Artikel Pilihan

Proyek Berbagi Kebudayaan TK di Denpasar Dengan TK di New Jersey

Dua minggu yang lalu unit TK memasuki tema “Alat Komunikasi”.…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

PENERAPAN MODEL PBL DENGAN MENGGUNAKAN GAMES TTS

Assalamualaikum Wr. Wb Alhamdulilah, puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

Luar Biasa, Pembelajaran Berbasis Proyek Sudah Mendunia

Selamat Siang Guraru. Insya Allah kita selalu sehat wal afiat. Terasa…

Selengkapnya

Aktivitas
Home > Aktivitas […] Lain-lain > Wajah Sekolah Kami

Wajah Sekolah Kami (+2)

Penulis: Bai Ruindra
Kategori: Aktivitas […] Lain-lain

Semua orang butuh pendidikan. Pendidikan juga diajarkan mulai dari masih kanak-kanak sampai akhir hayat. Berbagai jenjang pendidikan dicanangkan di Indonesia dan tuntutan wajib belajar sembilan tahun masih berlaku. Setiap anak diantar orang tua ke sekolah-sekolah untuk mengecap ilmu, agar bisa membedakan baik buruk, terlebih untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik kelak, dan untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
Pendidikan berlangsung tidak hanya di kota besar di mana pandangan masyarakat sudah lebih terbuka. Pendidikan ini juga dilaksanakan di daerah-daerah pelosok, yang kesadaran akan pentingnya sekolah masih berkurang. Masyarakat pedesaan masih menganggap bahwa anak-anak mereka bisa baca tulis sudah lebih dari cukup. Sebab setelah setelah sekolah mereka juga akan menuai padi di sawah.
Anggapan tersebut jadi benar jika dilihat dari tahun-tahun sebelum media masuk ke kampung-kampung, khususnya televisi. Peran media juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan menumbuhkan sikap sadar orang tua akan pendidikan. Berbagai media pernah menayangkan mengenai pendidikan dasar dan kebutuhan akan ilmu. Sehingga orang tua berbondong-bondong mengantar anak-anak mereka bersekolah.
Sekolah-sekolah pun dibangun di kampung. Mulai dari dasar sampai menengah, hal ini menekan angka buta huruf dan menjadikan pendidikan sebagai prioritas. Di pagi hari anak-anak bersekolah, pandangan ini tidak jauh berbeda dengan di perkotaan, masuk kelas dan belajar. Namun ada hal lain yang tentu sangat membedakan pendidikan di kampung dengan di kota.
Fasilitas Sekolah
Melihat bangunan sekolah tentu yang sangat mewah seperti yang diperlihatkan di media. Namun sekolah-sekolah di kampung tidaklah demikian. Salah satu sekolah yang kerap saya ajarkan suatu ilmu eksakta, terlihat bangga dengan banyaknya siswa-siswi. Bangga itu akan berbeda jika dilihat dari bangunan sekolah yang sudah usang, cat dinding sudah pudar, sebagian kelas bahkan lantainya sudah bolong seperti bolongnya atap kelas. Tidak cukup melihat bangunan yang sangat bagus menurut kami, kursi-kursi yang tersedia sebagian tidak layak pakai. Bahkan siswa kelas satu ada yang tidak kebagian tempat duduk sehingga harus berbagi dengan siswa lain.
Suasana belajar yang kurang nyaman untuk sebuah sekolah menengah atas. Ditambah kondisi perpustakaan yang kekurangan buku. Kebanyakan buku yang tersedia merupakan buku lama dan tidak diperbaharui. Buku yang kurang diikuti ruangan pustaka yang sempit, tidak ada petugas khusus, rak-rak berdebu, kursi dan meja tidak lebih dari dua puluh unit. Hal ini menyebabkan siswa sangat jarang ke pustaka, walau hanya sekadar membaca.
Tidak jadi masalah besar jika pelajaran mengandalkan bacaan semata jika pustaka tidak memadai. Mereka bisa mencari dengan membaca di tempat lain bahkan cukup mendengar saja dari guru. Akan jadi masalah besar bagi saya dan beberapa teman lain yang mengajar pelajaran eksakta. Belum perpustakaan yang kurang lengkap, laboratorium IPA juga belum bangun dari tidur panjang. Alat-alat praktikum tidak tersedia dengan lengkap. Hanya bagian kecil dari praktikan dasar dan itu pun sudah hilang satu persatu.
Jangan tanya laboratorium bahasa dan komputer. Laboratorium bahasa mungkin sama sekali tidak akan terbangun, tidak pernah terdengar kabar akan hal itu. Berbeda dengan laboratorium komputer yang mungkin akan dibangun sebentar lagi. Menunggu dana khusus untuk membeli peralatan komputer. Selama ini pelajaran bahasa hanya mendengar dari guru dan membaca teks. Sedangkan pelajaran tekhnolgi informasi sesekali guru bersangkutan membawa laptop untuk mendukung pembelajaran.
Ini sekolah negeri dan fasilitas masih jauh dari harapan, dan ini di kampung.
Kekurangan Guru
Ketiadaan fasilitas sekolah ditambah dengan kekurangan guru bidang studi. Pada dasarnya sebuah sekolah negeri harus mempunyai minimal dua orang guru pada masing-masing bidang studi. Apalagi untuk pelajaran Ujian Nasional (UN). Sangat disayangkan jika bidang studi utama hanya diajarkan oleh seorang guru negeri saja.
Untuk IPA sebut saja Matematika, Fisika, Kimia, Biologi dan untuk IPS Matematika, Ekonomi, Geografi dan Sosiologi. Belum lagi dua pelajaran bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dari keenam pelajaran utama tersebut hanya memiliki satu guru bidang studi dari sepuluh kelas dengan siswa mencapai tiga ratusan lebih. Dan kebanyakan guru tersebut belum tersertifikasi, tidak memungkinkan mengajar dua puluh empat jam. Hal ini menyebabkan sekolah kalang kabut mencari guru bantu yang akan mengajar dengan sukarela.
Mengingat jarak sekolah di Kecamatan Woyla, yang sangat jauh dari pusat kota, Meulaboh, Aceh Barat, sebagian guru bantu memilih tidak mau mengajar. Keadaan wilayah juga tidak mendukung, sering banjir sehingga guru tidak bisa mencapai sekolah. Padahal kebanyakan guru bidang studi utama merupakan guru yang berasal dari daerah yang dekat dengan ibu kota kabupaten. Pertimbangannya tentu pada waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mencapai sekolah, kemudian biaya yang harus dikeluarkan karena pihak sekolah – katanya – tidak menyediakan dana khusus untuk guru bantu.
Akhirnya siswa-siswi terkatung-katung. Guru bidang studi eksakta bisa jadi mengajar bahasa atau sebaliknya. Pembelajaran semakin tidak efektif dengan pengajaran sedemikian. Guru-guru kalang-kabut harus mengajar pelajaran yang bukan keahliannya. Namun tetap harus dilakukan agar jam-jam kosong terpenuhi.
Keluhan siswa-siswi hanya didengar saja oleh kepala sekolah tanpa ada solusi. Sekolah terus berjalan seperti biasa. Tahun ajaran baru menerima siswa baru. Bangunan sekolah diam membeku tanpa dipoles. Guru-guru tidak ditambahkan sesuai tuntutan. Dan di akhir tahun ajaran, Ujian Nasional menjadi momok menakutkan untuk siswa bahkan guru.
Mulailah guru memaksa siswa-siswi belajar dengan giat jika ingin lulus. Berbagai alternatif dilakukan termasuk menyewa guru dari sekolah lain untuk mengajar jam tambahan sore hari. Pemaksaan tersebut tentu tidak mendapatkan nilai yang memuaskan di ujuan akhir sekolah. Tugas guru bertambah dengan memikirkan nilai siswa-siswi mencapai taraf lulus agar lulus di Ujian Nasional. Berbagai cara dilakukan, jika waktu tidak memungkinkan untuk membuat ujian ulangan maka penambahan nilai jadi alternatif. Hal ini terjadi tidak hanya di satu sekolah bahkan hampir semua sekolah di kampung, di daerah pedalaman!
Pemerintah tetap tidak menghentikan Ujian Nasional sebagaimana mestinya. Untuk mencapai taraf yang lebih baik. Paling tidak baik dari negeri tetangga. Baik untuk daerah perkotaan benar adanya, di mana fasilitas dan tenaga pengajar mencukupi.
Di sini, di halaman sekolah yang kerap tergenang air saat hujan dan guru tidak mengajar saat banjir, tak elok Ujian Nasional menjadi taraf meluluskan siswa-siswi.
Beginilah wajah sekolah kami, di kampung. Mungkin ini salah satu, bagaimana dengan daerah yang lebih terpencil lagi?
 

43 total views, 1 views today



Harap login untuk Vote UP postingan ini.


  1. Avatar of Botaksakti

    Semoga, kisah yang demikian dimengerti sebagai sarana introspeksi bagi para pemangku kepentingan sehingg bisa segera dicarikan solusinya, dan bukan malah ditanggapi sebaliknya!

    Botaksakti Komentar pada September 6, 2012 2:07 pm

  2. Avatar of Pengelola Guraru

    Turut mengamini pak @isnapuryanta. Semangat selalu pak @bairuindra

    Pengelola Guraru Komentar pada September 6, 2012 3:23 pm

  3. Avatar of Bai Ruindra

    Terima kasih motivasinya :)

    Bai Ruindra Komentar pada September 8, 2012 3:20 am

  4. Avatar of Ramdhan Hamdani

    Setahu saya Kemdikbud memiliki dana abadi yang jumlahnya Triliunan. Mengapa tidak digunakan untuk membangun sekolah ya. Apakah harus menunggu terjadi bencana alam dulu baru kemudian dibangun sekolahnya ?

    Ramdhan Hamdani Komentar pada September 17, 2013 2:49 pm

  5. Avatar of Pak Sukani

    terimakasih pak Bai Ruindra atas sharingnya.

    Pak Sukani Komentar pada September 17, 2013 6:05 pm

You must be logged in to post a comment.

Panduan

Mari bergabung dengan Guru Era Baru! Baca panduan disini.

Panduan Bergabung

Klik Disini
Dr. Acer

Punya pertanyaan seputar komputer dan produk Acer lainnya?

Tanya Dr. Acer

Submit