0

Sesuatu yang membingungkan (+2)

Bu Etna @gurutematik February 12, 2015

Sahabat guru di mana pun berada, di era abad ke 21 ini ternyata masih ada saja buku pelajaran yang mencetak ulang kesalahan konsep yang sudah sering terjadi. Sedangkan K 13 ini banyak guru yang menugasi siswanya untuk mencari ilmu pengetahuan yang telah banyak ditulis di buku cetak atau media lain yang dapat dibaca secara off-line mau pun on-line.

Mengapa hal itu bisa terjadi terus menerus? Apakah ketika mengedit, konsep tersebut terlewati, atau salah ketik, atau editornya berlatar belakang ilmu yang tidak sesuai, atau editor itu memang beranggapan bahwa kesalahan itu tidak termasuk miskonsepsi, atau tulisan-tulisan itu tak sempat diedit atau direvisi? Fatalnya lagi, guru yang memakai buku tersebut tak sempat membacanya, atau memang merasa cukup dipelajari sendiri oleh siswa, dan miskonsepsi itu mungkin tak penting. Benarkah demikian alternatif kejadiannya? Atau masih ada alternatif lain yang lebih masuk akal?

Bangsaku, InsyaaAllah goresan pena kita tak menuliskan sesuatu yang salah. Sehingga kita dapat terhindar dari penyebaran ilmu yang salah kepada peserta didik, atau siapa pun yang membaca dan mempelajari serta menggunakan ilmu tersebut. Sebagai guru, InsyaaAllah kita selalu tanggap akan hal ini. Setiap kesalahan yang terjadi di media belajar, kita telah membetulkannya sebelum sampai ke siswa. Kita bertanggung jawab untuk meralatnya sedini mungkin. Ketika kita memberi tugas kepada siswa untuk mencari materi, maka kita pun wajib merevisinya andaikan terjadi miskonsepsi. Mungkin saat kita mendengarkan siswa presentasi, ketika diskusi kelompok atau kelas, atau saat kita membaca laporan mereka.

Para siswa menyatakan bahwa salah konsep itu terjadi pada banyak buku pelajaran. Banyak yang mengatakan kalau hal itu mereka sadari ketika akan menghadapi ujian akhir. Yah … jalan keluar yang paling cepat dapat mereka tempuh, menghafalkan ralat dari guru. Hal ini pun mereka lakukan karena ketika mereka bertanya alasannya, beberapa guru tak sempat menjelaskannya, sebab tak cukup waktu. Bagaimana pun, beberapa diantara guru ada juga yang meralatnya saat pembelajaran berlangsung, Alhamdulillah.

Sebagai contoh miskonsepsi yang terjadi pada pelajaran kimia. Di suatu buku kimia dituliskan “molekul NaCl.” Sedang NaCl bukan molekul, zat ini berbentuk kristal, strukturnya raksasa, rumus kimianya tergolong empiris. NaCl terdiri atas ion-ion positif dan negatif yang saling mengelilingi dengan perbandingan 1 : 1. Ada lagi buku yang menyatakan bahwa molekul asam cuka, terdiri atas ion-ion. Sedang asam cuka merupakan senyawa kovalen, strukturnya sederhana. Seharusnya suatu molekul terdiri atas atom-atom.

Demikianlah secuil masalah yang menyangkut miskonsepsi. Semoga bermanfaat.

 

1,865 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar