• Bagi bapak dan ibu guru yang mengajar mata pelajaran matematika tentu sangat membutuhkan soal dan kunci jawaban ujian sekolah mata pelajaran yang diampu tersebut untuk evaluasi dan analisis butir soal. […]

  • terima kasih pa Muhammad Alim intinya saya tidak hanya mengajarkan pembelajaran yang berbau teknologi tetapi karakternya tidak kita perbaiki

  • benar pa mudah-mudahan tahun ini saya bisa meluncurkan aplikasi Android untuk pelajar mohon doanya pa Mokhamad Subakri

  • terima kasih pa Iwan …sebenarnya ini keprihatinan kita saat semua menggunakan teknologi tetapi disisi lain karakater peserta didik kita semakin mengkhawatirkan

  • [caption id="attachment_47639" align="aligncenter" width="760"]Siswa sedang mengikuti Simulasi UNBK (Sumber Kompasiana.com/didno76) Siswa sedang mengikuti Simulasi UNBK (Sumber Kompasiana.com/didno76)[/caption]
    Tidak bisa dipungkiri di zaman yang serba modern dan canggih ini, guru harus bisa mengikuti perkembangan zaman. Jika tidak, maka guru akan tertinggal jauh bahkan oleh peserta didiknya sendiri yang memang hidup di generasi milenial yang serba digital ini.
    Perkembangan gadget dan teknologi terbaru membuat anak-anak dapat mengakses apa saja kapan saja melalui gadget atau perangkat yang dimilikinya. Terkadang saat gurunya belum mengetahui teknologi terbaru, justru peserta didiknya sudah mengetahui bahkan sudah menggunakan aplikasi dan teknologi terbaru tersebut.
    Sebagai seorang guru tentu harus terus belajar dan belajar lagi termasuk dalam hal menggunakan teknologi dan aplikasi terbaru khususnya dalam pembelajaran. Seorang pendidik dituntut untuk bisa memanfaatkan teknologi termasuk penggunaan internet untuk hal yang positif.
    Jauhkan mindset (pola pikir) guru yang beranggapan bahwa faktor usia yang sudah lanjut sehingga menghalangi mereka untuk belajar. Padahal mereka mengetahui bahwa belajar itu sampai akhir hayat bukan hanya saat sudah menjadi guru kemudian berhenti untuk belajar.
    Oleh karena itu seorang guru harus melek teknologi dan jadi penggerak perubahan pendidikan ke arah yang lebih baik. Sehingga guru bisa memanfaatkan teknologi terbaru tersebut untuk memajukan Pendidikan di tanah air.
    Tetapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan tanpa masalah. Kehadiran gadget telah mengubah pola pikir dan perilaku peserta didik kita. Sehingga berbagai persoalan kemudian muncul ke permukaan dan telah mengubah karakter pelajar di tanah air setelah kehadiran gadget dan teknologi canggih tersebut.
    Kini pelajar bebas mengakses apa saja dari ponselnya, termasuk mengungkapkan kata-kata yang mengandung ucapan kebencian, kata-kata kasar terhadap teman-temannya, melihat konten video negatif, dan hal-hal negatif lainnya.
    Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus dilakukan dan disikapi saat ini diantaranya adalah gurunya harus melek teknologi. Faktor utama Pendidikan di lingkungan sekolah tentu adalah guru. Di tengah kemajuan dan teknologi yang canggih ini guru harus bisa memahami dan mengerti tentang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    [caption id="attachment_47644" align="aligncenter" width="960"]Pelatihan blog untuk guru (Dok. Pribadi) Pelatihan blog untuk guru (Dok. Pribadi)[/caption]
    Guru harus bisa memanfaatkan teknologi tersebut untuk proses belajar mengajar. Guru bisa mencari bahan ajar melalui internet, memanfaatkan soal secara online, memanfaatkan media sosial untuk pendidikan, dan masih banyak hal lain yang bisa dilakukan dalam hal pemanfaatan teknologi.
    Jika guru belum bisa menguasai kemajuan teknologi, maka cara terbaik adalah guru mau belajar dengan mengikuti berbagai pelatihan, workshop atau sejenisnya yang materinya membahas tentang penggunaan teknologi untuk pembelajaran.
    Ada banyak teknologi yang bisa dipelajari oleh guru untuk pembelajaran di antaranya adalah :
    Pembuatan blog. Menulis di blog seharusnya menjadi kebiasaan bukan hanya untuk guru Bahasa Indonesia tetapi setiap guru. Blog dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk peserta didik dan juga bisa dimanfaatkan untuk berbagi cerita dan pengalaman dalam proses belajar mengajar. Program satu guru satu blog harusnya diaktifkan kembali dan menjadi program Dinas Pendidikan Pusat.

    [caption id="attachment_47640" align="aligncenter" width="1328"]Mobile Learning dengan Quipper School (Dok. Pribadi) Mobile Learning dengan Quipper School (Dok. Pribadi)[/caption]
    Mobile Learning. Banyaknya pelajar yang sudah memiliki smartphone atau ponsel canggih, serta komputer atau laptop harusnya dimanfaatkan oleh guru untuk memberikan pembelajaran secara online. Contohnya membuat soal secara online dengan menggunakan beberapa aplikasi yang bisa diterapkan seperti menggunakan Google Drive, Quipper School, Edmodo dan lain-lain.
    Memanfaatkan media Sosial. Sebagai seorang guru maka sikap dan tingkah laku gurunya akan dilihat dan ditiru oleh peserta didiknya. Untuk itu guru juga harus bisa belajar memanfaatkan media sosial untuk Pendidikan seperti membuat kuesioner atau soal online menggunakan media sosial seperti facebook, twitter dan sejenisnya.
    Selain digunakan untuk Pendidikan, media sosial juga sebagai kontrol sosial terhadap peserta didiknya. Karena saat ini banyak sekali ucapan kebencian, bully (ancaman), gambar-gambar negatif yang beredar di media sosial. Peran guru untuk mengingatkan mereka untuk menggunakan media sosial secara bijak dan positif.
    Membuat Game Untuk Pembelajaran. Guru harus bisa memahami peserta didiknya, salah satunya adalah dengan membuat dan mengembangkan pembelajaran yang menarik termasuk membuat game. Game disini bukan hanya game secara online atau menggunakan komputer, laptop atau gadget tetapi juga game saat pembelajaran di kelas yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk bermain sehingga mereka bergerak aktif dan juga menyehatkan.
    Seperti menggunakan model pembelajaran snowball throwing dimana siswa diharuskan menuliskan pertanyaan seputar materi yang disampaikan kemudian dilemparkan kepada temannya. Teman yang mendapat kertas tersebut kemudian harus menjawab pertanyaan tersebut.
    Guru yang sudah memahami teknologi, bisa membuat aplikasi game pendidikan berbasis Android yang bisa diunduh atau dan diinstal di smartphone peserta didik sehingga mereka bisa belajar dengan cara bermain game atau bisa dengan cara membuat soal-soal menarik yang bisa digunakan pada perangkat Android peserta didik.
    Tetapi semua hal yang dilakukan oleh guru tersebut tidak akan berhasil jika tidak didukung oleh peserta didik, orang tua dan masyarakat.  Peserta didik harus bisa memanfaatkan teknologi tersebut secara bijak dan positif. Begitu juga dengan orang tua harus bersama-sama mengawasi anaknya di rumah terutama saat menggunakan gadget dan teknologi.
    Masyarakat juga mempunyai peran aktif untuk menciptakan pelajar yang mempunyai karakter. Apabila ada pelajar yang melakukan kegiatan yang bertentang dengan norma susila, agama dan hukum sebaiknya masyarakat segera melaporkan kepada pihak berwajib dan yang berkompeten karena terkadang masyarakat sekarang sudah tidak peduli lagi dengan lingkungan sekitarnya.
    Maka tidak heran jika banyak hal-hal yang bertentangan dengan norma susila, agama dan hukum dibiarkan begitu saja oleh masyarakat. Sehingga nilai utama dari karakter bangsa Indonesia yang selama ini dipegang teguh mulai memudar. Kelima karakter bangsa Indonesia tersebut adalah Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong-royong dan Integritas.
    Sekarang kita semakin sering melihat banyaknya perbedaan pendapat bahkan menjurus perpecahan bangsa karena tidak lagi menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain.
    Jiwa nasionalis pelajar semakin menurun, ini bisa dilihat dari seringnya terjadi tawuran antar pelajar, tidak disiplin dan patuh kepada aturan di sekolah dan di lingkungan rumah sendiri. Mereka lebih menempatkan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya dibandingkan menempatkan kepentingan bangsa dan negara.
    Nilai karakter mandiri pun semakin berkurang dikalangan pelajar karena sikap dan perilaku yang masih bergantung pada orang lain dan tidak mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, dan cita-citanya.
    Begitu juga dengan karakter gotong royong yang sekarang sudah semakin luntur di kalangan pelajar. Ini bisa dilihat dari kebiasaannya yang lebih individualistis, materialistis dibandingkan harus kerja bersama-sama atau bergotong-royong dengan teman atau orang yang membutuhkan bantuan.
    Integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral (integritas moral).
    Jadi selain guru dan peserta didiknya melek teknologi tetapi yang lebih penting adalah teknologi tersebut harus tetap membuat peserta didik membumi dan memiliki karakter bangsa Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, jujur, toleran, sopan santun, bertanggung jawab, ramah-tamah, dan cinta damai.
    Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru.

  • betul setuju bahwa makam bukan untuk dipuja-puja tetapi untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dan mengingatkan kita akan kematian

  • terkadang masih bingung pake Quipper School tuh…

  • Seru memang belajar origami terkadang salah baca jadi poligami eh..

  • wah kalo inget Astuti jadi inget singkatan sepeda motor Astrea Tujuh Tiga hehe

  • bener naik ke atas bukit jalanan berbatu kebayang kalo hujan

  • Kang Didno commented on the post, MPMBM 6 years, 6 months ago

    jadi inget kuliah dulu nih…

  • kok masih kosong sih

  • keren acaranya

  • kayaknya kenal dengan Pak Tri Susanto hehe

  • terima kasih Pak Taufik dan Ibu Atjih Kurniasih

  • wah idenya bagus juga pak… terima kasih sudah menginspirasi

  • terima kasih pa Umar Tholib atas kunjungannya.. baik nanti akan saya kunjungi tulisannya

  • Load More

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar