• Thumbnail

    Gerimis Di Balik Jendela

    gerimis di balik jendela mengantar rasa bersua pada permukaan rasa

    terbentuk pada ragu akan kebenaran cinta

    cinta mengharu biru penuh kawat duri bercecer air […]

  • Bu Amel, mana tips tips berikutnya???

  • [caption id="attachment_37595" align="alignnone" width="324"]IMG_4953 Dokumentasi Penulis[/caption]

    Berbicara otak, mungkin semua jenis hewan memilikinya termasuk manusia. Lalu hal yang dilebihkan pada manusia adalah kegunaan otaknya untuk berpikir. Sedangkan hewan lainnya sebatas untuk memenuhi kebutuhan secara naluriah.

    Otak manusia terdari atas otak primitif, otak tengah, dan neocortex. Otak primitif (otak reptil) membuat manusia mampu bernafas dan jantung berdegup, serta menyuruh manusia melawan atau lari saat terancam bahaya. Adapun otak tengah (otak mamalia) adalah bagian yang mengendalikan sistem hormon, sistem kekebalan, seksualitas, dan emosi kita. Sedangkan otak neocortex (otak berpikir) memiliki semua kapasitas untuk belajar dan mengingat apa pun yang kita mau.

    Mungkin kita juga kerap mendengar orang yang mengatakan pada orang lain dengan penuh cacian sindirian, atau makian, seperti “Dasar tidak punya otak!”, “Pakai dong otaknya!”, atau “Otak simpannya di kepala bukan di lutut!”. Kata-kata tersebut membuktikan bahwa sebagai manusia kita memang memiliki otak, namun kerap tidak kita gunakan potensi otak tersebut semaksimal mungkin.

    Mengapa banyak anak belum mampu mengoptimalkan potensi otaknya yang sangat luar biasa? Ada beberapa alasan mengapa anak tidak menggunakan potensinya. Di antaranya sebagai berikut.

    Tidak memiliki kepercayaan diri

    Ketidakpercayaan diri pada anak dapat disebabkan perasaan yang dirasakan oleh anak. Bisa jadi anak merasa kekurangan baik secara fisik, ekonomi, maupun sosial sehingga anak mengalami kesulitan untuk memaksimalkan potensi otaknya.

    Malas

    Sikap malas ini kerap dipengaruhi lingkungan yang tidak kondusif. Di rumah atau di sekolah mungkin keadaannya kurang nyaman, tidak ada aktivitas yang mampu menggerakkannya sehingga anak lari ke sikap acuh dan malas. Mereka kemudian hanya bermain handphone atau game.

    Tidak mengetahui teknik belajar yang efektif

    Saat anak memiliki motivasi cukup tetapi dia tidak mengetahui teknik belajar yang efektif bagi dia, maka potensi otaknya pun kurang terasah.

    Tidak belajar sesuai dengan gaya belajarnya

    Setiap anak kerap memiliki gaya belajarnya sendiri. Ada anak yang enjoy belajar dalam kondisi tenang ada pula yang sebaliknya, misal sambil mendengarkan musik. Saat anak dengan gaya belajar tertentu dipaksa harus belajar dengan gaya belajar yang kurang sesuai, maka akan terjadi kelambanan.

    Itu beberapa hal yang dapat mempengaruhi kurang optimalnya potensi otak pada anak-anak. Kondisi tersebut dapat terjadi di lingkungan rumah maupun sekolah. Tugas orang dewasa yang ada di sekitarnya adalah mendampingi dan mengarahkan potensi otak anak tersebut biar optimal. Sebagai orang dewasa upayakan jangan terlalu memaksakan anak belajar dengan gaya atau pengalaman kita sendiri, apalagi sampai keluar caci maki. Semoga anak-anak kita mampu menemukan potensi yang ada pada otaknya. (DS-PP)

  • Aamiin… semoga saya bisa melakukannya salah satu dari pilihan-pilihan di atas.

  • Makasih Pak Rizal…. untuk semester 2 IPS SMP belum menemukan Pak…

  • Om Jay keren bisa ke mana-mana dan ada di mana mana…. Cirebon sdh ada belum Om?

  • Mau tahu hadiahnya?

    Juara 1: Kamera Canon EOS 60D (body only)
    Juara 2: Kamera Canon EOS 700D (body only)
    Juara 3: Kamera Canon Powershot SX5020 HS
    Juara harapan 1 – 3: Printer Pixma IP2770

  • Tetap semangata Pak Saleh…

  • Terima kasih Om Jay….

  • [caption id="attachment_37134" align="alignnone" width="324"]Ide Menulis Sumber: Dokumentasi Penulis[/caption]

    Saat tak ada ide menulis, kerap kita hanya berhenti dari menulis. Sebenarnya banyak hal positif yang bisa kita lakukan saat kita kehilangan ide menulis. Bisa saja kita tulis bahwa saat ini kita sedang tidak ada ide menulis, siapa tahu saat kita menulis bahwa kita sedang tidak ada ide menulis justru saat itu pula muncul ide untuk menulis apapun… mengalirlah.

    Beberapa orang mungkin saat kehilangan ide menulis dia hanya akan diam. Beberapa orang lagi mungkin menyibukkan diri dengan hal lainnya. Namun, bagi saya yang sedang ingin bisa menulis, saat kehilangan ide menulis kenapa tidak ditulis saja bahwa saya tengah kehilangan ide menulis. Maka, mulailah saya menulis. Saat kita mulai menulis itulah mungkin akan muncul ide. Nah, kemudian muncullah ide apa saja yang perlu kita lakukan saat kita sedang kehilangan ide menulis.

    Dan inilah salah satu hasilnya kala tak ada ide menulis. Setelah melalui membaca beberapa bacaan dan berdiskusi dengan teman, muncullah ide-ida apa saja yang perlu kita lakukan kala tak ada ide menulis. Berikut beberapa hal yang perlu kita lakukan saat kita kehilangan ide menulis.

    Hal pertama yang perlu kita lakukan saat kehilangan ide menulis adalah dengan memperbanyak membaca buku. Membaca buku atau referensi adalah salah satu aktivitas yang perlu bahkan wajib untuk dilakukan di saat kita kehabisan ide menulis. Dengan membaca kita dapat mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru. Membaca buku berarti kita memasukan berbagai ide atau pengetahuan dari buku yang kita baca. Setelah membaca kita keluarkan dalam bentuk tulisan-tulisan hasil serapan kita. Jadikan membaca dan menulis satu rangkaian kegiatan memasukkan dan mengeluarkan, yakni memasukan ide dalam otak kita dan mengeluarkannya dalam tulisan. Bagaimana kita dapat mengeluarkan (menulis) tanpa kita pernah memasukkan (membaca).

    Kedua, yang perlu kita lakukan saat kehilangan ide menulis adalah berdiskusi dengan orang-orang di sekitar kita atau dengan teman yang mungkin punya gagasan cemerlang. Diskusi ini juga bisa dilakukan saat kita kehilangan ide menulis, dengan harapan akan muncul ide-ide baru. Dengan berdiskusi kita bisa menemukan ide-ide yang bersumber dari teman diskusi kita. Kita bisa saja menemukan ide-ide tulisan yang bisa kita jadikan bahan untuk menulis. Seperti tulisan saya ini juga termasuk hasil dari diskusi.

    Ketiga. Saat kita kehilangan ide, kita bisa mencari fenomena-fenomena yang ada di sekitar kita. Kita bisa melihat beberapa fenomena yang paling dekat dengan profesi kita. Dari situ kita akan mampu menangkap gagasan-gagasan atau ide tulisan yang mungkin sepele kalau hanya diperhatikan, tetapi akan sangat bermanfaat saat menjadi tulisan. Fenomena itu bisa berupa hal yang rumit atau hal yang sederhana. Fenomena itu bisa saja berasal dari apa yang jelas terlihat oleh kita atau dari berbagai berita di media massa.

    Hal keempat yang perlu kita lakukan saat kehilangan ide adalah sedikit mengubah kebiasaan. Ubahlah kebiasaan kita meski sedikit, misalnya kita biasa bepergian naik mobil pribadi sesekali diganti dengan kendaraan umum. Kita terbiasa naik kereta diubah menjadi naik bis atau sebaliknya. Mengubah sedikit kebiasaan kemungkinan besar akan mampu menemukan ide-ide untuk membuat tulisan. Dari cara ini pun kita dapat menemukan berbagai fenomena baru yang bisa dijadikan sebagai bahan tulisan.

    Hal kelima mungkin sangat jarang kita pikirkan, yakni berdoa. Berdoa kepada Sang Pencipta agar kita diberi kekuatan untuk mampu menelurkan ide-ide menarik menemukan gagasan menarik dan bermanfaat. Hal ini harus kita yakini karena ide-ide itu bisa datang dari Tuhan.

    Itulah beberapa hal yang bisa kita lakukan kala kita kehilangan ide menulis. Bagaimana menurut pendapat Anda? (DS-PP).

  • Betul Pak, kita harus tetap berkreasi dan berinovasi…. tapi pemerintah jg jangan banyak janji. Buku saja belum kelar sdh bicara tablet, hehehe

  • Terima kasih Pak Tutuk… itu juga yang tengah saya upayakan…..

  • IMG_0734

    Sedikit pengalaman menanggapi beberapa komentar para siswa tentang kurikulum 2013. Mungkin bapak ibu guru lain juga punya pengalaman yang sama, namun mungkin pula dengan berbagai pandangan yang berbeda. Kebetulan sekolah kami merupakan sekolah yang sudah melaksanakan Kurikulum 2013 selama tiga semester.

    Mengawali semester genap tahun pelajaran 2014-2015, ternyata kita masih berkutat pada persoalan penggunaan Kurikulum 2013 (K-13) atau KTSP. Di depan kelas pun, siswa masih sempat mempertanyakan K-13. Sebagian dari mereka ada yang meminta ganti saja kurikulumnya, sebagian yang lain diam sulit ditebak pendapat apa yang ada dalam benaknya. Dimanakah buku siswa kurikulum 2013 semester 2 berada?

    Seperti diketahui sebelumnya, Mendikbud telah mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan pelaksanaan kurikulum 2013 bagi sekolah yang baru menyelenggarakan satu semester dan boleh melanjutkan kurikulum 2013 bagi sekolah yang sudah melaksanakan tiga semester. Di lapangan terjadi berbagai kebijakan yang berbeda dengan kebijakan menteri. Ada yang menetapkan seluruh sekolah harus menggunakan K-13. Ini pula yang kemudian memunculkan perdebatan termasuk di kalangan siswa dan guru sendiri.

    Hal ini terungkap saat saya mengawali pelajaran semester ini dengan tanpa buku siswa yang seharusnya sudah ada di tangan mereka. Permasalahan ini yang kemudian memunculkan pendapat sebagian anak-anak agar kurikulumnya diganti. Tema ini tentu di luar Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang saya buat awal semester satu lalu.

    Lalu, pembahasan pun dimulai pada pertanyaan saya kepada mereka, kenapa K-2013 harus diganti? Hampir seluruh siswa menyampaikan pendapatnya serempak. Saya pun meminta mereka untuk mengungkapkannya satu persatu, biar tertib.

    Ada yang berpendapat bahwa K-13 membingungkan. Ketika saya tanya di mana letak kebingungannya, ia menjawab tidak tahu. Pokoknya bingung saja. Hehee… itu jawaban anak yang memang mereka juga ikut bingung dengan kondisi perdebatan tentang K-13 tanpa tahu apa yang membuat mereka bingung. Pendapat ini saya tampung dulu.

    Anak lain pun menimpali dengan mengatakan bingung di pembelajarannya. Mereka berkata ada guru yang selalu menyuruh diskusi tanpa dijelaskan dulu materinya. Begitu masuk, guru langsung memberikan tugas diskusi kelompok, sedangkan kami masih belum mendengarkan penjelasannya sedikit pun. Ada juga yang berpendapat nilainya kebanyakan dan sulit dimengerti, apalagi nilai deskripsinya antara satu anak dengan anak lainnya sama saja. Bahkan ada anak yang berpendapat ekstrim, berhubung bukunya belum datang, bagaimana kalau kita libur saja, Pak? Pelak seluruh siswa tertawa dan sebagian menyatakan setuju.

    Karena bukan kapasitas saya memenuhi sebagian keinginan dan pendapat siswa, maka saya hanya menyarankan pada mereka untuk tetap fokus pada proses pembelajaran yang tengah berlangsung. Tetaplah kita pada posisi yang tengah kita lakoni saat ini. Itu sebagian nasihat atau saran saya kepada siswa.

    Selanjutnya, saya contohkan kepada mereka dengan perumpamaan pemain sepak bola. Setiap pemain mempunyai posisinya. Ada yang menjadi penyerang, ada yang menjadi pemain bertahan, ada yang menjadi penjaga gawang. Setiap pemain harus mempunyai disiplin yang kuat agar tim selalu solid. Saat kondisi tertinggal, tidak mungkin semua pemain harus menyerang atau semua pemain harus bertahan. Demikian juga saat kondisi kurikulum masih belum jelas dengan berbagai persepsi dan perlakuan, tidak serta merta semua orang menyerang, beropini, atau malah berulah berlebihan. Semua sudah ada bagian masing-masing, kita tetap melakukan kritik sambil terus memperbaiki posisi kita masing-masing.

    Penyerang boleh mengkritik pemain belakang karena lemah sehingga kebobolan, bukan berarti kemudian penyerang itu berubah jadi pemain bertahan. Pemain belakang juga bisa mengkritik atau mengkritik pemain depan, kenapa tidak juga membuahkan gol. Jadi, sebagai pelajar, siswa juga harus tetap fokus pada posisinya, boleh mengkritisi kebijakan yang ada, tetapi tetap konsen dan memperbaiki posisinya sendiri. Guru pun demikian, boleh mengkritisi kebijakan pemerintah, tetapi tetap harus terus memperbaiki posisinya sebagai guru, yakni memperbaiki kualitas diri terutama kualitas pengajarannya di kelas. Jika buku kurikulum 2013 semester 2 belum datang juga, kita perlu berkreasi mencari sumber bahan yang ada menyesuaikan dengan silabus. Tetap semangat meski dalam kebingungan. Bagaimana pendapat bapak ibu guru? (DS-PP)

  • Ya Pak, itu hanya pemikiran sederhana saja…. tp sebenarnya beruntunglah kita kalau guru sebelum kita papan tulisnya masih banyak tulisannya… semoga amal kita bertambah karena keikhlasan kita

  • Thumbnail

    Ketika tengah menghapus papan tulis di kelas, sesaat sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, tiba-tiba saya teringat masa-masa sekolah dulu. Waktu sekolah dulu, sepertinya pekerjaan ini sering saya lakukan, […]

  • IMG_0318

    Hari kedua TWC#4, penulis merasa terus termotivasi untuk selalu membuat tulisan-tulisan yang diperoleh dari kegiatan ini. Ada tiga sesi yang perlu dibuat reviewnya dari pagi sampai siang, yakni dari Ibu Margaretha, Bapak Hernowo Hasim, dan dari Kak Kusumo

    Materi diawali dengan pemaparan tentang “Manfaat Menulis Bagi Guru”. Dalam pengantar materinya, Ibu Margaretha mengatakan bahwa semua guru pasti bisa menulis, tetapi tidak semua guru bisa menulis di media. Dengan menulis kita akan mudah mengingat apa yang kita pelajari. Kalau mendengar saja kita kerap lupa. Dengan tulisan kita bisa berbagi… baik rasa maupun pemikiran.

    Kia bisa menulis melalui evaluasi diri baik berupaya kegagalan maupun keberhasilan. Kita bisa menyampaikan pengalaman-pengalaman pribadi kita selama menjadi guru, baik pengalaman yang berupa kegagalan maupun yang berupa keberhasilan. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki diri sekaligus barangkali bermanfaat bagi orang lain agar tidak terjadi kegagalan seperti yang kita alami atau agar berhasil seperti yang kita alami pula.

    Bagaimana agar kita mampu menulis, tentu kita harus mampu memperkaya diri. Kita juga perlu mengetahui hambatan menulis dan bagaimana mendobraknya.

    Salah satu hambatan yang kerap muncul dari guru-guru yang hendak menulis adalah hambatan waktu. Kita kerap disibukkan oleh tugas-tugas administrasi sekolah, banyak kegiatan sekolah maupun luar sekolah, belum termasuk pekerjaan pekerjaan di rumah. Hambatan selanjutnya adalah kepercayaan diri. Kita kerap tidak percaya diri dan merasa tulisan kita tidak bagus, tidak layak baca, dan banyak kekurangan sehingga kita malah urung untuk menulis. Kita juga merasa tulisan kita biasa-biasa saja, jangan-jangan tulisan kita tidak dibaca oleh orang lain.

    Lalu bagaimana kita mendobrak hambatan-hambatan itu? Menulislah kapan saja atau setiap waktu, jangan pernah menunda saat muncul ide, kita bisa menulis di handphone, buku harian, atau alat apapun agar ide itu tidak hilang. Menulislah terus tanpa harus takut orang lain membaca atau tidak. Biarkan orang lain yang menilai tulisan kita.

    Apa saja yang perlu ditulis oleh guru? 1. Tulis artikel, ceritakan pemikiranmu: 2. Tulis cerita, inspirasikan siswa 3. Tulis inspirasi, motivasi diri dan orang lain 4. Tulis kekayaan hati, wariskan bagi generasi mendatang: 5.  Tulis warisan, bagikan pengetahuan 6. Tulis pengetahuan, jadikan hidup kita kekal.

    Sesi kedua diisi oleh penulis buku-buku best seller, yakni Bapak Hernowo Hasim. Beliau yang menyajikan materi tentang tips-tips menulis (Writting Tips).

    Tips pertama yang disampaikan oleh Hernowo adalah deep reading, bacalah secara mendalam buku-buku best seller atau karya-karya penulis ternama, dari situ kita akan mampu menemukan gaya penulisan setiap penulis yang nantinya akan berpengaruh terhadap gaya tulisan kita juga.

    Tips yang kedua adalah Free Writting atau menulis bebas sesuai dengan gaya kita. Gunakan otak kanan kita sehingga apa yang akan kita tulis tidak terlalu lama dipikirkan sehingga beresiko hilang dari pemikiran. Kurangi copy paste dari penulis yang sudah ada. Ini juga akan mengasah alur pikiran kita. Semakin kita sering copy paste semakin lemah analisis kita. Selanjutnya kurangi berpikir negatif terhadap diri sendiri atau apapun termasuk terhadap tulisan kita atau orang lain.

    Tips ketiga adalah mengikat makna. Agar tulisan kita menggugah bagi pembacanya, maka tulisan-tulisan kita harus sarat makna. Ini lah yang perlu terus dilatih oleh para guru yang ingin melejit sebagai penulis.

    Hernowo pun menambahkan perlu mind mapping untuk memulai tulisan kita dari satu kata berkembang ke ratusan atau ribuan kata.

    Adapun materi ketiga tentang Ice Breaking yang disampaikan oleh Kak Kusumo. Ice breaking sebagai pemecah kebekuan dalam kegiatan belajar mengajar perlu dimiliki oleh guru. Asumsinya bahwa anak akan mudah belajar jika dalam suasana senang bukan suasana tegang. Inilah salah satu alasan kenapa ice breaking perlu dikuasai oleh guru. (DS-PP)

  • Daryo Susmanto changed their profile picture 7 years, 7 months ago

  • Daryo Susmanto changed their profile picture 7 years, 7 months ago

  • Daryo Susmanto changed their profile picture 7 years, 7 months ago

  • Load More

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar