3

Tantangan yang dihadapi oleh anak untuk memiliki keterampilan membaca (+4)

Lusia Gayatri Yosef April 12, 2014

Halo ibu & bapak guru, orang tua, pendidik anak
Apa kabar?
Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi mengenai tantangan yang akan dihadapi oleh anak dalam mengikuti keterampilan membaca. Kegiatan membaca seperti halnya kita belajar memasak, terdapat beberapa tahap yang perlu dilalui juga terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan, hingga pada akhirnya, kita dapat melakukan kegiatan memasak dengan baik. Kembali, mengenai kegiatan membaca, terdapat beberapa teori mengenai membaca.
Berdasarkan ilustrasi singkat di atas, kegiatan membaca pada anak merupakan aktivitas kompleks yang mencakup fisik dan mental (Abdurrahman, 2012). Lebih lanjut, Abdurrahman (2012) mengungkapkan bahwa aktivitas fisik yang terkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. Aktivitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. Orang dapat membaca dengan baik jika mampu melihat huruf-huruf dengan jelas, mampu menggerakkan mata secara lincah, mengingat symbol-simboll bahasa dengan tepat, dan memiliki penalaran yang cukup untuk memahami bacaan.
Abdurrahman (2012) menyebutkan terdapat berbagai kesalahan dalam membaca. Saya memiliki pendapat bahwa kesalahan membaca yang dialami oleh anak adalah merupakan proses belajar anak. Sehingga, dalam proses tersebut anak mengalami tantangan bahwa ia perlu berusaha keras untuk melatih diri hingga lancar membaca. Berikut kesalahan dalam membaca (Abdurrahman, 2012) yang perlu diperhatikan yakni:
1. Penghilangan kata atau huruf;
2. Penyelipan kata;
3. Penggatian kata;
4. Pengucapan kata salah dan makna berbeda. Sebagai contoh: Kalimat “Baju bibi baru” dibaca “Baju bibi biru.”;
5. Pengucapan kata salah tetapi makna sama. Sebagai contoh: Kalimat “Kakak pergi ke sekolah” dibaca “Kakak pigi ke sekolah.”;
6. Pengucapan kata salah dan tidak bermakna. Sebagai contoh: Bapak beli duren” dibaca “Bapak beli buren.”;
7. Pengucapan kata dengan bantuan guru. Kegiatan tersebut terjadi ketika anak sudah ditunggu oleh guru, namun anak belum melafalkan kata-kata yang diharapkan. Sehingga, anak memerlukan bantuan yang biasanya karena adanya kekurangan dalam mengenal huruf atau karena takut risiko jika terjadi kesalahan.;
8. Pengulangan. Pengulangan dapat terjadi pada kata, suku kata, atau kalimat. Contoh: pengulangan adalah “Bap-ba-ba Bapak menulis su-su-rat.” Pengulangan terjadi mungkin karena kurang mengenal huruf sehingga harus memperlambat membaca sambil mengingat-ingat nama huruf yang dikenal tersebut. Kadang-kadang anak sengaja mengulang kalimat untuk lebih memahami arti kalimat tersebut.;
9. Pembalikan kata.;
10. Pembalikan huruf. Pembalikan huruf terjadi terutama pada huruf-huruf yang hampir sama seperti d dengan b; p dengan q atau h, m dengan n atau w.;
11. Kurang memperhatikan tanda baca;
12. Pembetulan sendiri. Pembetulan dilakukan oleh anak jika ia menyadari adanya kesalahan. Karena kesadaran akan adanya kesalahan, anak lalu mencoba membetulkan sendiri bacaannya. ;
13. Ragu-ragu. Anak yang ragu-ragu terhadap kemampuannya sering membaca dengan tersendat-sendat. Murid yang ragu-ragu dalam membaca sering dianggap bukan sebagai kesalahan. Meskipun demikian guru umumnya berupaya untuk memperbaiki karena dianggap sebagai kebiasaan yang tidak baik. Keraguan dalam membaca juga sering disebabkan anak kurang mengenal huruf atau karena kekurangan pemahaman.
14. Tersendat-sendat.
Berdasarkan dari 14 kesalahan membaca di atas maka guru, orang tua dan pendidik anak perlu memperhatikan kesalahan membaca yang dilakukan anak. Perhatian tersebut dapat dilakukan melalui observasi dan mencatat hasil membaca anak atau merekam kegiatan membaca anak. Sehingga dapat diperoleh pada 14 kesalahan membaca manakah tantangan yang paling sulit, sulit, mudah, sangat mudah bagi anak.
Berikutnya, setelah guru orang tua dan pendidik anak menemukan level tantangan yang dihadapi anak maka harapannya adalah anak dapat dilatih keterampilan membaca tertentu. Khususnya, keterampilan membaca yang dibutuhkan. Sebagai contoh: Berdasarkan 5-6 kali pengamatan, anak terlihat lebih dominan ragu-ragu dalam membaca. Kemudian, saran yang perlu dilakukan adalah anak diberi dukungan dan rasa percaya diri dalam kegiatan membaca dimunculkan seperti “tidak apa-apa salah, mari kita belajar lagi.” Anak juga ditunjukkan kemajuan yang telah dilakukan melalui hasil rekaman video, atau dari rekaman suara saat anak membaca. Berikan pujian apabila anak mengalami kemajuan. Harapan terakhir adalah anak mengalami kemajuan dan keterampilan membaca lancarpun dimiliki oleh anak.
Selamat membimbing anak & Salam hangat!

Referensi:
Abdurrahman, M. (2012). Anak berkesulitan belajar: Teori, Diagnosis, dan Remediasinya. Jakarta: RIneka Cipta.

Bacaan lebih lanjut:
Yosef, G, L. (2014). Pengetahuan tahap membaca anak untuk orang tua dan guru. Retrieved from: http://guraru.org/guru-berbagi/pengetahuan-tahap-membaca-anak-untuk-orang-tua-dan-guru/
Yosef, G, L. (2014). Mengantarkan anak kepada keterampilan pemahaman bacaan. Retrieved from: http://bahasa.kompasiana.com/2014/04/11/-mengantarkan-anak-kepada-keterampilan-pemahaman-bacaan-646232.html

2,139 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!