5

Suri Tauladan (+6)

Bu Etna @gurutematik October 1, 2014

Selamat pagi Sahabat Guraru. InsyaaAllah kita semua sehat wal afiat. Sudah lama saya tidak memposting artikel di web ini; rasa kangen membuat saya berupaya menyisihkan waktu untuk turut berbagi di sini. Pagi ini saya sempatkan membaca 2 artikel terakhir dan meresponnya. Saya juga membaca beberapa judul artikel, namun belum sempat membaca isinya. Sehubungan dengan artikel-artikel tersebut, saya luangkan beberapa saat untuk menulis secuil pengalaman yang terjadi pagi ini.

Tadi malam saya berdua suami berangkat ke Solo dengan bus. Jam 6 pagi kami sampai di terminal bus Tirtonadi yang luas dan bersih. Tampaknya baru direnovasi. Kami berdua agak tertatih-tatih membawa barang yang terbilang banyak, untuk oleh-oleh sanak famili di beberapa kota, hehehe. Keroyokan supir taksi, tukang becak, dan ojek yang menutupi jalan itu tak membuat kami berpikiran negatif. Dengan senyum kami berhenti dan meminta jalan untuk menuju tempat duduk. Seorang supir taksi berbaju seragam mempersilakan kami duduk dan dia duduk di samping saya.

Perbincangan mulai terjadi.

“Bapak dan ibu mau tindak ke mana? Bawaannya begitu banyak, saya bisa antar sampai tujuan.”

“Maaf bapak, kami mau ke hotel yang dekat dengan terminal ini.” Jawab saya.

“Oh mari saya antar sekarang.”

“Maaf kami masih lelah. Beberapa saat kami duduk dulu di sini. Oh ya ini pak sedikit sarapan kue pengganjal perut.” Jawab suami dan menawarkan kue.

Kami melahap sarapan berupa kue dan minuman hangat dari termos yang kami bawa dari Surabaya. Sesaat kemudian datanglah seorang bapak setengah baya, menegur pak supir dan kami. Ketika kami tawari kue, mulanya menolak. Namun akhirnya mau juga, Alhamdulillah. Setelah beberapa menit, pak supir pergi dan ternyata mendapat penumpang carteran. Bapak setengah baya tadi juga pamit, namun tak lama kemudian duduk di samping saya.

Suami saya sedang online untuk mencari hotel sederhana yang dekat dengan terminal bus. Alhamdulillah, banyak pilihan hotel dengan tarif yang relatif murah. Saya kemudian melakukan transaksi online. Sekitar 5 menit sudah ada jawaban melalui email. Ketika kami sedang melakukan proses, bapak di sebelah saya berkomentar.

“Bu hotel Tirtonadi Permai itu lumayan, jalannya juga dilewati bus.”

“Oh iya toh, coba kami lihat fotonya. Terima kasoh pak.” Saya segera cek dan berunding dengan suami.

“Ibu akan bayar online.”

“Iya pak.” Sahut saya. Bapak ini tampaknya pandai dan mengikuti jaman, hebat. Wajahnyapun tampak gembira, penampilannya bersih, sopan dan santun. Dia berbaju merah, berarti bukan supir taksi/angkot.

“Bapak supir ya?” Saya sengaja bertanya,

“Bukan bu, saya tukang becak. Kalau ibu ingin naik taksi akan saya carikan, kalau mau naik becak ya 2 becak bu, dekat kok.”

“Naik becak saja pak.” Kata suami.

“Kalau dekat sekali dan bapak tidak capai, ya bapak antar dulu suami saya.”

“Oh ya bu terima kasih banyak. Mari pak saya saja yang membawa barangnya.”

Alhamdulillah, akhirnya kami tiba di hotel. Ketika saya membayar ongkos becak 30 ribu, bapak itu sangat berterima kasih, sampai tangan saya hampir diciumnya karena gembira. Setelah pak becak itu pergi, saya merasa salah hitung. Dengan jarak yang kami tempuh tadi, ongkos becak umumnya 10 ribu. Karena 2x berarti 20 ribu. Ongkos membawa barang mestinya 10 ribu. Ongkos menunggu, belum saya bayar. Mengapa tadi saya hanya memberi 30 ribu kepada orang yang sopan, jujur, baik, sabar menunggu, dan … ya auranya masih terasa hingga sekarang. Sepantasnya saya memberi 40 atau 50 ribu. Ya Allah, maafkan hamba.

Saat ini saya sedang melanjutkan menulis artikel ini di bus jurusan Solo – Pacitan, karena akan bersilahturahmi dengan besan (mertua anak saya) di Tirtomoyo Wonogiri. Saya melihat banyak suri tauladan dari masyarakat kalangan menrngah ke bawah. Sopan santun mereka, rasa syukur dan ikhlasnya, tergambar begitu indah pada penampilan mereka. Selama perjalanan dari Surabaya, Solo, Tortomoyo, selalu saja kami memperoleh bantuan/layanan yang tak bisa kami balas. Semoga Allah SWT akan membalas budi baik mereka.

Banyak suri tauladan, namun masih banyak pula orang yang tak mengacuhkannya. Bahkan mereka berusaha bohong, kurang sopan dan lainnya. Guraru, kita yang bertugas sebagai guru ini, InsyaaAllah mampu menjadi teladan, dalam keluarga kecil dan besar, di kelas dan sekolah, juga di masyarakat. Salam keteladanan.

1,895 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

Comments (5)

  1. InsyaaAllah begitulah bu Ita. Terima kasih atas responnya, semoga bermanfaat. Nih saja masih di Solo, sudah janjian sama pak becak yang kuceritakan di atas utk mengantar kami ke terminal bus. Kami akan melanjutkan anjangsana ke Jogya kemudian dengan kereta Lodaya menuju Bandung. Tadi malam kami bertemu lagi dg pak becak itu, dia hafal kami. Subhanallah. Salam keteladanan.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar