidupan berkeluarga oleh setiap anggotanya. Tak adanya struktur dan aturan
    beperilaku dapat menyebabkan perilaku anak menjadi liar. Auran berperilaku juga perlu wajar dan manusiawi sehingga memungkinkan untuk dipatuhi. Sebaliknya,
    aturan perilaku yang tidak wajar akan mengundang orang untuk menentang dan melanggarnya.

    Kalau aturan berperilaku itu sudah ada, maka setiap anggota keluarga perlu menegakkan aturan itu secara konsisten dan bijaksana. Dengan kata lain, setiap anggota keluarga perlu berdisiplin dalam menegakkan aturan-aturan yang sudah
    disepakati. Namun, karena anak adalah individu yang sedang tumbuh kembang, dan upaya pembentukan karakter anak itu merupakan suatu proses yang on going, maka diperlukan kearifan orang tua dalam menerapkan disiplin itu sesuai dengan tahap dan
    kapasitas perkembangan anak.

    Ketegasan tanpa kekerasan adalah hal lain yang diperlukan untuk menegakkan aturan berperilaku. Karena rasa sayang yang berlebihan terhadap anak, orang tua kadangkadang merasa tidak tega untuk menolak permintaan-permintaan anak sesungguhnya tidak perlu. Orang tua kadang-kadang memberikan toleransi yang berlebihan sehingga mendorong anak menjadi manja dan egois. Jika kondisi seperti ini terus-menerus berlangsung, maka anak akhirnya akan bertindak semaunya tanpa menghiraukan
    struktur dan aturan perilaku yang ada.

    Pembiasaan (conditioning) juga merupakan hal yang diperlukan untuk membangun karakter anak yang diharapkan. Membangun karakter anak bukan pekerjaan sesaat yang sekali jadi, melainkan merupakan suatu proses bertahap dan memakan waktu
    seiring dengan perkembangan anak. Oleh karena itu, pembiasaan ini juga merupakan hal yang dibutuhkan untuk menginternalisasikan nilai-nilai dan perilaku moral yang diharapkan.

    Keselarasan sikap dan perlakuan antara kedua orang tua dalam mendidik anak merupakan hal lain yang juga diperlukan untuk menfasilitasi terbentuknya karakter anak yang baik. Inkonsistensi perilaku orang tua dalam memperlakukan anak dapat menimbulkan konflik pada anak sehingga dapat menghambat proses pembentukan
    karakter yang terintegrasi.

    Adanya jalinan komunikasi dengan anak yang berlandaskan kasih sayang dan penerimaan, bukan kekerasan dan penolakan. Kasih sayang adalah ikatan emosional yang erat antara orang tua dengan anak yang dapat diekspresikan dengan berbagai cara seperti kehangatan dalam berkomunikasi, kesegeraan merespons kebutuhan anak,
    dan menghibur anak di saat sedih. Meskipun pada dasarnya semua orang tua akan menyayangi anak, dalam prakteknya kualitas dan intensitas kasih sayang mereka bisa berbeda. Jika orang tua berhasil mengekspresikan kasih sayangnya kepada anak secara wajar, maka anak akan memiliki kompetensi sosial yang baik serta bersifat kooperatif, patuh, dan kurang mengalami masalah sosial. Kebalikan dari kasih sayang adalah
    kekerasan dan penolakan terhadap anak. Kekerasan umumnya melibatkan hukuman fisik yang dapat menghambat terbentuknya kasih sayang. Terlepas dari di sengaja atau tidak, perlakuan-perlakuan kekerasan itu akan cenderung dipersepsi oleh anak sebagai penolakan dan ketidaksenangan orang tua terhadapnya. Pada akhirnya, perlakuan keras
    dan penolakan seperti itu dapat menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan
    kognisi dan sosioemosi anak. Si anak bias menjadi kurang bergairah untuk bereksplorasi,
    penuh ketakutan dan kecurigaan, serta mungkin juga memiliki sikap atau perasaan yang
    ambivalen antara sayang dan benci.

    Orang tua lebih banyak memberikan alasan-alasan yang wajar berikut alternatif
    pilihannya daripada hukuman. Dampak positif dari hukuman biasanya bersifat sesaat;
    sedangkan dalam jangka panjang, hukuman itu lebih cenderung banyak dampak negatifnya. Hukuman biasanya dilakukan dengan luapan emosi agresif yang kadangkadang dilakukan secara tidak terkendali. Perlakuan seperti ini bisa mengkondisikan anak untuk memiliki berbagai perasaan negatif (tidak senang, benci, bahkan dendam terhadap orang tua). Selain itu, penggunaan hukuman juga berarti mengajarkan
    kekerasan kepada anak sebagai cara penyelesaian masalah. Karena itu perlu diupayakan
    agar penggunaan hukuman itu direduksi seminimal mungkin. Jika terpaksa harus menerapkan hukuman, maka pertimbangkanlah cara-cara berikut: (a) jelaskan kepada anak mengapa ia dihukum; (b) berilah anak alternatif yang positif bagi perilakunya yang tidak diharapkan; (c) batasi hukuman secara verbal dan hindari hukuman yang bersifat fisik; dan (d) berikan hukuman pada saat awal perilaku yang tidak diharapkan terjadi,
    bukan pada akhir setelah perilaku itu menjadi kronis.

    Orang tua berupaya “melindungi” anak dari pengaruh negatif media massa.
    Kecenderungan lain yang dewasa ini sangat mengkhawatirkan adalah adanya kemungkinan pengaruh negatif dari media informasi, khususnya televisi. Banyaknya program TV membuat anak semakin tersita waktunya untuk menonton TV. Yang
    menjadi persoalan bukan sekadar berkurangnya waktu belajar anak dengan menontot TV, tapi juga kemungkinan adanya pengaruh negatif dari apa yang ditonton oleh anak tersebut. Dalam hal ini orang tua hendaknya berupaya mengembangkan kebiasaan
    menonton TV yang baik pada anak dengan cara: (a) doronglah anak untuk menonton program-program khusus secara terencana (bukan menonton sembarang program) dan aktiflah bersama anak di saat menonton program-program yang terencana tersebut; (b) carilah program-program yang menonjolkan peran anak dalam usianya; (c) menonton
    TV hendaknya tidak digunakan sebagai pengganti dari kegiatan-kegiatan lain; (d) lakukanlah pembicaraan dengan anak tentang tema-tema televisi yang sensitif dan berilah anak kesempatan untuk mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang menarik perhatiannya; dan (e) seimbangkan antara aktivitas belajar dan menonton TV.

    Orang tua lebih banyak menerapkan gaya pendidikan yang otoritatif daripada yang otoriter dan permisif. Hasil penelitian beberapa ahli menunjukkan bukti yang meyakinkan bahwa gaya pendidikan yang otoriter bisa memberikan pengaruh-pengaruh yang negatif terhadap perkembangan anak, dan begitu pula gaya pengasuhan yang permisif. Sebaliknya, gaya pendidikan yang otoritatif cenderung memberikan pengaruhyang positif terhadap perkembangan perilaku anak.

    Sekali-kali anak diajak bicara untuk memecahkan masalah atau isu-isu moral bersama yang memang layak dibicarakan dengan mereka. Misalnya, anak diminta pendapatnya tentang bagaimana kehidupan orang-orang miskin—Di tempat seperti apa
    mereka tinggal? Bagaimana mereka bisa makan? Bagaimana kalau mereka sakit? Dan seterusnya. Di samping cara seperti ini bisa menjalin komunikasi dengan anak, juga penting untuk menumbuhkan rasa memiliki pada anak.

    Orang tua berperan sebagai sosok model manusia yang diharapkan. Maksudnya, jika pendidik mengharapkan anaknya jujur, jadilah orang tua yang jujur; jika mengharapkan supaya anaknya rajin, jadilah orang tua yang rajin; dan jika mengharapkan anaknya disiplin, maka jadilah orang tua yang disiplin. Contoh kehidupan nyata dari
    pihak orang tua ini sangat penting artinya sebagai objek imitasi dan figur bagi anak.
    Memberdayakan Sekolah dalam Pendidikan Karakter dengan cara Memperbaiki dan Melengkapi Pendekatan Pendidikan yang Diterapkan

    Ada sejumlah pendekatan yang dapat diterapkan dalam pendidikan karakter di sekolah, yakni Pengajaran Eksplisit tentang Karakter dan Nilai (Explicit Instruction in Character and Values), Diskusi Kelas (Class Discussions), Pengajaran Nilai-nilai melalui Kurikulum (Teach Values Through the Curriculum), Belajar Memberikan Layanan (Service Learning), Smorgasbord (Smorgasbord), dan Holistik (Holistic) (http://www.goodcharacter.com). Secara singkat, deskripsi dari masing-masing pendekatan adalahsebagai berikut.

    Pelajaran yang Eksplisit tentang Karakter dan Nilai (Explicit Instruction in Character and Values). Pendidikan karakter melalui pelajaran yang eksplisit tentang karakter dan nilai ini dilakukan dengan cara menyelenggarakan suatu pelajaran tersendiri tentang pendidikan karakter. Pendekatan ini sering diorganisasikan sekitar
    kualitas-kualitas kepribadian tertentu seperti respek, tanggung jawab, dan integritas.
    Melalui pelajaran tentang karakter ini, anak dilibatkan untuk membaca, menulis, diskusi,
    bermain peran, dan jenis-jenis aktivitas lainnya yang membantu mereka memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut.

    Diskusi Kelas (Class Discussions). Dengan pendekatan diskusi kelas, anak dilibatkan dalam diskusi dan refleksi yang jujur dan menarik tentang implikasi-implikasi moral dari apa yang mereka lihat di sekitar mereka, apa yang mereka katakan, serta apa yang mereka lakukan dan alami secara personal. Bila difasilitasi dengan tepat,
    kegiatan-kegiatan diskusi seperti ini dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis anak, memberikan suatu pengelaman yang mengikat kelompok, dan melibatkan anak dalam suatu refleksi yang mendalam dan bermakna tentang gambaran diri mereka sendiri saat ini dan ingin menjadi seperti apa. Lazimnya, anak haus akan kesempatan untuk mendiskusikan pikiran, perasaan, dan keyakinan mereka. Diskusi yang produktif
    tidak hanya dapat membuat anak terlatih secara nalar moral, tetapi juga mereka sering sampai pada mengalami kontradiksi sendiri secara langsung.

    Pengajaran Nilai-nilai melalui Kurikulum (Teach Values Through the Curriculum).
    Dalam pendekatan ini, pendidikan karakter dilakukan dengan cara diintegrasikan ke
    dalam berbagai mata pelajaran yang relevan. Ketika menyelenggarakan suatu mata
    pelajaran, guru berupaya untuk melibatkan anak dalam melakukan kajian-kajian tentang karakter dari suatu peran atau tokoh atau dengan melakukan kajian terhadap dilemadilema moral. Dalam pelajaran sejarah, misalnya, anak tidak hanya belajar tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau dalam urutan waktu, tetapi mereka
    harus diberi kesempatan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan etis berkenaan
    dengan peristiwa-peritiwa tersebut. Dengan demikian, sejarah bukan sekadar urutan peristiwa secara kronologis. Namun, sejarah adalah tentang bagaimana orang membuat pilihan-pilihan yang mempengaruhi orang lain. Pilihan-pilihan tersebut memiliki dimensi etis dan moral serta sering menghasilkan akibat-akibat yang besar, seperti
    sejarah tentang Nazi di Jerman.

    Belajar Memberikan Layanan (Service Learning). Dalam pendekatan ini, tujuantujuan akademik dikerjakan melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan layanan masyarakat. Dalam hal ini, anak-anak berlatih menyelenggarakan layanan yang terkait dengan kebutuhan masyarakat berkenaan dengan kesehatan, kemiskinan, isu-isu sosial,
    dan lingkungan. Mereka memilih kegiatan layaan yang akan dilakukan, merencanakannya, melakukannya, dan kemudian merefleksi keseluruhan pengalaman mereka. Di samping mempelajari isi akademik, anak-anak mempraktekkan keterampilan-keterampilan praktis yang bermanfaat seperti mengorganisasikan, bekerja sama, dan memecahkan
    masalah. Mereka melatih sifat-sifat karakter yang penting seperti memperlihatkan respek, mengambil tanggung jawab, empati, kerja sama, kewarganegaraan, dan ketekunan.

    Pendekatan Smorgasbord (Smorgasbord Approach). Pendekatan pendidikan karakter ini dilakukan dengan cara membangun suatu komunitas yang peduli (caring community). Setiap orang di sekolah—siswa, guru, dan staf administrasi lainnya—
    memperlakukan setiap orang yang lain dengan baik dan respek. Untuk memenuhi tujuan yang mulia tersebut, siswa perlu memainkan peran aktif dalam membangun kultur dan lingkungan kelas dan sekolah secara luas. Untuk menciptakan suasana seperti itu dapat dilakukan dengan cara-cara berikut.

    Menyelenggarakan pertemuan kelas yang mengkondisikan siswa merumuskan tujuan-tujuan kelompok, mengambil keputusan berdasarkan aturan berperilaku, merencanakan kegiatan-kegiatan, dan memecahkan masalah.
    2. Mengkondisikan siswa berkolaborasi pada tugas-tugas akademik dengan bekerja
    dalam kelompok-kelompok belajar kooperatif; memberi mereka kesempatankesempatan
    untuk merencanakan dan merefleksi cara-cara mereka bekerja sama.
    3. Mengorganisasikan suatu program yang memungkinkan anak-anak dengan berbagai
    usia bekerja sama dalam mengerjakan tugas-tugas akademik dan jenis-jenis aktivitas
    lainnya.
    4. Mengajarkan resolusi konfilk dan keterampilan-keterampilan sosial lainnya
    sehingga anak menjadi terampil memecahkan konflik secara adil dan damai.
    Cara-cara di atas membantu anak belajar membangun dan mempertahankan hubungan positif dengan yang lain, di samping juga mengkondisikan sekolah menjadi suatu laboratorium kehidupan yang mengkondisikan anak mempraktekkan berbagai
    jenis peran serta mengatasi tantangan-tantangan yang akan mereka hadapi dalam kehidupan selanjutnya.

    Pendekatan Holistik (Holistic Approach). Seorang tokoh pendekatan holistik,Berkowitz, mengatakan, “Effective character education is not adding a program or set of programs to a school. Rather it is a transformation of the culture and life of the
    school.” Pendidikan karakter yang efektif tidak dilakukan dengan menambah suatu atau seperangkat program, melainkan dilakukan melalui transformasi budaya dan kehidupan sekolah. Pendidikan karakter dilakukan dengan mengintegrasikan upaya pengembangan karakter ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Sekolah yang menerapkan pendekatan ini memiliki ciri-ciri berikut.

    Segala sesuatu di sekolah diorganisasikan sekitar perkembangan hubungan antara
    dan antar siswa, staf, dan komunitas.
    2. Sekolah adalah komunitas yang peduli terhadap pelajar yang dalam komunitas itu
    terdapat ikatan kuat yang menghubungkan siswa, staf, dan sekolah.
    3. Belajar sosial and emosional mendapat penekanan setara dengan belajar akademik.
    4. Kerja sama dan kolaborasi antar siswa lebih ditekankan daripada kompetisi.
    5. Nilai-nilai seperti keadilan, respek, dan kejujuran adalah bagian dari pelajaran
    harian di dalam dan di luar kelas.
    6. Siswa diberi kesempatan yang cukup untuk mempraktekkan perilaku moral melalui aktivitas-aktivitas seperti belajar menyelenggarakan layanan (service learning).
    7. Disiplin dan manajemen kelas lebih banyak dilakukan melalui problem-solving daripada melalui ganjaran dan hukuman.
    8. Menerapkan kelas demokratis yang memungkinkan guru dan murid melaksanakan
    pertemuan-pertemuan kelas untuk membangun kesatuan (unity), norma, dan memecahkan masalah.

    Bila dilihat di sekolah-sekolah kita, pendekatan pendidikan karakter yang sekarang
    diselenggarakan lebih terbatas pada Pengajaran Eksplisit tentang Karakter dan Nilai
    (Explicit Instruction in Character and Values) yang mungkin sebagian sekolah telah
    melengkapinya dengan pendekatan Diskusi Kelas dan Pengajaran Nilai-nilai melalui
    Kurikulum. Sekolah-sekolah kita belum menjadi laboratorium kehidupan diperlukan
    untuk tumbuh dan berkembangnya karakter anak secara subur. Pendekatannya yang
    belum lengkap dan praktek penyelenggaraannya yang masih kurang tepat serta pengaruh kehidupan di luar yang semakin kuat membuat pendidikan karakter di sekolah-sekolah kita semakin tidak bertaji. Maksudnya, pendidikan-pendidikan yang terkait dengan pendidikan karakter (seperti pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan)
    lebih terbatas pada kajian-kajian formalitas sekitar pengetahuan. Memang, karakter
    melibatkan aspek kognisi dan afeksi, tapi pada akhirnya esensi dari karakter adalah
    perilaku. Dan dari perilaku itulah oran lain dapat menilai perilaku seseorang. Dalam
    beberapa prinsip pendidikan karakter dikatakan (http://www.goodcharacter.com)
    bahwa karakter seseorang didefinisikan oleh apa yang ia perbuat, bukan oleh apa yang ia katakan atau yang ia yakini; dan karakter yang baik memerlukan berbuat sesuatu dengan benar, bahkan dalam situasi yang sangat berharga atau beresiko.

    Untuk membuat sekolah-sekolah kita semakin powerful dalam penyelenggaraan
    pendidikan karakter, di samping kita perlu memperbaiki metode-metode pembelajaran
    yang terkait dengan pendidikan karakter (bukan dengan cara menambah mata pelajaran),
    juga kita perlu melengkapinya dengan menerapkan pendekatan-pendekatan lainnya dalam pendidikan karakter. Kita perlu melengkapinya dengan menerapkan pendekatan Belajar Memberikan Layanan, Smorgasbord, dan bahkan dengan pendekatan Holistik.
    Bila kita berupaya untuk menerapkan berbagai pendekatan pendidikan karakter itu
    dengan tepat dan konsisten, tidaklah mustahil sekolah-sekolah kita menjadi bengkel
    dan laboratorium kehidupan yang subur bagi pembentukan dan pengembangan karakter
    anak.

    Mensinergikan Pendidikan Rumah dan Sekolah sebagai Salah Satu Jalan Keluar
    Di Indonesia di kenal tripusat pendidikan, yakni pendidikan rumah, pendidikan sekolah, dan pendidikan masyarakat. Tiga pusat pendidikan tersebut sama-sama penting dan berperan saling melengkapi satu sama lain. Pemokusan pembahasan pada pendidikan rumah dan sekolah pada makalah ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengabaikan peran pendidikan masyarakat. Pemokusan ini semata-mata karena keterbatasan kapasitas penulis, di samping secara manajerial dalam prakteknya pensinergian pendidikan rumah
    dan sekolah akan lebih mudah untuk dikelola dan diselenggarakan. Pengembangan pendidikan masyarakat memerlukan upaya-upaya yang lebih massif.
    Namun, keberhasilan dalam upaya pendidikan rumah dan sekolah dengan
    sendirinya akan berkontribusi terhadap perbaikan perilaku masyarakat secara luas.
    Warga rumah dan warga sekolah adalah bagian dari warga masyarakat juga, sehingga keberhasilan pendidikan rumah dan sekola akan memberikan dampak langsung terhadap perbaikan kehidupan masyarakat.

    Terkait dengan upaya mensinergikan pendidikan rumah dan sekolah, hal yang terpenting adalah adanya jalinan komunikasi dan kolaborasi antara pihak keluarga dan sekolah. Jalinan komunikasi dan kolaborasi ini diperlukan untuk membangun kesejalanan langkah dan program-program sekolah dengan harapan dan dukungan orang tua. Programprogram sekolah dipahami dan didukung oleh pihak orang tua; sebaliknya, harapanharapan orang tua juga dipahami dan dipertimbangkan oleh pihak sekolah. Tidaklah benar, bila orang tua menitipkan anaknya ke sekolah dalam pengertian orang tua menyerahkan pendidikan anaknya ke sekolah dan lepas tangan. Yang benar adalah bahwa orang tua dan
    sekolah sama-sama mendidik anak. Fungsi sekolah adalah membantu orang tua dalam
    mendidik anak, bukan mengambil alih tanggung jawab orang tua.

    Dengan adanya tenaga-tenaga pendidik profesional (guru dan konselor)
    di sekolah, penulis memposisikan sekolah sebagai lembaga yang harus proaktif membangun komunikasi dan kolaborasi dengan rumah. Sekolah perlu memanfaatkan setiap kesempatan—melalui pertemuan periodik (seperti pertemuan awal tahun, akhir
    semester, dan akhir tahun) dan insidental—dan sarana (termasuk melalui media tulis dan bahkan internet) untuk menginformasikan kemajuan belajar dan perkembangan anak serta berbagai kebijakan dan program sekolah sehingga dipahami oleh orang tua.
    Sekolah juga perlu menghimpun dan mempelajari harapan-harapan orang tua, termasuk menerima masukan tentang kualitas penyelenggaraan layanan pendidikan yang selama ini diselenggarakan oleh sekolah. Lebih luas lagi, di samping memperbaiki dirinya sendiri, sekolah juga harus berfungsi sebagai agen yang dapat memberi masukanmasukan
    kepada orang tua untuk meningkatkan dan memperbiki cara pendidikan anak di rumah.
    Di pihak lain, orang tua perlu aktif memberikan informasi-informasi yang diminta oleh sekolah, termasuk melaporkan kemajuan belajar anak yang teramati di rumah. Bila orang tua mengidentifikasi adanya perilaku anak yang perlu mendapat perhatian serius,mereka juga perlu segera mengkomunikasikannya kepada pihak sekolah. Orang tua juga perlu mencek dan membimbing anak dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah di
    rumah serta memberikan perhatian dan apresiasi kepada anak.

    Kesimpulan dan Rekomendasi
    Perilaku masyarakat, termasuk remaja dan anak-anak, yang sudah sangatmengkhawatirkan sekarang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak,
    khususnya dari pemerintah dan warga masyarakat pendidikan. Kondisi demikian, salah satunya, mengimplikasikan perlunya perombakan dalam pendekatan dan cara pendidikan karakter secara mendasar. Cara-cara pendidikan karakter yang selama ini dilakukan, baik di rumah maupun di sekolah, tampaknya sudah tidak berdaya lagi
    dalam membentengi anak dari pengaruh negatif arus kehidupan yang berjangkit di era globalisasi dan desentralisasi sekarang ini. Rumah dan sekolah perlu memperbaikicara-cara pendidikan karakter yang selama ini diterapkan dengan cara-cara yang lebih tepat, di samping mereka juga perlu melengkapinya dengan cara-cara dan pendekatanpendekatan lainnya secara lebih menyeluruh. Secara lebih operasional, akhirnya sekolah dan rumah direkomendasikan untuk melakukan upaya-upaya perbaikan berikut dalam
    pendidikan karakter.

    Dengan segala keterbatasan yang ada, setiap rumah perlu mengupayakan
    terciptanya rumah sebagai laboratorium kehidupan yang memungkinkan tumbuh dan terbentuknya karakter anak yang baik. Para orang tua perlu meningkatkan pengetahuan dan cara pendidikan mereka sehingga dapat menciptakan interaksi
    pendidikan yang lebih berkualitas dengan anaknya. Di rumah perlu ada struktur dan aturan berperilaku yang manusiawi, jelas, dan ditegakkan oleh setiap anggota keluarga. Bahkan orang tua dituntut untuk memainkan peran sebagai model dalam
    menerapkan aturan-aturan tersebut.
    Sekolah-sekolah yang selama ini lebih terbatas menerapkan pendekatan Pengajaran Eksplisit tentang Karakter dan Nilai dalam pendidikan karakakter perlu memperbaiki penerapan pendekatan tersebut, alih-alih menambah pelajaran baru,
    di samping melengkapinya dengan pendekatan-pendekatan lain yang lebih tepat.
    Bila memungkinkan, dan mengapa tidak, sekolah bisa menerapkan pendekatan
    Smorgasbord dan Holistik sehingga peran sekolah (seperti halnya juga rumah) sebagai laboratorium kehidupan yang memfasilitasi pembentukan karakter anak dapat terpenuhi.
    Sekolah dan rumah tidak boleh jalan sendiri-sendiri, apalagi saling bertentangan.
    Mereka perlu berada dalam suatu sinergi melalui jalinan komunikasi dan kolaborasi yang harmonis. Sekolah perlu merancang berbagai program yang mengundang dan mengkondisikan orang tua terlibat aktif dalam mendukung program-program sekolah. Sekolah juga perlu menyelenggarakan layanan konsultasi yang dapat meningkatkan dan meperbaiki wawasan pengetahuan dan perlakuan pendidikan
    orang tua. Sebaliknya, orang tua juga perlu mendukung program-program sekolah, di samping memberikan balikan-balikan untuk perbaikan program sekolah.

     

     

     
    PENUTUP
     

    Kegiatan penelitian ilmiah di kalangan remaja perlu dilakukan sejak dini. Terselenggaranya aktivitas peserta didik yang berbasis penelitian dapat dimasukkannya kedalam proses pembelajaran atau kegiatan di luar pelajaran. Budaya KIR yang telah dibangun dalam diri setiap siswa, akan membawa dampak pengiring yang ikut membangun perasaan ingin tahu dan cara berpikir ilmiah siswa yang tentunya akan mempermudah siswa itu sendiri dalam memecahkan masalah bila dihadapkan pada permasalahan yang akan muncul dalam hidupnya di masa-masa mendatang.

    Kultur sekolah harus dibangun berlandaskan visi, misi dan tujuan sekolah dengan menerapkan manajemen partisipatif dan terbuka sehingga benar-benar dipahami dan dihayati oleh seluruh warga sekolah dan para pemangku kepentingan sehingga dapat diimplementasikan secara ikhlas dan konsisten untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan dalam visi dan tujuan sekolah. Dalam membangun kultur, sekolah tidak dapat berdiri sendiri tetapi memerlukan kerjasama dengan mitra kerjanya yaitu orang tua siswa, komite sekolah dan para pemangku kepentingan lainnya

    Jika diimplementasikan dengan baik dan konsisten, kultur sekolah dapat meningkatkan kualitasnya secara terpadu untuk kepuasan pelanggan, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal. Pada sekolah yang efektif, semua siswa dijamin dapat berkembang. Sebaliknya, pada sekolah yang tidak efektif hanya siswa yang memiliki kemampuan tinggi dalam belajar (fast learners) yang dapat berkembang.

     

     
    DAFTAR BACAAN
     

    Anonim. 2003. Panduan Penelitian Bagi Remaja. Pemerintah Propinsi Daerah Khusus Ibukota. Dinas Olahraga dan Pemuda. Jakarta.

    Ariefa Efianingrum. 2008. Kultur Sekolah Untuk Mengembangkan Good School. Makalah Pengabdian Pada Masyarakat, Universitas Negeri Yogyakarta.

    Didi Suorijadi.2005. Buku Pedoman Pembinaan Ekstrakurikuler SMA. Dinas Dikmen DKI. Jakarta.

    Gede Raka, Yoyo Mulyana, Suprapti S.M, Conny R. Semiawan, Said Hamid H, Hana Djumhana B, Nani Nurachman.2011.Pendidikan Karakter di Sekolah dari Gagasan ke Tindakan. Penerbit Pt. Elex Media Komputindo. Kompas Gramedia.

    Nasution, A.H.1992. Panduan Berpikir dan Meneliti Secara Ilmiah bagi Remaja. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

    R.G. Susilowarno.2003. Kelompok Ilmiah Remaja, Petunjuk Membimbing dan Meneliti bagi Remaja. Penerbit Grasindo. Jakarta.

    Rukhiyat, Adang.2003. Paradigma Baru Pendidikan Ekstrakurikuler. Jurnal Matahari Vol. II No. 3 dan 4 UHAMKA. Jakarta.

    Simanjutak, Ida, M.1993. Organisasi dan Pengembangan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). Biro pemasyarakatan IPTEK LIPI. Jakarta.

    Supardan, Raden.2004. Kelompok Ilmiah Remaja Sebagai Model Alternatif Pengembangan Prestasi Peserta didik di SMA Negeri 1 Malingping. Karya Tulis tidak diterbitkan. Malingping. Banten.

  • Pelatihan Guru Sosiologi di SMA Wiyata Dharma Medan (2013) Pelatihan Guru Sosiologi di SMA Wiyata Dharma Medan (2013) Pelatihan Guru Sosiologi di SMA Wiyata Dharma Medan (2013)
    ABSTRAK
    Setiap proses kegiatan pasti selalu meliputi tiga kegiatan utama yakni perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Demikian pula yang terjadi dengan proses belajar mengajar di sekolah. Seorang guru diharuskan melakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran yang kesemuanya itu terkandung dalam perangkat pembelajaran yang wajib dimiliki oleh seorang guru. Proses perencanaan pembelajaran yang harus dilakukan oleh seorang guru meliputi kegiatan utama sebagai berikut: (1) Membuat Program Tahunan; (2) Mengembangkan Silabus; (3) Membuat Program Semester; (4) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran; (5) Menyusun Bahan Ajar; dan (6) Membuat instrumen evaluasi hasil belajar. Dari keenam unsur tersebut di atas, silabus dan RPP merupakan persiapan paling minimal seorang guru ketika hendak mengajar. Berdasarkan pada hasil pengalaman sebagai pendidik dan survei awal di SMA Swasta Wiyata Dharma, muncul permasalahan rendahnya guru yang membuat perangkat pembelajaran khususnya penyusunan silabus, RPP dan bahan ajar. Untuk meneliti lemahnya kinerja guru dalam hal tersebut, dilakukanlah penelitian untuk melihat sejauhmana langkah pelatihan manajemen sumber daya manusia dapat meningkatkan kompetensi guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran.
    Kata Kunci : sosiologi, perangkat pembelajaran,dan partisipatif.

     
    PENDAHULUAN
    Guru sebagai tenaga pendidik adalah orang yang paling banyak berinteraksi dengan kegiatan proses belajar-mengajar di sekolah. Guru memegang peranan yang sangat vital didalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Dengan usaha dan upaya yang dari merekalah tujuan pendidikan nasional dapat terwujud. Kita mungkin semua setuju seberapa bagus pun sistem, kurikulum, peraturan, serta sarana dan prasarana yang dipersiapkan oleh pemerintah akan bernilai sia-sia jika kualitas guru yang melaksanakan proses pembelajaran tidak berkualitas atau tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Karena sangat vital nya peranan dan fungsi guru pada dunia pendidikan sehingga tenaga pendidik atau guru dewasa ini telah dianggap sebagai suatu profesi. Tenaga pendidik dianggap sebagai profesi karena telah memenuhi kriteria yang terpenuhi untuk dianggap sebagai suatu profesi seperti yang dijelaskan oleh Stinnet, dkk, (1963) bahwa jabatan guru telah dianggap memenuhi kriteria profesi karena mengajar pasti melibatkan potensi intelektual, dapat diamati, sebagai dasar dari semua jabatan profesional lainnya bahkan sebagai induk dari segala profesi. Orstien, et al (1984) seperti yang dituangkan dalam buku “Profesi Keguruan” oleh Sutjipto, dkk, menyebutkan bahwa pengertian profesi disebutkan kira-kira (1) tugas tersebut dilakukan sebagai karier yang akan dilakukan sepanjang hidup; (2) sebelum melakukan pekerjaan diperlukan ilmu dan keterampilan tertentu; (3) memiliki otonomi dalam mengambil keputusan yang terkait dengan tugasnya, tidak diatur oleh pihak lain termasuk atasan; (4) mempertangungjawabkan segala sesuatu yang diakibatkan oleh keputusan profesional yang diambilnya; (5) memiliki komitmen terhadap jabatan dan klien, dan dilakukan dengan mengunakan administrasi yang jelas dan mudah; (6) memiliki organisasi profesi dan asosiasi yang sepenuhnya diatur sendiri oleh anggotanya; (7) memiliki kode etik tersendiri untuk membantu memberikan penjelasan riil yang meyakinkan kepada khayalak ramai; dan (8) mempunyai status sosial dan gaji yang tinggi bila dengan jabatan lain. Dengan dimasukkannya Tenaga pendidik (guru) sebagai suatu profesi maka konsekuensi logisnya jabatan tenaga pendidik akan memiliki beberapa kewajiban yang harus dipenuhi didalam melaksanakan tugas profesionalnya.
    Guru sebagai tenaga profesional mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan sangat penting dalam mencapai tujuan pendidikan nasional dalam rangka menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Karena itu, profesi guru harus dihargai dan dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 14 Th.2005 pasal 8 tentang Guru dan Dosen menyatakan guru wajib memiliki kualifikasi kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki visi untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya pada pasal 10 ayat 1 Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Usman dalam Sagala (2008) menyatakan bahwa kompetensi profesional guru meliputi: (1) penguasaan terhadap landasan pendidikan; (2) menguasai bahan pengajaran; (3) kemampuan menyusun program pengajaran; (4) Kemampuan menyusun perangkat penilaian hasil belajar dan proses pembelajaran. Ukuran atau standar guru yang profesional seperti dipaparkan di atas diharapkan akan lahir guru-guru yang memiliki kemampuan yang komplit untuk menghasilkan out-put pendidikan yang bermutu yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
    Dalam pelaksanaan proses pendidikan, guru banyak menemukan kendala, sehingga membutuhkan bantuan, dalam upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru adalah melalui supervisi pendidikan yang dilakukan oleh Kepala Sekolah/ Pengawas Sekolah. Oleh karena itu sebagai penegasan dan dasar hukum, pemerintah menginstruksikan pelaksanaan supervisi tersebut melalui surat-surat keputusan, yang salah satunya adalah: Permendiknas RI Nomor 12 Tahun 2007, tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, yaitu pada kompetensi supervisi Kepala sekolah. Salah satu faktor yang penting dan strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah guru, karena guru inilah merupakan pelaksana terdepan dalam proses pendidikan yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Oleh karena itu berhasil dan tidaknya mutu pendidikan tergantung pada profesionalisme guru.
    Namun berdasarkan survei dan pengamatan sementara yang ditemui di lapangan dewasa ini masih banyak dari para guru belum mampu melaksanakan tugas pokok mereka sesuai dengan standar profesi yang ditetapkan. Dan rendahnya kemampuan guru dalam menyelenggarakan proses belajar-mengajar yang bermutu berdampak langsung terhadap kualitas siswa yang dihasilkan. Penyelenggaraan proses kegiatan belajar-mengajar yang tidak berkualitas yang dilakukan oleh seorang guru tidak akan mungkin menghasilkan hasil belajar yang berkualitas. Masih banyak dari para guru di sekolah saat ini yang belum mempunyai kemampuan yang memadai untuk melaksanakan tugas pokok mereka terutama yang berhubungan dengan kegiatan belajar-mengajar di kelas. Baik yang berhubungan dengan kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan, menilai, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Indikasi ketidakmampuan para guru melaksanakan tugas profesional mereka bisa dilihat dari banyaknya perangkat pembelajaran yang dimiliki guru adalah bukan hasil dari karya mereka. Kebanyakan perangkat pembelajaran guru tersebut bisa diperoleh dari berbagai cara seperti melalui internet, penerbit buku, atau teman seprofesi yang memungkinkan mereka untuk mendapatkannya. Tidak semua perangkat pembelajaran guru tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik sehingga ketika mereka mengimplementasikannya, perangkat pembelajaran tidak bisa membawa dampak yang maksimal terhadap keberhasilan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Perilaku yang kurang baik ini merupakan indikasi bahwa kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran masih dalam kategori rendah. Ketidakmampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran ini akan berpengaruh terhadap kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Guru terjebak dengan konsep-konsep atau skenario pembelajaran yang ada dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang belum tentu memiliki standar yang baku, yang cocok dengan karakteristik peserta didik dan situasi dan kondisi kelas yang dimiliki guru.
    Mengacu pada permasalahan yang telah dipaparkan di atas maka perlu ada upaya yang sungguh-sungguh dan terencana untuk mengembangkan kemampuan profesional guru dalam melaksanakan tugas mulia mereka. Ada banyak alternatif yang bisa ditempuh untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang dikemukakan tersebut seperti melalui workshop, focus group discussion, seminar, bimbingan teknis, pelatihan, pendampingan, supervisi klinis, sharing of experience, on the job training, off the job training, coaching clinic, dan sebagainya. Tentunya harapan dari kegiatan tersebut diantaranya adalah untuk meningkatkan kinerja dan profesionalisme guru dalam mengajar.
    Salah satu usaha penulis memberi kontribusi atau solusi terhadap permasalahan yang dikemukakan tersebut, penulis bermaksud untuk melakukan pendampingan terhadap guru Sosiologi di SMA Swasta Wiyata Dharma Kota Medan. Pelatihan dilaksanakan melalui teknik partisipatif dalam menyusun perangkat pembelajaran dan melaksanakan proses pembelajaran.

    Tujuan Pelatihan
    Tujuan kegiatan pelatihan ini adalah untuk memperbaiki berbagai masalah yang timbul dalam proses pembuatan dan penyusunan perangkat pembelajaran. Adapun tujuan secara rinci sebagai berikut:
    a. Untuk membantu guru dalam meningkatkan kemampuan guru dalam membuat dan menyusun silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, dan evaluasi hasil belajar mata pelajaran yang diampunya.
    b. Untuk memberikan pemahaman kepada guru dalam mengenali dan mengaplikasikan model, metode, strategi dan pendekatan dalam proses pembelajaran.
    c. Untuk memberikan pemahaman kepada guru dalam membuat bahan ajar dan media ajar sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.

    Manfaat Pelatihan
    Hasil pelatihan diharapkan dapat memberi manfaat:
    a. Bagi kepala sekolah, dapat memecahkan masalah guru dalam meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran sehingga lebih profesional, dengan demikian pada akhimya dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan berdampak pada peningkatan mutu sekolah.
    b. Bagi guru, dapat lebih memahami proses pembuatan dan penyusunan perangkat pembelajaran sehingga akan menghasilkan kreativitas dan inovasi dalam proses kegiatan belajar-mengajar sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.
    c. Bagi peserta didik, dapat memperoleh layanan belajar yang lebih berkualitas.
    Ruang Lingkup Pelatihan
    Adapun fokus pelatihan terhadap guru mata pelajaran Sosiologi ini diharapkan pelaksanaannya dalam bentuk:
    a. Menyusun silabus.
    b. Menyusun RPP.
    c. Menyusun bahan ajar.
    d. Menyusun instrumen evaluasi hasil belajar.
    e. Mengimplementasikan satu RPP didalam kegiatan pembelajaran.

    Kriteria keberhasilan pelatihan
    Adapun kriteria atau patokan dari keberhasilan pelatihan ini akan didasarkan pada:
    a. Terjadinya peningkatan kemampuan guru dalam memahami tentang cara penyusunan perangkat pembelajaran secara benar.
    b. Terjadinya peningkatan kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran berdasarkan pada produk-produk perangkat pembelajaran yang dihasilkan guru selama kegiatan pelatihan.
    c. Terjadinya peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang dibuat.

     
    PEMBAHASAN
    Tahap perencanaan dan persiapan kegiatan
    Perencanaan adalah langkah awal yang dilakukan oleh peneliti saat akan memulai tindakan. Agar perencanaan mudah dipahami dan dilaksanakan oleh peneliti yang akan melakukan tindakan, maka peneliti membuat rencana tindakan dan jadwal tindakan sebagai berikut :
    a. Merumuskan masalah yang akan dicari solusinya, dalam penelitian ini masalah yang akan dicari solusinya adalah masih banyaknya guru yang belum memahami dalam pembuatan perangkat pembelajaran yang meliputi silabus, RPP, bahan dan media ajar serta model/metode/strategi pembelajaran.
    b. Dalam penelitian ini peneliti mengambil rencana untuk melakukan tindakan memberikan kegiatan pelatihan penyusunan dan pembuatan perangkat pembelajaran menggunakan teknik pelatihan partisipatif kepada guru Sosiologi sehingga dapat meningkatkan kemampuan guru tersebut dalam menelaah dan membuat perangkat pembelajaran.
    c. Menyiapkan contoh-contoh silabus, RPP, bahan ajar dan media ajar yang sudah sesuai dengan ketentuan penelitian berdasarkan standar ISSN/ISBN.
    d. Menyiapkan instrumen-instrumen seperti instrumen silabus, instrumen telaah RPP, instrumen observasi bahan ajar, lembar telaah butir soal, instrumen telaah media pembelajaran, dan lembar observasi yang sudah sesuai dengan ketentuan penelitian berdasarkan standar ISSN/ISBN. Berikut disajikan aktivitas yang disesuaikan dengan jadwal kegiatan pelatihan tersebut.

    1. Tahap pelatihan partisipatif dan pendampingan
    Pada pertemuan I (Selasa, 14 Mei 2013) terjadilah pertemuan fasilitator dengan guru Sosiologi yang telah ditunjuk oleh pihak sekolah, dalam pertemuan ini guru tersebut telah menyiapkan perangkat pembelajaran yang telah ada yang meliputi silabus, RPP, bahan ajar dan media pembelajaran. Kemudian fasilitator melakukan diskusi awal dengan guru mengenai permasalahan dalam proses penyusunan perangkat pembelajaran. Diperoleh dari diskusi awal guru mengakui bahwa perangkat yang dirinya buat merupakan perangkat yang sifatnya berasal dari “sumber” yang beraneka ragam ada yang diperoleh dari internet dan ada yang berasal dari sekolah lain. Selain itu proses penyusunan perangkat pembelajaran cenderung dibuat hanya untuk sebagai “pelengkap” saja tanpa adanya proses kreativitas dan inovasi dari beberapa orang guru.
    Setelah dilakukan diskusi peneliti melakukan telaah perangkat pembelajaran yang telah diserahkan guru kepada peneliti yang meliputi silabus, RPP, Program Tahunan, Program Semester, bahan ajar, media ajar serta evaluasi hasil belajar. Telaah dilakukan berdasarkan instrumen yang peneliti siapkan. Berikut disajikan hasil telaah silabus dari perangkat pembelajaran dari guru yang bersangkutan.
    Dari hasil telaah yang fasilitator lakukan terlihat bahwa pada telaah silabus mata pelajaran yang diampu oleh guru tersebut sudah dinilai baik dan sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Kemendikbud, ini tercermin pada rubrik penilaian di atas diperoleh skor nilai 70 atau 76 %, namun demikian fasilitator tetap memberikan informasi penting mengenai hal-hal apa saja yang perlu ada dalam penyusunan silabus tersebut. Sedangkan untuk telaah RPP masih memiliki banyak kelemahan dalam setiap tahap-tahap yang disajikan dalam RPP tersebut. Berikut disajikan penilaian RPP hasil telaah yang dilakukan oleh fasilitator.
    Dari data yang telah dianalisis kualitas RPP yang dibuat guru hanya mencapai 62 atau 57,41 %, artinya secara umum kemampuan guru dalam menyusun RPP dapat dikatakan kurang baik. Data yang ditemui juga bahwa RPP tersebut memiliki banyak kelemahan diantaranya masih menggunakan format lama dan tidak original (mengcopy), belum terlihatnya tahapan-tahapan seperti Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi dan Evaluasi, padahal sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No.41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses, yang menyatakan bahwa dalam penyusunan RPP tersebut sebaiknya ada tahapan-tahapan tersebut dan juga belum ditemukannya penggunaan model/metode/strategi pembelajaran pada RPP tersebut.
    Pada pertemuan II (Selasa, 21 Mei 2013), peneliti melakukan pendampingan/ pembimbingan secara intensif kepada guru dengan cara memberikan pemberian materi tentang perangkat pembelajaran yang meliputi pengembangan silabus mata pelajaran, pembuatan dan penyusunan RPP, pembuatan bahan ajar, pembuatan media ajar dan pembuatan instrumen evaluasi hasil belajar. Sedangkan kualitas RPP yang dibuat guru setelah pelaksanaan pelatihan seperti yang tergambar pada tabel di bawah ini:
    Dari hasil analisa penilaian yang diperoleh terhadap kualitas RPP setelah diadakan pelatihan didapat bahwa skor penilaian RPP yang dibuat guru sudah dinilai sangat baik, ini terlihat telah mencapai 93 atau 86,11 %, jadi dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan kualitas RPP yang dibuat guru sebelum dan sesudah pelatihan dan telah terjadi peningkatan sekitar 28,7 %.
    Khusus dalam penyusunan RPP fasilitator melakukan pemberian informasi bagaimana membuat RPP yang ideal dalam pembuatannya, fasilitator juga mengenalkan bermacam-macam model/metode/strategi pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru sebagai contoh model cooperative learning, model direct instruction ataupun model ekspository yang sering muncul dan digunakan dalam proses pembelajaran IPS. Setelah fasilitator memberikan pelatihan kepada guru mengenai penggunaan aneka model/metode pembelajaran fasilitator memberikan contoh media pembelajaran yang berbasis power point yang peneliti pernah buat, kemudian membantu guru tersebut untuk dapat membuat dan menerapkan multimedia power point tersebut. Khusus untuk bahan ajar fasilitator memberikan contoh modul pembelajaran yang telah fasilitator susun, sehingga guru tersebut mampu menyusun bahan ajar sendiri yang dapat digunakan oleh siswa-siswanya.
    Untuk telaah bahan ajar dan media ajar di SMA Swasta Wiyata Dharma Kota Medan tidak dilakukan karena keberadaan bahan ajar dan media ajar belumlah ada, oleh karena itu fasilitator memberikan informasi serta menyediakan contoh bahan ajar dan media ajar yang diharapkan nantinya guru tersebut dapat membuat dan mengembangkan bahan ajar dan media ajar tersebut. (contoh terlampir).

    Tahap observasi
    Pada kegiatan ini ada dua kegiatan besar yang meliputi observasi kelas dan demontrasi mengajar, kegiatan ini dilakukan secara berkesinambungan dan diharapkan akan mendapat manfaat yang baik. Kegiatan observasi ini dilakukan atas dasar bagaimana guru tersebut melakukan proses pembelajaran sedangkan demontrasi mengajar adalah kegiatan pemberian contoh bagaimana mengajar sesuai dengan RPP yang disusun dan bagaimana proses penggunaan model/metode ataupun strategi yang telah dibuat di RPP tersebut.
    Menurut Sagala (2010) observasi kelas dilakukan bersamaan dengan kunjungan kelas adalah suatu kegiatan yang dilakukan supervisor untuk mengamati guru yang sedang mengajar di suatu kelas. Tujuan observasi kelas ingin memperoleh data dan informasi secara langsung mengenai segala sesuatu yang terjadi pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Data dan informasi ini digunakan sebagai dasar bagi supervisor untuk melakukan pembinaan terhadap guru yang diobservasinya. Selama berada di kelas, supervisor melakukan pengamatan yang teliti, dengan menggunakan instrumen tertentu, terhadap suasana kelas yang diciptakan dan dikembangkan oleh guru selama jam pelajaran berlangsung dengan tujuan untuk memperoleh data yang objektif. Sebelum supervisor melakukan pengamatan, lebih dahulu supervisor menjelaskan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk membantu guru menemukan titik-titik lemah melalui kegiatan observasi, yang temuannya nanti dijadikan dasar untuk bersama-sama memperbaikinya.
    Jadi, observasi yang dilakukan bukanlah untuk mencari kesalahan, dan jika ada kesalahan akan dilakukan tindakan disiplin. Hal ini harus jelas bagi guru, bahwa manfaat observasi adalah untuk meningkatkan kualitasnya dalam mengajar setelah ditemukan berbagai titik lemah. Hal yang paling penting dalam melakukan observasi ini adalah kesepakatan bahwa ada manfaat yang besar bagi supervisor dan bagi guru meningkatkan kualitas pendidikan melalui proses belajar mengajar.
    Demontrasi mengajar adalah suatu upaya supervisor membantu guru yang disupervisi dengan menunjukkan kepada mereka bagaimana mengajar yang baik (Sagala, 2010). Pada awalnya yang melakukan demontrasi mengajar ini adalah fasilitator/ pengawas, dengan memberikan demontrasi mengajar ini supervisor dapat memberikan contoh bagaimana mempraktikkan penggunaan metode-metode mengajar yang tepat, atau metode mengajar yang baru atau penggunaan alat-alat bantu mengajar, penggunaan alat evaluasi dan sebagainya. Selama demontrasi mengajar berlangsung guru yang sedang berlatih mencatat dengan teliti apa yang ditampilkan oleh supervisor (demonstran).
    Dalam aplikasinya, setelah dilakukan pembimbingan dalam pembuatan RPP, bahan ajar dan media ajar oleh guru yang berkolaborasi dengan pengawas maka dilakukan tahap penampilan hasil melalui kegiatan observasi kelas dan demontrasi kelas yang dilakukan pada pertemuan III (Kamis, 23 Mei 2013). Pada tahap ini guru melakukan observasi kelas tempat guru biasa mengajar, pada hari itu guru tersebut mengajar dikelas XI (sebelas) khusus pada konsep Kelompok Sosial dalam Masyarakat multikultural. Dalam tahap ini guru dan peneliti menyiapkan situasi dan kondisi untuk proses kegiatan belajar dan mengajar (KBM) pada konsep yang telah disusun sesuai dengan RPP.
    Langkah awal dalam kegiatan ini adalah dimulai dengan cara demonstrasi mengajar yang dilakukan oleh fasilitator, pelaksanaan pembelajaran pada materi ini menggunakan metode pembelajaran cooperative learning, model S.T.A.D, serta mengadakan pertunjukkan empati budaya, aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh fasilitator ternyata mampu menarik perhatian siswa, sehingga membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Setelah proses pembelajaran yang dilakukan oleh fasilitator selesai, fasilitator dan guru kembali mendiskusikan hal-hal apa saja yang perlu ditekankan dalam proses pembelajaran berlangsung. Tahap selanjutnya guru tersebut bergantian menjadi guru model dalam menjelaskan materi yang sama tetapi diterapkan di kelas lain, hasil observasi pembelajaran menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru tersebut cukup berhasil dalam meningkatkan aktivitas siswa. Berikut hasil lembar observasi pembelajaran yang dilakukan guru tersebut.
    Dari hasil penilaian terhadap observasi proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru tersebut terlihat telah mencapai 101 atau 78,91 %, jadi dapat disimpulkan bahwa aktivitas KBM yang dilakukan oleh guru tersebut dapat dinyatakan dengan baik, hal ini diduga bahwa guru sudah cukup memahami proses KBM yang dilaksanakan ditambah lagi sudah diberikan contoh oleh fasilitator bagaimana cara mengaktifkan serta menggunakan model /metode /strategi belajar dalam pembelajaran.
    Aktivitas observasi kelas dan demontrasi mengajar ini mampu membuat siswa mendapatkan pengalaman yang cukup menyenangkan, yang pada awalnya proses kegiatan belajar mengajar bersifat monoton hanya ceramah berubah menjadi menyenangkan. Setelah kedua kegiatan ini dilaksanakan, guru dan fasilitator kembali mendiskusikan temuan-temuan apa yang diperoleh dalam proses pembelajaran itu. Dalam hal ini fasilitator mengenalkan dan menjelaskan proses pembelajaran yang dikenal dengan nama istilah PAIKEM GEMBROT yang merupakan akronim dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Menyenangkan, Gembira dan Berbobot.

    Tahap refleksi
    Pada pertemuan IV (Sabtu, 25 Mei 2013) dilakukan tahap refleksi, pada kegiatan ini dilakukan diskusi secara langsung dengan guru untuk melakukan evaluasi dan mencari solusi dalam mengatasi masalah yang ditemukan pada beberapa kegiatan yang telah dilakukan. Menurut Sagala (2010) bahwa refleksi adalah suatu teknik dalam pemberian layanan kepada guru dengan mengadakan pembicaraan tentang masalah yang dihadapi oleh guru. Pertemuan pribadi antara supervisor dengan guru untuk membicarakan masalah-masalah khusus yang dihadapi guru. Umumnya materi yang dibicarakan adalah hasil-hasil kunjungan kelas dan observasi kelas yang telah dilakukan oleh fasilitator. Dalam pembicaraan tersebut fasilitator berusaha memberikan pendapat tentang kelebihan dan kekurangannya. Kemudian, guru memutuskan dan menilai dirinya sendiri apakah sudah melakukan hal yang benar atau belum, terlihat dari hasil kegiatan ini guru mampu menerima saran dan kritik dari fasilitator, bahkan guru tersebut berkeinginan untuk lebih baik nantinya. Terutama dalam proses penyusunan bahan ajar dan pembuatan RPP yang dapat menumbuhkan siswa yang aktif.
    Dari hasil kegiatan pelatihan dengan menggunakan teknik pelatihan partisipatif ini terlihat peningkatan kemampuan guru dalam memahami dan menyusun perangkat pembelajaran yang meliputi silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan observasi pembelajaran, namun untuk bahan ajar, media ajar dan evaluasi pembelajaran fasilitator belum dapat melakukan penilaian tetapi hanya memberikan informasi tentang kriteria dan hal-hal penting dalam membuat dan menyusun bahan ajar, media ajar dan evaluasi pembalajaran.
    Khusus untuk pelaksanaan RPP fasilitator menemukan kendala oleh guru dalam menyusun RPP terutama mengintegrasikan berbagai model/metode/strategi pembelajaran, oleh karena itu fasilitator memberikan penguatan kepada guru tersebut dalam menyusun RPP yang di dalamnya memuat sintaks model-model pembelajaran,dengan harapan guru juga mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran di kelas.

     
    SIMPULAN DAN SARAN
    Berdasarkan hasil analisis pembahasan yang telah dilakukan, maka diperoleh beberapa simpulan yaitu sebagai berikut :
    1. Pelaksanaan pelatihan dengan menggunakan teknik partisipatif dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru Sosiologi dalam menyusun Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mata pelajaran Sosiologi pada kelas XI (Sebelas) di SMA Swasta Wiyata Dharma Kota Medan.
    2. Proses penilaian hasil belajar, media ajar serta penilaian hasil belajar belum dapat dilaksanakan, dikarenakan guru yang mengajar belum membuat ketiga elemen, oleh karena itu fasilitator hanya melaksanakan pemberian informasi (sharing) mengenai beberapa kriteria, syarat dan teknik dalam membuat dan menyusun bahan ajar, media ajar serta instrumen evaluasi hasil belajar.
    3. Penggunaan pelatihan teknik partisipatif ini dapat meningkatkan kemampuan guru Sosiologi dalam membuat, menyusun dan mengaplikasikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang terintegrasi dengan model/metode/strategi pembelajaran yang dipilih.

    Dari hasil kesimpulan tersebut, dapat diberikan beberapa saran untuk lebih dapat mengoptimalkan kegiatan pelatihan tersebut, yaitu :
    1. Bagi pihak sekolah, agar lebih dapat mengoptimalkan proses penyusunan perangkat pembelajaran yang dilakukan oleh guru sehingga proses KBM akan lebih teratur dan lebih baik.
    Bagi pihak guru, agar lebih dapat membuat dan menyusun perangkat pembelajran yang juga terintegrasi dengan aneka model/metode/strategi pembelajaran sehingga proses KBM dapat lebih baik.

     
    DAFTAR BACAAN
    Anonim. 2013. Pengembangan Silabus. Dalam http://www.pabk-4you.com/2013/01/pengembangan-silabus.html. diakses tanggal 23 Februari 2013
    Belawati, Tien. 2003. Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta. Universitas Terbuka
    Djuhardi. 2007. Profil Kompetensi Guru Madrasah Diniyyah. Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Dan Keagamaan. Vol. 4 No. 2 April-Juni 2007.
    Johnson, T. 1998.Vocational Educational. Dalam [http://docs. google. com/view.petra.ac.id]. 22 Februari 2013
    Jerris, W. 1999. Quality in Higher Education. Dalam [http://docs.google.com/view.petraac.id]. 22 Februari 2013
    Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
    Permendiknas RI Nomor 12 Tahun 2007, Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah
    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi dan kompetensi guru
    Prosser, C.A. and Quigley,T.H.1949. Vocational Educational in a democracy. Chicago: American Technical Sosiety. Dalam [http://road.www.edu/road/ja-mesr], 12Maret2010)
    Sulistyowati, E. 2009. Bahan Ajar, (Online), (endahsulistyowati.wordpress.com/ …/apakah-perbedaan-bahan-ajar-dan-sumber-belajar/, diakses 10 April 2012).
    Sagala, Syaiful. 2009. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta
    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
    Zulkarnaini. 2009.Pembelajaran dengan Bahan Ajar Guru (online). Dalam
    http://www.id.wordpress.com/tag/pembelajaran/trackback (23 Februari.2013)

  • JR Siregar changed their profile picture 7 years ago

  • JR Siregar became a registered member 7 years ago

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar