Uncategorized
0

PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIVITAS BELAJAR SISWA SMA (+1)

RIANI WIDIASTUTI May 16, 2015
  1. A. PENDAHULUAN
    Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika mempunyai arti setelah sebuah maka diberikan padanya. Contoh: kecepatan jalan kaki seorang anak dilambangkan dengan x, (Jujun, 2003:190).
    Matematika adalah sarana berpikir deduktif. Kita semua kiranya telah mengenal bahwa jumlah sudut dalam sebuah segitiga adalah 180°. Pengetahuan ini mungkin saja kita dapat dengan jalan mengukur sudut-sudut dalam sebuah segitiga dan kemudian menjumlahkannya. Pengetahuan ini bisa didapatkan secara deduktif dengan mempergunakan Matematika. Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti ‘belajar atau hal yang dipelajari’, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Unsur utama pekerjaan Matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya. Sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam Matematika bersifat konsisten (Jujun, 2003:195).
    Matematika mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan bahasa verbal. Matematika
    mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Bahasa verbal hanya mampu mengemukakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Dalam bahasa verbal bila kita membandingkan dua obyek yang berlainan misal: gajah dan semut maka kita hanya bisa mengatakan bahwa gajah lebih besar dari semut. Kita tidak mengetahui seberapa besar gajah bila dibandingkan dengan semut. Contoh lain logam jika dipanaskan akan memanjang, namun kita tidak bisa mengatakan dengan tepat berapa besar pertambahan panjangnya.
    Seseorang akan merasa mudah memecahkan masalah dengan bantuan matematika, karena ilmu matematika itu sendiri memberikan kebenaran berdasarkan alasan logis dan sistematis. Disamping itu matematika dapat memudahkan dalam pemecahan masalah karena proses kerja matematika dilalui secara berurut yang meliputi tahap observasi, menebak, menguji hipotesis, mencari analogi, dan akhirnya merumuskan teorema-teorema.
    Dalam pembelajaran matematika, pemahaman konsep sering diawali secara induktif melalui pengamatan pola atau fenomena, pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep matematika. Dengan demikian, cara belajar secara deduktif dan induktif digunakan dan sama-sama berperan penting dalam matematika. Dari cara kerja matematika tersebut diharapkan akan terbentuk sikap kritis, kreatif, jujur dan komunikatif pada peserta didik. Dalam belajar matematika siswa harus berperan secara aktif, tidak hanya nemerima secara pasif dari guru dalam membentuk pengetahuan atau pengertian matematika, (Hamzah, 2012:128)
    Dalam pembelajaran matematika adalah bagaimana kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah matematika. Keberhasilan dalam pembelajaran matematika ditentukan oleh seberapa baik hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti pembelajaran. Seorang anak yang ingin mencapai hasil belajarnya pada mata pelajaran matematika, diperlukan proses kerja untuk memecahkan masalah matematika, dan proses kerja memecahkan masalah diperlukan aktivitas siswa dalam belajar.
    Dari uraian di atas saya mencoba mendeskripsikan bagaimana menerapkan pendekatan problem solving untuk meningkatkan efektivitas siswa dalam pembelajaran matematika. Adapun permasalahan pokok pada pembahasan ini adalah: Bagaimana menerapkan pendekatan problem solving untuk meningkatkan efektivitas siswa dalam pembelajaran matematika?, Faktor-faktor apa saja yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitas siswa dalam pembelajaran matematika?. Dengan tujuan untuk mengetahui: penerapkan pendekatan problem solving untuk meningkatkan efektivitas siswa dalam pembelajaran matematika, Faktor-faktor apa saja yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitas siswa dalam pembelajaran matematika

B. PEMBAHASAN
Pembelajaran Matematika
Lambang-lambang Matematika mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan padanya. Contoh: laju kecepatan jalan kaki dari seorang anak dilambangkan dengan huruf x. Matematika mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Bahasa verbal hanya mampu mengemukakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Dalam bahasa verbal bila kita membandingkan dua obyek yang berlainan misal: gajah dan semut maka kita hanya bisa mengatakan bahwa gajah lebih besar dari semut. Kita tidak mengetahui seberapa besar gajah bila dibandingkan dengan semut. Contoh lain logam jika dipanaskan akan memanjang, namun kita tidak bisa mengatakan dengan tepat berapa besar pertambahan panjangnya. Dengan Matematika kita dapat mengetahui seberapa besar pertambahan panjangnya. Pernyataan kualitatif seperti sebatang logam kalau dipanaskan akan memanjang dapat diganti dengan pernyataan matematika yang lebih eksak misalnya: Pt = P0 (1 + λt). Dimana Pt merupakan panjang logam pada temperature t, Po merupakan panjang logam pada temperatur nol dan λ merupakan koefisien pemuai logam tersebut.
Matematika memungkinkan ilmu mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ke kuantitatif. Matematika adalah sarana berpikir deduktif (Jujun.S, 2003: 195). Kita semua kiranya telah mengenal bahwa jumlah sudut dalam sebuah segitiga adalah 180 derajat. Pengetahuan ini mungkin saja kita dapat dengan jalan mengukur sudut-sudut dalam sebuah segitiga dan kemudian menjumlahkan sudut-sudut dalam segitiga tersebut. Pengetahuan ini bisa didapatkan secara deduktif dengan mempergunakan Matematika. Deduktif adalah proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan. untuk menghitung jumlah sudut dalam segitiga kita mendasarkan kepada premis bahwa kalau terdapat dua garis sejajar maka sudut-sudut yang dibentuk kedua garis sejajar tersebut dengan garis ketiga adalah sama. Premis yang kedua adalah bahwa jumlah sudut yang dibentuk oleh sebuah garis lurus adalah 180 derajat. Kedua premis itu kita terapkan dalam berfikir deduktif untuk menghitung jumlah sudut-sudut dalam sebuah segitiga. Jadi Matematika menemukan pengetahuan baru berdasarkan premis-premis tertentu.
Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti ‘belajar atau hal yang dipelajari’, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Unsur utama pekerjaan Matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya. Sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Namun demikian, materi Matematika dan penalaran matematika merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan, yaitu: materi matematika dipahami melalui penalaran dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui belajar materi Matematika. Matematika muncul pada saat dihadapinya masalah-masalah yang melibatkan kuantitas, struktur, ruang, atau perubahan dan dijumpai di dalam perdagangan, pengukuran tanah, astronomi, serta masalah dalam ilmu pengetahuan dan teknologi pada umumnya maupun masalah-masalah dalam Matematika itu sendiri. Dalam pembelajaran, pemahaman konsep sering diawali secara induktif melalui pengamatan pola atau fenomena, pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep matematika. Dengan demikian, cara belajar secara deduktif dan induktif digunakan dan sama-sama berperan penting dalam matematika. Dari cara kerja Matematika tersebut diharapkan akan terbentuk sikap kritis, kreatif, jujur dan komunikatif pada peserta didik. Pembicaraan mengenai pembelajaran tidak dapat dilepaskan dari istilah kurikulum dan pengertiannya. Pembelajaran merupakan wujud pelaksanaan (implementasi) kurikulum atau pembelajaran dalam kurikulum dalam kenyataan implementasinya (Medi Yanto, 2013: 90).
Problem Solving
Problem solving merupakan salah satu dasar teoritis dari berbagai strategi pembelajaran yang menjadi masalah (problem) sebagai isu utamanya, akan tetapi pada prakteknya Problem solving lebih banyak diterapkan untuk pelajaran matematika. Berpikir memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu yang baru adalah kegiatan yang kompleks dan berhubungan erat satu dengan yang lain. Suatu masalah umumnya tidak dapat dipecahkan tanpa berpikir, dan banyak masalah memerlukan pemecah-an yang baru bagi orang-orang atau kelompok. http://www.sarjanaku.com/2011/03/pengertian-problem-solving.html,
Pembelajaran muncul ketika siswa bergumul dengan masalah-masalah yang tidak ada metode rutin untuk menyelesaikannya. Masalah, dengan demikian harus disajikan pertama kali sebelum metode solusinya diajarkan. Guru seharusnya tidak terlalu ikut campur ketika siswa sedang mencoba menyelesaikan masalah. Guru sebaiknya mendorong siswa untuk membandingkan metode-metode satu sama lain, mendiskusikan masalah tersebut dan seterusnya. Dalam pendekatan Problem solving siswa diharapkan mampu memiliki beberapa kompetensi sebagai berikut: meneliti, mengemukakan pendapat, menerapkan pengetahuan sebelumnya, memunculkan ide-ide, membuat keputusan-keputusan, mengorganisasi ide-ide, membuat hubungan-hubungan, menghubungkan wilayah-wilayah interaksi, mengapresiasi kebudayaan, (Miftahul Huda, 2013: 271)
Tahap-tahap pelaksanaan Problem Solving
Tahap 1. Clues
 Bacalah masalah dengan hati-hati
 Garis bawahi isyarat-isyarat yang menjadi masalah
 Mintalah siswa untuk menemukan masalah pada isyarat-isyarat yang digaris bawahi
 Mintalah siswa untuk merencanakan apa yang akan dilakukan atas masalah tersebut
 Mintalah siswa untuk menemukan fakta-fakta yang mendasari masalah tersebut
 Mintalah siswa untuk mengemukakan apa yang perlu mereka temukan
Tahap 2. Game Plan
 Buatlah rencana permainan untuk menyelesaikan masalah
 Mintalah siswa untuk menyesuaikan permainan tersebut dengan masalah yang baru saja disajikan
 Mintalah siswa untuk mengidentifikasi apa yang telah mereka lakukan
 Mintalah siswa untuk menjelaskan strategi yang akan mereka gunakan untuk menyelesaikan masalah.
 Mintalah siswa untuk menguji coba strategi-strateginya (misal sketsa, pencarian pola-pola)
 Jika strategi yang mereka gunakan tidak bekerja, mintalah mereka untuk memikirkan ulang strategi tersebut.
Tahap 3. Solve
Mintalah siswa untuk menggunakan strategi-strateginya dalam menyelesaikan masalah awal.
Tahap 4. Reflect
 Mintalah siswa untuk melihat kembali solusi yang mereka gunakan.
 Mintalah siswa untuk berdiskusi tentang kemungkinan menggunakan strategi tersebut di masa mendatang.
 Periksalah apakah strategi-strategi mereka benar-benar bisa menjawab masalah yanbg diajukan.
 Pastikan bahwa strategi-strategi itu benar-benar aplikatif dan solutif untuk masalah yang sama/mirip
Efektivitas Belajar
Efektivitas belajar, yaitu pembelajaran yang berfokus pada kompetensi yang harus dikuasai peserta didik setelah proses pembelajaran berlangsung (seperti dicantumkan dalam tujuan pembelajaran) dengan menggunakan cara yang efisien. Guru dituntut adanya kemampuan komunikasi yang baik, yang membantu peserta didik memahami apa yang guru sampaikan dalam pembelajaran.
Beberapa teknik untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran:
1. Teknik menjelaskan, teknik ini sangat perlu dikuasai guru, namun guru senantiasa membatasi diri agar tidak terjebak ke ceramah murni yang menghilangkan peranan peserta didik
2. Teknik bertanya, untuk menggunakan tanya-jawab, perlu diketahui tujuan mengajukan pertanyaan, jenis dan tingkat pertanyaan, serta teknik mengajukan pertanyaan.
3. Teknik peragaan/demonstrasi, yaitu menunjukkan atau memperlihatkan suatu model atau suatu proses. Teknik ini hanya efektif bila digunakan hanya sebagai bagian dari kegiatan lain yang memberikan kemungkinan kepada peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
4. Teknik Percobaan (eksperimen) dengan alat secara individual atau kelompok. Di sini peserta didik lebih aktif dan diharapkan mereka menemukan berbagai hal yang terkait dengan pembelajaran baik kognitif, psikomotorik maupun afektif.
5. Teknik pemecahan masalah, yaitu pertanyaan yang harus dijawab atau di respon namun jawaban atau strategi untuk menyelesaikannya tidak segera diketahui. Strategi ini akan sangat bermanfaat jika dipelajari para peserta didik maupun guru agar dapat digunakan dalam kehidupan nyata mereka didalam mereka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
6. Teknik penemuan terbimbing, dalam teknik ini, peranan guru adalah: menyatakan persoalan, kemudian membimbing peserta didik untuk menemukan penyelesaian dari persoalan itu dengan perintah-perintah atau dengan penggunaan Lembar Aktivitas Siswa (LAS).
Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Problem Solving untuk Meningkatkan Efektivitas Belajar Siswa SMA
Pembelajaran matematika adalah bagaimana kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah matematika. Proses kerja matematika dilalui secara berurut yang meliputi tahap observasi, menebak, menguji hipotesis, mencari analogi, dan akhirnya merumuskan teorema-teorema. Dikarenakan matematika sebagai suatu ilmu yang tersusun menurut struktur, maka sajian matematika hendaknya dilakukan dengan cara yang sistematis, teratur, dan logis sesuai perkembangan intelektual anak. Dengan cara penyajian seperti ini, siswa yang belajar akan siap menerima pelajaran dilihat dari segi perkembangan intelektualnya. Semakin tinggi jenjang pendidikan siswa maka sajian matematika semakin abstrak.
Diperlukan kemampuan guru dalam melakukan pendekatan pembelajaran matematika. Pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan pembelajaran matematika dalam memecahkan masalah matematika adalah pendekatan problem solving. Dalam pendekatan Problem solving siswa diharapkan mampu memiliki beberapa kompetensi sebagai berikut: meneliti, mengemukakan pendapat, menerapkan pengetahuan sebelumnya, memunculkan ide-ide, membuat keputusan-keputusan, mengorganisasi ide-ide, membuat hubungan-hubungan, menghubungkan wilayah-wilayah interaksi, mengapresiasi kebudayaan.
Keberhasilan siswa dalam pembelajaran matematika ditentukan oleh seberapa baik hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti pembelajaran. Seorang anak yang ingin mencapai hasil belajarnya pada mata pelajaran matematika, diperlukan proses kerja untuk memecahkan masalah matematika, dan proses kerja memecahkan masalah diperlukan aktivitas siswa dalam belajar. Pendekatan problem solving dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar.
Untuk mencapai hasil belajar pada mata pelajaran matematika, diperlukan proses kerja untuk memecahkan masalah matematika, dan proses kerja memecahkan masalah tersebut memerlukan peran kerja memori. Untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika sebaik-nya dalam proses pembelajarannya perlu memperhatikan teori pemrosesan informasi. Sedikit nya ada empat tahap yang dilalui dalam teori pemrosesan informasi, yakni: 1) pemasukan informasi yang akan dicatat melalui indra, 2)simpanan jangka pendek, dimana informasi yang diterima hanya bertahan selama 0,5 sampai 2 detik, 3)memori jangka pendek atau memori kerja, di mana data dalam jumlah terbatas dipertahankan selama 20 detik, 4)memori jangka panjang, dimana data yang telah disandikan menjadi bagian dari sistem pengetahuan. Memori yang tidak tersandikan akan hilang dari sistem memori. Apabila informasi pembelajaran matematika telah melampaui kapasitas memori penerima maka akan banyak informasi yang hilang. Disini diperlukan proses penyeleksian informasi oleh guru. Sangat efektif jika informasi yang disampaikan adalah hal-hal yang penting. (Hamzah, 2012: 138)
Selain proses penyeleksian informasi yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran matematika berdasarkan pemrosesan informasi, diperlukan ketrampilan siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berpikirnya.
Ada empat jenis ketrampilan siswa yaitu:
1. Ketrampilan pemecahan masalah (problem solving), yakni suatu keterampilan seseorang siswa dalam menggunakan proses berpikirnya untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternatif pemecahan, dan memilih pemecahan masalah yang paling efektif.
2. Ketrampilan pengambilan keputusan (decision making), yakni keterampilan seseorang menggunakan proses berpikirnya untuk memilih sesuatu keputusan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi, perbandingan kebaikan dan kekurangan dari setiap alternatif, analisis informasi, dan pengambilan keputusan yang
terbaik berdasarkan alasan yang rasional.
3. Ketrampilan berpikir kritis (critical thinking), yakni keterampilan seseorang dalam menggunakan proses berpikirnya untuk menganalisis argumen dan memberikan interpretasi berdasarkan persepsi yang sahih melalui logical reasoning, analisis asumsi dan bias dari argumen dan interpretasi logis
4. Ketrampilan berpikir kreatif (creative thinking), yakni keterampilan seseorang dalam
menggunakan proses berpikirnya untuk menghasilkan suatu ide baru, konstruktif, dan baik berdasarkan konsep-konsep, prinsip-prinsip yang rasional, maupun persepsi dan intuisi.
Keempat keterampilan tersebut dimiliki oleh semua siswa, keempat keterampilan tersebut tidak terpisah satu sama lain, tetapi saling terintegrasi. Dalam hal ini jika siswa memecahkan masalah matematika dengan menggunakan ketrampilan memecahkan masalah, pada saat yang bersamaan siswapun akan mengambil keputusan, berpikir kritis, dan berpikir kreatif. Dalam kaitan ini guru perlu menumbuhkan jenis keterampilan tersebut pada siswa, agar keempat jenis keterampilan tersebut dapat berkembang dengan baik. Guru dapat menumbuhkembangkan siswa dalam menghargai keragaman dengan jalan mengembangkan pola pikir siswa melalui ketrampilan siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berpikirnya, salah satu penerapannya adalah dengan pembelajaran problem solving. Karena pada pembelajaran problem solving terdapat kegiatan yang memuat empat jenis ketrampilan yang dimiliki siswa. Dalam pembelajaran matematika yang terpenting adalah kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah matematika. Hal ini berdasarkan pada pemikiran bahwa materi matematika merupakan materi yang abstrak. Keberhasilan pembelajaran matematika pada siswa SMA ditentukan oleh seberapa baik hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti pembelajaran.
Hasil pembelajaran merupakan kapasistas terukur dari perubahan siswa setelah mengikuti pembelajaran. Hasil pembelajaran adalah aspek keefektifitasan pembelajaran. Sedikitnya ada empat indikator yang masuk dalam keefektifan pembelajaran yakni: 1)kecermatan penguasaan perilaku, 2)kecepatan unjuk kerja, 3)kesesuaian unjuk kerja, 4)kuantitas unjuk kerja. Kecermatan penguasaan perilaku biasa disebut dengan tingkat kesalahan unjuk kerja. Makin cermat siswa dalam menguasai perilaku yang dipelajari, makin efektif pembelajaran. Aplikasinya dalam pembelajaran matematika misalnya skor yang diinginkan dari siswa dalam menampilkan unjuk kerja yang telah ditetapkan sebesar 50 skor untuk tingkat kecermatan 100%. Jika yang diperoleh siswa hanya 40 skor maka tingkat kecermatannya sebesar 80%. Kecepatan unjuk kerja berhubungan dengan waktu yang dibutuhkan untuk menampilkan unjuk kerja. Makin cepat seorang siswa SMA menampilkan unjuk kerja, maka makin efektif pembelajaran matematika. Sedangkan kesesuaian dengan prosedur berhubungan dengan kemampuan seorang siswa SMA menampilkan unjuk kerja sesuai dengan prosedur baku yang telah ditetapkan, baik secara prosedural maupun hierarkis. Terakhir adalah kuantitas unjuk kerja yang mengacu pada banyaknya unjuk kerja yang mampu ditampilkan oleh siswa dalam waktu tertentu yang telah ditetapkan atau dengan kata lain, kefektifan suatu pembelajaran dapat diukur dengan jumlah unjuk kerja yang mampu diperlihatkan siswa SMA. Hasil belajar siswa SMA pada mata pelajaran matematika merupakan hasil kegiatan dari belajar matematika dalam bentuk pengetahuan sebagai akibat dari pembelajaran yang dilakukan siswa.
Untuk melihat keefektifan pembelajaran perlu dilakukan penilaian hasil belajar. Bagi siswa penilaian hasil belajar dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil pembelajaran yang telah dicapai. Dalam pembelajaran sebagai suatu sistem evaluasi merupakan salah satu komponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui kefektifan pembelajaran. Hasil yang diperoleh dari evaluasi dapat dijadikan balikan bagi guru dalam memperbaiki dan menyempurnakan program dan kegiatan pembelajaran (Zainal Arifin, 2013:2).
Jika hasil nyata pembelajaran sesuai dengan hasil yang ditetapkan, maka pembelajaran dapat dikatakan efektif. Sebaliknya, jika hasil nyata pembelajaran tidak sesuai dengan hasil pembelajaran yang ditetapkan, maka pembelajaran dikatakan kurang efektif. Diharapkan dengan pendekatan problem solving siswa berhasil dalam pembelajaran matematika mencapai hasil belajar yang baik. Sehingga dengan tercapainya hasil belajar yang baik maka dapat dikatakan pembelajaran matematika siswa SMA dapat mencapai keefektifan pembelajaran.

Contoh Lembar Aktivitas Siswa (LAS)

Petunjuk :
Diskusikanlah setiap langkah permasalahan dengan anggota kelompokmu
Tuliskan jawaban pada tempat yang telah disediakan di dalam LAS
Buatlah kesimpulan hasil diskusi kelompokmu pada tempat yang sudah disediakan

Jika kita berkunjung ke tempat makan, biasanya terdapat daftar menu yang dapat dipesan, seperti tampak sebagai berikut:

Jika kalian berada pada suatu tempat makan akan memesan satu jenis makanan, satu jenis minuman dan diberikan menu seperti tampak di atas, berapa banyak pilihan makanan dan minuman yang dapat kamu pesan ?
Memahami masalah:
Informasi yang diperoleh dari soal di atas adalah :
Hal yang ditanyakan dari soal di atas adalah :
Rencana penyelesaian masalah
………………………………………………………………………………………………………………….. …………………………………………………………………………………………………………………..
Penyelesaian masalah
…………………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………………..
Memeriksa kembali
Apakah kamu yakin jawabanmu sudah benar? Coba periksa kembali !
…………………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………………..
Selain menyediakan menu makanan, minuman, juga disediakan beberapa jenis buah sebagai makanan penutup. Adapun buah yang dapat dipilih sebagai berikut:

Jika kamu akan memesan satu jenis makanan, satu jenis minuman, satu jenis buah, berapa banyak pilihan makanan, minuman, dan buah yang dapat kamu pesan ?
Memahami masalah:
Informasi yang diperoleh dari soal di atas adalah :
Hal yang ditanyakan dari soal di atas adalah :
Rencana penyelesaian masalah
……………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………..
Penyelesaian masalah
…………………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………………..
Memeriksa kembali
Apakah kamu yakin jawabanmu sudah benar? Coba periksa kembali !
…………………………………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………………..
Dari masalah-masalah yang disajikan tersebut, apa yang dapat kamu simpulkan? Apakah kamu sudah memahami apa yang dimaksud dengan aturan perkalian? Jika kamu telah memahami aturan perkalian, coba lengkapi kesimpulan berikut ini agar menjadi rumus aturan perkalian yang benar.
Kesimpulan:
prinsip dasar dalam aturan perkalian berdasarkan kegiatan 1:
Jika kejadian pertama dapat terjadi dengan m1 cara dan kejadian kedua dapat terjadi dengan m2 cara, maka kejadian-kejadian dengan urutan yang demikian dapat terjadi dengan…. x …. cara.
prinsip dasar dalam aturan perkalian berdasarkan kegiatan 2:
Jika kejadian pertama dapat terjadi dengan m1 cara , kejadian kedua dapat terjadi dengan m2 cara, kejadian ketiga dapat terjadi dengan m3 cara, maka kejadian-kejadian dengan urutan yang demikian dapat terjadi dengan …… x …… x …… cara.
Jadi, prinsip dasar dalam aturan perkalian secara umum:
jika kejadian pertama dapat terjadi dengan m1 cara, kejadian kedua dapat terjadi dengan m2 cara,
kejadian ketiga dapat terjadi dengan m3 cara, seterusnya, dan kejadian ke- k dapat terjadi dengan mk cara, maka kejadian-kejadian dengan urutan yang demikian dapat terjadi
dengan …………………………………………… cara.

C. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. Pendekatan problem solving dalam pembelajaran matematika yang dilakukan guru adalah dengan menumbuhkembangkan siswa dalam menghargai keragaman dengan jalan mengembangkan pola pikir siswa melalui ketrampilan siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berpikirnya, karena pada pembelajaran problem solving terdapat kegiatan yang memuat empat jenis ketrampilan yang dimiliki siswa, yaitu: Ketrampilan pemecahan masalah (problem solving), Ketrampilan pengambilan keputusan (decision making), Ketrampilan berpikir kritis (critical thinking), Ketrampilan berpikir kreatif (creative thinking)
2. Faktor-faktor yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitas siswa dalam pembelajaran matematika adalah:
a. Adanya kemampuan komunikasi yang baik dari guru yang membantu peserta didik
b. dalam pembelajaran.
c. Diperlukan ketrampilan siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berpikirnya.
d. Diperlukan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika.
e. Terjadinya Proses kerja siswa dalam pemecahan masalah
f. Tercapainya hasil belajar sesuai dengan indikator yang ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.sarjanaku.com/2011/03/pengertian-problem-solving.html, diunduh hari rabu , tanggal 5-11-2014 jam 21.23

Medi Yanto, S. S. (2013). Jadi Guru Yang Jago Penelitian Tindakan Kelas. Jogjakarta: CV. Andi Offset.

Miftahul Huda, M. (2013). Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Prof. Dr. Hamzah B. Uno, M.Pd. (2012). Model Pembelajaran Menciptakan PBM yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Seputarpendidikan.blogspot.com. (2013). Pengertian media pembelajaran.
Soejadi. (2000).

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One

3,523 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar