2

TBH Sebagai Inspirasi Bersama (+5)

M. Rasyid Nur October 25, 2014

HARI ini, Sabtu (25/ 10/ 14) bertepatan dengan 1 Muharram 1436, Tahun Baru Hijriyah (TBH). Tak terasa, sudah satu tahun (qamariyah) kita bersama di tahun hijriyah. Sebagai guru, meskipun kita menghitung hari kegiatan di sekolah dengan Tahun Syamsiah (Masehi) namun sebagai muslim, catatan dan kenangan Tahun Baru Hijriyah pasti juga ada. Jarang kita membiarkan begitu saja, datangnya TBH di hadapan kita. Catatan sederhana ini adalah salah satu cara mengenangnya.

Ketika nabi (Muhammad) meninggalkan tanah kelahirannya, Mekkah menuju Madinah (waktu itu masih Yatsrib), 14 abad lampau, kita tahu –dari sejarah—bahwa latar belakang utama perjalanan itu adalah untuk menyelamatkan akidah. Allah ‘menyuruh’ merantau meninggalkan tanah Qureisy tempat sanak-keluarganya bertempat tinggal, karena ancaman suku Qureisy kepada Muhammad dan para pengikutnya yang sudah tidak berbelas-kasih lagi. Ancaman kematian akan Rasul itu sudah di depan mata saat itu. Maka nabi harus pergi untuk menyelamatkan akidah, diri dan umat (pengikutnya).

Di tengah malam yang menakutkan itu, nabi sukses keluar dari kepungan ancaman. Tipuan (muslihat) kaum kafir diatasi Allah dengan muslihat Allah yang lebih hebat. “Muslihat Allah adalah lebih hebat dari pada muslihat apapun jua.” Dalam beberapa waktu, sampailah rombongan muhajirin ini ke Madinah. Dan catatan sejarah keberangkatan inilah yang akhirnya menjadi tonggak ditetapkannya awal tahun oleh umat Islam kelak di kemudian hari. Sampai kini, catatan tahun baru hijriyah itu tetap menggunakan perhitungan yang sama. Itulah Tahun Hijryah.

Sesungguhnya keberangkatan Nabi meninggalkan Mekkah adalah untuk dapat mempertahankan perbedaan antara akidah yang sudah disebarluaskan Nabi ke bangsa Arab dengan akidah yang masih dicoba untuk terus dipertahankan oleh suku Qureisy dan suku-suku (kafir) lainnya. Muhammad menyebarkan agama tauhid yang hanya mengakui Allah Yang Maha Esa dan Maha Berkuasa karena memang diperintahkan Allah. Tapi orang-orang Arab saat itu tidak mau begitu saja menerima dakwah Muhammad. Makanya nabi dan ajaran baru itu akan dihabisi bersama pengikutnya.

Usaha untuk mempertahankan perbedaan akidah (umat Islam) dengan akidah yang sudah ada itu tidaklah mudah. Keharusan meninggalkan tanah kelahiran, sejatinya bukanlah pilihan yang mudah. Tidak ada orang yang sebenarnya ingin meninggalkan tanah leluhurnya. Tapi Muhammad, demi mempertahankan akidah Islam yang nyata-nyata berbeda dengan akidah orang-orang Arab waktu itu, dia sanggup meninggalkan keluarga dan kampung halamannya.

Suksesnya Muhammad mempertahankan akidah Islam dan sukses pula menyebarluaskannya hampir ke seluruh permukaan bumi, telah membuat seluruh umat Islam merasa satu. Satu agama, satu cita-cita dalam satu perjuangan. Indonesia dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, sebenarnya menikmati perasaan bersatu dan bersama yang ditautkan oleh akidah ini. Dalam waktu yang sangat lama, sudah timbul di perasaan umat Islam perasaan bersatau dan tidak lagi berbeda, khususnya dalam akidah.

Sayangnya, perkembangan waktu dan kemajuan pemikiran, belakangan ini justeru sesama Islam malah memperlihatkan perbedaan. Dalam menentukan awal bulan di tahun hijriyah, misalnya, tidak jarang terjadi perbedaan yang tajam antara satu komunitas Islam dengan yang lainnya. Perhatikanlah bagaimana sesama Islam tidak bisa mengatakan sama awal bulan di bulan-bulan seperti Ramadhan atau Zulhijjah. Pada bulan Ramadhan sering umat Islam Indonesia berbeda menentukan awal puasa dan akhir puasanya. Di bulan Zulhijjah juga terjadi perbedaan menentukan Idul Adha.

Kini, dengan datangnya TBH 1436 (2014) ini, seharusnya menjadi tonggak bagi kita Umat Islam Indonesia –termasuk kita para guru, tentunya—untuk tidak lagi berbeda dalam hal-hal seperti itu. Bagaimanapun, perbedaan seperti itu hanya mencerminkan betapa lemahnya umat Islam di antara umat-umat yang ada di muka bumi ini. Masihkah harus kita terus memperlemah persatuan kita? Tepuk dada, tanya selera.

Bagi guru, sejatinya memulai TBH tidak sekedar mengenang dan mencatatnya saja. Ada kesempatan yang luas bagi guru untuk menyebarkan nilai-nilai hijriyah kepada peserta didik. Betapa hebatnya nilai-nilai hijriyah. Tidak hanya menginspirasi muslim saja tapi sesungguhnya akan berguna bagi seluruh umat manusia. Selamat memasuki TBH dan selamat terus beraktivitas demi generasi bangsa.***
Dari tulisan http://mrasyidnur.blogspot.com/2014/10/hijriyah-untuk-tak-berbeda.html

678 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

About Author

Avatar of M. Rasyid Nur
M. Rasyid Nur

Menjadi guru (honorer) sejak tahun 1980, ketika masih mahasiswa. Selanjutnya menjadi PNS (aktif) sejak 1985 dengan SK TMT 01.03.1984 dan terus menjadi guru hingga sekarang. Insyaallah akan purna bakti pada 11.04.2017. Obsesi, "Berharap kehebatan murid melebihi kehebatan gurunya."

View all posts by M. Rasyid Nur →

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!