24

Serunya Belajar Sejarah Langsung Ke Lokasinya (+10)

Kang Didno May 9, 2015
Foto Bareng di Alun-alun

Foto bareng di Alun-alun Indramayu (Dok. Pribadi)

Sebagai seorang guru IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) saya harus memutar otak agar para siswa senang dan bisa menikmati pembelajaran tersebut. Salah satu kegiatan yang saya lakukan adalah mengadakan kegiatan di luar sekolah. Kegiatan pembelajaran di luar sekolah tersebut berupa City Tour.

City Tour (Jalan-jalan Ke Kota) yang kami lakukan tidak harus pergi ke luar kota atau terlalu jauh tetapi cukup mengunjungi daerah sendiri yakni Indramayu. Karena selama ini banyak para pelajar yang belum mengetahui sejarah, dan seni budaya daerahnya sendiri.

City Tour

Foto bersama di dalam bus (Dok. Pribadi)

Kami pergi ke Indramayu menggunakan bus yang kami sewa bersama murid-murid satu kelas SMP Negeri 1 Gabuswetan Indramayu, setelah mendapatkan izin dari kepala sekolah dan orang tua siswa. Dengan biaya pribadi yang tidak sangat terjangkau, kami berangkat ke Indramayu pada hari Minggu pagi tanggal 26 April 2015 yang lalu.

Perjalanan dari sekolahan kami ke kota Indramayu hanya menempuh perjalanan selama satu jam. Kami disambut oleh Tim Penggagas Museum Cimanuk Indramayu bernama Mas Sadewo yang juga bertindak sebagai guide atau pemandu wisata. Karena dia mengetahui seluk beluk sejarah, seni dan budaya Indramayu.

Mas Dewo Membagi Kelompok

Pembagian Kelompok dipimpin oleh Mas Sadewo (Dok. Pribadi)

Para siswa dibagi menjadi empat kelompok yang berbeda karena mereka akan mendapatkan tugas masing-masing oleh Pemandu Wisata. Kelompok pertama diberi tugas untuk mencatat apa yang dilihat dan dijelaskan oleh pemandu wisata di Makam Pangeran Aria Wiralodra (Pendiri Kabupaten Indramayu). Kelompok kedua diberi tugas untuk mencatat sejarah dan apa yang dilihat di Makam Selawe. Sementara kelompok tiga diberi tugas mencatat sejarah berdirinya Pendopo Kabupaten Indramayu. Dan kelompok terakhir mencatat sejarah dari bangunan kuno berupa tempat penggiling padi pada zaman Belanda yang sekarang beralihfungi dan dimanfaatkan untuk galeri para seniman Indramayu.

Tujuan pertama kami adalah mengunjungi makam Pangeran Bagus Aria Wiralodra. Di sini kami diterima dengan sangat baik oleh Jupel (Juru Pelihara) Makam Aria Wiralodra Bapak Oyo. Seluruh siswa disuruh untuk mengambil air wudhu untuk memanjatkan doa untuk pendiri kota Indramayu tersebut.

Ziarah Ke Makam Aria Wiralodra

Ziarah Ke Makam Aria Wiralodra (Dok. Pribadi)

Setelah berdoa yang dipimpin oleh Bapak Oyo, kami berkumpul lagi dan dijelaskan oleh Mas Sadewo mengenai sejarah Indramayu dan manfaatnya berziarah ke makam leluhur. Disini kami belajar mengenai asal-usul tempat pemakaman yang diberi nama desa Sindang yang memiliki arti tempat singgah.

Mas Sadewo juga menjelaskan tentang makam di sekitar Pangeran Aria Wiralodra yang tidak lain adalah Ki Tinggil, pamannya sekaligus ajudan Aria Wiralodra. Selain belajar sejarah mas Sadewo juga mengingatkan kepada pelajar bahwa setiap manusia akan mati oleh sebab itu sebagai manusia jangan sombong. Dia juga mengingatkan bahwa dengan berziarah berarti kita menghargai leluhur dan menghormati orang tua. Untuk itu beruntung bagi siswa yang masih memiliki kedua orang tua yang masih hidup, bisa memohon restu dan meminta doa kepada kedua orang tuanya.

Penjelasan Mas Dewo

Penjelasan Mas Sadewo (Dok. Pribadi)

Karena hari itu adalah hari Minggu, maka banyak pengunjung yang berkunjung ke tempat bersejarah ini. Maka kami pun memberi kesempatan kepada pengunjung lain yang ingin berziarah dan berdoa di sekitar makam tersebut. Kami pun meminta izin kepada pengelola makam tersebut untuk pamitan.

Selepas dari Makam Pangeran Bagus Aria Wiralodra, tujuan kami berikutnya adalah Makam Selawe. Kami beserta rombongan kali ini dipandu oleh seorang Jupel (Juru Pelihara) Makam Selawe. Kalau biasanya Jupel itu seorang lelaki maka Jupel di Makam Selawe adalah seorang perempuan bernama Ibu Tuti Herayati.

Tuti Herayati

Ibu Tuti Herayati Jupel Makam Selawe (Dok. Pribadi)

Pada kesempatan kali ini kami dan rombongan disambut dengan hangat oleh Ibu Tuti Herayati yang akan menjelaskan tentang sejarah makam Selawe kepada kami. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Indramayu, Makam Selawe ini terdiri dari 23 murid Pangeran Guru, dan Pangeran Gurunya serta Nyi Endang Dharma.

Konon pada zaman dahulu dikisahkan ada seorang pangeran yang bernama Pangeran Guru dari Palembang tertarik dengan kecantikan Nyi Endang Dharma yang tinggal di pedekuhan Sindang. Sesampainya di pedukuhan tersebut, Pangeran Guru mengajak Nyi Endang Dharma untuk segera menikah, tetapi Nyi Endang Dharma menolak.

Penjelasan Makam Selawe

Makam Selawe Indramayu (Dok. Sadewo)

Karena merasa terhina setelah melakukan perajalanan jauh dari Palembang dan sampai di pedukuhan Sindang tetapi kenyataan pahit harus dialami oleh Pangeran guru. Bahwa dirinya ditolak oleh Nyi Endang Dharma, akhirnya Pangeran Guru berkelahi melawan Nyi Endang Dharma yang memiliki kesaktian yang mumpuni. Karena kesaktiannya Pangeran Guru dan pengikutnya meninggal semua.

Mendengar penjelasan dari Ki Tinggil bahwa daerahnya dirusak oleh Nyi Endang Dharma dan Pangeran Guru, Pangeran Aria Wiralodra akhirnya segera kembali dan berniat memberi peringatan kepada Nyi Endang Dharma. Tetapi lagi-lagi niatnya akan memberi peringatan kepada Nyi Endang Dharma akhirnya Raden Aria Wiralodra jatuh cinta.

Lagi-lagi Nyi Endang Dharma menolak cintanya Aria Wiralodra. Daripada dia menikah dengan Aria Wiralodra, Nyi Endang Dharma memutuskan bertarung dengan Pangeran Aria Wiralodra yang menjadi bupati pada saat itu. Karena kesaktiannya berimbang pertarungannya tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Mereka berperang tidak sehari dua hari tetapi berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Untuk menghindari dirinya mengaku kalah dan harus menikah dengan Aria Wiralodra akhirnya Nyi Endang Dharma menceburkan dirinya ke dalam pusaran sungai Cimanuk yang tidak jauh dari tempat mereka bertarung. Sebenarnya dia ingin menghilangkan jejak agar tidak jadi menikah dengan Pangeran Aria Wiralodra.

Pada kesempatan ini pula Ibu Tuti menjelaskan mitos yang ada di Makam Selawe. Dimana masyarakat sekitar masih percaya dengan mitos tersebut. Konon mitosnya adalah jika pengunjung makam Selawe menghitung jumlah makam jumlahnya 25 atau lebih dari 25 maka dia akan mendapat keberuntungan. Tetapi jika dihitung jumlahnya kurang dari 25 maka mendapatkan ketidakberuntungan tetapi anda bisa mencoba menghitungnya sekali lagi.

Mitos tersebut hingga saat ini masih dipertahankan. Setelah mendapat penjelasan dan cerita mengenai Makam Selawe oleh Ibu Tuti, kami dan rombongan langsung menghitung jumlah makam Selawe. Ternyata benar ada perbedaan antara satu siswa dengan yang lainnya, ada yang menghitung jumlah makamnya 25 ada pula yang 26 jumlahnya. Di sini para pelajar khususnya kelompok dua merekam semua cerita yang dijelaskan oleh Ibu Tuti untuk ditulis ulang di rumah.

Foto Bareng di Pecinan

Foto Bareng di Kota Tua Indramayu (Dok. Pribadi)

Setelah berziarah ke makam Selawe, kami melanjutkan perjalanan City Tour ke Kota Tua Indramayu yakni di jalan Veteran dan Siliwangi. Kedua jalan ini terdapat banyak bangunan yang masih berdiri kokoh bangunan-bangunan bersejarah yang dibangun sejak penjajahan Belanda dulu seperti Kelenteng An Tjeng Bio, Gereja dan rumah-rumah tempat peninggalan kaum bangsawan Belanda dan bangunan khas Cina atau lebih dikenal dengan Pecinan.

Kami pun mengajak para pelajar untuk berfoto bersama di bangunan Pecinan yang sudah tidak terawat tersebut sebagai bukti bahwa banyak bangunan-bangunan bersejarah yang perlu dilestarikan dan dikelola secara baik.

Setelah dari Pecinan dan mengunjungi gedung-gedung tua, kami pun beranjak lagi ke Taman Cimanuk. Disini kami beserta rombongan dijelaskan mengenai sejarah yang terjadi di bantaran Sungai Cimanuk yang dulunya merupakan Bandar atau Pelabuhan besar di Pulau Jawa. Tapi sekarang sudah tidak digunakan lagi. Tetapi peninggalan bersejarah di taman ini masih ada. Disini terdapat kayu yang dulunya dijadikan tiang bendera oleh Pemerintahan Belanda. Kini bekas kayunya disimpan dan diletakkan di Taman Cimanuk.

taman kota indramayu

Taman Cimanuk Indramayu (Dok. Pribadi)

Dekat dengan Taman Cimanuk terdapat masjid Agung dan Pendopo Kabupaten Indramayu, kami beserta rombongan dijelaskan oleh mas Sadewo tentang sejarah berdirinya Mesjid Agung Indramayu, Pendopo Indramayu, Alun-alun Indramayu, dan 0 kilometer Indramayu.

Sebagai suatu kota atau daerah di Indonesia dari zaman dulu hingga sekarang terdapat beberapa ciri khas yang melekat. Ciri-cirinya adalah terdapat alun-alun, ada pendopo, pasar, rumah sakit dan lembaga pemasyarakatan. Begitu juga dengan kota Indramayu yang memiliki semua ciri khas tersebut.

Selepas menikmati pemandangan Taman Cimanuk kami dan rombongan memasuki Pendopo Indramayu, tempat dimana bupati Indramayu berkantor dan melaksanakan pemerintahannya. Disini kami dijelaskan kembali oleh pemandu wisata bahwa Pendopo ini awalnya tidak seperti ini, pelajar bisa melihat-lihat foto-foto zaman dahulu yang terpajang di tembok dan tiang pendopo kabupaten Indramayu.

Pelajar Mengunjungi Galeri Empat Belas

Galeri Empat Belas

Setelah puas berfoto bersama dengan teman-temannya, kami pun berangkat lagi ke Galeri Empat Belas. Lokasi Galeri ini tidak terlalu jauh dari 0 kilometer Indramayu tepatnya di jalan Siliwangi. Galeri ini dulunya adalah sebagai tempat penggilingan padi pada zaman Belanda. Tapi sekarang digunakan oleh para seniman Indramayu untuk tempat berkarya dan memajang hasil karyanya.

Pelajar bisa berinteraksi dengan para seniman atau pelukis yang ada disini. Mereka bertanya banyak hal dari cara membuat lukisan yang bagus, perpaduan warna dan lain sebagainya. Para seniman yang ada di Galeri ini pun senang karena mereka bisa berbagi ilmunya kepada para pelajar.

Selepas dari Galeri Empat Belas kami pun menuju ke rumah makan yang sudah kami dipesan. Sehingga para pelajar langsung menyantap makanan yang sudah disediakan oleh pemilik rumah makan. Usai makan siang kami pun menuju ke tempat belanja untuk membeli oleh-oleh untuk saudara dan keluarganya di rumah. Setelah puas berbelanja kami pun akhirnya kembali ke sekolah.

Sebelum sampai di sekolah kami menugaskan para pelajar untuk membuat laporan tentang perjalanan City Tour ke Indramayu. Laporan tersebut berupa tulisan tentang perjalanan mereka dari satu tempat ke tempat lain yang ditulis dalam format Microsoft Word. Laporan tersebut dikumpulkan paling lambat seminggu setelah acara City Tour.

Kegiatan ini tentu mengajak siswa untuk menggunakan teknologi informasi agar mereka tidak gaptek. Selain itu melatih mereka untuk belajar Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jika dirasa laporan tersebut membutuhkan foto atau gambar tentang perjalanan mereka selama kegiatan City Tour mereka bisa mendownloadnya dari facebook saya.

Dari kegiatan City Tour ini ada beberapa manfaat yang bisa diambil manfaatnya :

Pertama, pelajar merasa senang dengan cara belajar di luar kelas. Apalagi bisa melihat secara langsung sejarah, seni dan budaya daerahnya sendiri.
Kedua, pelajar bisa berinteraksi dengan orang lain seperti guide atau pemandu wisata, juru pelihara, dan lain sebagainya sebagai bentuk dari kegiatan sosialisasi dengan orang lain.
Ketiga, pelajar merasa senang karena mereka bisa berwisata sambil belajar.
Keempat, pelajar bisa belajar berbagai hal selain pelajaran IPS, mereka juga belajar Agama, Seni Budaya, dan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Kelima, pelajar akan merasakan kesan dan pengalaman yang menyenangkan seumur hidupnya akan teringat terus.

Mudah-mudahan cara City Tour ini akan membuat para pelajar semakin tertarik dan menyukai pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial).

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10.

7,359 total views, 3 views today

Tagged with: ,

Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (24)

  1. kalau mengajarnya seperti ini siapapun pasti suka, secara garis besar dulu sy tidak suka IPS tapi untuk sejarah suka karena senang berhayal masa lalu … apa lagi kalau belajarnya sambil jalan-jalan gini wah seru banget
    gmn dengan akomodasinya pak?
    ==============================
    yang perlu hati-hati pada paragraf berikut ini
    ===============================
    Tujuan pertama kami adalah mengunjungi makam Pangeran Bagus Aria Wiralodra. Di sini kami diterima dengan sangat baik oleh Jupel (Juru Pelihara) Makam Aria Wiralodra Bapak Oyo. Seluruh siswa disuruh untuk mengambil air wudhu untuk memanjatkan doa untuk pendiri kota Indramayu tersebut.
    ===============================

  2. transportasi ditanggung oleh siswa sebagian dan menggunakan uang kas kelas sebagian. Pelajar yang tidak mampu pun diperbolehkan ikut acara ini tidak ada diskriminasi..

    Tujuan pertama maksud disini adalah obyek wisata yang dikunjungi

    Terima kasih atas komentarnya

  3. Alhamdulilah semakin hari semakin banyak guru2 kreatif dan inovatif yang perlu saya teladani dan jadi motivator buta saya dalam proses pembelajaran di dalam dan di luar kelas. Terima kasih Kang Didno Blogger Indramayu yang cukup ngetren melintang di dunia maya dan guru ngeblognya !
    Salam Persahabatan dari One SM USA = Urang Sunda Asli !

  4. Dengan melakukan kunjungan langsung ke lokasi sejarah bisa secara langsung mempelajari sejarah & cerita yang ada di lokasi tersebut, serta dapat membuat tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah apalagi siswa suka sekali kalau diajak jalan-jalan, sehingga dengan adanya pembelajaran yang seperti ini pasti membuat siswa merasa senang & nyaman dalam belajar.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar