3

Siswa Terbaik (+2)

Hedy Lim June 9, 2017

Satu tahun ajaran sudah hampir selesai. Saatnya bagi para guru memberikan penilaian akhir kepada siswa mereka. Bagi siswa, mungkin inilah saat yang dinanti-nantikan apakah kemajuan belajarnya memberikan sebuah prestasi tersendiri? Ataukah masih kurang dan perlu peningkatan?

Menurut saya, setiap satu tahun ajaran berakhir, maka selalu menjadi “…and so the adventure begins…”.

Tradisi memberikan penghargaan sudah lazim dilakukan. Hampir semua berdasarkan akademis, dan makin banyak berdasarkan ketrampilan siswa yang lain-lain.

Bapak/Ibu Guru, apa definisi siswa terbaik / pelajar teladan / siswa berprestasi menurut anda?

Kebanyakan akan menjawab dengan definisi siswa yang pelajarannya menghasilkan nilai paling tinggi. Pelajar yang keseluruhan dirinya menjadi teladan bagi teman-temannya. Siswa yang seringkali memenangkan pertandingan / perlombaan baik akademis maupun non akademis. Siswa kesayangan guru (?).

Singkat kata, siswa dengan definisi di atas adalah siswa idaman para Guru, bukan? Bahagianya kita dengan pekerjaan yang otomatis menjadi enak ini, tidak perlu mendidik berlebihan, tidak perlu bersusah payah menyampaikan pelajaran dengan berbagai metode (dan teknologi) yang dianggap cocok. Siswa sudah cakap dari “sananya”, dari lahir maksudnya.

Tapi, yang di atas itu kan masih secara umum. Saya masih meyakini ada perbedaan pandangan atau tidak terfokus pada satu stereotip saja. Terbaik, bisa saja menjadi sama-sama baik dalam satu kelompok, bisa terbaik mengalami kemajuan, atau bisa juga terbaik dalam usaha dan perjuangan selama dia bersekolah.

Kalau pengalaman pribadi, saya mengamati ada siswa yang sangat gigih ingin mendapat nilai bagus dalam pelajarannya. Kadang malah lupa dengan kemampuannya sendiri, pokoknya mau nilai bagus. Mengapa demikian? Entahlah, mungkin karena dunia pendidikan kita yang masih memilih nilai akademis / hasil raport segala-galanya? :)

Nah menghadapi hal demikian, saya bingung juga jika ada siswa yang “protes” kepada saya, kok saya bilang bagus untuk sebuah nilai yang menurutnya biasa-biasa saja. Siswa ini tidak tahu berarti kalau saya datang dari era “pak Tino Sidin” yang selalu bilang bagus untuk karya anak-anak yang dikirimkan kepada beliau ;) . Jawaban serius saya salah satunya adalah “Jangan menilai dirimu terlalu tinggi di luar batasmu, nak. Tinggi boleh tapi jangan terlalu tinggi. Jangan samakan dirimu dengan si jenius A, si cerdas B, tapi kamu adalah kamu yang sudah istimewa dengan memberikan hasil seperti ini”. Idealkah jawaban itu? Balik lagi, tergantung pandangan setiap orang. Bukan berarti siswa puas dengan jawaban tersebut, mungkin saja malah menggerutu, “aduuuh ini guru kok nyebelin banget ya, jelek dibilang bagus, saya kan ingin dapat gelar siswa terbaik”.:D

Entahlah, tetapi saya percaya, terbaik saat ini, belum tentu melulu menjadi terbaik di masa depan. Tidak semua yang berprestasi sangat baik saja yang mampu menjadi lulusan hebat dari pendidikan tinggi mereka. Selama lebih dari dua dekade di sekolah, rasanya saya cukup melihat bukti, bahwa biasa-biasa saja di sekolah, sekarang telah menjadi dokter, menjadi seorang ahli di berbagai bidang. Karena siswa yang biasa atau kurang bagus secara akademis tadi, bukan berarti kalah, mereka hanya berproses lebih lama dari teman-temannya untuk menjadi terbaik di jenjang sekolah. Kan tidak mungkin juga semua menjadi terbaik kalau ujung-ujungnya sekolah diminta membuat peringkat tetap memilih yang “ter-” tadi. Atau contoh lain, malah siswa terbaik di SMP dengan mengambil mata pelajaran “all sciences” di SMA, sudah dibanggakan akan menjadi calon dokter, ternyata malah memilih bidang sosial dan setelah menyelesaikan dua gelar sarjananya, lebih memilih menjadi penulis. Dan masih banyak contoh lainnya.

Sebagai Guru, sebagai sekolah, sebenarnya, apa sih tuntutan kita kepada mereka anak-anak? Ingin anaknya berhasil baik dalam hal nilai / prestasi akademis? Berkarakter baik? Sopan? Untuk siapa? Kebanggaan bapak/ibu? Peringkat sekolah? Masa depan siswa? Orang tua mereka? (boleh untuk direnungkan saja, bukan diperdebatkan :) )

Sepakat kok, namanya saja manusia yang hidupnya tentu harus memiliki target, demikian pula guru dan siswa. Sebagai guru jangan sampai kita terjebak pada kondisi yang demi mencapai target tadi, mengejarnya bagai sebuah perlombaan, berlomba untuk mengantar siswanya meraih peringkat tertinggi. Jadi, “siswa terbaik” seperti menjadi “benda” yang diciptakan oleh guru yang berkompetisi tadi.

Sebagai penutup, ada cerita menarik dari seorang siswa yang baru menyelesaikan jenjang SMA, siswa yang hasil nilai akademisnya selalu kurang memuaskan (jelek mungkin jika dibanding dengan kkm 70). Dia diganjar predikat siswa terbaik untuk mata pelajaran seni musik. Seorang rekan guru melontarkan pertanyaan, “Tidak salah siswa tersebut mendapat predikat terbaik? Dan jawabannya guru seni musiknya, sungguh teramat keren (bagi saya), “eh, justru saya kasih dia yang terbaik karena dia dari tidak bisa apa-apa, sekarang ada niat dan menjadi bisa”. Jawaban Juara <3

455 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!