• wwihhh selamatt…….meski kita mempunyai isi lomba yang sama, sepertinya classcraft ini baru beberapa yang engeh dengan game yang asik ini buat […]

  • Kalau ditilik dari judulnya, rada-rada berat dan agak menyentil para orang tua yang sok kaya atau sok berjiwa pendidik atau apalah itu, padahal keputusan mereka untuk memaksakan apa yang disebut dengan peringkat […]

  • @Umar : keberhasilan dalam hal apa dahulu pak? kalau keberhasilan dalam hal raport, tentunya dari ulangan yang diberikan dan juga nilai project, tetapi keberhasilan selain itu saya melihat dari kerjasama, […]

  • @UmarTholib : Alhamdulillah sampai akhir semester genap ini mereka ketagihan meminta project dan materi karena bisa menambah kekuatan mereka dalam game tersebut.

    @M.Subakri : sampai saat ini ketagihannya karena […]

  • Tahun Pelajaran ini sungguh keren banget menurut saya, selain banyak aplikasi pendidikan yang baru, saya juga diberi kepercayaan untuk memberi materi Simulasi Digital untuk jenjang SMK, materi Sim_Dig adalah mata pelajaran reinkarnasi untuk semua guru di SMK, dengan mengganti namanya saja tetapi materi didalamnya tidak banyak berubah dengan mata pelajaran terdahulunya.

    Media pembelajaran ini saya “temukan” saat lagi malas-malasan untuk bermain internet, muncul di salah satu web berita luar negeri CNN, yang awalnya malas seketika saya langsung bersemangat untuk melakukan sign in dan mempelajarinya. Sebagian atau hampir semua peserta didik saat ini memang sudah tergila-gila dengan yang namanya game online yang makin marak, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di game online, lebih asik, lebih keren. Sama seperti kita yang dijamannya tergila-gila dengan permainan dindong ataupun game boy, hehehehehhehe.

    Dilarang gak mungkin, dibatasi apa lagi, jadi salah satu jalannya adalah di akomodir dengan mengikut sertakan tugas dan tanggung jawab didalam game online tersebut. Adalah classcraft.com yang mengerti itu semua, game yang diciptakan oleh guru di Kanada ini menjawab semua tantangan guru-guru dan para orangtua untuk membebaskan anaknya bermain game online tetap dengan adanya tanggung jawab dan peran serta pendidikan didalamnya.

    classcraft

    Menggunakan clascraft mengingatkan saya dengan model pembelajaran RPG (Role Playing Games) sebagai pendidik kita pasti pernah melakukan model pembelajaran tersebut, namun kali ini wadahnya seperti tersalurkan dan lebih nyata tampilannya, saat pertama kali saya publish ke anak-anak di kelas X TKJ 2 mereka tidak terlihat suka, mereka malah sangat antusias dan mau langsung memilih mau jadi apa mereka didalam permainan tersebut.

    Senang pastinya saat satu kelas semuanya mau aktif dan bukan hanya sekedar aktif malah bisa disebut overreaktif setiap pembelajaran saya dengan materi-materi dan project-project yang saya berikan. Media classcraft ini memang baru saya uji cobakan kepada 1 kelas dahulu, mengingat program ini yang baru berjalan di Juni 2014, takutnya jika saya menggunakan ke seluruh kelas pihak dari classcraft-nya belum siap dalam hal server dan segala macamnya. Namun dengan mendapatkan 1 kelas yang sangat antusias ini, rasanya sudah lebih dari cukup bagi saya untuk menggunakan media pembelajaran ini, terlebih lagi di bulan Februari kemarin pihak classcraft sudah membuatkan versi mobile untuk Android dan iOs, jadi bisa lebih mudah lagi digunakan diluar ruang kelas.

     

    classcraft.com

    Kurikulum 2013 “memaksa” kita untuk lebih mengerti dengan para peserta didik, dan melalui game online ini pula para peserta didik merasa lebih ADA didalam kelas, mereka bisa menginginkan apa yang mereka inginkan didalam kelas, seperti membawa makanan, dapat mendengarkan musik, mendapatkan poin tambahan ketika ulangan dan macam-macam lagi “kebebasan” yang dapat mereka gunakan dengan menggunakan kekuatan mereka masing-masing.

     

    classcraft_1

    Untuk mendapatkan kekuatan mereka harus bisa menambah HP dan AP, untuk meningkatkan hal tersebut kita sebagai guru yang menentukan, melalui project, melalui pembelajaran didalam kelas atau diluar kelas, melalui tingkah laku para peserta didik dan juga kekompakan mereka sebagai suatu tim dalam permainan tersebut.

    Dengan pembelajaran sudah mendekati akhir semester genap ini, maka mereka semakin berlomba-lomba lagi untuk menyelesaikan misi yang saya berikan. Akhirnya mereka dapat bermain game online baik itu didalam kelas atau dirumah tanpa harus saya khawatir project / tugas dan misi yang saya berikan tidak lagi dilaksanakan. Dan saya tidak sabar untuk menunggu T.P tahun depan dengan hal-hal yang baru pastinya.

    “Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

     
    ~r4,20150508~

  • Berandai-andai itu memang yang paling enak dan tidak dilarang oleh siapapun, begitupun dengan saya yang berandai jika sistem pendidikan di NKRI dapat sebagus dan seefektif di Finlandia, meski jauh dari harapan tentang sistem pendidikan yang sama tapi berharap untuk menjadi salah satu pendidik yang mempunyai cara berfikir dan mengajar yang sama dengan disana, boleh bukan.

    Di tahun 2015 ini, hari Pendidikan Nasional sudah diperingati kurang lebih hampir 55 tahun di negara kita ini, dan sepanjang itu pula kurikulum baik ditingkat dasar, menengah dan tinggi mengalami perubahan-perubahan untuk mencapai yang lebih baik. Namun entah kenapa semakin berubah suatu kurikulum malah membuat kemunduran-kemunduran dalam sistem pembelajaran di negara ini, entah kita sebagai pengajar yang tidak mengerti apa mau dari Kemdikbud atau Kemdikbud yang terlalu percaya diri menetapkan suatu kurikulum tanpa menerapkan motto dari sebuah logo yang tertera di lobi kantor mereka.

    Pendidikan adalah hak mutlak dan hak dasar bagi setiap manusia tanpa terkecuali, jauh sebelum negara ini terbentuk, jauh sebelum bahtera Nuh terombang ambing di lautan luas, Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia untuk pertama kalinya agar menjadi khalifah di muka bumi ini, khalifah secara luas bukan hanya sekedar berjalan dan menyusuri planet bumi ini. Pendidikan menjadi kunci bahwa manusia dibedakan fikirannya dan juga nafsunya, pendidikan menjadi jembatan untuk manusia menjadi lebih baik dibandingkan manusia terdahulunya.

    Di NKRI tercinta ini sudah menjadi barang mewah membicarakan tentang sistem pendidikan kita, tidak banyak (baca : pusing) yang bisa dibicarakan memang dalam segi teoritis, tapi dalam hal hasil kita bisa bicara banyak melalui peserta didik yang bisa membanggakan kreatifitas dan ilmu pelajarannya melalui beasiswa dan karya-karyanya. Namun sangat sayang jika melihat para peserta didik tersebut, mereka adalah peserta didik yang lebih banyak tinggal di daerah seberang dan jauh dari segala kemewahan informasi juga teknologi, mereka tidak jarang tertinggal dari segala macam kebutuhan dalam pendidikan, namun dalam hal prestasi dan juga daya juang mereka lebih unggul dibandingkan para peserta didik yang berada di ibu kota tercinta ini.

    Kita sebagai pengajar memang menjadi pion pertama yang dijalankan dalam sebuah sistem percaturan (baca : pendidikan), ketika pion (baca : guru) salah langkah maka habis sudahlah para peserta didik menjalani masa depannya. Namun pion (baca : guru) juga bisa menjadi menteri atau apapun yang di inginkan ketika sudah mencapi ujung papan permainan lawan, maksudnya adalah guru mempunyai otoritas penuh ketika didalam kelas, dia bisa menjadi raja yang otoriter atau bijaksana, atau menjadi perdana mentri yang mempunyai banyak tips dan juga trik strategi, atau menjadi benteng yang akan selalu melindungi peserta didiknya dari segala macam kekurangannya.

    Menjadi pengajar adalah suatu penjelmaan tangan Tuhan, sama seperti profesi dokter yang menjadi penjelmaan tangan Tuhan dimuka bumi ini, jika dokter adalah pencabut/penyelamat nyawa manusia, maka guru atau pengajar adalah perusak/penyemangat kehidupan manusia. Memang tidak sepenuhnya disalahkan ketika ada peserta didik yang tidak sukses dan banyak melakukan kesalahan/kriminal dalam kehidupannya, namun ketika peserta didik tersebut bilang kalau dia seperti ini karena gurunya yang bla, bla, bla, bla, bla. Maka mau tidak mau kita sebagai pengajar terkena imbasnya, mungkin pengajar tersebut hanya mengejar target sebuah lembaran bersertifikasi dan juga penyetaraan profesi tanpa memperhatikan apa yang diinginkan oleh peserta didik.

    Dalam pendidikan Plato berucap “Pendidikan itu sebenarnya merupakan suatu tindakan pembebasan dari belengggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Dengan pendidikan, orang-orang akan mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar. Dst.“. Lain lagi dengan Socrates yang mempunyai keyakinan bahwa “Seseorang guru tidak memaksa wibawanya atau memaksa gagasan-gagasan atau pengetahuan kepada seorang siswa, yang mana seorang siswa dituntut untuk mengembangkan pemikirannya sendiri dengan berpikir secara kritis, ini adalah suatu metode untuk meneruskan inteleknya dan mengembangkan kebiasaan¬kebiasaannya dan kekuatan mental.“.

    Dari dua filsuf sejati saat ini, kita sebagai pengajar seharusnya bisa mengambil kesimpulan sederhana tanpa harus membaca berlembar-lembar Silabus dan juga RPP ~yang lebih sering mendekam diatas meja kita diruang guru~ yang senantiasa menjadi acuan kita setiap proses pembelajaran. Kesimpulan sederhana tersebut bagi saya adalah “keberhasilan peserta didik dalam satu mata pelajaran yang kita ampu bukan dari sederet angka yang kita berikan untuk buku hasil pembelajaran mereka, melainkan mereka dapat mengetahui apa yang sedang mereka pelajari tanpa harus mereka bisa dan mereka terpaksa dapat mengerjakannya” itulah kesimpulan sederhana yang saya buat dari setiap proses pembelajaran yang saya lakukan.

    Itulah saya menjadi apa yang saya bisa didalam kelas, karena bagi saya kelas adalah wilayah kekuasaan saya, orang lain (baca : kepala sekolah, pengawas, dll) tidak berhak mengatur kita selama apa yang kita lakukan didalam kelas dalam koridor dunia pendidikan. Kadang saya hanya memutarkan film kepada peserta didik saya, atau saya memutarkan lagu-lagu untuk menenami mereka belajar bersama saya. Namun ketika saya terbentur dengan sistem yang mengharuskan mereka mendapatkan sederet angka didalam buku hasil pembelajaran saya mau tidak mau harus melakukan penilain tersebut. Meski kadang saya merasa tidak nyaman dengan proses penilaian yang memihak kepada peserta didik yang mempunyai kriteria pengetahuan yang layak, sedangkan peserta didik yang mempunyai kriteria lain selalu dianggap tidak layak memenuhi ketuntasan nilai minimal.

    Namun itu sistem pendidikan kita, suka tidak suka, mau tidak mau, kita sebagai pengajar harus mengikutinya namun kita bukan menyerah, melainkan kita bisa menciptakan kreasi didalam kelas bersama peserta didik, kita bisa menjadi pendidik seperti pendidik di Finlandia sana yang lebih mengutamakan peserta didik dibandingkan selembar kertas bertuliskan sertifikasi.

     
    ~r4,20150504~
     

  • Saya bukan pengajar-pengajar seperti kebanyakan yang pada saat di hari setelah ulangan sekolah beramai-ramai memikirkan remedial apa yang harus diberikan ke si anak. Sampe akhirnya saya bikin hashtag berjudul […]

  • di coba pak Andy,,,biar makin gress anak2 didik kita dengan manner dan attitude…

  • Andai AB dapat mengarah sistem pendidikan kita ke Finlandia, niscaya kita sebagai pendidik akan lebih fokus lagi,,,tapi keniscayaan itu bukan menjadi beban, karena akan membentuk jiwa guru yang tidak berkembang […]

  • ThumbnailSedikit miris ketika melihat anak didik saya saat ini sepertinya sudah ingin menghilangkan manner/attitude-nya, yang mana manner/attitude sangat diperlukan bagi mereka untuk terus berkembang dan bersaing dengan […]

  • Guru adalah agent of change dan peserta didik harus diberi pengertian tentang Bhineka Tunggal Ika di dalam NKRI ini, diharapkan dengan wawasan humanisme dan kebhinnekaan para peserta didik tidak akan masuk kedalam […]

  • Rama Wibi became a registered member 7 years, 4 months ago

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar