• keren…
    Semangat guru pembelajar…:)

  • keren sekali pa pembelajarannya…bener2 guru era baru
    teruslah berkarya utk pendidikan Indonesia yang lebih baik

  • salam kenal semua..
    masa tugas saya disana sudah berakhir pa bakri:)

    aamiin..terimakasih doanya pa Tohib:)

    Semoga bu Bundari juga selalu diberi kebahagiaan:)

    nama bg Syaiha sudah tak asing buat saya, […]

  • waah yang berpartisipasi disini ternyata guru-guru yang luar biasa, salutlah pada semua guru keren ini.
    saya ikut berpartisipasi juga pengalaman mengajar di pulau […]

  • DSCN2984
    Menjalani takdir sebagai seorang guru merupakan hal yang terindah sepanjang hidup ini, apalagi menjadi seorang guru yang bisa berkunjung ke berbagai tempat, selain bisa berbagi ilmu, banyak pula pelajaran yang akan didapatkan dari masyarakat dan alamnya. Aku sangat bersyukur pernah diberi kesempatan untuk bergabung dengan Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa dan diberi amanah untuk menjadi relawan guru di kabupaten Sumbawa Barat NTB selama satu tahun.
    SDN Jorok Tiram, itulah nama sekolah yang aku tempati selama masa tugasku. Desa ini dikelilingi oleh perbukitan yang jika musim hujan akan nampak elok dengan hijaunya namun akan terlihat gersang ketika musim kemarau menyapanya. Jarak dari pantai tidak begitu jauh maka tak heran desa ini menjadi desa yang sangat panas. Akhir November 2014 menjadi awal kedatanganku ke desa ini, rasanya begitu asing karna cuaca dan budaya yang berbeda namun aku harus membiasakan hidup sendiri dengan segala perbedaan itu. Awalnya memang terasa berat, namun kehangatan dari anak-anak itu menjadi penguatnya. Setiap pagi mereka berebut menyalamiku dan saling berlomba menggandeng tanganku untuk menemaniku berjalan sampai ke ruang guru.
    “Ibu mau mangga?”. Kata seorang anak yang tiba-tiba muncul dihadapan yang kemudian disusul oleh anak-anak lainnya.
    Saat itu memang sedang musim mangga, setiap hari selalu ada saja anak yang memberikan mangga. Tentu bukan hanya karena pemberiannya aku senang, tapi aku juga bangga pada ketulusan yang mereka beri padaku selaku orang baru ditempat itu.  Usai sekolah anak-anak ini selalu ramai didepan pintu rumah dinasku, bahkan sampai mengintip-ngintip lewat jendela padahal tenaga ini saja belum terisi karena butuh waktu untuk memasak. Tapi aku salut pada kesungguhan dari anak-anak ini karna bukan tanpa alasan mereka mendatangiku, mereka ingin membaca majalah anak-anak, belajar bahasa Inggris, menggambar dan berkreatifitas sambil bermain bersamaku. Mungkin semua anak sama suka dengan menggambar seperti yang sering dilakukan anak-anak ini. Seringnya yang mereka gambar hanyalah gunung, pohon dan rumah saja seperti tidak ada hal lain yang bisa mereka gambar. Tak salah memang menggambar semua itu, tapi dari sana aku mulai berpikir mungkinkah itu terjadi karena hanya itu yang sering mereka lihat. Ketika aku suruh untuk menggambar hal lain mereka akan bilang tidak bisa dan jika aku beri contoh maka mereka akan berusaha membuat sama persis seperti contohnya. Rasanya agak sulit memang membawa anak-anak ini keluar dari desa untuk melihat dunia yang lebih luas lagi, jadi salah satu cara adalah dengan menonton video karna dengan audio visual seperti ini mereka akan dapat melihat hal lain walaupun tidak merasakannya langsung.
    Aku selalu ingat saat pertama kalinya aku memasang display kelas, anak-anak itu malah mencopotnya karena takut dimarahi oleh guru kelasnya, padahal jelaslah aku meminta ijin terlebih dahulu sebelum memajang display-display itu. Tapi lama-kelamaan setiap kelas selalu meminta untuk mendisplay dan berlomba-lomba menjadikan kelasnya lebih indah. Display yang akan berkesan adalah display yang mereka buat sendiri jadi biarlah guru hanya membantu mengarahkannya saja.
    DSCN4424
    DSCN4428
    Pernah juga ketika baru saja aku merebahkan badanku seusai sekolah anak-anak laki-laki mendatangiku.
    “Ibu ayo kita ke kebun kelapa!”. ajak anak-anak itu.
    “Kemarin Edi menunggu disana lama sekali, tapi ibu tidak datang.” timpal anak yang lainnya.
    Tadinya aku tak ingin pergi karena tubuh ini rasanya lelah sekali namun ada perasaan bersalah juga karena telah ingkar janji pada Edi dihari sebelumnya,  ternyata dia menungguku sampai sore sambil membawa kelapa yang dia ambilkan khusus untukku, tentu saja ini membuatku terkesan dan tak bisa menolak ajakan ini lagi. Jadi meskipun lelah dan panas akhirnya aku pergi. Dengan cekatan satu anak naik ke pohon kelapa dan mengambil beberapa butir kelapa sedangkan anak dibawah memungutnya setelah itu membukanya menggunakan golok. Mereka bahkan sangat ahli menggunakan golok. Padahal aku sendiri takut melihatnya.

    Tak ingin membiarkan waktu begitu saja, akupun mengajak mereka untuk bernyanyi dalam bahasa Inggris dan menyebutkan beberapa kosakata yang ada disekitar kita. Setidaknya mereka akan belajar bahasa Inggris walaupun hanya beberapa kata namun konkrit melihat bendanya, seperti coconut, cow, hourse dll. Pembelajaran seperti ternyata membuat murid-muridku menikmatinya. Sambil menikmati kelapa, mereka mengikuti apa yang kukatakan dan menunjuk setiap benda yang ku katakan.

    image

    Aku memang sering berjalan keliling kampung, karna dengan ini aku dapat bersilaturahmi dengan warga sehingga aku akan mendapatkan banyak keluarga baru. Mungkin karna itulah anak-anak ini senang mengajakku jalan-jalan. Mereka pernah mengajakku ke bukit untuk mencari buah-buahan yang bernama kelak. Akupun penasaran pada buah itu karna anak-anakpun bilang buah itu sangat enak meski agak masam. Akupun menyanggupinya untuk pergi namun aku tidak ingin ini hanya jadi kegiatan yang sia-sia, aku mengambil beberapa buku bacaan dan speaker-ku agar kita bisa bernyanyi bersama. kebanyakan anak-anak disini hanya tahu lagu-lagu sasak yang aku rasa liriknya tidak cocok untuk anak seusia mereka, makannya aku selalu mengajak mereka bernyanyi lagu-lagu anak yang dulu sering kudengar ataupun lagu-lagu nasional yang jarang mereka pelajarari. Ternyata mereka mengajakku ke bukit yang lumayan jauh dari perkampungan dan kondisi jalannyapun masih banyak dengan semak-semak. Anak-anak ini nampak bahagia saat mendapati buah yang bernama kelak itu.

    image

    Setelah berjalan jauh kita mencari tempat teduh untuk beristirahat sambil mendengarkan lagu dan berdendang mengikutinya. Tak ingin menyianyiakan waktu, anak-anak ini aku pinta untuk berpuisi dan berpantun ria. Suara riuhan dari teman-teman yang lain menjadi penyemangat saat satu persatu anak maju kedepan. Tanpa merangkainya terlebih dahulu dalam kertas, anak-anak ini berpuisi menyampaikan apapun yang ada didalam pikirannya. Kebanyakan dari mereka membuat puisi tentang alam dan perjalanan yang baru saja mereka lakukan. Sebenarnya dengan melakukannya langsung tentu akan mudah bagi kita untuk menuangkan pikiran lewat tulisan ataupun lisan, namun yang terpenting adalah dengan ini mereka akan belajar percaya diri dan berani karna kedua hal inilah yang sulit aku temui dari mereka.

    image

    Selain dengan berpuisi, untuk menumbuhkan keberanian dan percaya diri bisa juga dengan cara tampil dihadapan umum. Salah satunya dengan menari, tarian ini memang dipersiapkan untuk acara perpisahan nanti. Saat menemukan tempat yang lapang, anak-anak ini berlatih menari tarian tradisional sunda. Menari dialam bebas membuat jiwa mereka bebas pula. Semilir angin yang berhembus senada dengan lantunan lagunya. Merekapun terbawa oleh suasana yang nyaman. Sehingga senyum tak lepas dari wajahnya

    image
    Yang paling menghawatirkan itu kebanyakan dari mereka pemahamannya tidak begitu kuat, tidak sedikit yang masih kesulitan ketika membuat kalimat ataupun ketika mengisi jawaban esai, mereka terbiasa diberikan soal pilihan ganda yang hanya menuntut untuk memilih jawabannya saja. Penyebabnya selain tidak terbiasa dengan soal esai juga karena mereka jarang membaca. Padahalnak-anak itu sangat suka membaca apalagi buku cerita menggambar, maka disela-sela bermain dimanapun tempatnya ajaklah mereka untuk membaca. Dengan membaca tentu pemahaman mereka akan luas.
    image

    Pada dasarnya dunia anak memang dunia bermain, sebagai seorang guru jika hanya fokus pada penyampaikan materi saja tentu presentasi untuk sampai pada siswa itu akan kecil sekali, jadi hal pertama yang harus dilakukan guru adalah masuk pada dunia anak itu sehingga mereka nyaman dengan keberadaan kita. Dengan perasaannya nyaman itu akan mudah sekali mengendalikan mereka untuk belajar, tentu bukan hanya belajar yang berkaitan dengan kognitifnya saja, tapi juga yang berkaitan dengan afektif dan psikomotoriknya juga. Banyak orangtua yang tidak mempedulikan anaknya yang pintar dalam berolahraga ataupun berkreasi. Mereka menganggap hal itu tidak akan berguna untuk masa depan anak mereka dan hal inilah yang menyebabkan anak-anak tidak percaya diri pada bakatnya. Kasihan rasanya melihat mereka hanya mampu dengan bangganya menunjukan hasil kreatifitasnya padaku. Ada yang bisa membuat bros, membuat mobil-mobilan dari barang bekas, memasak menggunakan bahan-bahan yang ada dikebunnya atau bahkan merangkai bunga dari rumput liar yang bagiku itu adalah hal-hal yang luar biasa. Meskipun jauh dari kota besar, anak-anak ini belajar dari alam yang mereka punya, setidaknya diusia kanak-akanak mereka sudah tahu bagaimana memanfaatkan hasil alam yang ada didekat mereka untuk memenuhi kehidupan karena alam memberikan banyak hal untuk manusia, memberikan inspirasi dan kehidupan. Inspirasi untuk untuk meningkatkan kreativitas dan kehidupan untuk bertahan di bumi-Nya.

    Bangga rasanya bisa menjadi guru di tanah rantau, Merasakan antusias yang besar dari anak-anaknya untuk belajar walau hanya memberi sedikit namun disambut dengan semangat yang luar biasa besar oleh mereka, sepanjang hidupku inilah yang membuatku merasa sangat berguna. Setiap jalan hidup yang Allah takdirkan pada kita memang tidak ada yang sia-sia, yang harus kita lakukan adalah bersyukur karena takdir Allah itu benar.

    Pengalaman menyenangkan dari menjadi seorang guru

    “Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

  • Ani changed their profile picture 6 years, 7 months ago

  • image

    Pengalaman belajar dan mengajar di luar kelas

    Belajar  terbebas dari dinding-dinding yang seolah memenjarakan dan membatasi ruang gerak kita rasanya lebih menyenangkan, apalagi bisa berlari dan saling berkejaran membuat kita mampu tersenyum ceria. Seperti anak kelas 5 SDN Jorok Tiram yang masuk dalam kawasan Sumbawa Barat NTB, sekolah penempatanku dari program Sekolah Guru Indonesia (SGI) satu tahun yang lalu. .

    Saat itu kami sedang mempelajari proses pembentukan tanah yang masuk dalam mata pelajaran IPA. Tujuan dari pembelajaran ini adalah siswa mampu memahami dari mana tanah itu berasal dan bagaimana proses pembentukannya. Pembelajaran ini diawali dengan pengenalan jenis-jenis batuan. Aku pikir jika hanya mempelajari batuan diruang kelas yang hanya berfokus pada buku tentu akan membosankan sekali, padahal batuan sendiri banyak kita temui disekitar kita. Oleh karena itu aku mencoba mengajak anak-anak untuk keluar kelas dan mencari berbagai jenis batuan. Ajakanku tentu direspon dengan sangat positif karna mereka sendiripun sebenarnya sangat suka belajar diluar kelas. Agar lebih kondusif aku membagi anak-anak dalam beberapa kelompok dan menentukan siapa ketuanya karna nantinya mereka akan keluar bersama dan ketualah yang akan bertanggungjawab pada anggota kelompoknya, aku juga memberi batasan tempat pencariaan agar anak-anak tidak terlalu jauh mencari batuan, aku takut mereka lupa diri sehingga keluar desa atau naik ke bukit berhubung ditempat ini dikelilingi oleh bukit-bukitan. Hal yang paling penting lagi adalah memberikan batasan waktu agar tidak terlalu lama dalam proses mencarinya.
    Berbekal buku tentang batuan dan alat tulis lainnya, merekapun berlari keluar kelas mengambil setiap batu yang mereka temui. Setiap kelompok saling bekerjasama mengambil dan menyimpan batuan yang mereka temui, setiap anak yang menemukan batuan yang menurut mereka aneh akan berteriak pada rekannya yang lain sehingga ramailah kelompok itu, aku tersenyum memperhatikan tingkah mereka.

    Setelah waktu pencarian habis, kini saatnya tugas mereka untuk kembali ke sekolah. Aku mengajak mereka untuk berkumpul dilapangan sekolah berdasarkan kelompoknya. Setiap kelompok mengeluarkan semua batuan yang mereka dapat dan mengidentifikasi jenis dari masing-masing batuan tersebut lalu menuliskannya dalam buku.
    image

    image

    Banyak sekali jenis batu yang mereka temui. Batu-batu itu mempunyai warna yang unik yang mungkin baru mereka sadari, padahal setiap hari mereka menemuinya namun tak mereka hiraukan. Setiap kelompok sangatlah heboh menunjukan pada kelompok lainnya bahwa kelompok mereka mempunyai batuan yang berbeda apalagi jika batuan itu sudah beraneka warna dan ada namanya didalam buku yang mereka punya, sehingga memacu kelompok lainnya untuk menyocokan batuan yang mereka punya dengan buku yang mereka pegang agar merekapun tahu batu apa yang mereka punya.
    image

    image

    Setelah mengidentifikasi jenis batunya, mereka membakar batuan itu untuk mengetahui batuan mana yang cepat hancur dan paling keras. Materi ini memang mengarahkan mereka untuk mempelajari pembentukan tanah. Setelah batuan itu hancur, mereka memasukannya dalam botol dan mencampurnya dengan air, setelah botol itu dikocok-kocok mereka mendiamkannya beberapa saat dan memperhatikan ada sesuatu yang mengendap didasar botol itu, setelah itu barulah mereka mulai sadar bahwa tanah itu terbentuk dari batuan. Dengan learning by doing seperti ini nyatanya membuat siswa paham dengan materi yang diajarkan sehingga tujuan pembelajaranpun bisa tercapai.
    image

    image

    Sungguh belajar seperti ini membuat anak-anak lupa waktu, tiga jam pelajaran berlalu dengan cepat, aku menyuruh mereka untuk istirahat saja tak mereka hiraukan, mereka masih penasaran membakar dan meneliti semua batuan yang mereka punya.  Malahan mereka menginginkan belajar seperti ini lagi. Anak-anak kelas lain iri melihat cara belajar kelas 5 sehingga mereka meminta untuk belajar dengan cara seperti ini jika aku masuk ke kelasnya. Nyatanya membuat siswa nyaman dalam belajar memudahkan mereka untuk menerima materi pelajaran dan gurupun tidak perlu berteriak-teriak menjelaskan materi, guru bisa memberikan penjelasan disela-sela prakteknya dan pembelajaran seperti inipun memancing siswa untuk bertanya pada guru.

    Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

  • Ani became a registered member 6 years, 7 months ago

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar