10

Why do you love me? (Part 4) (+3)

Bu Etna @gurutematik January 11, 2014

Selamat Sore Guraru. Latihanku menulis sebagai tindak lanjut hasil TWC 3 tentang cerita fiksi berdasarkan kisah nyata ini terbagi menjadi 4 jilid. Bagian terakhir ini sengaja saya penggal dan kutulis secara ringkas. Insya Allah ketika dibukukan sebagai kumpulan cerita fiksi akan lengkap termasuk gambar. Semoga cita-cita ini bisa  segera terwujud dalam tahun ini. Doa Guraru selalu kuharapkan. Berikut bagian terakhirnya. Selamat menikmati.

***

Setelah siuman, ternyata aku telah berada di kamar pasien sendirian. Aku berusaha duduk dan ku pencet bel panggilan. Tak berapa lama terdengar suara sepatu suster yang sedang berlari dan masuk ke kamarku.

“Alhamdulillah ibu sudah siuman.”

“Sus panggil aku mbak saja, aku masih muda lho.”

“Maaf ibu, saya tak berani melanggar aturan pekerjaan. Ibu bukan berarti sudah tua; saya harus menghormati ibu sebagai pasien atau tamu kami.”

“Ya sudah tidak apa-apa. Maksudku tadi kekeluargaan saja, tak perlu formal. Namun RS ini disiplin ya, OK itu baik. Sus tolong antar aku ke ruang pasien tadi ya.”

“Iya Bu, sebentar.” Jawabnya.

Tak berapa lama dokter masuk.

“Alhamdulillah, ibu sudah siuman. Pihak rumah sakit tadi sempat bingung.”

“Oh maafkan saya Dok. Saya amat terkejut, sehigga tak sadarkan diri. Dok, mengapa dia? Sakit apa dia dok?” tanyaku.

“Sekeluarga mengalami kecelakaan dan hanya dia yang hidup, namun lumpuh dan sulit berbicara. Keadaannya kritis dan kami tak sanggup menolong. Dia menyebut namamu dan meminta kami untuk membuka dompetnya. Kami tanggap apa yang dimaksudkannya. Setelah kami temukan nomor HP ibu, kami segera menghubungi, sebab khawatir tak sempat menemuinya. Sekarang saya membawa berita yang sangat mengejutkan, rasanya aneh tetapi nyata-nyata terjadi.”

“Ap … apa maksud dokter? Ada apa dengannya? Tolong dok saya ingin menjumpainya sekarang. Tolong jangan melarang saya.”

Aku memaksakan diri untuk berdiri. Karena tempat tidurnya agak tinggi, aku hentakkan badanku, maksudku akan meloncat turun. Astaqfirullah … aku hampir jatuh, untung si suster dengan sigap memegangku. Dokter dan suster itu tertawa. Hah? Mengapa mereka malah tertawa? Lucukah aku? Apa aku tadi salah dengar? Apa tadi yang dikatakan dokter? Berita yang mengejutkan. Maksudnya berita baikkah? Insya Allah.

“Maaf kalau kata-kata saya tadi ada yang salah. Maksudnya ada berita yang sangat baik untuk ibu.”

Alhamdulillah, dokter ini bagaimana sih.

“Maksud dokter …”

“Alhamdulillah, sebuah mukjizat telah terjadi. Ternyata kesehatannya membaik bu. Dia memiliki lagi kekuatan hidup setelah melihatmu. Bersediakah kau merawatnya? Kalau iya, kalian kita nikahkan disini, tentunya menunggu keputusan keluargamu.”

Aku terpaku mendengarkan penjelasan dokter. Aku memang terlalu mencintainya. Kuputuskan sekarang saja untuk merawatnya. Dia dan aku sudah sebatang kara. Aku menganggukkan kepala dan ku tilpun ibu angkatku yang juga sudah janda.

***

Now I understand why did you go last time without any reason. Ya … ya, sekarang aku paham … mengapa dulu kau pergi tanpa suatu alasan. Mungkin kebingunganmu dahulu itu karena ada suatu masalah yang membuat kita harus berpisah, namun kau tak tega padaku untuk menjelaskannya. Apakah ketika itu kau dipaksa untuk menikah dengan gadis pilihan orang tuamu, apakah kau memang telah dijodohkan sejak kecil, namun kau tak tahu sebelumnya. Tak masalah bagiku. Hati kita masih selalu dekat, bahkan menyatu. Apakah selama 3 tahun ini kau telah beristri? Mungkin tidak, karena sampai sekarang kau tetap sendiri, tak seorang wanitapun ada di sampingmu. Apakah ketika itu kau menolak untuk dinikahkan? Itupun tak masalah bagiku. Buktinya, sekarang Allah SWT telah menyatukan kita kembali. Aku tak akan bertanya mas, aku memang tak perlu bertanya. Ku telah memilikimu kembali. Selama ini aku juga tak salah, memang benar … walau jauh di mata ternyata hati kita selalu menyatu. Aku tak pernah menyalahkanmu, Allah SWT telah membuka pintu hati kita sejak dulu hingga sekarang, alhamdulillah.

***

Dengan penuh cinta dan kasih sayang ku rawat dia. Senyumnya mulai mekar, bicaranya mulai banyak dan jelas. Kami menjalani hidup ini dengan bahagia. Terima kasih ya Allah, Kau telah mempertemukan kami kembali dan Kau beri hamba kesempatan untuk merawatnya dan menyayanginya. Allahu Akbar.

***

“Yangtiiii … yangkuuung … di belakang ya …? Ini lho … kami membawa jus kesukaan Eyang.”

Ehmm … Fitri putriku satu-satunya dan kedua cucuku pada datang. Oh ya mereka libur semester. Hehehe aku dibawakan jus. Mereka tahu jus itu kesukaanku dahulu. Sudah lama, bahkan semenjak merawat mas aku tak pernah ingat untuk membuat jus. Fitri adalah bayi tabung. Alhamdulillah dengan kesabaran akhirnya kami bisa memiliki Fitri dan lucunya, suami Fitri adalah anak tunggal dari dokter yang merawat mas di rumah sakit dulu. Dan sudah kehendak Allah SWT, ternyata suster yang menolong kami dulu itu menjadi istri pak dokter. Hehehe dunia ini rasanya kok menjadi sempit ya. Cucuku yang pertama Umar, kuliah di FK Unair dan adiknya Umi terkabul keinginannya kuliah di Farmasi Unair. Allahu Akbar, Allah Maha Besar.

The End

Untuk memudahkan Guraru yang belum sempat mengikuti cerita ini dari awal, berikut saya cantumkan urlnya. Terima kasih.

http://guraru.org/guru-berbagi/why-do-you-love-me-part-1/

http://guraru.org/guru-berbagi/why-do-you-love-me-part-2/

http://guraru.org/guru-berbagi/why-do-you-love-me-part-3/

1,703 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

Comments (10)

  1. @pak Wijaya: Amin ya rabbal alamin. Terima kasih banyak atas doa dan dukungannya. Semua ini berkat Guraru dan adanya TWC 3 yang begitu dahsyat baik penyaji, panitia, dan programnya yang saya rasakan sebagai suatu Learning cycle. TWC 3 terasa hidup hingga menuju TWC 4 yad, amin. Bagaimanapun perjuangan ini perlu waktu, sebab menulis sesuatu yang baru memerlukan tahapan maju berkelanjutan bagai spiral dalam learning cycle. Salam sukses.

  2. @Ayomendidik: Amin ya rabbal alamin. Terima kasih banyak pak Bakri, nih sedang latihan lho. Alhamdulillah, fiksi 4 jilid itu sebenarnya ada bagian depan dan banyak bagian belakang yg kupangkas, karena belum diedit. Masih buntu nih, sastranya agak sulit, hehehe. Doakan bisa kulanjutkan sekitar separo lagi, diberi gambar, nah maunya diterbitkan. Insya Allah selesai sebelum TWC 4. Foto itu kupilih yg senyum sebab suamiku bilang akhir-akhir ini senyumku tambah sering semenjak menulis fiksi, hihihi. Salam sukses.

  3. @guruberakhlak:Amin ya RA. Thx for all pak Namin, seharian menyelesaikan editing fiksi, ganti gambar, hehehe lama-lama bisa juga. Itu foto banyak orang, kucrop, kupotong badanku, hahaha. Brandku juga sdh jadi. Salam sukses.

    Wass, Bu Etna @gurutematik

  4. Iya bu, dulunya saya juga gagal terus, gak ngerti kenapa. Eh tadi itu seharian di rumah, anak dan cucu piknik. Ngedit fiksi, memberi bumbu biar agak heboh. Akhirnya kupangkas saja, capek. Lucu bu, saya sering senyum sendiri dan kepergok suami, hehehe. Thx responnya.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar