• Siapa yang tak sabar untuk kembali belajar di dalam gedung Sekolah?

    Banyak pihak sudah tak sabar menanti hal itu. Siswa, Sekolah, Orang Tua, Guru, kami semua yang terlibat dalam dunia sekolah. Rasanya memiliki […]

  • Bekerja sebagai pengajar di sekolah, sudah pasti memiliki kewajiban untuk mengajar, mendidik, dan melakukan evaluasi kepada siswa. Walaupun dalam kurun waktu 15 bulan terakhir, sekolah sebagai “gedung” berpindah […]

  • Betul sekali 🙂

  • Satu hal yang saya tunggu-tunggu dari Pengumuman Keputusan Bersama 4 Mentri dan 1 Kepala BNPB hari Jumat lalu adalah yang disampaikan oleh pak Nadiem selaku Mendikbud. Sudah menduga sebelumnya, namun ya tetap […]

  • Kilas Balik

    Teringat 22 tahun lalu, setelah sekitar 2 tahun memulai profesi guru, alat bantu presentasi di kelas adalah OHP projector. Dengan ruangan kelas sendiri, OHP menjadi alat mewah (bagi saya) untuk […]

  • Sama-sama, pak Alex.
    Salam.

  • Hibrida atau hibrid dalam bahasa Indonesia berarti memadukan dua hal menjadi satu sehingga menghasilkan hasil baru yang diharapkan lebih baik dari sebelumnya.

    Beberapa definisi dari “Hybrid Learning”, salah […]

  • Sejak Maret 2020, dengan terpaksa semua sekolah memulai era di mana pembelajaran harus dilakukan secara jarak jauh. Sudah tidak ada tawar menawar lagi.

    Banyak opini bahwa sekolah harus tetap berjalan, karena […]

  • Sudah dua tahun lebih tidak bertemu dengan Guraru web, akhirnya bertemu kembali hari ini. Semoga bangkit kembali dan menjadi wadah bagi guru-guru untuk berbagi dan belajar. Salam untuk semuanya.

    Sebelum […]

  • Hedy Lim commented on the post, Hai Guraruers 3 years ago

    Mungkin eranya telah berubah 🙂

  • Telepon seluler menjadi sebuah kalkulator ujian?

    “Wah, kami tidak dapat melakukan hal tersebut. Siswa tidak dapat membawa telepon seluler mereka ke sekolah. Walaupun diijinkan, bukan untuk dibawa masuk ke dalam […]

  • If people are good only because they fear punishment, and hope for reward, then we are a sorry lot indeed.  ~ Albert Einstein
    Reward dan Punishment, masihkah relevan dengan pendidikan saat ini?

    Kalau saya m […]

  • Sudah sejak beberapa saat lalu, pemakaian kata jaman “now” menjadi fenomenal. (Dan seperti biasa, saya agak telat 😉 ). Lalu mudah sekali kita jumpai di banyak tulisan, komentar secara lisan di medsos maupun […]

  • Terimakasih @Pengelola Guraru.
    Acer Chromebooknya telah saya terima hari ini, dan pertama kali saya gunakan untuk menulis di kolom ini sekarang 😀

    Terimakasih pula untuk rekan2 lain.

    Salam…

  • Hedy Lim wrote a new post, Siswa Terbaik 4 years ago

    Satu tahun ajaran sudah hampir selesai. Saatnya bagi para guru memberikan penilaian akhir kepada siswa mereka. Bagi siswa, mungkin inilah saat yang dinanti-nantikan apakah kemajuan belajarnya memberikan sebuah […]

  • Sama-sama Pak Nuel ^^

  • Bosan dengan jadwal persiapan ujian yang begitu-begitu saja? Pembahasan lagi, penjelasan lagi, bagi lembar kerja banyak lagi, kasih jawaban saja yang penting beres? Tenang, masih ada banyak metode lain yang bisa kita gunakan untuk mempersiapkan siswa menjelang suatu ujian.

    Di banyak sekolah (mungkin hampir semua), setiap guru memiliki jadwal rencana pembelajaran selama satu semester, dan biasanya menyiapkan satu sampai dua minggu pertemuan (tergantung jam pelajaran juga) untuk mereview semua bahan pelajaran yang akan diujikan kembali kepada siswanya (standardized test by school).

    Salah satu yang saya lakukan adalah memanfaatkan aplikasi google docs dan “add-ons” di dalamnya untuk melakukan kolaborasi antar siswa.

    Kolaborasi dapat didefinisikan sebagai praktik kerja dimana setiap individu saling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

    Dalam hal ini, siswa diajak dan diajar untuk memiliki kemampuan dalam membantu dan membuat kerjasama tadi, yang diperlukan untuk mencapai tujuan bersama.

    Adapun kolaborasi yang saya lakukan di kelas kali ini adalah membuat siswa mengingat kembali topik-topik pelajaran yang telah dilaluinya selama dua semester. Setidaknya setelah mereka ingat topiknya apa, akan lebih mudah membuat mereka mengingat isi topik tersebut dan bagaimana menyelesaikan pertanyaan-pertanyaannya. Hal ini dalam rangka siswa harus mempersiapkan diri kembali untuk ujian akhir semester, dengan bentuk ujian masih bersifat “paper based test”.

    Aktivitas yang dilakukan sebagai berikut:
    1. Membuat daftar topik pelajaran selama dua semester. Ketikkan di dalam Google Docs. Lalu bagikan ke semua siswa dan pastikan semua siswa diberikan akses yang sama yaitu bisa melakukan edit atas dokumen tersebut. Hanya edit, jangan akses sebagai admin atau menambah anggota baru.

    2. Setelah siswa mempunyai dokumen yang sama, dimulailah kegiatan ini. Siswa wajib membuat minimal 10 soal sendiri (boleh juga mengambil dari soal-soal dari buku teks atau soal yang mereka sudah pernah kerjakan bersama saya di kelas, boleh dari internet), dan tidak boleh sama satu dengan yang lainnya. Terlebih variasi soal di matematika amatlah beragam.

    3. Setiap soal yang mereka buat atau ambil dari sumber buku teks tadi ataupun dari internet, harus mendapat persetujuan dari saya sebagai gurunya. Persetujuan di sini dalam arti, memastikan soal berbeda antar siswa, bernalar dan benar bisa dicari jawabannya. Soal yang telah disetujui oleh saya, akan saya berikan tanda “ya” atau “oke” pada kolom komentar di dokumen Google Docs nya. Jika ada yang salah, juga saya tandai di mana kesalahannya dan meminta mereka perbaiki dulu. Dan bila perbaikan selesai, saya cukup memberikan klik “marked as resolved”.

    4. Selain tugas membuat soal, mereka wajib pula menjawab soal buatan teman-temannya (tidak boleh menjawab soal sendiri). Dan inipun sama mendapat persetujuan saya sebagai jawaban benar atau kurang tepat.

    5. Kegiatan ini menghabiskan 3 jam pelajaran @60 menit di kelas. Sesuai dengan jadwal yang saya rencanakan. Karena kegiatan ini juga online, saya tidak menutup kesempatan mereka melakukan perbaikan di rumah di waktu jam belajar mereka sendiri. Prosedur persetujuan sama seperti yang dilakukan di kelas.

    Bentuk penilaian atas kegiatan ini adalah tetap individu. Rubrik penilaian (skala 1-5) sebagai berikut:
    1. Kriteria minimal 10 soal, dengan masing-masing soal berbeda topiknya, terpenuhi.
    2. Menjawab soal buatan temannya minimal sejumlah soal yang dibuatnya, terpenuhi.
    3. Tingkat kesulitan / bobot soal yang dimasukkan di dalam dokumen.
    4. Penggunakan g-Math add-ons untuk mempresentasikan persamaan / ekspresi / fungsi matematika di dalam dokumen.

    Lalu, bagaimana dengan g-Math? Berikut langkah-langkah mengenal dan menggunakan add-ons ini dalam Google Docs:

    Di dalam dokumen

    1

    2

    Boleh ditonton video tutorialnya jika diperlukan, lalu install.

    3

    Setelah install g-Math, dapat membuat ekspresi matematika:

    4

    5

    6

    Membuat Grafik:

    7

    8

    Membuat penampilan data statistik:

    9

    10

    Membuat tulisan tangan:

    11

    12

    Ini adalah salah satu contoh dari kegiatan belajar mengajar saya di dalam kelas, terutama menjelang ulangan akhir semester. Tentu saja, masih banyak kreatifitas lain yang dapat kita lakukan untuk membuat para siswa kita menjadi seorang pembelajar aktif.

    Keuntungan lain dari kegiatan ini adalah di akhir kegiatan, saya menerima banyak sekali soal matematika. Sementara bagi siswa, seperti tiba-tiba, mereka memiliki bank soal (dengan lembar jawaban tentu saja), yang tersimpan amat rapi di “cloud” 🙂

    Video berikut direkam saat kegiatan kolaborasi ini berlangsung di kelas.

    Salam,
    Hedy Lim

    – Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru –

  • “Selamat Hari Pendidikan Nasional”

    Apakah anak-anak / siswa kita pernah mengalami hal seperti gambar di bawah ini? Ataukah Bapak/Ibu Guru yang justru sibuk memberikan nama tes apakah yang akan dilalui siswa? *Bahan Perenungan*
    [caption id="attachment_45343" align="alignnone" width="601"]Picture taken from: http://languagetesting.info/humour/fun.php Picture taken from: http://languagetesting.info/humour/fun.php%5B/caption%5D

    _____________________________________________________________________

    Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata “Sekolah” memiliki beberapa arti berikut:

    se·ko·lah n 1 bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran 2 waktu atau pertemuan ketika murid diberi pelajaran 3 usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan).
    Sebagai bangunan / gedung, harus memiliki ijin mendirikan bangunan, Sebagai tempat memberi pelajaran, harus memiliki ijin operasional sekolah. Sebagai usaha siswa menuntut kepandaian, harus memiliki ijin sertifikat telah terakreditasi.

    Belajar itu gratis, tetapi meraih sebuah catatan atas pengakuan akan hasil belajar di atas selembar kertas, membutuhkan biaya, demikian ungkapan seseorang di media sosial yang menarik perhatian saya.

    Dulu, ungkapan anak harus sekolah untuk menjadi pintar. Sekarang, mungkin tidak sesederhana itu. Karena menjadi pintar banyaklah faktor pendukungnya. Anak itu sendiri, orang tua, lingkungan, dan sekolah. Ada anak yang baru masuk ke suatu SMP / SMA, lalu ikut kompetisi nasional, dan juara 1, lalu sekolah sangat bangga, pasang spanduk kemenangan di beberapa titik, padahal anak tersebut pintar karena sudah pintar. Sekolah bangga? iya, (kurang lebih) sebagai tempat tumpangan si anak mengambil ijasah formalnya saja.

    Saya pribadi masih menyebut dan mengakui bahwa menempuh pendidikan usia sekolah itu penting. Bukan karena saya berprofesi sebagai guru, namun ada hal-hal yang memang baik bagi anak-anak untuk mengenal dunianya bersama teman sebaya melalui lembaga sekolah. Namun kadang menjadi miris jika memang sekolah hanya penting untuk sebuah pengakuan saja. Pengakuan telah berhasil melewati suatu level usia tertentu atau di jenjang tertentu. Belajar tak mengenal usia (teorinya), tetapi nuansa di sini, usia 12 tahun hendaknya selesai SD, usia 15 tahun hendaknya selesai SMP, usia 18 tahun hendaknya selesai SMA, usia 23 tahun hendaknya selesai S1, dan 26 tahun hendaknya selesai S2. Di luar itu, wah pasti anak ini ada masalah.

    ______________________________________________________________________

    Senangkah orang tua jika anaknya dapat bersekolah? Rasanya sih iya. Sebagian orang tua (termasuk saya *hiks), lebih merasa aman dan senang anaknya berada di sekolah daripada liburan berkepanjangan dan “berisik” di rumah 😉 . Beruntungnya saya memiliki anak yang suka ke sekolah. “Yaahh libur (merengut)”, “mau tanding bola dulu ma di sekolah”, “asik ada peltam (pelajaran tambahan) jadi lamaan di sekolah”…. Sambil menambah kerjaan saya untuk berpikir, ini beneran suka atau “suka” 😉

    Tapi tahukah para orang tua dan pihak yang berkompeten di sekolah (guru, kepala sekolah maupun pemimpin yayasan sekolah) bahwa si anak dengan mudah mengatakan “sudahlah, di sekolah yang penting bertemu teman, daripada di rumah “mager” (malas gerak), tadi gurunya menjelaskan apa juga saya tidak mengerti, nanti tanya guru les saja lah”. (Baru-baru ini, ada anak yang curcol demikian #aduuhh).

    Guru les lagi….. Memang sekarang sudah ada alih fungsi sekolah yang sebagai tempat belajar tadi kepada sekolah yang beneran hanya menjadi lembaga formal, tempat berkumpul teman sebaya, tempat berteman (siswa dengan siswa, guru dengan guru, siswa dengan guru, menambah jumlah teman di facebook dan social media lain). Karena sudah ada banyak “sekolah” lain yang mampu menyelenggarakan pendidikan akademis, kecuali mengeluarkan ijasah kelulusan suatu jenjang pendidikan secara formal.

    Dari beragam sosial media pula saya menemukan lembaga bimbingan belajar yang menawarkan jasanya, yang selalu disertai dengan iming-iming bahwa “anda bisa”. Menjadi motivator memang sudah menjadi era “kekinian”.

    Siswa memang sering dijadikan komoditi untuk bisnis berbalut pendidikan ini. Gaya promosi bimbingan les kian marak dan semakin menunjukkan kalau eksistensi mereka memang sangat dibutuhkan siswa dan orang tua. Menunjukkan foto-foto kertas ulangan siswa yang belajar di tempatnya dan memperoleh nilai ulangan di atas 90 di sekolah siswa masing-masing. “Kalian ingin seperti ….(nama siswa yang dipajang memegang kertas ulangannya yang di sekolah memperoleh nilai di atas 90)…., silahkan bergabung bersama kami….”

    Luar biasa bukan? Beberapa foto siswa yang dipajang kebetulan saya kenal, dan saya memang tahu persis, bahwa anak-anak tersebut kebetulan memiliki kecerdasan akademis yang tinggi. Jadi tidaklah heran mereka memang menambah ilmu di les dan mendapatkan hasil yang baik pula.

    Bagaimana dengan anak yang memang benar-benar harus mendapat perhatian lebih, dibimbing lebih? Di sekolah “seperti ditolak” oleh gurunya dan diminta belajar sendiri di rumah. Pergi ke tempat les, modelnya seperti sekolah kedua, isinya lembar kerja melulu dan lagi-lagi gagal.

    Jika bimbingan belajar sudah bisa menyelenggarakan les dengan jumlah siswa mencapai 10 siswa per kelas dan memfasilitasi dengan lembar kerja yang dibuat dengan khusus untuk siswa sekolah tertentu, ruangan seperti ruang kelas, meja kursi seperti di sekolah formal, sebenarnya tinggal menunggu adanya UU resmi yang mengatur belajar di rumah bisa menjalani ujian kesetaraan sesuai standar resmi pemerintah yaitu mengikuti Ujian Nasional.

    Kalau sampai bisa begitu, sekolah musti waspada dan mulai berpikir, apa benar sekolah sebagai satu-satunya tempat belajar lagi? Saat ini memang masih banyak opini yang menyatakan sekolah bukan hanya tempat belajar akademis tetapi bersosialisasi, mendidik secara karakter, mencerdaskan anak bangsa secara umum karena sekolah menjangkau masyarakat luas, dan seterusnya. Jadi posisi sekolah masih aman sekarang karena semua “sekolah” (baca bimbel) itu kan hanya akademis. Namun, siapa yang tau akan jadi seperti apa dalam beberapa tahun ke depan.

    ___________________________________________________________________

    Kadang sedih dan senyum sendiri melihat foto-foto kertas ulangan yang bertaburan nilai 90 dan 100, dari prestasi siswa-siswa yang berkemampuan tersebut. Tetapi adakah yang mau menyentuh siswa yang sangat biasa-biasa saja kemampuan matematikanya di sekolah, umpamanya?

    Ada siswa yang sudah dua semester selalu mendapat nilai rata-rata ulangan 50%, menutup semester ketiganya dengan 61% atau bahkan 67%, bukankah sebuah kemajuan? Selalu terlihat masih gagal karena sudah terlalu banyak orang mematok dengan KKM. KKM 70, 65 adalah gagal. Usahanya meningkat 15% belum terlalu dipandang.

    Atau adakah bimbingan belajar yang mau “mempromosikan” siswa yang frustasi tidak bisa menjawab soal dengan benar malah menjawab seadanya? Apakah kitapun sama menganggap sebagai “meme” dan tertawa?

    ___________________________________________________________________

    Artikel ini saya akhiri dengan cerita berikut (sebagai perenungan lagi), saya kemas dalam bentuk menyerupai penulisan di twitter, karena jika tidak, akan terlalu panjang menceritakan betapa masih ada (bahkan mungkin banyak) kejadian seperti di bawah ini:

    Kemaren melihat lembar kerja matematika seorang siswa kelas 6. Nilai 50%, dan ditulis “malas berpikir”.

    Konon ini bukan yang pertama, beberapa kali ditulis “malas”, “tidak belajar”, “asal-asal”. Kata si anak, bukan hanya tulisan namun verbal.

    Verbal? Jadi ingat guru yang suka melakukan ini. Rupanya mental begitu laris juga.

    Anak ini bukan tergolong cerdas matematika, menghitung 12×45 saja masih suka grogi. Tetapi nilai rapor yang dicapai bisa 74 karena kkm sekolah 70 #tiranikkm

    Si anak stress dan semakin apatis. Si orang tua bingung, ingin mengajukan komplen sejak bbrp bulan lalu.

    Tetapi ditunda terus karena ketakutan berulang kejadian yang sama, sehabis didatangi sekolahnya, si anak jadi korban ditekan guru.

    Sebagai guru saya ditanya, mengapa ada guru begitu? Saya tidak bisa menjawab, karena ikut tidak habis pikir, kok ya ada guru begitu. *ada lah Hed*

    Guru yang bersangkutan mungkin tergolong guru “jeniyes” yang ingin “produk” jadi. Bukan urusan saya dong kamu gak bisa, les saja sana.

    Pokoknya “under pressure” ke anak-anak supaya di akhir hari nilai UN nya bagus, tuh kan untung juga saya “kejam”, buktinya nilai bagus kan? #hiks

    Mungkin beliyaw memiliki bisnis les besar-besaran. Memiliki jiwa sosial memakmurkan sesama guru les.

    Guru matematika sepertinya senang sekali berpikir kalau matematika itu mudah dan menyenangkan. #halah

    Ortu ini bercerita juga ada teman anaknya yang gara-gara sering dapat nilai jelek dan dikatai si guru dan ditulisi macam-macam di lembar kerjanya…

    …maka anak tersebut sering dipukuli ibunya di rumah dan datang ke sekolah dengan tangan biru-biru 🙁

    Guru “jeniyes” ketemu ortu kurang paham dirinya ortu, klop. Bahkan menyadari siswanya mendapat masalah di rumahpun si guru tidak mampu.

    Salam
    Hedy Lim
    http://hedy.me

  • Makasih pak Okky 🙂

  • Nah, akhirnya admin muncul.

    Setelah sekian lama, kita tidak dapat akses untuk upload image. Sekarang “at least” bisa lagi 😀

  • Load More

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar