6

Tantangan Pendidik di Era Cyber (+2)

Ramdhan Hamdani November 14, 2013

Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat telah merubah tatanan kehidupan masyarakat diberbagai bidang, tak terkecuali dunia pendidikan. Derasnya arus informasi yang menyebar didunia maya memaksa guru untuk lebih berperan sebagai fasilitator ketimbang sebagai tokoh sentral didalam kelas. Dalam kondisi seperti ini, peningkatan kompetensi guru dibidang IT pun menjadi suatu keniscayaan.

            Selain itu di era Cyber seperti sekarang ini seorang guru tidak hanya dituntut untuk memiliki kompetensi sosial didunia nyata namun juga didunia maya. Adanya fenomena anak yang lebih banyak “diasuh” oleh media (sosial) daripada oleh orang tua tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik saat ini. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, saat ini tercatat lebih dari 63 juta orang Indonesia yang  menggunakan internet dimana 95 persennya aktif berinteraksi dijejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.

            Penggunaan sosial media yang didominasi oleh remaja ini tentunya menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para pendidik untuk melihat lebih dekat apa saja yang sebenarnya oleh peserta didik. Hal ini dikarenakan saat ini ada fenomena dimana remaja lebih suka mengutarakan isi hatinya melalui jejaring sosial daripada menyampaikan langsung pada guru maupun orang tua. Selain itu situs-situs penyedia video klip berbagai kategori seperti Youtube pun nampaknya menjadi situs favorit para remaja.  Mulai dari video klip lagu, film sampai dengan tayangan komedi selalu siap untuk memanjakan penggunanya.

Melihat fenomena tersebut hampir mustahil kita melarang siswa untuk membuka situs jejaring sosial maupun situs-situs lainnya. Yang dapat kita lakukan adalah mengarahkan mereka agar menggunakan internet hanya untuk hal-hal yang positif. Konsekuensinya, guru harus siap untuk  membuat berbagai konten pembelajaran untuk kemudian di share kepada para siswanya. Dalam hal ini guru bisa bisa memanfaatkan situs Youtube dengan mengisi sistus favorit remaja tersebut dengan berbagai tayangan yang bermanfaat seperti video klip tentang membuat alat penjernih air sederhana yang terbuat dari barang bekas.

Selain itu guru pun diharapkan aktif dijejaring sosial seperti Facebook dan Twitter untuk mendengarkan keluhan-keluhan peserta didik. Hal ini dikarenakan pelajar saat ini cenderung lebih dekat dengan guru-guru yang senantiasa aktif dijejaring sosial.

Dengan adanya upaya-upaya tersebut kita berharap perkembangan teknologi informasi ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan pembelajaran. Dengan begitu efek negatif internet yang selama ini masih menjadi persoalan serius dikalangan orang tua dan pendidik lambat laun bisa dikurangi.

Ramdhan Hamdani

www.pancingkehidupan.com

 

1,460 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

About Author

Ramdhan Hamdani

Lahir di Bandung 30 tahun yang lalu, pria yang bernama lengkap Ramdhan Hamdani ini menghabiskan masa kecilnya dikota kelahirannya. Setelah menempuh pendidikan SMU, pria yang akrab disapa Kang Dadan ini pun melanjutkan studynya pada tahun 2000 ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman. Kesulitan ekonomi yang saat itu dialaminya tak sedikit pun mengurangi semangatnya untuk tetap melanjutkan kuliahnya. Berbagai profesi sudah pernah dijalaninya. Mulai dari penjual koran, guru privat sampai dengan tukang becak pernah dilakoninya demi keberlangsungan kuliahnya. Ketertarikannya pada dunia komputer mendorongnya untuk mengambil kuliah jurusan Tehnik Informatika ditempat lain disaat kuliah di jurusan Bahasa nya masih berjalan. Kuliah mengambil dua jurusan sekaligus dan ditempat yang berbeda memang tidak mudah, tapi itulah yang dilakukannya. Pada tahun 2003, pria yang dikaruniai seorang istri ini pun berhasil meraih beasiswa pertukaran mahasiswa dari DAAD untuk menikmati perkuliahan di negara Jerman selama satu tahun. Sekembalinya dari sana, dia pun melanjutkan studinya di UPI dan berhasil menjadi wisudawan terbaik tingkat Fakultas pada tahun 2008. Kecintaannya terhadap dunia pendidikan menjadikan profesi pendidik menjadi jalan hidupnya. Berprofesi sebagai guru TIK di SDIT Alamy Subang dilakoninya sejak 4 tahun yang lalu. Selain aktif sebagai pengajar, pria yang beristri seorang guru Matematika SMA IT Assyifa Boardingschool Subang ini juga sangat produktif dalam membuat software-software untuk keperluan sekolahnya. Mulai dari software keuangan, absensi guru dan siswa, perpustakaan, pengolahan nilai dan software lainnya dibuat dengan tangannya sendiri dan dipersembahkan kepada lembaga sebagai bentuk pengabdiannya. Selain itu pria yang mempunyai hoby memancing ini pun aktif di berbagai media, baik cetak maupun media sosial dalam mengkampanyekan pendidikan yang berkualitas dan aktif dalam upaya untuk menciptakan penggunaan teknologi informasi untuk keperluan pendidikan. Adapun beberapa tulisannya yang pernah dipublikasikan oleh media cetak antara lain : 1. Ironi Pendidikan Agama Islam ( Republika, 07 Januari 2013 ) Baca 2. Hitam Putih SNMPTN 2013 ( Pikiran Rakyat, 16 Februari 2013 ) Baca 3. Antara Tim Sukses dan "Tim Sukses" ( Pikiran Rakyat, 28 Februari 2013 ) Baca 4. Sertifikasi Tanpa Isi ( Pikiran Rakyat, 16 Maret 2013 ) 5. Mengubah Paradigma Kegagalan ( Republika, 20 Mei 2013) Baca 6. Ironi Tenaga Kependidikan ( Republika, 29 Mei 2013 ) Baca 7. Pelajar dan Tembakau ( Pikiran Rakyat, 1 Juni 2013 ) Baca 8. Reinkarnasi RSBI ( Pikiran Rakyat, 5 Juni 2013 ) 9. Pentingnya Orientasi untuk Orang Tua ( Republika, 22 Juli 2013 ) Baca 10. Politisi dan Ijazah Palsu ( Pikiran Rakyat, 03 September 2013) Baca

View all posts by Ramdhan Hamdani →

Comments (6)

  1. Di era cyber atau dunia maya akan mempertegas hubungan sosial dilakukan melalui media. Walau media itu bagus namun manusia akan menjadi seperti robot yang digerakan oleh media yang ada di cyber. Untuk itu sebagai guru, maka kewajiban secara bersama-sama melakukan penyelamatan dalam pemanfaatannya untuk kegiatan sosial dan pendidikan secara luas.

  2. Punya murid yang mahir berinternet sangat menggembirakan sekaligus mengkhawatirkan, setuju jika kita terus menerus memotivasi dan mengarahkan ke hal yang positif dan bukan melarang. Jika kita melarang… justru yang kita larang itu yang akan dicari tahu. Ada contoh di atas jalan tertulis di Spanduk: “sepanjang 100 Meter dilarang Nengok Ke Kiri” justru gara-gara Tulisan dilarang nengok ke kiri para pengendara malah melihat semua ke kiri karena penasaran. Ada apa di kiri… ternyata Rumah makan “A” he he he Reklame yang cerdas.

  3. Terimakasih pak Ramdhan atas sharingnya. Judul artikelnya mirip dengan bunda Etna Rufiati : http://guraru.org/guru-berbagi/tantangan-pendidikan-di-era-cyber/

    Anak-anak harus diajarkan bagaimana berinternet secara sehat. Guru dan siswa sama-sama memanfaatkan media sosial untuk hal-hal yang positif seperti sebagai media pembelajaran dan bertukar informasi tentang pendidikan serta pengetahuan lainnya.

    Saya sependapat dengan pak Subhan. Begitulah anak-anak pak. he…he…

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar