Guraru

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS EKSPOSISI ANALITIK MENGGUNAKAN MODEL CAFE

  1. PENDAHULUAN

 

Pembelajaran bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas menggunakan kurikulum 2013 dengan model pembelajaran berbasis teks (Genre-Based Approach). Salah satu kemampuan menulis yang harus dimiliki peserta didik yaitu kemampuan menulis teks analytical exposition. Hal ini sejalan seperti yang diamanahkan pada kurikulum 2013, peserta didik diharapkan memiliki kemampuan menulis berbagai jenis teks yang berbeda sebagai bekal kecakapan hidup.

Para ahli pendekatan genre-based berpendapat bahwa dalam proses belajar guru atau pendidik mempunyai tanggung jawab untuk melakukan intervensi dalam proses pembelajaran menulis (Christie,1991). Peserta didik harus mendapatkan “direct telling” (menceritakan secara langsung) bagaimana cara menulis dengan baik dan benar karena kemampuan menulis tidak “given” (instan), namun harus dipelajari (Rothery, 1996).

Penelitian Martin dan Christi (2007) membuktikan bahwa genre seperti analytical exposition harus diajarkan secara eksplisit di sekolah dan pendidik harus memahami bagaimana teks ini dikonstruksi. Hal ini sejalan seperti yang diungkapkan oleh Gibbons (2009) bahwa menulis harus diajarkan sebagai proses, bukan sebagai kegiatan yang dilakukan dalam satu waktu saja tapi sebagai proses “recursive” (berulang-ulang).

Penelitian telah memperlihatkan bahwa penggunaan berbagai model pembelajaran dalam keterampilan menulis memberikan kontribusi bagi proses pembelajaran menulis itu sendiri. Pendidik mempunyai peran yang besar untuk memilih model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kemampuan menulis peserta didik (Rencus Sinabariba, 2017). Karena itu didalam memilih model pembelajaran guru harus memperhatikan keadaan atau kondisi peserta didik, bahan ajar, serta sumber-sumber belajar yang ada agar penggunaan model pembelajaran dapat diimplementasikan secara efektif dan menunjang keberhasilan belajar peserta didik (Sardiman, 2004)

Dianna Sanchez (2010) mengemukakan bahwa, language teachers will be in a unique position to promote environmental awareness while teaching English. Hal ini juga diperkuat oleh Stachi, Elena, and Fredricka in English Teaching Forum Magazine (2012) that by integrating environmental education into the language classroom, educators can (1) heighten students’ interest in contemporary issues that might directly influence their futures, more sustainable world; (2) teach students how to contribute to a healthier; and (3) promote language learning and meaningful communication. Berdasarkan penelitian terdahulu oleh para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran guru bahasa memilki peran yang sangat penting untuk mempromosikan kesadaran lingkungan saat mengajar bahasa Inggris karena peserta didik akan belajar memahami isu-isu terkini yang berdampak langsung pada pembentukan karakter peserta didik, mengajarkan mereka bagaimana berkontribusi pada dunia yang lebih sehat, dan mempromosikan pembelajaran bahasa Inggris dan komunikasi yang bermakna.

Penelitian Moore dan Parker (1995) mengungkapkan, teks analytical exposition termasuk teks yang sulit menurut siswa. Membuat tesis, membuat serangkaian argumen yang mendukung tesis, mencari fakta atau bukti yang mendukung argumen dan membuat penegasan tesis awal. Persepsi siswa mengenai sulitnya mempelajari teks analytical exposition diduga karena proses belajar menulis belum dilakukan secara “direct telling” dan proses menulis itu sendiri belum dilakukan secara aktif, dan menyenangkan. Padahal, dalam proses pembelajaran siswa akan termotivasi jika siwa tahu apa yang mereka pelajari, paham “mengapa”, topiknya menarik untuk dibahas, dan memiliki kesempatan untuk berkontribusi (Moore A. and Quintrell M, 2001).

Pra penelitian yang dilakukan menunjukkan kemampuan menulis analytical exposition peseerta didik kelas XI IPA 3 MAN IC Gorontalo belum maksimal. Beberapa temuan yang penulis peroleh dalam pra tindakan yaitu: (1) butuh waktu yang lama untuk menulis. (2) kurang mengasah kemampuan berpikir kritis. (3) belum maksimal membuat argumen dan mencari fakta, contoh, atau bukti -bukti yang mendukung argument. (4) kesulitan mengorganisasikan ide. (5) tulisan belum sesuai dengan organisasi teks. (6) masih cenderung menyalin teks analytical exposition yang sudah ada. (7) kurangnya kosa kata dan masih banyak kesalahan dalam tata bahasa. (8) kurang percaya diri dalam menulis. (9) kurang peka terhadap terhadap isu-isu lingkungan di sekitar mereka.  

Berdasarkan beberapa penelitian diatas dan rendahnya kemampuan menulis teks analytical exposition siswa kelas XI IPA 3 MAN IC Gorontalo menginspirasi penulis untuk membuat model pembelajaran yang memudahkan siswa untuk menulis teks analytical exposition. Model CAFÉ adalah model pembelajaran yang dirancang penulis untuk memudahkan peserta didik dalam proses menulis dengan memaksimalkan dan mengasah kemampuan berpikir peserta didik secara kritis (sharpen students’ critical thinking), pembelajaran aktif (active learning), menulis merupakan aktifitas yang menyenangkan (fun), dan memanfaatkan lingkungan (environment) asrama MAN IC Gorontalo sebagai objek tulisan siswa yang dituangkan dalam teks analytical exposition. Selain itu, Café model juga membantu siswa mengalami sendiri apa yang terjadi dilingkungan sekitar mereka yang perlu mendapat perhatian serta memudahkan siswa dalam mencari data atau fakta-fakta yang berkaitan dengan serangkaian argumen yang akan dibuat. Dalam proses menulis menggunakan model pembelajaran ini, peserta didik dibagi dalam kelompok dengan melakukan tahapan-tahapan menulis “direct telling” yaitu tahap pra menulis, menulis, dan pasca menulis. Model pembelajaran ini diharapkan mampu menjawab kesulitan peserta didik dalam menulis teks analytical exposition dan menjadikan menulis sebagai suatu aktifitas yang mengasyikan.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut; (1) Bagaimana meningkatkan kemampuan menulis teks analytical exposition menggunakan model café di kelas XI IPA3 MAN IC Gorontalo? (2) Sejauh mana penerapan model café dapat meningkatkan kemampuan menulis teks analytical exposition di kelas XI IPA 3 MAN IC Gorontalo? (3) Bagaimana respon peserta didik setelah penerapan model café dalam meningkatkan kemampuan menulis teks analytical exposition di kelas XI IPA 3 MAN IC Gorontalo?  Tujuan penelitian tindakan kelas ini untuk mendeskripsikan penerapan model café dalam meningkatkan  kemampuan menulis teks analytical exposition di kelas XI IPA 3 MAN IC Gorontalo, untuk menjelaskan hasil penerapan model café dalam meningkatkan kemampuan menulis teks analytical exposition di kelas XI IPA MAN IC Gorontalo, dan untuk menjelaskan respon peserta didik setelah penerapan model café dalam meningkatkan kemampuan menulis teks analytical exposition di kelas XI IPA 3 MAN IC Gorontalo. Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah untuk memberikan kontribusi pemikiran dan acuan penelitian lebih lanjut untuk perbaikan mutu pendidikan dan meningkatkan kemampuan peserta didik, khususnya untuk meningkatkan kemampuan menulis teks analytical exposition. Manfaat praktis yang dapat diperoleh oleh peserta didik dari penelitian yaitu; Memudahkan memahami materi pembelajaran menulis teks analytical exposition, menumbuhkan rasa cinta menulis, melatih berpikir kritis dan logis dalam membuat serangkaian argumen, menciptakan suasana belajar yang aktif, kreatif, menyenangkan dan kolaboratif, memanfaatkan lingkungan asrama sebagai media menulis. Manfaat bagi guru dan dunia pendidikan sebagai berikut; Menambah variasi model pembelajaran sebagai alternatif untuk   meningkatkan kemampuan peserta didik memahami teks analytical exposition, dan menghasilkan tulisan analytical exposition dengan baik dan benar. Meningkatkan keterampilan mengelola kegiatan belajar mengajar, menyelipkan going green: merging environmental education and language instruction, mempromosikan autonomous learning.

 

  1. KAJIAN PUSTAKA

 

          Model Café adalah model pembelajaran yang dirancang penulis untuk memudahkan peserta didik dalam menulis teks analytical exposition. Model pembelajaran café dalam menulis teks analytical exposition memuat unsur-unsur critical thinking, memaksimalkan dan mengasah kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam membuat serangkaian argumen, active learning, pembelajaran menulis aktif dimana peserta didik terlibat secra aktif dalam kegiatan yang meliputi aktifitas mengamati, interaksi, komunikasi, dan refleksi; fun learning, pembelajaran menulis merupakan suatu hal yang mengasyikan; environment, memanfaatkan lingkungan sekitar asrama MAN IC sebagai objek tulisan dengan menyelipkan dan mempromosikan going green. Model pembelajaran café dalam menulis teks analytical exposition terdiri dari tiga tahapan yaitu pra menulis, menulis, dan pasca menulis. Pra-menulis diawali dengan menentukan topik dan tujuan penulisan. Pada tahapan menulis, peserta didik melakukan pencarian data, membuat peta konsep, dan membuat draft tulisan. Dalam tahapan pasca-menulis, peserta didik merevisi, mengedit, mengkomunikasikan, dan mempublikasikan hasil tulisan tersebut.

         

Keterampilan menulis

          Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik. Saleh Abas (2006:125) menyatakan bahwa keterampilan menulis merupakan kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan dengan menggunakan tulisan.

          Nurmahanani (2011) mengungkapkan bahwa menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang produktif karena akan menghasilkan suatu produk tulisan. Melalui menulis seseorang akan akan menjadi lebih kreatif dan berpikir kritis. Menulis bukan sekedar kegiatan motorik namun juga melibatkan mental seseorang. Melalui tulisan, seseorang dapat menyampaikan makna, idea, pikiran, dan perasaan melalui rangkaian kata-kata tertulis dan ini perlu dipelajari dan dilatih (Yarni Gusti, 2014)

 

Analytical Exposition Teks

          Analytical teks merupakan teks yang dianggap sulit bagi peserta didik. Penelitian Moore dan Parker (1995) mengungkapkan, teks analytical termasuk teks yang sulit menurut peserta didik, memerlukan banyak alasan atau argumen. Persepsi peserta didik mengenai sulitnya mempelajari teks analytical diduga karena proses belajar menulis belum dilakukan secara aktif, fun, dan kurang mengasah kemampuan berpikir kritis peserta didik, ditambah lagi dengan model pembelajaran menulis yang membosankan. Peserta didik akan termotivasi ketika dalam belajar mereka want to learn (mau belajar), know what to be learnt (tahu apa yang akan dipelajari), find the topic interesting (topiknya menarik untuk dibahas), understand “why” (paham ‘mengapa’), have the chance to contribute (punya kesempatan berkontribusi) (Moore A dan Quintrell M, 2001).

Pardiyono (2007:222) menyatakan bahwa struktur analytical teks terdiri dari dari tesis yang memuat pernyataan penulis mengenai masalah tertentu, serangkaian argumen yang mengandung fakta-fakta deskriptif, reiteration (penguatan) yang terdiri dari kesimpulan singkat untuk meyakinkan bahwa alasan yang dinyatakan penulis dapat diterima. Oleh sebab itu menulis merupakan keterampilan yang sulit dan sangat kompleks (St.Y. Slamet:2008)

Kerangka Berpikir

Pra penelitian membuktikan bahwa kemampuan siswa dalam menulis teks analytical exposition masih sangat rendah, dan belum sesuai dengan struktur teks yang baku. Dengan model pembelajaran café diharapkan dapat memudahkan siswa untuk menulis teks analytical exposition dengan baik dan benar.

Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini yaitu melalui model pembelajaran café dapat meningkatkan kemampuan menulis teks analytical exposition pada peserta didik kelas XI IPA 3 MAN IC Gorontalo.

C.METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Action Research). Penelitian tindakan kelas dilaksanakan melalui empat tahap yaitu perencanaan tindakan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian dilakukan di MAN IC Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango di kelas XI IPA 3, dengan subjek penelitian berjumlah 17 peserta didik. Penelitian ini berlangsung selama satu setengah bulan dari bulan Agustus sampai dengan September 2019. Sumber data penelitian ini berasal dari peserta didik yang melaksanakan proses pembelajaran menulis analytical exposition text, dan penulis sendiri, serta kolaborator. Jenis data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif.

 

          Tindakan pada siklus I. Tahap perencanaan; menetapkan jadwal penelitian, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menyusun lembar kerja siswa (worksheet), menyusun daftar nama siswa dan lembar pengamatan aktivitas siswa, menyusun rubrik penilaian menulis teks analytical exposition, menyusun instrumen tes tertulis di akhir siklus, mencari referensi-referensi yang berkaitan dengan teks analytical exposition. Pelaksanaan Tindakan; guru memberikan motivasi dan mereview materi yang sudah dipelajari dan mengaitkannya dengan materi yang akan dipelajari dalam teks analytical exposition, guru menjelaskan rencana pembelajaran pada saat itu dan menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, guru memutarkan video tentang CBT (Computer Based Test) should be implemented at schools, guru bertanya berbagai hal dan meminta pendapat siswa dengan mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan terkait dengan video, guru menjelaskan dengan singkat tentang materi analytical exposition dan mengaitkan dengan video tentang CBT, guru menjelaskan tentang pembelajaran cafe yang akan digunakan dalam menulis teks analytical exposition, guru membagi peserta didik menjadi 6 kelompok, melakukan diskusi pada kelompok masing-masing dengan menggunakan jigsaw reading, peserta didik mengidentifikasi generic structure pada lembar kerja siswa dan mendiskusikannya dengan kelompok ahli, peserta didik kembali ke kelompok awal dan saling bertukar informasi tentang apa yang mereka diskusikan di kelompok inti dan mempresentasikan hasil diskusi dan anggota yang yang lain saling menanggapi, peneliti melakukan evaluasi dan observasi terhadap perilaku belajar peserta didik dengan menggunakan lembar observasi. Pada akhir pertemuan, penulis memberikan tugas mandiri dalam kelompok untuk menulis teks analytical exposition dengan topik-topik yang sudah ditentukan, peneliti melakukan refleksi tentang pelaksanaan pembelajaran. Tahapan Observasi. Kegiatan observasi dilakukan untuk melihat sejauh mana peserta didik memahami materi analytical exposition yang disampaikan dengan menggunakan model cafe yang meliputi tiga tahapan penulisan yaitu tahap pra menulis, tahap menulis dan tahap pasca menulis dan guru mencatat seluruh aktivitas peserta didik pada lembar observasi yang akan di refleksi pada siklus berikutnya. Refleksi. Pada tahap ini refleksi dilakukan oleh guru dan kolaborator dengan cara melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan meliputi evaluasi pembelajaran yang dilakukan, melakukan perbaikan terhadap tindakan sesuai hasil evaluasi yang dituangkan pada rencana siklus II, hasil penelitian diperoleh dengan menggunakan tabulasi yang kemudian dipersentasekan.

 

Tindakan pada siklus II. Pada tahap perencanaan guru melakukan identifikasi masalah dan pemecahan alternatif masalah, menyusun RPP, penyusunan soal dan instrumen tes akhir siklus II. Pada tahap pelaksanaan guru melakukan tahapan-tahapan pelaksanaan seperti yang tertuang dalam RPP di siklus II dengan mempertimbangkan temuan-temuan yang diperoleh di siklus I. Pada siklus II ini sebelum menulis, peserta didik menyimak lagu 3R dan mengisi teks rumpang. Bersama pasangannya peserta didik mendiskusikan makna 3R sesuai dengan perspektif masing-masing kelompok masing-masing. Melalui lirik lagu peserta didik mencari data atau fakta-fakta 3R (reduce, reuse, dan recycle). Selanjutnya dengan bantuan 3R cards games, peserta didik mengelompokkan fakta-fakta yang termasuk dalam kategori reduce, reuse, dan recycle. Penulis menambahkan dengan lembar wawancara yang berisikan pertanyaan-pertanyaan untuk wawancara yang berkaitan dengan 3R. Peserta didik melakukan wawancara dengan pasangannya yang kemudian mencari pasangan lain untuk diwawancarai. Hasil wawancara dikumpulkan berupa data yang akan digunakan untuk memudahkan peserta didik dalam mencari data. Peserta didik melaporkan research finding dengan pasangannya dan kelompok lain menanggapi. Setelah data terkumpul peserta didik menyimpulkan hasil temuan mereka. Peserta didik mulai menulis teks analytical exposition secara individual dengan menggunakan tema 3R di asrama MAN IC Gorontalo. Untuk mengukur keberhasilan peserta didik menulis teks analytical exposition, penulis menggunakan rubrik penilaian. Pada tahap pasca writing peserta didik bersama pasangannya membuat persuasive poster yang berisikan tema 3R. Poster tersebut akan dipresentasikan dan dipublikasikan di sekolah dalam bentuk mading, gedung asrama, ruang kelas, kantin, dan perpustakaan sekolah. Pada tahap observasi pelaksanaannya hampir sama seperti di siklus I yaitu guru dan observer mengamati dan mencatat aktivitas peserta didik ketika berdiskusi, melakukan wawancara, melaporkan finding research, dan presentasi kelompok. Pada tahap refleksi penulis mereview hasil pengamatan yang dilakukan berdasarkan lembar observasi baik kekurangan dan kelebihan melalui temuan-temuan pada siklus II. Analisis terhadap hasil penilaian teks analytical exposition dianalisis menggunakan tabulasi yang akan dipersentasekan untuk memperoleh kemampuan peserta didik menulis teks analytical, skor maksimum, skor minimum, dan rerata siswa

 

D.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

Deskripsi Kondisi Awal

Analytical exposition teks merupakan salah satu teks yang dianggap sulit menurut peserta didik XI IPA 3, hal ini ditunjukkan juga oleh peserta didik dengan kondisi pra menulis teks analytical exposition yaitu: (1) peserta didik masih memerlukan waktu yang lama untuk menulis, (2) peserta didik kurang mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis, (3) peserta didik belum maksimal dalam membuat argumen dengan baik, (4) antara paragraf satu dengan yang lainnya tidak koheren, (5) penggunaan kata transisi yang masih membingungkan, dan (6) kesulitan menemukan fakta atau bukti untuk mendukung argumen.

 

Deskripsi Hasil Siklus I

 

Dalam siklus I, peserta didik masih kesulitan membuat tesis dan argumen serta fakta-fakta yang mendukung argumen. Dari 17 orang peserta didik di kelas XI IPA 3 MAN IC Gorontalo terdapat 11 orang peserta didik yang kurang mampu menulis teks analytical expository, 5 peserta didik cukup mampu, 1 orang peserta didik baik kemampuannya dalam menulis teks analytical exposition, dan 1 orang peserta didik sangat baik dalam menuliskan teks analytical exposition.

Hasil yang diperoleh peserta didik pada tahap awal menulis teks analytical exposition dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

 

Tabel 1

Kemampuan Menulis Teks Analytical Exposition Pada Siklus I

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No

NAME

Tujuan

Organisasi

Thesis 

Arguments

Reiteration

TOTAL SCORE

PREDIKAT

 

 

 

 

1

Student 1

3

4

3

3

3

80

B

 

 

2

Student 2

3

2

2

2

2

55

K

 

 

3

Student 3

3

2

2

2

2

55

K

 

 

4

Student 4

3

3

2

2

3

65

C

 

 

5

Studentn5

2

3

2

2

3

60

K

 

 

6

Student 6

3

3

2

2

3

65

C

 

 

7

Student 7

3

2

2

2

3

60

K

 

 

8

Student 8

3

2

2

2

2

55

K

 

 

9

Student 9

3

2

2

2

2

55

K

 

 

10

Student 10

4

3

3

4

3

85

SB

 

 

11

Student 11

3

2

2

2

3

60

K

 

 

12

Student 12

3

2

2

2

3

60

K

 

 

13

Student 13

3

2

2

2

3

60

K

 

 

14

Student 14

3

2

2

2

3

60

K

 

 

15

Student 15

3

3

2

3

2

65

C

 

 

16

Student 16

3

3

3

3

2

70

C

 

 

17

Student 17

2

2

2

2

3

55

K

 

 

Jumlah Skor

50

42

37

39

45

1065

 

 

 

Skor Maksimal

68

68

68

68

68

1700

 

 

 

% Skor Tercapai

73.5

61.8

54.4

57.4

66.2

1566.2

 

 

 

 

 Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa (1) dari 17 orang peserta didik kelas XI IPA 3 MAN Insan Cendekia Gorontalo terdapat 64,7% kurang mampu menulis teks analytical exposition. (2) 23.5% peserta didik cukup mampu menuliskan teks analytical exposition. (3) 6% peserta didik baik dalam menuliskan analytical exposition. (4) 6% peserta didik sangat baik dalam menulis teks analytical exposition. Dari data tersebut menunjukkan bahwa peserta didik masih belum maksimal dalam menulis teks analytical exposition menggunakan café 1.

 

Deskripsi Hasil Siklus II

Pada siklus II, berdasarkan hasil pengamatan dan hasil penilaian yang diperoleh peserta didik setelah melakukan proses menulis teks analytical exposition dengan menggunakan model CAFÉ II diperoleh hasil rata-rata pada siklus II sebesar 79,12. Peserta didik belum tuntas sebanyak 4 orang atau 23,52% dan peserta didik tuntas sebesar 76,47%. Nilai tertinggi 90 dan terendah 55. Hal ini terlihat pada tabel dibawah ini:

 

Tabel 2

 

Kemampuan Menulis Teks Analytical Exposition Pada Siklus II

 

 

NO

NAME

Tujuan

Organi zation

Thesis

Argu

ments

Reite

ration

TOTAL SCORE

PRE

DIKAT

 
 

1

Student 1

4

4

3

4

3

90

SB

 

2

Student 2

4

4

3

3

3

85

SB

 

3

Student 3

4

3

3

3

3

80

B

 

4

Student 4

4

4

3

2

2

75

B

 

5

Student 5

4

4

3

2

3

80

B

 

6

Student 6

4

2

2

3

3

70

C

 

7

Student 7

4

4

3

3

3

85

SB

 

8

Student 8

3

2

2

2

2

55

K

 

9

Student 9

4

3

3

2

2

70

C

 

10

Student 10

4

4

3

3

3

85

SB

 

11

Student 11

4

4

3

3

3

85

SB

 

12

Student 12

3

3

3

2

2

65

C

 

13

Student 13

4

4

3

3

3

85

SB

 

14

Student 14

4

4

3

3

3

85

SB

 

15

Student 15

4

4

3

3

3

85

SB

 

16

Student 16

4

4

4

3

3

90

SB

 

17

Student 17

4

4

3

2

2

75

B

 

Jumlah Skor

66

61

50

46

46

1345

 

 

Skor Maksimal

68

68

68

68

68

1700

 

 

% Skor Tercapai

97.1

89.7

73.5

67.6

67.6

1978

 

 

RERATA

79.1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                 

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan menulis teks analytical exposition peserta didik kelas XI IPA 3 MAN Insan Cendekia Gorontalo dengan model CAFÉ meningkat. Berdasarkan data diatas dapat dikatakan bahwa kemampuan menulis analytical exposition peserta didik cukup bagus dalam aspek menyusun tesis dan argumen dibandingkan hasil yang diperoleh pada siklus I.

 

PEMBAHASAN

 

Dari hasil penelitian yang diperoleh baik melalui siklus I dan siklus II terjadi peningkatan kemampuan peserta didik dalam menulis teks analytical exposition dari rata-rata di siklus I yaitu 62,64 menjadi rata-rata 79,12 di siklus II. Dan peserta didik yang tuntas mencapai 76,47%. Perbandingannya dapat dilihat pada tabel berikut:

 

Tabel 3

Perbandingan Kemampuan Menulis Peserta Didik

 

Keterangan

Siklus I

Siklus II

Rerata

62,64

79,12

Skor Maksimum

85

90

Skor Minimum

55

55

% Siswa belum tuntas

88,23%

23,52%

% Siswa tuntas

11,76%

76,47%

 

Peningkatan kemampuan menulis peserta didik setelah dilakukan tindakan dengan menggunakan model cafe, sejalan dengan penelitian Gibbons (2009), setelah diterapkan model café dengan proses direct telling (tahapan-tahapan menulis) dan recursive (berulang-ulang) di kelas XI IPA3, peserta didik mempunyai persepsi positif pada pembelajaran menulis teks analytical exposition. Nurmahanani (2011) dan Yarni Gusti (2014) juga  menggunakan tahapan-tahapan menulis untuk mengkonstruksi sebuah teks sebagai keterampilan bahasa yang produktif, hasilnya peserta didik lebih kreatif dalam menulis, juga keterampilan berpikir kritis peserta didik semakin meningkat.

Peserta didik termotivasi menulis teks analytical exposition disebabkan oleh beberapa alasan. Para peneliti menemukan dalam  sebuah survey pedagogy bahwa peserta didik termotivasi untuk belajar menulis ketika peserta didik mau belajar, tahu apa yang dipelajari, topik yang disajikan menarik, paham “mengapa”, mempunyai kesempatan untuk berkontribusi, dan belajar dengan cara yang peserta didik sukai (Moore A dan Quintrell M, 2001). Peneliti lainnya menemukan bagaimana cara meningkatkan motivasi peserta ddik untuk menulis analytical exposition yaitu dengan memanfaatkan media belajar yang menarik dan kreatif dapat menginspirasi belajar peserta didik sehingga fokus peserta didik dalam belajar menulis bisa meningkat (Tedy Haryansyah, 2020).

Model cafe dirancang untuk memudahkan peserta didik menulis teks analytical exposition, seperti yang diungkapkan oleh Moore dan Parker (1995), Pardiyono (2007), St.Y.Slamet (2008) dalam penelitiannya bahwa teks analytical exposition merupakan teks yang sulit untuk dikonstruksi, karena peserta didik harus membuat tesis, dan serangkain argumen yang didukung oleh fakta, contoh, dan data. Selain itu proses pembelajaran menulis tidak dilaksanakan secara aktif, menyenangkan dan tidak melatih kemampuan berpikir kritis siswa, ditambah pembelajaran menulis yang membosankan. Ketika guru mengidentifikasi permasalahan tersebut, mereka mencoba membuat model pembelajaran dengan memanfaatkan media belajar berbasis lingkungan sekitar yang perlu mendapat perhatian (environmental awareness) dalam proses pembelajaran menulis di kelas (Dianna Sanchez 2010, and Stachi, Elena, and Fredrica 2012).   

Peningkatan kemampuan menulis teks analytical exposition di kelas XI IPA 3 dengan menggunakan model café ini membuktikan hipotesis tindakan yang disampaikan dapat dipenuhi. Peserta didik kelas XI IPA 3 meningkat kemampuan menulis teks analytical exposition dengan tahapan-tahapan menulis dan membuat peserta didik mengalami sendiri masalah-masalah yang terjadi disekitar mereka yang ditulis dan dikomunikasikan dengan baik dalam proses pembelajaran bahwa menulis tidak “given” namun harus dipelajari dalam tahapan-tahapan menulis. Kesulitan-kesulitan peserta didik dalam menyusun tesis, serangkaian argumen, mencari data atau fakta-fakta untuk mendukung serangkaian argumen dan memberikan kesimpulan dalam tulisan teks analytical exposition dapat dengan mudah dipahami oleh peserta didik dengan menggunakan model cafe.

 

  1. PENUTUP

 

Simpulan

 

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Cafe dapat meningkatkan kemampuan menulis peserta didik dalam menulis teks analytical exposition. Peningkatan hasil kemampuan menulis peserta didik dari rerata 62,47 pada siklus I menjadi 79,12 pada siklus II. Hal ini telah diteliti oleh para ahli genre-based approach dan pakar materi dan pembelajaran yang terbukti meningkatkan kemampuan menulis peserta didik. Peningkatan juga cukup signifikan dengan mengasah kemampuan berpikir secara kritis, belajar menulis dengan aktif dan menyenangkan, mengalami sendiri apa yang perlu mendapat perhatian dari lingkungan sekitar untuk dituangkan dalam bentuk tulisan teks analytical exposition yang baik dan benar.

 

Saran

 

Peserta didk sekolah menengah atas perlu memiliki keterampilan menulis yang baik, terutama menulis teks analytical exposition. Oleh karena itu sebagai tenaga pendidik, harus memberikan tahapan-tahapan menulis sesuai dengan tujuan teks dan struktur tulisan yang baik dan benar dengan cara “direct telling” (menceritakan secara langsung urutan-urutan dalam menulis) untuk mengkonstruksi teks. Selain itu, dengan guru memberikan ide tulisan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar, membuat peserta didik paham dan bisa menemukan fakta-fakta, contoh, atau bukti-bukti untuk membuat argumen yang baik. Dan yang tak kalah pentingnya guru juga dapat mengembangkan model-model pembelajaran yang dapat meningkat kemampuan menulis peserta didik untuk menghasilkan tulisan analytical exposition yang baik dan benar.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dr.H.M.Basrowi, M. (2008). Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Bogor: Ghalia Indonesia.

Emilia, E. (2016). Pendekatan Berbasis Teks dalam Pengajaran baasa Inggris. Bandung: PT Kiblat Buku Utama.

Gibbons, P. (2009). English learners, academic literacy and thinking secondlanguage learners in mainstream classroom. Portsmouth Heinemann.

Gusti, Y. (2014). Meningkatkan kemampuan menulis kreatif siswa melalui pendekatan whole language dengan teknik menulis jurnal. Jurnal perspektif Ilmu Pendidikan UNJ, 28.

Haryansyah, T. R. (2020). Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Ruang Guru.

M, M. A. (2001). Teaching and Learning: Pedagogy Curriculum and Culture. 154-158.

Martin, J. (2007). Interacting with text: The role of dialogue in learning to read and write. Foreign studies Journal Beijing.

Melvin. (2012). Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nuansa.

Nurmahanani, I. (2016). Penerapan Strategi Metakognisi dan Berpikir Kritis dalam Menulis Argumentasi pada Mahasiswa PGSD . Metodik Didaktik.

Pardiyono. (2007). Pasti Bisa! Teaching Genre Based Writing . Yogyakarta: Andi Offset.

Pedoman, T. (2014). Pedoman Guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Penelitian dan Kebudayaan.

Rothery, J. (1996). Making Changes: Developing educational in Linguistic. New York: Adison Wesley Longman Limited.

S, D. (2010). Going Green: Merging Environmental Education and language Instruction. Personal Communication Journal, 2-3.

Saleh, A. (2006). Pembelajaran Bahasa Indonesia yang efektif di Sekolah dasar. Jakarta: Depdiknas.

Sardiman, A. (2004). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar . Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Serpong, M. I. (2015). Analytical Text. Jurnal pendidikan, Humaniora, dan Sains Vol.1, Vol 1.

Sinabariba, R. B. (2017). Peranan Guru Memilih Model-Model Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi. Pasca Sarjana UNM.

Stacy Hauschild, E. (2012). Going Green: Merging Environmental Education and ILanguage Instruction. English Teaching Forum, 2-3.

 

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top