7

SIMBIOSIS MUTUALISMA PRESTASI BELAJAR DAN KEBUTUHAN MASYARAKAT (+5)

Ardan Sirodjuddin May 20, 2015

Dunia sekolah seakan terlepas dengan kehidupan masyarakat. Dua dunia yang seakan berbeda walaupun dalam lingkup yang saling bersinggungan. Orang mengatakan bahwa sekolah seperti menara gading yang menjulang tinggi tetapi tidak menyentuh masyarakat sekitarnya. Ini tentu pekerjaan rumah bagi kita terutama para pendidik untuk menghubungkan prestasi belajar siswa dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat.

Yang pertama saya akan membahas prestasi belajar. Saya adalah seorang guru yang mengajar di SMK Negeri 8 Semarang, sebuah sekolah negeri di pusat kota tetapi sekolah ini kurang populer di kalangan warga Kota Semarang. Setiap orang ketika ditanya tentang sekolah menengah kejuruan yang bagus maka dengan mudah mereka menjawab SMK Negeri 7 Semarang, SMK Negeri 11 Semarang, SMK 4 Semarang dan lain-lain. Inilah tantangan besar untuk sekolah ini. Tantangan yang harus dijawab oleh pengelola sekolah termasuk saya sebagai gurunya. Ibarat kereta api, sekolah ini seperti kereta tua dengan gerbong tua yang berat untuk ditarik. Perlu pelumas yang banyak agar roda-roda kereta berputar dengan baik, perlu pengecatan ulang gerbong agar terlihat cantik, perlu bahan bakar banyak untuk menarik gerbong, dan perlu renovasi ulang interior dalam gerbongnya. Sebuah pekerjaan besar untuk membuat gerbong yang menarik dan nyaman dinaiki. Jika gerbong sudah menarik masih ada satu lagi yang harus dilakukan yaitu mempromosikan ke masyarakat agar tertarik untuk naik kereta tersebut. Iklan dan kampanye besar-besaran dilakukan agar kereta ini menarik hati masyarakat. Tidak kalah pentingnya adalah sumber daya manusia dalam mengelola kereta tersebut. Sumber daya manusia itu penting karena ketika penumpang sudah berada di dalamnya maka pelayanan menjadi hal utama dalam menarik hati pelanggan.
Menuju sekolah unggul, sebuah kalimat yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dicapai. Tetapi kata sulit belum tentu tidak bisa. Sekolah yang dikatakan lama berdiri tetapi dari sisi prestasi dan citra sekolah masuk kategori bawah dari deretan SMK negeri yang ada. Apa permasalahan mendasar yang ada? Permasalahan itu dimulai dari kualitas input anak SMP yang mendaftar di SMK Negeri 8 Semarang. Sekolah ini diminati oleh siswa yang berasal dari SMP-SMP kelas menengah. Ini tentu menjadi problem tersendiri. Dua hal yang bisa dipetakan adalah sisi kualitas akademik siswa dan dukungan finansial orang tua. Dari sisi akademik siswa, sekolah ini tidak mampu menjaring anak-anak yang bagus. Anak-anak yang secara mental siap untuk belajar. Anak-anak SMP yang masuk masih berpikir bagaimana berseragam yang baik, bersepatu yang benar, pakai sabuk atau tidak. Hari ini mau masuk atau bolos. Waktu berpikir mereka dihabiskan untuk hal-hal dasar yang seharusnya tidak perlu lagi membebani. Ketika hal itu terjadi maka kecil kemungkinan siswa berpikir hari ini saya dapat materi apa?, apakah saya berhasil menyabet juara tingkat nasional, kira-kira saya akan magang di perusahaan apa? Pola berpikir yang penuh dengan perhitungan dan target. Rupanya yang ini masih jauh dari harapan. Hal yang penting kedua adalah dukungan orang tua. Sekolah ini terlalu dominan menerima orang tua yang kurang peduli dengan pendidikan anaknya. Kebutuhan dasar anaknya untuk belajar kurang diperhatikan. Hal-hal yang mutlak dimiliki seperti buku pelajaran, laptop, kamera dan modem tidak segera dibelikan untuk anaknya. Bukan mereka tidak bisa untuk beli tetapi karena prioritas dana lebih banyak ke konsumtif seperti handphone yang bagus, dan motor yang keren.
Untuk itulah kami mencoba membuat terobosan untuk menjadikan siswa SMK Negeri 8 Semarang menjadi siswa yang mempunyai motivasi tinggi dalam belajar, memiliki kemampuan akademik dan non akademik yang lebih berkualitas, dikenal oleh masyarakat dan menjadi tujuan utama melanjutkan sekolah bagi lulusan SMP.
Website atau situs dapat diartikan sebagai kumpulan halaman yang menampilkan informasi data teks, data gambar diam atau gerak, data animasi, suara, video dan atau gabungan dari semuanya, baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink). Bersifat statis apabila isi informasi website tetap, jarang berubah, dan isi informasinya searah hanya dari pemilik website. Bersifat dinamis apabila isi informasi website selalu berubah-ubah, dan isi informasinya interaktif dua arah berasal dari pemilik serta pengguna website. Contoh website statis adalah berisi profil perusahaan, sedangkan website dinamis adalah seperti Friendster, Facebook, Multiply, dll. Dalam sisi pengembangannya, website statis hanya bisa diupdate oleh pemiliknya saja, sedangkan website dinamis bisa diupdate oleh pengguna maupun pemilik.
Web sekolah harus bersifat dinamis yaitu isi informasi web selalu berubah-ubah, dan isi informasinya interaktif dua arah berasal dari pemilik serta pengguna web, karena web sekolah bertujuan untuk meningkatkan penyebaran informasi kepada masyarakat dan meningkatkan daya interaktif sekolah dengan siswa. Untuk itu, sekolah harus menyediakan informasi yang terbarukan (update) setiap hari. Berdasarkan data di searching Google, banyak sekolah di Kota Semarang, Demak dan Kendal yang belum memiliki website yang bagus.
Permasalahan yang kemudian muncul adalah : (1) Bagaimana membuat model belajar yang mampu menghubungkan peningkatan prestasi belajar dengan kebutuhan masyarakat? dan (2) Bagaimana hasil dan dampak dari implementasi model belajar tersebut?.
Salah satu indikator keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah terjadinya perubahan yang positif pada diri peserta didik. Perubahan tersebut mencakup perubahan aspek pengetahuannya (kognitif), aspek sikap (afektif), dan aspek keterampilannya (psikomotorik).
Guru pada prinsipnya memiliki peranan yang sangat penting dan sangat strategis dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan seperti yang telah digariskan. Bahkan ada sebagian anggota masyarakat beranggapan bahwa guru atau tenaga kependidikan merupakan faktor penentu terhadap keberhasilan program pendidikan. Kiranya ini dapat dimaklumi mengingat peran guru selain mengajar, membimbing, melatih juga mendidik.
Sebuah keniscayaan bagi setiap guru bahwa, kompetensi yang dimilikinya akan menunjukan kualitas guru tersebut dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penugasan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Kompetensi yang diperlukan oleh seorang tersebut dapat diperoleh baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, pasal 2 disebutkan bahwa Guru wajib memiliki Kualifikasi Akademik, Kompetensi Sertifikat Pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. (Imas Kurniasih, 2012 : 3).
Kompetensi yang dimaksud adalah serangkaian pengetahuan ketrampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi Guru bersifat holistik yang meliputi antara lain: (1) Kompetensi Pedagogik, (2) Kompetensi Kepribadian, (3) Kompetensi Sosial, dan (4) Kompetensi Profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
Pada dasarnya setiap orang membutuhkan sebuah kreativitas untuk keseimbangan hidupnya, dengan kreativitas yang bermakna tentunya hidup akan bermakna pula. Dengan kreativitas manusia dapat menikmati kesenangan dan makna hidup, dan tanpa kreativitas manusia tidak memiliki seni, ilmu, inovasi, pemecahan masalah, serta kemajuan.
Guru yang mengerti dan memiliki kreativitas akan dengan mudah menentukan beberapa hal seperti : (1) memilih konten materi, (2) perencanaan pelajaran, (3) mengorganisasikan materi, (4) mengorganisasikan tugas-tugas yang tepat, dan (5) membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan dan kreativitas itu sendiri.
Proses kreativitas adalah sejajar dengan belajar, dimana siswa menggunakan konten dalam cara kreatif, belajar menentukan konten dengan baik dan pas. Siswa juga belajar strategi untuk mengindentifikasi masalah, mengambil keputusan dan menentukan solusi di dalam sekolah maupun di luar sekolah.
Strategi yang kami lakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa adalah dengan Model Belajar Mandiri Terbimbing. Model belajar ini mengacu pada Teori konstruktivis dimana teori ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturanitu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha memunculkan ide-ide baru berdasar hasil belajar. Menurut teori ini, siswa harus membangun sendiri ilmu dan pengetahuannya. Guru memberikan bimbingan bagi siswa untuk melakukan konstruksi pengalamannya sebagai dasar dalam mengkonstruksi ilmu dan pengetahuannya.

Alasan Pemilihan Strategi Model Belajar Terbimbing

Proses belajar sering melibatkan ketrampilan dan perilaku baru bagi peserta didik. Apabila belajar bukan sekedar suatu proses pengumpulan informasi baru maka peserta didik harus melibatkan diri secara total dalam proses belajar tersebut. Belajar bukanlah sekedar menerima informasi dari orang lain tentang apa yang ingin diketahuinya. Belajar yang sesungguhnya memerlukan motivasi yang tinggi dan suasana yang mendukung proses belajar. Untuk itu peserta didik memerlukan classroom of life di mana di dalamnya terdapat semangat self-directed learning atau pembelajaran  mandiri (PM).

Belajar mandiri bukan berarti hanya belajar sendiri tetapi dapat dilakukan secara berkelompok, seperti dalam kelompok tutorial. Belajar mandiri adalah salah satu cara meningkatkan kemauan dan keterampilan pembelajar dalam proses belajar tanpa bantuan orang lain dan tidak tergantung pada pengajar, pembimbing, teman, atau orang lain. Tugas pengajar hanya sebagai fasilitator atau yang memberikan kemudahan atau bantuan kepada pembelajar. Bantuan itu sifatnya terbatas seperti dalam merumuskan tujuan belajar, memilih materi pembelajaran, menentukan media pembelajaran, serta memecahkan masalah yang dihadapi pembelajar. Bantuan belajar adalah segala bentuk kegiatan pendukung yang dilaksanakan dalam pembelajaran jarak jauh untuk membantu kelancaran proses pembelajaran,yang berupa pelayanan akademik dan administrasi akademik, maupun pribadi.

Menurut Stewart, Keagen dan Holmberg (Juhari,1990) belajar mandiri pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh pandangan bahwa setiap individu berhak mendapat kesempatan yang sama dalam pendidikan. Proses pembelajaran hendaknya diupayakan agar dapat memberikan kebebasan dan kemandirian kepada pembelajar dalam proses belajarnya. Pembelajar bebas secara mandiri untuk menentukan atau memilih materi pembelajaran yang akan dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya. Jika dalam pembelajar konvensional lebih banyak berkomunikasi dengan manusia yaitu pengajar atau pembelajar lainnya. Sedangkan dalam pembelajaran jarak jauh lebih banyak berkomunikasi secara intrapersonal berupa informasi atau materi pembelajaran dalam bentuk elektronik, cetak maupun non cetak, seperti komputer/internet dengan surat elektronik (e-mail), atau melalui media telepon, faksimile, jasa layanan pos, siaran radio, ataupun siaran televisi.

Saat ini pemerintah masih menerapkan Kurikulum 2013 untuk pendidikan di Indonesia, proses pembelajaran ini sesuai dengan program Student Centered Learning (SCL). Selain itu, di masa mendatang, dunia kerja membutuhkan tenaga kerja yang berpendidikan baik, yang mampu bekerja sama dalam tim, memiliki kemampuan memecahkan masalah secara efektif, mampu memproses dan memanfaatkan informasi, serta mampu memanfaatkan teknologi secara efektif dalam pasar global, dalam rangka meningkatkan produktivitas. Oleh sebab itu, proses pembelajaran harus difokuskan pada pemberdayaan dan peningkatan kemampuan siswa dalam berbagai aspek ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Siswa sebagai subyek pembelajaran, yang perlu diarahkan untuk belajar secara aktif membangun pengetahuan dan keterampilannya dengan cara bekerjasama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait.

Alasan Model Belajar Mandiri Terbimbing yang kami lakukan adalah:

  1. Siswa (dipaksa) memiliki waktu untuk mempelajari materi pelajaran di rumah sebelum guru menyampaikannya di kelas. Dengan demikian, siswa lebih mandiri dan tidak lagi hanya menunggu guru menyampaikan materi pelajarannya di kelas.
  2. Siswa dapat mempelajari materi pelajaran dalam kondisi dan suasana yang nyaman sesuai dengan kemampuannya menerima materi. Siswa yang pintar dapat belajar secara cepat, sedangkan bagi siswa yang kurang mampu, mereka dapat mengulang materi pelajaran (video) sesukanya sampai mereka faham.
  3. Setiap siswa bisa mendapatkan perhatian penuh dari guru saat mengalami kesulitan dalam memahami konsep maupun tugas/latihan/kuis. Hal ini dikarenakan di dalam kelas, guru hanya membahas (mereview) materi-materi yang menurut siswa sulit. Atau, guru bisa meminta siswa yang sudah memahami materi, untuk membantu temannya yang belum faham. Dengan demikian dapat dipastikan setiap siswa telah memahami materi dengan baik.
  4. Siswa dapat belajar dari video pembelajaran. Hal ini memudahkan siswa memahami materi pelajaran, dari pada siswa hanya belajar dari papan tulis atau buku.

Implementasi Strategi Pemecahan Masalah

Untuk dapat menghubungkan prestasi belajar siswa dengan kebutuhan masyarakat dalam hal ini pembuatan website dibagi menjadi tiga tahap yaitu:

  1. Model Belajar Mandiri Terbimbing
    Alur belajar di Model Belajar Terbimbing sebagai berikut :alur KBM

    Gambar : Alur Kegiatan Belajar Mengajar

    Berdasarkan gambar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

    • Guru menyiapkan video pembelajaran beserta tugas yang akan dipelajari oleh siswa.
    • Guru membagikan video pembelajaran tersebut kepada siswa sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
    • Guru memberikan tugas ke siswa untuk melihat video tersebut di rumah.
    • Guru memberikan kuis kepada siswa untuk mengarahkan siswa belajar di rumah
    • Secara berkelompok siswa belajar materi dengan model tutor sebaya. Siswa yang sudah bisa menguasai materi membantu siswa yang belum bisa.
    • Di dalam kelas guru mereview kemampuan siswa dan memberikan penekanan pada materi yang belum dikuasai siswa.
    • Guru memberikan tugas sesuai materi untuk dipecahkan siswa secara kelompok melalui diskusi.
    • Guru memberikan kesempatan kepada siswa mempresentasikan hasil diskusi.
    • Guru melakukan penilaian untuk mengukur kemampuan siswa.
  2. Penggunaan Buku Nilai
    Model Belajar Mandiri Terbimbing memerlukan kemandirian siswa. Tetapi kemandirian ini sulit dilaksanakan karena gangguan dari lingkungan baik itu dalam rumah maupun luar rumah. Agar siswa dapat fokus dalam belajar maka perlu ada inovasi dari guru untuk mengarahkan belajar. Inovasi yang kami lakukan adalah dengan penggunaan buku nilai. Dalam buku nilai tersebut memuat (1) presensi kehadiran, (2) presensi tugas, (3) presensi ujian, (4) presensi remidial, (5) catatan kemajuan siswa, (6) nilai tugas,  (7) rekapitulasi nilai pengetahuan, (8) rekapitulasi nilai sikap, (9) rekapitulasi nilai ketrampilan, (10) lembar observasi ibadah, (11) nilai sikap spiritual, (12) penilaian diri, (13) penilaian antar teman, (14) job sheet tes praktik lengkap dengaan indikator penilaiannya, (15) penilaian proyek, (16) lembar refleksi siswa, dan (17) lembar refleksi guru. Buku nilai ini juga berfungsi bagi orang tua untuk memantau perkembangan prestasi belajar anaknya karena buku ini dibawa oleh siswa dan harus mendapatkan tanda tangan dari orang tua untuk lembar observasi ibadah.
  1. Pembelajaran Berbasis Proyek
    Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah metoda pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep “Pendidikan Berbasis Produksi” yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan “kompetensi terstandar” yang dibutuhkan untuk bekerja dibidang masing-masing. Dengan pembelajaran “berbasis produksi” peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja. Dengan demikian model pembelajaran yang cocok untuk SMK adalah pembelajaran berbasis proyek.
    Pembelajaran Berbasis Proyek yang kami lakukan adalah membuat website sekolah di Kota Semarang dan sekitarnya. Pembuatan website sekolah ini sangat mendukung program pemerintah untuk memberikan akses informasi kepada masyarakat. Adapun alur pembelajaran berbasis proyek sebagai berikut :
    alur
    Berdasarkan gambar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

    • Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membuat website sekolah.
    • Guru menyiapkan surat ijin dan proposal yang akan dibawa siswa ke sekolah. Siswa secara berkelompok mengajukan ijin ke sekolah yang akan dibuatkan website.
    • Jika ijin sudah didapat, siswa melakukan pengambilan data dengan cara observasi, wawancara dan studi dokumentasi.
    • Data yang didapat kemudian diolah dan dimasukkan ke dalam website yang dibuat.
    • Setelah website berhasil dibuat, siswa secara berkelompok melakukan presentasi untuk memaparkan hasil dari proyeknya.
    • Siswa membuat laporan dengan mengirim alamat website sekolah.

    Hasil yang Dicapai

    Dalam satu kelas terdapat 36 siswa sehingga kami membagi kelas dalam 6 (enam) kelompok dengan masing-masing kelompok berjumlah 6 (enam) siswa. Pembagian kelompok ini dilakukan oleh siswa sendiri dan guru hanya sebagai fasilitator. Penentuan sekolah mana yang akan dijadikan proyek pembuatan website adalah hasil diskusi siswa dalam satu kelompok.

    Pelaksanaan Model Belajar Mandiri Terbimbing menghasilkan karya siswa dalam membuat website sekolah  sebagai berikut:

    1. Website SD Islam Haji Soebandi Kabupaten Semarang

    Website ini dapat dilihat dengan cara klik di alamat: http://sdiphajisoebandi.alienmm1.web.id/.

    1. Website SMP Al Irsyad Semarang

    Website ini dapat dilihat dengan cara klik di alamat: http://smpalirsyad.spalirsemarang.web.id/

    1. Web Penghargaan Indonesia

    Website ini dapat dilihat dengan cara klik di alamat: http://www.penghargaanindonesia.web.id/

    1. Website SMP Negeri 18 Semarang.

    Website ini dapat dilihat dengan cara klik di alamat: http://www.smpn8semarang.vidisyunma.web.id/

    1. Website SMP Agustinus Semarang

    Website ini dapat dilihat dengan cara klik di alamat: http://smpagustinus.kataku.web.id/

    1. Website Negeri 15 Semarang

    Website ini dapat dilihat dengan cara klik di alamat: http://www.smpn15semarang.bedofase.web.id/

    Contoh screenshot website yang sudah jadi dapat dilihat dibawah ini :
    2

    Model Belajar Mandiri Terbimbing mampu mengantarkan anak didik menjadi juara diberbagai lomba antara lain Juara 1 dan 3 Lomba DNCC The Explore Udinus dan Juara 1 Lomba Jawa Bali IT Competition.

    Kendala yang Dihadapi

    Kegiatan belajar mengajar menggunakan Model Belajar Mandiri Terbimbing dalam pelaksanaannya mengalami kendala di lapangan antara lain :

    1. membutuhkan waktu yang lebih banyak karena proses perencanaan yang harus benar-benar matang
    2. Belum terjalin kerjasama yang baik antar tutor sebaya, karena siswa yang pandai tidak maksimal mengajarkan ke temannya yang belum menguasai materi.
    3. Timing project yang tidak selalu tepat dimana waktu pelaksanaan pembuatan projek website bersamaan dengan Ujian Praktek di SMP sehingga banyak pihak di sekolah tidak mau diganggu.
    4. Pembuatan Website Sekolah adalah hal baru sehingga ada sekolah yang belum bisa menerima.
    5. Pembuatan Website Sekolah harus seijin kepala sekolah sementara yang bersangkutan susah ditemui karena kesibukannya sehingga memerlukan waktu lama dalam perijinan.
    6. Masih rendahnya skill dalam komunikasi dan negosiasi dari siswa terbukti dengan banyak siswa yang kurang lancar dalam berbicara saat meminta perijinan ke sekolah.

    Faktor Pendukung

    Disamping kendala yang dihadapi dalam melaksanakan Model Belajar Terbimbing, ada dua faktor yang mendukung Model Belajar ini bisa dilaksanakan dengan lancar yaitu :

    1. Peralatan yang Memadai
      Untuk mendukung pelaksanaan model Belajar Mandiri Terbimbing membutuhkan peralatan yang memadai. Salah satu alat yang mutlak dimiliki siswa adalah laptop. Salah satu cara yang kami lakukan adalah membentuk kelas mandiri yaitu suatu kelas dimana semua siswa memiliki laptop. Bukan perkara mudah untuk mewujudkan kelas mandiri karena rekam jejak sekolah ini didominasi golongan orang tua menengah ke bawah. Tetapi dengan tekad yang kuat, kami memberi pemahaman kepada orang tua bahwa laptop itu dibutuhkan siswa dalam belajar baik di sekolah maupun di rumah. Awalnya kami membuat satu kelas mandiri dengan jumlah siswa yang memiliki laptop hanya 5 orang. Tetapi seiring berjalannya waktu 90% siswa memiliki laptop sehingga model Belajar Mandiri Terbimbing dapat efektif berjalan.
    1. Guru sebagai Contoh
      Untuk dapat menghasilkan murid juara maka guru harus menjadi contoh dengan meraih juara. Beberapa prestasi yang saya raih antara lain Juara 1 Lomba Pengayaan Sumber Belajar Pada Website Sekolah Jenjang Pendidikan Menengah dan Juara 2 Lomba Pengayaan Sumber Belajar Pada Blog Guru Jenjang Pendidikan Menengah.

    Alternatif  Pengembangan

    Model Belajar Mandiri Terbimbing ini dapat dicontoh oleh guru mata pelajaran lain. Contoh penerapan Model Belajar Mandiri Terbimbing untuk guru mata pelajaran IPA dengan materi cara memisahkan campuran dapat dilakukan guru IPA dengan membuat video pembelajaran cara menjernihkan air, membuat buku nilai untuk mengontrol belajar siswa dan memberikan proyek penjernihan air di sekolah atau masyarakat yang membutuhkan air bersih.

    Penutup

    Model Belajar Mandiri Terbimbing mampu meningkatkan prestasi belajar siswa hal ini ditunjukkan dari karya yang dihasilkan yaitu website sekolah dan mampu memenangkan berbagai lomba. Entry point dari Model Belajar Mandiri Terbimbing mensinergikan naiknya prestasi siswa dan menjawab kebutuhan masyarakat. Jadi dunia sekolah tidak sekedar meningkatkan prestasi siswa tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

    Dokumentasi Kegiatan

    DSC_0021
    Gambar : Suasana belajar di kelas

    DSC_0053
    Gambar : Penggunaan Buku Nilai dalam pembelajaran

    DSC_0033
    Gambar : Kerja kelompok untuk menyelesaikan tugas

    11164005_1441617206151149_9171842018948703646_n
    Gambar : Presentasi memaparkan hasil proyek pembuatan Website

    IMG_1134
    Gambar : Proses pengambilan data di SMP

    2
    Gambar : Website yang sudah jadi dilihat oleh Kepala Sekolah

    Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

2,085 total views, 5 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (7)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar