Uncategorized
7

Opini: Perlunya Keterampilan Berbahasa Indonesia bagi Guru Bidang Studi Lain (+6)

Pengelola Guraru October 31, 2013

Sesuai poling di guraru.org bulan Oktober 2013, kami meminta opini salah satu Guraru terkait keterampilan berbahasa Indonesia bagi guru bidang studi lainnya. Topik serupa juga diangkat dalam #GuraruTalk pekan pertama bulan Oktober: perlukah guru bidang studi selain Bahasa Indonesia memiliki keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar?

Bulan ini, kami—secara acak—memilih Pak Marfu Muhyidin Ilyas (@marfumi) untuk kami mintai opininya. Berikut jawaban dari Pak Marfu:

“Sebagai alat komunikasi lisan dan tulisan, semua guru mutlak harus menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bukan penguasaan secara teoritis untuk diajarkan, tetapi keterampilan berbahasa Indonesia yang mencerminkan karakter dan kebanggaan sebagai bangsa. Juga bukan berbahasa Indonesia yang mencerminkan gengsi kekotaan dan malu dengan identitas kedaerahan. Tapi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dan bahasa ilmu. Dalam konteks itu, saya tidak ragu untuk mengatakan semua guru wajib terampil berbahasa Indonesia.”

Dalam #GuraruTalk Senin (7/10) kemarin (rekap dapat dibaca di sini), para peserta diskusi menyampaikan pendapat mereka. Meski sebagian besar menyatakan bahwa penting bagi guru untuk memiliki keterampilan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dan menanamkan budaya berbahasa Indonesia yang baik pada siswa, ada juga yang memiliki pendapat sedikit berbeda.

  • @cbifonikkk: Yang diperlukan guru yang menggunakan bahasa Indonesia resmi, bukan prokem dan ragam lain.
  • @Pak_Sukani: Sangat perlu sekali karena bahasa Indonesia merupakan bahasa negara, bahasa pemersatu bangsa. Guru bangga berbahasa Indonesia.
  • @rendi_sapoetra: Perlu, dong, tapi utamakan bahasa daerah. Kalau bukan kita, siapa lagi?
  • @DanangArmady: Jujur, waktu saya jadi siswa, saya bosen dengan guru yang selalu berbicara sesuai EYD, ragam bahasa lisan bisa lebih efektif. Keterampilan berbahasa memang penting, tapi ingat, komunikasi yang baik adalah saat siswa mampu memahami ucapan guru.

Bagaimana pendapat Guraru? Seberapa penting keterampilan berbahasa Indonesia bagi guru-guru bidang studi lainnya? Yuk, sampaikan pendapat Anda! 🙂

8,296 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (7)

  1. Saya ucapkan terima kasih kpd pengelola guraru yang telah memuat opini saya tentang pentingnya bahasa Indonesia. Bisa saya tambahkan bahwa bila dikaitkan dengan keterampilan menulis bagi guru, maka semakin jelaslah penting dan perlunya penguasaan bahasa Indonesia bagi non guru bahasa Indonesia. Tapi -maaf- justru masih banyak guru bahasa Indonesia itu sendiri yang tidak aktif menulis (untuk tidak menyebutnya tidak terampil). Demikian juga bila dikaitkan dengan PTK, semua guru mutlak wajib menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahkan bukankah untuk menyusun RPP juga harus terampil bahasa Indonesia yang baik dan benar?

    Saya juga mengucapkan selamat kepada tiga sahabat guraru yang artikelnya terpilih sebagai artikel terpopuler di bulan ini. Pa Isna, Pa Tutuk, dan Bu Resty. Semoga jadi motivasi bagi kita semua, setelah lomba ini usai sekalipun.

    Lalu blog siapakah yang akan jadi juara? Wallahu A’lam

  2. Terimakasih kepada pengelola Guraru atas sharingnya. Saya sependapat dengan pak Marpu.

    Guraru, saya tekankan kembali bahwa “Keterampilan berbahasa Indonesia baik bagi guru bidang studi bahasa Indonesia maupun bagi guru-guru bidang studi lainnya sangat PENTING”. Selama ini ada anggapan yang salah bahwa hanya guru bahasa Indonesia yang perlu memerhatikan bahasa Indonesia dalam pembelajaran. Bahasa Indonesia adalah bahasa untuk berkomunikasi resmi pendidikan. Kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan berkomunikasi resmi, sehingga bahasa Indonesia patut dipilih guru untuk berkomunikasi keilmuan secara benar.

    Dalam Undang-undang Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara pasal 29 dinyatakan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai bahasa pengantar pendidikan. Oleh karena itu, guru harus menggunakan bahasa Indonesia dalam pembelajaran secara benar agar proses penyampaian ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni tersampaikan kepada peserta didik.

    Penggunaan bahasa Indonesia oleh guru dalam pembelajaran harus baik. Hal ini karena komunikasi guru merupakan komunikasi keteladanan bagi murid dan komunikasi resmi pembelajaran.
    Namun, tidak sedikit guru yang sering mencampur bahasa pengantar pembelajaran dengan bahasa daerah atau bahasa asing. Sepatutnya, penggunaan bahasa daerah dilakukan di luar komunikasi keilmuan atau dapat dilakukan dalam pembelajaran bahasa daerah atau bahasa asing tersebut.

    Bahasa Indonesia yang digunakan guru akan menjadi contoh penggunaan bahasa oleh peserta didik. Banyak peserta didik yang mengidolakan guru sehingga bahasanya pun sering secara tidak sadar diikuti oleh para muridnya. Oleh karena itu, sangat tepat jika setiap guru menggunakan Bahasa Indonesia dalam pembelajarannya dengan benar.

    Menurut ahli Psikolinguistik bahwa “berbahasa adalah berpikir”. Penggunaan bahasa dengan benar akan memberi karakter pada berpikir seseorang secara benar. Penggunaan bahasa Indonesia secara benar merupakan jati diri seseorang yang berpihak pada sesuatu kebenaran. Jati diri itu tampak dalam kepatuhan menggunakan aturan secara benar, bahkan melakukan upaya-upaya untuk mengetahui penggunaan bahasa Indonesia secara benar. Keberpihakan pada yang benar ini akan merasuk dalam pribadi seorang guru sehingga ia akan selalu menjadi orang yang “digugu dan ditiru”. Guru akan berpihak pada kebenaran dan dalam pembelajarannya pun ia akan memberikan contoh kepada peserta didik segala hal yang benar dan segala yang baik, termasuk pula dalam menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah. Guru yang menggunakan bahasa Indonesia dengan benar dalam proses pendidikan akan meminimalisasi kesalahan siswa dalam memahami materi pelajaran. Pesan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta karakter bangsa yang diidamkan disampaikan guru dengan menggunakan bahasa Indonesia yang benar maka akan mudah terinternalisasi pada diri siswa. Guru harus membiasakan menggunakan dan memilih kosakata bermakna damai, tenang, bersahabat dan harus menghindari penggunaan kosakata merusak, menghancurkan, anarkistis dalam pembelajaran. Pilihan kata-kata dalam pembelajaran ini akan dapat membentuk karakter peserta didik untuk memiliki kepribadian bangsa Indonesia yang diidamkan. Mungkin, sudah saatnya guru harus lebih cermat lagi dalam menggunakan bahasa Indonesia agar kualitas pendidikan kita lebih baik.
    Amin ya Ra.

  3. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang kita gunakan untuk melayani siswa dalam 3 ranah, kognitif, psikomotorik, dan afektif. Bagaimana kemampuan, keterampilan, dan karakter siswa dapat terlayani secara integrasi jika bahasa guru tak dipahami siswa. Mungkin bahasanya kaku, terlalu banyak kata berulang (repetation), kosakatanya tak umum, dll. Bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta mudah dipahami siswa, itulah yang harus diterapkan. Ada bahasa tulis dan lisan. Untuk tulis, tentulah kalimat tak terlalu panjang dll sesuai kaidah. Untuk lisan, diperlukan pengaturan suara, kejelasan ucapan, intonasi dll. Banyak sekali contoh yang sudah saya posting di blog pribadi. Di saat-saat tertentu, bahasa daerah bisa disisipkan, namun kemudian bahasa tulisnya tetap bahasa Indonesia. Tak masalah. Tentang bahasa daerah, itu bahasa ibu, jangan sampai hilang. Namun membiasakannya di luar sekolah, di rumah atau tempat lain. Sejak kecil kita sebaiknya bahasa ibu, bahasa Indonesia cukup dimulai saat sekolah. Oh maaf kepanjangan. Insya Allah bermanfaat.

  4. Tampaknya respon saya hampir bersamaan dengan pak Sukani, sehingga saya belum melihat sebelumnya. Saya setuju dengan pak Sukani. Mengenai bahasa ilmu, terus terang banyak yang bahasanya kaku, sehingga siswa sulit memahaminya. Selama saya menjadi instruktur seluruh mata pelajaran, ternyata banyak guru yang bahasanya persis buku, kaku, dan siswa menjadi korban harus menghafal. Sedangkan sejarah saja bisa dinalar. Marilah guru, kita harus luwes dalam menggunakan bahasa, Insya Allah dengan senyum penuh kasih sayang, bahasa otomatis menjadi luwes, sebab kita hati-hati berbicara, sabar, penuh nalar, bahagia, nah itulah kunci keberhasilannya. Semoga bermanfaat. Saya juga vote up. Salam perjuangan.

    Contoh-contoh di http://etnarufiati.guru-indonesia.net

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar