• silahkan baca…..

  • Rencananaku Bukan Rencanamu
    (Refleksi perjalanan dari guru menjadi dosen)

    Guru buatku adalah seorang yang mulia dimana dia mendedikasikan seluruh hidupnya demi kepintaran dan kemajuan siswa yang perkembangan siswanya, bahkan ketika siswanya sukses dalam kehidupannya dia akan merasa bangga tetapi jika gagal dia merasa bersalah dan gagal dan menyesalinya walaupun belum tentu ketidak suksesan siswa belum tentu berasal dari dia. Buatku juga guru adalah seorang yang pintar baik dalam pengetahuan maupun dalam membaca situasi, mengapa demikian? Karena guru akan dituntut untuk belajar (baik belajar di sekolah untuk meningkatkan kemampuannya, missal dengan mengikuti sekolah S2, S3 atau akta 4, dan belajar dari pengalaman sehari-hari), mengembangkan dirinya dan bahan ajarnya dengan banyak membaca, dan mengikuti pelatihan. Selain itu guru dituntut untuk peka dan dapat mengembangkan siswanya dalam kehidupannya kelak dengan membekali siswanya dengan ketrampilan dan pengetahuan yang tepat dengan melihat peluang apa yang terdapat dimasa depan.
    Menjadi guru?? Enggak ah….males….ribet…gak enak….Itulah pradigmaku sewaktu masih menjadi siswa dan mahasiswa. Kalau ditanya cita-citaku, aku akan menjawab akan menjadi periset yang unggul, bukan seorang guru. Bukannya aku males disuruh belajar atau apa, cuma kalau jadi guru kan harus mengajar, omong di depan kelas, disoraki siswa kalau ga bisa, atau jadi bullying siswa kalau siswanya ga mood dengan gurunya, jadi karena aku orangnya pemalu dan cenderung tertutup, jadi guru dan teman-temannya adalah profesi yang aku wajib hindari. Kata wajib dalam benaku aku tulis pake tinta merah dan digaris bawahi. Artinya kalau bisa jangan sampai kalau kepepet (seperti teman-teman sekarang guru dan dosen adalah profesi pelarian disaat ga ada pekerjaan yang tepat sesuai bidang ilmunya atau dorongan dari orang tua padahal sebenarnya tidak mempunyai kemampuan,he..he…) aku mendaftar jadi guru atau dosen.
    Sewaktu menjadi mahasiswa barulah aku menyadari kalau panggilanku ternyata menjadi seorang pengajar. Hal itu terjadi ketika aku duduk di semester 3 tingkat II di salah satu kampus terbesar di Yogya. Waktu itu aku bener-bener kepepet lantaran papaku pensiun dan kedua adiku masuk sekolah swasta, satu di SMA dan satu di SMP dimana biaya sekolah sangat mahal dan terasa berat, sehingga mulailah aku terfikir untuk mencari uang meringankan beban orangtuaku. Aku sempat bingung mau kerja apa, jadi pelayan jelas menyita waktuku, kalau jadi CS dan sebagainya aku tidak sanggup. Pada saat itu aku berkonsultasi dengan dosen waliku. Oleh beliau aku disarankan untuk mencoba mengisi salah satu lowongan menjadi asisten dosen untuk mata kuliah, karena menurut beliau nilai mata kuliahku dan indeks prestasiku baik untuk mendaftar sebagai asisten dosen, ya…hitung-hitung sebagai ajang uji coba sampai dimana keberuntunganku. Cukup lama aku tidak mengiyakan tawaran dari beliau, sampai satu ketika aku diajak oleh sahabatku untuk mengisi formasi tersebut. Aku fikir oke lah kalau hanya untuk iseng-iseng berhadiah dan akupun ikut dalam seleksi. Cuma aku tidak mengharapkan akan diterima dan lolos uji, karena buatku cukup berat untuk itu. Aku tidak menyangka sebulan setelah tes tersebut, aku dinyatakan lulus sebagai asisten dosen, sedangkan temanku tidak (sampai-sampai temanku bertanya, jurus bagaimana aku bisa lolos. aku jawab saja kalau mukjijat Tuhan, ha…ha…maklum mata kuliah yang dibuka untuk asisten adalah mata kuliah wajib dan susah buat lulusnya). Aku sempat gamang, mampukah? Aku kemudian berkonsultasi lagi dengan dosen waliku, lagi-lagi beliau menyarankan agar aku mencobanya, karena kata beliau aku punya kemampuan untuk itu, hanya saja aku tidak merasa percaya diri.Ahkirnya aku niatkan hati dan meminta restu kedua orangtuaku. Tentu saja kedua orangtuaku merasa bangga dengan prestasiku, malah kata mamaku, dari dulu mamaku melihat bakat terpendamku yaitu mengajar adik-adiku, hanya saja aku tidak tertarik untuk mengambil jalur pendidikan lantaran aku lebih tertarik dibidang pertanian. Aku sempat nervous dan ga percaya diri sewaktu diminta microteaching dengan adik-adik kelasku, tapi ahkirnya aku lolos juga karena adik-adik kelasku menganggap aku bisa membawakan satu acara praktikum dengan gaya tersendiri, lain dari dosen yang mengampu mata kuliah tersebut.
    Setelah itu mulailah duniaku diwarnai dengan jadwal dan kegiatan belajar mengajar walaupun buatku bukan mengajar, tapi mengajak mereka diskusi, karena buatku mengajar adalah diskusi sambil mentransfer ilmu. Aku mulai menerapkan dan menepati target tersebut sambil terus mengasah ilmu dan pengetahuanku dengan membaca dan berdiskusi dengan dosen senior dan dosen killer. Kenapa aku pilih dosen killer? Karena aku merasa beliau mampu dan berkompeten dalam bidangnya hanya saja beliau kesulitan mentransfer ilmunya karena maklum lulusan luar negeri (rata-rata dosen killer yang mengajar di kampusku adalah dosen lulusan luar negeri dan rahasia nich….pertama kali aku menjadi asisten dosen….ya… dimata kuliah yang diampu salah satu dosen killer itu , hi…hi….). Aku yang semula “benci” menjadi seorang pengajar, lama kelamaan mulai tertarik dan mencintai pekerjaanku, walaupun aku tetep kekeuh pingin menjadi peneliti ternama. Asyik juga menjadi asisten dosen, walaupun kerjaan numpuk, tapi aku dapat manfaat lebih, yaitu aku jadi tahu pengetahuan yang tidak diberikan dosen di kelas, juga menghilangkan rasa malu dan tertutupku (selain itu ssst…sst… aku mendapatkan bayar atau gaji sebesar 100 ribu per bulannya dan asyiknya dapat makan siang dan snack gratis setiap kali praktikum atau mengkoreksi hasil praktikum, he…he…lumayan hemat ongkos dan nambah uang saku. selain itu dengan menjadi asisten aku dapat beasiswa gratis dari kampus. pokoknya UUD dech alias ujung-ujungnya duit, he..he..)
    Aku menjadi asisten dosen untuk pertama kalinya sekitar 3 tahun sewaktu aku masih menyelesaikan studi di strata satu. Aku menyelesaikan studi di strata satu S1 selama 4.5 tahun dengan indeks prestasi yang lumayan. Setamat S1 aku bekerja di salah satu bank pemerintah di semarang. Saat aku bekerja di bank, aku merasa ini bukan tempatku, karena kerjaku menghitung uangnya orang dan bekerja lembur hampir tiap minggu. Setelah menamatkan kontrak kerja setahun, aku mulai iseng-iseng mendaftar untuk masuk strata dua (S2) lagi-lagi di kampus yang sama. Aku tidak menyangka kalau aku lolos dan masuk peringkat tiga dalam seleksi masuk di kampus tersebut. Pastinya pada bertanya ya, darimana aku dapat uang??? Ya dari tabunganku selama aku bekerja di bank tersebut ditambah dengan bantuan dari pakdeku yang melihat keinginanku yang kuat untuk melanjutkan studi.
    Pada saat aku kuliah lagi, ada yang kurang dalam diriku, entah apa….padahal jadwal kuliahku padat dan tidak ada lagi waktu untuk santai. Aku mulai merindukan lagi masa-masa untuk menjadi asisten (rupanya aku ketagihan dan mulai mencintai dunia mengajar….) Rupanya Tuhan mengabulkan kerinduanku, pas aku duduk di semester 2 ada tawaran menjadi asisten dosen untuk mengajar S1 untuk menggantikan dosenku yang pada waktu itu sedang menyelesaikan kuliah S3 di universitas lain. Segera aku sanggupi untuk mengajar dengan penyesuaian waktu kuliahku. Tantangan pertamaku adalah penyesuaian diri karena dosen pengajarnya adalah dosen yang akan lulus S3 sedangkan aku adalah mahasiswa S2. Agak berat memang, tetapi karena suasana belajar mengajarnya aku ubah dari mengajar satu arah dimana dosen memberikan pengajaran menjadi dua arah, dimana mahasiswa aku ajak diskusi dan mencari topic yang menarik (tetapi sesuai silabus dan bahan ajar). Rupanya kiatku berhasil, mereka semangat dalam kuliah (terbukti dari naiknya presensi, mahasiswa yang tadinya ketika dengan dosen lama tidak pernah hadir mendadak sering hadir, mungkin karena aku seumuran dengan mereka ya….atau…gayaku yang menganggap mereka teman…jadi mereka merasa rileks dalam kuliah) dan semangat dalam mengumpulkan tugas. Ternyata dosen yang bersangkutan tidak merasa keberatan dengan gayaku dan menyatakan salut bisa mengambil hati mahasiswa yang terbiasa membolos jadi tidak membolos dan yang tadinya tidak tertib dalam pengumpulan tugas menjadi tertib dalam pengumpulan tugas. Aku menjadi asisten hanya 1.5 tahun, karena aku menyelesaikan S2 hanya 1.5 tahun, sesuai kontraku.
    Selepas aku S2, aku mengadu nasib menjadi peneliti sebagai cita-citaku, namun entah mengapa aku selalu kandas. Lagi-lagi aku mendapatkan rahmat dari Tuhan berupa kenalan dengan cowok yang (kebetulan) berprofsesi sebagai guru SMA di Jakarta. Menjadi istri guru??? Oh..My..God…..what happen with me….?Itu kalimat pertama yang tercetus ketika calon suamiku melamar aku menjadi istrinya. Awalnya aku ragu dengannya, maklum kalau jadi istri guru kan akan mendapat sebutan “bu guru” walaupun tidak mengajar. Terus terang aku agak risih mendapat julukan tersebut karena dengan menyandang nama “bu guru” mau tidak mau kelakuanku harus sesuai dengan julukan tersebut. Ahkir cerita entah karena cinta atau memang sudah jodoh kali ya….aku mau dipersunting jadi istrinya dan diajak hidup di Jakarta. Jujur hidup di Jakarta tidak semudah hidup di Yogya semua harus berjuang.
    Awalnya sich enak, kerja jadi ibu rumah tangga, nunggu suami sudah begitu mendapat julukan “bu guru” lagi. Cuma lama kelamaan jadi tidak enak..kenapa? Karena kemana-mana yang namanya “bu guru” akan ditanyai, kerja dimana??? Ahkirnya setelah enam bulan menganggur, aku memutuskan untuk mencoba melamar lowongan kerja yang ada di sebuah koran. Mau tahu lowongan apa yang aku coba apply? Lagi-lagi entah karena karma dari cita-citaku entah karena takdir atau memang panggilan hati, aku mencoba melamar menjadi seorang guru di sebuah perguruan milik seorang enterperneur terkenal yaitu Ciputra. Kenapa aku tertarik melamar kesana? Aku cuma tertarik dengan nama Ciputra yang terkenal dengan enterpreneurnya alias wirausaha, jadi sekalian aku belajar jadi wirausaha, biarin dech sementara hasratku untuk menjadi peneliti aku singkirkan. Singkat cerita dari proses lamaran hingga ahkirnya diterima semua berjalan mulus tanpa adanya kendala, hanya saja sewaktu proses penempatan terjadi kendala, karena ijazahku S2 pertanian sedangkan lowongannya menjadi guru SD. Hah????
    Aku sempat gamang, mampukah? Aku tidak pernah tahu apa itu pendidikan guru setingkat SD bahkan untuk menghadapi murid-murid SD yang berbagai rupa, aku belum punya pengalaman. Pengalamanku selama ini hanya sebatas menjadi asisten mata kuliah tertentu belum pernah sekalipun mengajar di SD. Aku sempat depresi saat pertama kali mengajar, tapi untungnya banyak teman-temanku membantu, terutama guru-guru senior. Mereka mengajariku bagaimana menghadapi siswa dari kelas 1 sampai 6.
    Lumayan juga tugasnya, apalagi aku mengampu mata pelajaran sains. Tantangan menarik nich buatku. Aku sempat berkolaborasi dengan temanku selama beberapa tahun, maklum sebagai masa transisi, aku butuh mentor sebaya yang mengerti akan ide dan gagasanku. Temanku namanya pak Jaya. Beliau cukup membantu terutama mengajarkan sains, satu kata yang masih ku ingat sampai sekarang, “kalau mau belajar sains” harus banyak prakteknya. Okey bagus juga tuch kata-kata beliau, tapi mengajarkan sains di kelas 1 SD bagaimana caranya? Menggunting saja masih belepotan, apalagi disuruh yang lain???? Aku coba mengadopsi cara belajar beliau bagaimana cara mengajarkan sains kelas 1 SD, cuma lama kelamaan koq anaknya jadi manja ya….apa-apa orang tuanya yang turun tangan bukan anaknya (misalnya kalau di sekolah mengguntingnya belepotan, tapi begitu menjadi tugas, koq mengguntingnya jadi rapi????)
    Ahkirnya aku mencoba mempraktekan teori yang aku peroleh secara autodidak dengan menggunakan 6 M (melihat, mencoba, memahami, menganalisa, menemukan, dan mencipta). Untuk anak kelas 1 SD aku cukup memberikan sains dengan cara melihat dan mengamati benda atau mahluk di luar lingkungan, tujuanku menanamkan pengertian kepada mereka tentang alam dan lingkungan (missal mereka membedakan kalau batu itu benda mati sedangkan pohon jeruk itu benda hidup, kenapa bukan kucing atau yang lain? karena kalau aku pakai perbandingan kucing mereka cenderung menghafal, kalau benda hidup itu hewan atau manusia, padahal tumbuhan kan juga benda hidup tapi diam dan tidak berpindah tempat. ciri yang aku pakai adalah kalau batu tidak bisa berbuah sedangkan pohon jeruk bisa berbuah. berbuah konteks sederhana dari sains adalah berkembang biak.). Sedangkan anak kelas 2 SD aku ajarkan pemahaman dengan praktek sederhana, misalnya baying-bayang terbentuk jika membelakangi sinar, dengan cara berjemur di bawah terik matahari, kalau matahari terbit di barat bayangan di timur. Anak kelas 3 SD aku ajarkan pemahaman sederhana, dengan cara membandingkan sesuatu, misalnya berat benda tergantung dari bahan benda tersebut, contohnya kapas 1kg lebih banyak isinya daripada batu 1kg karena kapas ringan sedangkan batu berat. Kalau anak kelas 4 SD aku ajarkan sedikit analisa dengan cara praktek sederhana, megapa kalau menanam biji kacang jika ujung lancipnya di bawah, kacangnya tidak tumbuh? Karena titik tumbuhnya bukan berada di ujung runcing dari kacang tanah. Sedangkan untuk anak kelas 5 dan 6 SD lebih banyak bereksperimen bahkan aku ajarkan menciptakan alat peraga sains sederhana dengan bahan baku bekas. Mereka senang dan tertarik belajar sains sampai-sampai kalau aku tidak masuk karena sakit, mereka menelepon kapan aku masuk.
    Satu lagi pengalaman menarik yang aku dapatkan dari pengalamanku mengajar di SD adalah anak pandai belum tentu anak smart. Kenapa begitu? Aku punya pengalaman unik ketika aku diminta kepala sekolah untuk memilih anak-anak SD yang diikutkan dalam suatu lomba sains nasional yang diadakan oleh satu majalah sains terkenal di Jakarta. Aku seperti halnya guru-guru lain, memilih anak yang berperingkat 1 – 5 di kelas, dengan asumsi anak tersebut pasti bisa diandalkan alias juara. Memang sich di beberapa event pilihanku dan guru-guru tidak salah, artinya anak-anak tersebut menang dan membawa hasil. Hanya saja satu waktu ada satu anak yang protes terhadapku, mengapa dia dimunculkan sebagai kandidat untuk mengikuti lomba matematika dan sains di hari yang sama. Aku sempat bingung, lomba tinggal beberapa hari lagi, sementara anak tersebut lebih memilih matematika daripada sains (karena anak tersebut menyukai matematika). Ahkirnya aku memilih kandidat anak dengan nilai sains baik dan peringkat antara 6 – 15 di kelas (aku memilih berdasarkan felling lho dan aku tidak yakin apakah pilihanku benar, he..he…) Aku hanya gambling, tapi yakin ini tidak salah, karena keyakinanku kalau mereka suka sains pasti belajarnya bagus. Singkat cerita, ternyata anak yang aku pilih berhasil menjuarai lomba sains tingkat nasional dan tidak tanggung-tanggung peringkat dua atau perunggu diperolehnya (fellingku benar atau memang anaknya memang pandai??) Sampai sekarang rekor untuk menjuarai kejuaraan lomba sains tingkat nasional belum terpecahkan.
    Aku hanya mengajar di SD selama dua tahun, di tahun ketiga aku dipromosikan untuk mengajar di SMA. Waduh, dari anak polos ke anak ABG??? Sempet ragu sich, apa bisa? Aku yang terbiasa dengan ceplas ceplos anak-anak tiba-tiba berubah menjadi seorang ibu bagi anak-anak ABG? Aku sempat protes ke yayasan, tapi jawaban yayasan, bahwa ijazahku lebih pantas mengajar di SMA. Okey aku terima tantangan ini (karena pada dasarnya aku juga suka tantangan, he…he..). Awal mula aku canggung mengajar mereka, karena aku terbiasa dengan suasana rame anak kecil berubah suasana formal anak ABG. Ahkirnya aku mencoba cara mengajarku sewaktu menjadi asisten dosen dulu. Aku ajak mereka lebih banyak untuk diskusi dan praktek (kebetulan aku mengajar biologi), selain itu aku sering mengajak mereka field trip ke luar kota misalnya mengunjungi kebun raya atau ke IPB. Mereka senang karena belajar tidak lagi membosankan, selain itu mereka menambah wawasan.
    Sayangnya masa aku menjadi guru harus berahkir setelah tahun ke lima, karena aku memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Hal ini aku lakukan karena anak pertamaku menderita cerebal palasy (CP) akibat terjatuh dan sempat koma beberapa hari di rumah sakit akibat dijatuhkan pembantuku yang tidak mau bertanggung jawab. Sempat gamang, mau jadi apa aku?? Bagaimana aku?? Aku yang tidak tau apa itu CP, bagaimana berhadapan dengan orang CP, dan aku harus gimana?? Lama aku bergulat dengan semua ini (sambil merawat anaku tentu saja). Sampai ahkirnya aku temukan jawabannya, aku harus menjadi “murid” dari anaku dan anaku menjadi “guru” buatku. Artinya apapun yang aku lakukan aku harus mengerti dulu apa kemauan dan kemampuan anaku, jangan dibalik apa yang aku mau harus anaku lakukan. Bulan pertama sampai satu tahun aku gagal merawat dia, karena aku kerjanya marah….ngomel…dan tidak sabar. Sampai pada tahun ke dua, temanku menyarankan agar aku berlatih meditasi dulu sebelum menyentuh anaku, tujuannya supaya aku berdamai dengan diriku dulu sebelum menangani anaku. Okey aku coba saran temanku. Cukup effektif sich untuku, cuma kalau anaku sudah kumat tantrumnya, aku kuwalahan. Ahkirnya aku mencoba mempraktekan 6 M yang aku temukan kala aku menjadi guru di SD. Di bulan pertama tahun ketiga anaku menderita CP, aku mulai mempraktekan 6M, dengan cara melihat dan mencoba mengerti kondisinya setiap hari, kalau kondisinya bagus, aku bisa melakukan kegiatan rumah tangga yang lain, kalau tidak bagus, ya….aku tunda (walaupun nantinya aku harus ngelembur, he..he…). Setelah itu aku mencoba memahami dan mengerti segala perubahan suasana hatinya, kalau suasana hatinya tidak enak, biasanya aku ajak dia main ke tetangga sampai dia tenang sambil aku menganalisa penyebab suasana hatinya tidak enak. Baru setelah itu aku menemukan dan menciptakan suasana yang membuat suasana hatinya enak di rumah dengan permainan, tontonan TV, dan suasana yang menyenangkan buatnya.
    Hore….ahkirnya aku bisa juga menggunakan 6M dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Lumayan bisa membantuku menjalani kehidupanku sebagai ibu rumah tangga yang tanpa pembantu. Hal ini aku lakukan selama lima tahun. Ya…selama lima tahun itulah aku banyak melihat perubahan anaku, mulai dari dia belajar jalan hingga bisa jalan lagi, sampai dia masuk playgroup dengan adiknya. Sewaktu aku mau memasukan dia ke playgroup dengan adiknya, aku was-was, jangan-jangan dia tidak bisa mengikuti dan nangis berkepanjangan….Ternyata dugaanku salah. Sewaktu aku masukan ke playgroup yang nangis adiknya selama seminggu, tapi dia malah senang dan tertawa, bahkan bisa membaur dengan teman-temannya.
    Lima tahun aku jalani kehidupan rumah tanggaku, sampai ahkirnya September tahun lalu ada lowongan dosen di Yogya. Mulanya aku males mendaftar, maklum sudah enak jadi ibu RT, he..he…tapi suamiku meyakinkanku, kalau aku bisa. Dengan setengah hati aku mendaftar, walaupun aku tidak yakin diterima. Akhirnya setelah melalui serangkaian test, aku diterima. Pada awal masuk kerja aku bangga dengan status baruku hanya saja sampai hari ini jujur aku sudah tidak mood dan males buat kerja. Kenapa????? Banyak pembodohan dan kebohongan public yang tidak pantas buatku dilakukan dan diamini sebagai sebuah kebiasaan di kantorku.
    Aku menemukan kecurangan dan pemalsuan sejumlah dokumen yang ada di kantorku untuk keperluan akreditasi. Sewaktu aku protes, bukannya dekan mendamaikan aku dengan pihak yang bersengketa, tapi mengkucilkan aku agar aku tidak bercerita kemana-mana. Hubunganku dengan mahasiswa diintervensi dengan cara mereka mengkirimkan WA (whatsapp) ke mahasiswa, sampai-sampai ada mahasiswaku yang mengadu ke aku pingin pindah kuliah.
    Belum lagi kalau datang suka terlambat dan tidak memberi tahu tata usaha (TU) sehingga mahasiswa banyak yang kebingungan dengan dosennya. Apalagi soal berebut dan saling menjatuhkan dalam hal penelitian dan pengabdian.
    Aku merasa terjebak dalam situasi semacam ini, cuma aku bangga, mahasiswaku ternyata punya nurani bagus. Mereka tidak mau terjebak dalam situasi semacam ini, mereka mulai menggalang kekuatan dari bawah, agar suatu saat jika mereka diabaikan dan tidak diperhatikan mereka bisa mandiri. Salah satu cara aku mendidik mereka mandiri dengan memberikan pelatihan kewirausahaan mandiri, agar kelak jika mereka dicabut beasiswanya karena keberanian mereka dalam mempertahankan nurani, mereka masih bisa kuliah tanpa merepotkan orang tuanya.
    Aku tidak berharap banyak dengan tulisanku, tapi melalui tulisanku aku mencoba merefleksikan diriku, bahwa selama ini rencanaku tidak seindah rencanaNya, tapi rencanaNya menyempurnakan rencanaku dengan sesuatu yang indah. Sebagai seorang pendidik aku berharap bisa selalu dan terus selalu belajar dari rencanaNya

  • ok….kirim yuk pengalaman kita

  • agnesbudisantoso became a registered member 6 years, 7 months ago

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar