0

Surat Maklumat Singkat untuk Guru-guru Kami yang Terhormat (+1)

L.GRAFURA May 24, 2017

To                  : [email protected]

Subjek          : email sederhana untuk guru-guru kami

 

 

Yth. Bapak/Ibu Guru kami

di seluruh Indonesia

 

Assalamualaikum wr.wb

 

Dengan hormat,

Kami, yang bertanda tangan di bawah ini:

nama            : Generasi Z (Gen-Z)

tahun lahir   : 2000 – 2012

usia               : 16 tahun ke bawah.

adalah murid-muridmu yang saat ini duduk di belakang meja menatap engkau dengan penuh harap. Izinkan kami menulis sebuah surat maklumat singkat untuk engkau, guru-guru kami, yang terhormat.

Melalui email ini pula, kami hendak menyampaikan bahwa kami juga sering dikenal dengan penghuni “kampung digital”, Digital Citizenship, atau Digital Native. Ada pula yang menyebut kami sebagai Gen C. Namun, nama Gen-Z lebih universal untuk mewakili identitas kami.

Bapak/Ibu guru kami yang terhormat, kami sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya atau generasi yang akan datang. Setiap generasi membawa ciri masing-masing. Dan itulah kenapa pentingnya engkau melakukan penyesuaian dalam mendidik kami.

Esr. Dopita M. Sidauruk [dalam Intisari,Januari 2017] menyebutkan kelebihan dan kekurangan kami. Kelebihan kami adalah sangat peduli pada identias dan eksistensi diri, memiliki tujuan hidup yang tinggi, rasa ingin tahu yang besar, kritis kreatif, multitasking, ingin tampil beda, komunikatif, minat sosial yang tinggi, cenderung blak-blakan dalam mengemukakan ide dan pendapat. Sedangkan kekurangan kami adalah cenderung mudah menyerah dan putus asa, sering kebablasan dalam mengekspresikan ide dan gagasan termasuk mengekspresikan kreativitas, kebabalasan dalam mengakses informasi, kurang peka terhadap lingkungan. Hal-hal kekurangan ini tak lain karena kami memang hidup di dunia yang penuh informasi serta kecanggihan teknologi.

 

Bapak/Ibu guru yang kami hormati,

Setelah bapak/ibu guru mengetahui ciri kami yang seperti itu, kami memaklumatkan sejumlah permohonan. Pertama, berilah kami motivasi di dalam pembelajaran. Sebab, pembelajaran di kelas bukan hanya soal memindah isi dalam buku ke otak kami. Lebih dari itu. Pembelajaran yang kami butuhkan adalah melihat dunia dengan sudut pandang yang cerdas beserta kreativitas. Ajarkan kami menyusun kerangka kerja untuk meraih mimpi. Bukan sekadar mengerjakan soal latihan halaman sekian sampai sekian. Bukan pula memahami teori-teori di papan yang tak jelas gunanya dalam kehidupan. Yakinkan kepada kami, “untuk apa kami mempelajari ini?

Kami Gen-Z sangat miskin motivasi. Itulah kenapa kami mudah putus asa, mudah menyerah. Kami mengamini apa yang disampaikan oleh Lawrence E. Shapiro, Ph.D. dalam bukunya yang berjudul Mengajarkan Intelejen Kepada Anak (Gramedia, 2003) bahwa penelitian menunjukkan anak yang mencapai usia12-13 tahun rentan terhadap masalah motivasi. Begitu pula dengan kami.

Ajarkanlah pula kepada kami kekuatan kata-kata sehingga menjadi mantra yang akan membangkitkan semangat kami. Sesekali berilah kami mantra-mantra seperti:

 “Tidak perlu membakar buku untuk menghancurkan sebuah bangsa, namun bikin saja orang-orangnya berhenti membaca.” [Ray Bradbury, penulis]

“Sungguh tidak ada yang sia-sia setiap kejadian pada diri kita, asalkan kita mampu mengambil makna positifnya.” [Jaya Setiabudi]

“Orang yang melontarkan kritik pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran.” (Corrie Ten Boom]

“Kemiskinan adalah kerangka berpikir, sedangkan tidak punya uang hanya kondisi sementara.” (Farrah Gray).

Kata-kata di atas tidak akan berguna ketika orang lain yang meyampaikan, namun jika itu engkau yang mengatakan, itu akan benar-benar menjelma sebuah mantra. Unduhlah lampiran 1 di bawah ini. Itu adalah bukti bahwa engkaulah yang mampu mengubah kami.

angket 1 Unduh 1: Angket

 

 

 

 

Bapak/Ibu guru yang kami hormati,

Permohonan kami yang kedua adalah bimbing kami agar tidak tersesat di rimbun dunia maya. Kami ini hidup di jurang sampah informasi. Generasi kami diberi terlalu banyak pilihan sehingga kami tidak tahu harus memilih yang mana. Sederhanakanlah informasi-informasi yang rumit tersebut sehingga mudah kami cerna.

Tidak jarang, kami terjebak di situs pornografi. Survai telah membuktikan bahwa anak-anak di rentang usia 18-24 tahun menjdi bagian terbesar sebagai pengakses situs pornografi yaitu dengan persentase 36,3 persen, diikuti dengan golongan usia 25-34 tahun sebanyak 29,8 persen, usia 35 – 44 tahun sebanyak 16,5 persen. Sisanya adalah golongan usia 55 tahun ke atas sekitar 17 persen [ Tekno.kompas.com, 2015].

Pemerintah mencoba menghalau kami agar tidak masuk situs-situs itu. Namun, tahukah wahai Bapak/Ibu guru kami yang terhormat? Itu bukan masalah yang berat. Kami dengan mudah membobol larangan itu semudah kami menekan tombol ENTER di keyboard.

Kami tidak pernah takut dengan virus terhebat di komputer yang pernah diciptakan. Kami sangat takut jika virus itu tanpa terdeteksi memasuki hati. Kami tidak tahu cara menginstal ulang atau memindai (scanning) virus itu. Hanya engkau yang mampu. Instalkanlah sebuah anti-virus di hati kami.

Tunjukanlah kepada kami bahwa dunia maya itu tidak hanya soal Google, Youtube, atau Facebook. Tunjukanlah kepada kami bagaimana kami ini bisa membuat sebuah karya yang luar biasa melalui dunia maya.

Kami ingin karya kami bisa tampil di ebook.id atau Amazon. Kami akan bangga ketika tugas-tugas atau PR kami menjadi sebuah karya, bukan sebuah tugas yang hanya berakhir pada sebuah nilai. Kami yang pandai menggambar, ajarkanlah bagaimana menjualnya di Pinterest atau di Canva.com. Bantu kami menyusun ide agar bisa laku di basabasi.co. Yakinkan pula kepada kami bahwa tugas-tugas mata pelajaran itu bisa menjadi materi yang menarik di blog dan mampu menaikkan rating sehingga kami mendapatkan uang dari iklan.

Bukankah tujuan dari  sekolah adalah mendapatkan pengetahuan dan pengalaman? Lalu dari keduanya akan menjadi sebuah kompetensi yang dilegalisasikan melalui ijazah. Dari ijazah itu kami bisa bekerja, lantas mendapatkan uang untuk bekal hidup. Sayangnya, alur selalu tak semudah itu. Ada begitu banyak pengangguran terdidik di luar sana. Oleh karena itu, potongkan alur yang panjang itu sehingga bersekolah sekalian dapat melihat peluang atau bekerja. Ini bisa dilakukan jika tugas-tugas tadi tidak hanya berakhir menjadi sebuah nilai, tapi sebuah karya yang dipublikasikan di dunia maya. Kami tidak ingin menunggu terlampau lama untuk bisa memiliki karya serta usaha. Menunggu lulus baru berkarya dan membuka usaha adalah membuang usia muda secara sia-sia.

 

Bapak/Ibu guru yang senantiasa di hati,

Waktu barangkali akan memaksa kami menjadi alumni, namun tidak pernah ada kata alumni untuk terus mengingat jasa-jasamu. Satu hal lagi yang kami mohon kepadamu, sertakanlah kami di tiap doa-doamu. Sebab, siapa lagi yang bisa menolong kami selainNya. Maka, doamu tentu sangat kami harapkan. Semoga ilmu yang kau ajarkan bermanfaat dunia dan akhirat. Kamipun akan terus mendoakanmu agar ilmu yang kau ajaran bisa menjadi amal jariyah – amal yang senantiasa terus mengalir kendati engkau telah meninggalkan dunia ini.

Demikianlah surat maklumat singkat dari kami. Apabila terdapat kata-kata yang membuatmu tidak berkenan, kami mohon maaf. Semoga kita dipertemukan lagi kelak di akhirat. Dan, semoga surat maklumat singkat ini sampai di hatimu– tidak salah alamat!

 

Wassalamualaikum. wr wb.

 

 

 

Hormat kami,

 

Ttd

Muridmu, Gen-Z

 

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru”

 

 

 

 

1,116 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar