0

VIRTUAL LEARNING: PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN (0)

BIBIT SIH HANDOKO November 10, 2017

VIRTUAL LEARNING:

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN

Oleh: Bibit Sih Handoko

Guru SMK Negeri 1 Turen Kabupaten Malang

Email: bibit.handoko@gmail.com Hp: 083834381433

 

Abstrak

Pada era sekarang ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology/ ICT) demikian pesat.  Kemajuan ini tentu saja berpengaruh terhadap berbagai bidang kehidupan, termasuk di dalamnya pendidikan.  Sejalan dengan itu, otonomi pendidikan dan globalisasi pendidikan yang menekankan pada persaingan dan kualitas mulai berlangsung.  Keberhasilan pelaksanaan otonomi dan globalisasi pendidikan hanya mungkin dapat dicapai dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pendidikan. Salah satu upaya dalam peningkatan kualitas pembelajaran melalui pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Penerapan  pembelajarn berbasis Internet atau yang lebih dikenal dengan e-learning atau virtual learning merupakan salah satu contoh pemanfaatan TIK dalam pembelajaran.  Dalam makalah ini akan di­ba­has tentang pengertian, kelebihan dan keterbatasan, serta kondisi yang di­perlukan agar pe­ne­rapan pembelajaran berbasis Internet (virtual learning) dapat berhasil.  Pembahasan tentang virtual learning tersebut akan diawali dengan perkembangan pe­man­faatan TIK dalam pembelajaran.

Kata Kunci: Paradigma belajar, teknologi informasi dan komunikasi, virtual learning

Abstract

In this present era, advances in science and technology (Science and Technology), particularly information and communications technology (Information and Communication Technology / ICT) so rapidly. This progress has obviously affected the various areas of life, including education. Correspondingly, the educational autonomy and globalization that emphasizes education and quality competition got under way. The success of decentralization and globalization of education may only be achieved by utilizing information and communication technology in the educational process. One effort in improving the quality of learning through the use of ICT in learning. Application of Internet-based pembelajarn or better known as e-learning or virtual learning is one example of the use of ICT in learning. In this paper will be discussed on the definition, advantages and limitations, as well as the conditions necessary for the implementation of Internet-based learning (virtual learning) can succeed. A discussion of the virtual learning will be preceded by the development on the use of ICT in learning.

Keywords: Paradigm learning, information and communication technology, virtual learning

 

  1. PENDAHULUAN

Banyak orang diseluruh Dunia mengakui pendidikan jarak jauh (Distance Learning) dapat digunakan sebagai salah satu cara yang efektif untuk mengatasi permasalahan yang sulit diatasi dengan cara konvensional. Permasalahan yang muncul  misalnya banyak anak usia sekolah tetapi tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional karena tinggal di tempat yang jauh dari sekolah, banyak anak maupun orang dewasa yang ingin memperoleh pendidikan tetapi tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional karena harus mencari nafkah atau pun ketika kecil tidak mendapatkan pendidikan yang baik.

Virtual Learning adalah salah satu system pendidikan jarak jauh yang bertujuan untuk mengevisiensikan dan mengefektifikan metode pembelajaran dengan menggunakan internet. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi masalah dalam proses pembelajaran dalam konsep Virtual Lerning ini.

Dalam system pembelajaran melalui internet isi pembelajaran disampaikan secara online. Dalam system pembelajaran ini siswa berdiskusi, belajar, bertanya dan mengerjakan soal soal latihan secara online. Semua proses pembelajaran dapat dilakukan tanpa menuntut siswa hadir di ruang kelas tertentu, tetapi mereka berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan pelajaran seperti yang terjadi di kelas biasa

Seiring dengan pesatnya kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang merambah ke berbagai bidang, pendidikanpun tidak terlepas dari pengaruh perkembangan TIK, hal ini ditandai dengan banyaknya pemanfaatan TIK dalam meningatkan kualitas belajar mengajar, bahkan dengan pesatnya TIK, interaksi seorang pendidik dan peserta didik dapat dilakukan dengan jarak jauh atau tidak langsung berhadapan. Kelebihan lainya adalah dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan siswa yang lebih banyak dan tidak mengenal batas tempat, sehingga proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara bersamaan dimanapun dan kapanpun sesuai keinginan peserta didik dan pendidiknya.

Pendidikan merupakan faktor kunci dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam hal ini. Maka dari itu perlu ditingkatkannya kualitas pendidikan itu sendiri yang sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan, termasuk kurikulum, materi, pendidik, metode pembelajaran, dan juga media yang digunakan dalam pembelajaran. Dalam pendidikan terdapat proses belajar mengajar, yang pada hakikatnya adalah proses penyampaian pesan atau informasi dari pendidik kepada peserta didik. Pesan/ informasi akan sampai kepada peserta didik apabila peserta didik dapat menangkap dan memahami isi pesan tersebut. Terkadang pesan/ informasi tersebut tidak sampai kepada peserta didik karena faktor-faktor tertentu sehingga dibutuhkan alat bantu atau media dalam penyampaian pesan tersebut. Selain itu, proses pembelajaran dapat berhasil dengan baik jika peserta didik diajak untuk melibatkan semua alat inderanya, karena semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah pesan semakin banyak pula pesan yang dapat dimengerti dan bertahan lama dalam ingatan peserta didik.

Sangat beragam variasinya pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran, para fasilitator hanya tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi belajarnya, dan tentunya penggunaan TIK dalam proses pembelajaran haruslah bijaksana dan disesuaikan dengan kemampuan fasilitatornya itu sendiri, dengan kata lain penguasaan fasilitator atau tenaga pengajar harus memiliki keterampilan lebih di bidang TIK.

Penerapan virtual learning ditujukan untuk mengatasi masalah keterpisahan ruang dan waktu antara siswa dan pengajar melalui media komputer . Virtual learning mengacu pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas maya yang berada dalam cyberspace melalui jaringan Internet (Pannen, 1999).  Siswa dapat memperoleh bahan belajar yang sudah dirancang dalam paket-paket pembelajaran yang tersedia dalam situs Internet.

Dengan menerapkan virtual learning, siswa dapat mempelajari bahan belajar sen­diri atau jika diperlukan siswa meminta bantuan dalam bentuk interaksi yang difasilitasi oleh komputer, seperti belajar berbantuan computer (computer based learning/CAL) atau interactive web pages, belajar berbantuan pengajar atau tutor secara synchronous (dalam titik waktu yang sama) dan asynchronous , (dalam titik waktu yang berbeda) atau belajar berbantuan sumber belajar lain seperti dengan siswa lain atau pakar, e-mail, dan sebagainya.  Penilaian juga dilakukan secara jarak jauh me­la­lui komputer dan terbuka, dalam arti siswa dapat mengikuti penilaian kapan saja siswa siap untuk dinilai. Dari penjelasan tersebut, dapat dicermati bahwa ciri-ciri pembelajaran yang menerapkan konsep virtual learning adalah:

  • adanya keterpisahan antara pendidik dan peserta didik;
  • sistem belajar terbuka (akses yang terbuka dan kebebasan memilih ragam sumber belajar serta alur proses belajar); serta
  • berbasis jaringan,

Konsep virtual learning dikembangkan bukan untuk menggantikan pembelajaan tatap muka. Penggabungan pembelajaran tatap muka dengan konsep virtual learning akan memungkinkan terjadinya peningkatan kualitas pembelajaran, di samping peningkatan efektivitas dan efisiensi pendidikan.  Virtual learning dikembangkan untuk menunjang pembelajaran tatap muka. Virtual learning dapat diterapkan sebagai satu-satunya proses belajar dalam pendidikan jarak jauh atau digabungkan dengan pembelajaran langsung (tatap muka di kelas).

Dalam penerapan virtual learning,   komponen siswa, guru, dan sumber belajar difasilitasi oleh TIK untuk mencapai tujuan belajar.  Prinsip utama dalam virtual learning adalah otoritas dan kolaborasi.  Otoritas dalam arti, siswa memiliki tanggung jawab untuk menentukan materi, akses terhadap sumber belajar, waktu yang dimiliki, media yang akan digunakan, serta tempat dan langkah-langkah belajar yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.  Kolaboratif dalam arti, untuk dapat melakukan tanggung jawab tersebut siswa dituntut untuk berinteraksi dengan siswa lain, guru atau tutor; dan sumber belajar lain yang tersedia.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya teknologi in­for­masi dan komunikasi (Information and Communication Technology, ICT) de­mi­ki­an pesat.  Kemajuan ini tentu saja berpengaruh terhadap berbagai bidang kehidupan, ter­masuk di dalamnya pendidikan.  Sejalan dengan itu, otonomi pendidikan dan glo­ba­lisasi pendidikan yang menekankan pada persaingan dan kualitas mulai ber­lang­sung.  Keberhasilan pelaksanaan otonomi dan globalisasi pendidikan hanya mung­kin da­pat dicapai dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pro­ses pendidikan. Salah satu upaya dalam peningkatan kualitas pembelajaran melalui pe­man­fa­at­an ICT  dalam pembelajaran.

Penerapan  Media pembelajaran berbasis Internet salah satunya adalah pemanfaatan Teknologi informasi dan komunikasi berbasisi virtual learning merupakan salah satu contoh pe­man­faatan ICT  dalam pembelajaran.

Pentingnya pemanfaatan media pembelajaran berbasis ICT Virtual Learning dalam meningkatkam mutu Pendidikan,  di gagas sebagai bentuk upaya menumbuhkan minat belajar Peserta didik, dan merupakan hal yang sangat urgen sebagai media antara Guru dan siswa sehingga peran dapat terpenuhi dengan maksimal dan tujuan pendidikan dapat tercapai. Meski tidak di pungkiri bahwa di balik harapan yang besar akan hadirnya Media pembelajaran berbasis ICT “Virtual Learning. ini masih tersimpan kekhaawatiran dengan keterbatasan dan kekurangan,  namun tentu sebagai pendidik yang prosfesional akan berusaha mencari solusi mengubah kelemahan menjadi kekuatan dalam pemanfaatan media tersebut.

Dalam makalah ini akan memba­has tentang pe­nger­tian, Pengertian Media Pembelajaran berbasis ICT, Pengertian dan hakekat dari Virtual Learning, Pentingnya Pemanfaatan Media pembelajaran Berbasis ICT ”virtual learning dalam menumbuhkan minat belajar peserta didik,  serta kelebihan dan keterbatasan media pembelajaran berbasis ICT Virtual learning.

 

  1. TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Virtual Learning

Virtual Learning adalah salah satu system pendidikan  yang bertujuan untuk mengevisiensikan dan mengefektifikan metode pembelajaran dengan menggunakan internet. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi masalah dalam proses pembelajaran dalam konsep Virtual Lerning ini.

Secara filosofis, dapat dijelaskan:

  1. Virtual learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi,pendidikan, pelatihan secara  online;
  2. Virtual learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional, sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi;
  3. Virtual learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan konten dan pengembangan teknologi pendidikan;
  4. Kapasitas siswa amat bervariasi tergantung kepada bentuk konten dan alat penyampaiannya.

Sajap Maswan memaknai pembelajaran virtual (virtual learning) dengan pembe-lajaran maya. Maswan mengemukakan bahwa terdapat berbagai pengertian tentang pembelajaran maya dan berubah-ubah mengikuti perspektif dimana pembelajaran maya tersebut dilaksanakan. Pembelajaran maya menurut beliau sering juga dikait-kan dengan istilah-istilah dan konsep-konsep lain seperti e-pembelajaran, pembela-jaran secara talian (online learning), pembelajaran jarak jauh, pembelajaran berbasis web dan sebagainya.

Model pembelajaran virtual yang dikembangkan dalam penelitian ini merupa-kan pengembangan dari pembelajaran berbasis komputer dan sekolah virtual, yakni pembelajaran melalui media komputer berupa program pembelajaran yang menya-jikan materi-materi pelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku pada madrasah. Program pembelajaran ini dapat meliputi aspek penyajian materi pelajaran, praktik dan latihan, tutorial, simulasi, dan permainan, yang dapat dipelajari oleh peserta didik kapan dan dimana saja tanpa menggunakan jaringan internet.

Pentingnya Pemanfaatan Virtual Learning Dalam Meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik

Perkembangan TIK yang baru menjanjikan banyak manfaat dan keuntungan da­­­lam bidang pendidikan dan pelatihan.  Penerapan TIK dalam pendidikan me­nye­di­a­kan lingkungan belajar yang baru dan cara belajar yang baru pula.  Pada mulanya, TIK di­man­faatkan sebagai media pembelajaran. Namun seiring dengan per­kem­bang­an­nya, se­perti yang telah di­sam­paikan sebelumnya bahwa TIK dapat dimanfaatkan un­tuk men­cari beragam sum­ber belajar, sebagai alat bantu interaksi pembelajaran, se­ba­gai wa­hana penyediaan ma­teri pembelajaran, dan untuk pengembangan pro­fe­si­onali­tas guru.

Media pembelajaran berbasis TIK sangat erat kaitannya dengan kreativitas anak, dan anak yang mempunyai kreativitas tentunya anak yang perkembangannya baik dan mampu menyelesaikan permasalahan dengan baik pula dan mereka  tidak ingin mempermasalahkan berlarut-larut dan secepatnya diselesaikan.

Kreativitas yang merupakan kemampuan seseorang untuk mengaktualkan dirinya dalam pergaulan dan juga dalam pembelajaran di sekolah. Hal in yag diharapkan agar dengan adanya media pembelajaran atau dengan  menggunakan media pembelajaran berbasis TIK anak dapat kreatif dan berkembang sesuai yang diinginkan. Adapun ciri-ciri  anak yang mempunyai kreativitas tinggi menurut Asep H. Hermawan ( 997 : 50 ) :

  1. selalu ingin mengetahui sesuatu yang benar
  2. selalu ingin  mengubah sesuatu yang telah ada
  3. mencoba hal-hal yang baru

Adapun Pemanfaatan virtual learning dalam pembelajaran melalui kegiatan:

1.Virtual Experiment

Maksud dari virtual eksperimen disini adalah suatu kegiatan laboratorium yang dipindahkan di depan komputer. Anak bisa melakukan beberapa eksperimen dengan memanfaatkan software virtual eksperimen misalnya Crocodile Clips. Software ini bisa didownload di http://www.crocodileclips. com/s3_1.jsp , tetapi kita harus register dulu untuk mendapatkan active code yang berlaku untuk satu bulan.Metode ini bisa digunakan jika kita tidak mempunyai laboratorium IPA yang lengkap atau digunakan sebelum melakukan eksperimen yang sesungguhnya.

  1. Kelas virtual

Maksud kelas virtual di sini adalah siswa belajar mandiri yang berbasiskan web,kita sebagai guru memperoleh kemudahan dalam memeriksa tugas dan menilai hasil ujian siswa. Terutama hasil ujian siswa akan dinilai secara otomatis.Sebenarnya banyak bentuk pemanfaatan TIK lainnya yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam proses belajar mengajar. Tetapi semua itu tergantung kepada kita bagaimana cara memanfaatkannya

  1. METODE PENELITIAN

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif eksplanasi eksperimen. Penelitian dengan metode kuantitatif eksplanasi eksperimen umumnya menggunakan sampel penelitian untuk dilakukan generalisasi terhadap populasi. Metode ini juga menggunakan hipotesis penelitian untuk dapat diuji secara statistik. Metode kuantitatif eksplanasi eksperimen merupakan metoda penelitian yang dipakai untuk mengetahui pengaruh dari suatu media, alat, atau kondisi yang sengaja diadakan terhadap suatu gejala berupa kegiatan dan tingkah laku seseorang atau kelompok individu.

Variabel Penelitian

Dalam proses menganalisa objek penelitian harus ditetapkan variabel-variabel yang merepresentasikan item eksperimen. Hasil dari penelitian nantinya tergantung dari interrelasi antara variabel-variabel yang diteliti, dimana variabel merupakan suatu atribut, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. .

Metoda Pengumpulan Data

Secara garis besar metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode eksperimen dengan pengumpilan data melalui kuesioner.

4.. PEMBAHASAN

  1. Perkembangan Pemanfaatan TIK Dalam Pembelajaran

Perkembangan TIK yang baru menjanjikan banyak manfaat dan keuntungan dalam bidang pendidikan dan pelatihan.  Penerapan TIK dalam pendidikan menyediakan lingkungan belajar yang baru dan cara belajar yang baru pula.  Pada mulanya, TIK dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Namun seiring dengan perkembangannya, seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa TIK dapat dimanfaatkan untuk mencari beragam sumber belajar, sebagai alat bantu interaksi pembelajaran, sebagai wahana penyediaan materi pembelajaran, dan untuk pengembangan profesionalitas guru.

Dalam perkembangannya, TIK telah berlangsung dalam beberapa generasi.  Taylor (2001: 2-3) menyatakan bahwa dalam pelaksanaan pendidikan jarak jauh (PJJ) TIK telah melampaui lima generasi, yaitu The Correspondence Model (generasi pertama), The Multi-Media Model (generasi kedua), The Telelearning Model (generasi ketiga), The Flexible Learning Model (generasi keempat), dan The Intelligent Flexible Learning Model (generasi kelima).  Sementara itu, Connolly & Stansfield (2006: 463) menyatakan bahwa penerapan TIK dalam pendidikan (tidak hanya pendidikan jarak jauh) telah memasuki generasi keenam, yang merupakan generasi ketiga dari e-learning.

1)      Generasi Pertama: The Correspondence Model. Pada generasi ini, pelaksanaan pembelajaran dalam PJJ didasarkan teknologi cetak (print).  Bahan ajar yang disam­paikan kepada peserta didik disajikan dalam bentuk tercetak.  Model ini dicirikan dengan produksi masal bahan belajar.  Kesulitan dalam berkorespondensi menyebabkan jarangnya dan tidak efektifnya komunikasi antara siswa dan guru dalam penggunaan model ini.

2)      Generasi kedua: The Multi-Media Model, yang didasarkan pada teknologi cetak, audio, dan video. Pada era ini, penyajian bahan ajar dan interaksi pembelajaran di­fasilitasi di antaranya melalui bahan ajar tercetak, kaset audio, kaset video, program belajar berbasis komputer (Computer-based Learning/CBL), dan video interaktif (cakram dan kaset).

3)      Generasi Ketiga: The Telelearning Model, ditandai dengan penerapan teknologi te­le­komunikasi untuk menyediakan kesempatan melakukan komunikasi sinkronus (dalam titik waktu yang sama).  Pada model ini, penyajian bahan ajar dan inter­ak­si pembelajaran dapat dilakukan melalui audioteleconferencing, video­conferencing, audiographic communication, dan siaran radio/TV (broadcat TV/radio).

4)      Generasi Keempat: The Flexible Learning Model, yang didasarkan pada penyam­pai­an online melalui Internet secara pasif, yang meliputi pengubahan materi pelajaran ke dalam bentuk online, sedikit yang dipadukan dengan audio/video, dan melakukan mentoring melalui e-mail.  Teknologi penyampaian bahan ajar dan interaksi pem­belajaran adalah interactive multimedia (IMM) online,  Internet-based access to WWW re­sources, dan/atau Computer Mediated Communication (CMC).

5)      Generasi Kelima: The Intelligent Flexible Learning Model, merupakan kelanjutan da­ri generasi keempat, yang bertujuan untuk lebih memanfaatkan keistimewaan  Internet dan jaringan (web).  Model ini sudah banyak memadukan media, asesmen online (e-assessment), dan virtual learning environment yang menyediakan akses ke­pada materi pelajaran, fasilitas komunikasi, dan layanan siswa. Model-model tek­nologi yang diterapkan pada generasi ini  interactive multimedia (IMM) on­li­ne, Internet-based access to WWW re­sources, Web-based courses (integrated multimedia), Computer Mediated Communication (CMC) dengan sistem tang­gap­an otomatis, Campus portal access to institutional  processes and resources.

6)      Generasi  Keenam, generasi ketiga e-learning.  Pada generasi ini dikembangkan ling­kungan belajar yang lebih kolaboratif yang didasarkan pada epistimologi kons­truktivisme yang mendorong praktek refleksi melalui alat-alat seperti e-portfolio,  online-communities, dan menggunakan teknologi interaktif seperti online visualization, games, simulations.

  1. Kelebihan dan Kekurangan Virtual Learning

Penerapan virtual learning dalam pembelajaran memberikan sumbangan terhadap upaya peningkatan kualitas pembelajaran. Simonson, dkk. (2003: 243) mengemukakan beberapa keuntungan penggunaan Internet dalam pembelajaran sebagai berikut:

1)      Apabila akses terhadap Internet bukan merupakan masalah, siswa dapat belajar di mana saja sesuai dengan kecepatan belajar dan kondisi yang dimiliki karena mata pelajaran akan selalu tersedia dalam jaringan komputer dan Internet. Selain itu, dengan memafaatkan TIK, siswa memiliki akses yang luas terhadap berbagai sumber belajar yang tersedia.

2)      Belajar dengan memanfaatkan TIK memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan siswa lainnya, dengan tutor, dan atau dengan masyarakat belajar dan sumber belajarnya.  Hal ini menunjukkan bahwa virtual learning  memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan berbagai interaksi dan berkolaborasi dengan siswa lainnya.

3)      Dengan memanfaatkan Internet sebagai sumber belajar, siswa dapat menggunakan cara yang seragam dan sesuai untuk mengakses sumber yang sangat banyak di Internet.  Di samping siswa menguasai informasi yang disajikan dalam berbagai sumber belajar dalam Internet, siswa juga akan memiliki keterampilan dalam meng­gunakan berbagai sumber belajar tersebut .

4)      Materi yang disajikan secara online mudah untuk diperbaharui dan dimodifikasi.  Oleh karena itu, siswa akan selalu memperoleh informasi yang terkini.

5)      Internet mendorong belajar aktif dan memfasilitasi keterlibatan siswa secara in­te­lek­tual dengan materi pembelajaran.

6)      Penggunaan Asyncronuos Learning Networks menyediakan berbagai pengalaman bel­ajar dan mengakomodasi gaya belajar siswa yang berbeda.

7)      Secara ekonomis, siswa dapat tetap tinggal di rumah tanpa harus mengeluarkan biaya untuk transportasi dan akomodasi. Selain itu, siswa juga dapat tetap bekerja, tidak perlu kehilangan pekerjaan, sambil menyelesaikan studinya sesuai dengan kecepatan belajarnya dan waktu yang dimilikinya.

Selain itu, pembelajaran dengan memanfaatkan Internet akan mendorong tumbuhnya keterampilan belajar mahasiswa (learning how to learn), keterampilan bernalar (higher order thinking skills), keterampilan berkomunikasi (lisan dan tertulis), kemampuan menemukan beragam sumber belajar, meningkatkan keaktifan siswa, serta  meningkatkan keterampilan sosial (Depdiknas, 2004: 72).  Anderson (2006: 222) mengemukakan bahwa dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang tersedia melaui Internet, keterampilan siswa da­lam belajar sepanjang hayat akan meningkat dan melalui diskusi online siswa akan me­nguasai keterampilan komunikasi yang bertanggung jawab dan profesional.  Sementara itu, hasil penelitian yang dilakukan Jerram (2006: 115) menunjukkan bahwa siswa yang pendiam di kelas lebih sering merasa nyaman untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam diskusi yang dilakukan secara online.

Di samping janji positif yang ditawarkan virtual learning, terdapat beberapa keterbatasan, di antaranya sebagai berikut:

  1. Masalah akses terhadap Internet, khususnya di daerah terpencil secara geografis dan masyarakat dengan tingkat sosial-ekonomi yang rendah.
  2. Menuntut siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar. Siswa akan berhasil dalam belajar apabila siswa memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar, kemampuan untkuk belajar mandiri, dan disiplin diri  untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
  3. Dalam pembelajaran online yang asynchronous, balikan mungkin disampaikan setelah lebih dari satu jam atau bahkan berhari-hari.
  4. Menuntut adanya pelatihan dan bantuan teknis baik bagi guru maupun siswa serta du­kungan rancangan pembelajaran selama pengembangan konsep dan mata pelajaran yang akan disajikan dalam bentuk online.
  5. Tidak ada mekanisme yang mengontrol kualitas untuk meyakinkan bahwa informasi yang tersedia dalam Internet adalah akurat dan tanpa bias (Simonson, dkk., 2003: 237).
  6. Teknologi informasi tidak dapat menggantikan kehadiran pendidik dalam interaksi pembimbingan.
  7. Virtual learning belum terlalu efektif untuk keterampilan produktif dan pengem­bang­an sikap.
  8. Kondisi Untuk Menerapkan Virtual Learning

Keberhasilan penerapan virtual learning dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Untuk dapat menerapkan virtual learning atau pembelajaran berbasis ICT, diperlukan kondisi-kondisi sebagai berikut.

1)      Perubahan paradigma belajar

Pembelajaran berdasarkan TIK akan berhasil apabila paradigma yang berorientasi pada guru diubah menjadi paradigma yang berorientasi pada siswa.  Simonson, dkk. (2003: 241) mengemukakan bahwa dengan menerapkan TIK dalam pembelajaran guru yang semula berperan a sage on the stage menjadi a guide on the side.  Dalam pembelajaran tatap muka, biasanya guru menyajikan semua materi pelajaran kepada siswa.  Dengan menerapkan paradigma yang berpusat pada siswa, pembelajaran tidak lagi tergantung pada guru tetapi siswa memiliki tang­gung jawab terhadap proses belajarnya.  Siswa belajar secara mandiri dengan me­man­faatkan berbagai sumber belajar yang tersedia.  Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi.  Dalam pembelajaran yang menerapakn ICT, guru dituntut untuk berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa. Bahkan  a Woerkshop on Competencies for Online Teaching  di United Kingdom (Herrington & Oliver, 2006: 287-288) mengidentifikasi delapan peran guru dalam pembelajaran online, yaitu sebagai fasilitator proses belajar siswa (the process facilitator), pembimbing dan konselor (the advisor counselor), penilai (the assessor), peneliti (the researcher), fasilitator bagi penguasaan materi pembelajaran oleh siswa (the contentfacilitator), ahli teknologi (the technologist), perancang pembelajaran (the designer), dan administratormanager (the manager-administrator).

Dengan melakukan virtual learning siswa memiliki akses informasi secara luas dengan memanfaatkan the world wide web (www).  Siswa dapat memperoleh apapun yang diinginkan, di mana pun diinginkannya, dan kapan pun menginginkannya (to give what people want, where they want it, and when they want it – www).  Hal ini menunjukkan bahwa siswa memiliki sumber belajar yang tidak ter­batas untuk melakukan proses belajar. Barr & Tagg (dalam Simonson, dkk., 2003: 241) menambahkan bahwa perubahan  paradigma yang terjadi dengan peng­gunaan TIK dalam pembelajaran adalah perubahan dari penyajian pem­bel­a­jar­an dan mata pelajaran, belajar pasif, serta persaingan atau kompetisi menuju pa­da penciptaan lingkungan belajar, belajar aktif, dan kerja sama.

2)      Perubahan sistem operasional kerja dan struktur organisasi

Dalam sistem pembelajaran tatap muka, segala kegiatan mulai dari merancang, melakukan, dan mengevaluai proses belajar siswa dilakukan oleh seorang guru.  Hal ini tidak berlaku dalam sistem pembelajaran yang menerapkan konsep virtual learning. Dalam penyelenggaraan virtual learning,  perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran dilakukan oleh orang yang berbeda-neda.  Ahli ma­teri akan menentukan materi yang perlu disajikan dalam bentuk online. Perancang pembelajaran akan merancang penyajian materi dan ahli teknisi akan mengembangkan materi dalam bentuk online.  Guru akan berhadapan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran secara online.  Karena guru tidak terlalu banyak terlibat dalam pengembangan bahan belajar, waktu yang dimiliki guru digunakan untuk berinteraksi dengan siswa yang belajar secara individual.

Dalam penerapan virtual learning, siswa dituntut untuk belajar mandiri.  Untuk membantu siswa berhasil dalam belajar mandiri, lembaga penyelenggara pendidikan hendaknya menyediakan layanan siswa.  Layanan tersebut disediakan untuk mendukung keberhasilan belajar siswa seperti penyediaan katalog, jadwal, registrasi, bantuan biaya, beasiswa, toko buku, pengumuman nilai, transkrip nilai, bim­bingan konseling, tutorial, laboratorium, perpustakaan, dan lain sebagainya.  Layanan tersebut dapat dilakukan oleh unit internal dalam lembaga yang bersangkutan atau pihak luar.  Memanfaatkan pihak luar, misalnya bekerja sama dengan to­ko buku online dalam penyediaan bahan belajar atau ahli teknisi dari lembaga lain untuk penanganan teknik online.  Oleh karena itu, kerja sama merupakan kun­ci dalam keberhasilan pelaksanaan virtual learning.

Dengan adanya penggunaan sumber daya internal dan eksternal, diperlukan ada­nya prosedur administrasi yang baru atau bahkan perlu dikembangkan struktur or­ganisasi yang baru (Levy, 2003: 10).  Di samping perubahan struktur organisasi, Levy (2003) mengemukakan lima faktor lainnya  yang perlu dipertimbangkan da­lam merancang program belajar jarak jauh melalui online.  Kelima faktor tersebut adalah visi dan perencanaan, kurikulum, pelatihan dan dukungan staf, layanan siswa, pelatihan dan dukungan siswa, serta hak cipta dan kepemilikan intelektual.

3)      Melek Teknologi Informasi dan Komunikasi

Keberhasilan dalam virtual learning sangat tergantung pada disiplin diri dan tanggung jawab siswa terhadap proses belajarnya.  Untuk itu, siswa diharapkan memiliki keterampilan kognitif tinggi seperti negosiasi makna, belajar sepanjang hayat, analisis refleksi, dan meta kognisi.  Di samping itu, siswa juga dituntut untuk memiliki keterampilan dasar dalam virtual learning, seperti penggunaan teknologi komputer (computer-mediated technology), keterampilan sosial online, etika online, navigasi web, dan penelusuran web (McPherson & Nunes, 2004: 83). Me­nurut Nunes et al. (McPherson & Nunes, 2004: 83) keterampilan tersebut dinamakan networked information and communication literacy skills (NICLS).

NICLS merupakan keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa agar berhasil dalam belajar dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.  Menurut McPherson & Nunes (2004: 84) NICLS terdiri atas keterampilan komunikasi dengan menggunakan komputer (computer-mediated communication/CMC) dan keterampilan informasi.  Keterampilan CMC berkaitan dengan interaksi siswa dengan masyarakat belajar.  Sementara itu, keterampilan informasi berkaitan dengan masalah kecemasan informasi dan beban kerja yang berlebih, serta akses terhadap sumber belajar.

McPherson & Nunes (2004: 84) mengemukakan tiga topik utama yang perlu dikuasai siswa berkenaan dengan NICLS sebagai berikut.

  1. Kolaborasi dan kerja sama secara online

Dalam hal ini siswa dituntut untuk menyadari faktor sosial yang terlibat dalam peng­gunaan teknologi CMC seperti pengabaian batas-batas, mengatasi penyingkapan diri (self-disclosure), etika online, dan sebagainya.

  1. Mencari dan menemukan kembali informasi

Keterampilan ini berkaitan dengan keterampilan siswa dalam mengeksplorasi dan menemukan informasi yang tersedia dalam Internet atau Intranet.  Dengan banyaknya informasi yang tersedia dalam Internet, siswa harus dapat mencari dan menemukan kembali informasi dari sumber-sumber online dengan meng­gu­nakan mesin-mesin pencari informasi (searching engine) di Internet.

  1. Menilai sumber informasi dalam Internet

Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan siswa mengevaluasi secara kritis sumber informasi dan mengaitkan informasi yang dipilih dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

Semua keterampilan tersebut harus dikuasai siswa sebelum benar-benar terlibat da­lam kegiatan virtual learning. Apabila siswa tidak menguasai keterampilan tersebut ia akan mengalami frustrasi dan pada  akhirnya akan  menurunkan tingkat keberhasilan siswa dalam belajar.

Untuk membantu siswa berhasil dalam virtual learning,  di samping menguasai disiplin ilmu (materi pelajaran) dan keterampilan-keterampilan teknik, tutor juga dituntut untuk menguasai keterampilan TIK untuk mengelola dan memfasilitasi virtual learning.  Berge (McPherson & Nunes, 2004: 80-81) mengemukakan empat peran utama tutor online sebagai berikut:

  1. Pedagogical/intellectual roles

Dalam menjalankan peran ini, tutor dituntut untuk mampu mendorong siswa terlibat aktif dalam kegiatan diskusi tentang konsep dan prinsip serta keterampilan yang harus dikuasai, seperti membuka diskusi, memfokuskan pada materi dan topik yang didiskusikan, mengintervensi diskusi untuk mendorong pembicaraan yang menarik dan produktif, membantu dan memelihara keterlibatan siswa dalam diskusi, serta merangkum hasil diskusi.

  1. Social roles

Peran ini menuntut tutor untuk mengembangkan lingkungan belajar yang bersahabat dan menyenangkan sehingga siswa merasa yakin bahwa mereka dapat menguasai pengetahuan.

  1. Managerial/organizational roles

Peran ini menuntut tutor untuk mampu menata tujuan belajar, merancang kegiatan belajar, menyusun jadwal kegiatan belajar dan tugas-tugas, serta menjelaskan aturan-aturan prosedural dan norma-norma pembuatan keputusan.

  1. Technical roles

Dalam menjalankan peran ini, tutor dituntut untuk mengenal, nyaman, dan menguasai sitem dan perangkat lunak TIK yang membentuk lingkungan belajar online.

Di samping ketiga kondisi tersebut, Errington (2001)  menyatakan bahwa kompetensi atau kemampuan pengguna, dukungan sarana, dan kecukupan infrastruktur merupakan faktor yang menentukan penerapan flexible learning dalam pembelajaran.  Hal ini sesuai dengan pendapat Bandalaria (2003)  yang mengemukakan bahwa tiga masalah utama yang menghambat partisipasi mahasiswa dalam belajar online.  Pertama, dispositional problems, yaitu masalah yang mengacu pada pribadi mahasiswa, seperti sikap, rasa percaya diri, dan gaya belajar. Kedua, circumstantial problems, yaitu masalah yang berkaitan dengan kondisi khusus seperti lokasi geografis, ketersediaan waktu, dan sebagainya.  Ketiga, technical problems, yaitu masalah yang berkaitan dengan hardware dan program software yang digunakan dalam belajar online.

  1. Penggunaan teori pembelajaran yang tepat

Teori Belajar Konstruktivisme

Teori pembelajaran konstruktivis (constructivist theories of learning) ini menyata-kan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.23 Menurut teori ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik harus membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya.24 Berkaitan dengan hal ini, Nur sebagaimana dikutip oleh Trianto mengemukakan bahwa guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan peserta didik sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut.25

Bertolak dari kaidah-kaidah dan anggapan yang dianut teori belajar konstrukti-visme di atas, maka dipilihlah dan diterapkan beberapa sistem dalam implementasi model pembelajaran virtual, di antaranya melalui pembelajaran individual (self-instruction); yang diwujudkan dalam bentuk belajar mandiri (self-learning) dengan menggunakan program pembelajaran virtual berbasis komputer. Dengan demikian peserta didik yang berkemampuan tinggi dapat lebih cepat menuntaskan pembela-jarannya, sedangkan peserta didik berkemampuan rendah atau yang lambat belajar-nya dapat mengulangi pembelajaran sampai mencapai kriteria ketuntasan tanpa teri-kat dengan waktu dan tempat.

Teori Belajar Kognitif

Tokoh teori belajar kognitif adalah Jerome Bruner dan Jean Piaget. Teorinya di-dasarkan pada asumsi bahwa:

(1) individu mempunyai kemampuan memroses informasi; (2) kemampuan memroses informasi tergantung kepada faktor kognitif yang perkembangannya berlangsung secara bertahap sejalan dengan tahapan usianya; (3) belajar adalah proses internal yang kompleks berupa pemrosesan informasi; (4) hasil belajar adalah berupa perubahan struktur kognitif; (5) cara belajar pada anak-anak dan orang dewasa berbeda sesuai tahap perkembangannya.26

Pembelajaran berbasis komputer sangat dipengaruhi oleh teori belajar kognitif model pemrosesan informasi (information processing model), yang mulai berkembang pada tahun 60 dan 70-an, yang dipelopori oleh Robert Gagne. Asumsinya adalah “pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan”.27 Model ini menampilkan konseptualisasi dari sistem memori pada manusia yang mi-rip dengan sistem memori pada komputer. Model pemrosesan informasi ini menjelas-kan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Peristiwa-peristiwa mental diuraikan sebagai transformasi informasi dari input (stimulus) ke output (respons).28

Mencermati teori belajar kognitif model pemrosesan informasi di atas yang menampilkan konseptualisasi dari sistem memori pada manusia yang mirip dengan sistem memori pada komputer, maka sistem memori dalam model pembelajaran virtual yang dikembangkan dengan menggunakan program pembelajaran berbasis kom-puter mirip pula dengan sistem memori pada manusia.

 

  1. KESIMPULAN
  2. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dipercaya akan dapat me­ningkatkan kualitas pembelajaran, dengan terbukanya akses informasi secara luas bagi pendidik dan peserta didik.
  3. Virtual learning, salah satu bentuk pemanfaatan TIK dalam pembelajaran, yang meng­acu pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas maya melalui jaringan Internet.
  4. Untuk dapat menerapkan virtual learning perlu ada perubahan paradigma dari yang berorientasi pada guru menjadi berorientasi pada siswa.
  5. Keberhasilan virtual learning juga dipengaruhi oleh keterampilan komunikasi dengan menggunakan komputer dan keterampilan informasi baik yang dimilikain siswa maupun guru atau tutor.
  6. Dukungan sarana dan kecukupan infrastruktur serta  perubahan sistem operasional kerja dan struktur organisasi perlu mengalami perubahan untuk mencapai keberhasilan penerapan virtual learning  dalam pembelajaran.

      DAFTAR PUSTAKA

  1. Anderson, K. (2006). Using Online Discussions to Provide an Authentic Learning

Experience for Professional Recordkeepers.  Dalam  Tony Herrington & Jan Herrington, Authentic Learning Environment in Higher Education, Hershey, PA: Information Science Publishing. Hal. 214-223.

  1. Bandalaria, M.dP. (2003). Shifting to online tutorial support system: A synthesis of

experience.  Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, 4(1), 32-41.

  1. Connolly, T. & Stansfield, M. (2006). Using Games-Based eLearning Technologies in

Overcoming Difficulties in Teaching Information Systems. Journal of Information Technology Education, 6, 459-476. Tersedia dalam http://www.jite.org/document/vol5/v5p459-476.Connolly170.pdf, 5 Desember 2006.

  1. Departemen Pendidikan Nasional. (2004). Peningkatan Kualitas Pembelajaran. Jakarta:

Dit. P2TK dan KPT, Ditjen. Dikti, Depdiknas.

  1. Errington, E.P. (2001). The influence of teacher beliefs on flexible learning inno­vati­on

in traditional university setting.  Dalam Innovation in open and distance learn­ing.

  1. Herrington, J. & Oliver, R. (2006). Professional Development for the Online Teacher:

An Authentic Approach.  Dalam Tony Herrington & Jan Herrington, Authentic Learning Environment in Higher Education, Hershey, PA: Information Science Publishing. Hal.283 – 295.

  1. Jerram, C. (2006). Applying Adult Education Principles to an Undergraduate Subject.

Dalam  Tony Herrington & Jan Herrington, Authentic Learning Environment in Higher Education. Hershey, PA: Information Science Publishing. Hal. 107-119.

  1. Levy, S. (2003). Six Factors to Consider when Planning Online Distance
  2. Learning Programs in Higher Education. Online Journal of Distance Learning

Administration, Vol. VI (1).

  1. McPherson, M. & Nunes, M.B. (2004). Developing Innovation in Online

Learning: An Action Research Framework.  London: Routledge-Falmer.

  1. Pannen, P. (1999). Pengertian Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. Dalam

Tian Belawati, dkk. (Ed.), Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. Jakarta: Universitas Terbuka. Hal. 11 – 29.

 

 

723 total views, 5 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar