•  Bagi seorang guru, tiap kali tahun ajaran baru dimulai, pasti selalu menyuguhkan cerita dan pengalaman baru. Saya yakin itu!Kisah ini sebenarnya telah saya alami empat tahun yang lalu. Bahkan dokumentasinya pun saya tak punya. 2011 lalu, di antara 300 siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah 1 Putri  Annuqayah—sebuah pesantren yang telah berumur lebih seabad lamanya di kota Sumenep—seorang siswa bernama Sutinah  (bukan nama sebenarnya) mengusik pikirku.Seperti guru-guru lainnya, awalnya saya menganggap anak ini tipe anak pemalas yang  tak mau mencatat dan memperhatikan penjelasan guru dengan seksama. Mata pelajaran Hadits yang kebetulan saya ampu di kelas VII tentu membutuhkan, bukan saja keterampilan baca-tulis latin, tetapi juga baca tulis arab, bisa jadi sangat tidak menyenangkan untuknya. Tiap kali mengecek buku catatan siswa, namanya selalu tercatat bermasalah. Menengok buku tulisnya, hanya coretan-coretan abstrak dan susunan huruf yang tak dapat terbaca. Dan memperhatikannya saat saya menjelaskan pelajaran, saya seolah kehilangan kontak matanya. Batin saya, apa sih yang ada di pikiran anak ini? Beberapa guru mengeluhkan hal yang sama tentang Sutinah. Beberapa malah mengaku tak punya cara lagi menghadapinya. Saya pun nyaris putus asa, setelah berkali-kali memintanya melengkapi catatan, hanya dijawabnya dengan anggukan tanpa bukti. Sampai suatu hari, saat saya mendikte catatan kepada siswa, dan saya sengaja berdiri tepat di sisi bangkunya, di situlah saya seperti disadarkan tentang sesuatu. Sutinah tak bisa menulis abjad dengan benar dan menyusunnya menjadi deretan kata seperti yang saya ucapkan.Butuh satu minggu bagi saya mempelajari kondisi Sutinah; browsing di internet, sharing dengan teman-teman psikologi, dan bahkan menonton kembali sebuah film Bollywood berjudul Taara Zaamen, setelah menemukan beberapa petunjuk; kesamaan masalah Sutinah dengan tokoh utama di film tersebut. Dan pencairan itu pun menghasilkan sebuah jawaban.Ya, sebagai seorang guru, saya terlambat menyadari kalau Sutinah mengalami ganggungan disleksia, kelainan yang membuatnya kesulitan membaca dan menulis. Huruf dan rangkaian kata di matanya seperti hantu yang bisa berubah wujud dan meloncat-loncat berpindah tempat kapan saja, sehingga tak bisa terbaca. Sangat sulit baginya mengenali huruf dan merangkainya menjadi kalimat yang benar,  kadang ada beberapa huruf yang tak terindera matanya dan tak jarang huruf-huruf itu terbaca terbalik. Ia tak bisa membedakan huruf-huruf yang serupa, seperti “b”, “d”, dan “p” atau “c” dan “e”, “m” dan “n”, “z” dan “s”. Ia juga tak bisa membedakan nomor halaman kitabnya, dan menerjemahkan kata-kata yang saya diktekan ke dalam tulisan di buku catatannya. Jangan salahkan jika ia tak pernah mencatat di hampir semua pelajaran, mendapat nilai terendah di setiap ulangan hariannya, dan tak menjawab satu pun soal essai ketika latihan. Saya dan mungkin guru-guru yang lain sempat merasa jengkel setengah mati menghadapinya. Saya pun sempat berpikir, ia jenis anak bungentuwo; mlebu kuping tengen metu kuping kiwo, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Pasalnya, beberapa kali saat saya menanyakan masalahnya, ia hanya menunduk kebingungan. Padahal, apapun kesulitan belajarnya, saya minta ia tak sungkan bertanya.Dengan bekal hasil diskusi dengan teman-teman lulusan psikologi, hasil pembelajaran dari referensi mengenai disleksia, saya mencoba untuk membantunya sedikit demi sedikit lepas dari permasalahannya. Hal pertama yang saya lakukan adalah memintanya duduk di deretan paling depan, tak lagi mendiktenya saat pelajaran, tetapi menuliskannya di papan tulis dalam ukuran cukup besar. Saya harus mengenalkan kembali abjad-abjad dan menulis huruf dalam ukuran yang besar dulu untuk melatih fokus penglihatannya, menyuruhnya membaca kata dan menguatkan ingatannya dengan gambar, atau menuliskan huruf-huruf pada telapak tangannya dengan hanya gerakan jari dan meminta Sutinah menebaknya dalam keadaan mata terpejam untuk memfokuskan daya ingatnya. Cara ini terus saya ulang di sela-sela jam pelajaran sampai ia benar-benar mengenali seluruh alfabet. Ketika menerangkan pelajaran pun, sengaja saya sertai gambar di papan tulis untuk mengikat pemahamannya. Memang, rasanya seperti mengajar anak TK, tapi metode ini ternyata cukup ampuh. Teman-teman sekelas Sutinah pun tak keberatan, malah tertawa cekikikan setiap kali saya menggambarkan sesuatu di papan tulis.Sementara, untuk menghafal matan (teks) hadis, secara kebetulan, saya menerapkan metode menghafal dengan menggunakan gerakan-gerakan yang disesuaikan dengan arti lafal hadis tersebut. Tujuannya adalah selain untuk mengantisipasi siswa agar tidak mengantuk di kelas, otak kanan mereka memang perlu diaktifkan ketika menghafal pelajaran, agar menghafal terasa menyenangkan. Gerakan-gerakan itu akan terekam oleh sepertriliun sel-sel otak mereka, dan otak kanan akan menyimpannya dalam waktu yang lebih lama, seperti ingatan mereka pada kenangan-kenangan masa kecilnya yang menyenangkan dan tak pernah terlupakan oleh waktu. Itu karena kemampuan otak kanan menyimpan memori mencapai 10 pangkat 5 juta kilometer. Kalau diangkakan dengan deretan angka nol dibelakang, jumlah itu sebanding dengan jarak antara bumi dan bulan dalam empat belas kali perjalanan pulang pergi. Menakjubkan, bukan? Yang saya butuhkan hanyalah sedikit ide kreatif saya untuk menciptakan gerakan yang sesuai dengan lafal hadits yang harus dihafal. Menerjemahkannya ke dalam gerakan-gerakan yang mudah mereka ingat. Tak jarang, mereka pun saya ajak menciptakan gerakannya sendiri, karena sebenarnya mereka belajar sembilan puluh persen dari apa yang mereka katakan dan lakukan. Senang dan bangga rasanya menikmati suasana kelas yang begitu hidup, penuh semangat. Metode ini pun saya terapkan di kelas Sutinah. Walhasil, ia hapal semua lafal hadits bahkan dengan gerakan-gerakannya, tapi sangat kesulitan ketika harus menuliskan hafalannya di buku. Perlu begitu banyak waktu sampai ia bisa mengatasi kesulitannya, seperti orang-orang sehebat Albert Einstein, Tom Cruise, Walt Disney, atau George Walker Bush yang dulu juga mengalami hal serupa.Hal lain yang tak lupa saya lakukan adalah memberitahukan guru-guru lain tentang kelaian Sutinah, agar mereka pun ikut andil membantunya keluar dari kesulitannya, tidak hanya mengeluhkan ketidakmampuannya, karena ternyata Sutinah bukan anak pemalas seperti asumsi kami dulu. Sutinah ternyata anak yang sangat tekun dan rajin. Saking rajinnya, di setiap kegiatan ekstrakurikuler sekolah, Sutinah selalu menjadi anak pertama yang hadir dan menunggu hingga pembimbingnya datang. Lucunya, menurut beberapa teman guru, setiap kali berpapasan dengan Sutinah yang akan menghadiri kegiatan ekstra sekolah, seperti pengajian, kursus baca-tulis, kegiatan kelompok shalawat, atau lain-lain, setiap ditanya akan kemana, jawabannya selalu sama: “mau belajar dengan Bu Hana.” Saya tertawa sekaligus terharu mendengarnya. Ternyata, nama saya terasa sangat dekat di hatinya. JDan Allah memang sangat menghargai setiap proses dan usaha hambaNya. Segala upaya ini akhirnya membuahkan hasil. Menginjak kelas VIII, Sutinah mulai lancar baca-tulis, baik latin atau pun Arab. Di kelas berikutnya, wali kelasnya mengatakan, kemampuan Sutinah meningkat jauh. Saat ini, Sutinah telah duduk di bangku SMK. Saat kami bertemu, Sutinah selalu malu-malu memanggil dengan senyum khasnya yang semakin matang dan dewasa.Memang benar, segala yang diusahakan dengan sungguh-sungguh pasti akan terasa mengagumkan hasilnya. Semoga cerita ini bisa menginspirasi semua.[.]”Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10″

  • Hana Al Ithriyyah became a registered member 6 years, 6 months ago

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar