Guraru

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MATERI PENGUATAN EKONOMI MARITIM DAN AGRIKULTUR DENGAN PENERAPAN STRATEGI MIND MAPPING PADA SISWA KELAS VII SMP KANDAYAN KERANJI PAIDANG TAHUN PELAJARAN 2021 / 2022

ABSTRAK

Iluminata, S.Pd., 2022. Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Materi Penguatan Ekonomi Maritim Dan Agrikultur Dengan Penerapan Strategi Mind Mapping Pada Siswa Kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang Tahun pelajaran 2021/2022”.

Kata Kunci : Hasil Belajar Siswa, Strategi Mind Mapping

IPS bertujuan untuk membina anak didik menjadi warga negara yang baik, yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian sosial yang berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan Negara. Data awal yang diperoleh kondisi siswa Kelas VII saat pembelajaran IPS belum optimal, penggunaan model pembelajaran belum sesuai kondisi siswa, kurangnya partisipasi siswa dan belum maksimalnya penggunaan media yang menyebabkan tingkat pemahaman siswa terhadap materi IPS rendah. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPS di Kelas VII tersebut dengan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang untuk meningkatkan keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 3 siklus, masing-masing terdiri dari satu pertemuan. Setiap siklus terdiri atas 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan nontes. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Keterampilan guru pada siklus I memperoleh skor 25 dengan kategori baik, siklus II memperoleh skor 27 dengan kategori baik dan pada siklus III memperoleh skor 30 dengan kategori sangat baik. (2) Aktivitas siswa pada siklus I memperoleh skor 15,7 kategori cukup, pada siklus II memperoleh skor 18,2 kategori baik dan pada siklus III memperoleh skor 22,9 kategori baik. (3) Persentase ketuntasan klasikal pada siklus I 63,33%, meningkat pada siklus II menjadi 80%, dan meningkat pada siklus III menjadi 100%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPS meliputi keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa. Saran bagi guru adalah hendaknya dalam mengajar menggunakan model pembelajaran dan media yang bervariasi dan sesuai materi antara lain dengan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang.

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayahnya kepada penulis. Berkat karunia dan kemurahan – Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Penelitian Tindakan Kelas mata pelajaran IPS yang kami beri judulUpaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Materi Penguatan Ekonomi Maritim Dan Agrikultur Dengan Penerapan Strategi Mind Mapping Pada Siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang Tahun pelajaran 2021/2022dengan baik dan tepat waktu.

Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari dukungan,bimbingan dan motivasi serta bantuan orang lain dari berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Pengawas Wilayah SMP Kandayan Keranji Paidang yang telah memberikan bimbingan dalam pembuatan PTK ini.
  2. Paulus Aldin,S.Ag sebagai Kepala SMP Kandayan Keranji Paidang yang telah memberi kesempatan dan fasilitas yang memadai demi kelancaran pelaksanaan penelitian.
  3. Rekan-rekan guru SMP Kandayan Keranji Paidang atau teman sejawat yang telah berpartisipasi langsung dalam kegiatan ini.
  4. Suami dan anak-anak tercinta yang selalu memberikan semangat dan untaian do’a yang tiada henti kepada penulis.
  5. Teman-teman Guru SMP Kandayan Keranji Paidang yang telah mendukung dan dorongan kepada penulis.
  6. Seluruh pihak yang membantu terselesaikannya Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini yang tidak bisa penulis sebut satu persatu.

Penulis menyadari sepenuhnya keterbatasan pengetahuan yang dimiliki dan waktu yang tersedia, sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca untuk kesempurnaan penulisan laporan ini.

Do’a penulis semoga laporan yang sangat sederhana ini bermanfaat bagi penyusun dan bermanfaat bagi yang membaca sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan saat ini dan yang akan datang. Aamiin.

DAFTAR ISI

 JUDUL PENELITIAN i

LEMBAR PENGESAHAN ii

SURAT PERNYATAAN ASLI iii

SURAT IZIN PENELITIAN iv

ABSTRAK v

KATA PENGANTAR vi

DAFTAR ISI vii

DAFTAR GAMBAR ix

DAFTAR TABEL x

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah 1

Identifikasi Masalah 6

Pembatasan Masalah 7

Rumusan Masalah 8

Tujuan Penelitian 8

Manfaat Penelitian 9

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Kajian Teori 10

Kerangka Berfikir 22

Hipotesis Tindakan 22

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Rancangan Penelitian 24

Subyek Penelitian 26

Sumber Data 27

Jenis Data 28

Tehnik Pengumpulan Data 28

Teknik Analisis Data 31

Indikator Keberhasilan 33

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian 31

Pembahasan 60

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan 67

Saran 69

DAFTAR PUSTAKA 70

BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang Masalah

Dalam peraturan perundang-undangan Republik Indonesia yang paling banyak membicarakan pendidikan adalah Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003. Undang- undang ini sering disebut sebut sebagai peraturan perundang- undangan pendidikan. Dalam undang-undang ini yang biasanya digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan pendidikan adalah Pasal 1 ayat (2) dan ayat (5). Ayat (2) berbunyi bahwa “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang berakar pada nilai- nilai agama, kebudayaan, nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.Undang-undang ini mengharuskan pendidikan berakar pada kebudayaan nasional dan nilai-nilai agama yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Ini berarti teori-teori pendidikan yang diterapkan di Indonesia, tidak boleh tidak haruslah berakar pada kebudayaan Indonesia dan agama.

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik (Slameto, 2010:1). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PPRI) Nomor 19 Tahun 2005

tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 26 Ayat (1) yang menyebutkan bahwa pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, ketrampilan untuk hidup mandiri, dan untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut. Dari situ sudah jelas, bahwa tujuan pendidikan merupakan landasan bagi pemilihan atau penentuan materi dan pemilihan metode pembelajaran yang tepat, dengan melihat tujuan yang ada dapat dijadikan sebagai landasan bagi pengawasan dan penilaian hasil belajar dan juga sebagai pedoman dalam pelaksanaan dan penyelesaian kegiatan belajar mengajar.

Salah satu metode pembelajaran yang dipandang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran adalah dengan menggunakan metode pembelajaran Mind Mapping. Metode pembelajaran ini dipilih sebagai salah satu upaya untuk membantu siswa meningkatkan hasil belajar mereka. Pada penerapannya siswa menjadi pusat dari sebuah proses pembelajaran yang memang menuntut pembelajaran tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga perlu diciptakan kegiatan pembelajaran di luar kelas.

Menurut Suprayogi (2007:36) fungsi dari diadakannya mata pelajaran IPS untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) diantaranya adalah sebagai ilmu pengetahuan untuk mengembangkan kemampuan dan sikap rasional dalam menghadapi kenyataan atau permasalahan sosial, serta perkembangan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia di masa lampau, masa kini, dan

masa mendatang. Tujuan dari pendidikan IPS diarahkan pada pembentukan sikap dan kepribadian fungsional serta peningkatan penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional peserta didik (Suwito, 2013:16).

Dalam hal ini, pembelajaran IPS dengan materi penguatan ekonomi maritim dan agrikultur. Selain itu, pembelajaran IPS juga sangat penting dalam upaya untuk membangun karakter bangsa, karena nasionalisme bisa tumbuh setelah seseorang mempunyai kesadaran historis.

Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2010:2). Proses belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang selalu memperhatikan pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang diwujudkan dalam beberapa hasil belajar. Ketiga aspek tersebut menyatu dalam satu individu dan tampil dalam bentuk suatu kreativitas. Sedangkan pembinaan dan pengembangan kreativitas berarti mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Pada proses belajar, siswa tidak hanya menerima, tetapi diharapkan untuk menemukan sendiri.

Kondisi tersebut juga masih ditemukan di SMP Kandayan Keranji Paidang, pengamatan ini khususnya pada siswa kelas VII yang menunjukkan bahwa pembelajaran IPS tidak menarik. Pembelajaran IPS yang kurang menarik ini terbukti dengan nilai hasil belajar yang memiliki kriteria ketuntasan minimal (KKM) dibawah 50%. Hal ini terjadi karena menurut mereka pelajaran

IPS membosankan dan hanya membuat ngantuk. Wawancara peneliti dengan guru IPS sendiri pun menyampaikan beberapa alasan mengenai kurang diminatinya pelajaran IPS oleh anak-anak disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adalah kurangnya penanaman nasionalisme dalam diri siswa karena kurangnya figur. Selain itu adanya anggapan dari guru mata pelajaran lain bahwa materi dalam IPS bisa dipelajari sendiri yang justru semakin membuat siswa mengacuhkan pelajaran ini. Kurangnya hasil belajar siswa ini kemudian berdampak pada hasil belajar siswa yang kemudian kurang dari kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditentukan. Hasil belajar siswa yang rendah menjadi latar belakang penelitian ini karena dianggap memiliki nilai ukur yang pasti.

Kurang diminati dan rendahnya hasil belajar dalam pembelajaran IPS ini boleh jadi ada kaitannya dengan pendekatan pembelajaran yang dilakukan guru. Kondisi dilapangan saat ini menunjukkan bahwa masih diberlakukannya sistem guru kelas, dan pada umumnya proses pembelajaran IPS yang ditemuinya masih dilakukan secara konvensional, drill, bahkan ceramah. Cara pendekatan konvensional yang tidak efektif akan menimbulkan kejenuhan siswa di dalam kelas, serta pendekatan keterampilan proses dengan pembelajaran teoritis.

Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pegajaran. Guru dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar bergairah bagi anak didik. Dengan seperangkat teori dan pengalamannya digunakan untuk mempersiapkan program pengajaran dengan baik dan sistematis (Djamarah dan Zain, 1997: 82).

Salah satu metode pembelajaran yang dapat dipilih adalah metode pembelajaran Mind Mapping. Metode pembelajaran Mind Mapping atau biasa disebut peta pemikiran adalah cara termudah untuk menempatkan informasi kedalam otak dan mengambil informasi ke luar dari otak. Mind Mapping adalah cara mencatat yang kratif, efektif, dan secara harfiah akan “memetakan” pikiran-pikiran kita. Secara harfiah Mind Mapping adalah suatu tekhnik pembuatan catatan-catatan yang dapat digunakan pada situasi, kondisi tertentu, seperti dalam pembuatan perencanaan, penyelesaian masalah, membuat ringkasan, membuat struktur, pengumpulan ide- ide, untuk membuat catatan, kuliah, rapat, debat dan wawancara.

Tujuan menggunakan metode Mind Mapping adalah untuk melatih siswa berfikir secara lebih kritis dan bersikap aktif dalam pembelajaran dengan usahanya untuk mencari dan menemukan materi pembelajaran yang akan dipelajarinya untuk kemudian mencatat hasilnya dengan cara membuat peta pemikirannya sendiri (Mind Mapping). Rangkaian kegiatan siswa dalam proses pembelajaran tersebut diharapkan dapat menjadi pembelajaran yang lebih bermakna dan mempunyai resistensi yang lebih lama dalam ingatan atau benak siswa.

Konsep Mind Mapping asal mulanya diperkenalkan oleh Tony Buzan tahun 1970- an. Menurutnya Mind Mapping adalah sistem penyimpanan, penarikan data, dan akses yang luar biasa untuk perpustakaan raksasa, yang sebenarnya ada dalam otak manusia yang menakjubkan (Buzan, 2007: 12). Mind Mapping membantu belajar, menyusun, dan menyimpan sebanyak mungkin informasi yang anda inginkan, dan mengelompokkannya dengan cara yang alami, memberi akses yang mudah dan langsung. Mind Mapping membantu otak membuat asosiasi dan lompatan-lompatan besar dalam pemahaman. Mereka menggandakan kegiatan inti otak untuk membuat kaitan-kaitan. Menurut Buzan (2007:124) ketika ingin mengingat sesuatu, bantulah otak untuk membuat asosiasi dengan mencari atau menggunakan:

  1. Pola. Selalu cari pola-pola dalam informasi yang ingin diketahu
  2. Nomor. Pengaturan informasi dalam urutan nomor bisa sangat membantu anda mengingat daftar fakta.
  3. Simbol. Penggunaan simbol dan gambar adalah cara yang istimewa untuk menciptakan pemicu bagi ingatan anda.
  4. Mind Map. Seni menggambar Mind Map mendorong otak untuk membuat asosiasi: setiap cabang mengaitkan satu pikiran denga pikiran lainnya.

Dalam Mind Mapping, setiap potong informasi baru yang di masukkan ke perpustakaan manusia otomatis “dikaitkan” ke semua informasi yang sudah ada di sana. Semakin banyak kaitan yang melekat pada setiap potong informasi dalam kepala, akan semakin mudah “mengait keluar” apa pun informasi yang kita butuhkan. Dengan Mind Mapping, semakin banyak tahu dan belajar, akan semakin mudah belajar dan mengetahui lebih banyak.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut

  1. Penyampaian pelajaran SMP Kandayan Keranji Paidang masih terlalu banyak menggunakan metode ceramah saja.
  2. Guru masih terlalu mendominasi kelas, dan siswa yang kurang aktif dalam merespon atau mengikuti proses pembelajaran.
  3. Guru belum pernah menerapkan metode pembelajaran Mind Mapping yang diharapkan dapat membantu meningkatkan hasil belajar IPS siswa.
  4. Adanya sikap skeptis dari siswa yang mengakibatkan hasil belajar IPS mereka rendah.
  5. Kurangnya keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran IPS melatarbelakangi pemikiran perlunya penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping sebagai salah satu upaya untuk membantu meningkatkan hasil belajar siswa.
  6. Kurangnya penanaman sikap nasionalisme pada diri siswa, sehingga menganggap IPS pelajaran yang tidak begitu penting.
  7. Selain sikap skeptis dari siswa, guru dan orang tuapun juga memiliki sikap skeptis terhadap pelajaran IPS dan menganggap pelajaran ini tidak lebih penting daripada pelajaran ilmu alam dan yang pelajaran yang lainnya.
Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan, maka perlu diadakan pembatasan masalah agar penelitian dapat berlangsung lebih mendalam secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, kajian penelitian ini akan dibatasi pada persoalan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS materi Penguatan Ekonomi Maritim Dan Agrikultur pada kelas VII Semester 1 di SMP Kandayan Keranji Paidang tahun pelajaran 2021/2022.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan, yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah hasil belajar IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang?
  2. Bagaimanakah penerapan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang?
  3. Apakah ada pengaruh penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang?
Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Mendeskripsikan dan menganalisis hasil belajar IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang.
  2. Mendeskripsikan dan menganalisis penerapan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang.
  3. Mengetahui pengaruh penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang.
Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian dibedakan menjadi dua, yaitu Manfaat praktis dan Manfaat teoritis adalah sebagai berikut:

Manfaat praktis

Bagi mahasiswa

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan pemahaman mahasiswa.

Bagi Sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada sekolah untuk meningkatkan strategi pembelajaran guru, memperbaiki suasana kelas yang nyaman untuk belajar serta mengarahkan siswanya untuk lebih aktif sehingga prestasi belajar siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang menjadi lebih baik dan maju.

Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi dunia pendidikan sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan yang lebih baik khususnya mengenai strategi pembelajaran guru, penciptaan suasana belajar kelas yang nyaman dan kondusif, serta keaktifan belajar siswa dalam kelas sehingga dapat mencapai prestasi belajar yang tinggi.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERFIKIR

 

Kajian Pustaka

Metode Pembelajaran

Metode adalah suatu cara yang sistematik yang digunakan untuk mencapai tujuan yang akan dicapai (Pasaribu, 2013:13-14). Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat untuk siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidikan untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar (Isjoni, 2010:5). Makin baik metode itu makin efektif pula pencapaian tujuanuntuk proses belajar mengajar didalam kelas selain faktor tujuan, juga faktor murid, faktor situasi dan faktor guru ikut menentukan efektif tidaknya suatu metode.

Metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus ada dalam suatu kegiatan pembelajaran. Metode mengajar atau yang sering disebut metode pembelajaran adalah suatu cara atau teknik pembelajaran yang diterapkan oleh guru dalam melakukan interaksi dengan siswa pada saat proses pembelajaran untuk mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri.

Berdasarkan definisi atau pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah suatu cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai tujuan. Metode pembelajaran bersifat prosedural dan menggambarkan suatu

prosedur bagaimana caranya untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Para ahli pendidikan berpendapat, bahwa tidak ada metode pembelajaran yang dianggap paling tepat diantara metode-metode yang ada. Setiap metode pembelajaran memiliki karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Metode pembelajaran memiliki beberapa prinsip dalam penggunaannya. Prinsip-prinsip tersebut terutama berkaitan dengan faktor perkembangan kemampuan siswa. Menurut Engkoswara (1988: 26) metode pembelajaran memiliki lima prinsip, yaitu:

  1. Azas maju berkelanjutan, yang artinya memberi kemungkinan terhadap murid untuk mempelajari sesuatu sesuai dengan kemampuannya.
  2. Penekanan pada belajar sendiri, artinya pembelajar diberi kesempatan untuk mempelajari dan mencari sendiri bahan pelajaran lebih banyak dari pada yang diberikan oleh pengajar.
  3. Bekerja secara tim, dimana pembelajar dapat melakukan suatu pekerjaan yang memungkinkan bermacam-macam kerja sama.
  4. Multidisipliner, artinya memungkinkan pembelajar untuk meninjau sesuatu dari berbagai sudut.
  5. Fleksibel, dalam artian dapat dilakukan menurut keperluan dan keadaan.

Berdasarkan prinsip itulah, seorang guru harus memilih metode pembelajaran sesuai dengan prinsip yang telah ditentukan. Dengan kata lain seorang guru harus memerhatikan metode yang akan diterapkan dalam suatu

proses pembelajaran, apakah metode tersebut dapat menjadi suatu sistem sebagai alat motivasi ekstrinsik, dapat menjadi strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan dari pembelajaran tersebut, dan yang paling penting adalah disesuaikan dengan kebutuhan murid.

Macam-Macam Metode Pembelajaran

Terdapat berbagai macam jenis metode pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Metode metode tersebut antara lain adalah metode ceramah, metode resitasi, metode diskusi.

Metode Ceramah

Menurut Djamarah dan Zain (1997:109) metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar mengajar. Menurut Djamarah dan Zain (1997:110) metode ceramah memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan metode ceramah:

  1. Guru mudah menguasai kelas
  2. Mudah mengorganisasikan tempat duduk atau kelas
  3. Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar
  4. Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya
  5. Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik

Kekurangan metode ceramah:

  1. Mudah menjadi verbalisme
  2. Yang visual menjadi rugi, yang auditif lebih besar menerimanya
  3. Bila selalu digunakan dan terlalu lama, peserta didik akan merasa bosan
  4. Guru menyimpulkan bahwa siswa mengerti dan pada ceramahnya, ini sukar sekali
  5. Menyebabkan siswa menjadi pasif

Dari penjelasan mengenai kelebihan dan kekurangan diatas, maka untuk mengatasi permasalahan mengenai kekurangan metode ceramah, diperlukan metode lain, sehingga dalam proses pembelajaran tidak hanya menggunakan metode ceramah, melainkan menggunakan metode yang lain dengan harapan dapat menjadi lebih efektif dan efisien.

Metode Resitasi

Metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar mengajar (Djamarah dan Zain, 1997:96). Metode ini diberikan karena bahan pelajaran dirasa terlalu banyak sementara waktu yang ada sedikit. Tugas atau resitasi merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun secara kelompok. Karena itu, tugas dapat diberikan baik sacara individual atau dapat pula secara kelompok

Menurut Djamarah dan Zain (1997:98) kelebihan metode resitasi memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan metode resitasi:

  1. Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktifitas belajar individual maupun kelompok
  2. Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru
  3. Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa
  4. Dapat mengembangkan kreativitas siswa

Kekurangan metode resitasi:

  1. Siswa sulit dikontrol, apakah benar ia mengerjakan tugas ataukah orang lain
  2. Khusus untuk tugas kelompok, tidak jarang yang aktif mengerjakan dan menyelesaikannya adalah anggota tertentu saja, sedangkan anggota yang lainnya tidak berpartisipasi dengan baik
  3. Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa
  4. Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan kebosanan siswa
Metode Diskusi

Teknik diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang harus dilakukan oleh seoranag guru di sekolah. Didalam diskusi ini, proses belajar mengajar terjadi, dimana interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menuka pengalaman, informasi, dan memecahkan masalah. Menurut Usman (2005:94) diskusi kelompok merupakan suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah. Metode diskusi menurut Djamarah dan Zain (1997:99) memiliki kelebihan dan kekurangan, diantaranya adalah:

Kelebihan metode diskusi:

  1. Merangsang kreativitas anak didik dalam bentuk ide, gagasan-gagasan, dan terobosan baru dalam pemecahan suatu masalah
  2. Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain
  3. Memperluas wawasan
  4. Membina untuk terbiasa musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan suatu masalah

Kekurangan metode diskusi:

  1. Pembicaraan terkadang menyimpang
  2. Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar
  3. Peserta mendapat informasi yang terbatas
  4. Mungkin dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara atau ingin menonjolkan diri
Metode Pembelajaran Mind Mapping

Mind Mapping dikembangkan oleh Tony Buzan di awal tahun 1970-an. Mind mapping atau peta pikiran adalah suatu tekhnik pembuatan catatan-catatan yang dapat digunakan pada situasi, kondisi tertentu, seperti dalam pembuatan perencanaan, penyelesaian masalah, membuat ringkasan, membuat struktur, pengumpulan ide-ide, untuk membuat catatan, kuliah, rapat, debat dan wawancara (Svantesson, 2004 : 1).

Menurut Alamsyah (2009:20) Mind Mapping adalah suatu teknik visual yang dapat menyelaraskan proses belajar dengan cara kerja alami otak. Mind Mappingjuga dapat disebut sebagai metode mencatat kreatif yang memudahkan kita mengingat banyak informasi. Mind Mapping yang baik adalah yang menggunakan warna-warna dan menggunakan banyak gambar dan simbol, biasannya tampak seperti karya seni. Berdasarkan prinsip-prinsip metode pembelajaran yang telah dijelaskan, terdapat lima prinsip yang harus dipenuhi pada saat menggunakan metode yang dipilih.

Pertama mengenai azas maju berkelanjutan. Prinsip ini berarti memungkinkan siswa untuk mempelajari sesuai dengan kemampuannya. Dengan menggunakan Mind Mapping siswa akan melakukan pembelajaran dengan cara mencatat kreatif dalam bentuk peta pemikiran sesuai dengan imajinasinya.Mind mapping sangat efektif bila digunakan untuk memunculkan ide terpendam yang siswa miliki dan membuat asosiasi di antara ide tersebut. Catatan yang siswa buat membentuk sebuah pola gagasan yang saling berkaitan, dengan topik utama ditengah dan sub topik dan perincian menjadi cabang-cabangnya, tekhnik ini dikenal juga dengan nama Radian Thinking (Deporter dan Hernacki, 2011 : 152). Hal ini akan menuntut kemampuan siswa untuk membuat Mind Mapping sekreatif mungkin.

Kedua adalah pembelajaran sendiri. Dalam hal ini, siswa diharapkan dapat mempelajari dan mencari materi dari sumber-sumber lainnya secara mandiri. Misalnya dari buku-buku yang ada di perpustakaan, serta dari internet. Dalam Mind Mapping apabila seorang guru hanya memberikan kata kunci tema utama dari materi yang akan dipelajari, siswa bisa langsung membuat Mind Mapping karena siswa akan aktif melakukan pencarian materi-materi yang akan menjadi tema turunan dari tema utama dan seterusnya. Para siswa cenderung lebih mudah belajar dengan catatannya sendiri yang menggunakan bentuk huruf yang mereka miliki dan ditambah dengan pemberian warna yang berbeda disetiap catatan mereka. Dibandingkan dengan membaca buku teks mereka merasa kesulitan ketika persiapan akan menghadapi ujian. Mind mapping merupakan teknik yang paling baik dalam membantu proses berfikir otak secara teratur karena menggunakan teknik grafis yang berasal dari pemikiran manusia yang bermanfaat untuk menyediakan kunci-kunci universal sehingga membuka potensi otak (Prayudi: 2008). Dengan metode mind mapping siswa dapat meningkatkan daya ingat hingga 78%.

Ketiga yaitu bekerja secara tim. Dalam hal ini bekerja secara tim antara 2 sampai 5 orang dapat disebut sebagai cooperative learning. Model pembelajaran cooperative learning tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Menurut Lie (2002:28) pelaksanaan prosedur cooperative learrning dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif. Dalam proses pelaksanaan metode Mind Mapping ini, bekerja secara kelompok dapat membantu guru mengelola kelas lebih mudah jika pelaksanaan Mind Mapping dilaksanakan sesuai prosedur.

Keempat, yaitu multidisipliner, yaitu meninjau sesuatu dari berbagai sudut pandang. Dalam proses pembelajaran tugas guru dalam proses belajar adalah menciptakan suasana yang dapat mendukung kondisi belajar siswa terutama dalam proses pembuatan Mind Mapping(Sugiarto, 2004:76). Dalam pelaksanaan Mind Mapping, akan banyak pendapat yang muncul dalam kelompok, disini guru berperan untuk mengarahkan kelompok sehingga akan tercipta Mind Mapping yang indah dengan tetap memiliki kualitas materi yang baik.

Kelima, fleksibel, prinsip ini berarti metode Mind Mapping diharapkan dapat dilaksanakan sesuai dengan keperluan dan keadaan. Menurut Hernacki dan Deporter (2011) jika siswa tiba-tiba teringat untuk menjelaskan suatu hal dalam Mind Mapping, siswa dapat dengan mudah menambahkannya di tempat yang sesuai dalam Mind Mapping tanpa harus kebingungan. Hal ini jelas sangat membantu pada saat proses pembelajaran karena siswa tidak perlu untuk mencari catatan sebelumnya untuk diurutkan.

Menurut Buzan, Mind Mapping adalah cara termudah untuk menempatkan informasi kedalam otak dan mengambil informasi keluar dari otak, Mind Mapping adalah cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harafiah akan memetakan pikiran-pikiran peserta didik (Buzan, 2013:4). Di negara-negara maju seperti daratan Eropa, USA, telah menggunakannya. Negara- negara di benua Asia, Afrika Selatan, dan Amerika Latin pun mulai menggunakan sistem ini. Di Asia, negara tetangga Indonesia, Singapura telah mewajibkan anak SD sampai Perguruan Tinggi untuk menggunakannya (Alamsyah, 2009).

Mind Mapping dapat diartikan sebagai proses memetakan pikiran untuk menghubungkan konsep-konsep permasalahan tertentu dari cabang-cabang sel saraf membentuk korelasi konsep menuju pada suatu pemahaman dan hasilnya dituangkan langsung di atas kertas dengan animasi yang disukai dan gampang dimengerti oleh pembuatnya. Sehingga tulisan yang dihasilkan merupakan gambaran langsung dari cara kerja koneksi-koneksi di dalam otak.

Metode mencatat ini didasarkan pada penelitian tentang cara otak memproses informasi, bekerja bersama otak, bukan menentangnya, sehingga Mind Mapping dapat dikatakan sebagai suatu sistem yang sesuai dengan kerja alami otak. Saat otak mengingat informasi, biasannya dilakukan dalam bentuk gambar warna warni, simbol, bunyi, dan perasaan. Menurut Alamsyah (2009), Mind Mapping dikatakan sesuai dengan kerja alami otak karena menggunakan prinsip-prinsip Brain Management yaitu menggunakan kedua belah otak

Pencatatan menggunakan metode Mind Mapping, tidak saja menggunakan otak kiri, tetapi juga menggunakan otak kanan. Perbedaan teori fungsi otak kanan dan otak kiri telah populer sejak tahun 1960. Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari 2 bagian, yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda.

Otak kiri berfungsi dalam hal-hal yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis, membaca, serta berhitung. Sedangkan otak kanan berfungsi dalam perkembangan Emotional Quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi, otak kanan juga memiliki kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari, melukis, dan segala jenis kegiatan kreatif lainnya.

Siswa dapat menggunakan warna-warna untuk percabangan-percabangan yang mengindikasikan makna tertentu. Selain itu siswa dapat melibatkan emosi, kesenanngan, kreativitas kita dalam membuat catatan. Kegunaan metode Mind Mapping untuk bidang pendidikan antara lain untuk meringkas, mengkaji ulang, mencatat, melakukan bedah buku, melakukan bedah artikel, memresentasikan bahan ajar, melakukan penelitian, mengelola waktu, mengelola diskusi kelas, dan lain-lain (Alamsyah, 2009:21)

Hasil Belajar

Pada hakikatnya belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri siswa karena adanya pengalaman dan latihan. Belajar merupakan suatu proses di mana suatu tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki melalui serentetan reaksi atau situasi (rangsang) yang terjadi. (Fauzi,

Hasil belajar merupakan hasil yang telah dicapai setelah dilaksanakan program kegiatan belajar mengajar di sekolah. Hasil belajar dalam periode tertentu dapat dilihat dari nilai raport yang secara nyata dapat dilihat dalam bentuk angka-angka. Menurut (Sudjana, 1990:22), hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Menurut Gagne dalam Sudjana (1990:22) mengungkapkan ada 5 (lima) kategori hasil belajar yakni informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap dan keterampilan motoris.

Sementara Bloom dalam Sudjana (1990:22) mengungkapkan 3 (tiga) kawasan tujuan pengajaran yang merupakan kemampuan seseorang yang harus dicapai dan merupakan hasil belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Menurut Romiszowski (Abdurrachman, 1999:38) hasil belajar merupakan keluaran (outputs) dari suatu sistem pemrosesan masukan (inputs) Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan dan kinerja (performance).hasil belajar adalah prestasi belajar yang dicapai siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan pembentukan tingkah laku seseorang. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan pembelajaran khususnya dapat dicapai.

Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran khusus, guru perlu mengadakan tes formatif pada setiap menyajikan suatu bahasan kepada siswa. Penilaian formatif ini untuk mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai tujuan pembelajaran khusus yang ingin dicapai. Fungsi penelitian ini adalah untuk memberikan umpan balik pada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan program remedial bagi siswa yang belum berhasil. Karena itulah, suatu proses belajar mengajar dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan pembelajaran  khusus dari bahan tersebut Kerangka Berfikir

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan, maka perlu diadakan pembatasan masalah agar penelitian dapat berlangsung lebih mendalam secara efektif dan efisien. Oleh karena itu,kajian penelitian ini akan dibatasi pada persoalan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS materi Penguatan Ekonomi Maritim Dan Agrikultur pada kelas VII Semester 2 SMP Kandayan Keranji Paidang ttahun pelajaran 2021/2022

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan latar belakang permasalahan, yang menjadi rumusan masalah diharapkan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidan

BAB III

METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Rancangan yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Pelaksanaan penelitian ini terdiri atas beberapa siklus. Menurut Arikunto (2012:16) setiap siklus terdiri atas 4 tahap yang lazim dilalui, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Prosedur tersebut dilakukan secara berulang sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai.

Perencanaan

Arikunto (2012: 17) menjelaskan bahwa dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Dalam tahap perencanaan ini meliputi sebagai berikut:

  1. Mempersiapkan dokumen yang diperlukan yaitu data awal hasil tes sebelum dilakukan tindakan.
  2. Menyusun perangkat pembelajaran berupa penggalan silabus, RPP, materi ajar, media pembelajaran, lembar kerja siswa (LKS), kisi-kisi soal, lembar soal evaluasi, kunci jawaban, pedoman penskoran, pedoman penilaian produk serta pedoman penilaian karakter sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan dengan menerapkan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang.
  3. Menyiapkan media audiovisual dan alat evaluasi berupa tes keterampilan proses serta lembar kerja siswa.
  4. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati keterampilan guru, aktivitas siswadalam proses pembelajaran serta alat atau instrumen pengumpulan data untuk memperkuat hasil observasi meliputi lembar pengamatan,catatan lapangan, dan dokumentasi berupa alat perekam (foto dan video).
Pelaksanaan Tindakan

Menurut Arikunto (2012:18), penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas. Sebagai pelaksana guru harus ingat dan berusaha menaati apa yang dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat. Dalam pelaksanaan PTK ini direncanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus dilaksanakan satu kali pertemuan selama 3 x 35 menit. Siklus pertama dilaksanakan pembelajaran IPS melalui penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang Siklus kedua dan ketiga yaitu melaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus sebelumnnya sampai mencapai indikator keberhasilan.

Observasi

Observasi atau pengamatan adalah kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat (Arikunto, 2012: 19).Tahap observasi peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Tahap ini berjalan bersamaan dengan saat pelaksanaan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi keduanya berjalan dalam waktu yang sama.

Kegiatan observasi dilaksanakan secara kolaboratif dengan guru pengamat untuk mengamati keterampilan guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS melalui penerapan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang.

Refleksi

Refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan (Arikunto, 2012: 19). Kegiatan refleksi ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan guru kolaborator, yaitu untuk menganalisis data hasil penelitian. Setelah mengkaji hasil belajar siswa dan hasil pengamatan pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, serta melihat ketercapaian indikator kinerja maka peneliti melakukan perbaikan pada siklus dua agar pelaksanaannya lebih efektif. Peneliti juga melihat apakah indikator kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya telah tercapai

Bila belum tercapai maka peneliti melanjutkan siklus zerikut sampai mencapai indikator penelitian

Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah guru kelas serta siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang yang berjumlah 30 siswa yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan.Sumber DataGuru Sumber data yang berasal dari guru pada penelitian ini diperoleh dari lembar pengamatan keterampilan guru pada proses pembelajaran dan catatan lapangan saat penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang diterapkan.Siswa Sumber data yang berasal dari siswa diperoleh dari data awal hasil belajar siswa sebelum dikenai tindakan, hasil pengamatan aktivfitas siswa selama proses pembelajaran dengan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang, catatan lapangan, wawancara, dan hasil evaluasi pembelajaran.

Data Dokumen Sumber data yang berasal dari dokumen diperoleh dari data awalhasil tes, hasil pengamatan selama proses pembelajaran, catatan lapangan, daftar nilai siswa dan hasil foto selama pelaksanaan tindakan.

Jenis Data

Data Kuantitatif

Data kuantitatif merupakan data mentah berupa angka dan analisis dilakukan dengan perhitungan statistik pada akhir pengumpulan data (Suprapto, 2013: 43). Data kuantitatif ini diwujudkan dari hasil belajar siswa setelah mengikuti proses pembelajara IPS dengan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang .

Data Kualitatif

Menurut Suprapto (2013: 43) data kualitatif yaitu data mentah berbentuk kata-kata, kalimat dan kadang-kadang dilengkapi dengan foto. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi dengan menggunakan lembar pengamatan keterampilan guru, aktivitas siswa, angket, serta catatan lapangan dengan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang

Teknik Pengumpulan Data

Peneliti dalam mengumpulkan data pada penelitian ini menggunakan teknik non tes dan tes.

Non tes

Teknik non tes yang digunakan antara lain adalah observasicatatan lapangan, angket, dan metode dokumentasi

Observasi

Menurut Suprapto (2013: 82) observasi adalah pengamatan yang disertai pencatatan secara sistematik tentang fenomena-fenomena yang diteliti.Hal ini senada dengan yang diungkapkan Hamdani (2011: 312) observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa obsevasi adalah proses mengamati dan mencatat hal-hal yang terjadi dari kejadian atau situasi.

Metode observasi dalam penelitian ini untuk mengetahui keterampilan guru dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan menerapkan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang. dilakukan selama pembelajaran bersama kolaborator. Dalam melakukan observasi ini peneliti menggunakan instrumen lembar pengamatan keterampilan guru dan aktivitas siswa.

Catatan Lapangan

Menurut Arikunto (2009: 207) catatan lapangan berisi catatan guru selama pembelajaran berlangsung apabila ada hal-hal yang muncul dalam proses pembelajaran, catatan lapangan berguna untuk memperkuat data yang diperoleh dalam observasi dan sebagai masukan guru dalam melakukan refleksi.

Menurut Muslich (2009: 60), teknik ini sejenis dengan catatan anekdot, tetapi mencakup kesan dan penafsiran subyektif. Deskripsi boleh mencakup rujukan atau pendapat, misalnya materi pelajaran yang menarik siswa, tindakan guru yang kurang terkontrol, perilaku siswa yang mengganggu situasi kelas dan sebagainya. Catatan lapangan dilakukan untuk memperkuat data yang diperoleh pada saaat observasi keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS.

Kuesioner (Angket)

Kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur atau responden (Arikunto, 2002:28). Angket atau kuesioner merupakan alat pengumpul data yang berisi sejumlah pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden (Sukmadinata, 2011: 219). Dalam penelitian ini angket digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang respon siswa setelah melaksanakan pembelajaran.

Dokumentasi

Menurut Sukmadinata (2011: 221) dokumentasi merupak suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa dalam proses pembelajaran IPS menggunakan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang.

Tes adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan atau sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman dan penguasaannya terhadap cakupan materi yang dipersyaratkan dan sesuai dengan tujuan pengajaran tertentu (Poerwanti, 2008:1-5).

Jadi tes adalah alat untuk memperoleh informasi baik kondisi, perkembangan atau perubahan yang diinginkan pada murid atau kelompok murid. Metode tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa yang ditunjukkan pada kemampuan dasar atau prestasi belajar siswa. Tes diberikan untuk mengetahui tingkat kemampuan kognitif siswa. Tes ini dikerjakan siswa secara individu setelah mempelajari suatu materi dengan dengan menerapkan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang . Tes ini dilakukan pada saat proses pembelajaran dan tes akhir pembelajaran pada setiap siklus.

Teknik Analisis Data
Kuantitatif

Data kuantitatif berupa hasil belajar kognitif (IPS) yang dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dengan menentukan skor yang dicapai siwa saat evaluasi, menentukan presentase ketuntasan belajar, dan menghitung mean (rata-rata kelas).Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

Menentukan skor

Menentukan presentase ketuntasan belajar

Hasil penghitungan tersebut dikonsultasikan dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) MTs Negeri 1 Jepara dengan KKM klasikal dan individual dikelompokkan ke dalam dua kategori tuntas dan tidak tuntas, dengan kriteria sebagai berikut:

Tabel 3.1. Kriteria Ketuntasan belajar

Kriteria ketuntasan

Klasilal

Kriteria Ketuntasan individu

Kualifikasi

85%

75

Tuntas

< 85%

< 75

Tidak Tuntas

Dengan demikian, dapat ditentukan jumlah siswa yang tuntas dan tidak tuntas.

Menghitung nilai rata-rata kelas / mean

Kualitatif

Data kualitatif dalam penelitian ini adalah berupa data hasil observasi keterampilan guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS menggunakan penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang dan catatan lapangan dianalisis dengan deskriptif kualitatif.

Indikator Keberhasilan

Penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang dapat meningkatkan hasil belajar pembelajaran IPS dengan indikator sebagai berikut:

Keterampilan guru dalam pembelajaran IPS melalui penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang meningkat dengan kriteria baik yaitu 22,5 ≤ skor <29,25.

Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS melalui penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS kelas VII SMP Kandayan

Keranji Paidang meningkat dengan kriteria baik 20≤ skor < 26.

Hasil belajar siswa mengalami ketuntasan klasikal sebesar 85% memperoleh nilai ≥ 75 yaitu sekitar 26 dari 30 siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang mengalami ketuntasan belajar kognitif dalam pembelajaran IPS

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

Hasil Penelitian

Penerapan model penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS terbukti dapat meningkatkan keterampilan guru dalam mengajar, keaktifan siswa dalam pembelajaran, sehingga hasil belajar IPS dapat ditingkatkan. Dalam penelitian ini dilaksanakan sebanyak tiga siklus, karena pada siklus III data yang diperoleh sudah mencapai indikator keberhasilan yang sudah ditentukan. Berikut ini akan dipaparkan hasil penelitian yang terdiri atas pemaparan observasi keterampilan guru, observasi aktivitas siswa, dan hasil belajar IPS dengan menerapkan pembelajaran penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS dalam proses pembelajaran pada siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang.

Deskripsi Data Pra Siklus

Data awal hasil belajar yang diperoleh sebelum diadakan siklus yaitu rerata kelas yang didapat 56,8 dengan nilai terendah 60 dan nilai tertinggi 80, sehingga ketuntasan klasikalnya adalah 46,67%. Jumlah siswa yang tuntas sebanyak 14 dari 30 siswa dan yang tidak tuntas sebanyak 16 dari 30 siswa.

Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan Siklus I

Keterampilan Guru dalam Pelaksanaan Siklus I

Hasil dari pengamatan observer dengan 8 kriteria penilaian keterampilan guru dalam pembelajaran IPS dengan materi melalui model pembelajaran penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS adalah sebagai berikut :

Tabel 4.1 Data Hasil Pengamatan Keterampilan Guru Siklus I

No.

Indikator Keterampilan Guru

Skor

1.

Keterampilan membuka pelajaran

3

2.

Keterampilan menjelaskan

3

3.

Keterampilan mengadakan variasi gaya mengajar

3

4.

Keterampilan mengelola kelas

4

5.

Keterampilan memberikan penguatan

4

6.

Keterampilan menggunakan metode pembelajaran Mind Mapping

2

7.

Keterampilan menggunakan media Pembelajaran

3

8.

Keterampilan menutup pelajaran

3

JUMLAH

25

KUALIFIKASI

BAIK

Klasifikasi kategori nilai untuk lembar keterampilan guru adalah sebagai berikut.

Kriteria Keterampilan Guru

Kategori

Nilai

27,25 ≤ skor ≤ 32

Sangat baik

A

20 ≤ skor ≤ 27,25

Baik

B

13,75 ≤ skor ≤20

Cukup

C

8 ≤ skor ≤ 13,75

Kurang

D

Berdasarkan tabel 4.1 diatas, ada aspek keterampilan guru yang diamati dengan pencapaian skor 25 dengan mengacu pengolahan data skor menurut Herrhyanto (2007: 5.3-5.4) pada tabel deskriptif keterampilan guru, sehingga dapat disimpulkan bahwa keterampilan guru siklus I masuk dalam kategori baik.

Sesuai dengan hasil pengamatan keterampilan guru secara keseluruhan dalam pembelajaran IPS menunjukkan bahwa guru sudah baik dalam mengelola pembelajaran. Pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun dalam rencana pembelajaran.

Aktivitas Siswa dalam Pelaksanaan Siklus I

Pada siklus I, selain mengobservasi keterampilan guru, setiap kejadian, perilaku, dan perubahan pada siswa dalam pembelajaran menggunakan model penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS juga diamati dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa.

Hasil pengamatan aktivitas siswa pada siklus I dalam proses pembelajaran dipaparkan dalam tabel berikut ini.

Tabel 4.2 Data Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Kelas VII Siklus I

No

Indikator

Skala Penilaian

Jumlah skor

Rata- rata skor

1

2

3

4

1.

Kesiapan siswa menerima pelajaran (emotional activities)

20

80

2

2.

Keterlibatan siswa mengikuti pembelajaran (mental dan oral activities)

14

13

93

2,32

3.

Terampil mengemukakan ide (Think) (emotional activities, oral activities, and writing activities)

17

6

86

2,15

4.

Kemampuan siswa berdiskusi secara berpasangan (Pair) (emotional activities, mental activities, writing activities, and oral activities)

15

11

91

2,27

5.

Kemampuan siswa mempresentasikan hasil kelompok (Share)(oral activities, mental acitVities, visual activities)

13

14

91

2,27

6.

Kemampuan siswa dalam menyimak Pembelajaran (listening activities, oral activities, mental activities, visual activities)

14

13

90

2,25

7.

Kemampuan siswa mengerjakan soal evaluasi (visual activities, mental activities)

12

17

88

2,2

JUMLAH SKOR

619

JUMLAH RATA-RATA SKOR

15,7

KUALIFIKASI

CUKUP

Klasifikasi kategori nilai untuk lembar aktivitas siswa adalah sebagai berikut.

Skor

Nilai

Ketuntasan

23 ≤ skor ≤ 28

Sangat Baik

Tuntas

17,5 ≤ skor < 23

Baik

Tuntas

12 ≤ skor < 17,5

Cukup

Tidak tuntas

7 ≤ skor < 12

Kurang

Tidak tuntas

Klasifikasi kategori nilai untuk setiap indikator aktivitas siswa sebagai berikut.

66

Skor

Nilai

Ketuntasan

23 ≤ skor ≤ 28

Sangat Baik

Tuntas

17,5 ≤ skor < 23

Baik

Tuntas

12 ≤ skor < 17,5

Cukup

Tidak tuntas

7 ≤ skor < 12

Kurang

Tidak tuntas

Klasifikasi kategori nilai untuk setiap indikator aktivitas siswa sebagai berikut.

Skor

Nilai

Ketuntasan

3,26 ≤ skor ≤ 4

Sangat Baik

Tuntas

2,6 ≤ skor < 3,26

Baik

Tuntas

1,76 ≤ skor < 2,5

Cukup

Tidak Tuntas

1 ≤ skor < 1,75

Kurang

Tidak Tuntas

(Kreatif Jurnal Kependidikan Dasar, 2011: 321)

Hasil Belajar Siswa dalam Pelaksanaan Siklus II

Hasil tes pada siklus II merupakan hasil tes individu dalam pembelajaran IPS melalui model penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS . Jumlah siswa yang mengikuti tes siklus II berjumlah 30 siswa. Tes pada siklus II dilakukan dengan cara mengerjakan soal evaluasi pada materi Penguatan Ekonomi Maritim dan Agrikultur. Hasil tes pada mata pelajaran IPS materi Penguatan Ekonomi Maritim dan Agrikultur melalui model penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut.

Tabel 4.7 Data Hasil Belajar Siswa Kelas VII Siklus II

No.

Keterangan

Skor

1.

Rata-Rata Kelas

78,70

2.

Nilai Tertinggi

100

3.

Nilai Terendah

60

4.

Siswa Memenuhi KKM

24

5.

Siswa Belum Memenuhi KKM

6

6.

Ketuntasan Belajar Klasikal

80%

 Berdasarkan tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal pada siklus II sebesar 80% dengan perolehan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60, Siswa yang memenuhi KKM sebanyak 24 siswa dan yang belum memenuhi KKM sebanyak 6 siswa dengan pencapaian ketuntasan belajar klasikal sebesar 80% dalam kategori baik berdasarkan Aqib (2010:41).

Nilai siswa dalam pembelajaran IPS melalui model penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS pada siklus II dipaparkan dalam tabel distribusi nilai sebagai berikut

Tabel 4.8 Distribusi Nilai Hasil Belajar Siswa Kelas VIII B Siklus II

No

Kategori

Rentang Nilai

Frekuensi

Persentase

1

Tidak Tuntas

<62

1

3,33%

2

Tidak Tuntas

62-74

5

16,67%

3

Tuntas

75-87

19

63,33%

4

Tuntas

88-100

5

16,67%

Jumlah 30

100 %

Berdasarkan tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang pada rentang nilai <62 berkisar sebesar 3,33% atau sebanyak 1 siswa mendapatkan nilai pada rentangan tersebut. Sedangkan pada rentang 62-74 berkisar sebesar 16,67% atau sebanyak 5 siswa yang mendapatkan nilai pada rentangan tersebut. Pada rentangan nilai tersebut siswa dikategorikan belum tuntas karena Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75. Pada siklus II ini siswa yang belum mencapai ketuntasan adalah sebanyak 6 siswa. Kemudian, pada rentang 75-87 berkisar sebesar 63,33% atau sebanyak 19 siswa dan pada rentang 88-100 yang berkisar sebesar 16,67% atau sebanyak 5 siswa dikategorikan tuntas karena telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75.

Apabila melihat data pada perolehan pada siklus I, tentu saja siklus II ini mengalami peningkatan. Dibuktikan dengan meningkatnya persentase ketuntasan klasikal yang pada siklus I hanya sebesar 63,33% atau sebanyak 19 siswa yang mencapai KKM, pada siklus II diperoleh sebesar 80% atau 24 siswa yang sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Selain itu, persebaran data juga mengalami peningkatan. Pada siklus I, frekuensi siswa paling banyak adalah pada rentangan 75-87, ada 17 siswa yang berada pada rentangan tersebut. Kemudian, pada siklus II frekuensi paling banyak adalah pada rentangan yang sama yakni nilai 75-87. Rentangan tersebut diperoleh jumlah siswa sebanyak 19 siswa. Selain itu, rentangan tersebut berada di atas rata-rata kelas yang diperoleh pada siklus II yaitu 78,70. Untuk melihat peningkatan yang terjadi akan dijabarkan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.9 Perbandingan Hasil Belajar Siswa antara Siklus I dengan Siklus II

Siklus I

Siklus II

Rentang

(f)

%

Rentang

(f)

%

<62

4

13,33%

<62

1

3,33%

62-74

7

23,33%

62-74

5

16,67%

75-87

17

56,67%

75-87

19

63,33%

88-100

2

6,67%

88-100

5

16,67%

Jumlah

30

100%

Jumlah

30

100%

Ketuntasan Klasikal

63,33%

Ketuntasan Klasikal

80%

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa siklus I ketuntasan klasikal hasil belajar siswa sebesar 63,33% dan siklus II ketuntasan klasikal hasil belajar siswa sebesar 80%. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal hasil belajar pada pembelajaran IPS melalui metode pembelajaran Mind Mapping dengan Pembelajaran pada siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang belum mengalami ketuntasan klasikal yang telah ditentukan sebanyak 85%.

Refleksi Siklus II

Berdasarkan hasil penelitian siklus II, diperoleh data berupa hasil observasi keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS melalui metode pembelajaran Mind Mapping dengan Pembelajaran perlu dianalisis kembali sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki pembelajaran siklus III.

Adapun refleksinya adalah sebagai berikut :

Ketrampilan Guru

Keterampilan guru dalam mengajar meningkat, dimana guru sudah melakukan apersepsi dengan baik, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang diberikan sudah berkaitan dengan materi yang akan disampaikan, namun guru harus lebih jelas dan tegas dalam memberikan instruksi kepada siswa.

Guru belum maksimal dalam menuntun siswa menemukan sendiri jawaban yang benar.Aktivitas siswa dalam pembelajaran meningkat, dimana siswa lebih dapat dikondisikan pada saat awal pembelajaran, meskipun masih ada beberapa anak yang belum siap untuk menerima pelajaran.

Pada saat kegiatan diskusi, siswa sudah berusaha untuk memahami dan mencari pemecahan masalah yang sesuai dengan permasalahan dengan baik dan benar namun masih ada siswa yang bergurau dan tidak ikut berdiskusi dengan kelompoknya.

Aktivitas Siswa

Sebagian siswa tidak mendengarkan/ memperhatikan siswa yang sedang mempresentasikan hasil diskusi kelompok siswa lain.

Hasil Belajar

Hasil belajar siswa pada siklus II meningkat dibandingkan dengan hasil belajar siswa pada siklus I.

Hasil belajar yang diperoleh masih belum sesuai dengan indikator keberhasilan yang ingin dicapai. Ketuntasan klasikal hasil belajar siswa adalah 70% dan rata-rata nilai siswa 78,70.

Berdasarkan hasil refleksi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran IPS melalui metode pembelajaran Mind Mapping dengan Pembelajaran perlu diperbaiki dengan melanjutkan ke siklus III karena indikator keberhasilan belum terpenuhi secara menyeluruh. Oleh karena itu, hal-hal yang perlu diperbaiki dan diadakan revisi untuk tahap pelaksanaan berikutnya adalah:

  1. Guru harus lebih jelas dan tegas dalam memberikan instruksi dan penjelasan secara maksimal.
  2. Guru harus berusaha semaksimal mungkin dalam menuntun siswa menemukan sendiri jawaban yang benar
  3. Guru harus dapat meningkatkan pengelolaan kelas agar dapat mengkondisikan siswa pada saat awal pembelajaran sehingga siswa siap untuk menerima pelajaran dan juga tidak ada siswa yang bergurau sendiri saat diskusi berlangsung.
  4. Guru harus memperhatikan pengelolaan waktu agar sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dirancang sehingga pembelajaran dapat efektif.
Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan Siklus III

Berdasarkan hasil analisis dan refleksi siklus II, maka peneliti bersama observer melakukan identifikasi permasalahan dan merumuskan pemecahan masalah untuk memperbaiki RPP dan langkah-langkah pembelajaran, serta instrumen-instrumen penelitian.

Keterampilan Guru dalam Pelaksanaan Siklus III

Hasil dari pengamatan observer dengan 8 kriteria penilaian keterampilan guru dalam pembelajaran IPS dengan materi melalui model pembelajaran penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS adalah sebagai berikut :

Tabel 4.10 Data Hasil Pengamatan Keterampilan Guru Siklus III

No.

Indikator Keterampilan Guru

Skor

1.

Keterampilan membuka pelajaran

4

2.

Keterampilan menjelaskan

4

3.

Keterampilan mengadakan variasi gaya mengajar

4

4.

Keterampilan mengelola kelas

4

5.

Keterampilan memberikan penguatan

3

6.

Keterampilan menggunakan metode pembelajaran Mind Mapping

4

7.

Keterampilan menggunakan media CD

Pembelajaran

3

8.

Keterampilan menutup pelajaran

4

JUMLAH

30

KUALIFIKASI

SANGAT BAIK

Klasifikasi kategori nilai untuk lembar keterampilan guru adalah sebagai berikut.

Kriteria Keterampilan Guru

Kategori

Nilai

27,25 ≤ skor ≤ 32

Sangat baik

A

20 ≤ skor ≤ 27,25

Baik

B

13,75 ≤ skor ≤20

Cukup

C

8 ≤ skor ≤ 13,75

Kurang

D

Berdasarkan tabel 4.10 diatas, ada aspek keterampilan guru yang diamati dengan pencapaian skor 30 dengan mengacu pengolahan data skor menurut Herrhyanto (2007: 5.3-5.4) pada tabel deskriptif keterampilan guru, sehingga dapat disimpulkan bahwa keterampilan guru  siklus III masuk dalam kategori sangat baik.

Sesuai dengan hasil pengamatan keterampilan guru secara keseluruhan dalam pembelajaran IPS menunjukkan bahwa guru sudah baik dalam mengelola pembelajaran. Pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Berdasarkan diagram 4.9 keterampilan guru pada siklus III meningkat dibandingkan siklus II dan siklus I. Hasil dari keterampilan guru berdasarkan jumlah skor pada siklus I yaitu 25 dengan kategori baik sedangkan siklus II yaitu 27 dengan kategori baik dan pada siklus III yaitu 30 dengan kategori sangat baik.

Aktivitas Siswa dalam Pelaksanaan Siklus III

Pada siklus III, selain mengobservasi keterampilan guru, setiap kejadian, perilaku, dan perubahan pada siswa dalam pembelajaran menggunakan model penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS juga diamati dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa.

Hasil pengamatan aktivitas siswa pada siklus III dalam proses pembelajaran dipaparkan dalam tabel berikut ini.

Tabel 4.11 Data Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Kelas VII Siklus III

No

Indikator

Skala Penilaian

Jumlah skor

Rata- rata skor

1

2

3

4

1.

Kesiapan siswa menerima pelajaran (emotional activities)

5

22

13

128

3,2

2.

Keterlibatan siswa mengikuti pembelajaran (mental dan oral activities)

29

11

131

3,27

3.

Terampil mengemukakan ide (Think) (emotional activities, oral activities, and writing activities)

7

20

13

126

3,15

4.

Kemampuan siswa berdiskusi secara berpasangan (Pair)(emotional activities, mental activities, writing activities, and oral activities)

5

23

12

127

3,17

5.

Kemampuan siswa mempresentasikan hasil kelompok (Share)(oral activities, mental acitVities, visual activities)

3

25

12

129

3,22

6.

Kemampuan siswa dalam menyimak Pembelajaran (listening activities, oral activities, mental activities, visual activities)

3

19

18

135

3,37

7.

Kemampuan siswa mengerjakan soal evaluasi (visual activities, mental activities)

20

20

140

3,5

JUMLAH SKOR

916

JUMLAH RATA-RATA SKOR

22,9

KUALIFIKASI

BAIK

Klasifikasi kategori nilai untuk lembar aktivitas siswa adalah sebagai berikut.

Skor

Nilai

Ketuntasan

23 ≤ skor ≤ 28

Sangat Baik

Tuntas

 

17,5 ≤ skor < 23

 

Baik

 

Tuntas

 

12 ≤ skor < 17,5

 

Cukup

 

Tidak tuntas

 

7 ≤ skor < 12

 

Kurang

 

Tidak tuntas

Klasifikasi kategori nilai untuk setiap indikator aktivitas siswa sebagai berikut.

Skor

Nilai

Ketuntasan

3,26 ≤ skor ≤ 4

Sangat Baik

Tuntas

2,6 ≤ skor < 3,26

Baik

Tuntas

1,76 ≤ skor < 2,5

Cukup

Tidak Tuntas

1 ≤ skor < 1,75

Kurang

Tidak Tuntas

(Kreatif Jurnal Kependidikan Dasar, 2011: 321)

Aktivitas siswa mengalami peningkatan pada siklus III dibandingkan siklus I. Hasil aktivitas siswa pada siklus I yaitu 15,7 dengan kategori cukup sedangkan siklus II yaitu 18,2 dengan kategori baik, sedangkan siklus III yaitu 22,9 dengan nilai kategori baik, sehingga aktivitas siswa mengalami peningkatan sebanyak 7,2 dari siklus I. Hasil Belajar Siswa dalam Pelaksanaan Siklus III

Hasil tes pada siklus III merupakan hasil tes individu dalampembelajaran IPS melalui model penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS . Jumlah siswa yang mengikuti tes siklus III berjumlah 30 siswa. Tes pada siklus III dilakukan dengan cara mengerjakan soal evaluasi pada materi Penguatan Ekonomi Maritim dan Agrikultur. Hasil tes pada mata pelajaran IPS materi Penguatan Ekonomi Maritim dan Agrikultur melalui model penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut.

Tabel 4.12

Data Hasil Belajar Siswa Kelas VII Siklus III

No.

Keterangan

Skor

1.

Rata-Rata Kelas

85,77

2.

Nilai Tertinggi

100

3.

Nilai Terendah

75

4.

Siswa Memenuhi KKM

30

5.

Siswa Belum Memenuhi KKM

0

6.

Ketuntasan Belajar Klasikal

100%

Berdasarkan tabel 4.12 di atas menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal pada siklus III sebesar 100% dengan perolehan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 75, Siswa yang memenu

KKM sebanyak 30 siswa dengan pencapaian ketuntasan belajar klasikal sebesar 100% dalam kategori baik berdasarkan Aqib (2010:41).

Nilai siswa dalam pembelajaran IPS melalui model penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS pada siklus III dipaparkan dalam tabel distribusi nilai sebagai berikut.

Tabel 4.13 Distribusi Nilai Hasil Belajar Siswa Kelas VIII B Siklus III

No

Kategori

Rentang Nilai

Frekuensi

Persentase

1

Tidak Tuntas

<62

0

0,00

2

Tidak Tuntas

62-74

0

0,00

3

Tuntas

75-87

18

60%

4

Tuntas

88-100

12

40%

Jumlah 30

100 %

Berdasarkan tabel 4.13 di atas menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang pada rentang nilai <62 berkisar sebesar 0% atau tidak ada siswa mendapatkan nilai pada rentangan tersebut. Sedangkan pada rentang 62-74 berkisar sebesar 0% atau tidak ada siswa yang mendapatkan nilai pada rentangan tersebut. Pada rentangan nilai tersebut siswa dikategorikan belum tuntas karena Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75. Pada siklus III ini siswa yang belum mencapai ketuntasan adalah sebanyak 0 siswa. Kemudian, pada rentang 75-87 berkisar sebesar 60% atau sebanyak 18 siswa dan pada rentang 88-100 yang berkisar sebesar 40% atau sebanyak 12 siswa dikategorikan tuntas karena telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75.

Hasil tes tersebut merupakan perolehan dari soal evaluasi siklus III yang diberikan oleh guru dengan beberapa macam soal. Bagian I yaitu pilihan ganda dengan jumlah 10 soal, Bagian II yaitu jawaban singkat dengan jumlah 10 soal, dan Bagian III yaitu jawaban uraian dengan jumlah 5 soal. 30 orang siswa dalam kategori tuntas dan mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu 75. Untuk melihat peningkatan yang terjadi dari hasil belajar siswa kelas VIII B pada siklus I, siklus II, dan siklus III akan dijabarkan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.14 Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas VII Pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III

No

Rentang

Siklus I

Siklus II

Siklus III

(f)

%

(f)

%

(f)

%

1.

<62

4

13,33%

1

3,33%

0

0,00

2.

62-74

7

23,33%

5

16,67%

0

0,00

3.

75-87

17

56,67%

19

63,33%

18

60%

4.

88-100

2

6,67%

5

16,67%

12

50%

Jumlah

30

100%

30

100%

38

100%

Ketuntasan Klasikal

63,33%

80%

100%

Berdasarkan data tabel 4.14 menunjukkan bahwa pada siklus I ketuntasan klasikal siswa 63,33%, siklus II mencapai 80%, dan siklus III telah mengalami ketuntasan klasikal kelas mencapai 100%.

Refleksi Siklus III

Berdasarkan hasil penelitian siklus III, diperoleh data berupa hasil observasi keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS melalui model penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS kembali sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya.

Adapun refleksinya adalah sebagai berikut :

  1. Keterampilan guru dalam mengajar meningkat, dimana guru sudah melakukan apersepsi dengan baik, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang diberikan sudah berkaitan dengan pada materi yang akan disampaikan, menciptakan susasana belajar yang kondusif dan menyenangkan, pertanyaan yang diberikan kepada siswa sudah menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, sehingga siswa termotivasi untuk belajar, guru sudah luwes dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan model penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS , guru sudah membimbing dan memfasilitasi siswa secara maksimal dalam berdiskusi, guru memberikan kesempatan bertanya kepada siswa yang belum jelas terhadap materi yang telah disampaikan, kemudian guru memberi penguatan agar siswa termotivasi dalam pembelajaran, pengelolaan waktu sudah sesuai dengan yang direncanakan dalam RPP.
  2. Aktivitas siswa dalam pembelajaran meningkat, dimana siswa lebih dapat dikondisikan pada saat awal pembelajaran, siswa duduk tenang dan perhatiannya terpusat ke guru. Siswa mau memperhatikan penjelasan guru saat menerangkan tentang materi dan juga pada saat memberikan pengarahan diskusi kelompok, sehingga dalam pengerjaan tugas kelompok perencanaan pemecahan masalah sesuai dengan identifikasi masalah dan permasalahan yang diberikan dalam bentuk gambar. Keaktifan siswa dalam pembelajaran juga terlihat dari keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Pada setiap kesempatan yang diberikan oleh guru sudah dimanfaatkan siswa untuk mengemukakan pendapat. Guru mengikutsertakan siswa untuk berpendapat. Sebagian besar siswa telah berani dan antusias mempresentasikan hasil diskusi kelompok.
  3. Hasil belajar siswa pada siklus III yang diperoleh ketuntasan klasikal 100% dengan rerata kelas 85,77 yaitu 30 siswa sudah tuntas dalam KKM, dan tidak ada siswa yang belum tuntas KKM. Nilai terendah pada siklus III yaitu 75 dan nilai tertinggi yaitu 100. Hasil tersebut sudah memenuhi kriteria indikator keberhasilan yang direncanakan yaitu 85% siswa tuntas belajar dengan memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75.

Berdasarkan hasil refleksi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran IPS melalui model penggunaan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS pada siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang.

Pembahasan
Keterampilan Guru dalam Mengelola Pembelajaran IPS

Berdasarkan hasil pengamatan langsung pada saat proses pembelajaran, keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran diperoleh data hasil pengamatan pada siklus I. Pada siklus I terdapat 8 aspek keterampilan guru yang diamati dengan pencapaian skor 25 dengan nilai kategori baik

Hubungan metode pembelajaran Mind Mapping dengan Pembelajaran terhadap ketrampilan guru yaitu bisa dilihat dari ketercapaian indikator yang ingin dicapai. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Djamarah (2010: 43-49) menjelaskan bahwa guru memiliki peran yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, siapa saja yang telah menerjunkan diri menjadi guru, berikut merupakan peran guru dalam pembelajaran melalui korektor, inspirator, informator, organisator, motivator, inisiator, fasilitator, pembimbing, demonstrator, pengelola kelas, mediator, supervisor, dam evaluator.

Aktivitas Siswa

Aktivitas siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat di sekolah-sekolah tradisional. Aktivitas merupakan asas terpenting dalam belajar. Belajar adalah aktivitas yang dilakukan individu secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari apa yang telah dipelajari dan sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan sekitar. Aktivitas disini dipshami sebagai serangkaian kegiatan jiwa, raga, psikofisik menuju perkembangan pribadi individu seutuhnya, yang menyangkut unsur cipta (kognitif), rasa (afektif), karsa (psikomotorik) (Djamarah, 2008:2).

Hubungan metode pembelajaran Mind Mapping dengan Pembelajaran terhadap aktivitas siswa yaitu hal ini bisa dilihat dari ketercapaian indikator yang ingin dicapai. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Djamarah (2010:38-45) aktivitas belajar terdiri dari mendengarkan, meraba, membau dan mencicipi, menulis, membaca, membuat ikhtisar dan menggaris bawahi, mengamati tabel, diagram dan bagan, menyusun kertas kerja, mengingat, berfikir, latihan atau praktek.

Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa pada siklus I pada pembelajaran IPS kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang pada rentang nilai <62 berkisar sebesar 13,33% atau sebanyak 4 siswa mendapatkan nilai pada rentangan tersebut.

Sedangkan pada rentang 62-74 berkisar sebesar 23,33% atau sebanyak 7 siswa yang mendapatkan nilai pada rentangan tersebut. Pada rentangan nilai tersebut siswa dikategorikan belum tuntas karena Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75. Pada siklus I ini siswa yang belum mencapai ketuntasan adalah sebanyak 11 siswa. Kemudian, pada rentang 75-87 berkisar sebesar 56,67% atau sebanyak 17 siswa dan pada rentang 88-100 yang berkisar sebesar 6,67% atau sebanyak 2 siswa dikategorikan tuntas karena telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75. Hal ini sesuai dengan pemikiran Gagne (dalam Suprijono, 2009:5), hasil belajar berupa Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis, keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang dan strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri.

Hasil belajar siswa pada siklus II pada pembelajaran IPS kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang pada rentang nilai <62 berkisar sebesar 3,33% atau sebanyak 1 siswa mendapatkan nilai pada rentangan tersebut. Sedangkan pada rentang 62-74 berkisar sebesar 23,33% atau sebanyak 5 siswa yang mendapatkan nilai pada rentangan tersebut. Pada rentangan nilai tersebut siswa dikategorikan belum tuntas karena Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 75.

BAB V

SIMPULAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas mengenai keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS dengan menggunakan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang pada siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang, maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran seperti uraian berikut :

Keterampilan guru dalam menerapkan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang pada mata pelajaran IPS meningkat secara bertahap pada siklus I mendapatkan skor 25 dengan kategori baik. Pada siklus II keterampilan guru mendapatkan skor 27 dengan kategori baik sedangkan pada siklus III skor keterampilan guru mencapai 30 dengan kategori sangat baik. Keterampilan guru telah mencapai indikator keberhasilan yaitu sekurang- kurangnya mencapai kategori baik.

Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS melalui menerapkan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang dapat meningkat dilihat dari pembelajaran siklus I aktivitas siswa memperoleh rata-rata 15,7 dalam kategori cukup, setelah dilakukan perbaikan pada siklus II aktivitas siswa diperoleh skor 18,2 dalam kategori baik, selanjutnya dilakukan perbaikan pada siklus III aktivitas siswa memperoleh peningkatan mencapai 14,2 sehingga diperoleh rata-rata skor 29,9 dalam kategori baik. Hal ini telah mencapai indikator keberhasilan yaitu aktivitas siswa sekurang- kurangnya mencapai kategori baik.

Hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS melalui metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang mengalami peningkatan yang signifikan dapat dilihat pada saat pra siklus dengan pencapaian rata-rata kelas sebesar 56,80 dengan ketuntasan klasikalnya 46,64% dalam kategori kurang. Setelah diadakan perbaikan pada siklus I, pencapaian rata-rata kelas sebesar 72,27 dengan ketuntasan klasikal 63,27% dalam kategori cukup. Kemudian setelah diadakan perbaikan pada pada siklus II, pencapaian rata-rata hasil belajar siswa menjadi 78,70 dengan ketuntasan klasikal 80% dalam kategori baik. Setelah diadakan perbaikan lagi, pencapaian rata-rata hasil belajar siswa pada siklus III meningkat menjadi 85,77 dengan ketuntasan klasikal 100% dalam kategori sangat baik. Hasil belajar IPS siswa sudah memenuhi indikator keberhasilan yaitu sekurang-kurangnya ketuntasan klasikal mencapai 85% dengan KKM IPS di kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang adalah 75.

Dengan demikian hipotesis tindakan bahwa metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang terdiri dari keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar IPS kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidangtelah terbukti kebenarannya.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian melalui penerapan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang pada siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidangmaka saran yang dapat disampaikan, sebagai berikut :

Manfaat Teoritis

Secara teoritis manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu untuk menambah khasanah ilmu pendidikan khususnya tentang meningkatkan prestasi belajar menggunakan metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang .

Manfaat Praktis

Bagi Guru

Penerapan pembelajaran terbukti dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS yaitu pada keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar. Oleh karena itu, metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang dapat dijadikan acuan guru sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada mata pelajaran yang lain. Serta mampu menciptakan kegiatan belajar yang bermakna, menarik, dan menyenangkan.

Bagi Sekolah

Penelitian melalui metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut, baik oleh guru, lembaga maupun pengembangkan pendidikan lainya, sehingga metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang menjadi lebih baik, dan tujuan pembelajaran semakin efektif dan efisien. Selain itu menambah pengetahuan bagi guru-guru di SMP Kandayan Keranji Paidang tentang metode pembelajaran Mind Mapping pada pelajaran IPS siswa kelas VII SMP Kandayan Keranji Paidang dan memberi kontribusi yang lebih baik dalam perbaikan pembelajaran, sehingga mutu sekolah dapat meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulhak ,Ishak dan Ugi Suprayogi. 2007. Penelitian Tindakan dlam Pendidikan Nonformal. Jakarta: Raja Grafik Persada.

Agus Suprijono. (2009). Cooperative Learning: Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Arif Rohman (2009). Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: LaksBang Mediatama Yogyakarta.

Djamarah dan Zain. (2016). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Dwi Siswoyo, dkk. (2008). Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Elaine B.Johnson (2016). Contextual Teaching and Learning, (Alih bahasa: Ibnu Setiawan). Bandung: Mizan Learning Center (MLC)

Hamzah B. Uno. (2011). Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

I.L.Pasaribu dan B. Simanjuntak. 2013. Proses Belajar Mengajar. Bandung : Tarsito

Isjoni. 2010. Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta

Kasihani Kasbolah. (2013). Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Nurhadi. (2012). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning).Jakarta. Depdiknas Dirjen Dikdasmen.

Nursisto. (2011). Penuntun Mengarang. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Redaksi Sinar Grafika (eds). (2016). Permendiknas 2016 tentang SL & SKL. Jakarta: Sinar Grafika.

Rita Eka E,dkk. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press.

Riduwan dan Akdon. (2017). Rumus dan Data dalam Analisis Statistika. Bandung:Alfabeta

Slameto (2010). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Suharsimi Arikunto. (2016). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rienka Cipta.

Suwito. 2013. Pengantar Awal Sosiolinguistik Teori dan Problema. Surakarta UNS Press.

Wina Sanjaya. (2016). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top