Guraru

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DALAM UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN IPA MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP KELAS VII SMP NEGERI 4 NDOSO

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

 

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

DALAM UPAYA  MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP

PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN IPA MATERI

KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP

KELAS VII  SMP NEGERI 4 NDOSO

 

 

 

 

 

Oleh

 

AVENTINUS ALEN, S.Pd

 

 

SMPN 4 NDOSO

KAB MANGGARAI BARAT

2023

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga laporan penelitian ini dapat terselesaikan. Adapun judul laporan penelitian iini adalah, ” Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning Dalam Upaya  Meningkatkan Pemahaman Konsep Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Ipa Materi Klasifikasi Makhluk Hidup Kelas VII  SMPN 4 Ndoso Kabupaten Manggarai Barat’

Ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi tingginya kami sampaikan kepada:

1.     Bpk. Selfisius Agun,S.Pd Selaku Kepala Sekolah SMPN 4 Ndoso

2.     Semua pihak yang telah membantu sehingga laporan ini dapat
terselesaikan dengan baik

Kami menyadari bahwa laporan penelitian ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan sarannya sehingga laporan penelitian ini menjadi lebih berkualitas.

Akhir kata semoga laporan penelitian ini memberikan makna dan manfaat khususnya dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di SMPN 4 Ndoso.

 

 

 

Raka,07 November 2022
Penyusun

 

 

AVENTINUS ALEN,S.Pd

 

 

 

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa hasil belajar siswa kelas VIIA SMPN 4 Ndoso, dalam hal klasifikasi makhkluk hidup menggunakan model Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini berlangsung selama tiga bulan, yaitu September hingga November 2023 jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tindakan kelas penelitian yang terdiri dari dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIIA SMPN 4 Ndoso tahun ajaran 2023-2024 sebanyak 20 siswa. Analisis data menggunakan analisis deskriptif komparatif teknik dengan membandingkan prasiklus dengan hasil yang dicapai pada setiap siklus, siklus I dan siklus II. Persentase dari ketuntasan yang diperoleh pada siklus I sebesar 76,66% dengan anrata-rata nilai
sebesar 79,53 dan meningkat pada siklus II menjadi 93,33% dengan nilai rata-rata 81,36. Kesimpulan dari penelitian ini agar siswa lebih bersemangat dan antusias mengikuti pembelajaran dan penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sehingga bisa meningkatkan Pemahaman Konsep IPA siswa kelas VIIA SMPN 4 Ndoso pada materi klasifikasi makhkluk hidup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………………………….. 1

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………… 2

ABSTRAK…………………………………………………………………………………………………………… 3

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………….. 4

  1. Latar Belakang Masalah…………………………………………………………………………. 4
  2. Identifikasi …………………………………………………………………………….. 6
  3. Analisis Masalah…………………………………………………………………………………… 7
  4. Tujuan ………………………………………………………………………………….. 7
  5. Manfaat Penelitian……………………………………………………………………………7

BAB II KAJIAN PUSTAKA…………………………………………………………………………………. 8

  1. Hakikat Pembelajaran IPA……………………………………………………………………….. 8
  2. Model Problem Based Learning (PBL)…………………………………………………….. 12
  3. Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran problem based learning……….. 15

BAB III METODE PENELITIAN………………………………………………………………………… 18

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………………………………………… 19

  1. Hasil Penelitian……………………………………………………………………………………………….. 19
  2. …………………………………………………………………………………………………… 21

BAB V PENUTUP…………………………………………………………………………………………….. 23

  1. Kesimpulan……………………………………………………………………………………………………. 23
  2. ……………………………………………………………………………………………………………. 23

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………. 24

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan bagian terpenting dalam pembangunan nasional. Pendidikan di artikan sebagai upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia serta di tuntut untuk menghasilkan manusia yang berkualitas guna menjamin pelaksanaan dan kelangsungan pembangunan. Peningkatan hasil belajar khususnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) tidak akan terjadi tanpa adanya kerjasama dari berbagai pihak. Pendidikan dan pengajaran dapat berhasil sesuai dengan harapan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling berkaitan dan saling menunjang. Faktor yang paling menentukan keberhasilan pendidikan/pengajaran adalah guru, sehingga guru sangat dituntut kemampuannya untuk menyampaikan bahan pengajaran kepada siswa dengan baik, untuk itu guru perlu mendapatkan pengetahuan tentang metode dan media pengajaran yang dapat di gunakan dalam proses belajar mengajar.

Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar.

Biologi sebagai salah satu bidang IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara baik dan benar dengan selalu mempertimbangkan keamanan dan keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari.

Mata pelajaran Biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar. Penyelesaian masalah yang bersifat kualitatif dan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan pemahaman dalam bidang matematika, fisika, kimia dan pengetahuan pendukung lainnya.

Proses pembelajaran yang di lakukan selama ini di SMPN 4 Ndoso Khususnya Kelas VIIA, cenderung pada pencapaian target materi kurikulum dan lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Guru menyampaikan materi dengan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat dan mendengarkan apa yang akan di sampaikan, sehingga ketika di minta untuk bertanya oleh guru, banyak yang tidak melakukannya. Siswa kurang termotivasi untuk lebih aktif mengutarakan pendapat, ide gagasan, pertanyaan, dan kesulitan kesulitan maupun hal-hal yang belum di pahami selama pelajaran berlangsung. Suasana pembelajaran biologi masih sangat kurang sehingga proses dan hasil belajar juga sangat rendah. Hasil ulangan harian yang dilakukan diawal semester menunjukkan sekitar 70% siswa tidak tuntas belajar.

Kondisi tersebut membuat guru, melakukan evaluasi diri melalui refleksi dan diskusi dengan teman sejawat hasil diskusi tersebut teman sejawat ada yang berpendapat bawah hendaknya pembelajaran yang dilakukan sebaiknya menggunakan strategi pembelajaran yang mengajak siswa untuk secara aktif menemukan fakta, konsep, prinsip dengan melalui suatu proses sehingga siswa akan memperoleh pengalaman belajar yang mendalam. Selain itu penggunaan media yang nyata, menarik dan dapat diobservasi secara langsung oleh siswa juga harus dilakukan. Pembelajaran dapat dilaksanakan tidak hanya di dalam kelas tanpa menghadirkan media yang menarik bagi siswa, namun pembelajaran dapat pula dilaksanakan di luar kelas dengan memanfaatnya lingkungan sebagai media dan sumber belajarnya.

Berdasarkan refleksi dan diskusi dengan teman sejawat tentang proses pembelajaran IPA penelitian akan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Model PBL merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat memacu siswa belajar melalui upaya penyelesaian masalah yang ada pada dunia nyata secara terstruktur untuk mengkonstruksi pengetahuan siswa. Dengan kata lain, pembelajaran ini akan dapat membentuk kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa (Abdullah, Sani Ridwan, 2014).

Model problem based learning memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar biologi dibandingkan metode konvensional, karena model ini dapat merangsang kemampuan siswa untuk menemukan pengetahuan atau ide baru. Secara garis besar model pembelajaran ini dapat menumbuhkan keaktifan dan kemandirian siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam pemecahan suatu masalah yang terkait dengan kegiatan dan materi pembelajaran yang sedang berlangsung. Selain itu, dalam model pembelajaran berbasis masalah ini siswa akan dihadapkan pada suatu masalah dalam dunia nyata yang ditemukan dalam kehidupan seharihari dan siswa tersebut dituntut untuk dapat mencari solusi atau pemecahan masalah tersebut (Prihatini, 2015).

Melalui laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini penulis melakukan penelitian perbaikan pembelajaran di SMP Negeri 1 Stabat. Pada mata pelajaran IPA yang berjudul: “Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep IPA Pada Materi Klasifikasi Mahkluk Hidup dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Di Kelas VII SMP Negeri 4 NDOSO”

B.       Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Kurangnya kreatifitas guru dalam memilih model pembelajaran yang tepat pada pembelajaran.
  2. Rendahnya hasil belajar yang diperoleh peserta didik dalam pelajaran

C.     Analisis Masalah

  1. Mengimplementasikan model Problem Based Learning dalam proses
  2. Pengimplementasian model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar yang diperoleh peserta

D.    Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman konsep IPA pada materi klasifikasi mahkluk hidup dengan model pembelajaran problem based learning (PBL) di kelas VII SMP NEGERI 4 NDOSO T.P, 2023/2024

E.    Manfaat Penelitian

Setelah penelitian selesai diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

  1. Bagi peneliti : penelitian ini dapat mempengaruhi pembelajaran, membantu untuk meningkatkan hasil belajar Materi klasifikasi makhluk hidup memberikan alternative pembelajaran yang aktif, kreatif efektif, dan menyenangkan bagi siswa, serta meningkatkan mutu pembelajaran Materi klasifikasi makhluk hidup
  2. Bagi siswa : untuk meningkatkan pemahaman konsep Materi klasifikasi makhluk hidup menjadi lebih sederhana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

 

A.      Hakikat Pembelajaran IPA

1.      Pengertian Pembelajaran IPA

Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) merupakan bagian dari Sains. IPA mempelajari tentang alam semesta, baik yang dapat diamati dengan indera maupun yang tidak diamati dengan indera. Menurut Wahyana dalam Trianto (2011: 136) IPA merupakan suatu kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaanya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. A.N. Whitehead (M.T Zen) dalam Sumaji (1998: 29) berpendapat bahwa sains dibentuk karena pertemuan dua orde pengetahuan. Orde pertama didasarkan pada hasil observasi terhadap gejala/fakta dan orde kedua didasarkan pada konsep manusia mengenai alam semesta. IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pengalaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (Trianto, 201: 153). IPA berupaya membangkitkan minat manusia agar ingin meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tak ada habis-habisnya. Pemberian mata pelajaran IPA atau pendidikan IPA bertujuan agar siswa memahami/menguasai konsep- konsep IPA dan saling keterkaitannya, serta mampu menggunakan metode ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, sehingga lebih menyadari kebesaran dan kekuasaan Penciptanya. Secara umum IPA meliputi tiga bidang ilmu dasar, yaitu IPA, fisika, dan kimia. IPA merupakan ilmu yang lahir dan berkembang lewat langkah-langkah observasi, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis melalui eksperimen, penarikan kesimpulan, serta penemuan teori dan konsep. Dengan demikian, IPA membangkitkan minat manusia agar ingin meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tidak ada habisnya (Sumaji, 1998: 29). Kurikulum IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Pemahaman ini bermanfaat bagi siswa agar dapat menanggapi: i) isu lokal, nasional, kawasan, dunia, sosial, ekonomi, lingkungan dan etika; ii) menilai secara kritis perkembangan dalam bidang sains dan teknologi serta dampaknya; iii) memberi sumbangan terhadap kelangsungan perkembangan sains dan teknologi; dan iv) memilih karir yang tepat. Oleh karena itu, kurikulum IPA lebih menekankan agar siswa menjadi pebelajar aktif dan luwes (Depdiknas, 2006: 3).

IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsipprinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat” sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Fungsi mata pelajaran IPA menurut Depdiknas, (2006: 2) antara lain : a. Memberi bekal pengetahuan dasar, baik untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi maupun untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. b. Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dalam memperoleh, mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep IPA. c. Menanamkan sikap ilmiah dan melatih siswa dalam menggunakan metode ilmiah untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. d. Menyadarkan siswa akan keteraturan alam dan segala keindahannya, sehingga siswa terdorong untuk mencintai dan mengagungkan Penciptanya. e. Memupuk daya kreatif dan inovatif siswa. f. Membantu siswa memahami gagasan atau informasi baru dalam bidang IPTEK. g. Memupuk serta mengembangkan minat siswa terhadap IPA. Carin dan Sund dalam Puskur (2007: 3) mendefinisikan IPA sebagai pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen. Collete dan Chiappetta dalam Zuhdan K.Prasetyo (2004: 1.24) menyatakan bahwa Sains pada hakikatnya merupakan: a. Pengumpulan pengetahuan ( a body knowledge) Didalam IPA kumpulan pengetahuan berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, teori maupun model ( Zuhdan K. Prasetyo, 2004: 1.24). b. Cara atau jalan berfikir ( a way of thinking) IPA merupakan akivitas yang ditandai dengan proses berfikir yang berlangsung didalam pikiran. Kegiatan berfikir mengambarkan tentang rasa ingin tahu dan hasrat untuk memahami fenome alam ( Zuhdan K. Prasetyo, 2004: 1.26). c. Cara untuk penyelidikan ( a way of investigating) IPA mengenal banyak metode dalam memahami fenomena alam. Fenomena alam tersebut diselidiki melalui eksperimen atau observasi serta proses pemikiran untuk mendapatkan penjelasan (Zuhdan K. Prasetyo, 2004: 1.26). Laksmi Prihantoro dkk, dalam Trianto (2011: 137) mengatakan bahwa IPA pada hakikatnya merupakan suatu produk, proses, dan aplikasi. Sebagai produk, IPA merupakan kumpulan pengetahuan dan konsep. Sebagai proses, IPA merupakan proses yang digunakan untuk mempelajari onjek studi, menemukan, dan mengembangkan produk sains sedangkan sebagai aplikasi, IPA akan melahirkan teknologi yang dapat memberikan kemudahan bagi kehidupan. Menurut Trianto (2011: 137), hakikat IPA merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala atas dasar sikap ilmiah dan hasilnya terwujud sebagai produk ilmiah yang tersusun atas tiga komponen terpenting berupa konsep, prinsip dan teori. Pembelajaran IPA terpadu merupakan konsep pembelajaran sains dengan situasi lebih “alami” dan situasi dunia nyata siswa, serta mendorong siswa membuat hubungan antar cabang sains dan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pembelajaran IPA terpadu adalah pembelajaran yang memiliki hubungan erat dengan pengalaman sesungguhnya.

Melihat pada hakikat IPA yang dijelaskan di atas, maka nilainilai IPA yang dapat ditanamkan dalam pembelajaran IPA antara lain sebagai berikut: a) Kecakapan bekerja dan berpikir secara teratur dan sistematik menurut langkah-langkah metode ilmiah. b) Keterampilan dan kecakapan dalam mengadakan pengamatan, mempergunakan alat-alat eksperimen untuk memecahkan masalah. c) Memiliki sikap ilmiah yang diperlukan dalam memecahkan masalah dalam kaitannya dengan pelajaran sains maupun dalam kehidupan (Prihantro Laksmi dalam Trianto, 2011: 141). Dengan demikian IPA pada hakikatnya adalah ilmu untuk mencari tahu, memahami alam semesta secara sistematik dan mengembangkan pemahaman dan penerapan konsep untuk dijadikan sebagai suatu produk yang menghasilkan, sehingga IPA bukan hanya merupakan kumpulan pengetahuan berupa fakta, konsep, prinsip, melainkan suatu proses penemuan dan pengembangan. Dengan demikian diharapkan pendidikan IPA menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan lingkungan, serta dapat mengembangkan pengetahuan yang telah diperoleh untuk kesejahteraan umat manusia sendiri.

  1. Pembelajaran IPA Terpadu

Belajar merupakan suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai-sikap. Pembelajaran IPA menekankan pada pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu memahami alam sekitar melalui proses “mencari tahu” dan “berbuat”. Hal ini dapat membantu siswa untuk memahami secara mendalam tentang materi. Secara umum, dapat dikatakan bahwa IPA merupakan ilmu yang mempelajari benda hidup ataupun mati beserta gejala-gejala yang menyertainya. Oleh karena itu, dalam mempelajari IPA selalu mengutamakan langkah-langkah ilmiah yang meliputi: observasi, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, pengajuan hipotesis melalui eksperimen, penarikan kesimpulan serta penemuan teori dan konsep. Demikian halnya pembelajaran IPA di sekolah mengutamakan langkah-langkah ilmiah sehingga semua konsep yang diterima siswa merupakan hasil dari observasi dan rasa keingintahuan dari siswa sendiri. Pembelajaran IPA yang dilaksanakan di sekolah-sekolah dituntut untuk diajarkan secara terpadu, tidak dipisah-pisah secara sendiri-sendiri baik dari aspek IPA, fisika ataupun kimia. 16 Oleh karena itu, sebagai calon guru IPA dituntut harus dapat mengajarkan IPA secara terpadu walaupun dalam penerapannya di lapangan masih terpisah-pisah. Menurut Depdiknas (2006: 7) tujuan dilaksanakan pembelajaran IPA secara terpadu adalah sebagai berikut : a. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran Pembelajaran IPA secara terpadu dapat merangkum beberapa standar kompetensi dari bidang ilmu IPA secara utuh dalam bentuk satu kesatuan. Hal ini dapat menghindarkan penyampaian materi secara berulang-ulang dengan beberapa materi yang sebenarnya bisa dipelajari dalam satu waktu. Sehingga hal ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pembelajaran. b. Meningkatkan minat dan motivasi Meningkatnya minat dan motivasi peserta didik dalam pembelajaran diharapkan dapat mempermudah peserta didik untuk menerima dan menyerap keterpaduan materi secara utuh. Dengan mengenalkan dan mempelajari materi sesuai dengan kehidupan sehari-hari, peserta didik dapat digiring untuk berpikir luas dan mendalam untuk memahami materi yang disampaikan secara kontekstual. Selanjutnya peserta didik akan terbiasa berpikir teratur dan terarah, selain itu mereka akan terbiasa dengan beberapa sikap ilmiah dalam IPA. 17 Sikap inilah yang diharapkan mampu menjadi kebiasaan yang melekat dalam diri mereka membentuk kepribadian yang berkarakter. c. Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus Model pembelajaran sains terpadu dapat menghemat waktu, tenaga, dan sarana, serta biaya karena pembelajaran beberapa kompetensi dasar dapat diajarkan sekaligus. Disamping itu, pembelajaran terpadu juga menyederhanakan langkah-langkah pembelajaran. Hal ini terjadi karena adanya proses pemanduan dan penyatuan sejumlah standar kompetensi dasar, dan langkah pembelajaran yang dipandang memilki kesamaan dan keterkaitan. Menurut Trianto (2011: 160), pembelajaran IPA secara terpadu diawali dengan penentuan tema, karena penentuan tema akan membantu peserta didik dalam beberapa aspek, yaitu sebagai berikut: a. Peserta didik yang bekerja sama dengan kelompoknya akan lebih bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri. b. Peserta didik menjadi lebih percaya diri dan termotivasi dalam belajar bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajari. c. Peserta didik lebih memahami dan lebih mudah mengingat karena mereka „mendengar‟, „berbicara‟, „membaca‟, „menulis‟ dan „melakukan‟ kegiatan menyelidiki masalah yang sedang dipelajarinya. d. Memperkuat berbahasa peserta didik. Belajar akan lebih baik jika peserta didik terlibat secara aktif melalui tugas proyek, kolaborasi, dan berinteraksi dengan teman, guru dan dunia nyata. Pemilihan tema tersebut dimulai dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dipadukan sehingga keterpaduan yang dibuat tidak terlalu panjang dan terlalu lebar. Apabila keterpaduan yang dibuat tersebut terlalu panjang dan lebar maka akan menyulitkan peserta didik untuk dapat menyerap materi yang diberikan.

 

B.     Model Problem Based Learning (PBL)

a.    Pengertian model Problem Based Learning (PBL)

Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran inovatif. Model pembelajaran ini dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa dimana siswa terlibat untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah. Dengan demikian, siswa akan dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah.

Model Problem Based Learning atau pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang menyajikan masalah sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran ini, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real word).Pembelajaran dengan model ini merupakan pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar” bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu terhadap pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan (Daryanto, 2014). Menurut Bridges (Wasonowati, dkk, 2014) model Problem Based Learning diawali dengan penyajian masalah, kemudian siswa mencari dan menganalisis masalah tersebut melalui percobaan langsung atau kajian ilmiah. Melalui kegiatan tersebut aktivitas dan proses berpikir ilmiah siwa menjadi lebih logis, teratur dan teliti sehingga mempermudah pemahaman konsep.

Menurut Suradijono (Syafi’I, dkk, 2004), pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning adalah dimana guru menajikan masalah yang dapat meransang keaktifan siswa dalam pembelajaran dikelas.

b.   Tujuan pembelajaran Problem Based Learning

Tujuan belajar dengan menggunakan Problem Based Learning terkait dengan penguasaan materi pengetahuan, keterampilan menyelesaikan masalah, belajar multidisiplin dan keterampilan hidup. Pembelajaran dengan model Problem Based Learning memungkinkan siswa untuk terlibat dalam mempelajari hal-hal, antara lain:

  1. Permasalahan dunia nyata
  2. Keterampilan berpikir tingkat tinggi
  3. Keterampilan menyelesaikan masalah
  4. Belajar antardisiplin ilmu
  5. Belajar mandiri
  6. Belajar menggali informasi
  7. Belajar bekerjasama
  8. Belajar keterampilan berkomunikasi
    1. Karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning

Pembelajaran ini memiliki beberapa karakteristik yaitu:

  1. Belajar dimulai dengan satu masalah
  2. Memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan dunia nyata peserta didik
  3. Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah
  4. Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri
  5. Menggunakan kelompok kecil
  6. Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan yang telah mereka pelajari dalam bentuk

Berdasarkan uraian tersebut terlihat bahwa pembelajaran dengan model Problem Based Learning dimulai dengan adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Masalah yang dijadikan sebagai focus pembelajaran dapat diselesaikan siswa melalui kerja kelompok sehingga dapat memberi pengalaman- pengalaman belajar yang beragam pada siswa seperti kerjasama dan interaksi dalam kelompok, disamping pengalaman belajar yang berhubungan dengan pemecahan masalah seperti membuat hipotesis, merancang percobaan, melakukan penyelidikan, mengumpulkan data, menginterpretasikan data, membuat kesimpulan, mempresentasikan, berdiskusi dan membuat laporan. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning dapat memberikan pengalaman yang kaya pada siswa. Dengan kata lain, penggunaan model pembelajaran ini dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang mereka pelajari sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari (Hamdayana, 2014).

Arifin (dalam Pratiwi, dkk, 2014), menyatakan bahwa ada tiga ciri utama pembelajaran berbasis masalah:

  1. Merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam impelementasinya ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan peserta Dalam pembelajaran berbasis masalah, menuntut peserta didik secara aktif terlibat berkomunikasi, mengembangkan daya pikir, mencari dan mengolah data serta menyusun kesimpulan bukan hanya sekedar mendengarkan, mencatat, atau menghafal materi pembelajaran;
  2. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Tanpa masalah pembelajaran tidak akan terjadi;
  3. Pemecahan masalah dilakukan dengan pendekatan berpikir

Sears dan Hersh (dalam Sumarmo, dkk, 2011) mengemukakan beberapa karakteristik model Problem Based Learning:

  1. Masalah harus sesuai dengan
  2. Masalah bersifat tak terstruktur, solusi tidak tunggal dan prosesnya
  3. Siswa memecahkan masalah dan guru sebagai
  4. Siswa diberi panduan untuk mengenali masalah dan bukan formula untuk memecahkan masalah
  5. Penilaian berbasis performa autentik
    1. Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran Problem Based Learning
  • Kelebihan model pembelajaran Problem Based Learning Sanjaya (dalam Kusprianto dan Siagian, Merdeka) menyatakan bahwa pembelajaran Problem Based Learning memiliki beberapa kelebihan yaitu:
    1. Teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi
    2. Dapat menantang kemampuan
    3. Dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran
    4. Dapat membantu siswa bagaimana mentrasfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan
    5. Dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan belajarnya bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan, disamping itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
    6. Bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa mata pelajaran, pada dasarnya merupakan cara berpikir dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku
    7. Dianggap lebih menyenangkan dan disukai
    8. Dapat mengembangkan kemampuan
    9. Dapat memberikan kesempatan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia
    10. Dapat mengembangkan minat siswa untuk terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah
  • Kelemahan model pembelajaran Problem Based Learning, Beberapa kelemahan dari model pembelajaran Problem Based Learning:
  1. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak memiliki kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari dapat dipecahkan, maka mereka akan enggan untuk mencoba.
  2. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui pemecahan masalah membutuhkan cukup waktu untuk
  3. Untuk mengatasi kelemahan tersebut maka guru sebaiknya membuat persiapan yang matang sebelum menerapkannya. Guru juga sebaiknya menjelaskan secara detail agar siswa memahami permasalahan yang akan dipecahkan. Selain itu, guru juga harus mampu membangun kepercayaan diri siswa untuk berhasil (Sutirman,Merdeka).
    1. Tahapan model pembelajaran Problem Based Learning

Dalam pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning ada beberapa tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya yaitu:

  1. Guru menyampaikan permasalahan kepada siswa yang relevan dengan topik yang akan dikaji. Permasalahan yang diajukan merupakan permasalahan kompleks yang kurang terstruktur dan terkait dengan situasi nyata. Problem yang disajikan harus dapat ditelaah melalui pengembangan kemampuan siswa untuk menyelesaikan masalah.
  2. Siswa mendiskusikan permasalahan dalam kelompok kecil. Kelompok mengklarifikasi fakta dan mencari hubungan konsep yang relevan. Anggota kelompok melakukan diskusi berdasarkan pengetahuan awal mereka dalam upaya memahami permasalahan dan mengajukan usulan solusi. Kelompok mengidentifikasi hal-hal yang belum mereka pahami dan perlu pelajari untuk menyelesaikan masalah.
  3. Siswa atau kelompok membuat perencanaan untuk menyelesaikan permasalahan. Anggota kelompok berbagi peran untuk mempelajari fakta dan konsep atau mempersiapkan kegiatan
  4. Masing-masing siswa melakukan penelusuran informasi atau observasi berdasarkan tugas yang telah ditetapkan dalam diskusi
  5. Siswa kembali melakukan diskusi kelompok dan berbagi Informasi atau pengetahuan yang diperoleh digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dikaji.
  6. Kelompok menyajikan solusi permasalahan kepada teman sekelas.Penyajian solusi permasalahan harus dipersiapkan terlebih dahulu dan menggunakan teknologi informasi (IT). Teman lain menanggapi hasil kerja yang ditayangkan.
  7. Anggota kelompok melakukan pengkajian ulang (riview) terhadap proses penyelesaian masalah yang telah dilakukan dan menilai kontribusi dari masing-masing anggota. Proses penilaian diri dan teman sejawat dapat dilakukan pada tahap akhir sebagai refleksi bagi kelompok dan metode penilaian bagi guru (Sani,2014).

❖        Barret menyusun langkah-langkah pelaksanaan Problem Based Learning, yaitu:

  1. Siswa diberi permasalahan oleh guru berdasarkan pengalaman
  2. Siswa melakukan diskusi dalam kelompok kecil untuk mengklarifikasi kasus atau masalah yang diberikan
  3. Mendefinisikan masalah
  4. Saling bertukar pendapat berdasarkan pengalaman yang dimiliki
  5. Menetapkan hal-hal yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah
  6. Menetapkan hal-hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah
  7. Siswa melakukan kajian secara independen berkaitan dengan masalah yang harus diselesaikan
  8. Siswa kembali kepada kelompok Problem Based Learning awal untuk melakukan tukar informasi, pembelajaran teman sejawat dan bekerjasama dalam menyelesaikan
  9. Siswa dibantu oleh guru melakukan evaluasi berkaitan dengan seluruh kegiatan pembelajaran

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

 

Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIIA SMPN 4 NDOSO. Yang menjadi subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas VIIA SMPN 4 Ndoso yang berjumlah 20 siswa, yang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Siswa kelas VIIA SMPN 4 Ndoso memiliki tingkat kemampuan yang bervariasi/heterogen, dengan rata-rata kemampuan pada kategori sedang. Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa instrumen,yaitu:

  1. Tes Evaluasi
  2. Lembar Observasi Guru dan Siswa
  3. Lembar Observasi Aktifitas diskusi

Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan analisis data dengan teknik analisis deskriptif, yang meliputi:

  1. Analisis deskriptif komperatif hasil belajar dengan cara membandingkan hasil belajar pada siklus I dengan siklus II dan membandingkan hasil belajr dengan indikator kinerja pada siklus I dan siklus
  2. Analisis deskriptif kualitatif hasil observasi dengan cara membandingkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

A.         HASIL PENELITIAN

Tabel 1. Rekapitulasi rata-rata aktivitas belajar siswa Kelas VIIA SMPN 4 Ndoso dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

No

Keterampilan Menyampaikan Pendapat Saat Dikusi

Siklus

I

II

1

Keberanian menyampaikan pendapat

2,57

3,00

2

Mendorong partisipasi

2,43

3,71

3

Mengambil giliran dan berbagi tugas

2,14

3,43

4

Berada dalam kelompok

18,00

3,71

5

Menghargai kontribusi

2,43

3,43

6

Menyelesaikan tugas tepat pada waktunya

2,29

3,57

7

Menghormati perbedaan individu

2,43

3,29

8

Menggunakan kesempatan yang ada

2,29

3,43

Jumlah skor

3,43

27,57

Rata-rata

2,50

3,45

Tabel 2. Hasil observasi guru mengajar

No

Kisaran Nilai Siswa

Siklus

I

II

Jumlah Siswa

%

Jumlah Siswa

%

1

< 75

3

30

1

10

2

75 – 84

5

50

6

60

3

85

2

20

3

30

Banyak siswa tuntas (75)

7

70

9

90

Banyak siswa yang tidak tuntas (< 75)

3

30

1

10

Nilai rata-rata

73

91

 

Tabel 3. Hasil observasi guru mengajar

No

ASPEK YANG DIAMATI

Siklus

Ratarata

I

II

A

Pendahuluan

1

Mempersiapkan siswa untuk belajar

4

4

4

2

Melakukan kegiatan apersepsi

4

4

4

3

Mengkomunikasikan tujuan

Pembelajaran

3

4

3,50

4

Memotivasi siswa

3

4

3,50

B

Kegiatan inti

1

Menyajikan permasalahan sehari-hari untuk siswa

 

4

 

4

 

4

 

2

Membagi siswa dalam beberapa kelompok yang heterogen

 

4

 

4

 

4

3

Membagikan lembar kerja siswa

4

4

4

4

Memberikan kesempatan siswa untuk membaca dan berpikir untuk mengerjakan soal secara

Kelompok

 

4

 

4

 

4

5

Membimbing dan memantau siswa untuk berdiskusi

3

3

3

6

Memberi kesempatan kepada siswa untuk menyajikan hasil karya

 

4

 

4

 

4

C

Penutup

1

Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa

 

4

 

4

 

4

2

Mengaitkan materi pembelajaran dengan materi selanjutnya

 

4

 

4

 

4

3

Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan atau kegiatan atau tugas sebagai remedi/pengayaan

 

3

 

3

 

3

4

Melaksanakan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi (tujuan)

 

4

 

4

 

4

Rata-rata

3,71

3,86

3,79

Kategori

Baik

Baik

Baik

 

 

 

 

B.          PEMBAHASAN

 

Menunjukkan keberhasilan, karena secara umum rata-rata keaktifan dan hasil belajar siswa meningkat. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa pada siklus II adalah 91 Sedangkan secara klasikal, hasil tindakan pada siklus II menunjukkan keberhasilan, karena secara klasikal lebih dari 85% siswa yang mencapai ketuntasan yaitu 91%

Sedangkan siswa yang belum mencapai KKM diberikan remedial dengan cara memberi soal-soal yang harus diselesaikan di rumah. Untuk soal-soal yang belum dipahami, diberikan kesempatan untuk bertanya di waktu senggang. Kemudian dilakukan tes ulang, sampai

Melalui        hasil  penelitian           ini menunjukkan bahwa model pembelajaran problem based learning memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII IPA pada materi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil observasi tentang kemampuan siswa dalam pemecahan masalah dan juga dapat dilihat dari hasil tes formatif terhadap materi yang disampaikan guru. Pada siklus I, rata-rata hasil       observasi         hasil belajar siswa menunjukkan nilai 2,57 yang berarti terletak pada rentang kurang baik. Sedangkan hasil tes formatif pada siklus I menunjukkan bahwa 3 siswa (30%) belum mencapai KKM                   (<         75),      5 siswa (50%) memperoleh nilai 75 – 84 dan 2 siswa (20%) memperoleh nilai ≥ 85. Dengan demikian secara klasikal, hasil tindakan pada siklus I      belum              menunjukkan keberhasilan, karena masih di bawah 85% siswa yang mencapai ketuntasan yaitu 70 %. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa pada siklus I adalah 73.

Pada siklus II, rata-rata keaktifan siswa meningkat menjadi 3,45. Hal ini berarti nilai keaktifan siswa berada dalam rentang  baik. Hasil tes formatif menunjukkan bahwa 1 siswa (10,00%) belum mencapai KKM (<75), 6 siswa (60,00%) memperoleh nilai 75

BAB V

PENUTUP

 

 

A.     KESIMPULAN

Setelah memperhatikan dan mengamati hasil penelitian ini maka dapat diambil kesimpulan bahwa Penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam materi pembelajaran pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan yang dilaksanakan di kelas  SMPN 4 Ndoso menjadikan siswa lebih bersemangat dalam belajar, sehingga terjadi peningkatan hasil belajar seperti yang diharapkan.

 

 

B.      SARAN

Berdasrkan  hasil  penelitian  dan  pembahasan,  maka  dapat   dikemukakan beberapa saran berikut ini :

  1. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat menjadi inspirasi bagi guru –guru lain untuk menerapkan dalam proses pembelajaran, tidak tertutup kemungkinan bagi guru – guru dengan bidang studi yang
  2. Walaupun penelitian ini telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa, namun peneliti menyarankan agar guru dapat mengatur waktu pelaksanaan sehingga terlaksana sasuai dengan apa yang

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ansari, B. I. (2009). Komunikasi, Konsep dan Aplikasi. Banda Aceh : Yayasan Pena Banda          Aceh Divisi Penerbitan.

Arifin, Zainal. (1990). Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Badan Standar Nasianal Pendidikan (2006) Panduan           Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jakarta: Depdikbud.

Budiharto, Nuryat dkk. (1997). Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Depdikbud. Depdiknas, (2006). Kurikulum 2006. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Hadi, Sutarto. (2001). Memperkenalkan RME  kepada         guru     SLTP di yogyakarta.    Surabaya: Unesa.

Hopkins, David, A. 1993 Teachers Guide to Research, 2nd ed, Philadelphia University, Press.

Johar, Rahmah. (1997). Penerapan Model belajar Perubahan konseptual. Tesis: IKIP SURABAYA

Ratumanan, TG. (2004). Belajar dan Pembelajaran. Ambon. Unesa University

Press. Sartono. (2006). Biologi untuk SMA Kelas XII. Jakarta : Erlangga

Suyatno.  (2008).        Model–model pembelajaran.Tersedia pada http ://www. Sanggar guru.blogspot.com.

Sardiman. (2003). Interaksi dan Motivasi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo

Persada Sordiyanto, Nugroho, dkk.(2009). Biologi XII IPA. Jakarta: Depdiknas.

Sukmadinata. (2004). Belajar Berbahasa Indonesia.  Jakarta: Departemen Pendidikan        Nasional.

Rudya, R. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Makalah. Banda Aceh: Unsyiah

Wilis Dahar, Ratna. (1996). Teori – teori belajar. Jakarta: Erlangga

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top