Uncategorized
0

Drama Digital (+1)

Sovia Asi Simbolon May 31, 2017

IMG_6798_2Dengan semangat pagi, saya masuk ke ruangan IX IPA pada les pertama, menyapa mereka penuh semangat. Tapi, wajah mereka  was-was.  “Siapa bilang menulis drama itu kurang asyik?”, Pertanyaan ini saya sampaikan kepada siswa sambil tersenyum.

“Menulis lagi, menulis lagi.” celetuk beberapa siswa.

“Malas menulis, Bu.” sambung siswa yang lain.

“Malas berpikir, Bu.” celoteh mereka sambil bersungut-sungut

 

Mendengar alasan siswa seperti itu, biasanya para Guru Bahasa Indonesia semangat mengajarnya berkurang seperampat. Tetapi, alasan itu jangan menjadi patokan bagi guru untuk tidak mengajari mereka  menulis, apalagi menulis drama. Adakalanya guru bercerita tentang tujuan dan manfaat menulis. Hal itu  dapat membakar semangat mereka agar tetap menulis. Kemudian, menunjukkan karya kakak seniornya sebagai model. Dengan menunjukkan karya tersebut, semangat menulis mereka semakin kuat. Saya teringat saat menayangkan drama digital kakak kelas mereka yang bernama Ellyn Gotehsyah. YouTube Preview Image

Melihat drama tersebut, jiwa menulis mereka menjadi tumbuh, mereka pun semakin berkeinginan untuk menulis. Mereka mulai mencari di youtube bagaimana membuat drama digital, mereka mulai mendownload aplikasi, dan mempelajari secara berkelompok. Suasana kelas semakin asyik.

Para siswa mulai menanyakan tema dan jumlah karakter menulis drama. Sebagai guru, saya mengarahkan mereka menulis drama dengan tema “Bhineka Tunggal Ika” dan jumlah karakter 6000, membebaskan mereka  saling mengajari  menulis drama digital, saling mengedit dari segi isi dan ejaan. Sebagai guru, kita tidak harus menuntut produk yang hebat dari siswa, tapi melihat bagaimana proses mereka mengerjakan produknya. Setelah itu, guru harus memberi penilaian secara objektif kepada siswa tanpa melihat agama, suku, dan fisik. Penilaian yang objektif menjadi penilaian yang unggul dalam hati siswa.  Penilaian seperti ini wajib dimiliki setiap guru. Selain itu,  para guru harus memberi motivasi yang  menyejukan hati setiap siswa agar mereka memiliki semangat untuk berkarya.

Dari melihat drama digital yang dibuat siswa,   ternyata mereka sangat kreatif  dalam menulis drama digital. Kemudian, guru menayangkan drama digital siswa di  depan kelas,  siswa diajak berdiskusi mengenai drama digital tersebut, dan dipresentasikan secara berkelompok. Dari presentasi tersebut,  siswa dapat mengetahui kurang atau lebih dalam menulis drama digital.

Dari pembuatan drama digital,  penggunaan teknologi sangat besar manfaatnya . Karena itu, guru dan siswa segera memanfaatkan teknologi yang mereka miliki, baik  itu handphone, notebook, labtop, maupun gadget yang lainnya. Dengan gadget yang dimiliki, kegiatan proses belajar-mengajar menarik, bahkan dapat  menghasilkan  berbagai karya  digital berupa puisi digital, cerpen digital, dan drama digital. Bahwa teknologi tidak hanya bermanfaat pada pelajaran tertentu, melainkan pada semua pelajaran: Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ekonomi, Geografi,Sejarah, PPKN, Kimia, Agama, Olahraga, Seni dan Budaya, dan lain-lain.

 

Jadi, menulis drama digital itu asyik apalagi menggunakan teknologi yang canggih. Acer Chromebook 14, jenis produk yang menarik dan layak digunakan oleh guru dan siswa. Menggunakan produk tersebut memberikan wahana yang baru di dunia pendidikan. Kegiatan belajar-mengajar semakin asyik dan menarik.

Artikel ini diikutkan lomba menulis guru era baru

576 total views, 2 views today

Tagged with: ,

Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

The comments are closed.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar