• #BantuGuraruCariSlogan

    Guraru
    Berbagi, Berkarya, Berilmu

  • Saran ya Pak, Lebih baik jika disertai dengan videonya Pak …
    Selamat pagi semuanya ..

  • Banyak banget ya yang nunggu pengumuman 🙂
    (Termasuk yang nulis kale 😀 )
    Siapapun yang menang mudah2n tetap Istiqomah untuk menulis dan berbagi pengalamannya
    Semangat bapak dan ibu guraruers 🙂

  • @ Pak Umar Tholib dan Pak M. Subakri … Jadi malu nih, di vote up sama petinggi-petinggi di sini (blush mode on.. 🙂 )

    Masih mencoba belajar terus Pak , terutama pada guru-guru senior seperti bapak.

  • @ Pak rolas dan Pak Oloan, makasih Pak atas spiritnya. Salam Sukses untuk Anda dan seluruh guru di Indonesia.

  • ICT memang penting, Pak. Hampir semua pelajaran TIK berguna bagi siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Tetap semangat ! Saya vote up untuk persahabatan 🙂

  • alhamdulillah … banyak membaca tulisan-tulisan kreatif bapak dan ibu guru membuat saya ingin ikut juga dalam kompetisi ini.

    Tuk admin, ini linknya :

    1. […]

  • Selamat pagi bapak dan ibu guru guraruers. Apa kabar ? Semoga semua guru di Indonesia selalu dalam keadaan baik, sehat dan selalu dalam lindunganNya.
    Berapa banyak dari bapak ibu yang ada disini yang dulunya […]

  • Mudah-mudahan bermanfaat

    Daftar Nilai k13 amel

    Instrumen Penilaian Sikap K13 AMEL

     

    Salam,

    Amalia

    Guru MAN 1 Palembang

  • RPP fisika kelas XII IPA

    kurikulum 2006 alias KTSP sih, tapi mudah-mudahan bisa menginsiprasi dalam mengajar di kurikulum 2013

    RPP KTSP fisika kelas 3 semester 1

    RPP KTSP fisika kelas 3 semester […]

  • Setelah mempelajari k13, saya coba untuk membuat sendiri RPPnya.

    Buat rekan-rekan guru yang mungkin membutuhkan RPP fisika kelas X k13, silahkan mengunduh dengan cara klik pada tulisan […]

  • amalia changed their profile picture 7 years, 11 months ago

  • amalia changed their profile picture 7 years, 11 months ago

  • Oleh : Amalia, M. P. Fis
    (Essay ini pernah memenangkan Lomba Karya Tulis “Menggagas Indonesia Kedepan” di ITB, 29 April 2009)

    Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa merasakan mengenyam pendidikan pasca sarjana di salah satu universitas terbaik di negeri ini. Saya, yang hanya seorang guru sebuah Madrasah Aliyah yang terletak di pinggiran kota palembang dan dibesarkan juga di pinggiran kota Palembang dapat kuliah di Institut Teknologi Bandung yang bahkan termasuk dalam 300 perguruan tinggi terbaik di dunia. Sungguh suatu kenyataan manis yang sangat saya syukuri.
    Banyak hal yang saya rasakan berbeda ketika saya kuliah S.1 dahulu dengan kuliah S.2 sekarang. Hal yang paling mencolok adalah dipergunakannya buku teks yang hampir kesemuanya berbahasa Inggris. Hampir semua teman mengeluh jika berhadapan dengan bahasa Inggris, tetapi saya tidak merasa ada sesuatu yang perlu dikeluhkan. Hal tersebut bukan karena saya sangat mahir berbahasa Inggris, sama sekali tidak, tetapi karena saya sangat menyukai bahasa Inggris.
    Kalau saya mengenang masa-masa dimana saya memulai kesukaan terhadap bahasa Inggris, saya merasa sedikit norak, sedikit aneh, dan sedikit sentimentil. Salah satu hal yang membuat saya menyukai Bahasa Inggris adalah bahwa saya merasa sedikit ‘keren’ ketika dapat menyanyikan lagu berbahasa Inggris. Kecintaan saya pada bahasa Inggris bermula dari ‘kompetisi tersembunyi’ antara saya dan tiga teman dekat saya waktu SMP. Mereka senang menyanyikan lagu berbahasa Inggris, lagu-lagu barat, yang lagi ngetren pada saat itu. Dua orang menyukai musik pop sedangkan satu orang lebih menyukai lagu-lagu yang berirama rock dan metal. Tetapi benang merah dari kesukaan mereka adalah bahwa lagu yang mereka gemari adalah lagu barat yang biasa mereka tonton dari parabolanya masing-masing. Waktu itu saya tidak terlalu mengerti apa yang mereka nyanyikan karena jenis lagu yang saya tahu hanya dangdut yang memang disukai oleh ayah dan ibu saya.
    Setiap hari kami berjalan pulang pergi disepanjang jalan berdebu yang tidak kunjung diaspal. Kami berjalan kurang lebih 4 km ke SMP kami. Di sepanjang perjalanan ketiga teman saya tersebut sering membicarakan tentang hal-hal yang berhubungan dengan musik barat, mulai dari grup band dan personilnya yang memang sebagian besarnya ganteng-ganteng sampai menyanyikan lagu barat yang sedang ngetren pada saat itu. Walaupun kadang-kadang ketiga teman saya itu saling berdebat mengenai jenis musik yang mereka sukai, tetapi tetap saja tawa menyelingi pembicaraan mereka dan akhirnya dengan riang mereka menyanyikan lagu barat.
    Saya sendiri tidak begitu menikmati pembicaraan tersebut. Sesekali saya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan mereka ketika menanyakan mengapa saya sering diam saja. Apa yang perlu dikatakan kalau saya sendiri tidak bisa berkata-kata dalam bahasa tersebut ? Membaca saja aku sulit.
    Tawa mereka meledak ketika saya ditanyai penyanyi idola dan saya katakan bahwa saya mengidolakan raja dangdut yang paling tenar saat itu, mungkin hingga kini.
    Sebagai anak pinggiran yang tinggal dekat lebak dan rawa, saya sama sekali sangat asing dengan lagu-lagu barat. Apalagi waktu itu, tahun 1990-an, siaran televisi swasta baru saja masuk ke Palembang dengan kekuatan sinyal yang berada di garis antara ada dan tiada.
    Perlu diketahui bahwa pada saat itu bahasa Inggris baru dipelajari saat duduk di bangku SMP, tidak seperti anak sekarang yang bahkan di play group sudah diperkenalkan dengan bahasa Inggris. Tapi dari situlah saya menyatakan tekad. Walaupun saya tidak punya buku paket Bahasa Inggris ataupun kasetnya Air Supply, sedapat mungkin saya berusaha agar bisa menyanyikan lagu barat. Tapi bagaimana caranya ? Orangtua saya hanyalah Pegawai Negeri (PNS) yang memulai kerjanya dari golongan II dan mempunyai lima anak yang kesemuanya harus sekolah. Saya juga bukan tipe anak yang pandai cari uang sendiri. Oleh karena itu saya harus mencari cara agar bisa menyanyi lagu barat. Saya tidak boleh kalah dengan ketiga teman saya yang mempunyai parabola tersebut.
    Langkah pertama yang saya lakukan adalah saya harus punya radio kecil. Belum ada yang namanya MP3 atau HP pada saat itu. Maka radio kecilpun sudah cukup untuk bisa menunjang saya untuk belajar menyanyi lagu bahasa Inggris. Tapi tidak mungkin saya minta pada orangtua saya. Mereka sudah cukup kerepotan untuk membagi dana yang ada untuk tujuh orang dalam keluarga.
    Oleh karena itu saya berusaha mencari informasi tentang kuis yang sering diadakan sebuah radio swasta dimana hadiahnya adalah sebuah radio saku. Dari teman, saya tahu bahwa kuis tersebut diadakan tiap hari jam 10.30 pagi. Pertanyaannya hanya menebak suara apa yang sedang diputar. Dari informasi tersebut saya menyusun strategi. Karena tiap hari saya sekolah, otomatis hari yang bisa digunakan untuk menjawab kuis tersebut hanya hari minggu. Tentang tebakan suaranya, tentu saya juga harus banyak latihan. Oleh karena itu saya sering mengajak adik saya untuk bermain tebak suara.
    Akhirnya tepat jam 10 pagi minggu itu, dengan bekal uang logam 100 rupiah saya berjalan menuju telepon umum yang terdekat dari rumah saya. Begitu jam menunjukkan pukul 10.30 saya langsung mengambil gagang telepon umum itu dan memutar nomor telepon radio tersebut. Agak sedikit deg-degan karena sebelumnya saya sama sekali tidak pernah memegang telepon. Telepon adalah barang mewah yang langka ditemui di tempat tinggal kami di pinggiran kota palembang.
    Dari seberang sana saya mendengar penyiar radio menyapa saya, saya sebutkan saja nama saya. Beberapa detik kemudian ia mulai memperdengarkan sebuah suara. Tidak salah lagi, itu suara air yang mengalir. Saya tahu betul suara itu karena di dekat rumah saya  ada sungai dan lebak yang airnya sering pasang dan surut. Ketika air pasang, maka air tersebut akan mengalir dan seperti itulah suaranya, persis dengan suara yang sedang saya dengar sekarang dan…
    Saya berteriak kencang ketika penyiar radio tersebut menyatakan kalau jawaban saya benar. Saya senang sekali, dengan bekal koin 100 rupiah saya mendapatkan radio saku. Seminggu kemudian, dengan diantar oleh ayah, saya mengambil hadiah saya tersebut. Satu langkah telah terlewati.
    Dengan radio tersebut, saya sering mendengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris. Tetapi tetap saja saya tidak bisa mencatat lirik lagu-lagu tersebut. Terlalu cepat dan tidak bisa diikuti oleh saya, yang hanya anak SMP waktu itu. Saya harus mencari orang yang dapat mencatatkan lagu-lagu tersebut, tapi tentu saja syaratnya harus GRATIS.
    Malam selasa itu saya merasa sangat bosan dengan PR yang menumpuk. Sebenarnya PR itu dikumpul 2 hari lagi, namun buku paket yang saya pinjam dari seorang teman harus segera dikembalikan besok, lengkap dengan jawaban yang sudah saya kerjakan. Membeli buku paket juga merupakan hal mewah yang jarang terjadi ketika saya masih bersekolah dulu. Teman saya itu sebenarnya tidak meminta bukunya dikembalikan dengan tambahan embel-embel jawaban, tapi saya cukup tahu cara untuk belajar dengan ekonomis, meminjam buku dengan ‘ramah’, yaitu suplemennya berupa jawaban saya walaupun kadang-kadang banyak juga salahnya.
    Ketika saya merasa otak saya sudah mendidih dan fikiran sudah menguap ke mana-mana, maka saya menyetel radio saku tersebut sekedar untuk cooling down. Radio dengan ukuran 20 x 10 x 2 cm itu saya putar untuk menyusuri stasiun-stasiun radio FM. Putaran itu terhenti ketika saya mendengar si pembawa acara radio menyebutkan lambat-lambat sebuah kalimat berbahasa Inggris. Saya dengarkan lagi kalimat berikutnya. Sepertinya saya kenal dengan kalimat-kalimat itu. Saya memekik. Tak salah lagi, itu adalah ‘Good Bye’nya Air Supply. Aduh…. ini sudah bait keberapa ? Segera saja buku PR yang sedang saya pegang dibalik sampai ke halaman terkahir. Di halaman tersebut saya menulis kalimat-kalimat yang disebutkan oleh pembawa acara tersebut. Setelah sampai pada kalimat terakhir, tiap baitnya, diputarlah lagu tersebut sehingga pendengar dapat menyanyikan bait yang baru saja ditulisnya. Ternyata sudah sampai reffrainnya, tapi lumayanlah. Besok pagi ketika berangkat sekolah saya bisa ikut menyanyi bersama ketiga teman saya yang mempunyai parabola itu. Duh …… senangnya. Nyanyi lagu barat ? Pasti keren ! Semalaman saya tidak bisa tidur nyenyak membayangkan kerennya diri saya besok ketika menyanyikan lagu barat.
    Dan besoknya……… Untuk pertama kalinya saya bisa ikut menyanyikan lagu berbahasa Inggris miliknya Air Supply dengan mereka, ketiga sahabat saya itu. Hati saya haru campur senang. Akhirnya……. saya bisa juga menyanyi lagu barat.
    Ketiga teman saya itu hanya terlongo dengan pandangan nanar ketika melihat saya menyanyi bagai kaset yang terus direwind. Pandangan mereka tambah aneh ketika sadar bahwa lagu tersebut hanya sebatas reffrain.
    Mulai saat itu saya bisa menyanyikan lagu-lagu barat. Saya jadi rajin menyetel radio. Senin malam adalah malam yang spesial buat saya. Setelah beberapa minggu dari situ saya baru tahu kalau program itu disebut ‘Lirik dan Lagu’. Disitu si pembawa acara membacakan baris demi baris suatu lirik lagu berbahasa Inggris dan asyiknya ia akan mengejakan huruf per huruf untuk unfamiliar words. Yang perlu aku pahami hanya bagaimana ejaan untuk tiap huruf bahasa Inggris tersebut. Ya modalku hanya sebatang pensil, secarik kertas dan abcd (baca : ei bi si di).
    Kalau mengingat perjuangan saya dulu dalam belajar menyanyikan lagu berbahasa Inggris, saya sering tersenyum-senyum sendiri. Bagaimana bisa hanya dengan menyanyikan sebuah lagu, saya merasa sedemikan berarti di dalam pergaulan?. Tapi itulah dunia remaja. Lagu merupakan ekspresi diri dan simbol pergaulan. Sayangnya, lagu-lagu yang diperdengarkan sekarang ini sangat jauh dari unsur edukasi. Sebagian besar lirik lagunya bertemakan kekasih gelap, mendua, atau selingkuh. Saya sering berpikir, bagaimana Indonesia akan maju jika anak balita sekarang nyanyiannya adalah “Kamu ketahuan…pacaran lagi….
    Sekarang saya merasakan betul manfaat dari perjuangan belajar bahasa Inggris tersebut dan kesemuanya berawal dari kompetisi dengan teman sebaya. Sungguh tidak satupun ilmu yang kita pelajari menjadi sia-sia. Saya dulu sempat berfikir, mengapa saya suka bahasa Inggris tapi saya justru mengambil program studi fisika ketika kuliah S.1. Apa manfaatnya belajar bahasa Inggris jika tidak secuil grammarpun yang dipakai dalam menjawab soal-soal fisika. Ternyata jawabannya saya dapat sekarang. Buku teks bahasa Inggris yang banyak saya gunakan sekarang bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, tapi justru bisa dinikmati. Dengan membaca banyak buku berbahasa Inggris, sedikit banyak saya menjadi faham akan fenomena-fenomena fisika. Dan jauh dibalik itu, bahwa fisika bukan cuma sekedar soal hitung-hitungan dan rumus yang banyak, tetapi juga fenomena fisika bisa membangun peradaban dan teknologi sekarang ini.
    Saya menjadi sangat memahami bahwa pendidikan yang dapat memotivasi, tidak harus mahal, tetapi mungkin harus menjadi sebuah tantangan besar bagi guru untuk dapat menciptakan kondisi dan kompetisi kondusif pada siswa-siswanya.
    Saya juga sangat menginginkan agar kondisi saya sekarang juga dapat dinikmati oleh tunas-tunas bangsa yang lain. Seiring dengan anggaran pendidikan yang terus naik, saya berharap agar bahasa Inggris diajarkan tidak hanya sekedar grammar, vocabulary, pronunciation tapi juga ada sesuatu yang bisa membuat siswa fun and fine dalam belajar, misalnya saja dengan bernyanyi atau justru membuat lagu berbahasa Inggris. Mungkin tidak ada salahnya jika masing-masing siswa memiliki MP3 dan berkreativitas sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Saya juga sangat berharap agar rasa fun dalam belajar tidak hanya pada pelajaran bahasa inggris tapi juga pada semua mata pelajaran lainnya, sehingga ‘Indonesia bangkit di masa depan’ tidak hanya menjadi sekedar simbol, tapi  terbukti kebenarannya.
    Ditulis oleh : Amalia, M.Pfis

    Penulis adalah Guru Fisika di MAN 1 Palembang

    Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

  • amalia became a registered member 8 years ago

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar