18

‘Sudah Dua Shaf’, Bukan ’Belum Tiga Shaf’ (+3)

M. Rasyid Nur January 27, 2014

SEORANG guru mengeluh betapa susahnya mengajak siswa (muslim) untuk melaksanakan solat berjamaah di sekolah. Ada 400-an siswa di sekolahnya. Tapi yang rutin solat waktu zuhur tidak pernah sampai tiga shaf (laki-laki) dan dua shaf (wanita). Begitu dia mengeluh. Dengan ukuran yang hanya sedang-sedang saja, itu baru seratusan orang yang solat, katanya.

Saya mengerti keluhan teman ini. Sebagai guru Pendidikan Agama (Islam) dia merasa terbebani oleh tanggung jawabnya sendiri. Apalagi, katanya, Kepala Sekolah belakangan sangat gencar meminta agar para siswa diajak melaksanakan solat. Waktu zuhur sudah diatur persis saat istirahat kedua. Tidak ada alasan siswa tidak bisa ke musolla. “Bukan hanya diajak malah sudah dipaksa,” katanya kepada saya.

Saya coba menenangkan teman ini. Saya katakan kepadanya agar dicoba terus dan jangan memaksakan sekaligus. Maksud saya, berangsur-angsur. Di tahap awal mungkin ditargetkan satu shaf dulu. Jangan memaksakan semua siswa langsung berbondong-bondong ke musolla. Namnya juga program baru. Musolla baru juga. Solat berjamaah di musolla sekolah memang baik tapi jika belum menjadi budaya tentu saja akan susah.

Saya katakan bahwa di sekolah saya juga belum berhasil membuat seluruh siswa (muslim) solat zuhur berjamaah di musolla. Musolla dengan ukuran 10 M x 10 M di sekolah saya juga tidak penuh sesak oleh para siswanya di waktu zuhur itu. Padahal jika sebagian besar siswa solat sekaligus tentu saja musolla akan penuh-sesak. Nyatanya hanya ada tiga shaf kurang (laki-laki) dan dua shaf perempuan. Tapi musolla itu kelihatannya memang sudah penuh.

Jika saya hitung-hitung, seluruh anak-anak muslim, seharusnya jumlah mereka jauh lebih ramai jika masuk musolla sekaligus. Tapi saya katakan kepada guru Pendidikan Agama itu bahwa anak-anak sudah dua shaf, bukan belum tiga shaf. Jadi, ada rasa bangga bagi gurunya karena sudah berhasil membuat anak-anak solat lebih dari dua shaf di musolla. Padahal dulunya untuk satu shaf juga terkadang tidak penuh.

Membiasakan solat berjamaah di sekolah tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Solat berjamaah adalah satu target tapi melaksanakan solat secara sadar adalah target lainnya lagi. Artinya, sangat erat kaitannya antara kebiasaan solat di rumah (secara sadar) dengan pelaksanaan solat berjamaah di sekolah tersebut. Bagi para siswa yang memang sudah melaksanakan solat secara sadar di rumah tentu saja akan dengan mudah mengajaknya untuk solat berjamaah di sekolah. Tapi begitu menjadi sebaliknya bagi siswa/ wi yang tidak pernah atau belum melaksanakan solat secara sadar di rumah.

Lalu? Pelan-pelan saja mengajak mereka. Seusia mereka tidak akan mudah menyuruhnya jika kesadaran itu memang tidak atau belum ada ada. Jangan berhenti berusaha dan jangan juga putus asa mengajaknya. Itulah mungkin kata kunci yang wajib menjadi perhatian. Bahwa di sekolah baru dua shaf yang mampu jangan disebut belum juga tiga shaf. Sudah dua shaf kedengaran lebih positif dari pada belum tiga shaf. ***
Seperti sudah dipublish di: http://www.mrasyidnur.com/?p=389

1,951 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

About Author

M. Rasyid Nur

Menjadi guru (honorer) sejak tahun 1980, ketika masih mahasiswa. Selanjutnya menjadi PNS (aktif) sejak 1985 dengan SK TMT 01.03.1984 dan terus menjadi guru hingga sekarang. Insyaallah akan purna bakti pada 11.04.2017. Obsesi, "Berharap kehebatan murid melebihi kehebatan gurunya."

View all posts by M. Rasyid Nur →

Comments (18)

  1. Inilah yang terjadi di hampir semua sekolah negeri. Membiasakan salat Zuhur di sekolah sangat sulit, jika hanya dilakukan oleh guru agama saja. Tanggungjawab itu mestinya tidak dibebankan kepada guru PAI sendiri, mestinya bersama semua guru lain di sekolah tersebut, juga ikut turun tangan. Paling tidak, ada pembagian tugas di kalangan semua guru. Andai saja, semua menyadari tanggungjawab bersama itu, insya Allah bisa berjalan. Terlebih lagi, sudah dibuat program terstruktur.

  2. Ya, Pak M. Nur’alim, ini memang gejala sebagian besar SMA Negeri di Tanah Air ini. Terkadang terasa tidak fair memang jika kewajiban solat (padahal kewajiban pribadi setiap orang Islam) seolah-olah menjadi beban Guru Pendidikan Agama saja. Jika ada program sekolah yang mewajibkan siswanya untuk solat berjamaah, seharusnya semua guru ikut terlibat. Tapi sayangnya guru-guru non PAI seperti tidak mau tahu. Sedih.

  3. Urusan ketaatan siswa pada Agamanya juga jadi tanggung jawab utama orangtuanya. Sayang kadang orangtuanya saja lalai apalagi anaknya.
    Nah untuk mengajak siswa, atau menyadarkan mereka bahwa sholat itu bukan sekedar kewajiban tapi lebih pada kebutuhan itu yang penting.
    Dan yang paling utama kita sebagai guru memang harus telaten mengajak siswa mengerjakan kewajibannya.

  4. Sekedar sharing…Alhamdulilah Pa Ustad di sekolahku SMP Negeri 3 Cibadak Shalat berjamaah dhuhur sudah menjadi kebiasaan di laksanakan tiap hari…selain itu kami (sekolah) sudah membiasakan shalat dhuha bersama menjelang masuk belajar. di mulai pukul 07.00 sd 07.40 di awali dengan tauziah lalu bersama melaksanakan shalat dhuha. Alhamdulilah sudah 3 tahun kebiasaan itu kami laksanakan !

  5. Izin, Pak VS, kalau SMA, SMK atau SMP tidak disebut sekolah agama karena memang sekolah umum. Di sekolah umum inilah kebanyakan siswa (muslim)- nya kurang atau belum taat melaksanakan solat. Nah, kalau sekolah umum membuat program agar siswanya juga taat beragama sesuai visi-misi iman dan takwa, maka tentu saja ini sangatlahg bagus. Tapi selalu tidak mudah, gitu maksudnya.

  6. Ibu Sri Sugiastuti, memang benar begitulah semestinya. Tidak bisa hanya guru tapi orang tualah yang jauh lebih utama. Orang tua yang sejak kecil mendidik dan membimbing anak di rumah ditambah lagi lama waktu selama sekolah juga ada bersama orang tua. Cuma, memang banyak pula orang tua yang lalai dalam masalah ini. Kalau di sekolah, semua guru (tanpa melihat MP yang diampunya) seharusnya sama-sama bertanggung jawab. Saya setuju itu. Salam, Bu.

  7. Alhamdulillah, begitulah sebagusnya. Saya juga ingin sekolah saya suatu saat nanti semua siswanya menjadi siswa yang taat menjalankan kewajiban agamanya. Karena tidak sekolah agama (Islam) saja, tentu saja saya berharap pemeluk agama lainnya itu juga taat dalam melaksanakan ajaran agamanya. Bagi kita yang muslim, kewajiban kita untuk membimbing anak-anak kita untuk membudayakan (dalam arti taat dalam kesadaran) agama Islam. Semoga saja terwujud, kelak.

  8. Terimakasih pak Rasyid atas sharingnya. Apa kabar pak? Iya benar pak, terdengar lebih positif sudah dua shaf dari pada belum tiga shaf. Untuk mengajak para siswa ke arah sana (shalat berjamaah) di masjid atau mushola sekolah maka bapak dan ibu guru-nya juga harus memberikan contoh (teladan) terlebih dahulu disamping menyadarkan mereka agar menunaikan shalat tepat waktu dan berjamaah. Barangkali seperti itu pak. Salam hormat,

  9. Wow, Pak Sukani sudah lama menghilang karena kesibukan. Saya sehat-sehat saja. Sibuk juga, itu biasa. Terima kasih komentarnya. Memang benar, kalau untuk mengajak siswa/ wi ya para gurunya yang harus duluan, hehe. Salam sukses selalu.

  10. Memang harus sabar menghadapi siswa di sekolah umum. Di sekolah kami alhamdulillah sudah bisa pak. Harus dibentuk tim khusus itu memang banyak bermanfaat. Kami melibatkan alumnus SKI untuk mengadakan pembinaan dan mendampingi adik-adiknya. Ikatan alumni SKI tersebut amat kuat, hingga selalu ada yang hadir setiap hari, apalagi Jumat. Mereka mengadakan pesantren kilat di sekolah, hampir setiap bulan, ada bermacam-macam bimbingan setiap hari. Insya Allah informasi ini bermanfaat.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar