Uncategorized
37

#GuruSeru November 2013: Isna Puryanta (+10)

Pengelola Guraru November 26, 2013

Sosok yang dikenal di blog Guraru dengan nama Botaksakti ini mengaku lebih banyak menggunakan blog ‘keroyokan’ ketimbang blog pribadi sebagai wadah bagi tulisannya. Ia pun tak banyak bicara soal inovasi model pembelajaran atau teknologi terkini. Namun, pengalaman sederhana dengan orang-orang di sekitar atau opini yang ia tuliskan selalu mengundang vote dan komentar positif.

 

Melihat keaktifannya menulis, ditambah kedekatan dengan siswa dan orang tua yang tampak dari tulisan-tulisannya, kami memutuskan untuk mewawancarai Pak Isna Puryanta sebagai #GuruSeru bulan November 2013. Selamat membaca!

 

Antara Mengajar, Berburu Berita, dan Berjualan Koran

 

Adalah kedua orang tua yang berprofesi sebagai guru SD, menurut Pak Isna, yang barangkali menginspirasinya untuk menggeluti bidang yang sama. Kedekatan ibu dan almarhum ayahnya dengan para siswa mereka membuat Pak Isna terkesan. Setiap lebaran, rumah mereka selalu dipenuhi murid-murid dan mantan murid yang bertandang. “Bahkan, setelah bapak saya meninggal, mereka tetap datang sampai ke pusaranya,” kisahnya.

 

Rupanya, hal tersebut tak lantas membuat Pak Isna tak tergoda ‘mencicipi’ pekerjaan lainnya. Menjadi guru memang hal pertama yang ia lakukan sejak masih kuliah di IKIP Sanata Dharma Jogjakarta, di mana ia mengajar beberapa mata pelajaran di sebuah MA Kejuruan Elektronika yang ia dirikan bersama sebuah kelompok LSM. Namun, siapa sangka bahwa ketika dunia pendidikan membuatnya jenuh, ia sempat banting stir menjadi seorang reporter investigasi dan penjual koran?

 

Saat berjualan koran itulah, Pak Isna tiba-tiba mendapat panggilan mengajar di Jakarta. Atas dasar dorongan berbagi yang sangat besar, panggilan tersebut akhirnya ia penuhi. Maka, ia pun berangkat dan mulai mengajar di SMAK Samaria Kudus, Jakarta Barat, tempatnya mengajar Bahasa Indonesia hingga saat ini.

 

“Ada yang harus saya dengarkan?”

 

Begitulah cara Pak Isna membuka kelasnya di sekolah. “Selama menjadi guru, kesan terbesar yang saya tangkap dari murid-murid saya adalah keinginan mereka untuk didengarkan,” ungkapnya. Selalu berusaha menjawab kebutuhan siswa, porsi terbesar dalam proses pembelajaran ia gunakan untuk menjadi pendengar bagi mereka.

 

Menurut Pak Isna, efektivitas pembelajaran tergantung bukan pada sistem dan media, melainkan rasa saling percaya di antara pembelajar. Saling percaya itulah, jelasnya, yang akan membangkitkan saling jujur, saling menerima, dan saling memahami. Untuk membentuknya, media sosial berperan penting. Setelah itu, penggunaan media yang kreatif tentunya akan lebih menunjang terciptanya pembelajaran yang efektif.

 

Media Sosial: Memancing Siswa dan Dinanti Orang Tua

 

Mungkin karena terbiasa didengarkan, para siswa Pak Isna pun tak segan berbagi, baik secara lisan maupun tulisan. Sejak jejaring sosial Friendster dan fitur blognya populer di dunia maya, ia sering berinteraksi dengan siswa, bahkan saling berlomba menulis. Begitu juga yang terjadi di Facebook—menulis puisi atau jenis tulisan lainnya di ‘dinding’ profilnya tak jarang dilakukan siswa.

 

Ia memang senang menggunakan media sosial untuk memancing siswa mengeluarkan dan mengasah kemampuan mereka. “Saya ingin anak-anak saya selalu berjiwa pejuang, tidak takut kritik, dan tidak takut mencoba,” tuturnya. Kegiatan ‘memancing’ ini dilakukan karena ia tidak suka menyuruh. Ketimbang menyuruh, menurut Pak Isna, ia lebih senang kalau siswanya melakukan seperti yang ia lakukan.

 

Selain membantu meningkatkan kualitas memberi akses sepanjang waktu dan memenuhi kebutuhan siswa secara real time, media sosial juga memberi kesempatan pada orang tua siswa untuk lebih mengenal sosok guru yang mendidik anak mereka di sekolah. Seperti yang pernah diceritakan ia ceritakan dalam salah satu tulisannya di blog Guraru, ternyata status-statusnya di media sosial seringkali diperhatikan dan dinanti-nanti oleh orang tua siswa.

 

Ia menduga bahwa status-status tersebut dinilai lebih jujur oleh orang tua siswa, sehingga mereka merasa lebih mengenal sosoknya yang sebenarnya. “Imbasnya,” jelas Pak Isna, “mereka jadi lebih terbuka, sehingga terbentuk saling keterpercayaan yang tinggi.”

 

Mendengar, Bukan Menasihati

 

Ketika dimintai saran mengenai creative teaching, Pak Isna mengaku tak pernah merasa kreatif. “Tapi, menurut saya, paling tidak kreatif itu apabila kita mampu mengkreasikan jalan bagi anak-anak kita untuk menemukan solusi dari masalahnya,” tutur peraih penghargaan ‘guru paling humoris’ dari para siswanya ini.

“Oleh karenanya, seperti saya utarakan di awal, gunakan media sosial untuk menggali kebutuhan nyata anak-anak kita. Dari situlah kita bisa memetakan apa saja kebutuhan mereka dan mengkreasikan jalan menuju solusinya. Gunakan media sosial untuk mendengar mereka dan bukan menasihati mereka. Itu saja,” demikian ia berpesan di akhir wawancara.

 

Nah, sudahkah kita cukup menjadi pendengar bagi siswa?

 

1,298 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (37)

  1. Avatar of Pak Sukani @gurumelekIT

    Terimakasih pengelola guraru atas sharingnya. Selamat kepada pak Isna yang terpilih menjadi guru seru bulan November 2013. Luar biasa pak.

    >>>Manusia diberikan 2 telinga dan satu mulut sehingga harus lebih banyak mendengar daripada berbicara (menasehati). <<<<

    Salam hormat,

  2. Avatar of mokhamad subakri

    Selamat Pak atas prestasinya menjadi guru SERU edisi November 2013
    membaca kata perkata di atas … semakin mengenal guru Inspiratif seperti Pak Isna … (tidak lagi botak sakti) :)
    oh iya … kapan mau upload puisinya Pak? ditunggu yang berta guru ;)

  3. Avatar of Urip Kalteng

    @Bu Amiroh, Saya ndak ikutan loh yah :))

    Oh ya buat teman-teman guraru, ayo terus berbagi dan nikmati hasil berbagi kita, nambah teman memang benar-benar nambah rejeki loh, karena dengan menunjukkan jati diri lewat tulisan (walau gak bermutu seperti tulisan-tulisan saya) kalau sudah terbangun jaringan kita akan mendapatkan “sesuatu”.

    Akhir pekan ini tiba-tiba saya diundang untuk berdiskusi selama 2 hari oleh perusahaan yang dikelola “orang muda” untuk dimintai saran dalam hal “creative content” yang mungkin untuk pembuatan aplikasi atau sesuatu terkait e-learnig. Padahal saya loh ndak tahu apa-apa tentang e-learning.

    Berharap saya mendapat sumbang saran dari rekan guraru semua. Nanti kalau kopdar lagi biar ditraktir Acer Guraru dah :D

  4. Avatar of Bhayu Sulistiawan

    selamat buat pak Isna, sosok yg kemaren trmasuk sy tunggu2 di kopdar guraru. penasaran dg sosok di balik akun botaksakti ini melebihi kepenasaran sy dg sosok di balik akun jilbab hitam..qiqiqii… byk dr tulisan2 beliau yg sy praktekan dan manjur.. good luck..

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!