1

UKG : Soal PG itu! (+2)

Botaksakti August 4, 2012

UKG telah benar-benar dijalankan. Hasil yang didapatkan menunjukkan betapa ‘riuh’-nya kompetensi guru kita. Ada yang berhasil mencapai nilai 91 dari 100, namun ada pula yang mendapatkan nilai 0 alias tidak ada jawaban benar sama sekali. Hal itu seperti yang dikemukakan Mendiknas beberapa hari lalu.


Melihat hasil ini, tentu saja tidak bisa dikatakan dengan serta merta bahwa kompetensi guru kita rendah ataupun sebaliknya. Masih banyak faktor untuk sampai kepada kesimpulan tersebut. Salah satu yang patut diperhitungkan adalah banyaknya temuan soal yang tidak valid dalam UKG kemarin. Di samping itu, ada pula pendapat bahwa ujian yang menggunakan hanya soal berbentuk pilihan ganda tidaklah mungkin bisa mengukur kompetensi guru secara komprehensif.


Bahwa banyak soal yang tidak valid atau bahkan cacat kiranya bukanlah persoalan baru. Jangankan UKG yang baru kali ini dilaksanakan, untuk event sebesar UN yang sudah dilangsungkan sejak bertahun-tahun lalu dan terjadi setiap tahun saja selalu ada kejadian seperti itu. Mungkin rekan-rekan juga tidak asing lagi dalam beberapa kesempatan UN selalu saja ada soal yang dianulir.


Ketidakvalidan soal yang terjadi memang menunculkan tanda tanya. Apakah pemerintah dalam hal ini Diknas tidak pernah belajar dari kejadian yang telah lalu? Atau memang seolah mereka tidak mau tahu soal itu? Jujur saja, sepertinya langkah yang dilakukan Diknas berkaitan dengan hal ini memang tidak ada. Sepertinya tidak pernah ada pernyataan resmi dari pejabat terkait menanggapi persoalan ini. Yang getol, dan memang penting, dilakukan adalah perbaikan sistem untuk mengurangi semaksimal mungkin kecurangan dalam pelaksanaannya.


Berkaitan dengan klaim bahwa penggunaan soal PG yang tidak mampu mengukur kompetensi guru secara komprehensif, barangkali benar. Hanya saja, itu bila kita masih berpatokan pada bentuk soal PG seperti yang digunakan beberapa tahun lalu. Memang, bila kita ingat soal-soal PG beberapa tahun lalu, kita hanya akan menemukan soal-soal yang bersifat teoretis. Boleh dikata, substansi soal hanya bersifat mengukur pengetahuan peserta berkaitan dengan materi-materi hafalan.


Seperti diketahui, soal PG sebagaimana bentuk soal yang lain, memang memiliki kelemahan maupun kelebihan. Salah satu kelemahannya adalah terbukanya kemungkinan bagi peserta uji untuk menjawab hanya dengan modal spekulasi. Namun, di balik itu, soal ini juga memiliki kelebihan yaitu bisa untuk mengukur cakupan kemampuan yang luas, objektivitas penilaian yang tinggi, dan kecepatan dalam koreksi. Kiranya, faktor ini pula yang menyebabkan PG dipilih oleh Diknas dalam UKG sekarang ini.
Tapi bagaimana dengan kelemahan itu?


Dibanding soal PG tempo dulu, soal PG kali ini tampaknya sudah jauh lebih baik. Soal didahului dengan pernyataan pokok bersifat utuh. Setelah ada pernyataan utuh, barulah diikuti dengan kalimat soal yang berkaitan dengan pernyataan utuh tersebut. Ini tentu saja memaksa peserta uji untuk berpikir kritis sebelum menentukan jawaban yang benar. Pada titik ini, kurang tepat bila dikatakan bahwa jenis soal ini kurang memberikan gambaran berpikir kritis dari peserta uji.


Persoalannya, barangkali, masih banyak guru kita yang kurang memperbaharui ‘mind set’-nya tentang soal PG ini. Mereka masih saja berpegang pada bentuk soal PG tempo dulu. Hal ini pula yang sering saya temui ketika mendapat tugas untuk menelaah soal Ujian Sekolah yang disusun oleh rekan-rekan guru di sekolah saya. Mereka banyak yang masih meyusun soal PG dengan model yang lama, yaitu soal hanya berisi pokok soal(pertanyaan) dan pilihan jawaban tanpa didahului pernyataan utuh ataupun ilustrasi soal. Maka yang penting barangkali adalah……..mari terus belajar dan mengubah ‘mind set’ kita tentang soal PG! Semoga bermanfaat!

 


 

1,137 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar