Uncategorized
7

#GuruSeru Juli 2013: Pak Sukani, Memperkenalkan Matematika Lewat Digibook (+6)

Pengelola Guraru July 24, 2013

Pak Sukani adalah salah satu guru yang sangat giat mempelajari berbagai inovasi terbaru yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajarnya. Tak hanya itu, ia pun tak segan berbagi pengetahuan yang telah ia dapatkan dengan sesama guru, baik di sekolahnya maupun dengan rekan Guraru.

Print

Sebagai Pemenang Lomba Menulis Artikel di website Guraru pada bulan Mei kemarin, Pak Sukani berhak mendapatkan hadiah berupa liputan kegiatan mengajar dalam bentuk video. Maka, hari Rabu (17/7) lalu, tim Pengelola Guraru berkunjung ke SMK Bakti Idhata untuk meliput kegiatan mengajar sekaligus melakukan wawancara singkat dengan Pak Sukani. Yuk, simak hasil wawancaranya! :)

Mengikuti Panggilan Jiwa

Menjadi seorang pendidik adalah cita-cita Pak Sukani sejak kecil. “Pilihan hati dan panggilan jiwa,” tukas guru asal Rembang, Jawa Tengah ini. “Guru adalah suatu profesi yang mulia, maka yang menjalankannya adalah orang-orang yang berhati mulia.”

Kondisi ekonomi yang mengharuskannya belajar di sawah sembari membantu sang ayah menyiangi rumput dan menggembala kambing tidak menghentikan ketekunan belajarnya. Pendidikan formal ditempuhnya dengan beasiswa penuh serta berbagai cara penghematan—mulai dari naik sepeda ontel sampai menahan lapar di sekolah—hingga berhasil lulus SMA dengan nilai yang memuaskan.

Sempat terancam tidak dapat kuliah karena biaya, Pak Sukani akhirnya berkesempatan menjalani pendidikan D3 di Politeknik Gajah Tunggal. Di sanalah pijakan pertamanya untuk berkembang di bidang pendidikan—ia mulai mengajar di berbagai bimbingan belajar dan privat seraya melanjutkan kuliah S1 di Universitas Muhammadiyah Jakarta, lalu S2 di Universitas Indraprasta PGRI.

 

Fun Learning dengan Media Sosial dan Digibook

Sesuai dengan pilihan program studinya, Pak Sukani kini telah menjadi seorang guru Matematika di SMK Bakti Idhata, Jakarta Selatan. Enam tahun pengalaman mengajar tampaknya cukup bagi Pak Sukani untuk mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan disukai para peserta didik.

Dalam mengajar, Pak Sukani menerapkan fun learning dengan mengkombinasikan IT dan permainan. Bicara IT tentu tak jauh dari media sosial. Sejak mulai mengajar di tahun 2007, Pak Sukani telah menggunakan media sosial dalam proses pembelajaran. Beragam media sosial ia manfaatkan, mulai dari blog, Facebook, Twitter, Friendster, Yahoo Messenger, Scribd, 4shared, Ziddu, dan lain-lain. Bagaimana cara Pak Sukani memanfaatkan aneka media sosial tersebut?

Di tahun ajaran baru ini, Pak Sukani menerapkan sebuah metode belajar yang juga baru bagi peserta didiknya. Terlebih dahulu, siswa dimintanya untuk mengakses materi ajar yang telah diunggah di rumah dalam bentuk Digibook (digital book), di rumah masing-masing. Lalu, keesokan harinya, ia mengadakan sesi tanya jawab, diskusi kelompok, dan presentasi, untuk menggali pengetahuan siswa lebih dalam.

Untuk menilai pengetahuan siswa, Pak Sukani juga mengadakan tes online, melalui blog atau situs e-learning yang dibuatnya. Dalam situs tersebut, http://pak-sukani.edu20.org, tiap anak ia minta membuat akun untuk memperoleh situs replika mereka masing-masing. Dalam situs replika tersebut, siswa mendapatkan berbagai fitur, yaitu lesson, resources, assignments, forum diskusi, fasilitas chatting, dan notes.

 

Media Sosial di Mata Pak Sukani 

Penggunaan media sosial, menurut Pak Sukani, memiliki berbagai manfaat positif. Selain mendekatkan hubungan antara guru dengan siswa, proses pembelajaran pun dirasakannya menjadi lebih menarik, inovatif, dan menyenangkan. Di samping itu, siswa juga dapat berbagi informasi dan mengakses bahan ajar dengan lebih mudah.

“Efektifnya, tidak perlu bertemu di satu tempat, kita dapat melakukan kegiatan belajar mengajar. Dengan media sosial, bahan ajar dapat di-share dan diunduh. Hasil uji kompetensi dapat langsung diketahui hasilnya dan nilai-nilainya otomatis terkirim ke database guru,” tutur Pak Sukani.

Maka, ia pun menyarankan pada rekan-rekan guru untuk memperbarui proses pembelajaran dengan memanfaatkan IT, baik melalui presentasi Powerpoint, Flash, Digibook, Youtube, media sosial, atau e-Learning. “Jangan mempertahankan proses pembelajaran konvensional (ceramah) karena paradigma proses pembelajaran telah berubah,” tukasnya.

Pak Sukani pun merekomendasikan pada para guru untuk mengkolaborasikan kegiatan belajar mengajarnya di kelas dengan media sosial, sehingga apa yang sudah disampaikan di kelas akan muncul juga di media sosial. Hal tersebut untuk mempermudah siswa dalam mempelajari kembali apa yang telah disampaikan di kelas dan mempermudah mengakses ilmu pengetahuan.

Ada yang belum melakukannya, Guraru? Yuk, kita coba! :)

2,090 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (7)

  1. Avatar of Pak Sukani @gurumelekIT

    Terimakasih atas apresiasinya. Semoga bisa bermanfaat dan memotivasi Guraru yang lainnya. Ubah kekurangan menjadi sebuah kekuataan dan cambuk motivasi untuk menjadi yang terbaik bahwa kita harus bisa dan pasti bisa. SMK saja bisa, maka kita pun harus lebih BISA..!

  2. Avatar of Pak Sukani @gurumelekIT

    Pak Rusydi Hikmawan : Ini Flip Flop Classroom menggunakan digibook multimedia, menggunakan video pembelajaran. Video diberikan sebelum kegiatan KBM agar dipelajari dirumah (diputar videonya) dan pada saat KBM didiskusikan dan presentasi. Karena waktunya terbatas, di bulan Ramadhan 1 jam pelajaran cuma 30 menit maka kemarin 2 jam pelajaran = 1 jam sehingga proses pembelajaran dioptimalkan. Saya memberikan penguataan dan konformasi dalam kegiatan penutup.

    Pak Rusydi Hikmawan : Dengan proses pembelajaran dengan Flip Flop Classroom maka materi akan cepat terselesaikan karena siswa sudah dituntut mencari tahu (mengeksplorasi) dengan adanya video pembelajaran tersebut, dipelajari secara mandiri dirumah dan didiskusikan. Lalu, mengajar 1 tema pokok pelajaran, 1 SK/KD itu dilakukan dalam beberapa pertemuan (1 pertemuan = 2 jam pelajaran) karena 1 SK itu pasti memiliki KB lebih dari satu dan 1 KD jika memiliki lebih dari 1 indokator.

    Mengenai pelaksanaan kurikulum 2013, maka istilah SK sudah tidak dipergunakan lagi. Yang ada adalah kompetensi Inti (KI).

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!