• Assalamu ‘alaikum
    saya daftar ya
    Nama: Aida Al Fath
    Judul: Pengalaman Asyiknya Menjadi Guru Era Baru
    Link: http://guraru.org/guru-berbagi/pengalaman-asyiknya-menjadi-guru-era-baru/
    Domisili : Makassar
    Makasi […]

  • Assalamu alaikum, Teachers.
    Bagiku, tak ada pengalaman yang paling indah selain menjadi seorang guru. Tak ada jasa dan profesi yang paling mulia selain guru. Sebelumnya, tak pernah sedikit pun terpikirkan oleh saya tentang sebuah cita-cita jika sudah lulus dari pendidikan tinggi. Tapi saat itu saya disadarkan oleh perkataan seorang teman sebangku di Madrasah Tsanawiyah perihal untuk apa sekolah kalo toh tak punya tujuan pasti. Setidaknya seorang pelajar muda seperti saya ini sudah pandai memilih satu impian atau cita-cita demi membangggakan kedua orang tua. Hanya sekadar menuntut ilmu ingin tahu banyak hal dalam bersekolah itu memang tidak ada salahnya. Tetapi perjalanan masih panjang jauh kedepan, masih banyak peristiwa dan pengalaman yang harus dihadapi agar ilmu pengetahuan saya semakin bermanfaat bagi orang lain. Tantangan dan rintangan yang bakal dilewati juga tak kalah hebatnya akan mengguncang jiwa muda saya. Maka dari itu saya berbekal mental yang kuat. Cerdas mencari solusi dalam permasalahan yang ada. Serta kreatif menghasilkan karya nyata yang menginspirasi banyak orangk.
    Yup, seketika itu saya langsung tersadar dan termotivasi untuk terus belajar dan merancang impian masa depan. Tentunya saya harus mengambil keputusan pasti ingin berperan sebagai apa nanti setelah menyelesaikan satu persatu tingkat pendidikan. Tanpa berbasa-basi, saya memantapkan hati akan menjadi seorang GURU. Mengenai guru apa? Hal itu akan saya sesuaikan dengan potensi dan peluang yang saya miliki.
    Asyiknya menjadi guru sebenarnya tergantung bagaimana cara saya mensyukuri dan menjalani tanggungjawab ini dengan baik. Jauh lebih penting dan utama adalah bertanya pada diri sendiri. Apakah saya suka sama anak-anak, remaja atau mahasiswa? Tingkat kesulitan mana yang lebih mendominasi ketika menghadapi usia tiga karakter tersebut? Jika saya merasa lebih senang dan mudah bersosialisasi dengan anak-anak saja, maka saya harus mengoptimalkan diri untuk lebih mencintai mereka seperti anak sendiri atau keponakan sendiri. Begitu pula dengan anak remaja dan mahasiswa. Harusnya mereka dirangkul dengan kasih sayang dan memberikan perhatian penuh tanpa membandingkan satu sama lain secara materi dan akademik.
    Tidak gampang menjadi seorang guru yang mampu diteladani anak didik dan masyarakat sekitarnya. Guru tak ubahnya seperti seorang ustadz, da’i, atau orang tua yang manakala sedikit saja kedapatan salah langkah, salah ucap, salah ekspresi, pun demikian akan langsung dicemooh orang lain. Bahkan tanpa kita sadari, anak-anak adalah mesin perekam yang paling handal jika mau dibandingkan dengan alat canggih seperti kamera cctv dan sejenisnya.
    Ucapan dan pola tingkah anak selalu tergantung dari apa yang mereka lihat, dengar, dan alami secara langsung. Mereka memang terlihat diam, santai, dan hampir tidak bisa ditebak, namun pada kenyataannya memori otak mereka langsung merespon seutuhnya tanpa menyaring mana yang baik dan buruk.
    Peran seorang guru sangat berat dan selalu akan dituntut pertanggungjawaban. Sepandai-pandai guru menasehati, pun anak akan jauh lebih lincah mengambil keputusan sendiri. Seorang anak tak akan pernah berhenti untuk mencari tahu apa yang belum diketahuinya, mereka belajar dan mempraktekkan karena rasa penasaran yang sangat tinggi yang semakin membuncah. Bila anak mengalami kesalahan dan kekeliruan, toh yang kena guru dan orang tuanya juga. So, tidak ada yang bisa disalahkan secara sepihak, anak-anak, guru, orang tua, dan lingkungan masyarakat memang dituntut untuk selalu berpangku tangan, membentuk formasi melingkar yang tak boleh terputus sampai kapanpun.
    Aidha 16
    Saya sudah pernah mengalami menjadi seorang guru di salah satu sekolah  TK dan SD di kota Makassar. Kesukaan saya berbaur sama anak-anak adalah hal yang paling memotivasi saya untuk percaya diri berbagi ilmu dan cerita kehidupan. Dunia anak-anak adalah dunia bermain, Anda pasti sepakat dengan saya. Maka ketika saya mengajar, saya terus berputar otak, melupakan masalah keluarga sejenak, bersiap-siap mendengar celoteh mereka satu per satu, ada yang merengek menangis, berantem, dan overaktif. Rasanya keseharian saya semakin rame dengan suara tangisan anak perempuan, teriakan anak laki-laki yang berebut pensil, penghapus, dan bertanya hal-hal yang tak terduga. Sungguh anak-anak itu sangat polos. Otak saya terkesan bleng berkat pertanyaan seorang anak yang sulit dijawab oleh orang dewasa mana pun. Apatah lagi jika pertanyaan itu sangat berurusan dengan kehidupan suami istri, tentang pria maupun wanita dewasa. Hidupku semakin berwarna dengan canda tawa mereka, ringan tanpa beban, dan mengalir apa adanya. Melihat mereka membuat rasa lelahku tak begitu berasa. Sepintas saya berpikir, melihat mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Mereka adalah generasi yang akan menggantikan posisi dan peranan orang tuanya suatu hari nanti. Menjadi pemimpin masa depan, menyongsong perubahan yang lebih baik, masa depan negeri ini dan keluarga tercinta ada dalam genggaman mereka. Saya hanya sebagai guru biasa yang berfungsi sebagai fasilitator pendidikan yang tak luput dari khilaf dan salah. Namun, amanah ini tidak boleh disia-siakan begitu saja. Saya tidak boleh ngajar asal-asal yang tidak peduli dengan kebutuhan mereka.
    Terkadang daya imaji saya terpancing oleh pola tingkah anak-anak, gaya bahasa yang sangat lucu, dan mimik muka yang bikin gemes. Dari mereka bermunculan ide-ide cemerlang dibenak saya untuk membuat satu jenis alat peraga yang sederhana. Anak-anak tidak bisa disuapi ilmu pengetahuan dengan metode ceramah secara terus menerus. Anak-anak lebih cenderung memfungsikan panca inderanya untuk mencerna hal-hal disekitarnya. Dibutuhkan alat dan perlengkapan peraga sebagai media pembelajaran untuk anak. Warna, gambar, dan bentuk juga suara adalah satu perangkat yang tidak bisa dipisahkan. Akan ada sistem audio, visual, dan motorik yang siap menentukan tumbuh kembang anak-anak. Mereka akan terus belajar, berlatih, dan terus mencoba hal-hal yang baru.
    Asyiknya menjadi pengajar dan pendidik merupakan kebahagiaan tersendiri ketika saya melihat mereka beranjak remaja, dewasa, dan berkeluarga. Tapi adakah diantara mereka yang masih mengingat dan mengenang guru TK/SD nya susah payah mengajarkan mereka membaca dan menulis? Mendampingi mereka mengekspresikan diri lewat gambar dan warna? Mengasah ilmu hitung dan pengetahuan alam mereka? Mendidik hati mereka agar menjadi pribadi unggul dalam beragama? Kini mereka sudah menjadi seorang pakar kesehatan, ahli gizi, seniman, pengusaha, dan sebagainya. Mereka sukses dijalannya masing-masing membuat saya jauh lebih bersyukur, bangga, dan terharu walau wajahku tak lagi dikenalnya saat berpapasan.
    Ah, menjadi guru era baru itu memang tiada duanya sangat berkesan dihati.  [AAF]
    Makassar, 18 Mei 2015
    “Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10
    01

  • Aida Al Fath became a registered member 6 years, 7 months ago

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar