• Jos gandos, mumpung mereka masih anak-anak yaaaaa, karakernya masih bisa di-tuning, mulai dari awal, yang baik-baik. Thanks tip nya Pak Subakri, Semangaaaaat!! 😀

  • Guru *tarik nafas tanpa kejang-kejang*, siip jos gandos Pak.
    saya suka sekali dengan kata kerja guru, karena sebenarnya tidak hanya satu profesi juga, ia otomatis menjadi pelajar yang akan terus menerus […]

  • Memang sangat bagus memanfaatkan komunikasi seperti ini, namun jangan salah kaprah menggunakan teknologi, terkadang saat kita asyik membagi ilmu tanpa bertatap muka langsung kita bisa lupa dengan perkembangan diri […]

  • Semoga aksi ini menjadi cikal bakal terbentuknya aksi yang lebih besar dan kontinyu, sesimple apapun gerakan kita untuk melestarikan bumi mmg harus dimulai dari lingkungan sekitar dan hal-hal kecil, salut buat […]

  • @M. Subakri: Guru digugu lan ditiru, sebenarnya sosok orang tua pun juga merupakan guru bagi anak-anak nya, semua orang kelak juga akan menjadi “guru” dengan peran mereka masing-masing. Beruntunglah kita yang […]

  • “Sekolah atau tidak, belajar adalah tugas kita” –Austin Kleon
    Menurut saya hakikat belajar tidak hanya di sekolah saja, namun di mana saja kita berada, di sanalah kita bisa belajar apapun. Seperti kata Austin Kleon di atas.

    Bersyukurlah kita, yang masih sempat diberi kesempatan untuk berbagi di guraru, semoga bermanfaat.

    Apa yang ada dipikiran Guru SD ketika menghadapi murid-murid yang memiliki beragam karakter, pada kenyataannya, selama kita hidup karakter anak mulai di bentuk mulai dari anak-anak, yang sebagian besar dipengaruhi oleh orang terdekatnya. Orang tua mereka, dan lingkungan di sekolah membuat mereka mengembangkan karakter yang ada. Dan hal ini yang masih membuat guru mengalami kebingungan saat menghadapi kontrasnya karakter antar satu anak dengan anak yang lain yang berada dalam satu kelas.

    Bagi saya, guru tak hanya mesin yang menunggu tanggal muda datang. Salah kaprah. Guru adalah agen perubahan.

    Saya adalah seorang guru yang mengajar matematika di sekolah dasar. Saya mengajar sejak tahun 2014 pada bulan Agustus, bukan hal yang mudah menjadi guru yang menginpirasi anak-anak didiknya untuk menjadi orang yang lebih baik. Apalagi anak didik ini memiliki kemampuan, minat, dan sudut pandang yang berbeda-beda. Menjadi orang yang mau bekerja dengan tekun untuk meraih cita-cita mereka, secara tidak langsung ada beban yang saya tanggung, saya termasuk dalam bagian kecil kehidupan mereka untuk menjalani sebuah proses dalam kehidupan, belajar dari buku, belajar tentang ilmu pengetahuan, dan memahami makna kehidupan.

    Ini adalah tugas yang berat.

    Apalagi itu adalah pengalaman pertama saya berinteraksi langsung dengan siswa-siswi yang katanya merupakan aset bangsa yang digadang-gadang orang tua mereka menjadi orang yang berguna. Mereka dititipkan di sekolah mulai pagi hingga sore tiba, demi menuntut ilmu. Dan yang menjadi pertanyaan selama ini dalam benak saya adalah, apakah orang yang memiliki ilmu semakin tinggi, apakah mereka akan semakin memiliki nilai kesopanan yang baik pula? saya harap ini memiliki hubungan positif.

    Sejak kecil, saat kalian masih kanak-kanak, banyak sekali orang-orang yang ada di sekeliling kita bertanya.

    “Besok gedhe mau jadi apa?” (he he he jadi seperti lagu Susan ya? Masih ingat?)

    Dokter. Guru. Pilot. Bankir. Dan banyak lagi jawaban anak-anak mengenai pertanyaan tersebut, tak jarang pula, saking bingungnya mereka menjawab, ndak tahu Bu. Belum tahu Bu, mau jadi apa.

    “Jadi orang yang berguna lah Bu!” saya dulu masih ingat, teman semasa kecil saya berkata demikian dengan lantang, dan cengengesan. Apa pentingnya cita-cita sejak dini untuk anak? Baru-baru ini, saya paham benar mengapa dulu guru-guru SD saya selalu menanamkan ketekunan sejak dini, tak hanya guru SD, namun semua guru-guru dari SD hingga perguruan tinggi. Hal yang paling saya ingat dari salah satu Guru saya: kesempatan mendapatkan guru yang baik itu mahal harganya. Untuk itu, ini juga buat instropeksi semua guru, kita harus upgrade pengetahuan yang semakin berkembang, supaya ilmu kita tidak berhenti di waktu itu saja.

    Agar kehidupan kita terarah.

    Ah, andai waktu saya kecil tahu bagaimana tidak mudahnya mereka menjadi Guru pasti saya akan membantu mereka mewujudkan impian mereka –yaitu melihat kami tumbuh dan berkembang dengan baik, dan sukses dengan pilihan hidup kita.

    Guru. Apakah waktu saya kecil, saya dan kalian kecil pernah menyebutkan kata ‘guru‘ sebagai cita-cita? Betapa mulianya seorang guru yang benar-benar memiliki panggilan jiwa untuk mengajar dan mendidik –dan saya masih belajar banyak untuk itu. Untuk menjadi orang yang bisa menginspirasi mereka menjadi lebih baik lagi.

    Membantu mereka memperjuangkan harapan-harapan lewat mendidik dan mengajar.

    Dulu saya memandang guru-guru SD saya sebagai super hero, masa yang paling indah (terima kasih Guru-guru SD, jika kalian berkenan saya mau menyebut nama mereka satu persatu, Guru SD N Mangunrejo satu di periode 1996-2003. Alm Pak Sus, Alm Pak Bambang, Bu Darti, Bu Qomarsih, Pak Basuki, Bu Narti, Bu Saudah, Pak Thofa, Pak Basit. Terima kasih atas jasa kalian yang luar biasa, dari saya yang tidak bisa membaca dan menulis, akhirnya bisa memahami itu dan bisa membaca dan menulis, dan semua berkembang dari sekarang, dasar-dasar itu bisa saya gunakan untuk belajar mata pelajaran apa saja sampai sekarang, terima kasih…)*

    Dan sekarang saya tak menyangka, sekarang saya adalah seorang guru, yang dulu, pekerjaan ini, di mata saya merupakan sosok super hero.

    Apakah saya sudah termasuk dalam golongan itu? Saya pikir, saya masih jauh dari guru-guru SD saya dulu.

    Pada kenyataannya, banyak anak-anak Sekolah Dasar di sini yang masih belum sadar akan pentingnya cita-cita. Buktinya masih banyaknya siswa yang belajar SKS (Sistem Kebut Semalem). Dan belum menyadari pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan. Apapun yang dilakukan siswa jika berhubungan dengan akademik pasti itu menjadi tanggung jawab guru. Jelas, hal ini pun tidak akan berjalan dengan baik tanpa binaan dari orang tua, orang yang pasti didengar oleh anak-anak mereka. Di sekolah diajar,di rumah didik (oleh orang tua). Meskipun tugas guru itu juga mendidik, guru juga butuh bantuan dari orang tua. Mereka termasuk satu komponen untuk mencerdaskan anak bangsa. Komponen yang harus saling berkomunikasi dengan baik.

    Ada suatu kejadian lucu selama menjadi guru di sini, dan yang tidak akan pernah saya lupakan. Inilah kehidupan.

    Apa sih sebenarnya tugas guru itu?

    Mengajar? Iya. Jelas guru adalah pengajar, jadi tugas nya adalah mengajar anak-anak secara akademis. Namun, hal ini tidak saja cukup. Selain mengajar guru, juga wajib memberikan didikan mengenai kehidupan mengenai norma-norma hidup, dan memaknai hidup dengan benar. Bagi anak-anak masih sulit untuk memahami filosofi hidup. Di dunianya, hanya ada kebahagiaan, mereka belum pernah berpikir bagaimana susahnya mencari uang demi kehidupan. Apalagi uang yang berkah, pernahkah anak SD memikirkan hal yang demikian? Ini bukan tentang case khusus kaum marginal yang untuk sekolahpun butuh perjuangan yang luar biasa, ini case secara umum.

    Untuk itu, Guru wajib mengajar dan mendidik siswanya. Mumpung mereka masih Sekolah Dasar, karakter kurang baik mereka yang bisa dikarenakan oleh lingkungan pergaulan, dan keluarga, bahkan dari sudut pandang yang kurang benar telah ditanamkan sejak dini di kepalanya yang akhirnya menjadi kebiasaan dan membentuk karakter yang kurang baik. Hal ini bisa diantisipasi mendidiknya dengan memberikan pengertian yang baik, gunakan hati untuk merangkul anak tersebut. Karena sekarang bukan jamannya lagi guru menjadi orang yang ditakuti, guru adalah teman.

    Mengenai masalah ilmu pengetahun, apakah seorang guru akan bertindak otoriter terhadap muridnya? Jika suatu hari muridnya bilang malam mencatat di kelas saat pelajaran matematika dengan alasan capek karena habis olahraga? Jujur saya tidak pernah memberi hukuman fisik. Saya lebih ingin anak itu jera, dengan ketegasan, namun yang lembut.

    Siapa yang sebenarnya membutuhkan ilmu?

    Mereka merasa capek.

    Maka ada beberapa trik agar manarik mereka untuk belajar (berdoa dulu lah, semoga pintu hati anak-anak terbuka untuk mencari ilmu yang benar-banar bermanfaat). Contohnya adalah, kebetulan, di kelas yang saya ampu sudah memiliki proyektor. Di part-part tertentu agar mereka tidak bosan, saya sering menggunakan ppt untuk menerangkan bab-bab tertentu, gunakan alternatif lain agar anak-anak lebih mudah paham, salah satunya dengan cara menggunakan kuis. Jika anak cepat mengejarkan soal yang ada, maka mereka akan mendapatkan nilai tambahan. Dengan demikian kegiatan belajar tidak monoton, dan melatih kecepatan siswa dalam mengerjakan soal eksak.

    Tentu saja kita semua membutuhkan ilmu.

    Ingat, guru juga manusia. Murid juga manusia, dan ilmu tidak hanya itu-itu saja. Sebenarnya, sebelum kita melanjutkan kisah ini, kita wajib bersyukur bisa diberi kesempatan untuk menuntut ilmu hingga bisa menjadi guru, dan mengamalkannya menjadi bibit-bibit yang berguna untuk anak didik kita.

    Oke, kembali ke fungsi guru.

    Entah kenapa saya diberi amanat khusus mengajar matematika kelas VI. Saya tertantang ikut mendidik mereka, selain mengajar. Pada dasarnya mereka sudah memahami konsep ilmu matematika. Dan yang masih agak perlu di perbaiki dari sistem yang mengelilingi kami dalam koridor sekolah ini adalah menggunakan hati untuk merangkul mereka yang masih belum paham hakikat ilmu. Kita perlu men-tuning kan ini sejak dini dengan progam yang benar, agar kelak mereka menjadi generasi yang hebat.

    Saya pernah menjumpai seorang anak didik yang di kelas pendiam, dan sesekali emosinya meledak-ledak saat kejadian tertentu, saat diajak ngobrol teman-temannya sering kali ia salah tangkap dan tersinggun, kemudian gebrak-gebrak meja, saya mendapat laporan dari teman-temannya.

    Saya heran, kenapa dengan anak ini? padahal secara akademis (untuk pelajaran bahasa inggris dan science) dia termasuk lumayan.

    Apakah saya tega menghukumnya karena dia telah menggebrak meja? Saya memanggilnya ke kantor. Dan bertanya kepadanya satu demi satu kronologi kejadiannya. Ternyata itu adalah hal sepele (untuk orang dewasa) namun bisa menjadi boomerang bagi anak-anak yang terkadang menerima informasi yang kurang benar. Si anak ini malah curhat. Karena saya tadi pagi habis dimarahin Mama, Bu. Saya bisa menyimpulkan, karena tidak hanya sekali dua kali anak ini terkadang salah terima di sekolahan ketika sedang bermain dengan teman-teman sekelasnya, di rumah ia terlanjur sering dibentak-bentak akan hal sepele yang tidak sepenuhnya merupakan kesalahannya. Namanya juga anak-anak. Dari kejadian ini. Keluarga juga memiliki peran penting. Karena sebenarnya ada beberapa anak yang memiliki masalah keluarga, dan banyak yang berpengaruh terhadap perilakunya di sekolah.

    Saya memintanya untuk mencoba berkomunikasi normal, jangan salah paham dulu sebelum temannya selesai berbicara. Di luar itu semua saya yakin, mereka akan lancar mengikuti kegiatan belajar mengajar. Jadi, alangkah baiknya jika Guru itu tidak hanya mengajar namun sekaligus mendidik, supaya di kehidupan yang akan datang, akan tercetak generasi yang bisa membuat bangsa yang bersar, dan berkah.

    Gunakan hati.

    Saya yakin semua guru pasti sudah profesional dengan bidangnya masing-masing. Sekarang yang terpenting adalah memberi pengertian yang baik untuk anak-anak yang kurang bisa, agar mereka menjadi terbiasa untuk belajar, dan lama-lama menjadi bisa. Apalagi dijaman yang seperti banyak sekali media untuk mengenalkan ilmu kepada anak, memanfaatkan internet dengan keperluan yang berguna membantu pelajaran mereka, apalagi anak-anak jaman sekarang sudah tidak asing lagi dengan smart-phone. Arahkan yang benar, itulah tugas kita, namun, saya tidak pernah membolehkan mereka membawa smart-phone ke dalam kelas. Jelas, untuk anak SD ini bisa mengganggu proses belajar mengajar.

    Guru.

    Menjadi Guru memanglah tidak mudah, ini bukanlah perkara seberapa pintar kamu, namun, ini lebih tentang ke berbagi, dan menjadi agen yang bisa merubah mereka ke arah yang lebih baik, dan menjadi pribadi yang unggul.

    Salam Literasi!

    “Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

    *tulisan ini saya bersembahkan juga untuk guru-guru SD saya dulu.

     

  • Bare Kingkin Kinamu became a registered member 6 years, 7 months ago

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar