0

Zaman Now (0)

Hedy Lim December 6, 2017

Sudah sejak beberapa saat lalu, pemakaian kata jaman “now” menjadi fenomenal. (Dan seperti biasa, saya agak telat 😉 ). Lalu mudah sekali kita jumpai di banyak tulisan, komentar secara lisan di medsos maupun diucapkan dalam sebuah percakapan.

Setelah itu, seperti biasa, banyak deh semua kejadian dihubungkan dengan istilah “jaman now”, seperti “kids jaman now’, “emak-emak jaman now”, “guru jaman now” dan lain-lain.

Saya mau berpendapat soal jaman now ini. Sebenarnya sih menurut saya, setiap masa, setiap generasi, setiap periode tertentu, pasti ada perbandingan antara yang lalu dengan yang sekarang. Biasa saja. (Kurang seru nih, saya tidak kekinian, jaman now itu “happening” lho, masak saya anggap biasa-biasa saja….hehe).

Membandingkan untuk mencari kelebihan, itu wajar kok. Pastilah terucap, semodel “lho kok sekarang lebih enak ya”, “dulu itu ya bersih deh sungainya”, “sekarang enak lho ada rumah lapis, eh kue lapis lezat”. Wajar kan?

Nah, yang kadang berlebihan pada saat membandingkan adalah penggunaan ungkapan “jaman now” yang kesannya mewakili dulu baik dan sekarang buruk. Bukankah kita semua akan mengalami fase perubahan dulu dan sekarang? Manusia sering lupa bahwa fase sekarangnya adalah kelanjutan dari dulunya. Dulu dia tidak mengalami lalu sekarang melihat kok ada yang mengalami dan itu harus dihindari, maka muncullah “anak jaman now kok suka clubbing, dulu mah kita main volley”. Ya kamu main volley, yang clubbing dulu juga banyak, kalau nggak, mana ada dulu Lipstick (ups, ketauan umur).

Anak remaja usia 16 tahun. “wah itu anak SD sekarang gayanya sok tua amat ya, berani lawan anak SMA, dasar anak jaman now”. Nah dulu kalian SD, merasa sudah besar belum? Lalu kalau anak SMA nya nakal, kalian sebagai anak SD tidak boleh melawan untuk kebenaran?

Ibu-ibu yang memiliki anak remaja. “Aduh Nak, kamu kok malas ya tidak mau belajar, main hape melulu. Dulu mama ini, belajar terus, kamu tuh ya anak jaman now, maunya enak saja…..” Mama, dulu mama kecil tidak ada hape soalnya, lalu sekarang mama punya hape yang diberikan secara sadar kepada anaknya (kecuali anaknya mencuri atau beli sendiri), mama suka belajar karena mama memiliki sifat itu, anak mama sekarang belajar juga(kadang baca dari hape sambil chat say hello dengan gebetan), anak mama memilih belajar yang dia sukai. Mama kesal? Iya wajar, sayapun maklum sekali. Tetapi yuk coba rasa kesal kita, kita bawa ke hal lain agar si anak remaja ini lebih menghargai waktunya.

Media gosip memberitakan artis yang diduga menjadi perusak rumah tangga orang lain. “Itu artis J, gak tahu malu ya, artis jaman now…….”. Ada yang dulu masih bayi berarti tidak dengar gosip mobil menabrak tembok rumah mewah 🙂

Bapak ibu Guru pusing melihat siswanya tidak belajar. “Aduh, anak jaman now, tidak bertanggung jawab dengan sekolah. Besok ujian, malah jalan-jalan ke mall dan di kelas tidak gigih berpikir untuk menjawab soal malah bobo”. Iya betul, ada yang begitu. Introspeksi kita apa? Hanya menyalahkan karena mereka anak jaman now, hidupnya keenakan dari lahir? Sementara kita melihat bahwa sistem pendidikan sekolah kita juga ada beberapa makin ngawur? KKM dibuat setinggi mungkin demi nama keren sekolah. KKM sekolah banyak yang 75 lho. Hebat kan. Lalu guru membuat soal ujian yang hebat sampai satu angkatan kelas harus mengulang karena terlalu banyak yang gagal? Sekolah yang efektif katakanlah 5 bulan, ada segala rupa ujian wajib bernama UTS, UAS/PAS. Ujian masih bersifat tertulis. Pelajaran tidak relevan bagi anak-anak. Banyak pelajaran harus dihapal mati. Dan jika siswa menjawab tidak sesuai kunci jawaban langsung salah pula.

“Murid jaman now, nyonteknya canggih”. Maksudnya mungkin bapak-ibu guru dulu kebetulan tidak suka mencontek dengan canggih tetapi hanya salin PR 🙂 hehe…. Bapak ibu tidak pernah mendengar cerita mencontek massal satu angkatan demi menghapal butir-butir Pancasila kan? Dulu belum lahir atau masih balita mungkin 😉

“Anak jaman now kurang tanggung jawab, terlalu dimanja dari lahir, semua-semua dipenuhi, hidup ini keras, kapan mau belajar?”. Pak, Bu, waktu lahir, bayi, anak kecil, bapak ibu tidak dimanja orang tuanya? Jika orang tua bapak ibu sanggup dengan finansialnya, bapak ibu pun bahagia dengan dipenuhi berbagai kebutuhan dan sedikit kemewahan kan? Bapak Ibu kecil dulu tahu kalau hidup bakalan keras? dulu makan kue batu? Periode per periode usia kita lah yang membawa kita lebih dewasa (semoga), lebih tahu, lebih bijak karena kita lebih dahulu mengalami berbagai persoalan dalam hidup. Kan kita lahir duluan. Dan lagi, bapak ibu guru bicara ini seperti menyalahkan orang tua, bapak ibu sudahkah jadi orang tua? Sudah sempurnakah gaya mendidik kita yang kebetulan menjadi guru ini terhadap anak-anak kita sendiri? Nanti guru-guru anak kita menyatakan hal yang sama, siapkah kita bapak ibu? Jadi tenanglah, manusia selalu memiliki masa / periode nya masing-masing 🙂

Jadi karena kita ada di periode sekarang, melihat yang terjadi sekarang, jika bukan bercanda, kurangilah membandingkan anak-anak sekarang dengan yang dulu kita alami. Beda. Dan tidak selalu relevan.

Contoh alat bantu mengajar saya jaman old dan jaman now 😉

                               

Mengapa OHP? Dulu tersedia di kelas.

Mengapa Apple TV? Tersedia Projector HDMI di kelas dan jaringan wifi.

Dua era yang berbeda bukan?

Catatan: Semula judul tulisan ini adalah “Jaman Now”, pakai J bukan Z. Namun setelah post di Kompasiana, admin membetulkan menjadi memakai huruf Z. Setelah saya cek KBBI, ternyata Jaman adalah bentuk tak baku dari Zaman. Terima kasih informasinya 🙂

101 total views, 3 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar