Guraru

”Penggunaan Media Gambar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran IPS”. (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII SMP YPPGI Agats Kabupaten Asmat).

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Proses pembelajaran yang diselenggarakan secara formal di sekolah dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan diri peserta didik secara terencana baik aspek pengetahuan, ketrampilan maupun sikap. Mata pelajaran IPS juga memiliki tujuan agar peserta didik memiliki perubahan pada aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Namun banyaknya materi bahasan yang dibebankan oleh kurikulum dengan keterbatasan waktu yang tersedia merupakan kendala bagi guru untuk dapat mengoptimalkan pembelajaran. Untuk mengejar target kurikulum, guru dalam pembelajaran cenderung lebih menekankan penguasaan materi ajar (Saidihardjo, 2005: 111).

Kondisi seperti ini mengakibatkan motivasi anak untuk belajar sangat rendah. Sehingga nilai yang diperoleh peserta didik pun masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian mata pelajaran IPS kelas VII  SMP YPPGI Agats yaitu 65,3 dari jumlah peserta didik sebanyak 14 peserta didik, padahal batas ketuntasan minimal untuk pelajaran IPS adalah 70.

Peserta didik kelas VII SMP YPPGI Agats merasa cepat bosan dan sulit untuk menangkap atau menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru, hal ini disebabkan guru hanya menerangkan saja yang pada akhirnya peserta didik mengalami kejenuhan pada peserta didik. Inilah yang menyebabkan guru harus mengupayakan agar perhatian peserta didik dapat terfokus terhadap  pelajaran yang disampaikan.

Untuk mengupayakan agar peserta didik lebih perhatian sewaktu berlangsungnya pembelajaran, maka guru harus selalu melakukan inovasi dalam melaksanakan pembelajaran sehingga pembelajaran tidak monoton. Salah satunya adalah mencobakan penggunaan media gambar sebagai media pembelajaran yang digunakan untuk mengajarkan materi Potensi sumber daya alam Indonesia, karena dengan penggunaan media gambar ini peserta didik dapat melihat dengan jelas  apa saja yang termasuk Potensi sumber daya alam Indonesia seperti letak Indonesia,  relief daratan Indonesia, dan persebaran jenis tanahnya. Dengan penggunaan media gambar ini, diharapkan peserta tidak merasa jenuh lagi karena mereka tidak lagi berfantasi seperti apa relief daratan Indonesia yang dijelaskan oleh guru itu, tapi mereka bisa melihatnya langsung pada media gambar. Media gambar ini juga diterapkan agar dapat membantu guru khususnya dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Penggunaan media dalam pembelajaran merupakan salah satu upaya yang digunakan untuk memotivasi peserta didik agar mau belajar. Selain memotivasi peserta didik penggunaan media dapat mempermudah suatu proses pembelajaran yang sulit untuk diterima hanya dengan kata-kata saja. Dalam hal ini media yang digunakan adalah media gambar karena gambar bersifat lebih konkrit. Dengan gambar upaya untuk mengingat dan menarik kembali informasi di kemudian hari akan lebih mudah daripada menggunakan cara pencatatan dengan tulisan dan kata saja.

Penggunaan media pembelajaran terutama media gambar mempunyai pengaruh yang positif terhadap proses belajar yaitu bahwa media gambar yang digunakan dalam sebuah pembelajaran akan menarik perhatian peserta didik serta dapat memperjelas sajian ide.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa begitu besar pengaruh media gambar terhadap pembelajaran. Penggunaan media gambar dalam pembelajaran berdasarkan pada suatu fenomena yang menunjukkan bahwa kebanyakan orang lebih suka melihat gambar, apalagi anak-anak. Tujuan ini berdasarkan pada fungsi dari media gambar, yaitu membantu meningkatkan kemampuan peserta didik terhadap hal-hal yang abstrak atau peristiwa yang tidak mungkin dihadirkan di dalam kelas seperti materi Potensi sumber daya alam Indonesia.

Media adalah alat atau sarana komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk. Sedangkan media pendidikan atau pengajaran adalah alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengajaran atau pembelajaran (KBBI, 2002:726). Sedangkan menurut Djamarah (2006:121) mengemukakan bahwa:”media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran”.

Berdasarakan uraian dan kondisi di lapangan yang diungkapkan di atas peneliti untuk mengadakan penelitian tindakan kelas ini dengan judul ”Penggunaan Media Gambar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran IPS”. (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII SMP YPPGI Agats Kabupaten Asmat).

B.  Identifikasi dan Perumusan Masalah

  1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah dalam kegiatan belajar mengajar sebagai berikut:

  1. Apakah pengguaan media dalam pembelajaran IPS pokok bahasan Potensi sumber daya alam Indonesia itu efektif?
  2. Apakah penggunaan media dalam pembelajaran IPS pokok bahasan Potensi sumber daya alam Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik?
  3. Bagaimana meningkatka hasil belajar IPS menggunakan media gambar pada peserta didik di kelas VII SMP YPPGI Agats?
  4. Faktor apa saja yang mendukung penggunaan media dalam pembelajaran IPS pokok bahasan Potensi sumber daya alam Indonesia?
  5. Faktor apa saja yang menghambat penggunaan media dalam pembelajaran IPS pokok bahasan Potensi sumber daya alam Indonesia?

2.  Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan latar belakang masalah, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana meningkatkan hasil belajar menggunakan media gambar pada pelajaran IPS pokok bahasan Potensi sumber daya alam Indonesia di kelas VII SMP YPPGI Agats?
  2. Bagaimana hasil belajar peserta didik menggunakan media gambar pada pelajaran IPS pokok bahasan Potensi sumber daya alam Indonesia VII SMP YPPGI Agats?

C.  Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki dua tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus, yang dapat dirinci sebagai berikut:

1.     Tujuan umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan media gambar untuk   meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPS.

2.  Tujuan Khusus

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar menggunakan media gambar pada pelajaran IPS pokok bahasan Potensi sumber daya alam Indonesia di kelas VII SMP YPPGI Agats.
  2. Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik menggunakan media gambar pada pelajaran IPS pokok bahasan Potensi sumber daya alam Indonesia di kelas VII SMP YPPGI Agats.

D.  Manfaat Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Bagi peserta didik
  2. Meningkatkan peran serta peserta didik dalam kegiatan pembelajaran
  3. Meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran secara terintegrasi pada aspek kognitif, afektif, dan
  4. Bagi Guru:
    1. Menemukan solusi bagi permasalahan dalam pembelajaran
    2. Menemukan solusi yang tepat bagi peningkatan hasil belajar pada peserta didik.
    3. Meningkatkan profesionalisme

Keempat tahap penelitian tindakan kelas di atas dilakukan dengan sebelumnya melakukan analisis situasi pembelajaran memahami lingkungan kehidupan manusia dengan memperhatikan aspek kemampuan analisis Peserta didik, perilaku penilaian guru, dan tahapan – tahapan pembelajaran  yang dilakukan selama ini.

F.   Subjek Penelitian

Yang menjadi subjek penelitian Peserta didik kelas VII SMP YPPGI Agats sebanyak 37 terdiri dari 19 Peserta didik perempuan dan 18 Peserta didik laki-laki. Peserta didik di kelas ini memiliki kemampuan rata-rata atau sedang, tidak ada Peserta didik yang  memiliki  kemampuan  menonjol.  Dipilihnya kelas VIII A sebagai tempat penelitian karena kelas VII dianggap memilki potensi – potensi yang perlu ditingkatkan khususnya pada mata pelajaran IPS pokok bahasan Potensi sumber daya alam Indonesia.

G.  Tempat dan Waktu Penelitian

1.  Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di VII SMP YPPGI Agats, dengan alasan :

  1. VII SMP YPPGI Agats belum pernah dijadikan tempat penelitian tindakan kelas dengan judul yang sama sebelumnya.
  2. Sebelum diadakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan media gambar hasil belajar peserta didik kelas VIII A rendah.
  3. Sebagai salah satu tenaga pendidik pada SMP tersebut, peneliti berharap hasil penelitian nanti diharapkan dapat memberi masukan yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik khususnya pokok bahasan Potensi sumber daya alam Indonesia.

H.  Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tindakan kelas ini mengacu pada tahapan yang berpatokan pada konsep Kemmis dan Mc Tagard (1988), dimana penelitian tindakan kelas dilakukan meliputi empat tahapan yaitu tahap:

  • perencanaan
  • pelaksanaan
  • pengamatan

Keempat tahapan itu adalah  sebagai berikut:

  1. Tahap Persiapan Tindakan, meliputi langkah-langkah :
    1. Membuat skenario pembelajaran
    2. Mempersiapkan sarana pembelajaran
    3. Mempersiapkan instrumen penelitian
    4. Mengajukan solusi alternatif berupa penggunaan media gambar dalam meningkatkan hasil belajar peserta
    5. Tahap Pelaksanaan Tindakan, dilakukan dengan melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan media
    6. Tahap Observasi dan Interpretasi, dilakukan dengan mengamati dan menginterpretasikan aktivitas penggnaan media

Keterangan:

  1. Perencanaan Tindakan

Tahap perencanaan tindakan, meliputi langkah-langkah:

  1. Membuat skenario pembelajaran
  2. Mempersiapkan sarana pembelajaran
  3. Mempersiapkan instrumen
  4. Mengajukan solusi alternatif berupa penggunaan media gambar
  1. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan melaksanakan pembelajaran IPS menggunanakan media gambar. Dalam setiap tindakan yang dilakukan selalu diikuti dengan kegiatan pemantauan, evaluasi, analisis, dan refleksi. Pada tahapan ini, peneliti mengadakan pemantauan apakah tindakan yang telah dilakukan dapat mengatasi masalah yang ada. Selain itu, pemantauan dilakukan untuk mengumpulkan data yang nantinya diolah untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.

  1. Observasi dan Interpretasi

Langkah ini dilakukan dengan mengamati dan menginterpretasikan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media gambar. Peneliti bertindak sebagai partisipan pasif yang hanya mengamati dan mencatat proses pelaksanaan tindakan yang dilakukan. Setelah itu, peneliti mengolah data untuk mengetahui apakah tindakan yang dilakukan telah dapat mengatasi permasalahan yang ada, juga untuk mengetahui segala kelemahan yang mungkin muncul.

Gambar 1.2 Tahap Penelitian

  1. Analisis dan Refleksi

Kegiatan ini dilaksanakan dengan cara menganalisis atau mengolah data hasil observasi dan interpretasi untuk mengetahui kebaikan dan kelemahan tindakan yang telah dilakukan. Dalam melakukan refleksi, peneliti bekerjasama dengan guru fatner. Kemudian, peneliti dan guru fatner mengadakan diskusi untuk menentukan langkah-langkah perbaikan (solusi pemecahan masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan). Setelah itu baru dapat ditarik simpulan apakah penelitian yang dilakukan berhasil atau tidak sehingga dapat menentukan langkah berikutnya.

Teknik Pengumpulan Data.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Pengamatan/Observasi

Menurut Guba dan Lincoln dalam Moleong (2002:125), ada beberapa alasan mengapa dalam penelitian kualitatif pengamatan / observasi dimanfaatkan sebesar – besarnya:

  • teknik pengamatan ini ini didasarkan atas pengamatan secara langsung,
  • teknik pengamatan juga memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya,
  • pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proposional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh dari data, (4) untuk mengecek tingkat kepercayaan data yang bias,
  • teknik pengamatan memungkinkan peneliti mampu memahami situasi- situasi yang rumit, dan
  • dalam kasus tertentu dimana teknik komunikasi lainnya tidak dimungkinkan, pengamatan dapat menjadi alat yang sangat berguna. Pengamatan dapat diklasifikasikan atas pengamatan melalui cara berperan serta dan yang tidak berperan serta. Pada pengamatan tanpa peran serta pengamat hanya melakukan satu fungsi, yaitu mengadakan pengamatan. Pengamat berperan serta melakukan dua peranan sekaligus, yaitu sebagai pengamat dan sekaligus menjadi anggota resmi dari kelompok yang diamatinya. Dalam penelitian ini peneliti hanya melakukan satu fungsi, yaitu mengadakan pengamatan. Yang diamati oleh peneliti yaitu proses belajar mengajar, keberhasilan suatu metode pembelajaran
    1. Dokumentasi

Guba dan Lincoln dalam Moleong (2002:161) mendefinisikan bahwa:” dokumen sebagai setiap bahan tertulis ataupun film. Dokumen sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data karena dalam banyak hal dokumen dapat digunakan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan. Dalam penelitian ini dokumen yang digunakan adalah dokumen resmi, seperti arsip dan nilai tes Peserta didik.

  1. Tes

Arikunto (1993:123) berpendapat:”tes adalah serembetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok”.

  1. Studi literatur

studi litaratur digunakan dengan cara membaca buku – buku yang relevan dengan judul penelitian yang penulis buat.

  1. Teknik Analisis Data

Menurut Patton (1980: 268) dalam bukunya Moleong, analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola,  kategori, dan satuan uraian dasar. Selanjutnya Bogdan dan Taylor (1975:79) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menentukan tema dan merumuskan hipotesisnya (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu.  Jika  dikaji,  pada  dasarnya  definisi pertama  lebih menitik beratkan pengorganisasian data sedangkan yang kedua lebih menekankan maksud dan tujuan analisis data. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga Sumber data Pengamatan, Wawancara, Sumber data Wawancara, Dokumen dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2002:103).

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model analisis interaksi, dimana komponen reduksi data dan sajian data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data untuk menganalisis data hasil penelitiannya. Data yang diperoleh di lapangan berupa data kualitatif dan data tersebut diolah  dengan model interaktif. Langkah – langkah dalam metode analisis interaksi adalah sebagai berikut:

  1. Pengumpulan Data, adalah mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan yang dilakukan terhadap terhadap berbagai jenis dan bentuk data yanag ada di lapangan kemudian data – data tersebut
  2. Reduksi Data, hasil penelitian di lapangan sebagai bahan mentah dirangkum, direduksi, kemudian disusun supaya lebih sistematis untuk mempermudah peneliti di dalam mencari kembali data yang diperoleh apabila diperlukan kembali.
  3. Sajian Data, sajian data ini membantu peneliti untuk melihat gambaran keseluruhan atau bagian – bagian tertentu dari hasil
  4. Verifikasi Data, dari data – data yang diperoleh dari hasil wawancara, diobservasi kemudian   peneliti   mencari   makna   hasil      Penelitian, berusaha mencari pola, hubungan serta hal – hal yang sering timbul. Dari hasil penelitian atau data yang diperoleh peneliti membuat kesimpulan – kesimpulan kemudian diverifikasi. Secara skematis proses pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan verifikasi data.

Berdasarkan pada kriteria – kriteria keberhasilan di atas, data penelitian diambil dari dua jenis data, yaitu (1) data tentang proses pembelajaran bercerita tentang tenaga endogen dan tenaga eksogen di depan kelas dan (2) data hasil merangkum materi pembelajaran tentang tenaga endogen dan eksogen. Masing – masing dari kedua jenis data tersebut dianalisis dengan cara yang berbeda.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

1 Ilmu Pengetahuan Sosial

    1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS )

Pengertian pendidikan IPS untuk pendidikan dasar dan menengah menurut Somantri yang dikutip Sapriya (2009: 11), ‘Pendidikan IPS adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis / psikologis untuk tujuan pendidikan’. Ilmu ilmu sosial ( social sciences) menurut beberapa ahli yang dikutip Sapriya (2009: 21) diantaranya:

Norman Mac Kenzie merumuskan sebagai “all the academic dicipines which deal with men in their social context” yang berarti semua disiplin akademik yang berkaitan dengan manusia dalam konteks sosial. Bernard Mausner menegaskan “ the social sciences represent yet another attempt to solve the puzzles inherent in the situation of man in society

IPS merupakan mata pelajaran yang merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri sebagai integrasi dari sejumlah konsep disiplin ilmu sosial dan humaniora. IPS bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik sebagai warga negara yang menguasai pengetahuan, ketrampilan sikap dan nilai yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah pribadi atau sosial serta kegiatan kemasyarakatan agar menjadi warga negara yang baik.

Pengertian IPS menurut Aziz Wahab yang dikutip Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (2005: 3) sebagai berikut :

IPS adalah sejumlah konsep mata pelajaran sosial dan ilmu lainnya yang dipadukan berdasarkan prinsip prinsip pendidikan yang bertujuan membahas masalah sosial atau bermasyarakat dan kemasyarakatan untuk mencapai tujuan tujuan khusus pendidikan melalui  program pengajaran IPS pada tingkat persekolahan.

Sedangkan menurut Nursid Sumaatmaja (2003: 1.13),

IPS sebagai bidang pendidikan tidak hanya membekali peserta didik dengan pengetahuan sosial, melainkan berupaya membina dan mengembangkan mereka menjadi SDM Indonesia yang berketrampilan sosial dan intelektual sebagai warga negara yang memiliki perhatian serta kepedulian sosial yang bertanggung jawab merealisasikan tujuan nasional.

IPS adalah suatu bahan kajian terpadu yang merupakan penyederhanaan, seleksi, dan modifikasi yang diorganisasikan dari konsep konsep dan ketrampilan ketrampilan Sejarah, Geografi, Sosiologi, antropologi dan Ekonomi ( Puskur, 2007: 14 ). Materi mata pelajaran IPS bersifat terpadu ( intergrated ), interdisipliner, multidisipliner bahkan cross-disipliner ( Sapriya, 2009: 13 ).

Perkembangan IPS sebagai mata pelajaran di sekolah dengan cakupan  materi yang semakin meluas seiring dengan semakin kompleks dan rumitnya permasalahan sosial memerlukan kajian integrasi dari berbagai disiplin ilmu  sosial, ilmu pengetahuan alam, humaniora, sistim kepercayaan dan lingkungan.

2.   Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial

Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ) merupakan padanan dari istilah Social Studies dalam konteks kurikulum di Amerika Serikat (Etin Solihatin dan Raharjo, 2008: 14). Menurut Mohammad Numan Somantri (2001: 74), “Pendidikan IPS merupakan   penyederhanaan   disiplin   ilmu-ilmu   sosial,   ideologi   negara, dan disiplin ilmu lainnya serta masalah-masalah sosial terkait, yang dioganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah”. John Jarolimek yang dikutip dalam Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (2004: 14) menegaskan bahwa ‘IPS merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial seperti geografi, sejarah, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial’. Jadi secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1: Bagan Isi Materi Ilmu Pengetahuan Sosial

Sumber: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2004: 14 15

Selanjutnya, guna kepentingan pembelajaran, ada sejumlah konsep yang seharusnya diajarkan kepada peserta didik. Konsep-konsep tersebut disesuaikan dengan tujuan pembelajaran IPS dan diambil dari konsep disiplin ilmu yang dipilih dalam rumpun IPS. Etin Solihatin dan Raharjo (2008: 15 –  21) mengajukan beberapa konsep yang semestinya dimasukkan dalam IPS. Konsep- konsep tersebut adalah (a) interaksi, (b) saling ketergantungan,  (c)  kesinambungan dan perubahan (continuity and change), (d) keragaman/kesamaan/perbedaan, (e) konflik dan konsensus, (f) pola (pattern), (g) tempat/lokasi, (h) kekuasaan (power), (i) nilai kepercayaan, (j) keadilan dan pemerataan, (k) kelangkaan (scarcity), (l) kekhususan (specialization), (m)  budaya (culture), dan (n) nasionalisme.

3.   Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Ada tiga tujuan membelajarkan IPS kepada peserta didik, yaitu 1) Agar setiap peserta didik menjadi warga negara yang baik; 2) Melatih peserta didik berkemampuan berpikir matang untuk menghadapi dan memecahkan masalah sosial: dan 3) Agar peserta didik dapat mewarisi dan melanjutkan budaya bangsanya (Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2004: 15).

Mutakin yang dikutip Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (2004: 15) merinci tujuan IPS sebagai berikut:

  • Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan
  • Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah
  • Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.
  • Menaruh perhatian terhadap isu-isu dari masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, kemudian mampu mengambil keputusan yang tepat.
  • Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertangung jawab membangun

Dengan rumusan lain, seseorang dikatakan sebagai warga negara yang baik  dapat dilihat dari beberapa hal antara lain: setia terhadap falsafah dan ideologi negara, mentaati peraturan dan norma-norma  yang berlaku, memenuhi kewajibannya sebagai warga negara, menghormati dan dapat bekerja sama dengan anggota warga negara yang lain, ikut menumbuhkembangkan rasa persatuan dan kesatuan, tenggang rasa dan toleransi, menggunakan hak-haknya secara tepat dan proporsional. Peserta didik juga diharapkan memiliki pemikiran yang matang dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Berpikir cerdas, rasional, dan tidak emosional, serta memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah sosial. Di samping itu peserta didik diharapkan mampu membangun   budaya   ke-Indonesia-an yang mantap dan budi pekerti luhur, menyebarluaskan nilai-nilai keteladanan dan kejuangan dari para pahlawan dan pemimpin bangsa.

Jadi tujuan utama IPS adalah untuk,  ikut mengajarkan dan mewariskan budaya memperkaya dan mengembangkan kehidupan peserta didik dengan mengembangkan kemampuannya (abilities and power) dalam lingkungannya dan melatih mereka untuk menempatkan dalam masyarakat demokrasi, di mana mereka menjadikan negaranya tempat hidup yang lebih baik.

4.   Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

a. Perencanaan Pembelajaran

Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran bergantung pada kesesuaian rencana yang dibuat dengan kondisi dan potensi peserta didik (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Pembelajaran IPS di SMP dengan menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sangat dianjurkan menggunakan pendekatan terpadu. Hal ini tertera dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2005 tentang Standar Isi yang menyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu” (Depdiknas, 2005: 12).

KTSP disusun oleh masing masing sekolah dan dikembangkan sesuai dengan kondisi sekolah, potensi atau karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik. Hal ini tertera dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam     Permendiknas     Nomor     19     juga     dikatakan     seorang      guru bertanggungjawab menyusun silabus mata pelajaran yang diampunya dan bekerjasama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) atau Perguruan Tinggi (Depdiknas, 2007: 7).Model silabus menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tahun 2006 meliputi Nama Sekolah, Kelas, Mata Pelajaran, Semeter, Standar Kompetensi ( SK ), Kompetensi Dasar ( KD ), Materi Pokok / Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, Indikator, Penilaian terdiri atas Tehnik, Bentuk Instrumen dan Contoh Instrumen, Alokasi Waktu dan Sumber Belajar (BSNP, 2006: 3). Seorang guru harus mengimplementasikan program pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP ) ( BSNP, 2006-b: 1 ). RPP merupakan pegangan guru di  kelas untuk setiap Kompetensi Dasar ( KD ), sehingga RPP harus memuat hal hal langsung yang berkait dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian suatu Kompetensi Dasar.

Adapun langkah langkah penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah sebagai berikut ( BSNP, 2006-b: 1-3 ):

  • Mencantumkan Identitas

Identitas terdiri dari a) Nama Sekolah, b) Mata Pelajaran, c) Kelas /   Semester,

  1. d) Standar Kompetensi, e) Indikator dan f) Alokasi
  • Mencantumkan Tujuan Pembelajaran

tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Tujuan pembelajaran dapat terdiri satu atau beberapa tujuan.

  • Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran adalah materi yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu materi pokok yang ada dalam silabus.

  • Mencantumkan Metode Pembelajaran

Metode bergantung pada karakteristik pendekatan dan/ atau strategi yang dipilih.

  • Mencantumkan Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pada dasarnya langkah langkah kegiatan pembelajaran memuat kegiatan pendahuluan/ pembukaan, kegiatan inti dan kegiatan penutup, tetapi dimungkinkan dalam seluruh rangkaian kegiatan sesuai dengan karakteristik model yang dipilih menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya.

  • Mencantumkan Sumber Belajar

Sumber belajar mengacu pada perumusan dalam silabus dalam KTSP. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, alat, narasumber, dan bahan. Dalam RPP penulisan buku referensi harus dicantumkan judul buku  teks tersebut, pengarang dan halaman yang diacu.

  • Mencantumkan Penilaian

Penilaian dijabarkan atas tehnik penilaian, bentuk instrumen dan instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data, apabila penilaian menggunakan 20 tehnik tes tertulis, uraian, unjuk kerja dan tugas rumah yang berupa proyek harus disertai rubik penilaian guna menentukan validitas dan reliabilitas tugas.

b.  Pelaksanaan Pembelajaran

Menurut ketentuan yang tercantum Permendiknas No. 41 Tahun 2007, pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Pada kegiatan pendahuluan, kegiatan yang dilakukan oleh guru meliputi: (1) Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; (2) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; (3) Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; (4) Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.

Pada kegiatan inti, proses pembelajaran diarahkan untuk pencapaian KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, me- motivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti dilakukan melalui penggunaan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Dalam kegiatan eksplorasi, guru sedapat mungkin melakukan upaya-upaya sebagai berikut: (1) Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan belajar dari aneka  sumber; (2)  Menggunakan  beragam  pendekatan pembelajaran,  media pembelajaran, dan sumber belajar lain;  (3) Memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya; (4) Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; (5) Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

Memfasilitasi peserta didik dalam Dalam kegiatan elaborasi, guru hendaknya melakukan upaya-upaya untuk: (1) Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna; (2) Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis; (3) Memberi kesempatan untuk berpikir, pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; (5) Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan  prestasi belajar; (6) Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok; (7) Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok; (8) Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran,  turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan; (9) Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

Sedangkan dalam kegiatan konfirmasi, upaya-upaya yang seharusnya dilakukan oleh guru adalah: (1) Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik; (2) Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber; (3) Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk  memperoleh pengalaman  belajar  yang  telah  dilakukan;  (4) memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar; (5) Berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar; (6) Membantu menyelesaikan masalah; (7) Memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi; (8) Memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh; (9)  Memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan kegiatan penutup. Pada kegiatan ini kegiatan yang dilakukan oleh guru adalah: (1) Bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran; (2) Melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram; (3) Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; (4) Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; dan (5) Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

c.  Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik

Objek dalam penilaian pembelajaran terpadu mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik (Depdiknas, 2006: 19). Penilaian proses belajar adalah upaya pemberian nilai terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan peserta didik, sedangkan penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan kriteria tertentu. Hasil belajar tersebut pada hakikatnya merupakan pencapaian kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi tersebut dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Penilaian proses dan hasil belajar itu saling berkaitan satu dengan lainnya, hasil belajar merupakan akibat dari suatu proses belajar.

Penilaian yang dikembangkan mencakup teknik, bentuk dan instrumen yang digunakan terdapat pada lampiran. (1) Teknik penilaian merupakan cara yang digunakan dalam melaksanakan penilaian tersebut. Teknik-teknik yang dapat diterapkan untuk jenis tagihan tes meliputi: (a) Kuis dan (b) Tes Harian. Untuk jenis tagihan nontes, teknik-teknik penilaian yang dapat diterapkan adalah: (a)observasi, (b) angket, (c) wawancara,(d) tugas, (e) proyek, dan (f) portofolio; (2) Bentuk instrumen merupakan alat yang digunakan dalam melakukan penilaian/pengukuran/evaluasi terhadap pencapaian kompetensi peserta didik. Bentuk-bentuk instrumen yang dikelompokkan menurut jenis tagihan dan teknik penilaian adalah: (a) tes: isian, benar-salah, menjodohkan, pilihan ganda, uraian, dan unjuk kerja; (b) nontes: panduan observasi, kuesioner, panduan wawancara, dan rubrik; (c) Instrumen merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian kompetensi. Apabila penilaian menggunakan tehnik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja dan tugas rumah yang berupa proyek, harus disertai rubrik penilaian

B.   Tinjauan Umum tentang Media Pembelajaran

  1. Pengertian Media

Media adlah alat atau sarana komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk. Sedangkan media pendidikan atau pengajaran adalah alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengajaran atau pembelajaran (KBBI, 2002: 726). Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata – kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, anak didik lebih mudah mencerna bahan daripada tanpa bantuan media.

Sedangkan menurut Djamarah (2006: 121) mengemukakan bahwa:”media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran”. Media lahir karena penerapan prinsip-prinsip teknologi instruksional, teknologi instruksional lahir karena adanya teknologi pendidikan. Karena media instruksional adalah lahir dari konsekuensi penerapan teknologi instruksional dan yang memanfaatkan media instruksional adalah mereka yang datang dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda tetapi mempunyai kepentingan yang sama yaitu hal-hal yang berhubungan dengan interaksi antara manusia dan proses belajar-mengajar, maka timbulah banyak pendapat tentang arti media, diantaranya adalah :

Djamarah (2006: 121) mengemukakan bahwa:”media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri”. Karena memang gurulah yang menghendakinya untuk membantu tugas guru dalam menyampaikan pesan – pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak didik. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit dan kompleks.

Menurut Gerlach & Ely (1971), dalam Arsyad (2002: 3), mengatakan bahwa:”media adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat peserta didik memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap”. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat – alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, menyusun kembali informasi visual atau verbal.

2.   Ciri-Ciri Media Pembelajaran

Ciri-ciri khusus suatu media pembelajaran berbeda menurut dan pengelompokannya. Ciri-ciri media dapat dilihat menurut kemampuannya membangkitkan rangsangan pada indera penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan. Maka, secara umum ciri-ciri media pembelajaran adalah bahwa media itu dapat diraba, dilihat, didengar, dan diamati melalui  panca indera. Di samping itu, ciri-ciri media juga dapat dilihat menurut harganya, lingkup sasarannya dan kontrol oleh pemakai. Media pembelajaran dapat digunakan untuk menciptakan komunikasi yang efektif antara guru dan murid. Media pembelajaran dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar, baik di dalam maupun di luar kelas.

Media pembelajaran mengandung aspek-aspek alat dan teknik yang sangat erat pertaliannya dengan metode belajar (Angkowo & Kosasih, 2007: 10). Tiap- tiap media mempunyai karakteristik yang perlu dipahami oleh pemakainya. Pengenalan jenis media dan karakteristiknya merupakan salah satu faktor dalam penentuan atau pemilihan media. Menurut Angkowo & Kosasih, (2007: 11) dalam memilih media, orang perlu memperhatikan tiga hal, yaitu: (1) kejelasan maksud dan tujuan pemilihan tersebut, (2) sifat dan ciri-ciri media yang akan dipilih, dan (3) adanya sejumlah media yang dapat dibandingkan karena pemilihan media pada dasarnya adalah proses pengambilan keputusan akan adanya alternatif-alternatif pemecahan yang dituntut oleh

3.   Fungsi Dan Nilai Media Pengajaran

Menurut Sudjana, (2005:99) Ada enam fungsi pokok dari media pengajaran dalam proses belajar-mengajar, keenam fungsi tersebut adalah:

  • penggunaan media pengajaran dalam proses belajar-mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar-mengajar yang efektif, (2) penggunaan media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar, ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan guru, (3) dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran. Fungsi mengandung pengertian bahwa penggunaan media harus melihat kepada tujuan dan   materi  pelajaran,   (4)   penggunaan  media   pengajaran dalam pembelajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian peserta didik, (5) penggunaan media pengajaran dalam pembelajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar-mengajar dan membantu peserta didik dalam menangkap pengertian yang diberikan guru, dan (6) penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar-mengajar.

Menurut Sudjana, (2005: 100) di samping enam fungsi  diatas penggunaan media pengajaran dalam proses belajar-mengajar mempunyai nilai- nilai seperti di bawah ini:

(1) dengan media dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk  berpikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya verbalisme, (2)  dengan media dapat memperbesar minat dan perhatian peserta didik untuk belajar, (3) dengan media dapat meletakan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap, (4) memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri kepada setiap peserta didik, (5) menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan, (6) membantu tumbuhnya pemikiran dan membantu berkembangnya kemampuan berbahasa, dan (7) memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna.

4.   Jenis Media Pengajaran

Rudy Bretz dalam Rumapuk (1988: 87), mengklasifikasikan media menjadi delapan kelas yaitu: (1) media Audio-Visual gerak, contohnya TV, video tape, film, kaset program dan piringan hitam, (2) media Audio-Visual diam, contohnya film strip bersuara, slide bersuara, komik dengan suara, (3) media Audio semi gerak, contohnya media telewrite, morse, dan media board, (4) media Visual gerak, contohnya film bisu, (5) media Visual diam, contoh microform, gambar dan grafis, film-strip, (6) media semi gerak, contohnya tekautograph, (7) media Audio, contohnya radio, telepon, audio tape dan audio disc, dan (8) media cetak, contohnya teletype dan paper tape.

Menurut Sudjana (2005: 101) disebutkan media dalam proses belajar- mengajar  dibedakan  menjadi  dua  yaitu  :”(1)  media  pengajaran dua dan tiga dimensi, contohnya bagan, grafik, poster, gambar mati, peta datar, peta timbul, globe dan papan tulis, dan (2) media pengajaran yang diproyeksi, contohnya film dan slide dan film strip“.

Menurut Djamarah dan Zain (2006: 124) berdasarkan jenisnya media itu dibagi menjadi 3 yaitu sebagai berikut:

  • Media Auditif

Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, piringan hitam. Media ini tidak cocok untuk orang tuli atau mempunyai kelainan dalam pendengaran.

  • Media Visual

Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan.  Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai) foto, gambar atau lukisan, dan cetakan. Ada juga media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu, dan film kartun.

  • Media Audio Visual

Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua. Media ini dibagi lagi ke dalam:

    1. Audio visual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slide), film rangkai suara, dan cetak suara.
    2. Audiovisual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan vidio cassette.

5.   Pengertian Media Gambar

Diantara media pembelajaran, media gambar adalah media yang paling umum dipakai. Hal ini dikarenakan peserta didik lebih menyukai gambar daripada tulisan, apalagi jika gambarnya dibuat dan disajikan sesuai dengan persyaratan gambar yang baik, sudah barang tentu akan menambah semangat peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran. Di bawah ini beberapa pengertian media gambar, diantaranya:

Menurut Hamalik (1994: 95) “media gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual kedalam bentuk dua dimensi sebagai curahan ataupun pikiran yang bentuknya bermacam-macam seperti lukisan, potret, slide, film, strip, projector”. Menurut Sardiman ( 1996: 29 ) “media gambar adalah media yang paling umum dipakai, yang merupakan bahasan umum yang dapat dimengerti dan dinikmati dimana-mana”. Menurut Soelarko ( 1980: 3)  “media  gambar merupakan peniruan dari benda-benda dan pemandangan dalam hal bentuk, rupa, serta ukurannya relatif terhadap lingkungan”.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa media gambar adalah perwujudan lambang dari hasil peniruan-peniruan benda – benda, pemandangan, curahan pikir atau ide-ide yang di visualisasikan kedalam bentuk dua dimensi. Bentuknya dapat berupa gambar situasi dan lukisan yang berhubungan dengan pokok bahasan berhitung.

6.   Fungsi Media Gambar

Menurut Hamalik (1994: 12) mengemukakan fungsi dari media  gambar yaitu sebagai berikut:

  1. Fungsi ekonomis, meningkatkan produksi melalui pembinaan prestasi kerja secara
  2. Fungsi politis, berpengaruh pada politik
  3. Fungsi seni budaya dan telekomunikasi, yang mendorong dan menimbulkan ciptaan baru, termasuk pola usaha penciptaan teknologi kemediaan yang modern

Pemanfaatan media pembelajaran ada dalam komponen metode mengajar sebagai salah satu upaya untuk mempertinggi proses interaksi guru-peserta didik dan interaksi peserta didik dengan lingkungan belajarnya. Oleh sebab itu fungsi utama dari media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar, yakni menunjang penggunaan metode mengajar yang dipergunakan guru. Melalui penggunaan media pembelajaran diharapkan dapat mempertinggi kualitas proses belajar-mengajar yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar peserta didik.

Menurut Rohani ( 1997: 6-7) secara garis besar, fungsi penggunaan media gambar adalah sebagai berikut:

  1. Fungsi edukatif, yang artinya mendidik dan memberikan pengaruh positif pada
  2. Fungsi sosial, memberikan informasi yang autentik dan pengalaman berbagai bidang kehidupan dan memberikan konsep yang sama kepada setiap
  3. Fungsi ekonomis, meningkatkan produksi melalui pembinaan prestasi kerja secara
  4. Fungsi politis, berpengaruh pada politik
  5. Fungsi seni budaya dan telekomunikasi, yang mendorong dan menimbulkan ciptaan baru, termasuk pola usaha penciptaan teknologi kemediaan yang modern.
  6. Menyederhanakan kompleksitas
  7. Memungkinkan peserta didik mengadakan kontak langsung dengan masyarakat atau alam
7.   Karakteristik Media

Menurut  Rahadi  (2003:  27-28)  ada beberapa karakteristik  media gambar, yaitu:

  1. Harus autentik, artinya dapat menggambarkan obyek/peristiwa seperti jika peserta didik melihat
  2. Sederhana, komposisinya cukup jelas menunjukkan bagian-bagian pokok dalam gambar
  3. Ukuran gambar proposional, sehingga peserta didik mudah membayangkan ukuran sesungguhnya benda/obyek yang digambar. Memadukan antara keindahan dengan kesesuaiannya untuk mencapai tujuan
  4. Gambar harus message. Tidak setiap gambar yang bagus merupakan media yang bagus. Sebagai media yang baik, gambar hendaklah bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin

Atas dasar karakteristik tersebut maka media gambar memiliki  kelebihan dan kelemahan, menurut Sadiman ( 1996: 31) Kelebihan media gambar adalah sebagai berikut:

  1. Sifatnya konkrit dan lebih realistis dalam memunculkan pokok masalah, jika dibandingkan dengan bahasa
  2. Dapat mengatasi batasan ruang dan
  3. Dapat mengatasi keterbatasan pengamatan
  4. Memperjelas masalah dalam bidang apa saja dan untuk semua orang tanpa memandang umur sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalahpahaman.
  5. Harganya murah dan mudah didapat serta digunakan

Adapun kelemahan media gambar menurut Rahadi (2003: 27) adalah  sebagai berikut:

  1. Hanya menampilkan persepsi indera mata, ukurannya terbatas hanya dapat terlihat oleh sekelompok peserta
  2. Gambar diintepretasikan secara personal dan
  3. Gambar disajikan dalam ukuran yang sangat kecil, sehingga kurang efektif dalam pembelajaran
C.   Hasil Belajar
  1. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki Peserta didik setelah menerima pengalaman belajarnya Kingsley (Sudjana,2001: 22) membagi tiga macam hasil belajar,yaitu:(1) keterampilan dan kebiasaan;(2)  pengetahuan dan pengertian;(3)sikap dan cita-cita yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut:

  • Faktor – fakor yang bersumber dari dalam diri manusia

Faktor ini dapat diklasifikasikan menjadi dua yakni faktor biologis dan faktor psikologis. Faktor biologis antara lain usia, kematangan dan kesehatan,sedangkan faktor psikologis adalah kelelahan, suasana  hati, motivasi, minat dan kebiasaan belajar.

  • Faktor yang bersumber dari luar manusia

Faktor ini diklasifikasikan menjadi dua yakni faktor manusia dan faktor non manusia seperti alam benda hewan dan lingkungan fisik. Melihat beberapa ciri hasil belajar yang diperoleh Peserta didik setelah melakukan proses belajar adalah sebagai berikut:

    • Peserta didik dapat mengingat fakta, prinsip, konsep yang telah dipelajarinya dalam kurun waktu yang cukup lama .
    • Peserta didik dapat memberikan contoh dari konsep dan prinsip yang telah dipelajarinya.
    • Peserta didik dapat mengaplikasikan atau menggunakan konsep dan prinsip yang telah
    • Peserta didik mempunyai dorongan yang kuat untuk mempelajari bahan pelajaran lebih
    • Peserta didik terampil mengadakan hubungan sosial seperti kerja sama dengan Peserta didik yang lain ,berkomunikasi dengan orang lain, dan lain-lain.
    • Peserta didik memperoleh kepercayaan diri bahwa ia mempunyai kemampuan dan kesanggupan melakukan tugas
    • Peserta didik menguasai bahan yang telah dipelajari minimal 80% dari yang seharusnya ia
D.       Kerangka Berpikir

Pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh peserta didik dan guru dengan berbagai fasilitas dan materi untuk  mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Pelajaran IPS  dianggap  oleh  peserta  didik  sebagai mata pelajaran yang kurang menarik dan sulit, hal ini disebabkan karena dalam pembelajaran guru hanya menggunakan metode ceramah.

Beberapa upaya agar Peserta didik terdorong untuk belajar, di antaranya adalah penyajian materi yang menarik perhatian  Peserta  didik.  Salah  satu  upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan media gambar dalam pembelajaran. Media gambar dapat menarik perhatian Peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran, memperjelas sajian materi pelajaran dan membuat Peserta didik tidak mudah lupa tentang hal yang telah mereka pelajari. Dengan menggunakan media gambar diharapkan dapat meningkatkan motivasi Peserta didik sehingga hasil belajar peserta didik khususnya mata pelajaran IPS, pokok bahasan Potensi sumber daya alam Indonesia bisa meningkat.

E.     Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka peneliti mengajukan hipotesis tindakan sebagai berikut: “Penggunaan Media Gambar Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pokok Bahasan Potensi sumber daya alam Indonesia  di Kelas VII SMP YPPGI Agats”.

 

BAHAN AJAR

Potensi Sumber Daya Alam
ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)
 
Tahun Pelajaran 2023/2024

 

Kelas 7 SMP/MTs

FASE D

 

 

DISUSUN OLEH :

NIKOLAUS LAOT BAYO, S.Pd.

 

DAFTAR ISI DAFTAR ISI …………………………………………………………………………..

PENDAHULUAN ………………………………………………………………………………………

Deskripsi ………………………………………………………………………………………………

Capaian Pembelajaran ……………………………………………………………………………..

URAIAN MATERI 1 …………………………………………………………………………………..

Tes Formatif ………………………………………………………………………………………….

GLOSARIUM …………………………………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………….

 

PENDAHULUAN

 

Deskripsi

Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat dan karunia-Nya, Sehingga saya dapat menyelesaikan Bahan ajar berupa modul Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) materi Potensi sumber daya alam di Indonesia, salah satu tugas Uji kinerja Program Profesi Guru (PPG). Bahan ajar guru ini disajikan dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning. Penggunaan model Discovery Learning ini dalam bahan ajar guru ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.

Bahan Ajar ini telah saya selesaikan dengan maksimal berkat kerjasama dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu saya sampaikan banyak terima kasih kepada segenap pihak yang telah  membantu Saya dalam penyelesaian Bahan ajar ini.

Selain itu, saya hanyalah seorang manusia biasa menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan bahan ajar ini, baik dari segi tata bahasa, susunan kalimat maupun isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati , saya selaku penyusun menerima segala kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan modul ini.. Penulis berharap semoga bahan ajar ini dapat memberikan manfaat bagi para peserta didik, guru dan semua pihak di lingkungan pendidikan.

Agats, 5 Maret 2024

 

Penulis

 

Capaian Pembelajaran

Guru menyampaikan kepada peserta didik terkait sub-bab pada materi Potensi sumber daya alam di Indonesia. Materi diawali pemahaman kepada peserta didik terkait potensi sumber daya alam dilingkungan sekitar tempat tinggal. Peserta didik kemudian mengeksplorasi kondisi sosial lingkungan sekitar sehingga mampu menjelaskan sumber daya alam ditempat disekitar tempat tinggal  sejak dahulu hingga sekarang ini. Kehidupan manusia di bumi tak luput dari SDA yang sudah terbentuk ribuan tahun lalu. Manusia tak bisa lepas dari sumber daya alam pada setiap aktivitas mereka baik secara langsung maupun tidak langsung. Potensi alam yang berbeda menyebabkan perbedaan aktivitas manusia. Salah satu aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari adalah melakukan kegiatan ekonomis. Perbedaan karakteristik wilayah dapat membuat masyarakat saling berupaya memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melakukan interaksi antarwilayah.

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta didik diharapkan mampu mendeskripsikan potensi sumber daya alam di Indonesia. Kehidupan manusia di bumi tak luput dari  SDA yang  sudah terbentuk ribuan tahun lalu. Manusia tak bisa lepas dari sumber daya alam pada setiap aktivitas mereka baik secara langsung maupun tidak langsung. SDA merupakan sumber daya yang terkandung dalam bumi, air, dan dirgantara yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia. Setelah mempelajari materi pembelajaran kegiatan belajar 1 ini diharapkan Siswa Dapat dapat:

  1. Menjelaskan potensi sumber daya alam
  2. Mengidentiikasi faktor yang menyebabkan perubahan potensi sumber daya alam

Setelah mempelajari materi ini peserta didik mampu memahami bahwa setiap daerah memiliki bentang alam yang memengaruhi potensi sumber daya alam. Ia mampu menganalisis hubungan antara kondisi geografis daerah dengan karakteristik masyarakat dan memahami potensi sumber daya alam serta kaitannya dengan mitigasi kebencanaan.

Lampiran 3

BAHAN BACAAN GURU DAN PESERTA DIDIK

Buku Siswa IPS Kelas VII ( Halaman 130-139)

Nursa’ban, M, dkk. 2021. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP Kelas VII.

Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

 

A.   Perubahan Potensi Sumber DayaAlam
  • Potensi Sumber Daya Alam di Indonesia

Sumber daya alam merupakan segala sesuatu yang terdapat di permukaan bumi serta dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berdasarkan kelestariannya, sumber daya alam dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sumber daya alam yang dapat diperbarui (renewable resources) dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui (non renewable resource).

Sumber daya alam yang dapat diperbarui misalnya tanah, air, dan hutan. Sedangkan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui misalnya gas, minyak bumi, timah, dan batu bara. Berikut ini merupakan potensi sumber daya alam di Indonesia yang dibagi menjadi tiga, yaitu sumber daya alam hutan, sumber daya alam tambang, dan sumber daya alam kemaritiman.

  • Sumber Daya Alam Hutan

Sumber daya hutan telah memberikan peranan signifikan dalam mendukung pembangunan ekonomi Indonesia. Hutan merupakan suatu areal lahan lebih dari 6,25 hektare dengan pohon-pohon lebih tinggi dari 5 meter pada waktu dewasa dan tutupan kanopi lebih dari 30%. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2018), Indonesia mengalokasikan 63% atau seluas 120,6 juta hektare daratannya sebagai kawasan hutan. Fungsi kawasan hutan Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu hutan produksi, hutan lindung, dan hutan konservasi.

    • Hutan Produksi

Kawasan hutan yang dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan baku pro- duksi. Fungsi ekonomi hutan produksi dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat seperti memanfaatkan semua potensi yang terdapat di dalam hutan produksi seperti kayu, dan rotan. Pemanfaatan hutan produksi dapat dilakukan setelah penerbitan izin pemerintah   berdasarkan pada bentuk- bentuk pemanfaatan.

    • Hutan Lindung

Gambar 3.4 Hutan jati sebagai hutan produksi

Sumber: pisauikan/pixabay

Hutan lindung memiliki peran strategis dalam melindungi sistem daya dukung lingkungan hidup. Manfaat hutan lindung yaitu mengatur suplai air, mengendalikan erosi, mencegah banjir, mencegah  intrusi air  laut,  mempertahankan  kesuburan tanah, dan menyediakan suplai makanan dan energi untuk kehidupan manusia.

Gambar 3.5 Kawasan hutan lindung Bukit Putri Pencit, Tuban

Sumber: Ipe tuban/Wikimedia Commons/CC-BY-SA 4.0

DOK : Oleh Agustina Purwanti

adat suku Asmat di kawasan Distrik Pulau Tiga, Kabupaten Asmat, Papua (14/10/2021). Di hutan inilah warga Asmat menggantungkan hidupnya dengan meramu dan berburu.

Wilayah Asmat di Papua memiliki bentangan alam, kekayaan hutan, dan kerajinan ukiran yang mendunia. Dengan tetap memperhatikan kelestarian hayati, potensi alam dan budaya Asmat tersebut dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Merunut sejarahnya, nama Asmat sudah dikenal sejak lama. Pada 1770, penjelajah Inggris James Cook mendarat di sebuah teluk di daerah Asmat bersama rombongannya. Kedatangan mereka tidak disambut hangat oleh masyarakat Asmat. Akibatnya, terjadi pertumpahan darah yang berakibat tewasnya beberapa anak buah James Cook. Kejadian serupa hampir berulang kembali pada 1904. Kedatangan warga asing kerap menimbulkan salah paham akibat perbedaan bahasa dan budaya. Namun, dengan menggunakan bahasa isyarat, komunikasi antara penduduk Asmat dan pendatang dapat berlangsung dengan baik. Terjadi barter antara masyarakat dengan pendatang. Sejak saat itulah, mulai banyak orang yang berdatangan ke Asmat, termasuk ekspedisi yang dilakukan oleh HA Lorentz pada 1907 dan AFR Wollaston pada 1912.

Kabupaten Asmat merupakan daerah pemerkaran baru. Sebelumnya wilayah Asmat merupakan bagian dari Kabupaten Merauke. Namun, sejak 2002 Kabupaten Asmat berdiri sebagai wilayah administrasi yang terpisah dari Merauke berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002. Saat ini, Kabupaten Asmat memiliki 23 distrik dengan luasan wilayah 31.983,69 kilometer persegi. Populasi penduduknya yang didominasi suku Asmat mencapai 97.490 jiwa pada 2019. Asmat, dikenal sebagai salah satu suku asli dan terbesar di Tanah Papua bagian Selatan. Layaknya suku pedalaman lainnya, ketergantungan masyarakat Asmat pada hutan dan alam pun sangat kuat. Hal tersebut terlihat dari kesehariannya yang menggunakan bahan-bahan dari hutan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan mereka. Berbeda dengan penduduk pedalaman lain di Papua yang makanan utamanya umbi-umbian, makanan pokok orang Asmat adalah sagu. Bahkan, Asmat menjadi salah satu produsen sagu terbesar di Papua, setelah Kabupaten Mimika dan Kabupaten Jayapura. Merujuk data Dinas Pertanian dan Pangan Provinsi Papua, area tanam sagu di Kabupaten Asmat seluas 4.134 hektar (Ha) dengan produksi sebanyak 5.304 ton pada 2019.

Struktur ekonomi

Bentangan alam yang luas itupun tak hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan primer, namun juga menjadi sumber penghasilan untuk mereka. Hingga saat ini, pertanian masih menjadi lapangan pekerjaan yang paling dominan di Kabupaten Asmat, yakni mencapai 83,91 persen pada 2019. Tanaman yang mendominasi hasil pertanian masyarakat Asmat adalah sayur-sayuran. Namun demikian, produksi sayuran mulai menurun lantaran berkurangnya lahan dan pasokan air yang terganggu.

Sementara, jenis tanaman pangan justru mengalami peningkatan, baik dari sisi luas panen maupun produksinya. Sejumlah peningkatan tersebut terjadi pada komoditas padi, jagung, keladi, ubi kayu, dan ubi jalar. Peningkatan terbesar salah satunya terjadi pada jagung. Pada 2018, lahan panen jagung hanya seluas 7,20 Ha dengan produksi sebanyak 15,50 ton. Namun, tahun berikutnya bertambah menjadi lebih dari dua kali lipat menjadi 15,50 Ha dengan 108,50 ton hasil produksi.

Tanaman umbi-umbian menjadi salah satu yang dominan di Kabupaten Asmat. Pada 2019, tanah seluas 72,50 Ha ditanami ubi kayu dengan hasil produksi sebanyak 931,25 ton. Berikutnya disusul oleh ubi jalar sebanyak 300 ton dari lahan seluas 37,50 hektar.

Potensi budaya

Tak hanya untuk pertanian, anugerah kekayaan alam yang dimiliki masyarakat Asmat pun dapat menjadi sumber penghidupan dari pengelolaan wisata. Taman Nasional (TN) Lorentz yang berlokasi di Distrik Sawa Erma, misalnya, menjadi salah satu kekuatan terbesar bagi Kabupaten Asmat untuk mengembangkan potensi wisata alam.

Cikal bakal penamaan taman yang memiliki luas kawasan lebih dari 2,5 juta Ha itu bermula saat Dr. H.A Lorentz memimpin ekspedisi pada 1907-1909. Satu dekade berikutnya, ditetapkan sebagai Monumen Alam Lorentz pada masa pemerintahan Belanda dan resmi tercatat dalam sejarah TN Lorentz. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan TN Lorentz sebagai cagar alam pada 1978. Hingga akhirnya, TN Lorentz diakui sebagai Situs Warisan Dunia pada 12 Desember 1999 dengan luas 2,35 juta Ha. Selain TN Lorentz, Kabupaten Asmat juga memiliki Pantai Bokap, Pantai Pek, Rawa Baki, dan sejumlah wisata alam lainnya yang tersebar di beberapa distrik.

Tak hanya alam, Kabupaten Asmat juga memiliki ikon lain yang juga mendunia, yakni karya ukiran. Turun temurun dari para leluhur, aktivitas mengukir masih dijalankan oleh masyarakat Asmat hingga saat ini. Hasil ukiran dan patung tersebut menyumbang 75,3 persen dari total lapangan usaha industri pengolahan di Kabupaten Asmat. Kekayaan itu juga menjadi salah satu ikon wisata terkenal yang dimiliki Asmat. Hampir setiap tahun diadakan festival budaya yang menyuguhkan eksotisme budaya dan ukiran buah karya masyarakat Asmat. Pagelaran itu biasanya mendatangkan banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Kegiatan tahunan yang digelar selama satu bulan itu pun tak jarang membuat wisatawan tinggal lebih lama demi menikmati serangkaian acara yang disuguhkan. Alhasil, kebutuhan akan akomodasi dan penyediaan makan minum tak terelakkan. Hingga 2019, terdapat delapan hotel atau penginapan yang tersebar di Kabupaten Asmat yang terdiri 126 kamar dan 252 tempat tidur. Sejumlah potensi tersebut, baik alam maupun budaya, harus dipandang sebagai kekuatan lantaran tidak semua daerah memilikinya. Apalagi, kini Kabupaten Kabupaten Asmat dilalui oleh Trans-Papua yang membuat wilayah tersebut semakin terjangkau oleh para pendatang dan mempermudah distribusi hasil pertanian.

Beni Asmat, perajin ukiran khas Papua asal suku Asmat sedang menunjukkan keahlian memahat kayu dalam Pameran Torang Papua di Bentara Budaya Jakarta (17/2/2020). Dalam pameran itu, pengunjung bisa melihat betapa kayanya budaya Papua pada karya seni buatan tangan, mulai dari seni pahat kayu hingga merajut.

  • Hutan Konservasi

Hutan konservasi dapat diklasifikasikan menjadi kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Kawasan suaka alam sendiri dibedakan menjadi kawasan cagar alam dan kawasan suaka margasatwa.  Sedangkan kawasan  pelestarian alam diklasifikasikan menjadi kawasan taman nasional, kawasan taman wisata alam, serta kawasan taman hutan raya. Cakupan wilayah hutan konservasi dapat di daratan maupun perairan.

a) Kawasan Suaka Alam

Kawasan suaka alam merupakan kawasan yang memiliki ciri khas tertentu baik yang berada di daratan ataupun di perairan, serta memiliki fungsi pokok sebagai kawasan untuk pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa. Kawasan suaka alam dapat dibedakan menjadi dua yaitu cagar alam dan suaka margasatwa.

Cagar alam adalah kawasan suaka alam dengan ciri khas berupa tumbuhan, satwa, serta ekosistemnya yang perlu dilindungi sehingga kelangsungan hidupnya terjadi secara alami. Suaka margasatwa merupakan suatu kawasan suaka alam dengan ciri khas berupa keunikan dan keanekaragaman jenis satwa sedangkan untuk tujuan kelangsungan hidup yang ada di dalamnya dapat dilakukan pembinaa.

Gambar 3.6 Cagar Alam Telaga Renjeng

Sumber: Agus Mugi Raharjo/Wikimedia Commons/CC-BY-SA 4.0

Gambar 3.7 Suaka Margasatwa Baluran

Sumber: Febri Kristiawan/Wikimedia Commons/CC-BY-SA 4.0

b) Kawasan Pelestarian Alam

Kawasan pelestarian alam merupa- kan suatu kawasan hutan yang memiliki ciri khas dengan fungsi pokok memberi perlindungan terhadap      sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaraga- man jenis tumbuhan dan satwa, serta memanfaatkan sumber daya hayati dan ekosistemnya secara lestari. Kawasan pe- lestarian alam dibagi menjadi tiga bagian yaitu taman nasional, taman wisata alam, serta taman hutan raya.

Taman nasional adalah suatu kawasan dengan ekosistem asli, dimanfaatkan untuk tujuan penelitian dan ilmu pengeta- huan dengan pengelolaan sistem zonasi. Taman wisata alam merupakan kawasan pelestarian alam yang dimanfaatkan untuk rekreasi dan pariwisata. Taman hutan raya (tahura) merupakan kawasan yang dilestarikan dengan tujuan mengoleksi tum- buhan dan satwa untuk dimanfaatkan bagi ilmu pengetahuan, penelitian, pendidikan, budaya, pariwisata serta rekreasi. Pemanfaatan sumber daya hutan sebaiknya melibatan dan memberdayakan seluruh un- sur masyarakat serta mendorong mereka untuk menggunakan seluruh potensi yang dimiliki secara penuh.

Gambar 3.8. Taman Nas Rinjani

Sumber: Yon Illahi /Wikimedia Comm SA 4.0

Gambar 3.10 Taman Hutan Raya Djuanda

 

ional

 

ons/CC-BY-

 

Sumber: Samuderaeka /Wikimedia Commons/CC-BY-SA 4.0

 

 Lampiran 4
GLOSARIUM
  • Bahan galian/tambang golongan C merupakan bahan tambang yang digunakan dalam kegiatan industri dan secara tidak langsung memengaruhi hajat hidup
  • Bahan galian/tambang golongan A merupakan bahan tambang yang dikelola oleh pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta serta penting untuk keamanan  dan pertahanan
  • Bahan galian/tambang golongan B digunakan untuk memenuhi hajat hidup orang Pengelolaan dapat dilakukan oleh masyarakat dan pihak swasta dengan mendapat izin dari pemerintah.
  • Bahan Tambang adalah jenis sumber daya alam yang berupa mineral radioaktif, mineral logam, mineral bukan logam, batuan, batubara termasuk bitumen padat dan batuan aspal, minyak dan gas bumi, dan panas
  • Energi kelautan adalah energi terbarukan. Energi kelautan terdiri dari energi gelombang (wave power), energi pasang surut (tidal power), energi arus laut (current power), dan energi panas laut (ocean thermal energy conversion).
  • Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, pengendalian erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan
  • Hutan adalah tempat berupa lahan yang luas yang terdiri dari komponen- komponen biotik dan abiotik yang di dalamnya terdapat ekosistem yang saling mempengaruhi satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan
  • Kawasan pelestarian alam merupakan suatu kawasan hutan yang memiliki ciri khas dengan fungsi pokok memberi perlindungan terhadap sistem penyang- ga kehidupan, pengawetan keanekaraga- man jenis tumbuhan dan satwa, serta memanfaatkan sumber daya hayati dan ekosistemnya secara
  • Perikanan merupakan segala usaha penangkapan ikan serta pengolahan sampai pada pemasaran
  • permukaan laut, di dalam laut, dasar laut dan pesisir pantai yang dapat dimanfaatkan oleh sarana transportasi, media penghubung, pemersatu, medan pertahanan,
  • Sumber daya alam maritim adalah sumber daya alam yang mencakup semua Sumber Kekayaan Alam (SKA) maritim yang terkandung di laut, baik di
  • Sumber Daya Alam merupakan segala sesuatu yang terdapat di permukaan bumi serta dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
  • Taman nasional adalah suatu kawasan dengan ekosistem asli, dimanfaatkan untuk tujuan penelitian dan ilmu pengeta- huan dengan pengelolaan sistem zonasi.
  • Suaka margasatwa adalah sebuah kawasan suaka alam yang memiliki ciri khas berupa keunikan dan atau keanekaragaman jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap

 

Lampiran 5

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Nursa’ban, M, dkk. 2021. Buku Panduan Guru untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Nursa’ban, M, dkk. 2021. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP Kelas VII.

Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990. 1990. Pengertian Suaka Margasatwa.

Anonim. 2014. Pengertian Batu Bara. Sumatera Selatan : PT Bukit Asam Tbk.

Anonim. 2021. Bahan Tambang. SPIR JOGJA Provinsi. Yogyakarta : Sistem Informasi Penataan RuangDinas Pertanahan dan Tata Ruang Daerah Istimewa Yogyakarta. (Diakses pada tanggal 27 Juli 2022)

http://www.sipr.jogjaprov.go.id/sikoper/tarupedia/detail/bahan-tambang

Anonim. 2021. Hutan Lindung. SPIR JOGJA Provinsi. Yogyakarta : Sistem Informasi Penataan RuangDinas Pertanahan dan Tata Ruang Daerah Istimewa Yogyakarta. (Diakses pada tanggal 27 Juli 2022)

http://www.sipr.jogjaprov.go.id/sikoper/tarupedia/detail/hutan-lindung

Anonim. 2022. Pengertian Hutan Konservasi. Pengertian Jenis dan Fungsi Hutan Konservasi.

https://lindungihutan.com/blog/hutan-konservasi-pengertian-jenis-fungsi/ https://www.ptba.co.id/berita/artikel/getting-to-know-coal-563

Anonim.2021.Pengertian Sumber daya Hutan. Jakarta : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (Diakses pada tanggal 27 Juli 2022)

https://elearning.menlhk.go.id/pluginfile.php/849/mod_resource/content/1/pengert ian_sumber_daya_hutan.html

Perpustakaan Lemhannas RI (2022, Juli). Sumber Daya Maritim.(Diakses pada tanggal 27 Juli 2022 )

https://www.kompas.id/baca/bebas-akses/2022/01/29/menggali-potensi-ekonomi-dan-budaya-kabupaten-asmat

 

 

1.   Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Rencana Pelaksanaan Siklus II

Perencanaan siklus II akan dilaksanakan pada hari Senin tanggal 22 Januari 2024, pada jam ke-2 yaitu pada pukul 8.30 s.d 9.40 WIB. Adapun tahapan rencana pelaksanaan tindakan kelas siklus II ini adalah sebagai berikut:

Langkah pertama yaitu membuat   RPP. Mempersiapkan materi  dengan baik, yaitu keanekaragaman hayati dan persebaran jenis tanah di Indonesia. Mengkondisikan peserta didik dengan baik. Pendataan ruang kelas. Menyiapkan alat peraga yang sesuai. Memperbanyak jumlah gambar-gambar sebagai media pembelajaran. Memotivasi peserta didik agar berani menanyakan materi yang belum jelas. Memotivasi peserta didik agar mau dan mampu menjawab pertanyaan. Mengaktifkan peserta didik dalam kerja kelompok. Mengarahkan peserta didik untuk  berani  menyampaikan pendapat dalam kelompoknya. Dalam pembelajaran guru lebih menguasai kelas.

B.      Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan Pembelajaran Siklus Ke Dua

Sesuai dengan kesepakatan antara peneliti dengan 2 orang observer yaitu Ibu Yuyun, S.Pd, maka proses siklus II ini dilakukan pada   Kamis tanggal 22 Januari 2024,   pada jam ke-2 yaitu pada pukul 8.30   s.d 9.40 WIB, dalam 1 kali pertemuan dengan alokasi waktu 80 menit dengan materi pokok Potensi Sumber Daya Alam. Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan tindakan ini adalah sebagai berikut:

 

MODUL AJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

POTENSI SUMBER DAYA ALAM

 

 

I.  Informasi umum
A. Identitas
Nama Penyusun : NIKOLAUS LAOTBAYO, S.Pd.
Jenjang Sekolah : SMP
Satuan Pendidikan : SMP YPPGI AGATS
Tahun Ajaran : 2023/2024
Fase/Kelas : D/VIIA
Alokasi Waktu : 4 JP ( 2 x 40 menit)

 

  • Capaian Pembelajaran

Peserta didik mampu memahami dan memiliki kesadaran akan potensi sumber daya alam disekitar tempat tinggal

  • Kompetensi Awal

Peserta didik akan mengetahui potensi sumber daya di Indonesia. Sumber daya alam merupakan segala sesuatu yang terdapat di permukaan bumi serta dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

  • Profil Pelajar Pancasila
    1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlakmulia
      • Bersyukur Tuhan YME telah menganugerahkan tanah air kita Indonesia kondisi alam yang tropis, subur serta beragam kekayaan alam baik didaratan maupun
      • Peserta didik dapat melakukan dengan membiasakan untuk berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, beribadah di sekolah maupun luar sekolah, dan menjalankan perintah-perintah agama dalam belajar dan beraktivitas di sekolah dan luar
    2. Mandiri
      • Mempuyai rasa tanggungjawab terhadap aktivitas belajarnya dan hasil
      • Peserta didik dapat menuntaskan tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan LKPD dengan baik dan tepat
    3. Kreatif
      • Peserta didik mampu memberi ide/gagasan/karya dalam mengerjakan tugas
      • Menghasilkan gagasan yang orisinal, dan menghasilkan karya serta tindakan yang
  • Sarana dan Prasarana
Pertemuan ke Media Pmbelajaran Alat dan Bahan Pembelajaran

 

1 1.     LKPD aktivitas 1

2.     Laptop/LCD

3.     PPT

4.     Buku Siswa IPS VII

1.     Potensi Sumber Daya Alam

2.     Laptop/HP

3.     Alat tulis

 

  • Target Peserta Didik

Sebanyak 20 peserta didik

  • Moda dan Model pembelajaran yang digunakan :
Ketersediaan Materi Model dan Moda Pembelajaran
1.    Pengayaan untuk siswa berpencapaian tinggi 1. Model Pembelajaran

Discovery Learning

Asesmen Jenis asesmen
Diskusi kelompok Diskusi kelompok

 

  • Materi Ajar

Potensi Sumber Daya Alam

    1. Komponen Inti
    2. Tujuan Pembelajaran
      1. Melalui pembelajaran Discovery Learning peserta didik mampu menjelaskan potensi sumber daya
      2. Melalui pembelajaran Discovery Learning peserta didik mampu Menganalisis faktor-faktor penyebab perubahan potensi sumber daya
    3. Pemahaman bermakna
      • Sumber daya alam merupakan segala sesuatu yang terdapat di permukaan bumi serta dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
      • Memahami Potensi sumber daya alam berdasarkan kelestariannya
  • Pertanyaan Pemantik

Pertanyaan Pemantik

1.       Apa sumber daya alam di Indonesia disekitar tempat tinggal kalian?

2.       Apakah sumber daya alam ditempat tinggal kalian sejak dahulu hingga sekarang?

Persiapan Pembelajaran

Sebelum pembelajaran dimulai pastikan bahwa peserta didik:

1.          Mempersiapkan alat tulis dan buku

2.          Melakukan assesmen diagnostik kognitif dan non kognitif

  • Kegiatan Pembelajaran Pertemuan 3 (Discovery Learning)
Tahap Deskripsi Alokasi waktu
Pendahuluan

 

 

 

 

1. Guru mempersiapkan secara fisik dan psikis peserta didik untuk mengikuti pembelajaran dengan melakukan berdoa, menanyakan kehadiran peserta didik, kebersihan dan kerapian kelas, kesiapan buku  tulis  dan sumber belajar.

2. Menyampaikan manfaat pembelajaran, Guru menginformasikan tujuan pembelajaran tentang perubahan potensi sumber daya alam.

3. Guru dan siswa membuat kesepakatan kelas

4. Aktivitas Pemantik:

Peserta didik difasilitasi guru mengaitkan video dengan bagaimana sumber daya ekonomi dapat memengaruhi sejarah masa lalu, kegiatan ekonomi serta status dan diferensiasi sosial di masyarakat.

Guru      menyampaikan       langkah-langkah pembelajaran.

5. Guru menyampaikan penilaian

 

15’
Kegiatan inti Tahap 1 Orientasi peserta didik pada masalah Mengamati

3.       Mengorientasikan peserta didik terhadap masalah

a.       Guru menjelaskan tentang gambar masyarakat pesisir pada awal tema untuk mengidentiikasi bentang alam yang ada di sekitar rumahnya. Kegiatan orientasi dapat dilakukan dengan aktivitas individu seperti di bawah ini.

❖    Aktifitas kelompok

Bagaimana bentuk bentang alam didaerah kalian?

❖    Apakah potensi alam paling besar didaerah kalian?

❖    Bandingkan dengan teman lainnya yang berasal dari daerah berbeda!

❖    Apakah kalian memiliki kesamaan atau perbedaan potensi sumber daya alam?

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada siswa setiap daerah memiliki bentang alam yang memengaruhi potensi sumber daya alam. Proses saling tukar hasil temuan peserta didik dapat dilakukan dalam waktu singkat, kemudian guru melakukan tanya jawab dengan siswa terkait hasil identiikasi. Secara interaktif guru mengaitkan hasil identiikasi dengan orientasi pembelajaran.

b.       Tanya jawab tentang bentang alam, potensi alam, dan faktor yang menyebabkan perbedaan sumber daya.

4.       Mengorganisasi peserta didik untuk belajar

Ø Peserta didik diberikan waktu untuk membaca buku siswa terkait konsep potensi sumber daya alam.

Ø Peserta didik mengamati lingkungan sekitar mengenai bentang alam yang ada di sekitarnya dan membandingkannya dengan teman lain.

Ø Peserta didik mengidentiikasi bagaimana cara memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk memenuhi kebutuhan.

Ø Peserta didik mengidentiikasi bagaimana cara agar potensi alam dapat digunakan namun tetap lestari.

Ø Peserta didik menganalisis apa yang menyebabkan perubahan potensi sumber daya alam.

5.       Membimbing kegiatan individual  maupun kelompok

Ø  Guru membimbing siswa dalam kelompok untuk mengumpulkan informasi Peserta didik mencari sumber informasi lain mengenai potensi sumber daya alam.

 

55’
Tahap 2 Mengorganisasikan peserta didik Pertanyaan pemantik

1.   Apa sumber daya alam di Indonesia disekitar tempat tinggal kalian?

2.   Apakah sumber daya alam ditempat tinggal kalian sejak dahulu hingga sekarang?

3.   Bagaimanakah potensi sumber daya alam di Indonesia?

Siswa menjawab dan mengambil kesimpulan dari hasil analisis gambar tersebut Mengeksplorasi

a. Peserta didik menempati tempat duduknya sesuai kelompoknya masing-masing

b. Guru memberikan LKPD dan membimbing peserta didik untuk mengerjakan tugas sesuai dengan aktivitas kelompok

c.  Peserta didik mendengarkan penjelasan tentang petunjuk kerja dan tugas dari lembar aktivitas kelompok, untuk mengidentifikasi dan menuliskan potendi sumber daya alam dilingkungan sekitar

d.   Peserta didik mengumpulkan hasil pekerjaannya kelompok

 
Tahap 3

Membimbing

Penyelidikan individi / kelompok

a.  Melalui pengerjaan LKPD peserta didik mengumpulkan informasi sebanyak mungkin potensi sumber daya alam dilingkungan sekitar tempat tinggal

b.  Guru memberikan bimbingan kepada peseta didik yang membutuhkan

 
Tahap 4 mengembangkan dan menyajikan hasil karya a.       Peserta didik dengan bimbingan guru menyimpulkan hasil pekerjaannya

b.       Peserta didik mempresentasikan hasil pekerjaan kelompok

 

 
Tahap 5

Menganaslisis dan mengevaluasi proses

a.     Peserta didik diminta untuk menanggapi presentasi  dari kelompok temannya

b.    Guru memberikan penilaian

 
  1.  Guru membimbing peserta didik menyimpulkan materi pembelajaran melaluitanya jawab secara klasikal.

2.  Guru menjelaskan rencana pembelajaran pada selanjutnya

10’

 

  • Pengayaan dan remedial
  1. Pengayaan

Pengayaan diberikan kepada siswa yang memiliki capaian pembelajaran melebihirata- rata kelas

    • Pertemuan 1

Peserta didik membuat peta silisilah keluarga salah seorang tokoh nasional/pahlawan nasional.

  1. Remedial

Remedial dilaksanakan untuk peserta didik yang belum memahami materi sejarah keluarga/ capaian pembelajaran kurang dari rata-rata kelas. Kegiatan remedial dilakukan dengan mengulang materi pembelajaran apabila peserta didik belum memahami dari materi, remedial dapat dilakukan atara lain sebagai berikut:

  • Pembelajaran ulang, dilakukan ketika sebagian besar peserta didik menunjukkan kesulitan dalam memahami konsep yang dipelajari. Pada saat remedial, guru mengubah metode pengajaran atau menggunakan media yang berbeda serta menyesuaikan tugas yang diberikan kepada peserta
  • Memberikan bimbingan di luar jam tatap muka bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar tertentu
  • Memberikan penugasan kepada peserta didik yang belumtuntas

Refleksi Guru dan Peserta Didik

  1. Refleksi Guru

Guru melakukan refleksi dari hasil refleksi siswa dan memperbaiki segalakekurangannya pada pertemuan selanjutnya, yang meliputi:

    1. Materi mana yang membuat siswa bosan?
    2. Apa usaha Anda untuk menghilangkan kendala bosan pada siswa tersebut?
    3. Apakah ada sesuatu yang menarik pada pembelajaran materiini?
    4. Materi mana yang insgin Anda dalami untuk kepentingan pembelajaran berikutnya?
  1. Refleksi Peserta Didik
    1. Pertemuan 1

Pembelajaran hari ini telah kalian selesaikan dengan penuhtanggung jawab dan semangat. Selama Ananda menyelesaikan aktivitas-aktivitas pembelajaran tentu ada hal-hal yang dapat Ananda ungkapkan, untuk itu disilahkan dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut:

      • Apa yang kalian pahami setelah mempelajari potensi sumber daya alam di Indonesia?
      • Pengalaman penting apa yang kalian peroleh setelah mempelajari materi potensi sumber daya alam?
      • Apa manfaat mempelajari materi sumber daya alama?

Tabel 4.4 Hasil Observasi Aktivitas Guru Mengajar Siklus II

 

No. Indikator Penilaian Katagori
1

2

3

4

5

6

Membuka pelajaran

Penggunaan media gambar

Menjelaskan materi pelajaran

Memberi waktu berpikir

Pengelolaan kelas

Menutup pelajaran

3

3

3

3

3

3

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Sumber : Data Primer Penelitian Tindakan Kelas Tahun 2012

 Berdasarkan tabel di atas hasil observasi aktivitas guru mengajar siklus II dapat diuraikan; kemampuan guru dalam membuka pelajaran masuk dalam kategori baik karena relevan dengan materi, kemampuan guru dalam menjelaskan materi pelajaran masuk dalam kategori baik karena relevan dengan materi, kemampuan guru dalam memberi waktu berpikir masuk kategori baik karena guru telah memberikan waktu untuk berpikir dalam menjawab pertanyaan, kemampuan guru dalam pengelolaan kelas masuk kategori baik karena, suasana kelas sudah terkendali, kemampuan guru dalam menutup pelajaran masuk kategori sangat baik  karena  pada akhir pelajaran guru sudah melibatkan peserta didik dalam menyimpulkan materi pelajaran yang baru dipelajari.

C.   Pembahasan Hasil Penelitian
  1. Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik

a.    Siklus II

Berdasarkan hasil analisis dan observasi di atas  didapat beberapa catatan antara lain :

    • Kaitannya dengan aktifitas peserta didik  masih  terdapat  peserta didik  yang kurang aktif mengikuti
    • Sebagian besar peserta didik sudah menguasai materi

2.   Hasil  Belajar Peserta Didik

Berdasarkan tabel hasil belajar IPS Peserta didik kelas VII YPPGI Agats menggunakan media gambar, dapat diperoleh informasi bahwa pada siklus II, sebagian besar hasil belajar peserta didik belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Belum semua peserta didik mendapatkan nilai di atas KKM yang ditentukan, karena masih terdapat 20 orang peserta didik atau 58,82% yang mendapatkan nilai di bawah KKM yang telah ditentukan, atau daya serap kelulusannya adalah sebesar 41,17%.

 

BAB III

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

Perencanaan Penelitian

    • Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Pembuatan RPP ini dilaksanakan pada hari Jumad 18 Januari 2024, bersama dengan dengan Ibu Yuyun,S.Pd yang bertugas sebagai observer dalam penelitian tindakan kelas yang dilkukan oleh peneliti. Sebelum kepada tahap penyusunan RPP peneliti bersama dengan teman observer mengadakan diskusi terlebih dahulu untuk menentukan standard kompetensi dan kompetensi dasar yang akan digunakan dalam penelitian. Setelah mengadakan diskusi bersama dengan teman observer yaitu Monika Ratuanik,S.Pd, Yohanes Vianney Geroda Kopong,s.Pd  akhirnya kami menemukan kompetensi dasar yang cocok dengan penggunaan media gambar yaitu Potensi sumber daya alam Indonesia.

Kami sepakat bahwa pelaksaan siklus II akan dilaksanakan pada hari Senin tanggal 22 Januari 2024, jam ke-2 yaitu pada pukul 8.30 s.d 9.40 WIB. Adapun tahapan rencana pelaksanaan tindakan kelas siklus II iIni adalah sebagai berikut:

Langkah pertama yaitu membuat RPP. Mempersiapkan materi dengan baik. Mengkondisikan peserta didik dengan baik. Pendataan ruang kelas. Menyiapkan alat peraga yang sesuai. Memperbanyak jumlah gambar- gambar sebagai materi.   Memotivasi peserta didik agar berani menanyakan materi yang belum jelas. Memotivasi peserta didik agar mau dan mampu menjawab pertanyaan. Mengaktifkan peserta didik dalam kerja kelompok. Mengarahkan peserta didik untuk berani menyampaikan pendapat dalam kelompoknya. Dalam pembelajaran guru lebih menguasai kelas.

BAB IV

 KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah  dilaksanakan  dalam siklus  ke dua dapat disimpulkan, bahwa dengan menggunakan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar pada pelajaran IPS.

  1. Dengan melihat hasil analisis dan hasil observasi aktifitas Peserta didik, Pada siklus II masih  terdapat peserta didik yang kurang aktif mengikuti pembelajaran, tapi pada siklus II ini sebagian besar peserta didik sudah menguasai materi pembelajaran. Semua peserta didik sudah menguasai materi pembelajaran. Semua peserta didik sudah terbiasa belajar dengan menggunakan media
  2. Berdasarkan tabel hasil belajar IPS Peserta didik kelas VII YPPGI Agats menggunakan media gambar, dapat diperoleh informasi bahwa. Sebagian besar   peserta  didik   mendapatkan  nilai  di   bawah  KKM    yang ditentukan. Pada siklus II, dapat diketahui bahwa hampir semua peserta didik telah mendapatkan nilai di atas KKM yang ditentukan dengan nilai rata – rata kelas 72,59.
B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut :

Bagi Peserta didik

    1. Peserta didik ikut berperan aktif dalam proses
    2. Selalu melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh
    3. Dalam meningkatkan kemampuan peserta didik hendaknya lebih berusaha dan mau berinteraksi dengan

Bagi Guru

      1. Dalam pembelajaran hendaknya menggunakan model pembelajaran yang
      2. Memilih dan menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan  sesuai dengan
      3. Lebih mempersiapkan perencanaan pembelajaran sebelum pembelajaran dimulai.

Bagi Sekolah

    1. Menyediakan fasilitas yang mendukung untuk pembelajaran terutama dalam pembelajaran
    2. Menggiatkan adanya kelompok

Bagi Orang Tua

    1. Mengarahkan dan membimbing belajar anaknya di
    2. Menjalin kerjasama     dengan     pihak     sekolah     untuk memantau perkembangan

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top